I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, May 13, 2018

Trip Gunung Batu : Awalnya Ragu Berakhir Seru

 

Sabtu, 12 Mei 2018.

Gue ama Ony emang udah merencanakan beberapa hari sebelumnya, weekend kali ini pengen ke Jonggol. Pokoknya keluar dari Jakarta, selain ke Bogor karena ngebayangin keluar masuk stasiun Bogor yang rutenya dibikin jauh dan muter-muter, udah males duluan. Minggu lalu, berhubung pengen nonton Infinity War dan kebagian tiket nonton di sore hari, gue berdua bisa dibilang menghabiskan waktu nyaris seharian di mall. Jadi weekend ini waktunya untuk sedikit berpetualang.

Gue tuh punya list panjang tempat - tempat piknik yang pengen gue datangin di Jonggol. Masalahnya, Jonggol tuh jauh banget...musti lewatin Cibubur, Cikeas, Mekarsari....Macet, gersang dan berdebu, dan harus rebutan jalan dengan bis - bis juga truk - truk besar. Udah gitu, belakangan kayaknya fisik gue terlalu dimanjakan karena makin jarang piknik - piknik outdoor. Jadilah gue semakin malas...dan malas...dan malas....untuk piknik yang menguras tenaga, berkeringat, panas-panasan...Parah nih!

Gue dan Ony berangkat ke Jonggol tanpa tahu tujuannya mau kemana. Yang penting keluar dari rumah pagi - pagi biar ngga kebablasan bermalas - malas di kasur atau depan TV sampai siang. Setelah beberapa lama bermotor di Jalan Raya Jonggol, trus liat plang jalan "Puncak Gunung Batu 2..." arah ke kanan, langsung kita putar balik. Gunung Batu....dari jaman pacaran, pertama kali menginjakkan roda motor ke daerah bernama 'Jonggol' karena pengen trekking ke Gunung Batu ini. Tapi waktu itu salah perencanaan, karena baru berangkat dari rumah siang bolong. Jadi begitu di Jonggol, sekitar jam 4 sorean, nyari - nyari lokasinya dan gak ketemu, tiap kali nanya orang jawabannya, 'masih jauhhhh....!" Akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Saat itu lagi marak pemberitaan mengenai kejahatan begal, dan kita berdua ngga mau ambil resiko, dengan melakukan perjalanan di kawasan ini saat sore sampai malam hari.

Dari jalan raya Jonggol ke pintu masuk Gunung Batu, jarak dan waktu tempuhnya cukup jauh dan lama. Mungkin sekitar 30 - 45 menit perjalanan. Rasanya kayak perjalanan menuju Gunung Salak gitu, karena kiri - kanan jalan terhampar sawah - sawah nan hijau, trus udaranya mulai sejuk. Bedanya, jalannya cenderung berkelok - kelok dan lebih sepi pemukiman penduduk. Trus liat kiri - kanan ngga ada tiang lampu. Fix...! Kalo begini pas malam pasti gelap gulita.

Tiba di area pintu masuk dan area parkir Gunung Batu, cuma ada seorang bapak yang dan beberapa motor plat B yang ada di sana. Ternyata kalau mau trekking ke puncak Gunung Batu gak ada guide atau ranger yang akan mendampingi. Jadi teringat waktu ke Bukit Galau yang ada di Ciampea, ada Usep, ranger berdedikasi tinggi, yang awalnya cuma mau nemenin sampai Pos 1, akhirnya nemenin sampai ke Puncak. 


Gue dan Ony pun mulai melangkah....entah kemana. Si bapak tadi cuma bilang, lurus, nanti ada pertigaan, ke kanan. Gue dan Ony menyusuri jalan berbatu, dan setelah beberapa saat menemui pertigaan yang kali ini dipenuhi dengan pepohonan jati (kali, nebak doang). Kebetulan ada sebuah batu gede pas di pertigaan, yang dicat dengan tulisan "200 meter" trus ada tanda panah ke kanan. Setelah mengambil arah kanan, petunjuk berikutnya adalah batu - batu yang dicat merah dengan tanda panah 'lurus', setiap 2 meter. Petunjuk alakadar ini mengantarkan gue dan Ony ke pintu masuk Gunung Batu. Di situ kita harus membayar Rp. 15,000 per orang. 


Perjalanan menjelajah Gunung Batu pun dimulai. Setelah trekking beberapa saat, gue dan Ony tiba di area camping, sebuah area dengan tanah datar, berumput dan terlindungi oleh pepohonan lebat. Gue berhenti di situ untuk istirahat. Gila....baru trekking menuju area ini aja gue udah kelelahan ! Entah kemana hilangnya stamina dan semangat yang selama ini menyertai kaki panjang gue melangkah ke sana kemari. 

Di situ ada beberapa pengunjung yang sedang berkemah dan asyik menikmati waktu sekitar tenda masing - masing. Ada juga group remaja atau muda - mudi yang menggelar terpal dan menikmati keindahan Jonggol dan ketinggian. Kelar kedua mata gue menyapu pemandangan di sekitar, mata gue tertuju pada puncak Gunung Batu. Di sanalah gue lihat beberapa orang tampak sangat kecil sedang berusaha mencapai puncak gunung menggunakan tambang. Woww...segitunya banget ?? Gue ngga bakal sanggup !! Gue berteriak kencang - kencang....tapi cuma dalam hati doang. Masih gengsi.

Jalur menuju puncaknya terjal banget ! Udah gitu, gak kebayang panasnya di atas sana. Gue bukannya khawatir masalah kulit jadi gosong, tapi panas ya panas. Kepanasan bisa menyedot setengah dari stok energi dan mood gue kayaknya. Pokoknya gue ngga mau ke sana! Gue mo tiduran aja di rumput sambil menikmati Chitato Rasa Sapi Panggang, satu - satunya bekal yang gue beli dalam perjalanan tadi. 

Group muda - mudi yang tadi gue temui satu per satu mulai mengambil langkah menuju puncak gunung. Gue cuma memandangi dari kejauhan. Saking terjalnya rutenya, gue bisa dengan mudah melihat keberadaan mereka dari posisi gue duduk sekarang. Awalnya tekad gue udah bulat untuk tidak naik ke puncak. Tapi Ony berusaha keras untuk memotivasi gue. Dicoba dulu, kalo ngga kuat turun lagi, gitu katanya. Okelah, kita lihat nanti. Dalam 10 langkah pertama gue akan mengkonfirmasi kegagalan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagian yang bikin gue semakin yakin untuk ngga trekking ke puncak, karena saat itu persediaan air minum gue habis total. Cuma sisa setengah botol air mineral punya Ony. 

Gue pun memulai langkah dengan seribu keraguan, dan herannya bisa tiba sebuah pohon rindang yang pas buat berteduh sementara. Di sini gue berpapasan dengan group muda - mudi yang tadi gue liat di area camping, dan sempat ngobrol sebentar. Kita pun melanjutkan langkah masing - masing, mereka hendak turun pulang, sementara gue dan Ony lanjut ke puncak. 

Beberapa saat setelahnya, kita ketemu lagi sama group lainnya yang juga hendak turun. Wajahnya pada merah sekaligus gosong semua. Dan dengan nafas terengah - engah mereka sempat berpesan, "Hati-hati....terjal banget..." Duuuh...gue jadi pengen ikutan turun juga nih ! Tapi demi Ony yang ngga ada berhentinya ngasih keyakinan kalo gue akan sanggup sampai ke puncak, akhirnya keinginan itu gue simpan dalam - dalam. Dengan turunnya group yang terakhir itu, artinya hanya gue dan Ony yang berada dalam perjalanan menuju puncak Gunung Batu. Kok gue semakin merasa takut dan ragu ya ? Kalau terjadi apa - apa, gimana dong....siapa yang akan bantu gue berdua ? 

Medan terjalnya benar-benar menantang. Tapi ada beberapa titik yang menantang dan sulitnya tuh berlipat - lipat kali. Ada jalur berupa bebatuan besar yang berdiri tegak lurus, yang harus gue lalui dengan menggunakan tambang. Selain gue penakut akan ketinggian, rasa takut juga muncul karena semakin ke puncak lebar jalurnya semakin sempit. Kalau ngga hati - hati, sampai kepleset atau terjatuh,......ah, ngeri gue ngebayanginnya! Di sini, gue kehabisan akal cara memanjat dengan menggunakan tali, dengan aman. Gue udah berusaha beberapa kali, tapi gagal. Awalnya Ony di bawah supaya bisa dorong badan gue yang tambun ini, gagal.....Lalu Ony naik duluan, supaya bisa narik gue dari atas....gagal juga. 'The power of fear' moment kalo begini...Pikiran gue sudah dikuasai oleh ketakutan dan kewaspadaan yang luar biasa, sampai - sampai gue putus asa di titik keberanian nol. Pelan - pelan gue coba lagi, dengan Ony siap siaga menarik tangan gue. Dan akhirnya gue berhasil naik ! Makasih Yesus !! 

Tantangannya ngga berhenti sampai di situ, masih ada beberapa titik terjal yang harus gue lalui sebelum tiba di puncaknya. Dan akhirnya, gue dan Ony sampai di puncak Gunung Batu ! Wowww !! Rasanya menakjubkan banget ! Kerennya lagi, cuma ada gue dan Ony di atas puncak tersebut. Kosong....cuma ada dua tiang dengan bendera merah putih, dan ilalang - ilalang tinggi di sana sini. Dari atas sini, pemandangan Jonggol terhampar luas. Tapi dalam hati gue bukan hanya sedang menikmati keindahan alam sekitar, tapi keindahan perjuangan gue melawan lelah, takut, dan rasa tidak percaya diri tadi ketika berusaha menuju puncak ini. Gue memulai langkah dengan dengan segudang keraguan dan secuil keyakinan doang, dan yang secuil itu pun segera lenyap setelah beberapa langkah di awal.

Tapi Yesus dengan baik dan ajaibnya memampukan gue untuk bisa lanjut melangkah, dengan ngasih kekuatan melalui fisik yang jauh dari bugar ini, dan yang terbesar melalui Ony yang ngga lelah memberikan keyakinan kalo gue akan sanggup menyelesaikan perjalanan.
 

Begitu hendak meninggalkan puncak, gue dan Ony bertemu pasangan trekker, salah satunya bernama Gerry. Gerry kebetulan minta difotoin, jadi karena posisi gue dan dia berjauhan, begini kesepakatannya. Gue akan foto dia dan temannya, begitu juga sebaliknya, cukup dari posisi berdiri masing - masing, setelah itu kita akan bertukar foto via WA. Ketika hendak bersiap turun meninggalkan puncak dan berpapasan, gue sempat bertukaran nomor HP. Setelah itu gue dan Ony melanjutkan perjuangan turun, dengan sisa - sisa tenaga yang seadanya, dan gawatnya....persediaan minum nol ! 

Dengan tenggorokan super kering dan langkah yang sangat pelan akibat kehausan dan kepanasan maksimal, gue dan Ony tiba di titik awal lagi. Makasih Yesus buat perjalanan super seru hari ini.

Niat awalnya abis dari Gunung Batu pengen lanjut hunting curug di sekitar sini. Tapi batal. Selain karena kaki dan tangan udah pegal kronis, juga biar bisa menikmati curug dengan lebih santai. Gue dan Ony akan ke Jonggol lagi dalam waktu dekat untuk menikmati keindahan curug-curug di sini.

Sampai jumpa, Jonggol !

Saturday, March 03, 2018

Review : Tom's Homestay, Bogor


2 Maret 2018.
Sejak perayaan Imlek di pertengahan Februari lalu, gue sudah merencanakan cuti untuk menghadiri festival Cap Go Meh 2018 di Bogor, yang berlangsung tanggal 2 Maret 2018 (Jumat).

Berhubung festival ini biasanya berlangsung sampai tengah malam, gue pun menyiapkan akomodasi untuk bermalam di sana. Tahun lalu, gue harus meninggalkan festival dengan segera, karena khawatir kehabisan kereta pulang. Tahun ini gue pengen puas-puasin menikmati festival tanpa khawatir urusan pulangnya.

Di Bogor, tepatnya di sekitar Jl. Surya Kencana, lokasi pusat penyelenggaraan festival Cap Go Meh, sebenarnya banyak hotel atau penginapan. Tapi gue mencari yang paling ekonomis, karena cuma buat numpang tidur doang pas tengah malam sepulang menyaksikan festival. Gue teringat, beberapa waktu yang lalu pernah kepengen ngerasain tinggal di Tom's Homestay, namanya. Dari review yang gue pernah baca, kediaman ini adalah peninggalan Dr. Ir. Soetomo, yang merupakan pendiri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Tom adalah putranya. 

Reservasi hanya bisa dilakukan melalui Airbnb. Ini adalah pertama kali gue menggunakan aplikasi ini, yang ternyata mudah ! Mudah - mudah susah juga...karena ketika gue hendak menyelesaikan pembayaran kamar sebesar Rp. 100,000 sekian, bermasalah. Jadilah gue berhasil booking dengan memilih pembayaran dengan mata uang USD, totalnya sekitar USD 8 sekian gitu deh.

Tanggal 1 Maret, Tom sudah menghubungi gue untuk janjian jam/waktu kedatangan di homestay. Tanggal 2 Maretnya gue tiba di homestay, yang beralamat di Jalan Selot No. 32 ini. Pas mencari lokasinya, dari stasiun Bogor gue berjalan kaki melalui arah Lapas Paledang, jadinya agak jauh. Padahal kalo ditempuh dari Jl. Raya Juanda, dekat banget ternyata. Gue langsung bertemu dengan Tom ketika tiba, beliau menyerahkan kunci, memperkenalkan fasilitas rumahnya. Begitu lihat rumahnya, terlebih bagian dalamnya, gue takjub. Typical rumah tua banget, peninggalan jaman Belanda gitu, berusia 60 tahunan. Dengan fondasi rumah yang tinggi banget, pintu dan jendelanya juga jaman dulu banget meskipun masih kokoh. Rumahnya luas dan memiliki banyak kamar. Dan yang lebih 'istimewa' bagian belakang rumah, berupa taman yang sangat rindang hampir menyerupai hutan.


Gue menempati sebuah kamar di bagian dalam rumah, di sebelah kamar mandi dan kamar kecil. Semua sudut dari rumah ini, vintage adanya. Meskipun gue seneng liat bangunan - bangunan tua apalagi peninggalan Belanda gitu, tapi percayalah gue sedikit ketakutan awalnya. Apalagi penerangan di setiap ruangan dibuat agak remang gitu. Menurut Tom saat itu hanya seorang turis asal Canada yang tinggal di homestay juga, dan gue 'menangkap' kayaknya Tom ngga tinggal di sini.

Begitu balik dari festival nyaris tengah malam, suasana gelap dan abis ujan, bikin gue ketakutan sebenarnya. Tapi syukurlah, begitu tiba di homestay, ada 3 orang yang sedang asyik mengobrol di halaman belakang yang mirip hutan itu. Gue berasumsi mereka adalah keluarga pemilik homestay. Oya, dari Surya Kencana ke sini bisa gue tempuh dengan berjalan kaki. Walaupun kedua kaki dan lutut gue udah mau rontok rasanya karena dieksploitasi abis-abisan demi menikmati festival tadi. 

Gue melewatkan malam dengan normal, tidur dengan nyenyaknya karena super lelah, ini melebihi perkiraan gue sendiri, dan terbangun jam 9 pagi. Abis mandi, gue sarapan. Di sini menu sarapan terbilang lengkap : ada roti dengan berbagai selai dan margarin, dan minuman teh dan kopi. Penghuni dipersilahkan untuk menyiapkan sarapan masing - masing, asalkan jangan lupa mencuci piring dan gelas kotor dengan bersih dan rapih. Oya, ada sebuah mesin toaster disediakan, jadi gue bisa menyiapkan roti super gosong favorit seperti ketika gue tinggal di hostel gitu.

Kebetulan gue sempat mengobrol dengan si turis Canada yang ternyata menghadiri festival Cap Go Meh juga semalam. Gue juga sempat menikmati roti gosong di teras belakang sambil menikmati rindangnya 'hutan' rumah tersebut. Sekonyong-konyong gue sadar....Rumah ini punya 'harta karun' tersendiri...ketenangan luar biasa! Selain 'sensasi' dibawa ke masa lampau puluhan tahun silam dengan interior rumah yang super vintage, rumah ini juga menawarkan kesunyian yang menenangkan. Caelaahhh ! 

Oya, dari segi lokasi homestay ini strategis banget, tepat di seberang Gereja GPIB Zebaoth. Jadi sebenarnya lokasinya bukan terpencil, dan berada di jalan utama. Tapi kerennya, berada di dalamnya, ngga terasa hiruk - pikuk metropolitan kota Bogor.

Saturday, January 27, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (12 Januari 2018)


Ini hari ulang tahun gue. Dan menyenangkan banget rasanya bisa melewatkan hari spesial kayak gini dengan berlibur, ke tempat yang memang udah gue idam - idamkan. Jadi, hari ini gue cuma pengen menikmati hari, tanpa terganggu oleh urusan 'serius' lainnya.

Tujuan pertama adalah ke Candi Kedaton. Berhubung kemarin gue sudah ke sini namun kesorean dan hujan, jadi gue menyempatkan waktu lagi untuk ke sini. Gue ngga mau terburu-buru di satu tempat tujuan, dan harus menikmati mengeksplorasi tempat itu, kalau perlu sampai bosen.

 
Candi Kedaton ini tinggal reruntuhan...dan gue melihatnya jadi seperti labirin, seperti bangunan luas dengan banyak ruangan - ruangan, tapi kadang ada bagian yang seperti gua juga. Gue jadi semakin penasaran dengan bentuk dan kegunaan asli candi ini pada jamannya....jadi terkesan makin mistis dan misterius aja. 

Di tengah - tengah rasa penasaran dan takjub gue akan situs ini, seorang laki-laki yang ada di sekitar situ, yang gue asumsikan adalah salah satu penjaga candi karena kemarin sore pun gue melihat dia di sini, malah cerita bahwa di lokasi Candi Kedaton ini pernah ditemukan 5 buah peti mati berisi kerangka manusia. Kelima peti mati tersebut masih tersimpan di gudang yang berada di dalam area Candi Kedaton. Gue dipersilahkan melihat langsung, jika berminat. Gue bergidik ketakutan....tapi makin penasaran. Gue dan Ony pun menuju gudang tersebut, namun pintunya terkunci. Alhasil cuma bisa mengintip dari jendela kaca, peti mati yang ditumpuk dan ditutupi dengan kain berwarna emas. 

Gue dan Ony sebenarnya menunggu penjaga candi lainnya yang kemarin sore sempat gue temui di sini. Kemarin beliau ingin menunjukkan bagian candi yang merupakan sebuah gua. Karena sudah terlalu sore dan gelap, gue pun berjanji akan datang lagi pagi ini, supaya bisa melihat lebih jelas. Tapi bapak tersebut ngga terlihat pagi ini.

Setelah puas berkeliling, gue meninggalkan Candi Kedaton dan Sumur Upas, berjalan sedikit menuju Situs Watu Umpak yang posisinya tepat di sebelah komplek Candi Kedaton. Watu umpak diartikan sebagai batu berbentuk segi delapan, yang berfungsi sebagai pondasi dan alas (umpak) untuk menegakkan tiang - tiang bangunan jaman kerajaan Mahapahit.


Dari Situs Watu Umpak, gue dan Ony kembali berjalan kaki kali ini menuju Situs Lantai Segi Enam. Di sini gue bisa melihat peninggalan purbakala berupa ubin berbentuk segi enam. Ubin berbentuk segi enam ini hanya ditemukan di lokasi ini, tidak di situs - situs Trowulan lainnya. Kalau melihat bentuk ubin tersebut, rasanya familiar. Kayak paving block ato paving stone yang biasa gue liat dimana - mana, tepatnya area outdoor. Tapi, menyadari bahwa lantai ini adalah peninggalan purbakala dari rumah tinggal pada masa kerajaan Majapahit, yang berdiri dari tahun 1293 - 1500 Masehi, dan masyarakat di era tersebut sudah terpikir membuat ubin berbentuk seperti itu, gue amazed.

Oya, selama di situs lantai segi enam ini gue dan Ony ditemani oleh petugas penjaga candi yang sangat ramah dan informatif. Sementara gue asyik berkeliling ke sana kemari, gue lihat beliau asyik mengobrol dengan Ony mengenai candi ini. Seorang penjaga candi lainnya datang dan mempersilahkan jika gue mau turun langsung ke area candi. Yessss....dengan riang gembira gue pun membuka gerbang, menuruni anak tangga dan dengan berhati - hati mendekat dan mengamati susunan ubin segi enam itu.

 


Puas di situs ini, gue dan Ony melanjutkan perjalanan ke Candi Bajang Ratu. Candi ini berupa bangunan yang tersusun dari batu bata merah, dan masih kokoh berdiri. Bentuknya seperti gapura dengan atap berbentuk limas. Trus dibagian atapnya ada relief-relief yang tampak seperti bentuk hewan. Gue sempat membaca panduan informasi yang tersedia di dalam komplek candi, menurut para ahli yang pernah meneliti bangunan candi ini, dibuatnya candi ini berhubungan dengan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328. Jadi berapa umur candi ini ? Sila dihitung sendiri....


Seperti komplek - komplek candi lainnya di Trowulan, area sekitar candi Bajang Ratu tuh indah dan teduh, dengan rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Lagi - lagi gue dibikin takjub dan salut dengan pemeliharaan taman - taman yang berada di kompek candi - candi yang ada Trowulan ini. Siapapun tukang kebun atau tukang taman, atau apapun itu namanya yang bertugas di setiap komplek candi tuh berdedikasi dan mencintai pekerjaan mereka dan pastinya sangat menghormati serta mencintai candi - candi tersebut. Tanda dedikasi dan cinta mereka terefleksi langsung dalam taman komplek candi yang bersih, asri, dan indah bukan main.

Oya, untuk memasuki area candi - candi di Trowulan ini kebanyakan gratis, atau membayar seikhlasnya. Di setiap pintu masuk biasanya disediakan buku tamu yang wajib diisi oleh pengunjung. Kemarin pas masuk Museum Trowulan Majapahit yang keren itu kebetulan ada harga tiket masuk resmi, yaitu Rp. 5,000 per orang. Jadi, harga ini gue jadikan benchmark, ketika gue diminta untuk membayar seikhlasnya.

Dari Candi Bajang Ratu, tujuan berikutnya adalah Candi Tikus. Candi Tikus ngga kalah indah dari candi - candi lainnya di Trowulan. Bangunan Candi Tikus seperti sebuah tempat pemandian, yaitu kolam, dengan bangunan - bangunan lainnya yang terbuat dari batu bata merah. Dinamakan 'tikus' karena katanya saat ditemukan, lokasi candi tersebut merupakan sarang tikus. Omaigat....harus banget dikasih nama tikus ya....?


Sama halnya dengan candi - candi yang ada di Trowulan, gue kesulitan mencari referensi cerita sejarahnya. Karena kayaknya belum ada informasi yang pasti dan fix mengenai sejarah masing - masing candi....yang gue temukan kayak gini : menurut ahli ini....menurut penulis buku itu....namun ada perbedaan pendapat bla bla bla...konon katanya.....diduga....Kesan ini bikin candi Trowulan semakin misterius di mata gue. Tapi it's okay, menikmati landscape setiap bangunan candi aja udah kepuasan tersendiri buat gue.

Gue ngga bisa berlama - lama di Candi Tikus, karena agenda gue hari ini padat...hallaahhh ! Tujuan berikutnya adalah Akar Seribu. Destinasi ini gue ketahui dari group Facebook Mojokerto Jalan-Jalan, sebagai salah satu wisata alam kekinian ala Mojokerto. Lokasinya di Dusun Begagan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, tepatnya berada di hutan Megolemet, yang berada di pengunungan Anjasmoro. Untuk mencapai si pohon raksasa dengan akar seribu tersebut dari area parkir gue dan Ony harus trekking menyusuri hutan, tanpa tahu arah dan tujuan, selama kurang lebih 30 menit. Belum ada track dibuat khusus bagi pengunjung. Berhubung saat itu hari Jumat, hutannya sepi bukan main...iyalah, namanya juga hutan, kalo rame namanya pasar....maksudnya, ngga ada pengunjung lain yang trekking ke arah Akar Seribu. Untungnya sesekali gue dan Ony berpapasan dengan warga lokal yang namanya sedang mengambil rumput, kayu dan lainnya. 


Begitu tiba di lokasi Akar Seribu, ekspresi gue dan Ony beda. Gue larut dalam kebingungan karena ngga nyangka kalo si pohon berdiri di sebelah sungai yang saat itu arusnya deras amat. Sementara Ony kayaknya sedikiiiittt kecewa karena si akar ngga seraksasa yang dipikirkan. Gue berdua pun mencari akal gimana cara menyeberangi sungai untuk mendekat ke pohon akar seribu. Sebenarnya di situ ada sebuah jembatan bambu. Tapi tampak begitu rapuh dan dipalang menyilang, jadi gue asumsikan ngga boleh dilalui. Kebetulan dekat situ ada seorang warga, yang ngasih tahu gue berdua bahwa jembatan ngga boleh dilalui. Jadi gimana caranya mendekat ke pohon ? Caranya, ya dengan menyeberangi sungai langsung. Makjaann....selain arus airnya kencang banget, gue dan Ony khan juga ngga tau kedalamannya. Memang sungainya banyak bebatuan gitu, tapi tetap aja, siapa yang tahu mana titik yang dalam. Setelah beberapa kali mencoba, lepas sepatu, pake sepatu, trus lepas sepatu lagi, bahkan sampai berusaha mencari jalan memutar, dan akhirnya kembali ke seberang pohon akar seribu, gue dan Ony pun menyerah. Gue berdua ngga mau mengambil resiko dengan sungai ini. Terlebih ngga ada orang lain di situ, kalau terjadi sesuatu, siapa yang akan menolong. Setelah puas memandangi si pohon raksasa dengan akar seribunya, gue dan Ony melangkah pulang. 

 

Tujuan berikut adalah Candi Jolotundo, sebuah petirtaan atau pemandian peninggalan Raja Udayana dari Bali, yang dibangun untuk puteranya, Raja Airlangga. Candi Jolotundo terletak di lereng Gunung Penanggungan. Landscapenya tuh keren dan indah banget. Dikelilingi pepohonan tinggi nan rindang, dan pusat daya tarik dari komplek candi ini tentu saja sebuah kolam yang memiliki banyak pancuran atau sumber air mengalir. Air di Candi Jolotundo ini diyakini berkhasiat dan keramat. Ketika di parkiran, gue melihat orang - orang membawa galon atau jerigen berisi air. Dengan lugu dan polosnya gue berpikir bahwa mereka membawa stok air minum untuk sekeluarga saat piknik ke candi ini. Tapi setelah itu gue heran sendiri....kok sekedar stok air minum banyak amat ampe bawa segalon-galonnya ? Ternyata, kebanyakan pengunjung yang datang ke sini, akan membawa pulang air Candi Jolotundo karena itu tadi....menyakini sebagai air keramat yang berkhasiat. Khasiatnya mulai dari bisa bikin awet muda, sampai menyembuhkan penyakit. 


Di area kolam, tempat pemandian terbagi menjadi dua, untuk perempuan dan laki - laki. Sore itu banyak banget pengunjung di sekitar area kolam, dan kebanyakan pada membawa galon dan jerigen masing - masing. Di bagian tengah kolam terdapat sebuah bangunan, dan gue melihat beberapa orang memanjat ke situ. Ada yang tampak duduk bersila, seperti sedang melakukan sebuah ritual, ada yang sedang mengisi wadah air. Pemandangan ini bikin suasana komplek jadi berasa mistis banget. Gue dan Ony pun memilih melihat - lihat sisi lain dari komplek Candi Jolotundo. Dan ketika kembali ke arah kolam, orang - orang yang duduk di bangunan tengah dan melakukan ritual semakin banyak.

Karena sudah cukup puas berada di sana, gue dan Ony pun memutuskan untuk mengambil langkah pulang. Kayaknya semakin malam kolam akan semakin dipenuhi oleh pengunjung yang hendak melakukan ritual di situ.

Dari Candi Jolotundo Pak Mus sempat mengantar gue dan Ony ke Claket Adventure Park. Ini destinasi yang ngga direncanakan, cuma karena kebetulan lewat aja, jadi gue pikir ngga papa lah sesekali berfoto ala alay gitu.

 

Di situ gue ngga terlalu lama, perjalanan lanjut di sekitar Pacet, sempat mampir makan pentol bakar, yang kayaknya jajanan khas Mojokerto. Trus karena sudah malam, gue dan Ony kembali ke hotel, dan mengucapkan terima kasih dan selamat jalan buat Pak Mus. Ini adalah hari terakhir gue menyewa mobil Pak Mus. 

Oya, sepanjang waktu yang gue lalui hari ini, gue ngga bisa cerita mengenai acara makan siang atau wisata kuliner. Kenapa ? Karena gue emang ngga makan siang dan ngga mampir di rumah makan mana pun untuk makan siang!! Kenapa ? Entah deh, Pak Mus sepertinya kurang agresif dan inisiatif untuk memperkenalkan dan mengantarkan gue dan Ony untuk cari makan di mana kek, bahkan saat gue minta sekalipun ! Setiap kali gue menanyakan soal dimana dan kapan mau makan siang, ada aja alasannya. Karena udah putus asa menahan lapar dan puasa ngemil, beberapa kali gue minta agar mampir ke Indomaret atau Alfamart. Trus dijawab singkat, "Nanti yang di depan aja...." Dan akhirnya gue baru bisa mampir di Alfamart beberapa jam kemudian. Gue pun membeli stok makanan dan minuman sebanyak - banyaknya, sebagai pengganti makan siang. Menurut gue, untuk urusan bawa mobil, jalan, dan lokasi - lokasi wisata, beliau cukup oke. Tapi gue agak kecewa karena dari kemarin gue kesulitan untuk cari kesempatan untuk makan.

Overall gue happy dan puas, hari ini banyak banget yang sudah gue kunjungi. Ini salah satu hari ulang tahun paling seru dan awesome yang pernah gue lalui. Thanks Jesus! 

Tuesday, January 23, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (11 Januari 2018)



Flight gue pagi ini dijadwalkan berangkat jam 5:40 pagi. Gue dan Ony bangun jam 1...entah dini hari atau masih tengah malam itu namanya. Trus, berangkat ke Soetta Airport sekitar jam 2:30 pagi.

Pesawat yang gue naiki nyaris kosong setengahnya, jadi gue leluasa bisa memilih deret bangku yang kosong, dan rebahan, walaupun gak bisa tidur juga, karena perjalanannya cuma sekitar 1.5 jam.

Tiba di Juanda Airport, Sidoarjo, Pak Mustaim, driver dari rental mobil yang gue sewa, sudah standby. Dari airport sebenarnya gue pengen nyobain kuliner Sidoarjo. Tapi menurut Pak Mustaim, belum ada tempat kulineran yang buka. Trus gue malah ditanyain mau mampir kemana di Sidoarjo ini. Berhubung ngga kenal daerah ini, gue nurut aja waktu Pak Mus menawarkan wisata lumpur Lapindo. Hhmm....kawasan lumpur Lapindo ternyata bisa dikunjungi dan jadi salah satu pilihan wisata. Gue dan Ony pun mampir ke sana.

Di sana gue berdua langsung diserbu oleh para tukang ojek yang menawarkan diri untuk mengantar berkeliling dan mendekat ke titik semburan yang terlihat masih aktif, jadi nampak seperti hamparan kawah gitu. Awalnya gue ama Ony cuma mau lihat - lihat sebentar, tapi akhirnya tergoda juga untuk 'pinjam' motor salah satu tukang ojek seharga Rp. 30,000,-

Kawasan sekitar genangan lumpur Lapindo gersang dan panas luar biasa. Trus dengan pedenya gue naik motor tanpa jaket dan topi. Tiba di lokasi yang nampak seperti hamparan kawah yang membumbung tinggi itu, kulit gue udah gosong segosong-gosongnya, dengan rambut acak-acakan. Berada di tengah hamparan lumpur yang mengeras dan mengering itu, susah ngebayangi bahwa dulunya kawasan itu adalah desa-desa dengan bangunan - bangunan rumah, pabrik dan lainnya, yang musnah ditelan lumpur. 

 
 
Setelah puas berjemur dan membakar kulit di bawah ganasnya sinar matahari, gue dan Ony meninggalkan lokasi. Tadinya gue minta diantar ke Candi Pari, tapi menurut Pak Mus akses jalan ke sana sedang ditutup. Kecewa. Perjalanan pun dilanjutkan Menuju Mojokerto yang gue lalui dengan tertidur, dan Ony menemani Pak Mus mengobrol.

Memasuki Mojokerto, terlebih daerah Trowulan, yang gue lihat adalah bangunan - bangunan, baik rumah, kantor, sekolah dan lainnya dengan gapura - gapura menjulang terbuat dari batu bata dengan nuansa merah. Jadi buat gue yang awam gini, terasa ada sedikit nuansa Bali gitu deh....Trus di depan setiap rumah di Trowulan, terdapat bangunan rumah kecil dengan gaya arsitektur khas jaman Majapahit, yang disebut sebagai Majapahitan. 

Pak Mus mengantar gue dan Ony ke Sun Palace Hotel yang letaknya sangat strategis, yaitu pas di Jalan Raya Trowulan, jadi sangat mudah ditemukan. 

Sun Palace Hotel secara sekilas adalah hotel yang nyaman, bergaya Bali, dan fasilitasnya lumayan lengkap termasuk kolam renang. Berhubung hari Kamis, sepertinya tamu hotel saat itu ngga banyak, alias sepi.

Selesai bersih-bersih dan istirahat sejenak, gue dan Ony langsung meninggalkan hotel dan mulai mengeksplorasi Trowulan. Candi pertama yang gue kunjungi adalah Candi Gentong di desa Bejijong. Di dalam komplek Candi Gentong dibagi menjadi 2 lokasi : Candi Gentong 1 dan Candi Gentong 2. Keduanya kini hanya berupa puing - puing yang ditutupi dengan atap berbentuk pendopo. Asri banget komplek Candi Gentong ini....selain dipenuhi pepohonan, yang kebanyakan adalah pohon maja, juga karena hampir seluruh area terdiri dari lapangan rumput nan hijau dan terawat.

Selain itu gue menikmati banget berada di sini karena tidak ada pengunjung lainnya selain gue dan Ony.

Candi Gentong dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk untuk upacara Sraddha memperingati Tribuwana Wijaya Tungga Dewi, ibu Hayam Wuruk. Beughhh...nama - nama populer yang sering gue denger pas pelajaran sejarah jaman SD atau SMP dulu.

 
 
 

Dari Candi Gentong, perjalanan pun dilanjutkan ke Candi Brahu. Dari kejauhan gue udah bisa ngelihat betapa megahnya candi yang satu ini. Selain itu, berbeda dengan Candi Gentong, Candi Brahu bisa dibilang masih utuh dan berdiri kokoh. Candi yang tersusun dari bata merah ini mengingatkan gue sama beberapa candi yang pernah gue kunjungi di Ayyuthaya, Thailand.

Di sini lagi - lagi gue disuguhi pemandangan segar di mata, pepohonan yang super rindang, dan bangunan candi seakan - akan berdiri di atas rumput hijau luas yang nampak seperti permadani. Caelaahh !

Puas dari Candi Brahu, gue dan Ony menuju Maha Vihara Mojopahit. Tujuan gue ke sini tak lain dan tak bukan ya buat melihat patung Buddha Tidur sepanjang 22 meter dan tinggi 4,5 meter. Gue khan paling suka mencari dan mengunjungi patung Buddha Tidur. Salah satu destinasi yang bikin gue pengen banget ke Mojokerto ya Patung Buddha Tidur ini.


Berikutnya Pak Mus mengantarkan gue dan Ony ke Museum Trowulan. Ini adalah museum arkeologi yang menyimpan peninggalan arkeologi dari masa Majapahit, dan yang ditemukan di seluruh Jawa Timur, mulai dari era raja Airlangga, Kediri dan Singasari.

Kayaknya ini salah satu museum dengan koleksi paling banyak yang pernah gue kunjungi, mungkin kayak di Museum Nasional (Gajah) di Jakarta. Rasanya ngga cukup kalo cuma sejam - 2 jam di sini.

Di saat yang sama gue agak heran kenapa sebagian barang koleksi museum diletakkan di luar museum (outdoor), yang bikin gue jadi ngerasa sayang banget, khawatir peninggalan yang terbuat dari batu - batuan tersebut rusak oleh cuaca.

 

Museum Trowulan Majapahit terletak hampir bersebelahan dengan Kolam Segaran Trowulan. Konon kolam Segaran yang berukuran 375 meter x 175 meter ini, pada jaman Majapahit berfungsi sebagai waduk air. Sore itu ketika gue dan Ony mampir ke situ, kolam Segaran dipenuhi oleh banyak warga yang asyik memancing.

Asyik sih sebenarnya menghabiskan waktu di situ, tapi panasnya ngga tahan !


Dari Kolam Segaran gue dan Ony berjalan kaki menuju Pendopo Agung. Pendopo Agung dibangun di atas lokasi Pendopo Agung pada masa Kerajaaan Majapahit, dan konon di sinilah Maha Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang terkenal itu. Sisa-sisa peninggalan pelajaran Sejarah jaman SD dulu yang masih melekat di pikiran, terlebih kalau mengenai Kerajaan Majapahit, ya Hayam Wuruk....dan Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya. Dari teks yang gue sempat lihat di Museum Trowulan Majapahit, begini isi sumpahnya :

Setelah tunduk Nusantara saya akan beristirahat. Sesudah kalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda Palembang, Tumasik, barulah saya akan beristirahat.



Dari Pendopo Agung, tujuan berikutnya adalah ke Candi Kedaton dan Sumur Upas. Begitu tiba di pintu masuk Candi Kedaton dan Sumur Upas, gue takjub sekaligus ngeri, karena Candi Kedaton tinggal berupa reruntuhan yang tersusun seperti labirin, yang sangat luas. Trus di tengah - tengahnya terdapat sebuah sumur yang menurut penjaga candi, airnya beracun. Di sekitar sumur diletakkan bunga mungkin dimaksudkan sebagai sesajen.

Candi Kedaton dilindungi dengan tembok disekelilingnya dan atap kokoh yang bikin keseluruhannya tuh megah banget. Gue salut deh sama Pemkot Mojokerto karena sepertinya sadar banget akan kekayaaan dan aset daerahnya dan terlihat usaha untuk melindunginya. Misalnya dengan membangun pendopo atau bangunan di atas peninggalan candi - candi yang tinggal reruntuhan, dan juga berusaha mempercantik kawasan - kawasan candi dengan merawat taman - taman di dalamnya.

Berhubung saat itu sudah sore, langit gelap dan hujan turun dengan derasnya, gue dan Ony memutuskan untuk pulang dan kembali ke Candi Kedaton keesokan harinya.

Kalau dibandingkan dengan itinerary yang gue buat di awal, kayaknya memang agak meleset, hari ini cuma bisa mengunjungi beberapa tempat saja. Gue dan Ony emang mau leluasa menikmati tempat - tempat yang kita kunjungi tanpa dibatasin oleh waktu, jadi kadang malah berlama - lama di satu tempat.

Setelah diantar kembali ke Sun Palace, gue dan Ony kebingungan nyari makan malam. Akhirnya gue berdua berjalan kaki menuju Rumah Makan Asmuni yang juga berada di sepanjang Jalan Raya Trowulan. Selain masalah transportasi umum yang tak tersedia, tantangan lainnya di sepanjang jalan raya Trowulan yang sebenarnya lebar banget itu, ngga ada trotoarnya di segala sisi ! Bahaya banget buat pejalan kaki...padahal kendaraan - kendaraan yang melintasi jalan ini kebanyakan truk - truk atau bus antar kota yang melaju dengan kencang. Selain itu penerangan jalannya juga minimalis alias kurang banget. Gue dan Ony berjalan kaki justru di pembatas jalan yang berada di tengah jalan raya.


Kelar makan malam, gue dan Ony balik ke hotel dan istirahat. Hari yang super melelahkan, secara aktivitas sudah dimulai sejak jam 1 dini hari, dan sepanjang hari diisi dengan berpetualang di Trowulan. Tapi happy banget....sejauh ini, Trowulan bahkan lebih keren dari yang gue bayangkan sebelumnya.