I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, August 22, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (5)


 30 Juli 2021

Setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya Mama bersedia untuk dibawa ke RS PGI Cikini malam itu juga. Gue cuma bisa pasrah, di satu sisi gue sedih bukan main karena ngga bisa melihat Mama sehari - sehari selama Mama diisolasi di RS, namun di sisi lain gue lega. Jika Mama dibawa ke RS, artinya Mama berada di tempat yang paling memungkinkan untuk memberikan perawatan dan penyembuhan terbaik untuknya. Jika tetap di rumah saja, hasilnya tidak akan optimal.

Menjelang tengah malam Mama dibawa ke RS. Pardo dan Carol yang mengantarkan ke sana. Setelah serangkaian tes, Mama akhirnya ditempatkan di UGD malam itu. Ternyata Bapak juga sempat akan dirawat malam itu karena saat di-tes juga, saturasi Bapak sempat turun ke angka 94. Namun akhirnya batal, dan Bapak diijinkan pulang.

Sejak malam itu Mama dirawat di RS PGI Cikini. Mungkin itu adalah masa - masa terberat gue dan keluarga, Mama ngga pernah dirawat inap sebelumnya. Terlebih ini bukan rawat inap biasa dimana keluarga bisa berkunjung dan melihat pasien kapan pun mereka ingin. Karena ini kasus Covid-19, Mama tentunya akan dirawat di ruang isolasi. Gue semakin berat membayangkan bagaimana Mama akan menghadapi hari - harinya di sana. Gue cuma bisa pasrah dan menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan Yesus. Setiap hari gue berdoa Novena Hati Kudus Yesus dan Novena Tiga Salam Maria bersama Ony, karena hanya doalah yang memberikan gue kekuatan. 

Keesokan harinya, gue, Pardo dan Carol mulai berbagi tugas. Pardo dan Carol akan mulai tinggal di Hotel Puri Inn yang berlokasi tepat di seberang RS. PGI Cikini, agar bisa lebih 'dekat' dengan Mama dan memantau setiap perkembangan, sementara gue tetap di Tanjung Barat, karena harus memenuhi logistik sehari - hari buat yang isoman di rumah.

Mama menjalani perawatan di sana selama kurang lebih 10 hari. Perjuangan Mama untuk bisa bertahan kuat baik secara fisik dan mental pastinya luar biasa. Ngga bisa gue bayangkan, di saat Mama harus merasakan sakit di fisiknya akibat Covid-19 ini dan menjalankan setiap proses penyembuhannya, secara psikis Mama juga harus berjuang lebih kuat lagi, karena berada di sebuah bangsal isolasi yang dipenuhi oleh pasien - pasien Covid-19 lainnya pastilah berat. Apalagi ini adalah bangsal isolasi, dimana pasien tidak memiliki akses untuk bertatap muka dengan anggota keluarga. Kesehariannya, orang - orang yang Mama temui adalah sesama pasien dan tenaga nakes.

Mengenai para nakes di bangsal isolasi C, mereka bagai malaikat - malaikat yang Tuhan Yesus kirim untuk merawat dan menemani Mama selama menjalani masa penyembuhan dan isolasinya yang pasti sangat berat. Saat menceritakan mengenai kebaikan mereka, Mama begitu terharu dan seakan kehabisan kata - kata menggambarkan betapa mereka sangat sabar, lembut dan tekun dalam merawat Mama. Bukan hanya fisik Mama, mereka jugalah yang selalu memberikan semangat dan mengingatkan Mama untuk tetap kuat menjalani perawatan dan tidak drop secara mental. Mereka kerap mengingatkan, "Opung, jangan sedih, nanti anak - anaknya Opung jadi sedih..." 

Bisa dibilang para suster / perawat di bangsal isolasi C mungkin paling ingat sama anak - anaknya Mama. Karena setiap malam, Pardo dan Carol akan menuju bangsal C ini untuk menemui suster/perawat, atau dokter (jika sedang ada dan memungkinkan untuk ditemui) untuk mendapatkan update mengenai kondisi Mama. Selain menanyakan kondisi Mama, mereka juga akan meminta tolong kepada suster agar membantu Mama agar bisa mengisi batere handphonenya. 

Meskipun mereka sangat sibuk karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang berdatangan setiap hari tanpa memandang waktu, namun sebisa mungkin para nakes ini berusaha membantu dan memenuhi keperluan para pasien. Mama tidak terlalu mengingat nama - nama suster dan perawat di sana, tapi dia mengingat nama Suster Nova. Gue begitu terharu dan bersyukur dengan kebaikan para nakes di RS ini, terlebih di bangsal isolasi Mama. Setiap malam gue mendoakan mereka agar kiranya Tuhan Yesus melindungi dan memberkati mereka dengan kesehatan dan sukacita, terlebih dalam mereka menjalankan pekerjaan mereka sehari - hari yang sangat beresiko.

Terkadang Mama menyampaikan keinginannya untuk menikmati makanan tertentu. Misalnya jus apel. Ketika ada keinginan seperti ini, gue langsung bersemangat untuk bikin jus apel, dan mengirimkannya melalui Gosend secepat mungkin. Di lain waktu Mama tiba - tiba pengen makan ikan teri dan meminta langsung ke Natulang Jogi, dan langsung disiapkan dan dikirimkan ke RS (terima kasih Nantulang yang begitu baik). Pardo dan Carol akan memantau sesering mungkin, apabila Mama membutuhkan sesuatu agar bisa segera terpenuhi.

Setiap malam biasanya keluarga gue akan melakukan video call, untuk bisa saling memberi kabar dan update, dan berdoa bersama. Keluarga kami mungkin saat itu sedang menghadapi masa - masa terberatnya, namun nyata banget kuasa dan kebaikan Tuhan Yesus, yang tidak pernah meninggalkan kami, dan memimpin keluarga kami menghadapi situasi itu. Tuhan Yesus semakin menyatukan kami, hingga kami semakin sehati dan kompak bergotong - royong agar beban yang kami rasakan saat itu bisa terasa lebih ringan.