I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Saturday, November 15, 2014

Menengok Keelokan Bromo (1)


Tanggal 7 - 10 November 2014 kemarin gue cuti sejenak untuk melangkahkan kaki menuju Bromo. Sebenarnya gak pernah ngotot banget pengen kemari, cuma karena sedikit rasa penasaran ditambah dorongan teman - teman kantor yang juga pengen ke sana, maka "terpaksa" gue jadiin tripnya. Hal yang bikin berat untuk ikutan trip Bromo ini, karena stok cuti gue udah nyaris habis, sementara akhir bulan November nanti gue udah ada rencana bekpekeran lagi. Selama di pertengahan tahun gue nyaris gak melakukan trip bekpekeran kemana pun baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dan di bulan ini, sekonyong - konyong gue kembali sibuk dengan jadwal bekpekeran. Asyik !

Trip Bromo ini adalah trip gabungan yang diatur oleh Langkah Kaki, yang gue sebut sebagai organiser untuk trip - trip ala bekpeker. Sebelumnya gue pernah gabung dengan Langkah Kaki sebanyak dua kali ketika trip ke Way Kambas, Lampung. Untuk trip ke Bromo ini per orangnya dikenakan biaya Rp. 600,000 yang sudah termasuk hampir semuanya baik tiket kereta pulang pergi, penginapan, makan 3 kali, tiket masuk ke beberapa tempat wisata bahkan jeep selama di kawasan Taman Nasional Bromo. Namun untuk gue dan ketiga teman kantor yang kebetulan telat daftar dan kehabisan tiket kereta Jakarta - Malang, maka ada tambahan biaya sebesar Rp. 68,000 / orang untuk sewa mobil Surabaya - Malang.

Sejujurnya, gue punya idealisme untuk mengatur sendiri perjalanan gue seperti layaknya bekpeker sejati (caelaahh!!). Alasannya, hal itu akan menambah wawasan gue mengenai daerah yang akan gue jelajahi. Selain itu setiap perjalanan yang gue lakukan dengan ekstra tantangan, perjuangan dan kerja keras, akan lebih indah dan abadi untuk gue kenang sampai kapan pun. Namun ternyata idealisme bekpeker gadungan ini berlawanan dengan masalah budget. Setelah gue hitung - hitung sendiri budget perjalanannya jika gue dan ketiga teman gue berangkat sendiri, ternyata jadi lebih mahal. Ditambah lagi sebenarnya waktu gue terlalu sempit untuk menyiapkan perjalanan sendiri. Gue harus berangkat awal November, atau akan mengacaukan jadwal jalan - jalan berikutnya. Jadilah gue akhirnya memilih nimbrung di trip gabungannya Langkah Kaki.

Kembali ke masalah cuti yang minimalis, tanggal 7 November itu, hari Jumat, gue cuma bisa cuti setengah hari. Gue sempat ke kantor sekalian membawa ransel, dan meninggalkan pekerjaan dan kantor hampir jam 12:00 siang. Agak nekad sebenarnya, mengingat jadwal keberangkatan kereta yang akan gue tumpangi dari Stasiun Senen jam 14:10. Waktu yang sempit ini udah gue antisipasi dengan mencetak tiket kereta di stasiun Gambir beberapa waktu sebelumnya. Singkatnya, gue pun duduk di kereta ekonomi Kertajaya yang akan mengantar gue ke Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kondisi keretanya sebenarnya di atas harapan gue, alias sangat nyaman, bersih dan dilengkapi AC yang lumayan sejuk. Awalnya gue sedikit terganggu dengan alunan musik dangdut dengan volume keras yang tersaji, namun akhirnya begitu perjalanan dimulai, musiknya dihentikan. Haleluyah! 

Kekurangannya hanya pada bangkunya yang kurang empuk, terlebih untuk perjalanan selama sekitar 11 jam! Jadi, meskipun gue sempat tertidur di sepanjang perjalanan, namun jika pantat gue udah melolong kesakitan karena terlalu lama duduk, gue pun akan berdiri dan mencoba mencari ruang sekedar untuk berjalan. 

Kereta tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya lewat dari jam 1 dini hari, yang awalnya di jadwalkan jam 00:45. Asyiknya, Pak Hasan, sang sopir mobil sewaan, sudah menunggu dan kami pun segera masuk ke mobil untuk menempuh sekitar 2 jam perjalanan menuju Malang. Mencoba tidur namun sulit memejamkan mata karena penasaran seperti apa rupa Surabaya, dalam kelelahan gue sempat lihat sepanjang jalan yang kami telusuri tampak sepi, bersih dan tertata rapi. Gue ngga ngerasa ada hingar - bingar kehidupan ala 'malam minggu' sepanjang perjalanan, walaupun sempat melewati kawasan yang menurut Pak Hasan, biasa dijadikan tempat balap motor liar. Selebihnya, seakan - akan segenap warga Surabaya kompak menikmati tidur mereka saat ini. Sepi.

Homestay Ibu Kartika
Mobil pun mengantar kami menuju homestay Ibu Kartika yang ada di daerah Gubugklakah. Saking lelah dan ngantuknya, gue cuma sempat mencuci kaki, memakai kaos kaki tebal, lalu terjun ke kasur nan empuk. Selama ini gue tahu bahwa cuaca Malang amatlah dingin, namun baru kali ini ngerasain langsung. Mencuci kaki barusan, rasanya merendam kaki gue di dalam ember berisi es batu. Bukan es batu kotak - kotak kecil dari dalam freezer kulkas buat bikin es teh manis rumahan, tapi es balok gede punyanya tukang es cendol keliling, es teler, es campur, dan tukang - tukang es lainnya.

Niatnya tadi malah mau cuci muka, sikat gigi, basuh sana siram sini....tapi niat tinggal niat. Gue berjanji akan berjuang membiasakan diri dan menahan rasa dingin, tapi ...lain waktu aja! Gue baru bisa memejamkan mata setelah gue memakai jaket tebal lalu selimut tebal yang disediakan homestay. Setelah perjalanan panjang 11 jam di atas kereta ekonomi Jakarta - Surabaya tadi, merebahkan badan di atas kasur empuk seperti ini adalah rejeki tak ternilai.

Wednesday, November 12, 2014

Ketika Harus Menyewakan Rumah (Impian).....


Udah beberapa bulan berlalu sejak curhatan terakhir gue mengenai duka dan....duka...serta...dukanya berjuang demi memiliki rumah sendiri. Keadaan sekarang jauh berbeda. Gue bukan lagi orang sok tangguh yang ingin menyimpan dan menanggung bebannya sendirian. Mama dan Bapak berinisiatif untuk mengambil alih beban itu dari pikiran gue, agar gue gak kesusahan berlarut - larut. Beban yang gue maksud di sini bukanlah masalah keuangannya, karena itu tentunya tetap bagian gue, melainkan keresahan akibat keterlambatan proses rampungnya pembangunan rumah beserta fasilitas di dalamnya.

Hubungan komunikasi gue dengan pihak developer diambil alih oleh Mama dan Bapak sepenuhnya, dan mereka segera berbagi tugas. Bapak akan di lapangan untuk lihat dan monitor langsung setiap perkembangan dan berkomunikasi dengan pihak tukang atau mandor di lapangan, dan Mama yang akan "mengejar" bahkan "memburu" pihak developer jika ada secuil pun pekerjaan yang lalai atau telat mereka lakukan.

Dan saat ini, setelah semua kerja keras mereka beberapa bulan terakhir, rumah gue pun akhirnya jadi. Antara percaya ngga percaya rasanya. Setelah perjalanan yang cukup panjang ini, akhirnya terselesaikan juga rumah impian. 

Dari awal gue udah bilang sama Mama bahwa gue menyerahkan sepenuhnya urusan rumah tersebut ke Mama. Apapun keputusan dan langkah Mama atas rumah itu, gue percayakan ke Mama. Dan berhubung Mama gak mau gue menempati rumah itu sendirian saat ini, Mama ingin agar rumah itu disewakan saja. Gue emang belum berminat untuk tinggal di situ saat ini, mengingat gak memungkinkan membawa paling gak salah satu anjing gue tinggal di sana. Sepanjang hidup hingga saat ini, gue selalu tinggal di rumah dengan anjing peliharaan, yang sangat berperan sebagai penjaga rumah. Terlebih rumah mungil gue tidak diperbolehkan menggunakan pagar di halaman, jadi gue pasti ngga akan merasa tenang tinggal disana....tanpa anjing gue....tanpa pagar rumah....

Maka Bapak pun berinisiatif dengan memasang pengumuman "Dikontrakkan" pada selembar kertas dan ditempel di tembok rumah. Di luar dugaan, dalam hitungan hari Mama dihubungi oleh seseorang yang berminat untuk menyewa rumah tersebut. Begitu Mama memberitahukan gue mengenai ini, sekonyong - konyong gue jadi sedikit sedih. Sedih karena rumah simbol perjuangan gue akan digunakan oleh orang lain, sebelum gue pernah menempatinya. 

Gue sadar, jika rumah gue biarkan kosong, maka perlahan - lahan akan rusak karena tidak digunakan dan dirawat. Tapi gue juga ngga menutup mata, bahwa mengundang orang lain yang tidak gue kenal untuk menggunakan rumah itu juga berarti memberi 2 kemungkinan yaitu, rumah tersebut terawat (jika pemiliknya bertanggung jawab dan memang bukan orang berantakan), atau rumah akan rusak (apabila pemiliknya acuh dan tidak peduli). Ini suatu pergumulan yang gak mudah buat gue. Secara mental dan ego rasanya berat 'menyerahkan' rumah itu pihak lain.

Dengan pasrah gue serahkan urusan rumah tersebut ke Mama. Gue cuma berpesan, agar Mama sebisa mungkin mencari kepastian bahwa si penyewa bukanlah orang yang potensial membawa 'bencana' untuk rumah gue misalnya kriminal, teroris, atau sejenisnya. Mama berusaha meyakinkan gue bahwa dia sudah berkomunikasi intens dan bahkan bertemu dengan pihak penyewa, dan yakin keluarga kecil tersebut sangat bisa dipercaya. Selain itu menurut Mama, uang hasil pembayaran kontrakan akan sangat berguna sebagai modal pembangunan tambahan pada rumah itu, yaitu area taman belakang yang akan dijadikan dapur dan pemasangan teralis pada setiap pintu dan jendela.

Mama benar, meskipun gue sudah mengantongi uang hasil arisan yang sejak awal tahun gue dedikasikan untuk pembangunan dapur dan teralis tersebut, sepertinya niat gue belum 100%. Alasannya karena gue belum punya rencana dan keputusan jelas mau diapakan rumahnya.

Gue pun menyiapkan Surat Perjanjian Kontrak yang gue cari - cari draft dan templatenya dari browsing di Google. Selama ini gue gak tahu bahwa untuk urusan sewa - menyewa rumah (mungil, padahal) pun sebaiknya disahkan hitam di atas putih. Namun sekarang gue sedikit lega setelah membaca point - point yang terdapat dalam surat perjanjian, karena dengan cara inilah gue bisa sedikit membentengi dan melindungi rumah tersebut dari ulah nakal maupun tak bertanggung jawab penyewa rumah. 

Singkatnya, akhir pekan yang lalu Mama sudah kembali bertemu dengan pihak penyewa, menerima pembayaran full untuk setahun ke depan dan menandatangani perjanjian kontrak. Sekarang Mama dan Bapak memulai kesibukan baru, yaitu pembangunan dapur dan teralis. Sesuai perjanjian, keduanya harus sudah rampung sebelum rumah mulai ditempati oleh pihak penyewa, yaitu per 1 Desember 2014.

Meskipun masih antara rela ngga rela....ikhlas ngga ikhlas, bahwa gue nyaris kehilangan hak atas rumah itu sampai 30 November 2015 mendatang, tapi gue percaya keputusan dan langkah Mama dan Bapak untuk menyewakan rumah tersebut ke orang lain adalah hal terbaik saat ini. Setelah perjuangan alot untuk melihat rumah mungil impian berdiri tegak, akhirnya gue sampai pada proses sewa - menyewa ini. Ini pastinya suatu "perjalanan" seru lainnya, karena bahkan saat ini ada pihak ketiga (penyewa rumah) yang terlibat.

Pengalaman ini mengingatkan gue sekali lagi, bahwa gue punya support system, yaitu keluarga gue, khususnya Mama dan Bapak, yang tangguh dan selalu bisa diandalkan. Meskipun sejak awal gue gak mau melibatkan mereka karena ngga mau mereka susah dan stress, namun kondisi justru berbalik. Meskipun gue bersikap sok kuat dan merasa bisa mengandalkan diri sendiri, namun pada akhirnya gue seperti layaknya anak kecil yang mencari perlindungan kedua orangtuanya.

Selintas Waktu di Kinabalu (2)

26 Oktober 2014

Kucing Kuching

Walaupun judulnya liburan...walaupun kasur empuk dan selimut tebal ini bikin gue betah bermalas - malasan...walaupun gue pengen istirahat lebih lama karena baru beberapa jam merebahkan badan.... tapi gue tetap bangun pagi hari itu. Motivasinya : biar ngga ketinggalan jatah sarapan yang disediakan oleh Hotel Grand Continental. Begitu selesai mandi, gue pun langsung ke ruang makan hotel. Di sana gue menikmati kesempatan emas untuk makan sepuasnya menu sarapan yang variatif dan enak. Mungkin setelah puas mengisi perut selama 1 jam, gue pun meninggalkan ruang makan. 

Kalau lagi tinggal di HOSTEL, waktu sarapan gue terbilang singkat. Pertama gue mengolesi 4 lembar roti tawar dengan butter atau mentega, lalu dibakar di toaster sambil gue menyiapkan kopi atau teh panas, dan setelah rotinya gosong, gue pun segera melahap menu sarapan tersebut, dan diakhiri dengan mencuci piring dan gelas yang gue gunakan. Total paling cuma 15 menit, kalau gak pake antri toaster sama penghuni hostel lainnya. Bahkan gue bisa melakukan seluruh ritual itu tanpa sempat duduk di meja makan.

Selesai sarapan gue naik lagi ke kamar, dan sempat melanjutkan acara bermalas - malasan gue di ranjang empuk. Abis itu gue meninggalkan kamar, turun ke resepsionis untuk mencari informasi mengenai rencana penerbangan ke Kinabalu. Ternyata Airasia sudah memasang selembar surat pengumuman, bahwa rombongan pesawat gue sejak semalam, akan diberangkatkan ke Airport Kuching jam 2 siang nanti. Berhubung gue adalah si panjang kaki yang ngga bisa diam, jadi gue putuskan untuk jalan - jalan melihat kota Kuching. Ngga mungkin gue betah menghabiskan waktu di kamar hotel.

Gue pun meminta peta Kuching dari pihak Hotel, dan memulai perjalanan tanpa rencana itu. Tujuan pertama adalah mencari kios telepon selular. Di sana gue isi ulang pulsa kartu perdana lokal, dan segera menelepon Mama. Mama lega banget bisa mendengar suara gue, serasa udah bertahun - tahun. Gue agak sedih mendengar "perjuangan" Mama mencari informasi soal penerbangan gue semalam. Mula - mula Mama menelepon ke Air Asia, namun ngga berhasil bicara dengan petugas. Lalu berusaha menelepon ke Airport Soekarno Hatta, hasilnya nihil juga. Kemudian menelepon ke Air Asia lagi, dan katanya pihak Air Asia Indonesia saat itu juga belum mendapatkan konfirmasi pendaratan pesawat gue. Gue bisa membayangkan gimana paniknya Mama saat itu. Mama baru bisa sedikit tenang ketika akhirnya menerima sms gue. 

Setelah menelepon Mama, gue pun menjadi lebih santai, dan siap menikmati apapun yang Kuching miliki sejauh masih dalam jangkauan waktu gue yang sempit, dengan berjalan kaki tentunya. Di siang yang panas terik itu, gue sempat menemukan dan mampir ke beberapa lokasi menarik di sekitar hotel :

Siew San Teng (Tua Pek Kong) Temple
Tua Pek Kong Temple

Keberadaannya agak unik karena diapit oleh gedung - gedung pencakar langit. Kuilnya dibangun sejak 1770 dan posisinya yang menghadap ke air (sungai Sarawak) dan gunung (gak keliatan gunung mana yang dimaksud), dipercaya membawa feng shui baik.


Sungai Sarawak


Gue sempat melintasi sepanjang pinggir Sungai Sarawak, mulai dari Jalan Main Bazaar sampai Jalan Gambir, dan melihat bangunan - bangunan menarik di seberang sungai, yaitu Dewan Undangan Negeri Sarawak dan Fort Margeritha. Sebenarnya gue pengen banget bisa lihat dari dekat, namun sayangnya saat itu gue ngga tahu bagimana cara menyeberangi sungai menuju kedua bangunan megah itu. Jadi apa boleh buat, gue cuma bisa memandangi dari kejauhan.

Dewan Undangan Sarawak
Fort Margeritha
Sarawak Tourism Complex

Berhubung gue adalah penggemar bangunan - bangunan tua dan bersejarah, mata gue langsung tertarik melihat bangunan - bangunan yang ada di area Sarawak Tourism Complex ini. 

Court House Complex

Saat itu sebenarnya hari yang super cerah, dan ditambah dengan bangunan - bangunan tua yang keren dan terawat, namun sayangnya gue gak berdaya untuk mendapatkan foto diri gue sendiri. Alasannya karena saat itu gue males membawa tripod, dan malas meminta orang untuk memotret gue.


Hiang Thian Siang Ti Temple



Hiang Thian Siang Ti Temple

Bagian dalam temple

Templenya berada di Jalan Carpenter, dan dibangun sejak 1,5 abad yang lalu. Namun awalnya letaknya bukan  di Jalan Carpenter ini, melainkan di area Main Bazaar. Yang terletak di Jalan Carpenter ini dibangun tahun 1863. Dimana pun dan kapan pun, gue selalu senang melihat dan berkunjung ke temple - temple. Apalagi klenteng yang satu ini, warna merah dan emasnya yang mencolok, seakan - akan ngga mau kalah dengan terang benderangnya langit Kuching siang itu.

Gue sempat menyusuri Jalan Carpenter, yang kebanyakan bangunannya adalah kios - kios pengrajin emas.

Jalan Carpenter
Dari Jalan Carpenter, kaki gue yang sebenarnya udah mulai pegal ini melanjutkan petualangannya ke lokasi berikutnya. Gue sempat berhenti di Gereja St. Thomas, namun sayangnya gak bisa mampir melihat ke dalamnya berhubung pintu pagarnya terkunci.

Perhentian berikutnya adalah Art Museum yang berdekatan dengan Museum Sejarah Semulajadi. Gue sempat memasuki keduanya, yang menurut gue biasa aja. Yang menarik dan menonjol justru pemandangan di taman yang ada di tengah kedua museum ini, yang indah dan rindang, dengan beberapa pohon pinang yang tinggi menjulang.

Museum Sejarah Semulajadi

Mengingat waktu sudah tepat tengah hari, gue pun mengambil langkah kembali ke hotel. Dalam perjalanan balik, sekali lagi gue melewati kawasan Main Bazaar. Main Bazaar adalah pusat penjualan barang - barang seni dan oleh - oleh khas Kuching. Gue sempat mampir ke beberapa toko sekedar untuk melihat - lihat, tapi belum sampai tergoda untuk membeli apapun. Boro - boro mikirin belanja. Nasib gue aja rasanya ngga menentu saat itu...kejutan apalagi yang akan gue dapatkan hari ini.....kapan gue akan tiba di Kinabalu....jangan - jangan gue akan terdampar di kota lain lagi gara - gara masalah listrik...

Main Bazaar

Tiba di hotel, di parkiran gue sudah melihat beberapa bus Air Asia menunggu. Salah satu busnya sudah hampir terisi penuh. Gue segera naik ke kamar untuk mandi, santai sejenak dan membereskan ransel gue. Setelah siap, gue turun dan menuju bus nyaman yang akhirnya mengantarkan gue kembali ke Airport Kuching.

Tiba di Airport, gue mendapat informasi bahwa pesawat gue akan berangkat menuju Kinabalu sekitar jam 5 sore. Gue masih 'takjub' dan terheran - heran dengan apa yang terjadi dua hari belakangan ini. Rencana gue mendarat di Kinabalu tertunda hampir 24 jam dari yang seharusnya. Trus kalau gue tiba di sana baru nanti malam, kapan waktu gue bisa menikmati kota itu, sementara besok sore gue udah akan terbang kembali ke Jakarta. Ini liburan terakhir gue sebelum gue masuk kerja di kantor baru hari Senin. Tapi sejauh ini rasanya....Arrrgghhh ! 

Gue pun menunggu keberangkatan menuju Kinabalu berbekal burger dan coke McDonald yang disediakan oleh Air Asia.

Ketika akhirnya mendarat di Kinabalu, hari udah gelap dan hujan. Sempurna! Seketika gue langsung merubah rencana, gak akan ke Tune Hotel, melainkan mencari hotel lain. Gue mencari taksi, dan begitu sang sopir bertanya tujuan gue, gue masih bingung dan belum pasti mau jawab apa. Tiba - tiba dari bibir gue keluar, "Gaya Street". Entah kenapa gue mendadak minta diantar ke sini. Gue pernah membaca sekilas bahwa ini adalah salah satu kawasan backpacker di Kinabalu. Itu adalah salah satu keputusan paling asal yang gue buat, karena sebenarnya gue belum tahu apapun mengenai kawasan ini dan bahkan belum tahu mau tinggal di penginapan mana. Tapi gue pikir, liburan gue sudah berantakan dari awal, jadi gak mungkin akan lebih buruk lagi.

Sopir taksi menurunkan gue di Gaya Street, dan begitu turun gue benar - benar ngga ada ide mau tinggal dimana malam itu, bahkan gak tau mau melangkah ke arah mana. Gue pun mulai menyusuri jalan - jalan yang sebenarnya asing sama sekali buat gue, dan mulai mencari - cari papan nama "hostel", di bawah guyuran hujan rintik - rintik. Gue sempat beberapa kali keluar masuk penginapan. Ada yang harganya gak sesuai budget, ada yang full, ada juga yang penampakannya ngga bikin gue nyaman.

Kaki dan pundak gue udah pegal bukan main ditambah basah karena diguyur hujan. Langkah gue terhenti di sebuah penginapan kecil bernama Citypark Lodge, yang ada di Jalan Pantai. Gue akhirnya check in di sana, yang harga kamarnya MYR 30/malam. Di sini ngga ada dorm room, hanya private room. Gue menempati sebuah twin bed room, yang sempit namun dilengkapi dengan TV, kamar mandi dan jendela ke arah jalan utama. Untuk badan gue yang kelelahan dan nyaris putus asa, itu adalah sebuah kemewahan.

City Park Lodge
Kamar di City Park Lodge

Setelah mandi, gue kembali ke Gaya Street untuk sekedar mencari makan malam, tetap ditemani oleh hujan rintik - rintik. Sebelum kembali ke hostel gue sempat mampir ke Miliwela Superstore di seberang jalan dari hostel untuk mencari makanan ringan, air mineral dan....payung! Setelah itu, gue kembali ke kamar sempit dan mencoba menikmati apapun yang tersaji di TV, lagi - lagi sambil merenungi perjalanan petualangan gue yang.....apa ya namanya....di luar rencana ? di luar harapan ? Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi gue harus tetap bersyukur, karena akhirnya tiba di Kinabalu dengan selamat. Makasih, Yesus!

Tuesday, October 28, 2014

Selintas Waktu di Kinabalu (1)

Peta Malaysia
Hari ini adalah tepat dua tahun gue kerja di kantor sekarang. Berarti tepat dua tahun yang lalu juga gue melakukan perjalanan ala gembel gue ke Kinabalu, yang super unik, aneh bin ajaib, dan sampai sekarang gue masih bingung perjalanan apa itu. 

Jadi alkisah, dua tahun yang lalu, tepat di hari terakhir gue bekerja di perusahaan sebelumnya, gue memberikan 'bonus' untuk diri sendiri sebuah perjalanan ke Kinabalu. Impian gue ketika itu sebenarnya resign dari perusahaan lama dan menganggur sekitar beberapa bulan, menjauh dari kepenatan dunia kerja. Namun Yesus yang maha baik punya rencana lain, gue diterima bekerja di tempat sekarang. Saat itu bisa dibilang gue gak punya jeda waktu secuil pun untuk menikmati masa - masa resign gue. Karena Kamis, 25 Oktober 2012 itu adalah hari terakhir gue di perusahaan lama, dan di hari Senin, 29 Oktober 2012 gue sudah harus mulai bekerja di perusahaan baru. Jadi kapan perjalanannya ? Singkat, 25 - 27 Oktober 2012. 

Sebenarnya (mungkin) banyak hal yang bisa gue eksplorasi dari Kinabalu selama 3 hari itu. Namun lagi - lagi rencana tinggal rencana. Kamis itu gue meninggalkan kantor perusahaan lama lewat tengah hari, dan langsung menuju Soeta Airport, karena penerbangan Jakarta - Kinabalu gue dijadwalkan jam 19:20. Untuk hotel di Kinabalu, gue udah booking Tune Hotel untuk 2 malam. Namun di dalam pesawat, gue memutuskan untuk menginap di airport Kinabalu saja malam itu, daripada gue harus menempuh perjalanan tengah malam menuju Tune, berhubung pesawat gue dijadwalkan mendarat di Kinabalu jam 23:00.

Sebenarnya sepanjang perjalanan gue menyimpan sedikit kekhawatiran karena ngga kebayang apa yang akan gue hadapi ketika tiba di airport Kinabalu nanti. Apakah ada tempat yang pas untuk gue bermalam di sana ? Amankah ? 

Di tengah kegalauan itu, gue mendengar Kapten penerbangan mengumumkan bahwa pesawat tidak bisa mendarat di Airport Kinabalu saat itu karena airport terpaksa ditutup akibat masalah listrik. Di tengah kelelahan, sedikit ngantuk dan galau, gue kesulitan mencerna penjelasan sang petugas pesawat. Informasinya berlanjut, bahwa pendaratan akan dialihkan ke airport terdekat, yaitu Ipoh. Oh my God....mahkluk apa pula "Ipoh" itu ?

Lewat tengah malam, pesawat pun mendarat di Airport Ipoh antah berantah. Pesawat yang gue tumpangi bukan satu - satunya pesawat yang 'menumpang' mendarat di Ipoh....tenyata ada beberapa pesawat lainnya yang seharusnya mendarat di Kinabalu, namun terpaksa dialihkan ke Ipoh. Area tunggu airport yang kecil itu pun seketika sesak oleh ratusan penumpang yang kebingungan mengenai apa yang terjadi. Dan gue adalah salah satu penumpang yang paling panik. Bukan masalah perpindahan lokasi pendaratan ini yang bikin gue kalang kabut setengah mati. Gue memikirkan Mama yang pasti sudah menunggu kabar berita dari gue sejak tadi.

Kebiasaan gue ketika traveling adalah begitu mendarat di airport setempat, gue akan mengaktifkan handphone agar bisa menghubungi Mama via sms. Kalau mendarat di LCCT Kuala Lumpur, gue pasti akan langsung mengganti kartu Simpati dengan kartu perdana lokal, mengisi ulang pulsanya di kios yang ada di area kedatangan, lalu menelepon Mama...."Maaaa, Cei udah sampe di Kuala Lumpur!" gitu...

Namun kali ini, yang seharusnya gue sudah menghubungi Mama sekitar sejam sebelumnya, belum juga bisa gue lakukan. Pertama, karena gue tadi masih di atas pesawat, dan saat ini karena handphone gue error ketika diaktifkan. Gue mengambil tempat duduk di ruang tunggu yang saat itu penuh dan riuh, dan pasrah memandangi handphone butut gue. Gue berusaha mencari penjual kartu perdana telepon lokal, namun nihil karena semua toko di airport sudah tutup.

Ketika para penumpang ramai mendatangi pos Airasia untuk menanyakan status penerbangan masing - masing, gue menyimpan kekhawatiran tingkat tinggi mengingat betapa paniknya Mama saat itu. Mama pasti super histeris karena belum juga menerima kabar dari gue. Kesehariannya, Mama bahkan ngga akan tidur kalau gue belum pulang dari kerja atau dari mana pun. Dan kali ini Mama dibuat bingung karena putrinya yang panjang kaki dan gak bisa diam, belum jelas keberadaannya dalam perjalanan Jakarta menuju Kinabalu. Gue cuma bisa pasrah dan berdoa semoga Yesus menenangkan Mama di Jakarta sana.

Menjelang jam 01:00 dini hari, Airasia membagikan minuman mineral dan roti untuk para penumpang. Tepat jam 01:00 kembali terdengar pengumuman : Berhubung di Ipoh tidak ada hotel besar yang bisa mengakomodasi seluruh penumpang, maka seluruh penumpang akan diterbangkan menuju Kuching. Ya ampun....apa lagi ini ? Ipoh....Kuching...lalu ? Rasanya kayak lagi ikut city hopping tour atau semacamnya, namun menggunakan pesawat....pada dini hari yang semestinya waktu tidur.

Sambil menahan kantuk dan lelah, gue pun memasuki pesawat yang akhirnya mengantarkan gue ke Kuching. Meskipun airport sudah selesai beroperasi, namun dini hari itu banyak kru Airasia stand by untuk menyambut penumpang dan mengarahkan ke akomodasi masing - masing. Gue salut dengan cara Airasia menangani keadaan ini.

Penumpang diarahkan ke luar airport di mana beberapa bus sudah menunggu. Gue langsung mengambil tempat duduk paling depan. Busnya nyaman banget. Ketika sudah penuh, bus pun meninggalkan airport Kuching. Kemana ? Entahlah. Gue kesulitan "mempelajari" arah yang ditempuh bus, karena kegelapan di luar sana. Akhirnya menjelang jam 03:00 bus berhenti di sebuah hotel yang cukup megah (untuk standard gue yang bekpeker gembel ini), Hotel Grand Continental.

Room Sweet Room di Hotel Grand Continental
Gue adalah penumpang pertama yang keluar dari bus. Oleh petugas Airasia yang sudah menunggu di luar hotel, gue diarahkan menuju ke meja resepsionis. Di meja resepsionis, gue liat petugas hotel beserta Airasia mencari data nama gue, lalu memberikan sebuah kunci kamar. Gue pun segera melesat mencari kamar yang dimaksud.

Begitu memasuki kamar, gue langsung mengaktifkan handphone gue lagi. Ngga beberapa lama, akhirnya gue berhasil mengirim sms ke Mama. Puji Tuhan ! Secara singkat gue jelaskan ke Mama, apa yang terjadi. Gue janji akan menelepon Mama keesokan harinya.

Hotel Grand Continental Kuching
Abis itu gue mandi, lalu merebahkan badan yang lelah  ini di ranjang yang besar dan empuk itu. Pikiran gue menerawang. Super sekali kejadian hari ini. Ini hari terakhir gue bekerja di perusahaan lama....awalnya berharap bisa mendarat di Kinabalu malam ini sekedar untuk refreshing singkat, namun gue malah mendapat "bonus" mampir ke Ipoh dan kini terdampar di Kuching. Dalam semalam gue harus naik turun pesawat beberapa kali.


 Saat bersantai di atas kasur empuk dengan selimut tebalnya itu, membuat gue teringat akan kekhawatiran gue soal tidur di airport Kinabalu beberapa saat sebelumnya. Rasanya lucu dan ajaib....Yesus menjawab dan mengatasi kekhawatiran gue soal urusan tidur malam ini dengan cara yang unik, namun juga jauh melampaui harapan gue. Bayangkan, sejak tadi siang gue sudah berpikir akan tidur di lantai airport Kinabalu. Ternyata, saat ini gue justru menikmati tidur di kasur nyaman dan bersih, di sebuah hotel bintang tiga!

Terima kasih Yesus, atas hari yang panjang dan seru ini!

Wednesday, October 22, 2014

Goresan Kenangan di Vientiane

Ini catatan perjalanan yang udah basi banget sebenarnya. Perjalanan yang gue lakukan tanggal 18 Januari 2013 yang lalu, sebagai hadiah ulang tahun dari gue dan untuk gue. Alasan baru diposting sekarang karena gue adalah blogger pemalas dan tergantung mood. Hanya saja, gue selalu mengingatkan diri sendiri untuk gak pernah absen posting catatan perjalanan gue di blog. Karena menurut gue ini cara paling tepat untuk mendokumentasikan kiprah dan sepak terjang kedua kaki panjang gue ini ketika melanglang buana. 

Perjalanan gue ke Laos, tepatnya di ibukota Vientiane, terbilang singkat, cuma 4 hari. Rute yang gue ambil adalah Jakarta - Kuala Lumpur - Vientiane (vice versa). Gue sempat bermalam di terminal LCCT Kuala Lumpur, dan sekali lagi mendapat kesempatan emas untuk.....menikmati tidur dan menghabiskan malam di lantai terminal yang super dingin.

Kota Vientiane sendiri adalah kota yang gak terlalu luas namun tenang dan menyenangkan. Untuk biaya hidup, kota ini menawarkan fasilitas super terjangkau untuk bekpeker gembel macam gue. Di sana gue tinggal di Vientiane Backpacker Hostel yang terletak di Jalan Norkeokoummarn yang gue booking via www.hostelbookers.com. Pilihan gue jatuh ke hostel ini terlebih karena harganya yang fantastis (USD 5/ranjang/malam, untuk 16 bed di mix dorm room), dan karena review - review yang  gue baca. Lokasinya strategis banget, berada di tengah kota dan sentra turis.

Setiap traveling dan akan memilih hostel, sensasinya kayak beli kucing dalam karung. Bisa saja gue membaca review - review menarik, dan foto - foto hostel yang memprovokasi dan bikin gue ngiler untuk tinggal di suatu hostel, namun begitu gue datang dan tinggal di situ, berakhir dengan kekecewaan. Namun pilihan hostel gue kali ini adalah salah satu pilihan tepat yang gue lakukan, karena gue benar - benar puas dengan fasilitas, kondisi dan harga hostelnya.

Selama di sana, meskipun waktunya lumayan sempit, gue menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata Vientiane, yaitu :

Patuxai

Patuxai
Patuxai merupakan monumen yang didedikasikan kepada para pahlawan perang Laos yang berjuang merebut kemerdekaan dari pihak Perancis. Monumen yang megah ini terletak di Jalan Lang Xang yang gue tempuh dengan berjalan kaki, di bawah sengatan matahari yang menyala - nyala. Gue sempat meniti anak tangganya sampai ke bagian paling atas monumen. Bagian dalam monumen ini dipenuhi dengan penjual aksesoris dan barang oleh - oleh khas Laos. Menurut gue monumen ini iconic dan megah banget.

That Dam (Black Stupa)

That Dam (Black Stupa)
Gue sempat mampir ke sini tanggal 20 Januari 2013, dalam perjalanan menuju terminal bus di belakang Morning Market, ketika gue hendak ke Buddha Park. Lokasinya berada di sebuah taman yang asri, di antara rumah - rumah warga lokal yang menurut gue cukup berkelas. Ada kepercayaan lokal yang mengatakan bahwa di stupa ini tinggal seekor naga berkepala tujuh yang melindungi rakyat Laos dari serangan Thailand. Dari hostel ke sini, gue tempuh dengan berjalan kaki.

That Luang
That Luang (The Great Stupa)
Entah apa fungsi bangunannya....apakah kuil, monumen, benteng....yang jelas tempat ini indah, megah dan sekaligus sakral sekali. Ditambah dengan warna emas yang melapisi hampir seluruh bangunannya yang siang itu ditimpa oleh sinar matahari yang demikian menyilaukan, bikin bangunannya jadi bertambah agung.

Memandang That Luang dari dekat, rasanya menghapus segala lelah derita gue sepanjang perjalanan menuju ke sini. Bayangkan, di tengah hari, setiba di terminal bus dari perjalanan ke Buddha Park, gue melanjutkan dengan berjalan kaki ke Wat Ho Phra Keo. Setelah puas berkeliling di tempat itu, gue kembali berjalan kaki sejauh 7 km ke That Luang, diiringi dengan dahsyatnya dan silaunya mentari siang itu. Meskipun hari itu sudah berlalu hampir 2 tahun lamanya, namun gue akan selalu ingat, itu adalah salah satu siang paling p.a.n.a.s yang pernah gue lalui, titik.

Catatan : 
Tiket masuk : 5,000 kip
Tuktuk dari That Luang - Vientiane Backpacker Hostel : 25,000 kip

Buddha Park
Buddha Park (Xieng Khuan)
Hal yang paling bikin gue penasaran tentang Laos, tepatnya Vientiane, adalah mengunjungi tempat ini. Kalau ngelihat gallery photo - photonya di Google, tampak tua, keren dan mistis. Lokasinya sebenarnya bukan berada di dalam kota, melainkan sekitar 25 km dari Vientiane.

Di atas "labu" raksasa
Pagi itu (20 Jan 2013), gue meninggalkan hostel agak pagi, dan berjalan kaki menuju terminal bus yang ada di belakang Morning Market. Kenapa gue selalu berjalan kaki ? Karena itu cara tercepat, teraman dan tersehat untuk gue ketika mencari suatu lokasi baru. Setiba di terminal bus, gue naik bus No. 14. Info penting ini gue dapat ketika browsing di Google. Gue naik bus ini sampai ke Friendship Brigde, dimana gue menyambung naik minivan menuju ke Buddha Park, dengan melewati jalan yang kondisi sangat tidak mulus.

Bagian belakang : Patung Dewa Indra menunggang gajah berkepala tiga
Buddha Park ternyata ngga sekuno atau setua yang gue pikir, karena taman ini dibangun 'baru' di tahun 1950an. Di sini terdapat sekitar 200 patung, perpaduan antara Buddha dan Hindu. Bentuk patungnya macam - macam, ada patung Buddha, hewan, dewa, dan lainnya. Salah satu patung paling besar adalah Patung Buddha dalam posisi berbaring. Selain itu ada juga bangunan menyerupai labu setinggi 3 lantai, yang bisa dimasuki dan dinaiki pengunjung. Meskipun ketakutan setengah mati saat memasuki bagian dalam 'labu' ini, tapi akhirnya gue tiba di bagian atap 'labu'.


Area tamannya sendiri menurut gue gak terlalu luas. Tapi berhubung di dalamnya dipenuhi dengan patung - patung berbentuk unik dan raksasa, ini tempat yang sangat tepat mendapatkan foto - foto keren.

Reclining Buddha

Catatan :
Ongkos Bus No. 14 : 6,000 kip
Ongkos Minivan : 2,000 kip
Tiket Buddha Park : 5,000 kip

Wat Ho Phra Keo
Wat Ho Phra Keo
Alkisah di suatu siang yang panas menyengat, di balik tembok tinggi gue melihat bangunan seperti kuil yang kokoh nan megah didominasi warna emas sekaligus nuansa gelap, yang bikin bangunan itu tampak sangat kuno. Namanya Wat Ho Phra Keo, yang dibangun sejak tahun 1565. Saat ini fungsinya bukan lagi tempat ibadah, melainkan museum. Sepanjang yang gue ingat, keindahan museum ini terlebih pada setiap detil bangunannya yang dipenuhi dengan ukiran serta pahatan dimana - mana. Juga, gue takjub melihat pilar - pilarnya yang tinggi menjulang yang membuat kesan megah bangunan ini.


Selain ke lokasi - lokasi di atas, hal menarik yang gue lakukan selama di kota kecil ini adalah mengunjungi kuil - kuil Buddha dan museum - museum, berkeliling night market setiap malamnya, menikmati acara jajan dan makan dengan harga murah meriah, mengeksplorasi jalan - jalan kotanya dengan berjalan kaki, dan tentunya sedikit memanjakan badan letih gue dengan sesi pijat ala Laos.

Entah berapa jumlah kuil Buddha yang tersebar di kota ini, pastinya banyak banget dengan bangunan - bangunannya yang berbentuk super indah dan anggun dengan dominasi warna emas.

Temple tour
Yang menurut gue 'unik' lainnya mengenai kota ini adalah, dimana sentra turis baik yang kelas backpacker maupun premium berada di area yang sama. Trus, sentra penginapan turis ini lokasinya gak jauh dari pusat - pusat serta kantor - kantor pemerintahan Laos. Contohnya dari hostel tempat gue tinggal, cukup dengan berjalan kaki meniti sebuah jalan utama sejauh beberapa ratus meter, gue akan menemukan kantor - kantor kementerian, kedutaan besar, bahkan Istana Kepresidenan.

Satu lagi, 'jejak' Perancis masih terasa cukup kental di kota ini, dan digunakan untuk menamakan berbagai fasilitas umum, seperti "rue" untuk "jalan", lalu "National Biblioteque" atau perpustakaan nasional, ada juga "Lycee de Vientiane" atau sekolah menengah atas Vientiane, dan lain sebagainya.

Vientiane sangat berkesan buat gue karena menawarkan obyek - obyek wisata yang cukup beragam dan mudah dijangkau. Mungkin ada yang menilai kota ini membosankan karena sepi dan 'begitu - begitu saja'....namun jiwa gue akan selalu merindukan tempat - tempat yang menawarkan ketenangan serta  menyajikan rasa damai dan relaks seperti kota ini.

Anjing Laos nan ramah :)