I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Monday, June 05, 2017

Curug Ciampea Yang Bikin Betah


Sabtu, 3 Juni 2017

Rencana gue hari ini adalah ke Curug Ciampea. Waktu berkunjung ke Puncak Lalana beberapa waktu yang lalu, gue dan Ony sudah janjian sama Usep, untuk mengunjungi Curug Ciampea. Usep adalah ranger yang nemenin gue dan Ony waktu ke Puncak Galau beberapa waktu sebelumnya. Gue udah ngobrol ama Usep via WA untuk merencanakan perjalanan hari ini sejak beberapa hari yang lalu. 

Gue dan Ony meninggalkan Depok menuju negeri Ciampea tercinta, sekitar jam 7 pagi. Berhubung saat ini lagi bulan puasa, gue baru sadar ternyata nyari sarapan susahnya bukan main. Jadilah gue mampir di McDonald's Bojongsari, Parung, demi menikmati menu sarapan yang sebenarnya ngga pas banget di perut.

Gue dan Ony tiba di Ciampea, tepatnya Sekolah Pandu, meeting point janjian sama Usep, hampir jam 9 pagi. Kami bertiga pun memulai perjalanan ke Curug Ciampea yang lokasinya ke arah Tenjolaya. Begitu mendengar 'Tenjolaya' gue langsung teringat Gunung Salak. Dan baru di pagi itu gue tahu bahwa lokasi curug ini ternyata di kawasan Gunung Salak. Gue girang. Entah kenapa gue selalu suka dan semangat untuk berkunjung ke Gunung Salak. Di mata gue kawasan Gunung Salak memiliki dan masih menyimpan begitu banyak lokasi dan spot yang indah dan mempesona. 

Dari jalan raya arah Leuwiliang gue dan Ony bermotor, dengan ngikutin Usep dari belakang, menuju Desa Tenjolaya, tepatnya lokasi pintu masuk Gunung Salak, selama kurang lebih 1 jam. Jujur aja, gue belum bisa mengingat rute perjalanannya, karena lumayan panjang dan berliku...kadang sampai harus menempuh jalan setapak kecil, di antara rumah - rumah warga.

Setelah tiba, memarkir motor, dan membayar uang masuk sebesar Rp. 15,000 per orang, perjalanan pun dilanjut dengan trekking selama sekitar 30 menit menuju lokasi curug. Kayaknya ini pengalaman trekking yang paling menyenangkan yang pernah gue lakukan. Pertama, saat itu cuacanya lagi cerah banget. Kedua, gue disuguhi pemandangan yang hijau dan indah berupa hutan pinus dan hamparan sawah. Ketiga, karena sepi banget. Saat itu yang ada di kawasan menuju curug hanyalah beberapa orang petani, trus gue, Ony dan Usep. Bahkan, di kawasan curug Ciampeanya hanya ada gue bertiga !! Wow....curug serasa milik bertiga kalo begini.



Begitu tiba di lokasi curug, gue terpukau dengan dahsyatnya. Keren banget....di sini bisa dibilang ada tiga curug. Yang bikin gue terpesona luar biasa tuh airnya jernih banget dan bersih. Trus, curugnya bisa dibilang aman untuk berbagai usia, karena di curug yang utama, yang paling tinggi dan deras, kedalamannya cuma sedada orang dewasa. Tiba di curug gue pun mengganti baju dan mulai nyebur untuk menikmati air jernih yang dingin dan segar banget. 


 
Setelahnya, berturut - turut gue pun berpindah ke lokasi curug yang lainnya. Kali ini meskipun ketinggiannya sama seperti yang sebelumnya, namun debit airnya gak terlalu besar. Tapi ngga mengurangi asyiknya bermain air di sini, sensasinya kayak dipijit-pijit dengan sesuatu yang agak tajam gitu.



Usep, si ranger baik hati, setia dan sabar nemenin gue dan Ony kemana - mana sambil bawa handphone gue dan berinisiatif dan siaga untuk memotret. Dia ngga ikutan nyebur karna ngga bawa baju ganti. 

Terakhir, gue mampir ke lokasi curug ketiga yang lebih nampak kayak kolam karena air terjunnya ngga terlalu tinggi dan kolamnya kecil. Setelah beberapa saat, puas mandi dan bermain air, sekaligus kedinginan sampai bikin ujung - ujung jari keriputan, gue pun bersiap untuk meninggalkan lokasi. Hmm.... Sebenarnya gue belum puas-puas amat berada di sini sih... Tempatnya tuh eksotis, tenang, dan damai banget, dijamin bikin betah berlama-lama. Lagian, kapan lagi bisa menikmati 'kemewahan' kayak begini, bercurug ria tanpa ada kehadiran pengunjung lainnya. 

Meskipun singkat, tapi gue sangat menikmati perjalanan ke Curug Ciampea ini. Ini adalah curug paling indah dan keren yang pernah gue kunjungi seumur - umur. Biarin dibilang lebay, tapi serius deh, curugnya layak disebut 'surga tersembunyi' karena keindahannya yang maksimal. Dalam hati gue berjanji untuk kembali lagi ke sini suatu saat. 

Perjalanan pulang diisi dengan obrolan seputar rencana - rencana trip berikutnya antara gue, Ony dan Usep. Begitu melewati kawasan hutan pinus bahkan kami bertiga mulai merencanakan atau untuk gue lebih tepat disebut 'berkhayal' untuk nginap di lokasi ini dengan camping atau menggunakan hammock. Hmmm...kayaknya petualang gue di Ciampea ini belum bakal berakhir...

Sunday, May 07, 2017

Berkelana Ke Puncak Lalana

 

6 Mei 2017. 
Gue ama Ony kembali ke Ciampea. Belakangan ini gue berdua emang hobi banget ke sini. Meskipun lumayan jauh dari Sawangan Depok, tapi berhubung penasaran untuk mengeksplorasi keindahan dan pesonanya, hampir tiap Sabtu gue ke sini. 

Kedatangan kali ini demi mencapai Puncak Lalana. Gue dan Ony meninggalkan rumah agak siangan, sekitar jam 12 an. Paginya kelar jogging pagi, gue milih lanjut tidur lagi. Setelah sempat mampir di Ampera buat makan siang, perjalanan dilanjut ke arah Parung, masih dengan rute favorit, arah Ciampea dari pertigaan Rumpin. Di tengah jalan hujan turun sederas - derasnya. Untungnya ngga berapa lama kemudian, mendekati Ciampea hujan reda, bahkan langit cerah. 

Pas tiba di jalan raya arah Leuwiliang, hujan turun lagi. Yaaaah...niat ke Puncak Lalana nyaris pupus. Gue males ngebayangin trekking menuju Puncak Galau seperti 2 minggu lalu, pas hujan. Alamakjaaann....repotnya dan capenya bukan main! Tapi berhubung hujannya ngga terlalu deras, gue dan Ony memilih nunggu beberapa saat, di SPBU Cibungbulan. Ternyata ngga lama kemudian hujan reda...yesss !...gue pun lanjut ke Pos 1 Puncak Galau.

Sebenarnya sejak tadi pagi gue udah kontak Usep, ranger yang nemenin pas ke Puncak Galau. Ternyata sore ini dia udah meninggalkan lokasi. Ranger lainnya, Yadi, menawarkan diri untuk mengantar. Awalnya gue ama Ony ngga yakin gitu...Yadi tuh masih bocah banget, anak kecil. Okelah dia ngerti jalan menuju Puncak Lalana....tapi selain itu gue butuh seseorang buat bantuin perjuangan gue trekking. Dan bocah ini terlalu mungil untuk harus menarik tangan dan menahan beban tubuh gue yang tambun ini jika diperlukan terlebih saat gue harus meniti jalan yang curam dan licin. Iseng - iseng gue nanya, "Yadi, sering ke atas ?" "Sering teh....seminggu sekali ke atas bawain sampah.." jawabnya. Ooppss...gue jadi ngerasa malu sendiri karena udah nyepelein kemampuan si ranger cilik ini.

Meskipun masih tetap ragu, gue dan Ony tetap melanjutkan perjalanan. Ragunya pertama karna saat itu udah terlalu sore untuk naik ke Puncak Galau. Alasan kedua, karena kali ini ditemani si ranger cilik, bukan Usep yang di mata gue udah berpengalaman banget.

Karena baru disiram hujan, tanah yang harus gue lalui licin dan lengket. Baru beberapa meter, tanah yang basah dan lengket udah menempel sempurna di sendal yang gue gunakan. Kondisinya ngga jadi lebih ringan dibanding pas ke Puncak Galau kalau gini. Seperti biasa, trekking gue lalui dengan penuh perjuangan, nafas ngos-ngosan, tenaga nyaris abis, dan keringat bercucuran kayak lagi mandi. Tapi, di luar dugaan gue, si ranger cilik, Yadi, gesit dan membantu banget ! 

Akhirnya tiba di Puncak Galau! Secara waktu, kayaknya kali ini lebih cepat. Kalau dari cape atau ngganya, sama ajalah! Mungkin setelah 50 kali ke sini baru deh gue terbiasa dan bisa bilang perjalanannya tuh ringan.

Puncak Galau
Berhubung hari sudah sore ~maklum, tadi mulai trekking aja sekitar jam 4 sore~ dari Puncak Galau, Yadi, gue dan Ony langsung menuju Puncak Lalana. Menurut Yadi, perjalanannya sekitar 10-15 menit lagi, dan medannya ngga seberat ketika menuju Puncak Galau tadi. Gue girang. Berhubung saat itu mulai gerimis, gue pun menggunakan jas hujan seadanya.

Yadi, si ranger cilik
Trekking menuju Puncak Lalana
Ternyata meskipun bukan jalan terjal yang dilalui, medannya ngga mudah juga sih. Selain harus melalui hutan nan rimbun, juga bebatuan karang berukuran besar, yang kadang sempit, kadang terjal, kadang licin...Sampai sekarang gue masih bingung dan penasaran, kenapa di atas gunung begini kok ada bebatuan kayak karang begini. 


Akhirnya gue tiba di lokasi yang dinamakan Karang Gantung. Tempatnya keren...kalo bahasa alay bisa disebut 'instagramable', mungkin. Pemandangannya indah banget dilihat dari atas sini. Dan udaranya segar dan sejuk banget. Yadi, si ranger cilik, dengan gesit menjalankan perannya sebagai fotografer dan penata gaya. Walaupun belum puas di situ, tapi perjalanan harus dilanjutkan, ke Puncak Lalana, yang jaraknya cuma beberapa meter dari situ. Dan, eng..ing...eng....Puncak Lalana pun di depan mata...awesome !

 
Puncak Lalana
 


Di Puncak Lalana tersedia sebuah balai yang terbuat dari bambu. Jika duduk-duduk santai di situ, sambil menikmati view yang indah terhampar sejauh mata memandang, ditambah angin sepoi - sepoi, rasanya ogah pulang. Damai dan tenang banget. Apalagi saat itu ngga ada pengunjung lain di Puncak Galau maupun Puncak Lalana. Jadi, Puncak Lalana serasa milik bertiga ajah!

Sayangnya, lagi - lagi karena hari menjelang gelap, Yadi pun mengajak untuk segera kembali ke Pos 1 Puncak Galau. Kali ini Yadi menawarkan untuk pulang menggunakan jalur Puncak Lalana, artinya, bukan dengan jalur yang sama ketika menuju Puncak Galau tadi. Seinget gue, sebelumnya Usep pernah bilang kalau jalur Puncak Lalana tuh terlalu berat, berlumpur segala, ngga cocok buat perempuan. 

Alasan Yadi, pulang melalui jalur Puncak Lalana akan lebih cepat, meskipun medannya memang lebih berat. Pertimbangan masalah waktu ini diambil karena saat itu langit sudah gelap. Untuk meyakinkan gue dan Ony, Yadi sampe wanti - wanti berjanji akan membantu gue melalui jalur trekkingnya. Gue nurut aja ama si bocah ini.

Benar aja, medan jalur Puncak Lalana ngga pernah terbayangkan di pikiran gue sebelumnya. Beberapa titik yang harus dilalui tuh udah ngga bisa dibilang terjal atau curam lagi, melainkan udah tegak lurus. Jadilah gue harus kayak orang panjat tebing aja, meraih batuan atau akar pohon apapun yang bisa gue genggam, sementara di bawah, Yadi dengan sabar ngasih petunjuk kemana kaki gue yang mana harus berpijak....Kaki kiri ke sini, teh...kaki kanannya ke sana...Awalnya gue ngga pernah menyangka jalur yang ditunjukkan Yadi bisa gue lalui. Tapi dengan bantuan moril dan tenaga dari Yadi dan Ony, ajaibnya gue bisa. Hal lainnya yang memotivasi gue untuk berjuang melalui jalur yang menantang itu adalah karena gue berada di tengah hutan antah berantah yang asing dan gelap dan pengen segera keluar dari sini. Saat itu untuk penerangan, kami bertiga mengandalkan cahaya seadanya dan senter. Yadi pake senter kepala, sedangkan Ony pake senter batu akik andalannya. Yaellaahh !
Jalur Puncak Lalana

Akhirnya kami bertiga pun tiba di Pos Puncak Lalana. Legaaaaaaaa...! Begitu melewati gerbang masuk jalur Puncak Lalana, hujan lebat mendadak turun. Thanks God! Ngga kebayang kalau gue harus melalui jalur tadi yang udah cukup berat, ditambah hujan deras kayak gini. Gue dan Ony sempat beristirahat sejenak dan bersih - bersih di Pos Puncak Lalana. Saat itu seluruh tangan, kaki hingga betis, baju dan celana gue udah penuh dengan tanah. Penampilan gue nyaris kayak pekerja galian gitu. Setelah itu perjalanan dilanjut ke Pos 1 Puncak Galau, dan pulang ke rumah. 

Pos Puncak Lalana
So, malam minggu gue dan Ony kali ini diisi dengan kegiatan yang menantang dan seru abis. Plusnya, kali ini ditemani oleh ranger cilik, Yadi, yang super gesit dan kuat, di luar perkiraan gue. Bocah kelas 2 SMP ini bikin gue kagum dengan ketangguhannya bukan hanya tenaganya yang kuat yang bikin dia tampak ngga kesulitan sama sekali selama trekking, dan juga karena dia berhasil jadi pemandu yang sangat bisa diandalkan untuk gue dan Ony selama perjalanan tadi.

Akhirnyaaaa....setelah Bukit Roti, Puncak Galau dan kali ini Puncak Lalana, artinya gue dan Ony udah berkesempatan mengunjungi puncak - puncak pendakian di Gunung Kapur Ciampea ini, yang telah dibuka untuk umum. Gunung Kapur Ciampea, meskipun ngga tinggi - tinggi amat, menyimpan segudang daya tarik yang bikin gue dan Ony pengen balik lagi dan lagi. 

Thanks untuk Yadi dan Usep yang udah jadi teman perjalanan yang menyenangkan. Sampai jumpa di trip - trip lainnya!

Thursday, May 04, 2017

Naik - Naik Ke Puncak Galau


Gue tahu infonya dari sesama pengunjung Bukit Roti, Gunung Kapur Ciampea. Pas pertama kali dengar langsung ilfil gitu...Puncak Galau...alay banget! Jadi agak bikin males, yang terbayang, pasti lokasi favorit alay - alay yang repot narsis sana - sini gitu. Tapi berhubung gue penasaran untuk mengunjungi bukit atau puncak yang ada di Gunung Kapur Ciampea, jadilah gue jalan lagi ke negeri Ciampea.

Untuk menuju ke sini, arahnya sama dengan ke Bukit Roti, melalui jalan raya utama Leuwiliang. Bedanya, kali ini patokannya adalah sekolah Pandu II, kalo ngga salah...posisi jalan masuknya tepat di seberang sekolah ini. Setelah masuk jalan, lumayan jauh, gue melihat pos penjualan karcis masuk.

Di situ gue beli 'tiket masuk' Rp. 5,000,- per orang. Gue nanya ke penjaga pos, Usep namanya, ada berapa orang yang mengunjungi Bukit Galau saat itu. Jawabnya, ngga ada. Hahhh ??! "Jadi ngga ada orang sama sekali di sana, Mas ?" "Ngga ada, Mbak...""Trus saya ke sana gimana, ada petunjuknya ngga ?" "Saya antar sampai Pos 2, Mbak."

Gue, Ony dan Usep pun mulai berjalan. Mula - mula melewati hutan jati. Sejak tiba di Ciampea, hujan mulai mengguyur, jadi perjalanan lumayan menantang. Setelah hutan jati, gue pun tiba di Pos 2. Gue membujuk Usep untuk mengantar gue dan Ony sampai Puncak Galau. Abis ngga kebayang deh memasuki area ini tanpa guide. Hujan pula ! Untungnya Usep ngga nolak. Yesss !


Setelah Pos 2, yang ada adalah jalan licin karena hujan, berbatu dan terjal ! Di sini rasanya semua tenaga gue terkuras abis - abisan. Keterlaluan capenya ! Sekujur badan gue sampe basah...antara kena guyur hujan, juga karena keringetan. 


Dibandingkan dengan Bukit Roti, menurut gue di sini belum tersedia jalur trekking-nya. Sebenarnya pihak mengelola menyediakan tali untuk membantu pengunjung melalui jalan setapaknya, tapi menurut Usep ada beberapa pengunjung iseng, dan memotong talinya. Gue menjadi salah satu korban yang kena imbasnya. Menggunakan tali tuh cuma mengurangi sepertiga dari kesulitan dan kelelahan gue mendaki. Tapi lumayan membantu lha, dari pada ngga ada sama sekali. 

Gue dan Ony bersyukur banget karena Usep bersedia ikut. Selain sebagai guide, dia ngebantu gue dan Ony ketika berjuang sekuat tenaga meniti jalan - jalan ajaib yang melelahkan itu. Kadang gue butuh seseorang untuk menarik tangan gue atau menahan body gue yang tambun ini. Dengan Usep di depan, dan Ony di belakang gue, sangat amat membantu banget...walaupun rasa capenya tetap aja dahsyat. 

Gue sempat nyesel karena memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di bawah guyuran hujan kayak gini. Waktu gue menuju Bukit Roti, cuaca lagi cerah bersahabat banget. Dan jalan terjal yang gue lalui juga ngga sepanjang ini. Beda banget ama yang ini...Tapi gue langsung menyingkirkan perasaan itu. Sempat terbersit juga pikiran, kalau gue pingsan, gimana ceritanyaaaa...??! Tapi, demi melihat kondisi jalan licin dan terjal ini, rasanya kasihan ama Ony dan Usep kalau hal itu sampai terjadi. Jadi, berhubung pingsan maupun pura - pura pingsan bukanlah solusi, gue pun bertekad bulat untuk menyelesaikan perjalanan. 

Akhirnya gue, Ony dan Usep tiba di Puncak Galau. Yeaayyy! Di atas sini, areanya ngga luas - luas banget. Tapi pemandangannya segaarrrr, hijau, dan keren. Dingin ? Iyalah, hujannya belum berhenti sih...makin deras malah ! Tapi gue ama Ony cuek aja meskipun baju sekalipun udah nyaris basah semua. 

Selain menikmati pemandangan di Puncak Galau, Usep juga menunjukkan spot lainnya, yaitu area yang biasa digunakan untuk camping, juga Tebing Gimin. Dari Tebing Gimin pemandangannya lebih seru dan indah lagi. Gue bisa dengan jelas hutan jati dan yang lainnya gue musti gue lalui dengan penuh perjuangan tadi. 
 


Camping area
Setelah puas berada di area Puncak Galau, dan mengingat hujan makin deras, gue, Ony dan Usep pun mengambil arah pulang. Gue selalu merasa 'perjalanan pulang' selalu lebih ringan dibanding ketika datang. Ternyata gue salah total. Mungkin rasanya justru lebih cape menuruni jalan terjal, dengan kondisinya yang semakin licin dan tergenang air. Benar aja...seingat gue, gue sampai dua kali terjatuh, karena terpeleset dan kelelahan, sampai - sampai ngga sanggup menahan beban body sendiri. Ketika kelelahan sudah memuncak, gue akan dengan pasrah terduduk diam di atas bebatuan atau tanah apapun yang bisa menahan tubuh gue, sekedar untuk beristirahat sejenak. Jadilah hampir seluruh baju, celana dan tas ransel gue menjadi super kotor. Biarin...

Akhirnya dari kejauhan gue melihat Pos 2....lalu hutan jati lagi. Thanks God ! Dengan badan dan baju basah dan muka dekil kelelahan, gue melangkah girang menuju Pos 1, tempat penjualan tiket tadi. 

Overall, ini perjalanan berkesan, seru dan menyenangkan banget. Maklumlah, gue kan bukan 'anak gunung' yang biasa mendaki gunung dengan ketinggian ribuan mdpl. Modal gue ama Ony hari ini hanya tekad, semangat dan stamina minimalis. Dan berhasil! Senangnya....

Oya, tadi waktu di Puncak Galau, tanpa ditanya Usep sempat jelasin alasannya diberi nama 'Puncak Galau'. Begini ceritanya...ketika rute ke puncak ini dibuka pertama kali, pengunjung pun berdatangan. Salah satunya adalah sepasang kekasih. Keduanya trekking mencapai puncak...(entah apa namanya saat itu sebelum dinamakan 'Galau'). Namun entah kenapa, begitu turun dari puncak, keduanya bertengkar karena sesuatu hal, hingga lalu putus. Naaaahh, itulah asal mulanya mengapa pihak pengelola menamakannya Puncak Galau. That's all folk....

Terlepas dari cerita lebay yang melatarbelakangi namanya yang super alay, Puncak Galau ini keren banget untuk lokasi refreshing dan kabur dari kejenuhan Jakarta sejenak, seperti yang selalu gue dan Ony cari. So, go there !

Tuesday, April 18, 2017

Waterpark Ala Curug Luhur


Sabtu, 15 April 2017.

Sejak minggu lalu, saat mampir ke Gunung Kapur Ciampea, gue udah mencetuskan niat untuk segera ke kawasan Gunung Salak lagi untuk wisata curug. Kali ini gue pengen berkunjung ke Curug Luhur. Tentu aja Gue dan Ony kembali bermotor santai dengan rute perjalanan yang baru kami 'temukan' yaitu melalui Parung - Ciampea - Leuwiliang. Gue seneng melalui jalan ini, karena masih sepi dan udaranya segar. Plus, di ujung perjalanan nanti akan ada pasar tradisional yang super padat dan macet. Entah kenapa, gue seneng ngeliat hiruk - pikuk kesibukan orang - orang di pasar tradisional. Selain itu, di sini gue juga bisa melihat - lihat bangunan rumah - rumah tua yang masih terawat dan juga Klenteng Hok Tek Bio Ciampea (yang pasti akan gue kunjungi suatu saat).

Ketika tiba di Jalan Raya Leuwiliang, dengan bertanya kesana kemari, gue mengarah ke daerah Cinangneng, Tenjolaya. Arahnya menuju ke lereng Gunung Salak. Di pinggir jalan udah ada papan petunjuk : Curug Luhur. Tapi dari pengalaman gue sewaktu mencari lokasi Curug Nangka beberapa waktu yang lalu, Bogor ini unik. 

Petunjuk tempat wisata, dalam hal ini Curug Luhur atau Curug Nangka, udah bisa ditemui sejak berada di jalan raya utama. Padahal aslinya tuh masih jauhhhhhh....banget. Puluhan kilometer lagi kali!  Dan 'nyebelinnya lagi, petunjuk tadi adalah satu - satunya petunjuk yang ada. Begitu udah memasuki dan menyusuri kawasan yang lebih dalam lagi, yaitu mengarah ke lereng Gunung Salak, ngga ada petunjuk apapun. Padahal jalan yang akan dilalui tuh bukan jalan lurus doang, melainkan ada beberapa persimpangan jalan. Jadi, pengunjung musti rajin - rajin nanya ke warga sekitar. Itulah yang gue dan Ony lakukan. Herannya, walaupun udah aktif bertanya kesana kemari, tetap aja gue beberapa kali kesasar. Hebat ya ?

Singkatnya, kayaknya perjalanan dari rumah Sawangan termasuk mampir beberapa kali untuk sarapan dan beli stok minuman, sampai ke Curug Luhur ditempuh sekitar 3 jam. Begitu melihat lokasinya, rasanya ngga asing banget buat gue. Kayaknya paling ngga gue udah ngelewatin lokasinya 2 kali. Pertama, waktu mau mengunjungi Situs Purbakala Cibalay, trus ketika gue ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). 

Waktu itu gue ngga nyadar kalau di situ adalah lokasi sebuah curug. Abis tempatnya meriah banget, warna - warni, banyak bangunan permanen, macam waterpark gitu. Makanya kali ini gue terbingung - bingung dimana lokasi curugnya. 

Untuk masuk ke lokasi Curug Luhur pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp. 40,000. Alamakjaann....mahal banget. Perasaan harganya hampir sama ama tiket masuk TNGHS. Tapi  please deh...TNGHS kan menyajikan banyak spot dan lokasi piknik....curugnya aja ada banyak. Kalau ini kan hanya sebuah Curug Luhur. Menurut si penjaga loket tiket, harganya segitu karena di dalamnya ada wahana waterpark. Isshh....padahal gue hanya pengen liat curugnya...ngapain jauh-jauh nyari waterpark di sini, di Jakarta bejibun. Tapi akhirnya dengan berat hati gue pun membayar.


Gue langsung mencari lokasi Curug Luhur. Jreeenggg...! Gue kembali mendapat kejutan. Curug Luhurnya sendiri dekat banget lokasinya dari pintu masuk. Seumur - umur rasanya baru kali ini menuju sebuah curug tanpa perlu effort berarti, maksudnya ngga perlu berjalan jauh melalui medan menanjak dan menurun. Di sini malah udah disediain jalan setapak dari semen, jadi memudahkan siapapun yang hendak mendekat ke Curug Luhur. Tapi sekali lagi gue mendapat kejutan....ternyata di curug ini tidak diperbolehkan berenang. Pihak pengelola memasang tali tambang untuk membatasi area curug yang bisa dilalui, agar pengunjung tidak melewati batas tersebut. Pembatas tersebut dimaksudkan agar pengunjung tidak berenang mendekat ke pusaran air terjunnya. Alkisah, pengunjung cuma boleh main air doang di bagian tepi curug yang masih sangat dangkal, atau berfoto - foto dengan background air terjun setinggi sekitar 50 meter yang cantik itu.


Puas di sana, gue menuju beberapa kolam renang yang tersedia di sana. Kondisi kebersihan dan kejernihan airnya saat itu menurut gue sih di bawah standard. Tapi asyiknya, kali ini gue bisa berenang di kolam renang bebas kaporit, karena airnya berasal langsung dari mata air pegunungan. Jadi ngga bikin kulit gue gosong dan bebas rambut lengket. Udah gitu enaknya lagi, berenang di sini disuguhi pemandangan alam yang hijau dan indah yang mengelilingi kawasan waterpark.


Di sana juga terdapat banyak warung dimana pengunjung bisa mampir untuk makan dan minum dengan menu sekedarnya : mie instant, kopi dan teman - temannya. Warung - warung tersebut juga menyediakan tempat istirahat berupa balai-balai buat duduk santai atau merebahkan badan, dan meletakkan barang - barang bawaan. Ongkos sewanya antara Rp. 10,000-Rp. 15,000,-

Overall, Curug Luhur lumayanlah. Tapi jadi agak kasian ngeliatnya. Semestinya khan curug ini daya tarik utamanya. Namun bangunan - bangunan (kolam renang, warung, dll), disekitarnya mengurangi keindahan alaminya secara drastis. 

Setelah cukup puas berenang, dan karena hujan udah mulai mengguyur, gue dan Ony pun meninggalkan lokasi Curug Luhur. Perjalanan pulang pun jadi makin menantang karena diiringi hujan super lebat.

Tuesday, April 11, 2017

Mana Di Mana Gunung Kapur Ciampea



Sabtu, 8 April 2017.

Siang itu mendadak dan secara spontan gue kepengen mau menjelajah Bogor. Hahhhh...?! Bogor mulu ?? Biarin.... ! Bogor tuh punya segudang potensi wisata berupa lokasi - lokasi keren dan eksotis, yang bikin rasa penasaran gue akan kota ini ngga ada abisnya.

Tapi, kali ini gaya gue ama Ony agak nyeleneh...Kita berdua mau mencari jalan/arah yang sama sekali belum pernah kita lewati sebelumnya, alias benar - benar asing. Jalan yang mana ? Entah kenapa di pikiran gue terbersit niat untuk menuju Bogor melalui pertigaan Rumpin (Parung). Kalau dari arah Sawangan, Depok, menuju arah Pasar Parung setelah melewati daerah Ciseeng, nanti bakal ada sebuah pertigaan, kalau ke kanan menuju Rumpin (Gunung Munara, Danau Jayamix, dll), dan sesuai petunjuk arah yang tersedia, kalau ke kiri menuju ke Ciampea (Bogor).

"Ciampea" sebenarnya bukan daerah yang asing - asing amat buat gue. Tahun 2014 yang lalu, gue pernah ke sini sampai dua kali karena terpesona oleh prasasti - prasasti bersejarah (Wisata Prasasti Di Bogor). Tapi waktu itu gue dan Ony ke sana menggunakan kendaraan umum, dari kota Bogor.

Rencananya kali ini gue dan Ony akan menjelajah Ciampea, yang sebenarnya gue ngga tahu ada apaan lagi di sana. Buat gue pribadi, melakukan perjalanan ke tempat yang baru pertama kali gue datangi itu sendiri udah merupakan 'piknik' yang menyenangkan banget sih.

Gue dan Ony bermotor santai ngikutin jalan yang ada. Pokoknya, semuanya serba santai....bahkan baju yang gue kenakan sore itu pun santai banget, sama persis kalo gue lagi nyuci baju aja di rumah. 

Mengenai arah perjalanan, ngga membingungkan kok, karena ngga ada belokan atau pertigaan atau perempatan dan semacamnya. Ketika akhirnya tiba di sebuah pertigaan, petunjuk jalan yang ada begini, ke kiri : Semplak dan Dramaga, ke kanan : Ciampea dan Leuwiliang. Gue dan Ony memilih ke kanan, arah Ciampea.

Enjoy banget rasanya ngelewatin jalan ini, karena cenderung sepi dan masih hijau. Tiba di kawasan Pasar Tradisional Ciampea, gue 'terpesona' ngelihat bukit kapur yang berada tepat di belakang pasar. Karena penasaran pengen ke situ, gue pun menepi ke Pasar Ciampea dan bertanya ke seorang warga. Warga yang ramah ini memberikan petunjuk menuju Gunung Kapur Ciampea. Caranya yaitu melalui jalan besar ke arah Leuwiliang, lalu nanti belok ke kiri, tepatnya ketika ada papan petunjuk "SMA 1 Ciampea" (seberang perumahan Dermaga Pratama, kalo ngga salah). Setelah masuk jalan kecil ini, gue dan Ony berkali - kali nanya ke warga dekat situ, mengenai arah menuju Gunung Kapur.

Menyusuri jalan raya arah Leuwiliang tuh kayak nostalgia akan perjalanan 'panjang' dan melelahkan yang pernah gue tempuh ketika hendak menuju Maoseleum Van Motman (Cerita Dari Bogor : Pesona Mausoleum Van Motman). Masih teringat gimana gigih dan pantang menyerahnya gue saat itu demi melihat komplek pemakaman milik keluarga Van Motman itu. Udah jaraknya jauh banget dari Bogor Kota, ngga punya info jelas mengenai cara ke sana, macet total, angkutan umumnya ngetem mulu...lengkap sudah !

Dan, tibalah gue dan Ony di kawasan Gunung Kapur Ciampea. Untuk memasuki kawasannya, gue harus melewati hutan jati yang sangat luas dan lumayan rimbun. Setelah melewati hutan jati, pengunjung akan menemukan sebuah pos kecil dan membayar tiket masuk Rp. 5,000 per orang.

  


Sekitar 200 meter dari pos masuk, gue dan Ony mulai mendaki bebatuan yang cenderung curam menuju puncak Gunung Kapur yang diberi nama Bukit Roti. Ngga ngerti deh kenapa dinamakan begitu.

Tiba di puncak, pemandangan yang tersaji adalah hamparan bebatuan yang mirip karang, teksturnya bolong - bolong dan tajam gitu....Jadi mirip tipis ama yang gue lihat di Goa Sunyaragi, Cirebon. Dari atas sini, gue bisa melihat dengan leluasa daerah Ciampea dan Leuwiliang, hingga Gunung Salak segala. Rasanya damai banget nongkrong di puncak sini....pemandangannya indah, udaranya sejuk, dan suasananya hening. Sebenarnya ada beberapa pengunjung lainnya yang juga asyik menikmati sore di puncak Bukit Roti, tapi ngga banyak - banyak amat, dan ngga macam alay - alay yang heboh dan berisik gitu.



Yang bikin seru pas mendaki atau memanjat menuju bukit Roti tuh karena medannya curam banget. Kadang gue sampai harus kayak merayap di bebatuannya biar ngga jatuh....maklumlah, body gue kan tambun, jadi agak susah menjaga keseimbangan. Bukitnya sebenarnya ngga tinggi - tinggi amat kok....jadi sebenarnya Gunung Kapur ini cocok banget buat pengunjung berstamina pas - pasan kayak gue gini.

Ketika berada di puncak Bukit Roti gue sempat mengobrol dengan seorang pengunjung lainnya, rupanya warga lokal Ciampea. Selain berbaik hati ngebantuin foto - foto, pemuda ini juga ngasih tahu mengenai spot - spot menarik lainnya di sekitar Gunung Kapur ini, yaitu Bukit Galau dan Bukit Lalana. Gue dan Ony langsung bertekad untuk segera mencari dan mengunjungi kedua lokasinya lain waktu.

Saat jam menunjukkan pukul 5 sore, gue dan Ony pun bersiap menuruni bukit Roti. Sebenarnya gue berdua betah berlama - lama di situ, tapi gimana dong....langit udah mulai gelap dan Bukit Roti semakin sepi ditinggalkan pengunjungnya. Udah gitu, gue juga mempertimbangkan perjalanan nan paaaaannnjaaannng...yang harus gue dan Ony lalui untuk kembali ke rumah nanti. Anggap aja perjalanan kali ini untuk perkenalan dulu, next time gue akan ke sini lagi lebih pagian.

Oya, Gunung Kapur Ciampea ini katanya juga salah satu lokasi favorit untuk camping loh! Tapi gue agak bingung gimana pengunjung bisa camping di situ, berhubung jarang dan sedikit banget tanah yang datar. Udah gitu, di kawasan ini juga masih bisa ditemui satwa monyet - monyet liar. Trus lagi, toilet atau sumber air bersih cuma ada di bawah, di kawasan hutan jati. Kesimpulannya, kalau gue mau camping dan bermalam di Bukit Roti mungkin gue akan stop minum mulai jam 3 sore deh.


Gue dan Ony pun melangkah pulang menyusuri hutan jati dengan hati girang, dan niat menggebu - gebu untuk balik lagi ke Gunung Kapur Ciampea ini, secepatnya.