I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, June 13, 2018

Tiga Malam Di Semarang (Hari Ketiga)


28 Mei 2018

Rencana gue pagi ini ke Lawang Sewu. Awalnya ngga pengen - pengen amat ke sini, karena sudah pernah sebelumnya. Gue suka dengan bangunan - bangunan tua yang keren peninggalan Belanda kayak Lawang Sewu, tapi rasanya sekali juga cukup. Niatnya cuma mau jalan kaki santai dari IB ke arah Balai Kota, sampai Paragon Mall. Menurut gue, kota Semarang cukup memanjakan pejalan kakinya kok....trotoarnya lebaaaarrr dan nyaman.

Tapi begitu melewati Lawang Sewu, gue jadi terpesona, dan memutuskan mampir. Gue pun ke loket pembelian tiketnya. Harga tiketnya Rp. 10,000, dan tiba - tiba seorang tour guide mendekat dan menawarkan jasanya. Gue spontan bertanya tarif guidenya, Rp. 50,000. Woww.....mahal juga! Dan dengan percaya diri gue memutuskan untuk berkeliling Lawang Sewu tanpa bantuan guide.

Gue pun memasuki area tengah Lawang Sewu, menuju bangunan B. Sepi, ngga ada pengunjung lainnya. Rasanya Lawang Sewu sekarang lebih bersih dan tertata. Ketika gue ke sini 4 tahun yang lalu, ada beberapa bagian yang atapnya sudah mulai rusak. Gue memasuki ruangan demi ruangan, dan perlahan tapi pasti mulai merasa takut berada di sana. Untuk mengusir rasa takut, gue memutuskan untuk mulai memasuki ruangan dari yang paling ujung. Kebetulan gue bertemu seorang staff yang sedang membersihkan ruangan. Agak lega. Tapi gue ngga mungkin ngikutin kemana pun dia pergi khan....Trus gue ke lantai dua dari bangunan yang sama. Kok makin terasa lebih seram ya....

Akhirnya gue turun dan melangkah ke Pos security yang stand by dekat toilet. Gue minta tolong untuk dipanggilin seorang tour guide. Gue udah terlanjur kepengen berkeliling Lawang Sewu, dan rasanya mustahil di pagi yang sepi itu bisa berkeliling sendirian, karena kemana pun kaki melangkah, gue ketakutan. Tour guide yang menemani gue adalah Pak Nur Abidin.

Pak Nur mengantarkan gue berkeliling dimulai dari bangunan A. Di sana gue diajak untuk melihat kaca patri Lawang Sewu yang iconic. Di bangunan A ngga banyak area yang dibuka untuk umum, misalnya lantai dua yang menurut Pak Nur disewakan untuk event pameran dan semacamnya.

Gue pun beralih ke gedung B. Dan Pak Nur dengan semangatnya mengenalkan ke gue sejarah dan benda - benda serta foto yang dipamerkan di bangunan ini. Yang menyenangkan, Pak Nur akan gegap gempita menawarkan jasa memotret, tanpa diminta.

Toilet

Tak terasa, 'tour' Lawang Sewu pun berakhir. Gue mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ke Pak Nur yang sudah menjadi guide dan menemani gue berkeliling Lawang Sewu tanpa rasa ngeri. Sebelum berpisah Pak Nur sempat berpesan kalau gue bisa saja berkeliling sendiri, asalnya jangan bengong....supaya tidak terjadi sesuatu. Maksudnya, semacam kesurupan gitu ? Seram kali bahh !

Gue sempat kembali ke area tengah, tepatnya duduk sejenak di dekat pohon besar. Gue lagi mempertimbangkan untuk melanjutkan langkah gue ke Ereveld Kalibanteng. Ketika merencanakan trip ke Semarang kali ini, gue langsung bertekad untuk mengunjungi ereveld - ereveld yang ada di Semarang. 

Untuk  penggemar ereveld atau pemakaman Belanda kayak gue, Semarang tuh istimewa banget karena di sini ada dua ereveld : Kalibanteng dan Candi. Di Indonesia hanya ada 7 ereveld yang tersebar di beberapa kota. Gue sudah pernah berkunjung ke ereveld Menteng Pulo, Ancol, dan Leuwigajah. Sayangnya waktu di Jakarta gue belum sempat menghubungi Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorloch Gravenstichting) untuk minta ijin berkunjung. Jadi siang itu gue spontan telepon ke kantor Yayasan. Seperti biasa, telepon gue diangkat oleh staf yayasan yang ramah, dan mempersilahkan gue untuk berkunjung ke ereveld Kalibanteng dan bertemu dengan Pak Eko, kepala ereveld-nya.

Gue ke ereveld naik Gojek. Tiba di sana gue disambut dengan ramah oleh Pak Eko. Pak Eko pun mengajak berkeliling dan berbagi cerita mengenai ereveld ini. Ereveld Kalibanteng dibangun tahun 1949. Di sini terdapat sekitar 3000 makam dan kebanyakan adalah makam perempuan dan anak - anak. Sebagian besar yang dimakamkan di sini berasal dari tempat pengasingan tawanan milik Jepang yang ada di Jawa Tengah seperti Ambarawa, Banyu Biru, Lampersari dan Karangpanas.

Uniknya, bentuk lahannya tuh segitiga, yang dipinggiran dari kedua sisinya terdapat jajaran pohon cemara yang tinggi menjulang. Sementara sisi yang menghadap ke jalan raya, terdapat sekitar 5 atau 6 pohon beringin besar. Di sekeliling area pemakaman terdapat semacam sungai kecil yang gak terlalu lebar, sangat bersih, dengan arus tenang. Menambah kesan teduh ereveld ini.

Siang itu rasanya matahari tepat di ubun-ubun gue. Panasnya bukan main! Sebelum berkeliling Pak Eko menawarkan untuk menggunakan payung segala, tentu saja gue tolak dengan halus. Masa preman panjang kaki kayak gue takut kepanasan dan kulit gosong ?!

Gue selalu menikmati berada di area ereveld. Entah kenapa ya....mungkin rasanya semua yang ada di dalamnya bikin gue takjub tak berkesudahan. Gue takjub bagaimana jasad para korban perang ini diperlakukan dengan sangat baik dengan menyediakan tempat peristirahatan yang indah seperti ini. Gue takjub dengan konsep dimana semua makam dibuat sederhana dan sama tanpa ornamen berlebihan, dan dibeda-bedakan menurut kelas sosial, pangkat dan lain sebagainya. Gue takjub gimana orang - orang yang diberikan tanggung jawab untuk merawat area ereveld begitu berdedikasi untuk merawat setiap sudut ereveld dan semua yang terdapat di dalamnya sehingga kebersihan dan keindahannya terjaga.


Selain berkeliling area makam, Pak Eko juga mengajak bertemu dengan staf - staf ereveld lainnya, terutama yang bertanggung jawab untuk pembuatan dan penulisan nisan.

Thanks to Pak Eko !
Setelah selesai berkeliling ereveld, gue pun kembali ke pendopo. Gue diserbu rasa haus yang dahsyat nih...dan payahnya, gue ngga membawa stok air minum secuil pun. Untungnya Pak Eko menyediakan air mineral kemasan, dan langsung gue tenggak 2 gelas sekaligus! Gue lapar juga sebenarnya, karena belum sempat sarapan dan ini sudah jam makan siang. Tapi gue belum mau meninggalkan lokasi. Gue masih mau mengulang berkeliling ereveld. Di saat yang sama gue juga ngga mau mengganggu pekerjaan Pak Eko. Jadi, gue permisi ke beliau untuk berkeliling ereveld sekali lagi, sendirian. Kembali beliau menawarkan payung, tapi kembali gue tolak lagi. Buat apa juga...karena saat itu gue udah berkeringat deras dengan rambut kusut dan kulit gosong sejadi-jadinya.

Gue pun berkeliling menikmati kesendirian di tengah - tengah 3000 makam. Rasanya menenangkan banget....Trus gue sempat duduk - duduk di bangku taman yang terdapat di bawah sebuah pohon beringin. Alamakkk....nyaman sekali ! Tapi sialll...kesenangan gue diganggu oleh perut yang udah kelaparan kronis. Akhirnya gue pun menyerah. Gue menemui Pak Eko untuk berpamitan dan berterima kasih atas keramahannya yang luar biasa, dan meninggalkan ereveld.

Dibuat oleh pematung Marian Gobius tahun 1988, untuk menggambarkan
perasaan senasib antara sesama wanita dan anak - anaknya dalam masa
yang penuh kesulitan
Monumen Jongenskampen dibuat oleh pematung Anton Beysens tahun 1988.
Didirikan untuk mengenang anak - anak muda
yang wafat pada masa penindasan Jepang di Hindia Belanda.
Tulisan 'Zu waren nog zo jong' : 'saat itu mereka masih sangat muda'


Tombe yang diperuntukkan bagi
'perempuan yang tak dikenal'
Monumen simbol penghormatan bagi para korban yang
jasadnya tidak dikuburkan di ereveld


Gue menggunakan Gojek lagi dan sebenarnya tujuan awalnya ke IB Hostel. Tapi begitu gue bilang ke supirnya bahwa gue sebenarnya pengen nyari makan siang dan kelaparan tingkat tinggi, Pak Sopir berinisiatif untuk mengantarkan ke resto McDonald. Tiba di sana gue pun membeli paket Big Mac melalui driver thru. Perjalanan pun dilanjutkan, Pak Sopir Gojek mengantarkan gue ke IB.

Tiba di IB gue langsung melahap habis paket Big Macnya, kemudian mandi, dan tiduran di kasur. Hampir jam 4 sore, gue berniat meninggalkan IB, tapi tujuannya belum ditentukan, antara ke Pagoda Watugong atau Ereveld Candi. Karena masih galau, gue memilih berjalan kaki menuju Paragon Mall. Gue pikir, nanti tiba di sana gue sudah harus memutuskan mau kemana. Kalau mau ke Pagoda Watugong gue bisa naik Trans Semarang di halte yang letaknya gak jauh dari pintu Paragon Mall, kalau mau ke Ereveld Candi, karena gue belum tahu alamatnya dimana, gue bisa menggunakan Gojek. Gue sempat bertanya ke petugas Trans Semarang untuk mengkonfirmasi bahwa gue bisa menggunakan Trans Semarang menuju Pagoda Watugong. Namun begitu busnya nongol, gue ogah naik. Sebenarnya siang itu meskipun udah mandi dan tiduran sejenak, gue sedikit risih dengan rasa panas yang gue rasakan. Iyalahhh....salah sendiri, ngapain juga jalan kaki dari hostel ke sini berpanas - panasan!

Dahsyatnya, rasa panas memberikan gue insipirasi. Mendadak gue memikirkan ide lain, yaitu pengen ke....'Nakamura The Healing Touch' !! Kemarin pas on the way ke Masjid Agung, gue lupa entah dimana gue sempat lihat informasi mengenai tempat ini. Nakamura tuh menyediakan pelayanan pemijatan dengan teknik Jepang. Gue paling suka tempat semacam ini. Gue pun segera memesan Gojek untuk mengantarkan gue ke Nakamura yang ada di Jalan Sultan Agung. Lupakan sejenak mengenai Pagoda Watugong maupun Ereveld Candi....pokoknya saat ini gue harus wajib kudu banget dipijat.

Setelah perjalanan cukup jauh dan sempat kesasar, gue tiba di Nakamura yang terletak di sebuah komplek ruko gitu. Gue memesan 'Terapi seluruh tubuh 120 menit'. Gue memang dalam antrian, namun ngga perlu menunggu terlalu lama kok. Uniknya, selain ditentukan oleh jenis treatment, perbedaan harga juga ditentukan oleh type ruangan yang digunakan. Semakin banyak jumlah tamu di ruangan, apalagi jika dicampur antara tamu perempuan dan pria, harganya lebih murah. Gue pilih yang reguler seperti itu pastinya, jadi hanya perlu membayar Rp. 135,000. Murah banget ! Dan begitu merasakan treatmentnya, gue ngga kecewa sama sekali, alias p-u-a-s banget ! Tapi gue menyimpan sedikit rasa sedih. Sebenarnya pergi ke tempat 'sehat dan bugar' begini adalah agenda utama acara hangout rutin gue dan Mama beberapa bulan belakangan. Entah itu jatuh pas weekend atau di hari kerja dan gue cuti, gue dan Mama akan ke Aoki yang ada di apartemen Margonda Residence di Depok.

Mama menikmati banget pelayanan di sini, apalagi suasana ruangannya dibuat gelap, tenang, dan relax. Bisa dibilang, gue hampir rutin ke tempat ini setiap bulan. Tapi begitu melihat ekspresi Mama yang jauh lebih senang lagi dibawa ke sana, rasanya tak ternilai. Mama bukan cuma senang karena treatment pijat refleksi di sini, tapi juga karena bisa hangout sejenak keluar dari rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga dan menghabiskan waktu seharian bersama anak perempuannya yang panjang kaki ini. Bulan ini, seharusnya libur kejepit kayak besok waktu yang pas untuk acara hangout rutin gue dan Mama. Tapi berhubung gue kabur ke Semarang, maka harus dicari lagi waktunya.

Gue meninggalkan Nakamura sekitar jam 7 malam. Gue memesan Gojek, entah Gojek keberapa di hari ini, untuk mengantarkan ke Paragon Mall. Ya ampunnnn....mall lagi ? Setiap malam ??? Yes...yes...yesss....Gue mau makan malam bubur di Ta Wan. Kelar makan malam, gue jalan kaki ke Jalan Pandanaran. Selain karena pengen menikmati jalur ramah pedestriannya kota Semarang, juga karena Anggira tadi kirim WA dan bilang kalo oleh - oleh yang gue kirimkan Sabtu lalu sudah sampai rumah Mama, dan dia suka dengan biskuit wijen dan menghabiskannya, dan minta gue untuk membawakan lagi. Lebih banyak ! Alamakjaaann!!

Dari jalan Pandanaran, gue pun naik Gojek untuk kembali ke IB Hostel.

Sunday, June 03, 2018

Tiga Malam Di Semarang (Hari Kedua)


27 Mei 2018.

Niat awalnya pengen berlama - lama di kasur, buat balas dendam tidur kurang nyaman di kereta kemarin. Tapi berhubung gue terlalu bersemangat karena pagi ini waktunya ibadah di Gereja GPIB Immanuel alias Gereja Blendug di kawasan Kota Lama, jadi tetep aja gue bangun ekstra pagi.

Gue menuju Gereja Blendug menggunakan Gojek. Gojek tuh emang andalan buat berwara - wiri selama di Semarang ini. Selain mudah, cepat, ongkosnya murah banget....kemana - mana standardnya Rp. 4,000.

Karena kepagian sampai di Kota Lama, gue masih harus nunggu beberapa saat di luar gereja. Sempat jalan kaki sekitar Kota Lama juga, tapi karena saat itu sedang ada proyek renovasi jalur pedestrian, gue kesulitan untuk menyusuri jalan - jalannya. Dan untuk mengisi waktu sampai dengan jadwal kebaktian yang mulai jam 09:00 pagi, gue naik becak untuk berkeliling Kota Lama. Kelar tour becak, gue pun memasuki bangunan gereja. Gerejanya tua dan antik namun tetap megah, dibangun sekitar tahun 1753. Begitu berada di dalamnya, gue kaget karena ternyata ngga seluas yang terkesan dari luar. Interior yang ada di dalamnya mengingatkan akan gereja - gereja tua yang pernah gue datangi di Jakarta. Kursi jemaatnya yang terbuat dari rotan dan kayu, seperti yang terdapat di Gereja Pniel, alias gereja Ayam, di kawasan Pasar Baru. Mimbar Pendetanya seperti di Gereja Sion, kawasan Kota. Orgelnya seperti di Gereja Immanuel, Gambir, dan juga Gereja Sion, Kota. Susunan tempat duduk dan bentuk gerejanya yang bundar, mengingatkan gue akan Gereja Immanuel, Gambir, tapi Gereja Blendug jadi kayak versi kecilnya. Unik dan keren banget.

Selesai kebaktian, gue melesat menuju Pusat Oleh - Oleh Bandeng Djuwana lagi. Pas belanja oleh - oleh semalem, gue penasaran begitu lihat ternyata ada restoran di lantai dua bangunannya. Semakin penasaran lagi pas tahu kalo restorannya menyajikan berbagai menu ikan bandeng. Jadi siang itu gue memesan 3 lauk sekaligus, semacam orang kalap dan kelaparan : bandeng suir, asam - asam bandeng, dan bandeng goreng. Semuanya tanpa duri. Tentu saja gue gak bisa ngabisin semua lauknya, karena gue juga memesan seporsi nasi. Akhirnya sebagian gue bungkus untuk dibawa pulang, mungkin akan jadi menu makan malam gue nanti.

Siang itu kota Semarang panasnya dahsyat. Jadi setelah perut kenyang, gue kembali ke IB, dengan tujuan paling tulus dan murni : tidur siang. Tiba di IB, gue mandi dan santai di kasur. Sekitar jam 14:00, gue bersiap - siap untuk ninggalin hostel lagi. Dengan spontan gue memesan Gojek untuk mengantar ke Kampung Pelangi. Lagi - lagi ongkosnya Rp. 4,000 saja.

Begitu tiba di sana, rasanya pengen senyum dan ketawa mulu. Unik banget nih 'kampung'. Colourful banget! Bisa - bisanya warga sekampung, yang terdiri dari sekitar 230an rumah kompak dalam hal selera, dan sepakat mengecat rumahnya jadi warna - warni begini. Gue ngga ngerti rasanya tinggal di rumah yang dicat warna - warni, di tengah lingkungan yang semuanya warna - warni juga. Entah itu akan mempengaruhi hati gue jadi warni - warni selalu, atau malah bikin mata gue bakal lelah demi melihat semarak warna - warni dimana - mana. Yang jelas, melihat kampung pelangi di hadapan gue, sore ini cukup bikin hati gue girang karena rasanya kocak banget ngeliat kampung seunik ini.


Puas lihat-lihat Kampung Pelangi, termasuk dari Taman Kasmaran, tujuan berikutnya adalah ke Masjid Agung Jawa Tengah. Tujuan gue ke sini, selain karena penasaran lihat bangunannya yang indah seperti yang gue lihat di instagram, juga karena pengen lihat aktivitas warga yang pasti bakal ramai di situ untuk menyambut jam berbuka puasa. Jarak tempuh dari Kampung Pelangi lumayan jauh, ongkos Gojeknya aja agak lain dari biasanya : Rp. 9,000. Mendekati masjid, gue jadi sedikit ragu. Gue lupa mempertimbangkan kemungkinan jika masjid ini punya aturan khusus untuk pengunjung. Misalnya, apakah harus menggunakan pakaian tertentu seperti kerudung dan sebagainya. Tapi gue pasrah aja....Dan thanks God, semua pengunjung diperbolehkan mengunjungi komplek masjid.


Gue berada di area serambi masjidnya selama beberapa saat, untuk menikmati sore yang sangat menyenangkan. Saat itu komplek masjid, terlebih serambinya, dipenuhi warga yang sedang melakukan berbagai aktivitas. Ada yang sekedar berfoto-foto atau mengunjungi masjid bersama sanak keluarga dan sahabat. Tepat jam berbuka puasa, gue meninggalkan lokasi.

Oya, seharian ini meskipun traveling sendirian, gue tetap bisa mengabadikan acara piknik gue. Tentunya gue dibantu oleh orang - orang ramah dan baik hati yang gue temui dimanapun. Pas di gereja gue minta tolong difotoin oleh sesama jemaat gereja. Di Kampung Pelangi, ada seorang karyawan toko bunga yang ngga keberatan gue 'gangguin' beberapa kali buat motret. Pas di Masjid Agung, gue minta tolong ke gerombolan pemuda yang sedang ngabuburit di sana. Dengan sendirian dan butuh bantuan orang lain, justru membuka jalan buat gue bisa berinteraksi dengan orang - orang sekitar. Asyik khann? 

Tujuan berikutnya ke Mall Ciputra. Jadi setiap malam harus ke mall gitu ? Iyalahhh... Gue ngga terlalu lama di sana, karena mallnya terlalu sempit, menurut gue. Dan ketika gue mau makan malam, semua restorannya masih full. Lalu sekonyong - konyong gue teringat masih punya stok ikan bandeng tanpa duri di kamar hostel.

Gue pun kembali ke IB, dimana gue sempat menikmati makan malam berupa sepotong bandeng minus nasi. Kelar 'makan malam' gue beristirahat di ranjang super nyaman gue.

Saturday, June 02, 2018

Tiga Malam Di Semarang (Hari Pertama)


25 Mei 2018.

Beberapa minggu sebelumnya gue udah beli tiket kereta ekonomi Jakarta (Pasar Senen) - Semarang (Poncol). Pas booking happy banget masih kebagian tiket, mengingat Selasanya (29 Mei) libur nasional. Jadi, gue cuma perlu cuti sehari, pas Seninnya.

Yang bikin gue tambah excited, trip kali ini gue akan sendirian. Tapi gue ngga khawatir, mengingat ini bukan trip gue yang pertama kali ke Semarang, melainkan ketiga kalinya. Kira - kira 4 tahun yang lalu gue menginjakkan kaki pertama kali di sini. Dan gue langsung jatuh cinta dengan kota ini. Gue suka dengan kotanya yang bersih dan tenang, terlebih, gue suka dengan penduduknya yang super ramah dan bersahabat. Kesan pertama yang menyenangkan banget itu, bikin gue pengen balik ke Semarang di lain waktu.

Trus, dua tahun lalu juga gue sempat mampir di Semarang, tapi ngga bermalam di sini, melainkan lanjut ke Lasem. Jadi kali ini, tujuan utama gue ke sini pengen refreshing dan menyegarkan pikiran, tanpa ngoyo pengen hunting tempat - tempat wisata di sini.

Jumat malam, kelar acara buka puasa bersama teman - teman kantor, gue langsung menuju Stasiun Senen. Kereta api yang akan gue tumpangi dijadwalkan berangkat jam 11:00 malam. Gue sampe mati gaya nunggu di stasiun. Akhirnya kereta berangkat tepat waktu, dan di dalam kereta gue melewatkan malam dengan tertidur.

Keretanya tiba di Stasiun Poncol, Semarang sekitar jam 6 pagi. Gue meninggalkan stasiun dan menunggu bus Putra Palagan tujuan Ambarawa di pinggir jalan. Ngapain ke Ambarawa ? Gue pengen ke Museum Kereta Api. Empat tahun yang lalu gue sempat ke sana, tapi ngga bisa masuk karena museum masih dalam tahap renovasi. Terusss.....harus sekarang banget ya ke Ambarawa ? Padahal masih ngantuk, cape dan belum mandi, khan ? Emang....tapi gue pikir - pikir belum tentu hostel yang gue booked nerima tamu check in dari jam 6 pagi begini. Ketika di Jakarta gue sempat telepon ke Imam Bonjol Hostel buat nanyain bisa super early check in atau ngga, tapi ngga diangkat. Jadi fix sudah rencana gue untuk langsung ke Ambarawa.

Untungnya gue gak harus menunggu lama, sang bus Putra Palagan pun nongol. Ongkosnya Rp. 10,000,- Gue sengaja duduk paling depan, sebelah Pak Sopir. Dari awal duduk, gue udah wanti - wanti ke Pak Sopir bahwa tujuan gue adalah ke Museum Stasiun Kereta Api Ambarawa, supaya Pak Sopir berhenti dan menurunkan gue di Tugu Palagan nanti. Gue berharap bisa tidur selama di bus, tapi karena terlalu bersemangat, yang ada mata gue melotot berbinar - binar menikmati perjalanan.

Akhirnya tiba di Tugu Palagan. Gue langsung naik ojek pangkalan, ongkosnya Rp. 7,000. Tiba di depan museum, gerbangnya masih ditutup dan baru akan dibuka tepat jam 9 pagi. Gue pun menunggu di depan gerbang *kasian banget....* dan ngga beberapa lama kemudian gerbang dibuka. Gue langsung semangat memasuki area museum, dan menuju loket pembelian tiket. Untuk masuk ke museum, tiket masuknya Rp. 10,000,- Tujuan utama gue sebenarnya naik kereta wisata ke Tuntang, dan begitu berada di dalam museum gue langsung bergegas ke loket penjualan tiket kereta wisata. Khusus selama bulan Ramadhan, jadwal kereta wisata hanya ada jam 11:00 dan jam 13:00 siang. Gue langsung beli tiket untuk kedua jadwal tersebut. Per tiketnya seharga Rp. 50,000,-. Gue pikir, penantian panjang selama 4 tahun untuk bisa ke sini, harus dibayar lunas dengan mengikuti semua jadwal keberangkatan kereta wisatanya dong...

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta wisata yang jam 11:00 siang, gue asyik berkeliling museum. Ketika perut lapar meronta - ronta, gue sempat keluar museum untuk makan siang di warung soto dekat situ. Selain itu, gue juga sempat merebahkan badan sejenak di dalam kereta pustaka, yang dijadikan semacam perpustakaan kecil. Nyaman banget, karena dilengkapi dengan beberapa bantal bean, dan gue bisa santai di situ. Oya, ransel berat yang membebani hidup gue sejak semalam, gue titipkan di kantor kepala stasiun/museum.

 


Menjelang jam 11:00, lokomotif diesel seri D30124 pun merapat. Gue girang bukan kepalang, demi melihat si kereta tua berwarna kuning yang membawa dua gerbong berwarna hijau itu, dan langsung loncat naik ke kereta dan mencari tempat duduk. Begitu berada di dalamnya....duhh...sensasinya...berasa banget ke'antik'an keretanya, dengan bangku-bangku dan interior kayunya. Perjalanan menuju stasiun Tuntang pun benar - benar memanjakan kedua mata gue. Sepanjang perjalanan, gue disuguhi pemandangan alam nan indah berupa Gunung Merbabu, danau Rawa Pening dan daerah Ungaran. Selain itu rel keretanya membelah area persawahan penduduk yang saat itu nampak hijau subur. Ya ampun....andaikan pemandangan sehari - hari gue berkereta menuju kantor begini....gue bakalan semangat bangun pagi dan berangkat ngantor deh !

Stasiun Tuntang
Stasiun Tuntang

Tiba di stasiun Tuntang, penumpang dipersilahkan turun dan berkeliling stasiun yang ngga terlalu luas itu, sambil menunggu lokomotif dipindahkan ke posisi depan. Setelah itu, penumpang diminta untuk naik ke atas kereta lagi, dan perjalanan kembali ke Museum Ambarawa pun dimulai. Tiba di Museum Ambarawa, gue menuju Kereta Pustaka lagi untuk istirahat dan merebahkan badan lagi, sambil menunggu keberangkatan kereta jam 13:00. Tepat jam 13:00, gue sudah kembali berada di dalam kereta untuk menikmati perjalanan menuju stasiun Tuntang, untuk kedua kalinya! Tapi excimentnya ngga kurang sedikitpun. Rasanya gue lupa rasa ngantuk, lelah dan lengket di badan yang belum terguyur air bersih lebih dari 24 jam ini. Pokoknya happy aja selama perjalanan Ambarawa - Tuntang bolak - balik ini. 

Ketika lokomotif kembali merapat ke Museum Ambarawa, hati gue sekonyong - konyong galau. Langkah kaki gue mendadak berat meninggalkan museum, dan harus menempuh perjalanan lumayan panjang menuju kota Semarang. Hampir seharian berada di area museum yang kuno dan keren ini, dan sekarang gue harus memikirkan cara kembali pulang ke Semarang, bersama ransel gue yang super berat.

Dari depan museum gue naik mobil prona tujuan Bawen. Gue turun di Tugu Palagan untuk menunggu bus Putra Palagan. Setelah penantian cukup lama akhirnya sebuah bus jurusan Semarang nongol, dan gue pun naik. Ternyata tujuan akhir bus ini adalah ke Terminal Terboyo. Gue tertidur pulas sepanjang perjalanan, sampai ketika sang kenek ngebangunin gue dari tidur yang lelap. Saking kagetnya gue langsung spontan mau berdiri dan mengangkat ransel lagi. Tenyata perjalanan baru mau masuk pintu tol. 

Tiba di Terminal Terboyo, gue lanjut naik Trans Semarang. Ketika membeli tiketnya, gue wanti - wanti ke penjual tiket bahwa gue akan turun di Halte Udinus. Si penjual tiket mengingatkan gue untuk transit di halte Balai Kota nanti, dan menyambung Trans Semarang yang lewat Halte Udinus. Duh...rasa lelahnya langsung terbayang....harus turun naik bus lagi. 

Akhirnya gue tiba di Halte Udinus, berjalan kaki lurus sekitar 300 meter dan tiba di Imam Bonjol (IB) Hostel. Kelar urusan check in dan pembayaran, gue pun masuk ke dalam kamar super nyaman dan bersih, khas IB. Gue memilih untuk mandi terlebih dahulu, lalu istirahat di kasur. Gue ngga berlama - lama istirahat, kali ini gue pengen ke Paragon City Mall. Gue pengen cari makan malam. Kenapa ngga wisata kuliner khas Semarang ? Seperti tekad gue di awal, gue pengen nyantai dan ngga ngoyo berasa kayak turis selama di Semarang. Lagian wisata kuliner yang biasanya berupa warung - warung atau tempat makan pinggir jalan gitu, pada full semua pas jam berbuka puasa. Kalo nunggu sepi, gue bisa pingsan kelaparan. Gue kan alergi lapar.

Kelar makan malam, gue naik gojek ke Jalan Pandanaran, buat mampir di pusat oleh - oleh Bandeng Djuwana Elrina. Malam itu gue beli oleh - oleh baik untuk Ony, keluarga dan teman kantor, yang akan langsung dikirimkan via JNE oleh pihak Bandeng Djuwana. Sebenarnya gue orang yang paling anti ribet urusan oleh - oleh, tapi gimana ya....Semarang tuh oleh - oleh khasnya banyak dan enak-enak banget, jadi sayang untuk dilewatkan. Tapi berhubung gue berjanji untuk ngga akan merepotkan diri sendiri dengan urusan oleh - oleh ini, jadi gue selesaikan semua urusan beli - beli dan pengiriman paketnya ke Jakarta, malam ini.

Selesai belanja oleh - oleh, karena kaki sudah pegal maksimal, gue pun memutuskan untuk kembali ke IB. Selesai mandi, gue langsung merayap ke kasur empuk, dan tertidur dengan pulasnya.

Sunday, May 13, 2018

Trip Gunung Batu : Awalnya Ragu Berakhir Seru

 

Sabtu, 12 Mei 2018.

Gue ama Ony emang udah merencanakan beberapa hari sebelumnya, weekend kali ini pengen ke Jonggol. Pokoknya keluar dari Jakarta, selain ke Bogor karena ngebayangin keluar masuk stasiun Bogor yang rutenya dibikin jauh dan muter-muter, udah males duluan. Minggu lalu, berhubung pengen nonton Infinity War dan kebagian tiket nonton di sore hari, gue berdua bisa dibilang menghabiskan waktu nyaris seharian di mall. Jadi weekend ini waktunya untuk sedikit berpetualang.

Gue tuh punya list panjang tempat - tempat piknik yang pengen gue datangin di Jonggol. Masalahnya, Jonggol tuh jauh banget...musti lewatin Cibubur, Cikeas, Mekarsari....Macet, gersang dan berdebu, dan harus rebutan jalan dengan bis - bis juga truk - truk besar. Udah gitu, belakangan kayaknya fisik gue terlalu dimanjakan karena makin jarang piknik - piknik outdoor. Jadilah gue semakin malas...dan malas...dan malas....untuk piknik yang menguras tenaga, berkeringat, panas-panasan...Parah nih!

Gue dan Ony berangkat ke Jonggol tanpa tahu tujuannya mau kemana. Yang penting keluar dari rumah pagi - pagi biar ngga kebablasan bermalas - malas di kasur atau depan TV sampai siang. Setelah beberapa lama bermotor di Jalan Raya Jonggol, trus liat plang jalan "Puncak Gunung Batu 2..." arah ke kanan, langsung kita putar balik. Gunung Batu....dari jaman pacaran, pertama kali menginjakkan roda motor ke daerah bernama 'Jonggol' karena pengen trekking ke Gunung Batu ini. Tapi waktu itu salah perencanaan, karena baru berangkat dari rumah siang bolong. Jadi begitu di Jonggol, sekitar jam 4 sorean, nyari - nyari lokasinya dan gak ketemu, tiap kali nanya orang jawabannya, 'masih jauhhhh....!" Akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Saat itu lagi marak pemberitaan mengenai kejahatan begal, dan kita berdua ngga mau ambil resiko, dengan melakukan perjalanan di kawasan ini saat sore sampai malam hari.

Dari jalan raya Jonggol ke pintu masuk Gunung Batu, jarak dan waktu tempuhnya cukup jauh dan lama. Mungkin sekitar 30 - 45 menit perjalanan. Rasanya kayak perjalanan menuju Gunung Salak gitu, karena kiri - kanan jalan terhampar sawah - sawah nan hijau, trus udaranya mulai sejuk. Bedanya, jalannya cenderung berkelok - kelok dan lebih sepi pemukiman penduduk. Trus liat kiri - kanan ngga ada tiang lampu. Fix...! Kalo begini pas malam pasti gelap gulita.

Tiba di area pintu masuk dan area parkir Gunung Batu, cuma ada seorang bapak yang dan beberapa motor plat B yang ada di sana. Ternyata kalau mau trekking ke puncak Gunung Batu gak ada guide atau ranger yang akan mendampingi. Jadi teringat waktu ke Bukit Galau yang ada di Ciampea, ada Usep, ranger berdedikasi tinggi, yang awalnya cuma mau nemenin sampai Pos 1, akhirnya nemenin sampai ke Puncak. 

Gue dan Ony pun mulai melangkah....entah kemana. Si bapak tadi cuma bilang, lurus, nanti ada pertigaan, ke kanan. Gue dan Ony menyusuri jalan berbatu, dan setelah beberapa saat menemui pertigaan yang kali ini dipenuhi dengan pepohonan jati (kali, nebak doang). Kebetulan ada sebuah batu gede pas di pertigaan, yang dicat dengan tulisan "200 meter" trus ada tanda panah ke kanan. Setelah mengambil arah kanan, petunjuk berikutnya adalah batu - batu yang dicat merah dengan tanda panah 'lurus', setiap 2 meter. Petunjuk alakadar ini mengantarkan gue dan Ony ke pintu masuk Gunung Batu. Di situ kita harus membayar Rp. 15,000 per orang. 


Perjalanan menjelajah Gunung Batu pun dimulai. Setelah trekking beberapa saat, gue dan Ony tiba di area camping, sebuah area dengan tanah datar, berumput dan terlindungi oleh pepohonan lebat. Gue berhenti di situ untuk istirahat. Gila....baru trekking menuju area ini aja gue udah kelelahan ! Entah kemana hilangnya stamina dan semangat yang selama ini menyertai kaki panjang gue melangkah ke sana kemari. 

Di situ ada beberapa pengunjung yang sedang berkemah dan asyik menikmati waktu sekitar tenda masing - masing. Ada juga group remaja atau muda - mudi yang menggelar terpal dan menikmati keindahan Jonggol dan ketinggian. Kelar kedua mata gue menyapu pemandangan di sekitar, mata gue tertuju pada puncak Gunung Batu. Di sanalah gue lihat beberapa orang tampak sangat kecil sedang berusaha mencapai puncak gunung menggunakan tambang. Woww...segitunya banget ?? Gue ngga bakal sanggup !! Gue berteriak kencang - kencang....tapi cuma dalam hati doang. Masih gengsi.

Jalur menuju puncaknya terjal banget ! Udah gitu, gak kebayang panasnya di atas sana. Gue bukannya khawatir masalah kulit jadi gosong, tapi panas ya panas. Kepanasan bisa menyedot setengah dari stok energi dan mood gue kayaknya. Pokoknya gue ngga mau ke sana! Gue mo tiduran aja di rumput sambil menikmati Chitato Rasa Sapi Panggang, satu - satunya bekal yang gue beli dalam perjalanan tadi. 

Group muda - mudi yang tadi gue temui satu per satu mulai mengambil langkah menuju puncak gunung. Gue cuma memandangi dari kejauhan. Saking terjalnya rutenya, gue bisa dengan mudah melihat keberadaan mereka dari posisi gue duduk sekarang. Awalnya tekad gue udah bulat untuk tidak naik ke puncak. Tapi Ony berusaha keras untuk memotivasi gue. Dicoba dulu, kalo ngga kuat turun lagi, gitu katanya. Okelah, kita lihat nanti. Dalam 10 langkah pertama gue akan mengkonfirmasi kegagalan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagian yang bikin gue semakin yakin untuk ngga trekking ke puncak, karena saat itu persediaan air minum gue habis total. Cuma sisa setengah botol air mineral punya Ony. 

Gue pun memulai langkah dengan seribu keraguan, dan herannya bisa tiba sebuah pohon rindang yang pas buat berteduh sementara. Di sini gue berpapasan dengan group muda - mudi yang tadi gue liat di area camping, dan sempat ngobrol sebentar. Kita pun melanjutkan langkah masing - masing, mereka hendak turun pulang, sementara gue dan Ony lanjut ke puncak. 

Beberapa saat setelahnya, kita ketemu lagi sama group lainnya yang juga hendak turun. Wajahnya pada merah sekaligus gosong semua. Dan dengan nafas terengah - engah mereka sempat berpesan, "Hati-hati....terjal banget..." Duuuh...gue jadi pengen ikutan turun juga nih ! Tapi demi Ony yang ngga ada berhentinya ngasih keyakinan kalo gue akan sanggup sampai ke puncak, akhirnya keinginan itu gue simpan dalam - dalam. Dengan turunnya group yang terakhir itu, artinya hanya gue dan Ony yang berada dalam perjalanan menuju puncak Gunung Batu. Kok gue semakin merasa takut dan ragu ya ? Kalau terjadi apa - apa, gimana dong....siapa yang akan bantu gue berdua ? 

Medan terjalnya benar-benar menantang. Tapi ada beberapa titik yang menantang dan sulitnya tuh berlipat - lipat kali. Ada jalur berupa bebatuan besar yang berdiri tegak lurus, yang harus gue lalui dengan menggunakan tambang. Selain gue penakut akan ketinggian, rasa takut juga muncul karena semakin ke puncak lebar jalurnya semakin sempit. Kalau ngga hati - hati, sampai kepleset atau terjatuh,......ah, ngeri gue ngebayanginnya! Di sini, gue kehabisan akal cara memanjat dengan menggunakan tali, dengan aman. Gue udah berusaha beberapa kali, tapi gagal. Awalnya Ony di bawah supaya bisa dorong badan gue yang tambun ini, gagal.....Lalu Ony naik duluan, supaya bisa narik gue dari atas....gagal juga. 'The power of fear' moment kalo begini...Pikiran gue sudah dikuasai oleh ketakutan dan kewaspadaan yang luar biasa, sampai - sampai gue putus asa di titik keberanian nol. Pelan - pelan gue coba lagi, dengan Ony siap siaga menarik tangan gue. Dan akhirnya gue berhasil naik ! Makasih Yesus !! 

Tantangannya ngga berhenti sampai di situ, masih ada beberapa titik terjal yang harus gue lalui sebelum tiba di puncaknya. Dan akhirnya, gue dan Ony sampai di puncak Gunung Batu ! Wowww !! Rasanya menakjubkan banget ! Kerennya lagi, cuma ada gue dan Ony di atas puncak tersebut. Kosong....cuma ada dua tiang dengan bendera merah putih, dan ilalang - ilalang tinggi di sana sini. Dari atas sini, pemandangan Jonggol terhampar luas. Tapi dalam hati gue bukan hanya sedang menikmati keindahan alam sekitar, tapi keindahan perjuangan gue melawan lelah, takut, dan rasa tidak percaya diri tadi ketika berusaha menuju puncak ini. Gue memulai langkah dengan dengan segudang keraguan dan secuil keyakinan doang, dan yang secuil itu pun segera lenyap setelah beberapa langkah di awal.

Tapi Yesus dengan baik dan ajaibnya memampukan gue untuk bisa lanjut melangkah, dengan ngasih kekuatan melalui fisik yang jauh dari bugar ini, dan yang terbesar melalui Ony yang ngga lelah memberikan keyakinan kalo gue akan sanggup menyelesaikan perjalanan.
 

Begitu hendak meninggalkan puncak, gue dan Ony bertemu pasangan trekker, salah satunya bernama Gerry. Gerry kebetulan minta difotoin, jadi karena posisi gue dan dia berjauhan, begini kesepakatannya. Gue akan foto dia dan temannya, begitu juga sebaliknya, cukup dari posisi berdiri masing - masing, setelah itu kita akan bertukar foto via WA. Ketika hendak bersiap turun meninggalkan puncak dan berpapasan, gue sempat bertukaran nomor HP. Setelah itu gue dan Ony melanjutkan perjuangan turun, dengan sisa - sisa tenaga yang seadanya, dan gawatnya....persediaan minum nol ! 

Dengan tenggorokan super kering dan langkah yang sangat pelan akibat kehausan dan kepanasan maksimal, gue dan Ony tiba di titik awal lagi. Makasih Yesus buat perjalanan super seru hari ini.

Niat awalnya abis dari Gunung Batu pengen lanjut hunting curug di sekitar sini. Tapi batal. Selain karena kaki dan tangan udah pegal kronis, juga biar bisa menikmati curug dengan lebih santai. Gue dan Ony akan ke Jonggol lagi dalam waktu dekat untuk menikmati keindahan curug-curug di sini.

Sampai jumpa, Jonggol !

Saturday, March 03, 2018

Review : Tom's Homestay, Bogor


2 Maret 2018.
Sejak perayaan Imlek di pertengahan Februari lalu, gue sudah merencanakan cuti untuk menghadiri festival Cap Go Meh 2018 di Bogor, yang berlangsung tanggal 2 Maret 2018 (Jumat).

Berhubung festival ini biasanya berlangsung sampai tengah malam, gue pun menyiapkan akomodasi untuk bermalam di sana. Tahun lalu, gue harus meninggalkan festival dengan segera, karena khawatir kehabisan kereta pulang. Tahun ini gue pengen puas-puasin menikmati festival tanpa khawatir urusan pulangnya.

Di Bogor, tepatnya di sekitar Jl. Surya Kencana, lokasi pusat penyelenggaraan festival Cap Go Meh, sebenarnya banyak hotel atau penginapan. Tapi gue mencari yang paling ekonomis, karena cuma buat numpang tidur doang pas tengah malam sepulang menyaksikan festival. Gue teringat, beberapa waktu yang lalu pernah kepengen ngerasain tinggal di Tom's Homestay, namanya. Dari review yang gue pernah baca, kediaman ini adalah peninggalan Dr. Ir. Soetomo, yang merupakan pendiri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Tom adalah putranya. 

Reservasi hanya bisa dilakukan melalui Airbnb. Ini adalah pertama kali gue menggunakan aplikasi ini, yang ternyata mudah ! Mudah - mudah susah juga...karena ketika gue hendak menyelesaikan pembayaran kamar sebesar Rp. 100,000 sekian, bermasalah. Jadilah gue berhasil booking dengan memilih pembayaran dengan mata uang USD, totalnya sekitar USD 8 sekian gitu deh.

Tanggal 1 Maret, Tom sudah menghubungi gue untuk janjian jam/waktu kedatangan di homestay. Tanggal 2 Maretnya gue tiba di homestay, yang beralamat di Jalan Selot No. 32 ini. Pas mencari lokasinya, dari stasiun Bogor gue berjalan kaki melalui arah Lapas Paledang, jadinya agak jauh. Padahal kalo ditempuh dari Jl. Raya Juanda, dekat banget ternyata. Gue langsung bertemu dengan Tom ketika tiba, beliau menyerahkan kunci, memperkenalkan fasilitas rumahnya. Begitu lihat rumahnya, terlebih bagian dalamnya, gue takjub. Typical rumah tua banget, peninggalan jaman Belanda gitu, berusia 60 tahunan. Dengan fondasi rumah yang tinggi banget, pintu dan jendelanya juga jaman dulu banget meskipun masih kokoh. Rumahnya luas dan memiliki banyak kamar. Dan yang lebih 'istimewa' bagian belakang rumah, berupa taman yang sangat rindang hampir menyerupai hutan.


Gue menempati sebuah kamar di bagian dalam rumah, di sebelah kamar mandi dan kamar kecil. Semua sudut dari rumah ini, vintage adanya. Meskipun gue seneng liat bangunan - bangunan tua apalagi peninggalan Belanda gitu, tapi percayalah gue sedikit ketakutan awalnya. Apalagi penerangan di setiap ruangan dibuat agak remang gitu. Menurut Tom saat itu hanya seorang turis asal Canada yang tinggal di homestay juga, dan gue 'menangkap' kayaknya Tom ngga tinggal di sini.

Begitu balik dari festival nyaris tengah malam, suasana gelap dan abis ujan, bikin gue ketakutan sebenarnya. Tapi syukurlah, begitu tiba di homestay, ada 3 orang yang sedang asyik mengobrol di halaman belakang yang mirip hutan itu. Gue berasumsi mereka adalah keluarga pemilik homestay. Oya, dari Surya Kencana ke sini bisa gue tempuh dengan berjalan kaki. Walaupun kedua kaki dan lutut gue udah mau rontok rasanya karena dieksploitasi abis-abisan demi menikmati festival tadi. 

Gue melewatkan malam dengan normal, tidur dengan nyenyaknya karena super lelah, ini melebihi perkiraan gue sendiri, dan terbangun jam 9 pagi. Abis mandi, gue sarapan. Di sini menu sarapan terbilang lengkap : ada roti dengan berbagai selai dan margarin, dan minuman teh dan kopi. Penghuni dipersilahkan untuk menyiapkan sarapan masing - masing, asalkan jangan lupa mencuci piring dan gelas kotor dengan bersih dan rapih. Oya, ada sebuah mesin toaster disediakan, jadi gue bisa menyiapkan roti super gosong favorit seperti ketika gue tinggal di hostel gitu.

Kebetulan gue sempat mengobrol dengan si turis Canada yang ternyata menghadiri festival Cap Go Meh juga semalam. Gue juga sempat menikmati roti gosong di teras belakang sambil menikmati rindangnya 'hutan' rumah tersebut. Sekonyong-konyong gue sadar....Rumah ini punya 'harta karun' tersendiri...ketenangan luar biasa! Selain 'sensasi' dibawa ke masa lampau puluhan tahun silam dengan interior rumah yang super vintage, rumah ini juga menawarkan kesunyian yang menenangkan. Caelaahhh ! 

Oya, dari segi lokasi homestay ini strategis banget, tepat di seberang Gereja GPIB Zebaoth. Jadi sebenarnya lokasinya bukan terpencil, dan berada di jalan utama. Tapi kerennya, berada di dalamnya, ngga terasa hiruk - pikuk metropolitan kota Bogor.