I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Author: Cherry Sitanggang
•18:26
Pak Deddy, sang pawang gajah Aries, mengenalkan gue pada Queen, anak gajah yang baru berusia hampir setahun, yang tingginya belum lebih dari pinggang gue. Queen punya kebiasaan lucu, dia suka menyeruduk orang yang menjadi teman bermainnya, trus mengatur posisi hingga pantatnya membelakangi orang tersebut, dan dalam sekejap dia akan memberikan tendangan mautnya, dengan kaki kiri lalu kaki kanan. Inilah yang dia lakukan ke gue berkali - kali, tanpa ngerasa cape ato bosan.

Gue cuma bisa ketawa ngakak sejadi - jadinya ngeliat kelakukan Queen yang super lucu ini. Sesekali gue akan membalasnya dengan balik mengejar dan menggelitiki kaki Queen yang tampaknya sangat bangga dengan tendangan mautnya, yang entah dari siapa dipelajarinya. Ria, sang induk, tidak keliatan over protektif sama sekali. Dia asyik merumput. Kata Pak Deddy, Ria akan tenang dan senang mengamati anaknya bermain - main. Tapi kalo dia melihat atau mendengar Queen berteriak seperti layaknya anak kecil mengeluh atau menangis, Ria akan segera beraksi dan siap melindungi anaknya.

Ngga beberapa lama kemudian, Mega dan si kecil Ratu datang mendekat. Mega tampak selalu membuntuti Ratu, sehingga awalnya gue berpikir dia adalah sang induk. Sampai Pak Deddy menjelaskan, "Ini Mega, Mbak Yu'nya...". Gue heran dan balik bertanya, "Mbak Yu maksudnya apa, Pak ? Dia kakaknya ?" Pak Deddy jawab, "Bukan, dia yang tugasnya menjaga Ratu. Dan dia sangat menyayangi Ratu, sampai - sampai dia lebih rela tidak makan asalkan Ratu makan..."

Hari ini, gue dikenalkan lagi sama satu sisi istimewa dari seekor gajah. Betapa gajah sangat menjunjung tinggi nilai kasih sayang dan solidaritas. Dalam hal perasaan, gajah ngga jauh berbeda dengan manusia, hanya saja manusia terkadang menjadikan perasaan - perasaan indah itu menjadi lebih kompleks dan rumit. Hal ini membuat gue semakin sayang sama mamalia yang satu ini. Perasaan kagum dan bahagia yang bisa gue rasakan ditengah kawanan gajah ini, membuat gue melupakan lelahnya perjalanan yang harus gue tempuh dari Jakarta menuju Taman Nasional Way Kambas, Lampung ini.

Walaupun belum puas bermain - main bersama Queen dan Ratu, keasyikan lain segera menyita perhatian gue. Kali ini, tepat di tengah padang rumput hijau dan luas di taman nasional ini, gue pengen 'belajar' cara menunggang gajah seperti layaknya seorang pawang. Tepatnya, bagaimana mengendalikan jalan gajah dengan teknik yang benar. Saat menunggang kuda, gue mengandalkan kaki dan tali kekang untuk mengendalikan langkah dan arah kuda. Ternyata tekniknya ngga jauh berbeda dengan gajah. Kaki gue dan ganco adalah alat untuk mengendalikan jalan gajah. Di balik itu, sebenarnya kecerdasan dan kerja sama sang gajahlah yang paling berperan. Dengan tubuhnya yang raksasa, sebenarnya Aries, ato gajah manapun, bisa dengan mudahnya melemparkan tubuh gue dari punggung mereka. Tapi, gajah adalah makhluk yang sangat bersahabat. Jadi, bukan rasa takut yang membuat mereka mau bergerak sesuai dengan keinginan kita, tapi rasa sayang dan insting mereka.

"Kelas" menunggang ini memberikan perasaan senang seluas samudra di hati gue. Ini pengalaman yang luar biasa istimewa...walaupun setiap detiknya diisi dengan teriakan - teriakan histeris gue, karena rasa takut dan bersemangat di saat bersamaan. Tapi Pak Deddy selalu sabar mengingatkan, kalo Aries sangatlah kooperatif dan tidak akan melakukan tindakan - tindakan agresif yang akan membahayakan gue.

Taman Nasional Way Kambas adalah tempat favorit gue. Karena disini, gue bisa bertemu dan berinteraksi dengan sahabat - sahabat istimewa gue, para gajah. Para gajah yang selalu membuat gue takjub dengan segala hal yang ada pada diri mereka, dan apa yang mereka lakukan. Ini adalah kedua kalinya gue mengunjungi Taman Nasional Way Kambas...kedua kalinya gue bertemu Aries dan kawan - kawannya yang tersebar di taman nasional yang sangat luas ini. Ini adalah tempat istimewa gue, karena sejauh ini, baru disinilah gue melihat sahabat kesayangan gue, gajah, hidup dengan bebas dan cukup bahagia.

Gue berjanji, selama Yesus mengijinkan dan memampukan gue, baik dari segi keuangan, waktu, tenaga, dan apapun yang dibutuhkan untuk gue bisa berkunjung ke sini lagi, gue akan melakukannya ! Beberapa tahun silam, gue sempat pesimis dan putus asa untuk mencari jalan menuju taman nasional ini. Yesus udah menunjukkan jalannya untuk gue, dan gak akan gue sia - siakan. Sampai berjumpa lagi, Aries, Ria, Queen, Mega, Ratu dan gajah - gajah lainnya. Sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti, semoga Yesus senantiasa melindungi dan memenuhi kebutuhan kalian. Amin.
Author: Cherry Sitanggang
•18:34
Kamis yang lalu, 02 Feb 2012, sore - sore gue nerima email yang bikin hati senang luar biasa. Email yang isinya Newsletter Santa Fe dan salah satu beritanya mengumumkan bahwa gue keluar sebagai pemenang sebuah kompetisi yang diadakan oleh Santa Fe, secara regional alias diikuti oleh seluruh dunia.

Kompetisinya dibuka sejak akhir tahun lalu, dan sebenarnya simpel, panitia minta ide untuk nama Newsletter khusus karyawan. Walaupun simpel, dari awal gue udah bertekad untuk ikutan. Gue emang hobi banget ikutan kuis. Di sela - sela kerjaan, gue sering browsing - browsing di internet, demi mendapat inspirasi nama Newsletter. Gue sempat bosan dan putus asa karna ngga menemukan nama yang gue sukai.

Gue emang paling serius dalam hal mencari nama yang tepat. Harus ada keterkaitan antara nama dan objek yang gue beri nama. Misalnya, gue pribadi menamakan seekor anjing Rottweiler milik Polisi Satwa dengan "Sugar". Nama ini gue berikan ke anjing yang sebenarnya bernama Gucci itu, karena dia adalah rottweiller dengan sikap termanis yang pernah gue temui. Dia ngga galak, seperti rottweiler pada umumnya. Di awal kunjungan gue ke kennel anjing - anjing dalmas (pengendalian massa), di saat para rottweiler yang lain ganas menggonggong ke arah gue, Sugar cuma diam. Dan tiba - tiba dia balas menggonggong ke arah anjing - anjing lainnya, seakan - akan ingin membela dan menumpahkan kekesalannya pada yang lain yang tidak menerima kedatangan gue dengan ramah. Kalo gue masuk ke dalam kennel pribadinya, Sugar akan menyambut dengan ekspresi riang ala anjing. Setiap kali gue meninggalkan kennel, Sugar akan dengan setia menunggu sampai gue lenyap dari jangkauan pandangannya, gak peduli saat hujan turun atau cuaca panas bukan main. Sugar, karena dia bersikap sangat manis dan setia.

Kembali ke newsletter ini, gue sibuk mencari inspirasi. Nama apa yang mempunyai arti kuat dan sangat mewakilkan Santa Fe. Banyak hal berkeliaran di benak gue. Tapi fokus gue dari awal adalah Kuda. Santa Fe memang mempunyai logo seekor kuda berwarna merah. Gue cenderung ingin menggunakan kosa kata berupa kata benda dibandingkan kata sifat. Dan akhirnya gue memutuskan memberi nama "Red Horse Bulletin".

Mungkin untuk orang lain makna "Kuda" ngga berarti banyak. Tapi buat gue yang setiap akhir minggu menghabiskan waktu dengan berinteraksi bersama kuda, mulai dari berlatih menunggang, memandikan, memberikan makan dan bermain - main dengan kuda, kata ini terdengar sangat istimewa. Untuk gue pribadi 'kuda', berarti : berani, cerdas, kuat, gagah, cepat dan bebas.

Di saat gue mempertimbangkan untuk mengajukan nama ini, pikiran gue melayang ke Samudra, kuda latihan gue, dan kuda - kuda lainnya di tempat yang sama. Betapa hidup gue beberapa waktu terakhir lebih berwarna dengan kehadiran mereka. Teman - teman berkaki empat yang sangat istimewa, dan membawa kebahagiaan tersendiri buat gue. Rasa bahagia yang bikin gue pantang mundur walaupun awalnya ditentang Mama untuk berlatih menunggang. Terima kasih Samudra, yang udah memberikan gue inspirasi.

Kemenangan ini memberikan banyak hal untuk gue. Rasa senang, bangga, lega, dan pastinya, hadiah berupa sebuah iPad. Yesus selalu paling mengerti gue dan apa yang gue butuhkan. Bukan iPad yang gue perlukan saat ini, tapi perasaan senang dan semangat yang timbul karena menang. Ini sesuatu yang gue butuhkan, supaya gue tetap semangat dan mood kerja. Yes....the winner takes it all ! Makasih Yesus....
Author: Cherry Sitanggang
•17:45

Jumat, 13 Januari 2012

Hari ini gue berangkat ke Singapura. Udah jadi ritual 3 tahun terakhir untuk menikmati hari ulang tahun dengan berkepekeran ria. Kali ini tujuannya Singapura lagi...untuk yang keempat kalinya. Tapi gue ngga pernah merasa bosan dan cukup menjelajah negara kecil yang super nyaman ini.

Gue memutuskan untuk tinggal di Footprints hostel yang letaknya di Jalan Perak No. 25, di kawasan Little India. Gue tinggal di female dorm room berisi 10 ranjang yang dilengkapi dengan AC, seharga SGD 26 per malam. Walaupun Singapura dekat, tapi untuk menuju ke sini gue harus singgah ke Kuala Lumpur dulu, jadi begitu tiba di hostel, rasa lelah udah menyerbu gue. Tapi gue berjanji, seperti di trip - trip sebelumnya, gue akan pergunakan setiap waktu gue untuk santai dan bersenang - senang.


Sabtu, 14 Januari 2012

Setelah sarapan gue langsung berangkat ke Botanical Garden di daerah Orchard, dengan menggunakan bus. Tiba di sana gue memuaskan hasrat berjalan kaki sambil menikmati segar dan hijaunya pemandangan Botanical Garden.

Puas di Botanical Garden, gue mencari Orchard - MRT Station untuk menuju Labrador Nature Reserve. Di sini gue pengen berkunjung ke Labrador Secret Tunnel. Tiba di sana, gue justru ketakutan masuk ke kawasan hutannya, untuk menuju ke Tunnel. Pepohonan tinggi dan rindang, dan sepinya kawasan hutan, bikin gue bergidik ngeri. Tapi seperti biasa, rasa takut gue selalu dilindas sama rasa penasaran yang menyala - nyala. Mulai hari itu, Labrador Nature Reserve jadi lokasi idola gue. Suasana di sini tenang, dan banyak hal bisa dieksplorasi.


Dari Labrador, gue naik MRT ke Kranji. Awalnya, rencana gue mengunjungi Kranji War Memorial. Tapi begitu tiba di station, gue kebingungan mencari arah. Gue masih berusaha mencoba mencari jalan dengan berjalan kaki, tapi akhirnya gue harus berhenti karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore lewat. Kranji War Memorial tutup jam segitu. Sedih. Gue kembali ke MRT dan menuju Singapore Turf Club, siapa tahu gue masih sempat menonton pacuan kuda. Sayangnya sudah hampir berakhir, dan gue pun meninggalkan Kranji dengan sedikit kecewa.

Perjalanan selanjutnya, menuju City Hall - MRT Station. Di sini target gue adalah Philatelic Museum. Gue sempat kesulitan mencari lokasinya, dan tiba di sana lagi - lagi museum sudah tutup dan gue cuma bisa gigit jari. Kecewa. Setahu gue, museum ini juga bagian dari Elephant Parade yang akan segera berakhir. Alih - alih kembali ke MRT station, gue malah mampir dulu di Armenian Church. Di sini gue duduk beberapa saat di taman belakang, dimana diletakkan beberapa batu nisan tua berbentuk artistik. Gue senang dengan ketenangan yang gue rasakan disini. Selain itu, gue harus berhenti sejenak karena merasakan sakit bukan main di kedua telapak kaki gue. Saat langit semakin gelap, gue meninggalkan gereja.

Tiba di kamar hostel, gue merebahkan badan sejenak. Sebenarnya bukan badan gue yang memaksa untuk istirahat, tapi kedua telapak kaki gue yang sudah mulai menunjukkan gelembung berdiameter 3 cm, berwarna kombinasi merah, putih pucat dan kekuningan. Entah apa isinya...nanah ? Yang jelas rasanya sakit bukan main. Hari ini perjalanan gue memang panjang banget. Gue udah mengeksploitasi kedua kaki gue secara habis - habisan. Andaikan ada Komisi Nasional - Hak Asasi Kaki, gue pasti udah dilaporkan, dituntut dan dihukum dengan tuduhan penyiksaan kaki level serius.


Tapi rasa sakit di kaki ngga bikin gue kapok berjalan. Malam itu gue kembali ke kawasan Mustafa Market, karena didorong keinginan menggebu - gebu untuk....makan McDonald. Jadilah malah itu perut gue terisi burgernya McDonald dengan saus yang rasanya aneh di lidah gue.

Gue kembali ke hostel dengan langkah terseok - seok.

Minggu, 15 Januari 2012

Hari ini gue bangun amat siang, jam 9. Itu pun karena gue ngga pengen ketinggalan jam sarapan gratisnya Footprints. Di hari ini, gerak - gerik gue udah semakin melambat akibat kedua telapak kaki yang meronta - ronta kesakitan. Jadi, gue akan bersikap sedikit lunak pada keduanya. Abis mandi dan sarapan, gue melewatkan pagi itu dengan tiduran di kamar. Tapi ngga bisa berlama - lama, karena gue mau gereja. Pesan Mama selalu terngiang - ngiang, supaya gue selalu ingat ke gereja setiap kali bekpekeran. Mama sering gundah gulana. Katanya, dengan jadwal bekpekeran gue yang padat setiap tahunnya dan selalu menggunakan hari Minggu, berapa kali gue bolos gereja...Jadi hari ini, walaupun kedua kaki gue menangis berguling - gulingan karena ngga sanggup berjalan, gue bertekad untuk mencari lokasi gereja HKBP Singapura, yang masih menggunakan gedung Tamil Methodist Church. Yesus maha baik dan pengertian sama kondisi kaki gue yang nyaris mengenaskan. Gue berjalan kaki dari Footprints menuju Tamil Methodist Church dan ngga kesasar sama sekali. Bravo !


Sebenarnya gue agak minder untuk ikut kebaktian. Karena penampilan gue terlalu santai, cuma pake kaos oblong, rok pendek dan sendal jepit. Di awal kebaktian, gue dan 2 orang pendatang baru lainnya diminta berdiri dan memperkenalkan diri secara bergantian. Si gembel pun memperkenalkan diri, "Saya Cherry Sitanggang dari Jakarta. Saya ke sini untuk traveling...di Jakarta saya gereja di HKBP Srengseng Sawah..." Pulang gereja, gue diundang untuk ikutan acara Bona Taonnya HKBP Singapura, ke rumah salah satu Opung jemaat gereja di daerah Khatib. Gue pasrah dan tinggal di sana sampai jam 7 malam. Nampaknya, Yesus punya cara jitu untuk nyuruh gue diam, duduk tenang, mengistirahatkan kedua kaki.

Gue pulang dari Khatib naik MRT menuju Little India. Siapapun yang melihat gue berjalan pasti akan merasa iba. Yang bisa gue lakukan untuk bergerak adalah dengan menyeret - nyeret kedua kaki. Gue sedih, karena kehilangan kecepatan dan kelincahan. Mama selalu takjub ngeliat cara jalan gue yang gagah dan cepat. Dan sekarang, gue cuma sedikit lebih cepat dari pada siput atau keong. Setiap langkah bahkan bikin gue meringis kesakitan. Di saat gue berjalan di tengah keramaian, gue jadi orang terakhir yang tertinggal di belakang. Menyeberang jalan raya menjadi sesuatu yang sangat menantang buat gue. Jarak beberapa meter seakan - akan menjadi berpuluh - puluh kilometer. Tapi entah kenapa gue belum mau berhenti, malam itu, seperti malam - malam sebelumnya, gue kembali ke sekitar Jalan Dunlop yang lagi diramaikan dengan Pongal Celebration, dan menuju Mustafa Market.


Senin, 16 Januari 2012

Semalam gue berjanji akan bangun lebih siang dan tidak akan melakukan perjalanan apapun selain menuju ke Terminal 1 Changi Airport. Dan gue menepati janji gue...selesai mandi dan sarapan, gue bersantai di ranjang. Gue sudah membereskan ransel sejak semalam. Sekitar jam 10 pagi gue meninggalkan Footprints hostel, menuju Changi Airport. Setiba di Changi gue masih bisa bersantai dan menikmati mashed potato di AW. Mashed Potato jadi makanan favorit di trip kali ini. Setiap hari ini gue bisa mampir di Seven Eleven untuk membeli instant mashed potato 2 kali !

Tiba waktunya gue meninggalkan Singapura, menuju Kuala Lumpur. Makasih Yesus, atas usia yang bertambah... atas hadiah ulang tahun yang istimewa ini...atas penyertaan Yesus dalam setiap langkah gue...dan atas berkat melimpah yang senantiasa Yesus curahkan dalam hidup gue. Amin.


Author: Cherry Sitanggang
•18:14

14 November 2011.

Gue bangun menjelang jam 5 pagi. Dari semalem gue udah berniat pengen jogging pagi ini. Di pantai !! Pasti seru...mungkin jadi kayak cewe - cewe Baywatch...tentu aja minus baju renang minimalis warna orange dan pelampung.

Jam 5.30 pagi gue udah siap meninggalkan kamar, mumpung langit masih gelap. Gue bertemu Hasyim dan Siti yang berniat check out pagi itu. Mereka emang akan menumpang pesawat pagi menuju Singapura, dan bermaksud menikmati breakfast di hotel dulu. Gue pun berpamitan dengan keduanya.

Udara dingin ngga mematahkan semangat gue untuk jogging. Melihat kondisi jalan yang masih gelap dan sepi justru membuat gue makin bersemangat dan mulai berlari menuju pantai. Ternyata begini rasanya jogging menyusuri pantai. Diselimuti udara yang sejuk dan dingin, diiring suara debur ombak, dan sesekali dihantam percikan - percikan ombak. Setelah cukup jauh, gue berhenti. Kali ini pengen menikmati pemandangan pantai yang luas dan nampak tanpa batas. Gue merebahkan badan di atas hamparan pasir pantai. Mata gue memandang langit luas. Nikmat banget. Gue ngerasain sensasi lain, perasaan tenang dan damai, hanya dengan memandang langit seperti ini. Gue terbuai dengan rasa nyaman yang timbul, dan tertidur selama beberapa saat. Saat itu pantai masih sepi, hanya beberapa orang sedang melakukan hal yang sama : jogging atau sekedar asyik menatap pantai.

Beberapa saat kemudian gue terbangun...terbangun oleh sinar matahari yang mulai menyengat dan menyilaukan...dan karena teringat kalo gue ngga boleh ketinggalan jam sarapan hotel. Gue pun kembali berlari, kali ini menuju hotel.

Di hotel, gue sempat kembali ke kamar, kemudian langsung ke restoran hotel untuk menikmati sarapan. Entah akibat lelah setelah berolah raga, atau karena dorongan hati untuk tidak menyianyiakan fasilitas sarapan gratis dari hotel, gue makan banyak sekali pagi ini. 3 lembar roti cane, corn soup, 4 lembar roti bakar, mie goreng dan berbagai macam minuman yang tak terhitung jumlahnya.

Puas sarapan, gue naik ke kamar. Tiba di kamar gue mandi, trus merebahkan badan di ranjang empuk. Jogging di pagi hari dan kondisi perut yang super penuh, bikin gue seakan tersihir dengan pesona ranjang empuk yang terbentang di hadapan gue. Gue pun tertidur....lagi !

Saat terbangun, gue melirik jam tangan. Hampir jam 12 siang !!! Astaga...gue kebablasan ! Gue harus check out jam 12 tepat !! Gue makin panik, karena belum berkemas - kemas. Gue pun menyiapkan seluruh barang bawaan dengan paniknya. Kemarin saat check in, sekilas gue sempat lihat keterangan mengenai penalty kelebihan waktu check out. Gue ngga mau harus membayar sepeser pun cuma gara - gara ketiduran pagi ini. Gue bergerak secepat kilat. Memasukkan apapun ke dalam ransel. Selesai ! Gue langsung berlari turun menuju meja resepsionis dan menyerahkan kunci kamar.

Di dalam taksi, gue teringat sesuatu. Gue meninggalkan kaos hitam tergantung di lemari pakaian. Sebal !! Kenapa belakangan ini meninggalkan barang pribadi udah jadi semacam ritual tiap kali gue bekpekeran ? Dengan rasa kesal yang menyala - nyala, pikiran gue malah melayang ke novel "Eleven Minutes" nya Paulo Coelho yang diambil dari ayat - ayat Alkitab (Pengkotbah) yang pernah gue baca :

Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi
Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang


Entah ada hubungannya atau ngga, yang jelas bacaan ini rasanya menggambarkan kondisi gue banget. Kenapa gue harus kehilangan barang paling favorit ? Kenapa ngga si sendal jepit butut aja yang ketinggalan ? Atau jas hujan, yang bisa gue beli dengan mudahnya di Alfamart mana pun ? Atau botol sabun cair ? Atau apapun asal jangan kaos itu. Itu kaos favorit saat ini. Kalau sebuah lagu, kaos gue ini ibarat lagu terbaik dan selalu ada di urutan pertama Billboard music chart. Selama beberapa bulan terakhir !! Ahhhh !!

Gue berusaha menenangkan diri. Tentu aja, ini bukan pertama kalinya terjadi. Gue harus bisa menghibur diri sendiri. Untuk apa gue larut dalam kesedihan akibat kehilangan sebuah kaos hitam, kalo Yesus udah kasih gue liburan gratis yang sangat berkesan di Langkawi ini. Pantaskah gue menghitung - hitung kerugian gue dibanding berkat Yesus yang udah tercurah untuk gue melalui liburan tak terduga ini ? Lagian, kesalahan siapa sampai kaos gue ketinggalan ? Kedua puluh jari - jari serempak menunjuk ke arah gue semua. Baiklah, sekarang gue ikhlas. Tapi kali ini gue berjanji harus lebih hati - hati, supaya kecerobohan yang sama ngga terulang lagi.
Author: Cherry Sitanggang
•18:32
13 November 2011

Hari ini ngga perlu bangun pagi. Gue pengen menikmati kasurnya Zackry Guest House di detik - detik terakhir, karena sebelum jam 12 siang gue harus pindahan ke Aseania Resort. Ini adalah akomodasi yang disediakan oleh pihak Air Asia.

Setelah mandi, gue ke ruang bersama untuk menonton...kebetulan ada acara Dog Whisperer di National Geographic Channel. Jam 11 siang gue mulai menyiapkan ransel dan membereskan kamar, kemudian pamit ke Pak Zackry, sekalian ngembaliin kunci kamar.

Pak Zackry mempersilahkan gue masuk ke rumahnya untuk berpamitan langsung sama Bandit, Kacang dan Cumi. Tentu aja ketiganya lagi tidur nyenyak. Untuk urusan tidur pun, ada pembagian tempat untuk ketiganya. Bandit di sofa ruang nonton, sementara Kacang dan Cumi di lantai atas. Tapi keduanya akhirnya turun juga ke ruang nonton, mungkin untuk sekedar mengucapkan selamat jalan untuk gue.

Walaupun ngga ada puasnya bermain - main sama ketiganya, dengan langkah berat gue harus meninggalkan guest house. Kate dari Air Asia rencananya akan menjemput gue di Aseania jam 1 siang nanti.

Gue pun meninggalkan Zackry Guest House yang menurut gue sangat nyaman dan mengesankan, kemudian berjalan kaki dengan ransel berat dan penampilan gembel, di bawah teriknya matahari. Jarak yang harus gue tempuh ngga singkat dan gue tiba di Aseania dengan keringat bercucuran dan warna kulit gelap yang setara dengan daging steak yang dimasak well done.

Tiba di meja resepsionis, ada sedikit kekacauan terjadi. Resepsionis ngga menemukan nama gue dalam daftar tamu yang akan check in hari itu. Alamak....padahal sejak dalam perjalanan dari Zackry tadi gue udah membayangkan shower dan AC ! Gue udah kegerahan stadium tinggi. Setelah beberapa saat, urusan check in pun kelar, dan gue langsung menuju kamar.

Begitu tiba di kamar, gue langsung meletakkan semua barang bawaan, mulai dari ransel, sampai plastik kresek yang entah apa isinya. Gue menyalakan AC dan merebahkan badan di ranjang. Sebelum hari ini, kamar gue di Golden Temple Villa, Siem Reap (Cambodia), ada di urutan pertama sebagai kamar paling mewah dan nyaman yang gue tempati selama bekpekeran, dan gue beri predikat Presidential Suite. Tapi hari ini, Golden Temple harus turun ke urutan kedua, karena Aseania ini kayaknya lebih "mewah". Paling ngga, kali ini gue tinggal di hotel yang sebenar - benarnya. Bukan 'hostel', atau 'guest house', atau 'villa'. Walaupun masalah mewah atau ngga, sebenarnya ngga mempengaruhi kenikmatan bekpekeran. Berbagi satu kamar tidur dan satu kamar mandi dengan 15 orang lainnya yang ngga gue kenal juga menyenangkan kok...bahkan seru !

Gue mandi, dan bersiap - siap. Pastinya sebentar lagi Kate akan tiba dan menjemput gue. Di saat sedang asyik berdandan, Kate menelpon dari meja resepsionis. Gue pun turun, dan menemui Kate, serta pemenang kuiz dari Singapura, Muhammad Hasyim dan Siti.

Kami berempat menuju One Helang Hotel yang letaknya bersebelahan dengan Mahsuri International Exibition Hall, tempat penyelenggaraan Paintball World Cup Asia 2011. Di hotel ini kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan makan siang. Begitu diberikan daftar menu, gue langsung memilih lasagna.

Selesai makan siang, Kate kembali datang menjemput dan kali ini mengantarkan gue, Hasyim dan Siti menuju Mahsuri International Exibition Hall untuk menyaksikan pertandingan paintball.
Gue takjub dengan apa yang gue lihat di dalam hall yang maha luas itu. Ada 3 arena paintball dimana secara terus menerus berlangsung pertandingan antara 2 team yang saling adu kekuatan dan strategi. Gue ngga pernah menyaksikan pertandingan paintball, jadi ngga mengerti aturan permainannya. Namun yang jelas, setiap penonton harus super hati - hati, karena banyak peluru - peluru cat berserakan di lantai. Belum lagi, peluru nyasar dari arena Paintball.


Sore itu sedang berlangsung babak semifinal. Babak finalnya mungkin akan berlangsung di malam hari...Entahlah...tapi gue, Hasyim dan Siti memutuskan untuk kembali ke Aseania. Cuaca hari ini panas bukan main. Dan hasrat kaki panjang gue untuk berpetualang siang itu, dihentikan oleh kantuk dan keinginan gue untuk menikmati sejuknya kamar Aseania.

Tiba di Aseania, gue mandi. Selama di Langkawi, dalam sehari gue bisa mandi 4 - 5 kali. Panas...panas...panas...dan gue risih kalau berkeringat. Abis mandi, bukannya malah tiduran sejenak, seperti yang gue idam - idamkan sejak dari Mahsuri Hall tadi, gue memutuskan untuk keluar hotel.

Padahal ngga ada hal khusus yang pengen dilakukan, tapi gue menikmati acara jalan - jalan di sepanjang Jalan Pantai Besar. Gue berkeliaran di sini sampai malam. Sempat mampir di beberapa tempat, ke warnet, keluar - masuk mini market untuk beli cemilan, ke The Zon dan tetangga - tetangganya yang juga mengobral produk coklat duty free. Kali ini gue mantap membeli beberapa produk coklat dengan potongan harga yang lumayan. Urusan coklat selesai, dan tujuan terakhir gue adalah....Wan Burger lagi untuk makan malam !

Setelah kenyang, gue kembali ke Aseania. Di kamar gue baca novel sambil nonton TV. Berhubung ngga ada fasilitas TV Kabel, gue pasrah cuma bisa nonton acara - acara lokal. Ternyata urusan TV, kamar gue di Aseania ini kalah mewah dari Golden Temple Villa.


Sisa malam ini gue habiskan dengan membaca, corat - corat diary...pokoknya santai ! Malam ini gue pengen istirahat sepuas - puasnya di kamar...menikmati spring bed gue yang empuk...baca...bengong...baca....bengong...tidur !