I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, September 29, 2015

Menyongsong Masa Lalu Di Lasem (Hari Pertama)

Bed sweet bed
Perjalanan gue menyongsong masa lalu ini sebenarnya terdorong oleh rasa penasaran akan kota Lasem. Sebenarnya ngga banyak artikel yang pernah gue baca mengenai Lasem....tapi sejauh yang gue ingat gue pernah membacanya di harian (cetak) Kompas. Saat itu Lasem diangkat ke permukaan karena bertepatan menjelang hari Imlek. Dan Lasem yang sejak pertama gue mendengar namanya disebut - sebut sebagai Tiongkok Kecil, selalu dijadikan semacam teladan akan sikap toleransi yang dijunjung tinggi di antara masyarakat yang heterogen, tepatnya sangat kental budaya Cina. Namun lebih dari itu, gue 'terpesona' dengan 'reputasi' kota Lasem sebagai kota tua dengan nuansa Cina yang masih lestari dan orisinil.

Jadilah sekitar 2 bulan yang lalu gue iseng - iseng membeli tiket kereta (ekonomi) tujuan Pasar Senen (Jakarta) - Semarang Tawang. Rasa penasaran super tinggi membantu gue menepis ragu membayangkan perjalanan kereta ekonomi selama kurang lebih 8 jam menuju Semarang. Rasa penasaran juga bikin gue begitu bersemangat mencari informasi cara mencapai Lasem, penginapan di sana, bagaimana berpetualang di sana dan lain sebagainya.

There is a will, there is a way...tekad gue yang besar untuk menuju Lasem dan ketekunan mencari - cari informasi berbuah manis, yang mengenalkan gue pada Lasem Heritage Trail. Gue pun mulai berkomunikasi dengan Pop, yang gue pribadi sebut pemandu yang mencintai kota Lasem dan memiliki pengetahuan luas mengenai Lasem. Setelah gue berkomunikasi dengannya, rasanya segala tantangan dan pertanyaan dalam benak gue terjawab. Mengenai penginapan, gue bisa menumpang di guest house Lasem Heritage Trail yang tarifnya hanya Rp. 50,000/malam. Dan mengenai cara mengeksplorasi Lasem, Pop juga menyediakan semacam paket tour Lasem.

Tanggal 24 September 2015 yang lalu, bertepatan dengan hari libur Idul Adha 1436H, gue berangkat menuju Stasiun Pasar Senen. Kereta Kertajaya yang akan mengantar gue menuju Semarang Tawang dijadwalkan berangkat sekitar jam 2 siang. Sebenarnya ini bukan waktu favorit gue untuk berangkat, terlebih dengan menggunakan kereta ekonomi, karena sudah terbayang panas dan sesaknya suasana di dalam kereta. Tapi, demi membayar rasa penasaran akan Lasem yang tersimpan di hati gue beberapa tahun terakhir, kayaknya semua itu bukan masalah.

Gue pun melalui perjalanan selama kurang lebih 8 jam menuju Semarang. Kalau menarik mundur waktu ke belakang, gue udah pernah naik kereta ekonomi tujuan Malang - Pasar Senen yang waktunya jauh lebih lama, hampir 18 jam. Jadi perjalanan 8 jam ini bukan sesuatu yang terlalu berat rasanya. Gue sempat tertidur beberapa saat, walaupun sulit banget karena gue duduk di bangku C yang ada di pinggir lorong, dimana ngga ada sesuatu pun yang bisa gue gunakan untuk menyanggah kepala gue yang mengantuk. Ada saat - saat dimana gue berdiri lama dalam perjalanan karena duduk terasa membosankan dan bikin pegal serta nyeri maksimal.

Akhirnya kereta pun merapat di Stasiun Semarang Tawang, hampir jam 9 malam. Ini adalah kali pertama gue menginjakkan kaki di stasiun ini. Dan tiba di sebuah lokasi antah - berantah selarut malam ini, adalah tantangan tersendiri. Gue pun meninggalkan bangunan stasiun menuju jalan besar. 

Gue menunggu angkutan umum yang akan mengantar gue ke Terminal Terboyo. Herannya suasana stasiun saat itu ngga ramai, dan rasanya gue adalah satu - satunya orang yang menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Dengan mata berkunang - kunang menahan kantuk, gue pun menghentikan satu - satunya angkutan umum yang lewat yang akan mengantar gue ke terminal.

Perjalanan dari Stasiun Semarang Tawang menuju terminal sekitar 10 menit. Angkutan umum yang gue tumpangi ngga masuk ke dalam terminal. Tapi kebetulan tepat di depan terminal pun ada sebuah bus sedang berhenti dengan beberapa penumpang di dalamnya. Dengan mata mengantuk gue lihat nama busnya "Jaya Utama". Gue teringat, Pop sempat mengingatkan nama - nama bus tujuan Semarang - Surabaya: Widji, Indonesia, Sinar Mandiri dan Jaya Utama. Artinya, gue harus naik bus ini. Begitu masuk bus gue lihat seorang penumpang sedang asyik merokok. Sialan....berarti bus yang gue tumpangi ini adalah bus non AC. Tapi apa daya...ngga ada pilihan lain.

Perjalanan Semarang - Lasem ditempuh sekitar 3 jam. Dan dalam karir kaki panjang gue ini melangkah melanglang buana, ini adalah salah satu perjalanan yang paling mengandalkan nyali dan kenekatan tingkat tinggi untuk bisa dilalui. Jalan sendirian, di malam selarut ini, di dalam bus antar kota antar provinsi, dan gue ngga tahu rute perjalanannya serta ngga tahu harus berhenti dimana. Pop sudah membekali informasi bahwa gue harus turun di Masjid Lasem. Namun, harus melalui perjalanan panjang nyaris 3 jam dan hanya memegang informasi "Masjid Lasem" rasanya menantang banget. Malam itu gue rasa sang kernet mendapatkan penumpang paling bawel sepanjang karirnya. Karena setiap kali sang kernet berjalan melewati bangku tempat gue duduk, gue akan bilang, "Pak...Masjid Lasem ya..." Meskipun Pak Kernet selalu menjawab bahwa masjid yang gue maksud letaknya masih jauh, tapi gue pantang malu dan menyerah. Setiap kali gue lihat sosoknya, gue akan bilang, "Pak jangan lupa....saya turun di Masjid Lasem. Masih jauh ngga ?" 

Selain 'mengganggu' Pak Kernet, cara gue 'sadar lokasi' adalah dengan membaca alamat - alamat yang biasanya tercantum di tempat - tempat umum. Misalnya pada papan atau tugu nama sekolah, bank atau kantor Polisi. Paling tidak, dengan melakukannya gue sadar bahwa gue sudah di Kudus....atau Pati....atau sudah memasuki Rembang. Hal ini sebenarnya agak sulit dilakukan, karena sepanjang jalan penerangannya sangat minim, hanya mengandalkan lampu kendaraan. Gelap dimana - mana. Di saat yang sama gue juga tetap berkomunikasi dengan Pop melalui Whats App, yang berjanji akan menjemput gue di Masjid Lasem nanti. Moment yang maha dahsyat adalah ketika gue bilang, "Dah masuk Rembang, Pop..." jawaban yang gue terima paling ngga masuk akal sedunia, "Dah lewat kotanya ? atau masih di tambak garam?" Hahh...!! Saking gelapnya sepanjang perjalanan bahkan gue ngga tahu ada apa di sebelah kiri - kanan jalan raya. Dan mana gue tahu yang mana Rembang kota dan Rembang yang bukan kota....dan apa pula itu tambak garam? Rasanya pengen ketawa terbahak - bahak sambil membenturkan kepala ke jendela bus berkali - kali....di tengah rasa cape, ngantuk, dan bingung campur jadi satu, jawaban Pop adalah sumber kelucuan yang mencengangkan.

Akhirnya gue kembali mengandalkan Pak Kernet. "Pak, Masjid Lasem masih lama ?" Gue salut ama Pak Kernet karena belum frustasi meladeni pertanyaan gue. Akhirnya jawaban yang ditunggu - tunggu pun terdengar dengan indahnya...."10 menit lagi, Mbak..." Gue langsung menghubungi Pop kembali.

Bus pun berhenti di Masjid Lasem, tepat jam 00:05 dini hari. Ketika gue menghirup udara segar sesaat begitu turun dari bus, hati gue berkata...butuh beberapa tahun, dan 10 jam perjalanan darat untuk gue tiba di sini. Akhirnya! 

Gue langsung mengenali Pop dengan motornya yang menunggu tepat di dekat perhentian bus. Gue pun diantar menuju guest house. Lasem saat itu gelap dan sepi. Begitu gue tiba di gerbang guest house, dalam kegelapan gue bisa melihat sosok bangunannya yang megah namun tua. Menyeramkan ? Pastinya. Gue diantar ke kamar tidur, dimana ada 3 kasur di dalamnya, dan 2 kasur di antara sudah terisi oleh 2 perempuan (traveler dari Jakarta juga) yang tidur dengan pulasnya. 

Foto-foto guest house :

Ruang tamu guest house
Ruang tamu guest house
Bangunan guest house

Gue yang masih takjub dan kaget dengan betapa kunonya bangunan guest house, dengan langit - langitnya yang tinggi...pintu - pintu yang menjulang dan jendela - jendela besarnya, berusaha menyesuaikan diri sekilat mungkin. Malam itu gue ngga mandi, karena toilet dan kamar mandi beda lokasi dengan kamar tidur. Gue hanya sempat membersihkan diri dan berganti baju, siap untuk merebahkan badan di kasur....Kasurnya sendiri kecil, jadi kalau mau berbaring gue harus menekukkan badan gue sedikit. 

Gue melalui malam itu dengan berjuang untuk tidur. Sepi. Hanya ada suara kipas angin, selebihnya keheningan. Rasanya kali ini gue 'naik level' ke tingkat 'advanced' dalam hal perbekpekeran. Perjalanan panjang nan melelahkan tadi....guest house unik ini....kamar ini....kasur tempat gue berbaring....meskipun masih di awal perjalanan selama 4 hari gue ke Lasem, namun ini adalah salah satu perjalanan paling berat yang pernah kaki panjang gue ini lalui. Dan gue pun tertidur, dengan semangat mengeksplorasi Lasem esok hari.

Pengeluaran :
Tiket kereta ekonomi Pasar Senen - Semarang Tawang : Rp. 90,000
Bekal makan malam (nasi kotak D'Cost) : Rp. 16,000
Ongkos angkutan umum stasiun Semarang Tawang - Terminal Terboyo : Rp. 5,000
Ongkos bus Semarang - Surabaya : Rp. 22,000 

Total pengeluaran hari pertama : + Rp. 133,000

Monday, September 21, 2015

Keluyuran di Tangerang

Gue dan Ony mendadak pengen ke Tangerang karena penasaran untuk mengunjungi Museum Benteng Heritage. Dari dulu gue sering dengar istilah "Cina Benteng", dan bikin penasaran, karena gue memang selalu excited melihat - lihat kawasan pecinan gitu. Begitu pernah secara kebetulan membaca artikel mengenai Museum Benteng Heritage, gue pun langsung memantapkan hati untuk ke sana. Meskipun selama ini gue ngga kenal Tangerang....dan sejujurnya agak malas dan ogah karena bagi gue 'Tangerang' itu jauh banget dan sulit dijangkau.

Kekhawatiran gue lenyap berkat adanya prasarana KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Jabodetabek. Jadi, dari Stasiun Pasar Minggu gue naik KRL Commuter tujuan Tanah Abang terlebih dahulu, turun di Stasiun Duri. Dari Stasiun Duri gue melanjutkan perjalanan dengan KRL Commuter lagi tujuan Tangerang, dan turun di stasiun paling akhir yaitu Stasiun Tangerang. Total perjalanan sekitar 1.5 jam dengan ongkos total Rp. 4,000 saja. Murah dan praktis kan? 

Dari Stasiun Tangerang, gue dan Ony cukup berjalan kaki menuju kawasan Pasar Lama, dimana Museum Benteng Heritage berada. Museumnya benar - benar terletak di tengah sebuah pasar tradisional yang hingga siang itu masih cukup padat oleh masyarakat sekitar dan aktivitasnya yang khas. Lengkap dengan suasana beceknya, aroma - aroma khas dimana aroma ikan, daging, sayur mayur dan keringat pedagang dan pembeli membaur menjadi satu. 

Tiba di Museum, gue pun membeli tiket masuk seharga Rp. 20,000 per orang. Karena saat itu gue tiba sekitar jam 11:30 siang, gue masih harus menunggu sampai waktu tour berikutnya yaitu jam 12:00 siang. Jadi setiap kunjungan ke museum ini harus didampingi oleh pemandu tour, yang akan memandu pengunjung selama tour yang berlangsung kurang lebih 45 menit. Selama tour pengunjung dilarang untuk memotret dan mendokumentasikan dalam bentuk apapun.

Bangunan museumnya berupa rumah bergaya sangat khas oriental, ala rumah - rumah mewah dan luas milik orang - orang kaya Cina di jamannya. Rumah ini mengingatkan gue akan museum - museum dengan konsep serupa yang pernah gue lihat di Penang maupun Melacca. Kalau di Penang gue sempat mengunjungi Pinang Peranakan Mansion dan Blue Mansion (Cheong Fatt Tze Mansion). Kalau di Melacca gue pernah mengunjungi Baba & Nyonya Heritage Museum. 

Yang unik dan terkesan kekinian banget, Benteng Heritage Museum ini diresmikan pada tanggal dan jam cantik, yaitu 11 November 2011 (11-11-2011) tepatnya jam 20:11 (jam 8 malam lewat 11 menit). Seperti pada museum - museum yang pernah gue kunjungi di Penang dan Melacca, daya tarik dari museum ini selain bangunannya yang sangat tua namun tetap kokoh, juga barang - barang peninggalannya yang kuno dan bernilai sejarah tinggi, yang hebatnya masih lestari dan terawat. Paling ngga, berkat Benteng Heritage Museum, masyarakat jaman sekarang (salah satunya gue), masih berkesempatan melihat langsung barang - barang maupun perkakas yang digunakan alias nge-hits puluhan atau bahkan sekian ratus tahun yang lalu. Barang - barang yang disimpan dan dipamerkan di sini misalnya : telepon, alat timbang (umumnya) candu, alat untuk menghisap tembakau, alat hitung, buku - buku, pakaian, perangko, koin, dan lain - lainnya yang berusia kuno.


Selain itu, gue juga sangat menikmati tour di Benteng Heritage Museum karena bisa mendengarkan cerita sejarah masyakat Cina Benteng di Tangerang ini, dari sang pemandu tour siang itu, Desy. Paling ngga, rasa ingin tahu gue selama ini dengan istilah "Cina Benteng" terjawab. Kalau mendengar kata 'Tangerang', rasanya pikiran gue akan langsung teringat sebutan "Cina Benteng"....tanpa gue sendiri mengerti sebenarnya itu sebutan resmi dan wajar, atau semacam nama keren atau bahkan sebutan sinis alias ejekan. Ternyata itu adalah sebutan yang lazim dan sebenarnya ada cerita sejarah di baliknya. Jadi, dahulunya VOC, perusahaan dagang Belanda, membangun benteng di sebelah timur sungai Cisadane. Pada tahun 1682 berdasarkan sebuah perjanjian damai, wilayah yang terletak di antara kota Batavia hingga sebelah timur Cisadane ditetapkan sebagai milik VOC. Pihak VOC pun membangun benteng untuk melindungi dan mempertahankan lahan ini. Dan orang - orang Tionghoalah penduduk pertama yang menempati dan mengolah lahan ini. Dari situlah lahir istilah Cina Benteng.

Benteng Heritage Museum
Pintu masuk museum
Ruang penjualan tiket museum
Oleh - oleh dari Museum
Produksi pabrik kecap tertua di Tangerang : Teng Giok Seng

Dari Benteng Heritage Museum, gue dan Ony tinggal berjalan kaki menuju klenteng Boen Tek Bio di Jalan Bakti (masih di kawasan Pasar Lama), yang merupakan klenteng tertua di Tangerang. Klentengnya ramai dikunjungi oleh warga yang hendak menjalankan ibadah. Bahkan di siang itu ada pasangan pengantin juga. 

Klenteng Boen Tek Bio


Karena sudah kelaparan, gue dan Ony pun berniat mencari makan siang....tadinya pengen nyobain sajian kuliner khas Tangerang : nasi uduk Encim Sukaria...tapi batal karena menurut informasi dari salah satu staff Benteng Heritage Museum, nasi uduk Encim Sukaria sudah akan habis dan tutup sekitar jam 11:00 siang. Artinya, laris banget....Makanan khas Tangerang lainnya adalah laksa. Tapi berhubung laksa bukanlah makanan favorit gue -anehnya, bahkan gue belum pernah sekalipun makan laksa....- maka gue berniat nyari makanan ala mall dan gagal totallah misi wisata kuliner Tangerang kali ini.

Gue pun kembali ke arah stasiun Tangerang dan tepat di seberang bangunan Pendopo, gue naik angkutan umum (warna biru) nomor R03A jurusan Ps. Anyar - Serpong, untuk menuju Mall Tangcity. Di sana gue makan di D'Cost....Selesai makan siang dan ngopi, gue meninggalkan Tangcity untuk mencari 'tujuan wisata' Tangerang lainnya, yaitu Bendungan Pintu Air 10. Dari Tangcity gue menyeberang jalan dan naik angkutan umum RB (warna kuning biru) dan turun di Jembatan Pasar Lama. Dari situ gue menyambung naik angkutan warna biru ungu dan turun tepat di seberang Pintu Air 10. Dinamakan Pintu Air 10 karena bendungan ini memiliki sepuluh pintu air....(informasi paling penting sedunia abad ini!)

Santai di bendungan
Sungai Cisadane
Bendung Pasar Baru Irigasi Cisadane
(Pintu Air 10)
Sebenarnya gue ngga yakin juga kalau bendungan ini adalah tempat wisata. Tapi untuk gue, yang seumur - umur belum pernah menginjakkan kaki di bendungan, cukup bikin semangat dan girang. Ngga banyak yang bisa dilakukan di sini, selain duduk menikmati pemandangan sungai Cisadane yang sore itu nampak tenang sambil mengamati pengunjung lainnya yang asyik memancing ikan. 

Dari Pintu Air 10, gue dan Ony pun kembali ke Stasiun Tangerang. Tapi berhubung masih penasaran, gue kembali ke Klenteng Boen Tek Bio, karena berharap klenteng sudah lebih sepi dan karena masih bertekad menantang Ony untuk mengadu kemampuan bermain caturnya dengan group bapak - bapak usia lanjut yang siang tadi gue perhatian asyik bermain catur. Namun begitu gue tiba di sana, klenteng masih tetap padat, bahkan ada pasangan pengantin lagi sore itu, dan Ony masih enggan bertarung catur dengan group bapak - bapak yang sampai sore itu masih tekun di depan papan caturnya, dengan personel sama dan posisi duduk yang sama pula. 

Akhirnya gue dan Ony pun melangkah kembali ke Stasiun Tangerang untuk bersiap kembali ke kota Jakarta yang gue rindukan *noraks!* Lagi - lagi, Yesus yang maha baik memberikan perjalanan KRL Commuter yang lancar dan nyaman dari Tangerang menuju Pasar Minggu. 

Perjalanan ke Tangerang ini cukup menghapus pandangan skeptis gue mengenai kota ini. Sebelumnya gue berpikir ngga ada yang menarik untuk dikunjungi di sini...(Maaf, warga Tangerang!) Tapi ternyata gue salah...kota ini cukup menyenangkan untuk dijelajahi. Bahkan gue dan Ony masih menyimpan daftar tempat - tempat yang harus dikunjungi di Tangerang yang belum sempat didatangi hari ini. 

Jadi...sampai jumpa lagi, Tangerang !

Friday, August 07, 2015

Birthday Meeting

Kenapa fotonya kue, dengan ucapan "Happy Birthday To Us" ? Gue ulang tahunkah ? Ngga lah...Ulang tahun gue di Januari...lagian, kalau ulang tahun gue butuh tiket pesawat, bukan kue.

Ini kue sederhana ukuran 20 x 30 cm, yang biasa gue pilih sesuai selera gue (biasanya dengan cara buka website Harvest Cake, trus gue pandangin setiap foto whole cakenya, dan pilihan gue jatuh pada foto kue yang paling bikin gue ngiler...Mood gue akan berbeda tiap bulannya.) Kue ini dihadirkan untuk memeriahkan meeting bulanan di kantor yang namanya Birthday Meeting. Apa tuh ?

Birthday Meeting konsepnya mengundang semua staff (di bawah level supervisor), apapun jabatannya, berapa pun usianya dan apapun status karyawannya, yang berulang tahun di bulan tertentu untuk merayakannya bersama Plant Manager (Kepala Pabrik). Jadi, Birthday Meeting ini adalah agenda rutin bulanan. Sebenarnya istilah 'meeting' jadi terkesan terlalu official....karena pihak Management (tepatnya Kepala Pabrik) menginginkan acara yang berdurasi 1.5 - 2 jam ini sesantai dan senyaman mungkin buat setiap orang. Setiap persiapan meeting gue akan memesan kue ulang tahun ditambah minuman coke berbagai rupa. Dan ketika semua orang sudah berada di ruang meeting, para staff yang berulang tahun ini akan berkumpul mengeliling kue ulang tahun mereka, menyanyikan lagu "Happy Birthday To You", meniup lilinnya, serta berfoto-foto merayakan sukacita ulang tahun bersama sang Kepala Pabrik.

Setelah itu kue pun dipotong dan dibagikan, dan di sela - sela menikmati makanan dan minuman yang disediakan, setiap staff dipersilahkan memperkenalkan diri mereka masing - masing, dilanjutkan dengan menyampaikan apa saja langsung kepada Kepala Pabrik. "Apa saja" bisa curahan hati, uneg - uneg, saran dan masukan, ide maupun keluhan. Namun, tidak ada paksaan atau keharusan untuk menyampaikan apapun. Mereka bisa hanya duduk di sana untuk menikmati kue ulang tahun dan sekedar break dari pekerjaan mereka sejenak. Bahkan tidak ada paksaan untuk menghadiri Birthday Meeting ini.

Antusiasme para staff umumnya sangat besar untuk menghadiri acara ini. Mereka sangat senang dan dihargai manakala pimpinan tertinggi pabrik mengundang mereka untuk merayakan hari ulang tahun bersama - bersama. Apalagi, acara ini bisa menjadi saluran dimana mereka bisa bertemu dan berkomunikasi langsung dengan pimpinan mereka dalam suasana santai dan akrab. "Daya tarik" dari acara ini adalah karena apapun yang disampaikan terjamin kerahasiaannya, namun akan langsung ditindaklanjuti. 

Adapun gue selalu hadir di meeting itu sebagai penterjemah atasan gue, si Plant Manager alias Kepala Pabrik, dalam berkomunikasi dua arah serta memastikan semua masukan, saran atau keluhan yang muncul selama Birthday Meeting ini terdokumentasikan serta ditindaklanjuti. Oya...Boss gue adalah seorang warga negara asing, yang tidak menguasai bahasa Indonesia, jadi sehari - hari bahasa wajib dan umum digunakan adalah Bahasa Inggris. Namun untuk meeting seperti ini, karena Pak Boss ingin berkomunikasi langsung dengan staff - staffnya mulai dari level operator mesin, office boy/office girl, analyst, staff gudang, dan lain sebagainya, yang mungkin tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris, namun beliau ingin memastikan bahwa kendala bahasa tidak menjadi penghalang untuk "mendengar" apapun dari para staff yang kebanyakan tidak ditemuinya setiap hari dan setiap saat.

Hal menarik buat gue adalah karena gue bisa mendengar cerita dan pengalaman rekan sekerja gue yang mungkin karena dalam keseharian gue ngga bekerja sama secara langsung dengan mereka, gue banyak mendengar hal - hal baru. Setiap kali meeting, rasanya mata gue terbuka dengan kondisi, pengalaman serta tantangan yang mereka hadapi di area kerja mereka masing - masing. Hal - hal yang mereka sampaikan benar - benar beragam dengan topik random. Kadang gue sampai kewalahan untuk mendampingi Pak Boss karena dihadapkan oleh hal - hal bahkan istilah yang sangat baru. Misalnya, seorang operator mesin di area produksi biasanya membahas hal - hal yang sangat teknis yang berhubungan erat dengan kegiatan kerjanya sehari - hari. Lain lagi 'kisah' teknisi mesin dari Engineering Division, yang tantangan sehari - harinya adalah di seputar mesin A, mesin, B dan sebagainya. 

Selepas Birthday Meeting, tugas gue berikutnya adalah mendokumentasikan setiap saran, masukan, ide, maupun keluhan yang gue terima dalam Minutes of Meeting - Management, yang nantinya akan dibahas bersama dengan jajaran Management yang terdiri dari Plant Manager dan Direct Reportnya (Head of Department) dalam forum Plant Weekly Meeting yang rutin dilakukan. Setiap topik harus jelas siapa yang bertanggung jawab untuk menindaklanjuti, dan setiap tugas harus disertai komitmen mengenai waktu penyelesaiannya.

Meskipun gue punya 'tugas' di acara meeting ini yang bikin gue ngga bisa santai karena harus mewakili komunikasi dua arah dari dua belah pihak yang berbeda bahasa ini, dan mencatat setiap hal, tapi yang paling gue nikmati adalah melihat wajah - wajah bahagia yang begitu senang karena Pabrik peduli untuk merayakan ulang tahun mereka, bahkan, sang Kepala Pabrik pun berkenan untuk menyempatkan waktu untuk merayakan bersama dengan mendengarkan setiap masukan dan keluhan yang mereka sampaikan. Mungkin secara posisi kerja, mereka ada di level bawah atau terendah dari sebuah hierarki atau struktur organisasi yang kompleks. Namun dengan agenda Birthday Meeting seperti ini, mereka diingatkan bahwa tidak ada jarak yang terlalu lebar antara mereka dengan Pimpinan tertinggi mereka di Pabrik ini. Dan mereka bisa menyampaikan apapun langsung kepada sang Pimpinan tanpa harus melalui prosedur maupun protokoler apapun. Yang terpenting lagi, mereka bisa menyampaikannya dengan bebas, tanpa tekanan atau resiko menanti atas apapun yang mereka sampaikan.

Birthday Meeting seperti ini adalah 'budaya' ataupun agenda yang menarik dan berdampak besar serta berharga. Sepanjang pengalaman kerja gue, terlebih dengan reputasi gue sebagai kutu loncat, gue belum pernah melihat agenda yang sama diimplementasikan di perusahaan tempat gue bekerja sebelumnya. Agenda yang positif yang menurut gue patut dilakukan juga di perusahaan - perusahaan lainnya....yang peduli untuk mendengarkan 'suara' dari para staffnya, di level apapun.

Thursday, July 09, 2015

Adopsi Yang Bikin Emosi....

Ini murni curhat....curahan hati atas kebingungan yang sampai sekarang gue simpan...

Begini, selama ini, bahkan baru - baru ini, gue sering banget membaca di media sosial, tepatnya Facebook, karena gue ngga bergabung di media sosial mana pun selain Facebook...mengenai statement atau curahan hati, atau apapun itu namanya, dari tempat-tempat penampungan satwa terlantar (khususnya anjing), yang (katanya) sudah mencapai dan jauh melewati kapasitas tampung mereka. Ada yang penghuninya sudah puluhan...bahkan ratusan. Kepedulian masyarakat sekitar sangat diharapkan untuk mengatasi masalah ini....semacam itulah beritanya.

Selain dalam wujud materi (makanan, uang, serta barang keperluan lainnya), para pencinta satwa (khususnya anjing) dapat menunjukkan kepeduliannya dengan cara mengadopsi anjing - anjing ini, dan merawatnya dengan baik. Kampanye untuk "mengadopsi anjing terlantar....bukan membeli anjing baru" cukup menginspirasi gue beberapa tahun lalu ketika gue hendak menambah jumlah sahabat anjing di rumah gue. 

Saat itu, setelah bersusah payah meminta ijin dari Mama, akhirnya gue diperbolehkan untuk mencari anjing baru sebagai teman Bruncuz. Sebenarnya ini adalah pengorbanan luar biasa dari Mama yang tidak menyukai anjing (sebagai binatang peliharaan). Dan gue pun langsung memulai proses adopsi anjing.

Gue mulai mengunjungi beberapa shelter atau tempat penampungan anjing di Jakarta. Singkatnya, gue menemukan seekor anjing yang gue sukai, dengan jenis dan ukuran anjing tepat seperti yang gue idam - idamkan selama ini. Setelah mendaftarkan diri sebagai calon adopter, penantian untuk dikunjungi oleh relawan shelter yang hendak melakukan survey pun dimulai. Saat itu gue menunggu hingga beberapa minggu, sampai - sampai gue kembali ke shelter tersebut untuk menanyakan ada apa gerangan, kenapa rumah gue belum kunjung di-survey. Penjelasan yang gue terima saat itu, karena keterbatasan jumlah relawan. Ketika itu gue sempat menjenguk anjing pilihan gue, dan kondisinya sudah mulai kurang baik, agak kotor dan mulai berkutu. 

Akhirnya kunjungan yang ditunggu - tunggu pun tiba. Gue ingat, saat itu gue lagi di bioskop di Margo City, menonton sebuah film yang baru saja dimulai. Namun secepat kilat gue langsung beranjak pulang, demi bertemu para relawan shelter yang sudah lama gue nantikan ini. 

Di rumah, para relawan ini melihat langsung pekarangan belakang rumah gue, di mana Bruncuz dan rumah megahnya berada. Menurut mereka, lingkungan tinggal Bruncuz sangat baik, dengan area pekarangan cukup luas, dan rumah permanen berukuran besar tempat Bruncuz berlindung. 

Selain itu sang relawan juga bertanya hal - hal lain sehubungan dengan keseharian gue dalam merawat Bruncuz, dan sesekali memotret anjing gue yang pemalu itu. Singkatnya, gue mendapat kesan bahwa si relawan ini cukup terkesan dengan kondisi rumah dan keluarga gue yang kondusif untuk memelihara anjing.

Di pertengahan minggu, gue dihubungi oleh pemilik shelter, yang mengabarkan bahwa gue layak jadi adopter, dan anjing idaman gue bisa segera diantar ke rumah. Bahkan saat itu beliau bertanya apakah gue bersedia mengadopsi beberapa anjing sekaligus, yang tentunya gue tolak. Ketika gue tanyakan apakah ada biaya yang harus gue tanggung, jawabannya "tidak", dan bahkan gue dijanjikan untuk diberikan pasokan makanan tambahan karena anjing idaman gue ini sedikit bermasalah dengan nafsu makannya yang dahsyat. Namun, saat itu gue diinformasikan bahwa anjing tersebut hanya boleh dibawa pulang ke rumah gue jika sudah disteril.

Di akhir minggu, dengan bersemangat gue kembali mengunjungi shelter tersebut, untuk bertemu dengan 'anjing masa depan' gue. Saat itu menurut gue kondisinya sudah semakin buruk dibanding ketika kunjungan gue sebelumnya. Secara umum anjing tersebut sehat, namun kotor. Sangat dimaklumi, karena ia tinggal bersama sekitar 200an anjing terlantar lainnya. Saat itu gue sudah mulai khawatir melihat kondisinya, yang pasti akan mempengaruhi kondisi Bruncuz, ketika si anjing idaman ini gue bawa pulang. 

Sekali lagi gue mendapat penjelasan bahwa anjing tersebut tidak bisa dibawa pulang jika belum disteril. Gue pun bertanya, kapan kepastian anjing tersebut disteril? Jawabannya: Belum tahu, karena menunggu sumbangan donatur. Karena gue merasa terdesak untuk membawa anjing tersebut secepatnya keluar dari tempat penampungan itu agar kondisinya tidak semakin memburuk, saat itu gue berjanji akan membantu sebagian biaya sterilisasinya. Sang pemilik shelter menyambut senang janji gue ini, dan mengatakan bahwa biaya sterilisasinya mungkin sekitar Rp. 400,000. Ketika itu gue bahkan sempat membawa anjing itu berjalan (dog walking) dengan menggunakan rantai seadanya. Betapa girangnya gue membayangkan, anjing gagah ini kelak akan menjadi partner jogging pagi gue. 

Ketika gue pamit untuk meninggalkan shelter kepada sang pemilik, beliau kembali menginformasikan mengenai biaya sterilisasi anjing. "Paling sekitar Rp. 750,000...." begitu katanya. Gue meninggalkan lokasi dalam bingung. Mengapa biaya bisa berubah dalam hitungan jam. Jika shelter ini demikian 'akrab' dengan prosedur sterilisasi, kenapa mereka tidak bisa mengkonfirmasikan ke gue angka biaya yang jelas dan pasti?

Akhir minggu pun berakhir. Dan suatu saat ketika sedang di kantor, gue menerima sebuah sms dari si pemilik shelter dengan pesan : biaya sterilisasinya Rp. 900,000, maklum anjing besar...(saking 'takjub' dan emosinya, pesan sms ini masih gue simpan). Saat itu gue langsung berkata dalam hati...Lupakan ! Meskipun gue sudah terlanjur menyayangi anjing itu, tapi gue ngga akan mengadopsinya. Kalau gue ngga bisa merawatnya, semoga Yesus menjaga dan merawatnya dengan cara yang lain.

Kekesalan gue memuncak saat itu, merasa dipermainkan oleh pihak shelter. Jika sejak awal gue diberitahukan bahwa ada biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak adopter, gue pasti bisa menerimanya dengan besar hati dan siap. Oyyaa?? Iyalah! Karena sejak awal niat gue memang membeli anak anjing....dan gue sudah menyiapkan uang untuk itu. Namun entah apa maksud dari pihak shelter dengan melakukan hal seperti itu....Rasa sayang gue terhadap anjing tersebut serta antusiasme menggebu - gebu untuk mengadopsinya, tidak mendapatkan timbal balik yang sepantasnya. Dan demi alasan atau motif apapun, gue ngga bisa mengerti cara berpikir serta alasan pihak shelter untuk melakukan hal seperti itu. 

Gue memang ngga punya uang melimpah atau fasilitas super lengkap dan mewah untuk merawat anjing. Namun gue punya rasa sayang seluas samudra kepada anjing dan sanggup berkomitmen untuk merawatnya sebaik mungkin meskipun dalam keterbatasan yang gue miliki. Apa yang pihak shelter lakukan seperti sebuah usaha untuk menarik ulur niat baik gue untuk mengadopsi anjing, dan hal itu ngga bisa gue terima. Banyak anjing terlantar lain yang akan menerima uluran tangan gue untuk merawatnya....dan gue sekonyong - konyong muak dan kesal dengan shelter yang mengaku kewalahan menampung ratusan anjing ini.

Sejak itu, telepon dan sms yang gue terima dari pihak pemilik shelter, yang menanyakan apakah gue masih berniat mengadopsi...kenapa tidak ada kabar lebih lanjut dari gue....dan lain sebagainya...tak terhitung jumlahnya, dari beberapa nomor telepon yang berbeda. Dan sejak itu pula, gue enggan menanggapinya. Setiap sms yang gue terima, ngga gue balas. Dan setiap gue dihubungi melalui telepon, gue akan menghindar dan bilang gue sedang tidak bisa menerima telepon, akan menelepon balik....dan hal itu ngga pernah gue lakukan. Percaya atau tidak, bahkan si pemilik shelter masih mencoba menghubungi gue hingga 2 tahun setelah kejadian itu. Apakah gue tergerak untuk kembali berhubungan dan berkomunikasi dengan mereka ? Ogaahh... Go away ! Urus sendiri ratusan anjing yang ada di shelter loe...Gue ngga peduli lagi!

Bukan hanya gue yang kecewa, Mama pun sangat kecewa. Mama kecewa karena putrinya yang (menurutnya) terlalu menyayangi anjing dan mendedikasi dirinya untuk merawat anjing ini, dikecewakan oleh pihak yang seharusnya merasa terbantukan. "Mama sebenarnya ngga suka kalau ada anjing lagi di rumah ini. Tapi karena Cherry terus - menerus bilang pengen punya anjing lagi...Mama ngalah. Tapi kok malah begini ?? Mereka anggap goblok apa boruku??! Kalau tahu begitu, seharusnya kuusir aja mereka dari rumahku waktu mereka datang ke sini !" semprot Mama sewot, marah, panas mendidih.

Demikianlah sekelumit cerita kegagalan adopsi yang pernah gue hadapi....yang lagi, hingga sekarang belum bisa gue terima dengan akal pikiran sehat gue. Hingga kini gue suka bertanya-tanya dalam hati...seperti apa sebenarnya prosedur normal adopsi anjing....apakah semua calon adopter mengalami pengalaman yang sama seperti gue....apakah seluruh shelter melakukan hal yang sama ?.... Anyway, saat ini gue sudah memiliki Momo si Husky yang juga gue adopsi dari seseorang yang sudah enggan memiliki dan merawatnya. Namun kali ini dengan prosedur mudah dan singkat...tanpa berbelit - belit, tanpa drama, dan lain sebagainya.

Dan bagi tempat penampungan anjing mana pun, gue hanya bisa mendoakan semoga Tuhan menyertai dan membalas setiap niat baik dan tulus mereka merawat anjing - anjing terlantar di muka bumi ini.

Tuesday, July 07, 2015

Ketika AirAsia Merubah Jadwal Penerbangan....

Barusan gue nerima telepon dari AirAsia Malaysia. Nomor yang hampir - hampir mirip udah dua kali mencoba menghubungi gue siang ini. Tadinya gue pikir telepon dari salah satu tamu kantor yang rencananya tiba hari ini. Ternyata dari AirAsia X di Malaysia. Mereka bermaksud untuk mengklarifikasi email yang mereka terima dari Airasia Indonesia mengenai perubahan jadwal penerbangan yang gue request pagi ini ke AirAsia Indonesia.

Begini, gue sudah mengantongi tiket AirAsia ke......*gak usah disebutin nama negara tujuannya* untuk jadwal penerbangan di bulan Oktober 2015 nanti. Untuk penerbangan ini gue akan menggunakan AirAsia X. Trus akhir Juni kemarin gue menerima email dari pihak AirAsia X bahwa jadwal penerbangan dari salah satu sektor berubah. Dan gue ditawarkan 3 (tiga) opsi :

Pertama, memindahkan jadwal penerbangan gue ke tanggal mana pun (selama seat masih tersedia) dalam periode 180 hari (6 bulan).

Kedua, Credit Shell, yang bisa digunakan dalam periode 90 hari.

Ketiga, Full refund. 

Jelas aja gue pilih opsi pertama, karena gue harus berangkat....membatalkan jadwal trip gue bukan pilihan sama sekali. Gue ngga berminat dengan opsi kedua dan ketiga karena belum tentu gue akan mendapatkan harga tiket yang sama (promo) jika hendak membeli tiket baru dengan credit shell maupun refund yang gue dapatkan. 

Saat itu gue langsung menghubungi nomor call center AirAsia Indonesia. Sayangnya, meskipun mereka mengetahui perihal perubahan jadwal itu, namun menurut mereka gue ngga berhak atas opsi pertama. Gue cuma boleh merubah jadwal penerbangan selama periode mulai dari dua minggu sebelum (tanggal keberangkatan aslinya) sampai dengan dua minggu setelah (tanggal keberangkatan aslinya). 

Sebenarnya gue 'menyambut baik' perubahan jadwal dari pihak AirAsia ini. Ini bagaikan gayung bersambut. Gue memang menyimpan bingung belakangan ini karena jadwal trip gue kali ini akan bentrok dengan jadwal Employee Gathering Perusahaan. Pasalnya, gue adalah salah satu panitia inti acara ini. Jadi ada perasaan ngga enak kalo gue ngga bisa ikutan acaranya. Puji Tuhan, ternyata AirAsia X pun melakukan perubahan jadwal.

Gue langsung semangat pilih - pilih tanggal penggantinya. Dengan asumsi bahwa gue bisa merubah jadwal penerbangan selama masih dalam periode enam bulan ke depan, gue sempat berniat untuk terbang di bulan Desember 2015 karena mengincar musim salju di sana.

Namun setelah tiga kali menghubungi pihak call center AirAsia Indonesia, gue ngga puas karena mereka ngotot kalo gue cuma boleh merubah jadwal dengan aturan 'dua minggu' tadi. Padahal gue udah melakukan yang mereka minta, yaitu meneruskan email yang gue terima dari pihak AirAsia X kepada AirAsia Indonesia. 

Akhirnya gue mengalah....karena gue ingin segera menentukan tanggal (supaya ketersediaan kursi terjamin), dan karena gue menemukan 'tanggal cukup cantik' (baca: libur nasional di tengah minggu). Jadilah gue memutuskan tanggal perubahan melalui telepon gue ke AirAsia Indonesia pagi tadi.

Dan siang ini petugas AirAsia X dari Malaysia menghubungi gue. Singkatnya, mereka mengkonfirmasikan bahwa gue berhak atas opsi pertama, seperti yang mereka sampaikan melalui email. Tapi kebetulan gue udah sangat puas dengan jadwal baru yang udah gue putuskan pagi tadi. Dan ternyata jadwal baru itu sudah diinformasikan oleh AirAsia Indonesia kepada AirAsia X melalui email. Itulah alasan mereka menghubungi gue, yaitu untuk mendapatkan konfirmasi final.

Yang menyenangkan dan menenangkan dari yang pihak AirAsia X lakukan ini adalah mereka benar - benar ingin memastikan bahwa gue puas dan happy dengan perubahan jadwal yang gue tetapkan. Selain itu mereka bahkan memberikan masukan dalam pemilihan waktu terbang, misalnya kalau dirasa waktu transit gue kelamaan, mereka akan memberikan masukan untuk memilih jadwal terbang yang lebih awal, dan sebagainya. Karena itu gue juga merubah waktu (jam) keberangkatan (bukan tanggal) dari yang gue konfirmasikan pagi ini ke AirAsia Indonesia.

Dan sang petugas ini begitu berinisiatif untuk menenangkan pelanggannya dengan memberikan timeline yang jelas untuk setiap hal. Misalnya, mereka berjanji untuk mengirimkan email konfirmasi perubahan jadwal terbang dalam 10 menit. Dan memang benar, dalam 10 menit gue menerima email yang dimaksud. Sementara pagi tadi gue hanya dijanjikan begini, "Email konfirmasi akan dikirimkan  dalam 2 x 24 jam. Jika sampai periode itu Ibu Cherry belum menerima email yang dimaksud, Ibu Cherry bisa menelepon kembali ke nomor ini." Langsung terlintas di pikiran gue, sulitnya kadang menghubungi nomor call center AirAsia Indonesia. 

Singkatnya, urusan perubahan jadwal gue terselesaikan dalam waktu singkat dan efektif. Dan gue mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada petugas AirAsia X yang sudah berinisiatif menghubungi gue, meskipun beda negara.....meskipun tiket yang gue beli adalah tiket promo....meskipun sebenarnya mereka sudah mendapatkan informasi dari pihak AirAsia Indonesia. 

Sebenarnya bisa dibilang baru kali ini gue kurang puas dengan pelayanan AirAsia Indonesia. Perihal perubahan jadwal begini bukan baru pertama kali terjadi, biasanya mereka lebih tanggap dan kooperatif. Namun secara umum kejadian ini ngga mengecewakan gue sebagai pelanggan AirAsia, terlebih sampai bikin kapok.

Di tengah maraknya kejadian dimana pelanggan tiket penerbangan mengeluhkan kebijakan dan pelayanan perusahaan maskapai penerbangan yang cuek dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan maupun perubahan sepihak dari maskapai, AirAsia menunjukkan itikad baiknya. Apa yang telah mereka lakukan ini, selain telah menyelesaikan 'masalah' yang ada, namun lebih dari itu sangat bermakna, karena di mata gue ini cara AirAsia menunjukkan bahwa seluruh pelanggannya berharga bagi mereka. Makasih AirAsia!