I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Friday, March 25, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Keempat)

 

16 Januari 2016.

Bus Litha & Co. malam mengantar gue dari Toraja ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, tiba sekitar jam 05:00 pagi lebih sedikit. Begitu turun dari bus rasanya gado-gado....yang jelas badan ini cape dan lelah banget setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam lebih. Pengennya bisa langsung merebahkan badan....di mana kek....tapi kondisi di bandara saat itu ngga memungkinkan. Gue mencari-cari pojokan atau lokasi apapun di mana gue bisa istirahat sambil tiduran sebentar, tapi ngga ada. Jadilah gue ke toilet untuk bersih - bersih seadanya.

Pagi ini rencananya gue akan dijemput temennya Bang Ino, Nuel. Dalam semalaman, rencana gue di Makassar untuk hari ini dan besok, langsung berubah drastis. Kemarin gue sempat panik karena kesulitan untuk menghubungi seseorang yang rencananya akan menjadi host atau guide gue di Makassar hari ini. Bang Ino membantu gue dengan mencarikan temannya di Makassar untuk menemani gue hari ini. Makasih Yesus....yang sudah menjawab kebingungan dan kepanikan gue, dan tidak meninggalkan gue sendirian ketika jauh dari rumah....melalui kebaikan dan bantuan orang - orang, yang sebenarnya baru gue kenal beberapa saat.

Saat itu sebenarnya gue enggan menghubungi Nuel untuk menjemput di bandara, karena masih terlalu pagi...ngga tega. Tapi gimana lagi....gue udah mati gaya di bandara. Sekitar jam 06:00 pagi lewat, Nuel pun menjemput dengan motornya. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Nuel menyarankan untuk singgah di rumahnya dulu, karena masih terlalu pagi untuk langsung berangkat ke Maros. Dia menawarkan tempat untuk gue beristirahat sejenak dan menitipkan ransel. Oiiyyaaa....ini mungkin sesuatu yang ngga gue perhitungkan. Kadang gue begitu ngototnya untuk mewujudkan sesuatu, sampai ngga memikirkan detilnya. Masa gue mau ke Leang Leang dan Rammang Rammang hari ini sambil memanggul ransel super berat, ditambah menjinjing oleh - oleh kue depatori.

Akhirnya gue singgah di rumah Nuel yang lokasinya ngga jauh dari bandara. Nuel mempersilahkan gue menempati sebuah kamar untuk beristirahat. Begitu merebahkan badan, rasanya gue mendapat fasilitas kemewahan luar biasa. Meskipun ngga bisa tertidur sepenuhnya, karena cuaca super panas, namun lumayan banget bisa beristirahat begini.

Sekitar jam 09:00 gue dan Nuel pun meninggalkan rumah, menuju Maros, tepatnya.....Leang Leang ! Leang Leang adalah pegunungan karst berumur ribuan tahun, konon merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia. Woww ! Tiba di sana, gue takjub bukan main, karena ngga mengira kawasannya seluas itu, dengan goa - goa menjulang sebesar itu. Seorang guide dari pihak pengelola mengantar gue ke Leang (goa) Pettakere dan Leang Pettae, di mana akhirnya gue bisa menyaksikan peninggalan berupa gambar babi rusa dan telapak tangan yang berusia ribuan tahun yang selama ini cuma bisa gue lihat ketika browsing - browsing di internet....hiks...terharu...Yesus baik banget ngasih gue kesempatan untuk datang dan melihat langsung tempat luar biasa kayak gini.

Di mata gue kawasan ini unik banget....dengan bebatuan berbagai ukuran sampai yang raksasa sekalipun, 'berserakan' di seluruh kawasan ini. Pemandangan ini terkesan absurd dan magical di mata gue. Rasanya gue kehabisan kata - kata untuk melukiskannya....menakjubkan...memukau....mempesona....semua digabung jadi satu, itulah kata yang pas untuk mendeskripsikan Leang Leang ini.




 
 

 





Dari Leang Leang, gue dan Nuel pun melanjutkan perjalanan ke Rammang Rammang. Panasnya saat itu....astaga !!! 100 derajat celcius kali! Dahsyat banget !! Untuk menuju Rammang Rammang gue berdua naik perahu dari sebuah dermaga, ongkosnya Rp. 200,000 pulang - pergi. Perahu ini mengantar gue menyusuri sungai Pute yang arusnya tenang, dengan pohon - pohon bakau di sebelah kanan dan kirinya.

Tiba di Rammang Rammang, kembali gue dibuat takjub demi melihat pemandangan pegunungan kars, kemana pun mata ini memandang. Tapi tunggu deh....gue pernah dengar review Rammang Rammang ini disejajarkan dengan Halong Bay di Hanoi, Vietnam. Kebetulan gue pernah ke Halong Bay tahun 2011 yang lalu, dan menurut gue berbeda ya....kalau Halong Bay, dari namanya aja sudah jelas....adalah pulau - pulau kars yang bertebaran dan menjulang di wilayah lautan. Kalau Rammang Rammang, bagi gue adalah pegunungan kars yang menjulang di antara hamparan area persawahan. Tapi, keduanya sama - sama menakjubkan kok....Sekonyong-konyong gue langsung ngiler melihat kehidupan warga sekitar yang tinggal dan bermata pencaharian di sini. Pasti damai dan tenteram banget tinggal menetap di tempat seindah dan sesunyi ini. 

Di Rammang Rammang ini, gue melewati hari mulai dari kepanasan luar biasa, sampai diguyur hujan. Kebetulan partner gue kali ini, Nuel, cukup seru, doyan berpetualang, dengan fisik yang nyaris ngga ada capenya. Jadi, rasanya siang hingga sore banyak spot di Rammang Rammang ini yang bisa gue eksplorasi. Kalau gue kecapean, dan diserbu rasa haus dan malas, nanti dia akan mengambil peran untuk memberikan motivasi untuk melanjutkan langkah....gampang kok bikin gue bersemangat lagi....cukup bilang, 'Udah jauh-jauh ke sini.....' atau, 'nanti nyesel loh.....kapan lagi bisa kesini......' atau yang paling mutakhir....'Di Jakarta mana ada yang beginian.....' Pastinya....

Perahu yang gue tumpangi


 




Telaga Bidadari
Di tengah hujan, gue memutuskan meninggalkan lokasi. Dalam perjalanan di atas perahu kembali ke dermaga, Nuel malah menyarankan berhenti di sebuah dermaga kecil, Telaga Bidadari. Dengan langkah terseok-seok karena seluruh badan dan baju gue sudah basah, gue pun mampir ke dermaga ini. Sepi, dan bikin gue ngeri karena tempatnya tampak tak terjamah, ditambah karena hujan yang mengguyur. Gue pasrah mengikuti langkah Nuel. Hebatnya, meskipun tanpa petunjuk jalan apapun dan tanpa seorang pun di sini yang bisa ditanyain, dia berhasil menemukan lokasi Telaga Bidadari yang tersembunyi dan sunyi. 

Singkatnya, gue menyempatkan diri berenang dan main air di Telaga Bidadari ini. Saat itu gue akhirnya terbujuk untuk nyebur karena ada serombongan pengunjung lainnya terdiri dari 5 orang, dan dalam sekejap setiap orang saling berinteraksi, dan tibalah pada situasi dimana semua orang harus rela berenang, meski dengan pakaian lengkap...atau jika tidak, akan terus dipaksa dan dicela habis-habisan...Seru dan menyenangkan !

Dengan pakaian dan sepatu basah kuyup, gue dan Nuel pun meninggalkan lokasi. Saat itu sudah jam 17:00 sore lewat. Gue harus meninggalkan lokasi sebelum langit gelap benar. Karena kawasan ini benar-benar sepi tanpa pengunjung lainnya.

Akhirnya wisata ala pra sejarah ke dua pegunungan kars yang sangat fenomenal, dengan keindahan yang spektakuler pun berakhir. Gue meninggalkan Maros, kembali ke Makassar. Dalam perjalanan gue sempat mampir untuk makan malam, masih dengan kondisi sekujur badan basah kuyup, sampai dipelototin oleh pemilik restorannya. 

Sebenarnya gue dilanda rasa bingung yang mendalam.....mestinya malam ini gue menginap di sebuah hotel di tengah kota Makassar. Tapi gue sadar kalau saat itu gue berada jauhhhhh banget dari pusat kota Makassar. Gue ragu untuk meminta Nuel mengantar gue ke hotel tersebut. Selain jauh, sudah malam, hujan pula ! Sebelum gue membahas rencana gue malam itu, Nuel justru kembali menawarkan agar gue tinggal di rumahnya malam itu. Karena gue ngga punya pilihan lain....(tunggu deh...bukannya banyak hotel di sepanjang jalan dekat bandara, Cher ?)....akhirnya gue menerima tawaran tersebut. Jadi malam itu, gue kembali ke rumah Nuel, menjemur semua pakaian dan sepatu, mandi, lalu tidur di kamar yang sama yang gue tempati tadi pagi. 

Di atas kasur, pikiran gue menerawang. Awalnya kilas balik perjalanan gue ke Leang Leang dan Rammang Rammang tadi....lalu beralih pada bagaimana akhir dari hari gue kali ini. Aneh juga rasanya gue bisa terdampar di rumah seseorang yang baru gue temui dan kenal tadi pagi. Ngga ada orang lain di rumah itu selain gue dan Nuel. Dalam sejarah gue berpetualang ala backpacker, sendirian, hari ini rasanya gue merangkak naik ke level tertentu. Apakah ini namanya nekat ? atau ceroboh ? Ngga juga sih....ada 'senjata' yang biasa gue andalkan saat traveling, terlebih sendirian kayak gini, namanya insting. Insting ini yang menenangkan gue karena insting memberikan gue signal bahwa segalanya akan baik-baik saja, dan justru gue seharusnya bersyukur karena ada Nuel yang menawarkan 'kemudahan' untuk gue sehingga ngga perlu repot-repot mencari hotel atau penginapan malam ini. Jadi ini bukan kenekatan semata, tapi hari ini justru Yesus mengingatkan gue kembali betapa gue ngga pernah sendirian...Yesus akan menuntun perjalanan gue, salah satunya melalui orang - orang baik di sekitar gue.

Malam itu, di antara kelelahan maksimal, serta serbuan nyamuk dan rasa gerah, gue pun akhirnya terlelap dengan tenangnya.

No comments :