I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Thursday, March 20, 2014

Beli Rumah Berhadiah Stress

Kemarin gue membaca artikel di Kompas.com yang judulnya Membeli Rumah Dianggap Penyebab Stress Tertinggi. Sungguh sangat amat setuju sekali....Rasanya beban di pikiran dan pundak gue tidak seberat ini tahun lalu, saat gue belum nekat mulai membeli rumah secara mencicil. 

Impian terbesar gue dari dulu memang membeli sebuah rumah....berapa pun ukurannya. Kecil atau besar, asalkan punya rumah sendiri pasti rasanya tenang dan membahagiakan, pikir gue. Pikiran naif gue, dengan punya rumah sendiri, gue akan bisa memelihara beberapa anjing tanpa harus mendengarkan keluhan dan omelan Mama, di saat mereka mengotori rumah, mengigit sepatu atau barang lainnya, menggonggong sesukanya, dan lainnya. Pikiran dewasa gue, rumah adalah investasi level tertinggi. Selain itu, gue pasti akan lebih tenang menyongsong masa depan apabila gue sudah punya rumah sendiri, tanpa harus memikirkan hidup menumpang, atau lainnya.

Meskipun itu adalah impian terbesar gue sepanjang masa, namun untuk memulainya gue membutuhkan seluruh kenekatan yang ada. Setahun yang lalu, akhirnya gue 'menjebloskan diri' untuk memulai 'mega project' ini. Sejak saat itu, segala hal yang berpotensi menimbulkan stress pun mulai memasuki hidup gue.

Mengenai pemilihan lokasi dan Developer, sejujurnya ini bukanlah bagian yang sulit. Karena pada dasarnya gue bukan tipe pemilih, ini tercermin di saat gue hendak membeli apapun. Gue akan mengambil keputusan dengan cepat, ngga mau terjebak dalam pertimbangan berlarut - larut untuk memutuskan yang ini atau itu....ambil atau tidak...dan lain sebagainya. Yang terpenting, lokasinya gak jauh dari kantor gue saat ini dan rumah Mama. Mengenai Developer, apa boleh buat, pilihan gue ngga banyak. Dengan modal keuangan sangat minimalis gue ngga bermimpi untuk membeli rumah dari developer besar yang sudah punya nama.

Dalam setahun ini ada beberapa tantangan (berusaha bersikap optimis dengan tidak menyebutnya 'masalah') yang gue hadapi (baca: sumber stess) :

Tantangan pertama adalah uang muka. Ini selalu menjadi ketakutan gue sejak dahulu kala dan menghambat langkah gue udah memulai mewujudkan impian. Namun kali ini, bermodalkan tabungan seadanya dan Jamsostek dari beberapa perusahaan tempat gue bekerja sebelumnya, gue berjuang untuk memenuhi persyaratan ini, meskipun terseok - seok.

Tantangan kedua adalah saat verifikasi data dan menanti konfirmasi persetujuan pinjaman KPR dari pihak Bank, dalam hal ini Bank BTN. Persyaratan dokumennya tidaklah sedikit. Dokumen yang diperlukan baik dari gue pribadi maupun perusahaan tempat bekerja, gue penuhi. Namun ternyata proses verifikasi pihak Bank ngga sesederhana dan secepat yang gue harapkan. Padahal waktu booking rumah ini di event BTN Property Expo 2013, gue sempat dijanjikan "one day approval". Namun ternyata gue mesti menunggu berminggu - minggu sampai persetujuan itu akhirnya datang, itu pun dengan tenor dan simulasi perhitungan uang muka dan cicilan bulanan yang berbeda dari yang gue ajukan semula.

Tantangan ketiga, saat akad kredit rumah dilakukan. Gue yang buta masalah hukum terlebih yang berurusan dengan masalah properti, duduk sendirian di hadapan pihak Notaris, Bank dan Developer dan menandatangani akta jual beli. Di proses ini gue sangat cerewet dan bawel menanyakan hal apapun yang terlintas di pikiran gue.

Tantangan keempat, adalah selama proses pembangunan rumah. Karena pembelian rumah yang gue lakukan bersifat 'indent' maka rumah impian gue baru mulai dibangun setelah akad dilakukan. Ini sepertinya tahap yang paling menguras kesabaran, waktu dan pikiran gue. Inilah masa dimana gue mulai bermetamorfosis menjadi setengah monster, dengan kedua tanduk di kepala, cakar - cakar keluar dari jari - jari gue, siap menerkam pihak Developer yang sering nakal. Nakal dalam arti mengerjakan pembangunan rumah dengan jadwal melenceng dari perjanjian awal. Gue rajin memonitor pembangunan rumah dengan datang ke lokasi paling tidak sekali dalam 3 minggu. Seringkali gue ngga puas dengan hasil pembangunan yang menurut gue terlambat dari waktu yang disepakati. Emosi memuncak dan gue segera menghubungi pihak Developer sekedar untuk menumpahkan kemarahan dan menuntut pertanggungjawaban mereka. Ini terjadi bukan hanya sekali dua kali....sudah lusinan kali terjadi. Entah berapa tekanan darah gue saat ini.

Tantangan kelima, mengalokasikan pendapatan gue untuk membayar cicilan tiap bulannya. Ini adalah bagian yang paling mengubah pola hidup gue setahun belakangan. Betapa tidak, sejak awal tabungan gue sudah terkuras untuk uang mukanya, dan setelah itu setiap bulannya sampai waktu sangat panjang ke depannya, nyaris sepertiga gaji gue harus dialokasikan untuk membayar cicilan. 

Di tahap ini gue mulai belajar skala prioritas, dimana gue harus berani memutuskan hal - hal apa yang harus didahulukan dan dikorbankan. Contohnya : hobi traveling. Untuk hobi yang satu ini, waktu seakan berhenti, semua impian - impian traveling gue harus distop sementara, rumah harus menjadi prioritas teratas. Impian setinggi langit untuk bisa bekperan ke Israel dan sekitarnya, sekonyong - konyong harus disimpan rapi di hati gue yang terdalam. Gue pribadi maunya bisa menjalani keduanya seiring sejalan, namun apa daya, 'kantong' gue belum memungkinkan saat ini. Gue selalu menghibur diri dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa pengalaman ini adalah wujud lain dari "perjalanan" dan petualangan. Ini adalah 'negeri" antah berantah yang belum gue kenal sebelumnya. Di sini gue menemui banyak tantangan dan rintangan, dan gue harus kuat bertahan, mencari strategi dan jalan keluar.  Ini petualangan yang jauh lebih nyata dan seru, dan harus gue nikmati setiap detiknya, sampai gue selesaikan "perjalanan panjang" ini suatu saat kelak.

Tantangan keenam, mewujudkan rumah impian dan menanggung segala bebannya sendiri. Sejak awal gue memang merahasiakan proyek ini dari keluarga karena ngga mau hal ini menjadi beban pikiran buat Mama. Jadi gue mengurus segala sesuatunya sendirian. Dan itu sangatlah berat. Ini benar - benar menguji ketangguhan diri gue baik secara fisik maupun mental. Cara gue untuk mengurangi bebannya adalah dengan sering - sering berdiskusi dengan sahabat atau orang lain yang lebih berpengalaman. Misalnya dengan teman - teman seperjuangan yang juga sedang terseok - seok mewujudkan rumah impian, atau dengan teman yang berprofesi sebagai notaris sehingga memberikan pengetahuan mengenai apa yang menjadi hak dan kewajiban gue sebagai pihak pembeli, dan lainnya. 

Selain itu, gue punya diary rumah. Maklum, gue emang senang menulis - nulis dan mencorat - coret. Gue punya buku diary di kamar, bukti diary di kantor, dan kali ini buku diary khusus membahas perjuangan rumah impian. Di diary ini gue mencatat terperinci setiap hal yang berhubungan dengan proyek impian rumah ini. Misalnya, saat gue menelepon pihak developer untuk mengungkapkan kekesalan gue akan hasil kerja mereka yang tidak on track, semua komunikasi yang gue lakukan tercatat dengan terperinci di buku diary gue itu. Atau, saat gue memborong lampu LED Phillips ketika Carrefour menawarkan diskon lumayan pun tercatat di diary rumah itu. Ini termasuk terapi yang menyehatkan untuk pikiran gue karena gue punya ruang pribadi untuk sekedar curhat dan sekaligus berfungsi sebagai pengingat segala hal yang berhubungan dengan proyek rumah ini.

Tantangan ketujuh, menahan diri ketika godaan untuk memodifikasi rumah datang. Melihat pembangunan rumah gue dari hari ke hari, sejujurnya membawa perasaan bahagia tersendiri, yang diikuti dengan keinginan berikutnya untuk memodifikasi atau mempercantik bangunannya. Di pikiran gue melayang - layang keinginan untuk menambah ini dan itu, mengubah ini dan itu, atau khayalan untuk mengisi rumah dengan barang - barang ini dan itu. Hal - hal yang mungkin akan membuat rumah impian gue makin cantik, namun berbahaya untuk keuangan gue. 

Pada awalnya gue sempat tidak bisa menahan diri, misalnya dengan membeli wall paper atau melakukan pembayaran awal sebuah sofa kayu jati beberapa bulan yang lalu. Saat itu gue begitu menggebu - gebu, namun sekarang rasanya mood gue berubah dan ketertarikan gue akan benda - benda itu berkurang. Menahan godaan atau paksaan dari diri sendiri lebih sulit dari apa pun. Gue harus galak dan tegas pada diri sendiri mengenai keinginan - keinginan 'gak penting' itu. Saking gak pentingnya, malah kadang menjurus ngga logis, misalnya : dari sekarang aja gue udah memikirkan mencari tukang untuk membuatkan rumah permanen kecil untuk anjing gue. Astaga....! Gue harus berfikir praktis dan logis. Untuk apa gue memikirkan hal - hal sekecil itu, karena sampai saat ini pun gue belum memutuskan untuk meninggali atau menyewakan rumah tersebut.

Tantangan kedelapan, entah ini hanya gue saja yang merasakan atau bukan, gue merasa di negeri ini hukum, undang - undang atau apapun itu yang berhubungan dengan kepemilikan properti masih jauh dari jangkauan masyarakat awam seperti gue. Misalnya, gue ngga tahu harus mengadukan ke siapa jika gue merasa dirugikan oleh pihak developer. Apakah ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) atau ke Kepolisian, atau lainnya ? Adakah lembaga resmi di Indonesia yang dibentuk negara untuk menjadi wadah yang melindungi konsumen properti ? Padahal informasi ini penting banget, terlebih apabila permasalahan antara konsumen dan developer tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan lagi. Karena, lagi - lagi yang paling dirugikan hanyalah satu pihak : konsumen. Sejauh ini, selain dengan sering - sering sharing dengan teman - teman, cara gue menggali informasi sebanyak mungkin adalah melalui internet.

Dengan setumpuk tantangan yang harus dihadapi oleh konsumen bermodal pas - pasan (kayak gue), namun keputusan gue untuk membeli rumah tahun 2013 kemarin adalah keputusan yang paling berani dan bijaksana yang pernah gue ambil. Meskipun jalannya berliku - liku dan bikin stress, tapi gue senang karena sudah memulainya, mengingat harga properti yang semakin menjulang dari waktu ke waktu. Yang terpenting, gue selalu pasrah dan menyerahkan segalanya ke Yesus. Alfa dan Omega : Yesus yang memulai dan Dia juga yang akan menyempurnakan. Amin !

No comments :