I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Thursday, August 10, 2017

Merayakan Cinta Dengan Via Ferrata


Suuerrrrr....judulnya norak abisss !

Sabtu, 29 Juli 2017 yang lalu gue ikutan trip Via Ferrata ke Gunung Parang, Purwakarta. Selama ini review mengenai via ferrata ini udah bikin gue amat sangat penasaran. Tapi gue masih ragu ikutan karena kayaknya selain menantang, ngeri juga.

Oya, via ferrata adalah kegiatan memanjat dengan mendaki tangga besi yang "ditanam" di sepanjang dinding tebing. Gimana caranya ? Ngga tahu....belum bisa gue bayangkan karna blum pernah...

Dua hari sebelumnya, tepatnya di hari Kamis, akhirnya gue fix nekat ikutan daftar trip. Seperti biasa, gue selalu menyiapkan segala sesuai mendadak. Gue mantap ikutan, selain untuk memuaskan rasa penasaran, juga pengen merayakan ulang tahun pertama pernikahan gue dengan Ony (30 Juli) dengan cara yang spesial.

Untuk ikutan tripnya, gue membayar Rp. 400,000 per orang, ke vendor bernama Skywalker. Paket seharga ini untuk via ferrata ketinggian 300 meter. Sebenarnya ada paket yang untuk 150 meter juga, tapi saat itu meskipun belum ada bayangan gimana gue bisa melakukannya, gue nekat milih yang 300 meter. Paket ini sudah termasuk transportasi dari dan ke Jakarta, dengan meeting point di Plaza Smanggi, dokumentasi, dan makan siang.

Di hari Sabtu itu, dengan semangat 2017, gue dan Ony bangun subuh untuk naik commuter line jam 5 pagi. Begitu tiba di Plaza Smanggi, udah banyak kendaraan Elf di sana, yang ternyata merupakan meeting point favorit untuk join trip kayak begini. Singkatnya, Elf yang gue tumpangi meninggalkan lokasi hampir jam 06:30 pagi, mengangkut sekitar 14 peserta ditambah 2 kru Skywalker.

Gue tiba di Gunung Parang, tepatnya pintu masuk kawasan via ferrata, sekitar jam 11 siang. Tiba di sana peserta dipersilahkan untuk istirahat, bersih - bersih dan makan. Selain ada toilet, di sana juga ada penjual makanan alakadar (mie instant), dan peserta bisa leluasa bersantai karena terdapat banyak hammock dan balai bambu.

Menjelang jam 12 siang, akhirnya kegiatan via ferrata pun dimulai. Semua peserta harus menggunakan alat keselamatan seperti harnes dan helm. Sebelum dimulai kedua kru Skywalker memberikan pengarahan singkat mengenai cara memanjat, dan menggunakan alat - alat yang tersambung di harnes. Via ferrata pun dimulai !

Di luar dugaan, ternyata via ferrata tuh seru dan menyenangkan banget. Melelahkan juga iya....tapi karena gue begitu excited, jadi lelahnya ngga gitu berasa. Kadang gue memang kesulitan dan menghadapi kendala, misalnya kalau harus melalui jalur besi horisontal, karena agak susah menjaga keseimbangan dan bingung kemana tangan gue harus berpijak.




Selain itu, di satu titik ketinggian, ada beberapa tangga besi yang lenyap ! Ternyata ada orang iseng yang merusak dan melenyapkan tangga - tangga tersebut dengan cara menggergajinya, entah apa tujuan, dan hanya menyisakan sisa - sisa pancang besi sepanjang sekitar 5 cm. Ini kayaknya bagian yang paling serem buat gue, meskipun dilengkapi harness, tapi gue harus mendaki dengan hanya memijakkan kaki di pancang - pancang besi tersebut, begitu juga untuk berpegangan.




Setelah jalur 'tanpa tangga besi' terlewati, mendekati titik ketinggian 150 meter, tantangannya semakin maknyusss dengan turunnya hujan. Diawali dengan gerimis, dan dalam segera menjadi hujan lebat. Untuk pemula kayak gue, yang harus memanjat dengan mengandalkan tangga besi, hal ini jadi tantangan tersendiri, karena sekujur badan basah oleh hujan, dan untuk tangga besinya juga menjadi licin.


Karena hujan lebat ini, akhirnya gue dan Ony memutuskan untuk tidak melanjutkan ke ketinggian 300 meter. Di Gunung Parang, tepatnya dalam jalur via ferrata ini terdapat beberapa ceruk, dimana pendaki bisa beristirahat dan menikmati keindahan alam sekitar Gunung Parang sampai dengan Waduk Jatiluhur. Rasanya nyaman dan sensasional banget !




Pas waktunya menuruni gunung, gue baru tahu bahwa peserta harus melakukan rappeling. Rappeling adalah teknik menuruni tebing dengan menggunakan tali.

Astagahhh ! Gue ketakutan setengah mati. Kalau tahu dari awal bakal begini cara turunnya, bisa jadi gue akan ogah ikutan. Gue kan takut akan ketinggian. Trus sekarang gue harus menuruni tebing setinggi 150 meter dengan dikerek - kerek pake tali begini. Sendirian pula...ngga ada teman barengannya !

Berhubung ngga punya pilihan lain, dan gue tetap harus turun anyway (iyalahh...masa nginep di ceruk gunung!), dengan berat hati, gue cuma bisa pasrah. Di awal, Yudha, salah satu kru Skywalker memberikan pengarahan, "Mbak, posisinya kayak duduk, tapi berdiri ya...." Gue bingung tujuh keliling....Apa sihh, duduk tapi berdiri itu ?! Jodi, kru lainnya, pun kasih contoh gaya 'duduk tapi berdiri'.

Yang lebih absurd lagi saat Jodi bilang, "Mbak gak usah pegang talinya. Lepas aja... Ngga bakalan jatuh kok..." Tali yang dimaksud adalah tali keamanan yang posisinya ada di pinggang gue, dan terhubung ke alat katrol yang digunakan untuk mengerek gue. Please deh...gue baru kali ini rappeling, secara mental gak secepat itu juga gue nyaman untuk menggantungkan keselamatan jiwa raga ke seonggok tali kayak begini.

Langkah pertama pun di mulai....perlahan, dan diikuti langkah - langkah berikutnya. Selama itu gue mencoba bertahan untuk tetap tenang, dan fokus mendengarkan kru Skywalker yang berteriak untuk memberikan pengarahan.

'Mundur Mbaaaaaaa......!!! Badannya dikebelakangi, Mbaaaaa......!'
'Kiriiii, Mbaaaaaaa....! Kanan, Mbaaaaaa....! Badannya tegaaaaakk...kakinya lurus, Mbaaaaaa....!'

Di antara mengontrol rasa takut dan fokus pada setiap langkah yang gue lakukan, kadang instruksi dari atas sana bikin gue bingung sendiri.



Sesekali gue membalas, 'Jangan kecepettaaaaaaann....!!!' maksudnya agar kru tidak mengerek talinya kecepatan yang membuat badan gue terhempas ke belakang, ngga selaras dengan langkah kaki gue.

Tiba - tiba....buuukkkk!!! Langkah gue terhenti, dan gue mendarat di sebuah ceruk yang jauh lebih besar dan luas. Sialannnn....!! Gue ngga dikasih tahu bakal ada ceruk ini. Sementara gue kan jalan mundur dari tadi, jadi ngga lihat dan ngga siap. Gue terjatuh karena kaki gue mendadak ngga punya landasan untuk berpijak.

Kaki gue lemas gemetaran. Posisi gue sedikit menggantung di ceruk. Dari atas sana, gue denger teriakan, 'Mba Cherrryyy.....Mbaaaa.....Mbaaaakkkk....??' kayaknya mereka khawatir karena posisi gue ngga keliatan, dan ngga bersuara. Gue berusaha mengumpulkan keberanian dan tenaga. 'Tungguuu....!!' jawab gue singkat, lemas. Setelah bisa menenangkan diri, 'membereskan' posisi tubuh, gue pun kembali berteriak, 'Mulaaaaaaiii, Masss....!! Pelaaaaannn !' Posisi tubuh yang gue maksud adalah berdiri tegak lurus terhadap tebing. Karena saat gue jatuh tadi, gue hanya tergelantung pasrah di tali.

Setelah beberapa meter, gue kembali terpeleset, karena kaki gue ternyata melewati tebing yang ngga rata. Sialan...gue kecolongan lagi ! Kali ini gue malah dapat bonus beberapa luka gores di betis karena gesekan dengan batu tebing. Mana gue udah mulai ngos - ngosan ! Tenaga gue terkuras dengan cepat tuh lebih karena ketakutan dan deg - degan sebenarnya. Tapi menariknya, dalam keadaan sendirian dan 'lemah' begini, gue justru memaksakan diri untuk menemukan kekuatan dan keberanian dari dalam diri sendiri, untuk bertahan dan kembali melangkah. Beuughhhh ! Semacam orang bijak aja !

Tapi bener deh....biasanya yang selalu memberikan gue dukungan dan motivasi kalau lagi ketakutan atau down adalah Ony, yang sayangnya saat itu terpaut sekitar 100 meter dari gue. Jadi gue berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa takut.

Akhirnya gue tiba di beberapa meter terakhir dari perjalanan paling mengerikan dan menantang yang pernah gue lakukan. Dan akhirnya.....gue mendarat di tanah ! Yessss...Makasih Yesus, gue bisa mendarat dengan selamat tanpa kekurangan apapun selain jantung yang masih berdegup kencang dan luka berdarah di betis.

Overall, ini pengalaman paling seru dan unik yang pernah gue lakukan. Gue dan Ony super happy dan excited banget dengan kegiatan via ferrata hari ini. Thanks Skywalker yang sudah memfasilitasi trip ini, dan juga teman - teman peserta lainnya yang bikin tripnya makin menyenangkan. On top of that, thanks to suami tercintahh, Ony, yang merupakan partner traveling seru - seruan gue, dan above all my beloved partner in life. I love you, muacchhh !

Sunday, July 02, 2017

'Kenangan Anda di Facebook Pada Hari Ini': Lamaran Day


Pagi - pagi pas buka Facebook, langsung lihat foto 'Kenangan Anda di Facebook Pada Hari Ini'...sebuah foto yang gue posting pas hari lamaran gue dan Ony, tepat setahun yang lalu ! Wow...udah setahun aja ternyata! Bagus juga ada fitur kayak begini dari Facebook, jadi reminder hari spesial. 

Kembali ke masa setahun lalu, yes...itu adalah hari lamaran gue dan Ony. Sebenarnya itu juga momen perkenalan antar keluarga. Mengingat Ony berasal dari keluarga dengan adat Jawa dan gue dari Batak, awalnya gue sempat ragu dan menyimpan kekhawatiran, bagaimana acaranya bisa berlangsung. Kalau dari gue pribadi, dari awal sih gue menekankan ngga perlunya menggunakan tradisi adat tertentu untuk mengurangi kompleksitas. Maklum deh, gue kan super duper casual, dan untuk pernikahan gue termasuk persiapannya, gue ngga berharap menggunakan dasar adat tertentu, agar lebih simple dan sesuai dengan prinsip gue : sederhana. Bukannya ngga menghargai adat dan tradisi, gue bangga sebagai orang Batak dan bangga dengan adat Batak kok. Namun gue berusaha realistis dengan kondisi saat itu, dengan keberagaman yang ada, dan waktu persiapan yang sangat minimalis, mari bikin segala sesuatunya simple aja ya !

Persiapan acara lamaran gue memang bisa dibilang sangat singkat, cuma dua minggu kali ! Thanks Lord, atas berkah dan penyertaanNya, acara bisa terwujud dan berlangsung dengan sangat lancar. Yang bikin terharu juga, betapa Yesus mencurahkan berkatNya untuk acara gue melalui anggota - anggota keluarga besar baik dari keluarga gue dan Ony, yang udah membantu dan meluangkan waktunya untuk hadir dan berperan dalam mempersiapkan acara. 

Oiyaa....di acara lamaran ini juga Ony dan keluarga membawakan seserahan seabreg. Beberapa memang gue dan Ony yang mencari sendiri, biar pas dan sesuai kebutuhan. Ide mengenai kebutuhan seserahan ini datang mendadak. Jadilah gue dan Ony ngebut untuk mempersiapkannya. Bahkan, gue membutuhkan waktu beberapa saat untuk 'mempelajari' pakem seserahan yang umumnya dipersiapkan. Setelah menggali informasi sana-sini, rasanya konsep seserahan yang 'tradisional' dan konservatif kurang pas buat gue yang tomboy ini.

Jadilah isi seserahan pilihan gue berupa :
  1. Tas ransel (laptop) Deuter. Yeayyy....konon katanya salah satu isi seserahan standard adalah tas wanita. Sesuai kebutuhan dan kegemaran gue aja, gue butuh tas ransel karena keseharian gue kan naik commuter line dan memerlukan tas ransel yang tepat dan nyaman untuk membawa laptop. Kebetulan gue pengguna setia merek Deuter, jadi gue pilihlah ransel laptopnya merek ini. 
  2. Make up (PAC). Ini untuk memenuhi syarat seserahan standard aja sih, isinya juga sesimpel mungkin : lipstik, bedak, dan blush on, seinget gue. Dikit ? Emang...abis selain ngga hobi make-up an, saat itu juga gue masih menyimpan beberapa perlengkapan make up yang dikasih temen - temen di pabrik Bayer sebagai hadiah perpisahan (gue pindah ke kantor Midplaza). 
  3. Sendal/selop.Tadinya maksud gue memilih sendal ini untuk gue gunakan di hari pernikahan, tapi akhirnya gue berubah pikiran karena warna sendalnya kurang ngejreeengg.
  4. Kalung emas. Gue kan seneng berinvestasi dalam bentuk emas. Jadi kalung emas ini bisa menambah tabungan investasi gue, yang suatu saat bisa gue dan Ony gunakan, jika diperlukan. Gue ngga berniat untuk menggunakan kalung emas sih, karena selain anting, kayaknya gue ngga terlalu doyan menggunakan perhiasan
  5. Pakaian dalam. Untuk sekedar memenuhi standard seserahan pada umumnya, lagian memang pasti berguna dan dipake khan ?
That's it ! Simpel khan ? Gue dan Ony ngga mau berboros ria menyiapkan seserahan, karena selain untuk formalitas aja, khan lebih baik dana yang ada digunakan untuk kebutuhan pernikahan lainnya khan...

Ternyata di hari lamaran keluarga Ony membawakan seserahan tambahan buanyaak banget....ada buah-buahan, kue-kue segala rupa, dan bahkan hidangan sangsang babi ! Weewwww....ngilllerrr !

Untuk keperluan gue pribadi juga simpel dan ngga neko-neko. Gue ngga membeli kebaya secara khusus untuk acara ini. Pake kebaya yang udah ada aja, cuma jahit roknya doang. Trus, untuk urusan dandan, gue serahkan ke pihak salon yang akan mendandani gue untuk acara pernikahan. Sebelum hari pernikahan kan standardnya ada yang namanya test make up tuh, dimana calon pengantin akan didandani oleh salon untuk menilai oke atau ngga dengan 'hasil karya' si salon. Tentunya calon Pengantin harus membayar test make up tersebut, karena treatment dan perlengkapan make up yang digunakan hampir mendekati dengan yang akan diberikan untuk hari pernikahan nanti. Gue pikir, biar irit, mendingan test make up dilakukan pas acara lamaran aja. Paket ekonomis khan ?

Gaya preman didandanin
Pertemuan keluarga
Mama tercinta menyiapkan dekke mas arsik yang merupakan simbol harapan dan berkat
Kakak, adik, dan sepupu-sepupu tersayang
Gue ngga akan melupakan kebahagiaan gue di hari itu. Rasanya mukzizat banget, betapa Yesus yang maha baik telah memimpin dan menyertai acara dari awal hingga akhir. Acara yang tadinya gue pikir akan berlangsung canggung mengingat perbedaan adat keluarga, ternyata berlangsung hangat dan lancar. Terima kasih Yesus!

Friday, June 30, 2017

Piknik Seru Ke Kawah Ratu


Kamis, 29 Juni 2017

Akhirnya hari ini gue bisa mewujudkan keinginan gue ke Kawah Ratu. Setelah perencanaan seadanya dan bantuan Usep, ranger Ciampea yang gue kenal sejak piknik ke Bukit Galau beberapa waktu yang lalu, gue menemukan jalan dan cara buat ke sana.

Gue pengen ke sana sejak beberapa lama, tapi bingung caranya. Setelah baca-baca review mengenai Kawah Ratu, kayaknya ngga mungkin untuk jalan ke sana secara mandiri, tanpa ditemani seseorang yang kenal daerahnya. Selain itu, kayaknya 'medan' ke Kawah Ratu cukup berat. Untuk tiba ke sana aja perlu trekking sekitar 2 - 3 jam. Tapi entah kenapa, gue malah jadi makin penasaran.

Gue dan Ony ketemuan Usep sekitar jam 8:30 pagi di Sekolah Pandu, Ciampea, meleset dari rencana awal yaitu 7:00 pagi. Ternyata Usep juga mengajak kenalannya yang lain, Wildan, Fitri dan Vita. Wildan adalah seorang ranger juga, sedangkan Fitri dan Vita adalah pelajar yang pengen ikutan ke Kawah Ratu. 

Perjalanan pun dimulai dengan bermotor sekitar 1 jam menuju pintu masuk Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Dari pintu masuk, ngga terlalu jauh, tibalah gue di pintu masuk Kawah Ratu. Di dekat pintu masuk terdapat hutan pinus yang dipenuhi tenda-tenda pengunjung yang berkemah di sana.

Setelah Usep menyelesaikan urusan administrasi di pos masuk, trekking pun dimulai. Awalnya jalur yang ditempuh menurut gue ngga berat-berat amat. Dengan jalur berbatu dan ngga terlalu landai, gue yang amatiran dengan kondisi fisik biasa - biasa aja ini, masih bisa menikmati perjalanan meskipun dengan keringat bercucuran. Yang bikin perjalanannya menyenangkan tuh karena udaranya sejuk dan segar, juga karena keindahan hutan yang harus gue lalui. Ditambah lagi, di sisi jalur selalu ada aliran sungai kecil yang airnya jernih dan bersih. 




Gue udah mulai kehabisan tenaga setelah perjalanan sekitar 1.5 jam. Di saat itu, jalur yang harus dilalui udah ngga sekedar bebatuan di tanah yang datar. Kadang harus melewati jalur yang menanjak, tanah yang licin, lumpur, bahkan genangan air setinggi betis. 

Setelah perjalanan yang melelahkan, dengan keringat yang membasahi seluruh badan dan baju, trus kering, trus basah lagi, gue, Ony dan teman - teman lainnya tiba di Kawah Mati 1. Begitu tiba di Kawah Mati 1, rasanya pemandangannya kontras banget dengan pemandangan hutan nan lebat yang gue lewati sebelumnya. Kawah Mati ini kayak hutan yang mati dan kering, dengan pepohonan yang sudah mati, sebagian masih berdiri tegak dan sebagian tumbang. Dengan pemandangannya yang eksotis dan suasananya yang sangat sunyi, Kawah Mati memiliki keindahan tersendiri yang belum pernah gue lihat sebelumnya.






Sejak awal Usep mengingatkan untuk menyiapkan masker penutup hidung untuk digunakan di Kawah Mati, karena bau belerang yang menyengat. Tapi sore itu ketika di sana, gue ngga merasakan bau menyengat itu, bahkan sampai lupa memakai masker. Kayaknya gue terlalu fokus dan terpana oleh keindahan di sekeliling gue.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Kawah Mati 2. Pemandangannya tetap sama, indah dan sedikit seram disaat yang bersamaan. 


 


Akhirnya, gue, Ony dan yang lainnya tiba di Kawah Ratu. Aaaahhh....senang banget rasanya ! Setelah 3 jam ber-trekking ria dan kelelahan maksimal, mata gue disuguhi pemandangan yang lebih indah lagi dan kontras dengan pemandangan yang gue lalui sebelumnya, Kawah Mati 1 dan Kawah Mati 2. Kawah Ratu lebih banyak berupa bebatuan besar, dengan kawah tebal membumbung tinggi. Keindahannya ditambah dengan sebuah sungai kecil melintas yang dasarnya berwarna putih dan air yang dari kejauhan tanpa berwarna biru toska. Eksotis banget !! Pengunjung bisa berendam dan mandi disini. Airnya cenderung hangat hingga panas. 

Gue, Ony dan yang lainnya beristirahat selama sekitar 1 jam di kawasan Kawah Ratu. Usep yang membawa kompor outdoor memasak air panas untuk membuat kopi. Dengan pemandangan terhampar di depan mata, sambil menyeruput segelas kopi dan cemilan biskuit seadanya, rasanya segala kelelahan setelah trekking tadi luluh lantah. Anyway, itu mungkin yang dirasakan Ony, yang kebagian kopi. Gue sih cuma bisa icip-icip kopinya Ony sedikit, karena ngga kebagian gelas. 
 

Gue pun menggelar matras yang dibawakan Usep, untuk duduk dan merebahkan badan, pengen beristirahat. Tapi apa daya, karena begitu terpesona dengan keindahan Kawah Ratu, rasanya sayang banget kalau gue hanya memandangi dari kejauhan. Gue dan Ony pun mulai turun dan menuju sungai untuk berfoto - foto dan main air.







Tepat jam 3 sore, gue dan yang lainnya pun meninggalkan Kawah Ratu untuk kembali ke Pos Masuk. Saat tiba di Kawah Mati 2, rintik hujan mulai turun, dan akhirnya semakin deras. Rombongan sempat berhenti di batas air minum untuk memakai jas hujan. Oya, Wildan menyebut area ini 'batas air minum' karena disini terdapat sungai dengan airnya yang bersih, jernih dan segar yang mengalir dengan derasnya. Di sinilah batas dimana pengunjung bisa mengambil persediaan air minum. Melewati batas ini, meskipun ada sungai atau aliran air lainnya, namun airnya tidak bisa dikonsumsi / diminum karena mengandung belerang.

Gue menyebutnya air kulkas, karena selain jernih juga dingin. Andaikan gue tahu dari awal, gue ngga perlu berat-berat membawa beberapa botol air minum di ransel gue, sejak dari Depok ! Dasar pemula dan amatiran....

Perjalanan pulang rasanya lebih berat dibanding ketika berangkat tadi. Karena hujan deras yang mengguyur sepanjang jalan, bikin jalur - jalur yang harus dilalui licin dan becek. Ditambah lagi karena harus bertrekking ria dengan pakaian dan ransel basah. Maklumlah, selain karena tadi telat pakai jas hujannya, jas hujan yang gue bawa juga alakadar banget, cuma terbuat dari plastik dan minimalis sehingga cuma menutupi badan gue seadanya aja. 'Perjuangan' pulang ini semakin menantang karena Wildan, yang sejak awal memimpin perjalanan rombongan kecil ini, memutuskan untuk 'tidak beristirahat' selama perjalanan. Tadi ketika berangkat, gue dan lainnya sempat berhenti 3 kali untuk beristirahat sejenak. 


Dengan tanpa istirahat dan langkah kaki yang semakin dipercepat, perjalanan pulang ditempuh dalam 2 jam saja. Gue tiba di pos masuk dengan hati puas, rasa lelah, dan pegal luar biasa di sekujur tubuh yang ngga bisa digambarkan dengan kata - kata. Dan sekonyong-konyong gue dilanda rasa lapar yang membahana. Iyalah...gue belum makan siang. Selama perjalanan sejak pagi tadi gue cuma makan roti, kacang kulit dan biskuit seadanya. 

Gue puas banget dengan perjalanan ke Kawah Ratu ini. Pertama, karena ini perjalanan yang sudah gue idam-idamkan sejak beberapa waktu belakangan. Kedua... Oh My God...Kawah Ratu indah seindah - indahnya! Ketiga, karena dalam perjalanan ini gue dan Ony bisa dibilang memaksa diri untuk melewati batas kemampuan fisik masing - masing. Awalnya gue ragu akan kemampuan fisik dan niat gue untuk bisa menempuh perjalanan yang sejak awal gue tahu akan 'berat'. Tapi ternyata gue dan Ony sanggup dan berhasil. Yes!! Makasih Yesus, untuk penyertaanMu sepanjang perjalanan, dan kesempatan menikmati keindahan ciptaanMu yang yang luar biasa. 

Wednesday, June 28, 2017

Jadi Turis Di Kota Sendiri (2)




Vihara Dharma Bhakti
26 Juni 2017

Kelar urusan check in dan bersih-bersih gue langsung meninggalkan The Packer Lodge (TPL). Target gue adalah jalan - jalan sekitar Petak Sembilan, dan ke Kota Tua.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Vihara (Klenteng) Dharma Bhakti. Sebenarnya gue udah pernah ke sini beberapa kali. Tapi, kapan sih gue pernah bosan mengunjungi klenteng ? Apalagi dengan klenteng - klenteng seperti yang ada di kawasan Petak Sembilan ini yang sudah ikonik banget. Lagian, gue belum ke sini lagi setelah klenteng Dharma Bhakti terbakar tahun 2015. 

Meskipun awalnya ngga ngotot - ngotot amat pengen berfoto di sini, namun dengan bantuan pengunjung - pengunjung lainnya, gue berkesempatan mengabadikan beberapa momen di sini. Sensasi turis lainnya....minta tolong orang lain untuk motret. Bahkan gue juga minta tolong ke warga sekitar yang lagi nongkrong di luar klenteng. Sebenarnya gue membawa tongsis. Tapi entah deh...gue tuh paling ogah pake tongsis, macam alay gitu rasanya. Dengan berepot - repot mencari bala bantuan orang lain untuk berfoto, kayaknya lebih menantang.

Vihara Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bhakti
Vihara Dharma Bhakti
Puas berada di Vihara Dharma Bakti, tujuan gue berikutnya adalah Kota Tua. Perjalanan gue tempuh dengan berjalan kaki melalui pasar Asemka. Jauh ? Iya...tapi rasanya menyenangkan. Karena jalanan sepi, langit cerah, dan mungkin karena gue sangat menikmati momen nostalgia jadi solo bekpeker kayak gini, yang berpetualang sendirian, hanya gue dan ransel di pundak. Cihuyyy !

Tiba di kawasan Kota Tua, gue 'disambut' lautan manusia yang memenuhi area di depan Museum Fatahillah. Sebenarnya gue sadar, lokasi - lokasi Kota Tua pasti jadi salah satu tujuan utama warga Jakarta dan sekitarnya untuk menghabiskan liburan. Tapi baru kali ini gue kegirangan jadi bagian dari lautan manusia ini. 

Kota Tua
Saat perut berteriak - teriak kelaparan, gue pun mampir di Bangi Kopitiam yang juga berada di kawasan Kota Tua. Awalnya, untuk menyempurnakan idealisme jadi turis dadakan, gue pengen nyari makanan ala Chinese food di kawasan Pecenongan. Tapi, setelah dipikir-pikir kayaknya kejauhan untuk sekedar cari makan. Gue tertarik nongkrong (walaupun sendirian) di Bangi Kopitiam karena restoran ini menempati bangunan tua yang menjadi bagian dari komplek Kota Tua. Ini merupakan daya tarik tersendiri buat gue....soal rasa makanannya ? Standard alias biasa banget sih!

Kota Tua
Kota Tua
Menjelang jam 8 malam, gue kembali ke The Packer Lodge. Kali ini gue ogah berjalan kaki, tapi naik angkot dari dekat Stasiun Jakarta Kota. Sebelum naik angkot, gue mampir dulu di Stasiun Jakarta Kota. Gue senang berada di sini. Selain menikmati memandangi bangunannya yang tua dan kokoh, juga hiruk-pikuk calon penumpang yang menyesaki stasiun.

Stasiun Jakarta Kota
Tiba di hostel, gue langsung mandi dan menghabiskan waktu membaca novel yang gue bawa di ruang makan. Malam itu ruang makan dan ruang merokok dipenuhi tamu hostel lainnya. Sayangnya, gue ngga bisa mengobrol dengan mereka karena sedang asyik dengan makanan atau gadget masing - masing. Tapi ngga apa - apa...sampai detik ini, gue happy bukan kepalang karena semua hal tipikal kehidupan hostel ada di mata gue. Sekitar jam 9 malam gue ke kapsul tersayang, dan tidur. 

Tidur gue di malam itu memang ngga seindah yang gue harapkan. Kenapa ? Tamu di sebelah gue mendengkur dengan dahsyatnya! Gilaaaa....padahal ini kamar khusus perempuan, dan gue takjub luar biasa ada perempuan mendengkur sekeras itu. Tapi di tengah kenikmatan tidur gue yang tercabik - cabik sempurna di malam itu, dalam hati gue ketawa-ketiwi dan bilang pada diri sendiri, "Welcome to hostel life, Cherry. Be carefull what you wish for..."

27 Juni 2017

Gue bangun sekitar jam 8 pagi. Setelah mandi, gue pun menikmati sarapan gratis ala hostel. Menu standard...roti tawar dengan berbagai rasa selai, dan berbagai minuman (kopi dan teh). Kesukaan gue ketika sarapan di hostel adalah membakar roti gue sampai gosong. Tapi kali ini ngga bisa gue lakukan, karena harus ngantri pake mesin toaster. Gue memang menargetkan meninggalkan hostel secepat mungkin. Banyak tempat yang pengen gue kunjungi sampai sebelum waktu check out tiba.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Gang Gloria. Keren ya namanya....Ada apa di sini ? Ini adalah sentra kuliner Glodok. Tapi, khusus untuk makanan mengandung babi. Gilaaaa.....Glodok tuh surga buat siapapun penggemar hidangan daging babi. Sepanjang jalan mulai dari pasar Petak Sembilan dipenuhi penjual - penjual somay dan sekba babi. Trus, di Gang Gloria ini kayaknya ngga ada makanan yang luput dari daging babi, mulai dari somay, bakso, bakmi, sate, dan kawan - kawannya. Gue rasa kalo disini ada jualan rujak, bakalan mengandung babi juga kalii... Benar-benar membabi buta Gang Gloria ini! 

Gang Gloria
Bakmi Amoy
Gue bukan penggemar hidangan daging babi sejati sih, tapi ngiler juga pengen sarapan bakmi Amoy. Gue mendapat rekomendasi Bakmi Amoy ini dari hasil browsing, sebagai salah satu bakmi yang paling mantap rasanya. Dengan semangkuk Bakmi Amoy dan segelas liang teh, rasanya sensasi bekpekeran gue kali ini terbayar lunas ! Gue ngga sabar bawa Ony, Mama dan anggota keluarga gue ke Gang Gloria ini suatu saat. 

Oya, gang Gloria ini gampang dicari. Lokasinya di kawasan Pancoran. Bisa dibilang pas berseberangan dengan Pasar Petak Sembilan. Kalau nanya ke siapapun warga sini pasti tahu. Waktu gue nanya ke seorang petugas parkir langsung dijawab, "Ohh...tinggal nyeberang di situ....Banyak makanan di situ, ci !" Siappp, boss !!

Dengan perut kenyang, gue melanjutkan kisah-kasih ala turis dan menuju sebuah lokasi yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya, Candra Naya. Sebelum menyeberang jalan, gue tertarik untuk mampir ke Pantjoran Tea House, karena melihat sebuah meja di luar restoran, dengan delapan teko serta beberapa cangkir bergaya vintage. Di atas meja juga terdapat papan tulisan 'Tradisi Patekoan (8 Teko) Silahkan minum ! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.' Seorang pelayan segera keluar dan menyambut serta mempersilahkan gue untuk menikmati teh yang disajikan gratis untuk pejalan kaki. Hahhh ? Kok bisa ? Begini ceritanya. Adalah Kapiten Gan Djie yang tinggal di kawasan ini sekitar tahun 1663 dan memulai tradisi minum teh. Kapiten Gan Djie dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan serta hendak menumpang berteduh. So sweet ! Gue bukan pedagang keliling sih...ngga lagi lelah-lelah amat juga (khan baru makan bakmi Amoy)...cuma bekpeker gembel yang pengen neduh bentar dan nyobain tehnya. Boleh kan, Kapiten ? Boleh laaahh...! Boleh doongg !!
Patekoan, Pantjoran Tea House
Dengan diantar Gojek, gue pun tiba di Candra Naya. Candra Naya adalah bangunan kuno yang dahulunya merupakan tempat tinggal Mayor Khouw Kim An, yang diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1807. Bangunannya berarsitektur khas Tionghoa dengan atap yang mirip banget seperti atap klenteng. Lokasinya aneh bin ajaib, dan gampang dicari. Karena Candra Naya ini seakan - akan terbelenggu di tengah-tengah Hotel Novotel Gajah Mada. Yes, Candra Naya berada tepat di tengah Hotel Novotel. Heran dan prihatin jadinya, bangunan bersejarah kayak gini, meskipun terlihat sangat terawat dan bersih, namun terkesan kurang dilindungi. 

Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Di sini gue ngga kesulitan sama sekali dalam hal potret memotret. Karena ada petugas keamanan yang setia menemani gue kemana pun melangkah. Awalnya gue kecewa begitu tahu bangunan utama Candra Naya ngga dibuka karena masih libur Lebaran. Namun sang petugas yang ramah ini berusaha menghibur dengan memperlihatkan lokasi - lokasi dan sudut - sudut menarik Candra Naya lainnya. 

Dari Candra Naya, berikutnya kaki panjang gue melangkah ke gedung paling indah di Jakarta, versi gue. Gedung Arsip Nasional yang juga berada di Jalan Gajah Mada. Ini gedung favorit gue sepanjang masa. Bagus banget abisnya...tapi begitu Gojek yang gue tumpangi merapat di pintu gerbangnya, gue membaca pemberitahuan bahwa Gedung Arsip Nasional sedang tutup. 

Gue ngga mau menyerah begitu saja, dan bertanya ke tukang kebun yang sedang sibuk menyapu taman. Jawabannya justru membakar semangat gue untuk masuk ke area gedung, "Masuk aja Mbak, bilang sama petugas sekuritinya tuh di pos. Baik kok orangnya..." Gue pun memasuki gerbang dan menuju pos keamanan sambil bilang, "Pak, saya boleh masuk ya...cuma mau lihat-lihat di depan aja kok, ngga masuk. Saya sudah jauh-jauh dari Depok, Pak. Saya dari Sawangan. Sawangan jauh lho Pak, dekat Parung..." Dan sang petugas pun pasrah dengan kebawelan gue yang maha dahsyat dan membolehkan gue berkeliling sejenak. Belum selesai kebaikan bapak sang petugas sekuriti ini, beliau juga membantu gue berfoto dengan latar belakang gedung Arsip yang fenomenal itu. Ceklek!!

Gedung Arsip Nasional
Gedung Arsip Nasional
Setelah memuaskan rasa kangen akan Gedung Arsip Nasional, gue memutuskan kembali ke The Packer Lodge. Panasnya pagi itu bukan main. Gue pengen menikmati kenyamanan capsule bed yang harus gue tinggalkan beberapa jam lagi. Tiba di hostel, gue langsung mandi, sebelum berbaring di capsule bed. Mandi lagi ? Iyaaaa....itu kebiasaan gue kalo lagi bekpekeran. Tepatnya kalau gue lagi kepanasan plus kegerahan luar biasa, gue akan mandi sesering mungkin untuk menyegarkan diri.

Setelah berbaring santai di capsule bed selama beberapa waktu, dengan berat hati gue pun check out dari The Packer Lodge. Overall, gue puas banget tinggal di sini, meskipun cuma semalem. Entah udah berapa hostel yang pernah gue singgahi di beberapa negara, ngga berlebihan kalau gue bilang TPL adalah salah satu yang terbaik. 

Check out dari hostel, bukan berarti kaki panjang gue ini lelah. Dari TPL gue melanjutkan perjalanan dengan misi mencari Gang Kecap. Apa itu ? Gue pengen mencari lokasi rumah seniman kaligrafi Cina yang menurut informasi yang gue dapatkan, berada di kawasan Gang Kecap. Setelah keluar masuk gang - gang dan pasar - pasar yang ada di sekitar Petak Sembilan dan Jalan Pancoran, langkah gue pun terhenti setelah mendapat informasi dari warga sekitar bahwa toko Sanjaya (tempat seniman kaligrafi Cina tersebut), tutup. Agak kecewa sih...begitu gue hendak mencari Alfamart untuk beli minum karena haus luar biasa, eng...ing...enggg....tepat di seberang Alfamart berdiri Klenteng Toasebio. Gue langsung semangat lagi dan mampir ke dalamnya.

Klenteng Toasebio
Klenteng Toasebio
Abis dari Kleteng Toasebio, gue kembali menuju jalan raya Glodok dan naik angkot menuju Stasiun Jakarta Kota. Niat gue, nanti mau turun di Museum Bank Mandiri untuk berturut-turut mengunjungi Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang dan Museum Seni Rupa. Tapppiii...gue kecewa ! Karena Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia tutup. Heran...kenapa tempat - tempat menarik yang potensial dikunjungi warga di hari - hari libur begini malah tutup. Gue pun berasumsi museum - museum lainnya di kawasan kota tua tutup semua. 

Perjalanan pun berakhir di Stasiun Jakarta Kota. Gue mengakhiri petualangan dan hasrat pengen jadi turis di kota sendiri dengan hati senang dan puas. Keinginan untuk menjadi horraanggg Kota pun tercapai sudah, walaupun cuma sehari semalam.