I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, October 11, 2011

07 October 2011 : Selamat Pagi, Singapura !

Belum genap 3 bulan yang lalu gue ninggalin zona nyaman, Singapura, dan sekarang gue kembali lagi. Kembali buat liburan singkat, dengan harapan bisa menyegarkan pikiran dan fisik gue yang penat dan cape sama rutinitas hidup di Jakarta.

Pagi ini gue terlambat bangun. Entah kenapa...semalam kayaknya gue udah masang alarm di handphone, dan pagi ini alarmnya ngga bunyi. Gue terbangun jam 4.30 pagi. Mungkin karena kecapean. Malam sebelumnya, banyak kerjaan kantor yang harus gue selesaikan, itu pun dengan terburu - buru karena gue udah ditunggu keluarga yang jemput ke kantor, untuk makan malam ulang taunnya Ibet. Pulang dari acara makan - makan di daerah BSD, gue baru sempat packing. Karena udah terlalu mengantuk, gue packing seadanya, dan berharap ngga ada barang penting yang ketinggalan.


Berhubung telat, gue ketinggalan bus Damri pagi. Jadilah gue naik taksi dari Pancoran sampai Soeta Airport. Di airport, berhubung belum siapin uang tunai, gue harus ke ATM dulu, lapor ke petugas check in AirAsia, trus ke Imigrasi. Jalur Imigrasinya panjang dan padat. Gue nunggu dengan agak khawatir. Setelah itu gue melesat ke ruang boarding, dan ngga lama kemudian, jam 7.20 pagi pesawat berangkat.


Tiba di Changi airport, Singapura, gue langsung nyari fasilitas internet. Gue harus ngirim email, pesan atau kalo bisa chatting dengan team gue di kantor. Saking terburu - burunya semalem, gue lupa ninggalin pesan - pesan buat mereka semalem. Selesai urusan kordinasi kerjaan, gue melangkah dengan ringan. Mula - mula, gue naik skytrain (gratis) menuju Terminal 2 Changi Airport. Tiba di Terminal 2 gue lanjut naek MRT dari Changi Station ke Tanah Merah Station. Gue turun di sini karena gue bermaksud mengunjungi Changi Chapel and Museum. Dari station gue naik bus SBS Transit No. 2 tujuan Upper Changi Road North. Sesuai petunjuk yang gue dapatkan, seharusnya gue berhenti tepat di Changi Museum Bus Stop. Tapi karena gue dan kapten busnya sama - sama ragu, kapten menurunkan gue di Women's Prison. Dari situ, gue harus jalan kaki dengan jarak lumayan menuju museum.

Tiba di museum, bangunan pertama yang gue lihat adalah Changi Chapel. Suasanya tenang dan sepi. Gue sempat duduk - duduk di sini...untuk istirahat sekaligus menikmati bangunan chapel yang sederhana, dipenuhi pohon rindang, dan bersih. Abis itu gue masuk ke dalam museum, yang isinya banyak menggambarkan suasana masa pendudukan Jepang di Singapura.

Abis dari Changi Chapel and Museum, gue pun menuju hostel. Dari Changi, perjalanan yang harus gue tempuh lumayan panjang dan memakan waktu. Mula - mula gue naik bus SBS Transit No. 2 menuju Tanah Merah MRT Station. Tiba di Tanah Merah gue liat peta MRT untuk cari alternatif menuju Boon Keng MRT Station. Ada beberapa pilihan sebenarnya, tapi akhirnya gue milih untuk naek MRT sampai intersection Outram Park. Abis itu disambung naek MRT arah North East Line (NE) menuju Boon Keng Station. Gue ambil rute ini, karena gue cuma perlu berhenti di satu intesection. Gue terlalu cape dan pegal untuk turun - naek MRT dan transit di beberapa intersection.

Tiba di pintu keluar Boon Keng, dari kejauhan gue langsung bisa melihat bangunan The Hive Backpacker Hostel yang warnanya khas, hitam dan kuning. Kaki gue yang super lelah pun berjalan cepat menuju target. Jalan cepat yang selalu dikritik Mama tiap pagi saat ngantarin gue ke gerbang rumah, siap berangkat ke kantor. Mama bilang, sebentar lagi dia udah ngga akan punya tenaga untuk menyusul langkah gue yang kelewat panjang dan cepat.

Di The Hive gue disambut Ricky dan temannya. Proses check in cepat, gue membayar SGD 22 untuk female dorm room dan menerima kunci. Asyik, ngga perlu ada deposit untuk kunci dan lain - lainnya segala. Ricky, dengan membawa kunci gue, malah mengajak ke luar hostel. Gue bingung. Di luar dia menjelaskan kalo gue tidak akan tinggal di bangunan utama itu, karena sedang full. Gue akan dapat ranjang di bangunan lain yang letaknya di Lavender Street. Gue bingung, tapi cuma bisa nurut dan ngikutin Ricky yang akan mengantar gue ke sana.

Di hostel itu suasana sepi dan gelap. Gelap karena jam segini waktunya hemat listrik dengan mematikan lampu dan AC. Ricky mengantar ke kamar gue, yang berbentuk memanjang. Kamarnya berisi 2 bunk bed, dan 1 king size bed. Gue satu - satunya orang di kamar ini...tepatnya di hostel ini. Belum ada tamu lainnya. Ricky menghibur gue dengan bilang kalo biasanya nanti malam akan ada tamu - tamu baru yang akan tinggal di hostel ini juga. Sebenarnya gue ngga kecewa atau sedih....cuma takjub. Baru kali ini gue tinggal di bangunan hostel, dimana ngga ada orang lain di situ, termasuk reception desk.

Begitu Ricky meninggalkan hostel, gue memilih untuk beristirahat dan mandi. Asyik benar rasanya sendirian begini....serasa di rumah sendiri. Ngga ada suara bising atau hingar - bingar...ngga ada antri...tenang...sepi...Benar - benar nikmat liburan gue kali ini.

Sekitar jam 4, gue bersiap - siap untuk berangkat menuju Kranji. Ada apa di sana ? Gue mau nonton pacuan kuda di Singapore Turf Club. Tapi hujan menahan langkah gue, padahal jadwal pacuan pertama jam 6.20 sore. Untungnya gue ngga perlu menunggu terlalu lama. Saat ujan tinggal rintik - rintik, gue langsung kabur menuju Boon Keng Station, untuk naik MRT menuju Dhobi Ghaut Intersection. Dari situ gue sambung naek MRT North South (NS) Line dan turun di Kranji. Perjalanan cukup lama, karena gue harus melewati sekitar 15 station, dari Dhobi Ghaut ke Kranji.

Tiba di Kranji, gue disambut hujan luar biasa lebat. Beruntunglah gue, karena bangunan Singapore Turf Club hampir menyatu dengan station, jadi gue ngga perlu melewati hujan.

Tiba di loket tiket, gue langsung bertanya ke petugasnya, apakah gue boleh beli tiket untuk Gold Card Room. Dari informasi yang gue baca di webnya Singapore Turf Club, untuk kelas ini, pengunjung diharuskan berpakaian formal dan tanpa jeans belel. Sebenarnya, karena emang udah niat dari Jakarta untuk nonton pacuan kuda, gue bawa 1 baju gaun simple. Tapi tadi di hostel gue mendadak males pake baju feminin, dan milih pake celana panjang jeans. Menurut petugas loket, baju gue cukup layak untuk masuk ke Gold Card Room, dan gue pun membeli tiketnya seharga SGD 15.

Dengan tiket di tangan, gue melangkah menuju pintu masuk dengan hati girang. Nonton pacuan kuda di sini emang udah jadi salah satu target gue sejak di Jakarta. Maklum, sejak berlatih kuda, gue menyimpan rasa penasaran untuk bisa nonton pacuan kuda secara langsung. Kalo ditarik mundur, awal gue penasaran berlatih kuda bermula sejak gue nonton film The Secretariat. Film berdasar kisah nyata tentang kuda pacu bernama Secretariat. Gue pengen merasakan langsung euforia pacuan kuda di sini. Walaupun ngga ada kuda atau jockey yang gue kenal.

Begitu masuk ke dalam, ruang yang gue masukin adalah
Public Grandstand Level 1. Ramai banget ternyata, sama pengunjung yang 99.99% laki - laki semua. Mereka datang untuk bertaruh. Riuh dan ramai suasana di sini. Gue pun naek eskalator menuju level 2. Gue harus melewati Public Grandstand lainnya, tapi dilengkapi AC, sebelum tiba di Gold Card Room.

Gold Card Room ngga terlalu penuh...tapi isinya masih sama, pengunjung yang hampir semuanya laki - laki yang sibuk mengatur taruhan masing - masing. Pacuan pertama ditunda selama 30 menit karena hujan. Gue mengisi waktu dengan makan malam. Di sini ada mini restoran yang menyediakan makanan variatif seharga SGD 4. Dengan harga segini, pengunjung boleh menikmati nasi dengan 3 menu berbeda, sesuai pilihan masing - masing.

Pacuan pun satu per satu dimulai. Sepanjang acara, gue takjub dengan mata terbelalak. Gue selalu kagum dengan nyali dan stamina jockey dalam mengendalikan kuda masing - masing, dengan kecepatan lari yang luar biasa cepat....dan posisi badan menungging pula !

Gue sempat turun lagi ke Public Grandstand Level 1. Kayaknya lebih nikmat nonton dari sini, karena tanpa batas kaca segala. Lagian gue mau liat kudanya secara langsung saat didisplay, sebelum pacuan dimulai. Tapi gue terlalu lama di sini. Selain karena padat dan gerah, karena ngga dilengkapi dengan AC, jumlah perempuan di sini kayaknya bisa dihitung pake jari. Itu pun bukan penonton, kayak gue, melainkan penjual makanan di area taruhan. Gue kembali ke Gold Card Room. Sayangnya gue ngga bisa tinggal di Singapore Turf Club sampai pacuan terakhir.

Jam 9 malam gue meninggalkan Gold Card Room. Gue harus pulang sekarang karena khawatir kehabisan MRT untuk pulang ke hostel. Gue pun naek MRT untuk kembali ke Boon Keng Station.

Gue tiba di hostel sekitar jam 10 malam lewat. Hostel masih tak berpenghuni, tapi lampu dan AC di ruang tamu udah dinyalain, walaupun tetap remang - remang.
Kelar mandi gue langsung berinternetan ria sambil menikmati secangkir teh hangat. Abis itu gue ke ruang nonton, dan saat itulah Ricky datang bersama seorang tamu perempuan. Horeee! Akhirnya malam ini gue ngga akan tidur sendirian di hostel itu. Choi nama tamu yang baru yang asal Korea Selatan itu. Dia tidur di kamar yang sama dengan gue, ranjang kami bersebelahan. Di kamar gue sempat ngobrol sama Choi, walaupun dengan kesulitan tingkat tinggi. Choi ngga gitu ngerti bahasa Inggris. Tapi ngga apa - apa, gue tetap senang karena akhirnya ada teman sekamar malam ini.

Selesai ngobrol sama Choi gue pun merebahkan badan gue di ranjang. Pikiran gue asyik menerawang mengingat pacuan kuda yang gue tonton hari ini. Andaikan gue bisa jadi jockey...tapi hampir mustahil kayaknya, dimulai dari masalah fisik. Gue terlalu gendut dan tinggi untuk jadi jockey kayaknya. Kata pelatih kuda gue, berat badan seorang jockey ngga boleh lebih dari 50 kg. Kapan berat badan gue pernah 50 kg ? Mungkin waktu gue SD ? atau SMP ? Belum lagi masalah nyali dan kemampuan berkuda yang dituntut dari seorang jockey. Gue ingat, setiap gue menunggang Samudra yang sedang berlari, dalam hati gue akan menjerit..."Mamaaaaaaaa!!!"

No comments :