I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Makam. Show all posts
Showing posts with label Makam. Show all posts

Friday, September 05, 2014

Jejak Sejarah di Ereveld Leuwigajah

Hobi unik mengunjungi pemakaman - pemakaman tua dan/atau bersejarah membawa gue sampai ke Cimahi. Ini adalah salah satu momen dimana rasa penasaran memberi gue dorongan dan semangat bahkan meski gue harus melangkah sedikit jauh dari sewajarnya....hanya untuk mengunjungi sesuatu yang menurut orang lain mungkin sepele. 

Buat gue pribadi, ini menyenangkan, dan jika memungkinkan, gue akan berkunjung ke semua ereveld yang ada di negeri ini. Alasannya sederhana, yaitu karena setiap ereveld menyimpan sejarah dan cerita tersendiri yang sangat menarik. Bukan cerita dongeng atau legenda, melainkan fakta yang tak terlepaskan dari sejarah negeri ini, yang belum pernah gue dengar dan tahu sebelumnya.

Persiapan awal perjalanan dimulai dengan menghubungi Yayasan Oorlogsgraven Stichting terlebih dahulu. Ibu Ita, staff yayasan, sampai hapal nama gue...."Ini Cherry yang waktu itu ke Menteng Pulo kan ?" Seperti biasa beliau menerima telepon gue dengan sangat ramah dan dengan segera mempersilahkan gue jika hendak ke Ereveld Leuwigajah, Cimahi. Gue pun mencari tiket kereta api Argo Parahyangan tujuan Gambir - Cimahi.

Tanpa perlu persiapan lama, tanggal 31 Agustus pun gue berangkat ke Cimahi. Tiba di Stasiun Cimahi, gue lanjut naik angkutan warna biru muda tujuan....gue lupa rute resminya, tapi cukup dengan bilang mau ke "Kerkhof" Pak Supir langsung manggut - manggut. "Kerkhof" dalam bahasa Belanda artinya pemakaman. Di kawasan yang dimaksud memang terdapat Taman Pemakaman Umum (TPU) Leuwigajah. Dan Ereveld letaknya di dalam area makam Kristen.

Begitu memasuki area TPU terlebih saat mendekat ke gerbang ereveld pemandangan kontras jelas terlihat. TPU yang padat dan agak kurang terawat hanya terpisahkan oleh pagar kokoh ereveld yang areanya hijau, rapi dan asri.

Kedatangan gue dan Ony disambut oleh Pak Franky, penanggung jawab ereveld. Dan seperti yang gue temui di ereveld manapun yang sudah gue kunjungi, Pak Franky menerima kedatangan gue dengan ramah dan bersahabat. Beliau tanpa segan dan lelah bercerita mengenai sejarah ereveld ini, bahkan memandu gue dan Ony berkeliling ereveld.

Ereveld Leuwigajah memiliki keindahan tersendiri. Begitu memasuki gerbangnya, bukan hanya susunan nisan tersusun rapi yang terhampar, melainkan pengunjung juga seakan - akan disambut dengan pemandangan Gunung Gajah yang bagai lukisan indah yang melatarbelakangi lahan pemakaman. 

Ereveld Leuwigajah memang kalah luas dibandingkan Ereveld Menteng Pulo, namun secara jumlah korban yang dimakamkan di sini adalah yang terbanyak, yaitu sekitar 5,000an korban. Mereka adalah para korban baik dari sipil, maupun para tentara KNIL dan keluarganya yang tewas selama masa pendudukan Jepang di Indonesia.



Mengingat areanya yang tidak terlalu luas jadilah di ereveld ini tidak ada pemisahan makam berdasarkan agama, seperti yang terdapat di ereveld lainnya. Maka di sini lazim terlihat simbol - simbol nisan yang menunjukkan agama masing - masing 'penghuninya', berada dalam dalam satu vak (blok), baik Kristen, Islam, Buddha, maupun Yahudi. Ada juga vak dimana korban anak - anak berada di area yang sama dengan dewasa.

Ketika berkeliling area ereveld, gue berkesempatan melihat para staff ereveld sedang tekun bekerja di bengkel, membuat nisan - nisan baru. Dimulai dari proses mencetak nisan, pengecatan dan membubuhkan tulisan pada nisan tersebut. Hari ini gue menyaksikan sekelompok orang dengan profesi yang menurut gue 'ngga biasa', yaitu pembuat nisan. Namun yang mengagumkan adalah betapa mereka bekerja dengan demikian tekun dan asyiknya, dan pada akhirnya di mata gue mereka bagaikan sekelompok seniman yang menghasilkan karya yang indah. Dan hasil kerja keras dan ketekunan mereka terhampar di lahan hijau ereveld Leuwigajah ini.

Monumen Junyo Maru
Selain makam, di Ereveld Leuwigajah ini juga terdapat Monumen Junyo Maru. Junyo Maru adalah tragedi kelautan paling parah yang terjadi sepanjang Perang Dunia II. Ini adalah kisah ketika kapal Jepang bernama Junyo Maru membawa sekitar 6,500 tawanan perangnya yang terdiri dari tentara Belanda, Australia, Amerika Serikat dan Inggris, serta warga Indonesia yang akan dijadikan tenaga romusha, dari Tanjung Priuk menuju Padang.

Tujuan mereka dibawa ke Padang adalah untuk melakukan kerja paksa membangun jalur kereta api Pekanbaru - Muaro Sijunjung sepanjang 220 kilometer.

Naas, di wilayah Bengkulu kapal ini ditorpedo oleh kapal selam Kerajaan Inggris, H.M.S Tradewind, tepatnya pada 18 September 1944. Dari sekian banyak penumpang kapal ini, hanya sekitar 800an korban yang selamat. Dan yang lebih naas lagi, para korban selamat ini kemudian dibawa ke Padang dan lanjut ke Pekan Baru untuk bekerja sebagai tenaga romusha dalam pembangunan jalur kereta api Pekan Baru - Muaro Sijunjung.

Monumen ini, selain untuk mengenang mereka yang tewas dalam tragedi ini, juga ditujukan untuk mengenang semua korban perang yang tewas di lautan dalam periode 1942 - 1945.

Jika mendengar atau membaca cerita sejarah yang memilukan seperti ini, pikiran gue seketika berkelana membayangkan kondisi dan suasana yang mungkin terjadi saat itu. Bagaimana kepanikan dan kegemparan menghantui setiap orang yang berada di kapal yang mungkin penuh sesak itu saat bencana datang. Bagaimana suasana ketika torpedo menewaskan ribuan nyawa penumpangnya dan menghempaskan tubuh mereka di lautan luas. Bagaimana mereka yang selamat berjuang untuk bertahan setelah kapal yang mereka tumpangi luluh lantah diserang torpedo. Ini adalah bagian yang kadang secara emosional tidak mengenakkan ketika mendengar atau membaca potongan fakta sejarah saat gue mengunjungi ereveld - ereveld seperti ini. Namun, secara keseluruhan, ini adalah pengalaman yang berharga dan menarik untuk gue.

Thursday, July 31, 2014

Museum Taman Prasasti : Seribu Kisah di Antara Seribu Prasasti

Setelah bertahun - tahun, akhirnya gue dan Ony kembali menginjakkan kaki di Museum Taman Prasasti, di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, hari ini. Walaupun ini adalah kunjungan kedua gue, tapi rasa takjub akan setiap prasasti yang ada di sini gak pernah lenyap. Museum ini bagaikan galeri karya seni berusia kuno yang kaya sejarah. 

Museum Taman Prasasti atau Kebon Jahe Kober, diresmikan pada tahun 1797, meskipun telah digunakan sebagai area pemakaman sejak 1795, dan dahulu adalah area pemakaman bagi para bangsawan dan pejabat tinggi VOC. Pemakaman ini dibuka akibat meningkatnya angka kematian di Batavia saat itu yang disebabkan oleh menyebarnya wabah penyakit. Dibukanya pemakaman ini sebagai antisipasi karena penuhnya pemakaman di area samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang menjadi Museum Wayang), Binnenkerk (gereja Portugis di dalam tembok kota Batavia), serta Gereja Sion (gereja Portugis di luar tembok kota Batavia). Sebagian batu nisan dan prasasti yang ada di Kebon Jahe Kober adalah pindahan dari ketiga pemakaman tersebut.

Setelah kemerdekaan Indonesia, area ini juga digunakan sebagai pemakamam Nasrani. Pada tahun 1975, ketika pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan lahan ini dan memulai pembangunan museum, jasad/kerangka di lokasi ini dipindahkan. Sebagian dipindahkan oleh kerabat/keluarga masing - masing, sebagian lagi dipindahkan ke lahan pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Seperti yang gue sebutkan sebelumnya, museum ini bagaikan galeri seni kaya sejarah. Di sini gue bisa melihat batu nisan serta prasasti dengan gaya dan bentuk berbeda - beda, dengan ukiran tulisan dalam bahasa yang beragam pula. Keindahannya datang terlebih dari patung - patung yang menghiasi setiap makam, ada patung Yesus Memberkati, Bunda Maria, salib, malaikat - malaikat dalam berbagai posisi, dan lainnya. Semua ornamen - ornamen ini seakan - akan menyimpan kisah tersendiri.
 
 
 
 


Patung wanita menangis, mengisahkan seorang wanita yang merasakan
sedih teramat dalam akibat ditinggal suaminya yang meninggal akibat wabah Malaria

Di antara patung - patung bergaya klasik dan indah itu, ada juga lahan makam yang 'dihiasi' dengan patung kepala tengkorak. Ini adalah makam seorang pria keturunan Jerman bernama Pieter Erberveld. Pieter Erberveld adalah sosok pemberontak pada masanya yang membenci penjajahan, tepatnya yang dilakukan oleh pihak Belanda di Batavia saat itu. Pieter pun merencanakan pemberontakan, namun hal itu diketahui oleh pihak Belanda. Pieter dihukum dengan cara kejam. Tubuhnya ditarik oleh empat kuda keempat arah berlawanan, sehingga tubuhnya tercerai berai. Kepalanya lalu ditancapkan dengan sebuah pedang pada tembok tempat eksekusi terjadi yaitu di kawasan Pangeran Jayakarta. Kepala tengkorak yang ada di museum ini adalah replikanya. Kepala tengkorak yang tertancap tersebut beserta tulisan yang terukir di tembok dimaksudkan sebagai peringatan agar tidak ada lagi orang yang berani merencanakan serta melakukan pemberontakan terhadap pihak Belanda saat itu. Ngeri, Jenderal !!

Dari beberapa tokoh penting yang pernah dimakamkan di sini, beberapa di antaranya yang berhasil gue temukan di tengah waktu kunjungan gue yang sempit tadi adalah makam Olivia Marianne Raffles (wafat tahun 1814), yaitu istri pertama dari Thomas Stamford Raffles yang pernah menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, serta Soe Hok Gie (wafat tahun 1969), aktivis gerakan mahasiswa angkatan '66. 

Inilah oleh - oleh kunjungan gue ke Museum Taman Prasasti siang tadi, yang merupakan salah satu museum yang paling gue kagumi. Hari ini salah satu teman gue berkomentar mengenai keheranannya dengan hobi gue untuk mengeksplorasi pemakaman kuno. Jawabannya simpel : karena selain gue bisa melihat hal - hal baru dengan segala keindahannya yang secara visual langsung gue nikmati, tempat - tempat seperti ini juga menyimpan banyak cerita serta sejarah dan gue akan selalu senang dan bersemangat untuk menggalinya.Seru kan ?!


Makam Olivia Mariamne Raffles
Makam Soe Hok Gie
Prasasti peringatan kematian pasukan Jepang yang gugur
melawan tentara Sekutu di Bogor (tahun 1942)


Makam Pieter Erberveld
 

Wednesday, July 30, 2014

Makam Belanda di Kebun Raya Bogor

 

Kemarin (Selasa, 29 Juli 2014), gue kembali mengunjungi komplek Makam Belanda di Kebun Raya Bogor. Sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, gue pernah juga ke sini. Tapi berhubung saat itu ketertarikan gue akan makam - makam Belanda, terlebih yang kuno, belum sedahsyat sekarang, jadi gue ngga punya dokumentasi apapun mengenai kunjungan gue ke sana.

Menurut petunjuk yang tersedia di area komplek, disebutkan bahwa komplek pemakaman Belanda ini sudah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan pada tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt, seorang ahli botani asal Jerman, yang merupakan Direktur Kebun Raya Bogor yang pertama. Di komplek yang tidak terlalu luas ini terdapat total 42 makam, yang hanya 38 di antaranya saja yang memiliki identitas. 




Makam Ary Prins (wafat : 28 Januari 1867), seorang
ahli hukum dan pernah menjadi Gubernur Hindia Belanda selama dua kali
Makam Dominique Jacques de Eerens (wafat : 30 Mei 1840),
Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1836 - 1840
 

Mereka yang dimakamkan di sini kebanyakan adalah keluarga dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tahun wafat mereka bervariasi, ada yang tahun 1784 (Cornelis Potmans, administrator toko obat berkebangsaan Belanda) dan yang terbaru adalah tahun 1994, yaitu A.J.G.H Kostermans, seorang ahli botani asal Belanda yang kemudian menjadi warga negara Indonesia. Beliau memilih untuk dimakamkan di sini, di lingkungan yang ia cintai.




Yang menarik dari komplek makam Belanda di sini adalah kesan dramatisnya, karena lokasinya seakan - akan terkepung di antara pepohonan bambu yang sangat tinggi dan lebat. Dengan keberadaannya di tengah - tengah pepohonan rindang seperti itu, komplek ini jadi cenderung gelap dan teduh. Selain itu, komplek ini juga bisa dibilang sepi sunyi, karena ngga banyak pengunjung kebun raya yang mampir ke sini, entah karena takut atau memang ngga tahu mengenai keberadaannya. 

Mengamati setiap bentuk makamnya yang menurut gue terbilang unik dan khas Belanda, merupakan keasyikan tersendiri. Ditambah lagi dengan membaca untaian kata - kata yang terukir di bangunan makam masing - masing. Ada yang ditulis dalam bahasa Inggris, namun kebanyakan bahasa Belanda. Kebanyakan di makam - makam tersebut menorehkan keterangan seperti nama, tanggal kelahiran dan kematian, serta jabatan sang pemilik makam. Namun ada juga yang menambahkan dengan ayat - ayat Injil, seperti yang terdapat pada makam  Charles Gerard Alexander (1845 - 1871) :

Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada - Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. (Yohanes 11:25)

Makam Charles Gerard Alexander

Wednesday, July 09, 2014

Situs Makam Jerman di Lereng Pangrango

Gue mendengar keberadaan situs ini sebenarnya udah sejak tahun lalu. Tapi mengingat lokasinya di 'Megamendung' ditambah lagi review - review yang gue baca seringnya bilang 'medannya sulit dijangkau' dan semacamnya, jadi rencana ke sana sering tertunda.

Hari Minggu (06 Juli 2014), kemarin akhirnya gue memantapkan langkah untuk mencari lokasinya. Sejak awal minggu gue kebetulan sudah berencana untuk ibadah di Gereja Zebaoth Bogor, jadi sekalianlah gue memuaskan rasa penasaran akan Situs Makam Jerman ini.

Dari Stasiun Kereta Bogor, gue naik angkutan umum No. 02 jurusan Sukasari - Bubulak, turun di PDAM Sukasari (sebelum angkutan belok ke arah Pabrik Boehringer). Dari situ gue naik angkutan lagi jurusan Cisarua sampai melewati simpang Gadok sedikit, kemudian turun di jalan masuk menuju Pasir Muncang yang ada di sebelah kanan jalan. Gue pun naik angkutan biru lagi jurusan Pasir Muncang - Ciawi. 


Saat di dalam angkutan ini sebenarnya gue masih bingung harus turun di mana, sampai akhirnya gue bertanya ke seorang penumpang perempuan yang sangat baik. Dia memberikan petunjuk, dan lenyaplah kebingungan gue berganti dengan semangat menyala - nyala. Ketika penumpang yang baik hati ini tahu tujuan pencarian gue, yaitu Makam Jerman, dia sempat bertanya, "Memang ada acara apa di sana, Mbak ?" Gue sempat kehilangan kata - kata begitu mendengar kata "acara" barusan. Mungkin dia menyimpan kebingungan, karena mustahil gue kesana untuk berziarah, layaknya ziarah ke makam leluhur, berhubung penampilan gue yang 'ngga ada Jerman - Jermannya secuil pun'. Gue pun menjawab bahwa gue sekedar ingin lihat dan mengunjungi kawasan bersejarah dan terkenal tersebut.  Pertanyaan kayak begini selalu menjadi tantangan tersendiri buat gue, untuk mencari jawaban dan penjelasan yang singkat, padat dan masuk akal. Mungkin karena hobi 'wisata ke pemakaman tua dan bersejarah' bukanlah hobi yang populer, jadi orang - orang kerap bingung.

Kembali ke kisah kasih perjalanan mencari lokasi situs, gue turun sampai akhir tujuan angkutan ini, yaitu Pasir Muncang, dan langsung disambut sama tukang - tukang ojek. Perjalanan masih dilanjut dengan naik ojek sampai ke lokasi Makam. Cukup dengan bayar Rp. 10,000, para sopir ojek udah tahu lokasinya begitu gue bilang "Makam Jerman".



Perjalanan dengan ojek menuju lokasi makam inilah yang menurut gue paling seru, karena selain jauh, jalannya juga menanjak dan kadang berkelok. Maklum.....lokasinya terletak di lereng gunung Pangrango. Bonus dari perjalanan seru ini adalah pemandangan hijau yang indah, hawa pengunungan yang sejuk serta udara yang segar.

 

Akhirnya gue tiba di lokasi Situs Makam Jerman Arca Domas. Tempatnya teduh banget, karena di antara pepohonan cemara yang tinggi menjulang serta pohon - pohon beringin. Kesan seram ? Ngga ada.....karena suasana lokasinya yang asri, sepi dan tenang.

Jika mengikuti jalan setapaknya, pengunjung akan disambut oleh sebuah tugu peringatan bercat putih, yaitu tugu peringatan bagi para tentara Jerman yang telah gugur. Masuk lebih ke tengah, gue melihat makam ini dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, dua makam jasad tak dikenal yang pada batu nisannya yang berbentuk salib besi terukir tulisan : Unbekannt (tak dikenal)

 

Lalu dengan melalui beberapa anak tangga saja, bagian berikutnya adalah delapan makam tentara Jerman lainnya yang pada batu nisannya tertulis nama, pangkat, tanggal lahir serta tanggal kematiannya. Kesepuluh jasad yang terkubur di sini adalah anggota Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) dari armada kapal selam (U-Boat). Jerman, yang merupakan sekutu Jepang, kembali masuk ke Indonesia setelah Jepang menaklukkan Belanda di tahun 1943. Ini adalah hal yang gue belum pernah tahu sebelumnya....sejauh ingatan gue ketika mempelajari sejarah sepanjang masa sekolah dulu, rasanya gue cuma ingat 'Belanda' dan 'Jepang' sebagai negara - negara yang pernah masuk dan menduduki Indonesia pada masa - masa perjuangan kemerdekaan.

 

Pada bagian ketiga, tepatnya di posisi tengah, terdapat sebuah monumen bertuliskan "Dem Tapferen, Deutsch-Ostasiatischen Geschwader, 1914″, dan pada bagian bawahnya : "Errichtet von Emil und Theodor Helfferich, 1926″. Artinya : Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich, 1926.


Emil & Theodor Helfferich adalah dua bersaudara yang mendirikan monumen ini untuk mengenang tentara Angkatan Laut Jerman yang tewas ketika Perang Dunia I. Monumen ini dibangun pada tahun 1926, tepatnya ketika kapal penjelajah Jerman "Hamburg" datang ke pulau Jawa. Hellfferich bersaudara membeli tanah di kawasan ini dan menjadikannya perkebunan teh. 

Di sisi kiri monumen terdapat sebuah patung Ganesya dan di kanan terdapat patung Buddha. Keduanya dibangun untuk menghormati agama tua yang ada di Jawa.

 

Pemakaman ini juga semakin 'dipercantik' dengan hadirnya pepohonan kamboja yang memberikan kesan teduh dan warna yang kontras di tengah - tengah pepohonan hijau yang mengelilingi pemakaman.

Gue dan Ony tinggal beberapa saat di sana, menikmati ketenangan dan keindahan pemakaman yang kaya nilai sejarah tersebut. Setelah puas berkeliling di area seluas 300 meter itu, gue pun meninggalkan lokasi dengan menumpang ojek yang masih menunggu dengan setia.
 

Sunday, June 29, 2014

Ereveld Ancol : "Peristirahatan" Belanda di Tepi Pantai

Kemarin (Sabtu, 28 Juni 2014), akhirnya gue berkesempatan mengunjungi satu lagi Ereveld yang ada di Jakarta, yaitu Ereveld Ancol. Kunjungan gue ke Ereveld Menteng Pulo sebelumnya memang menyisakan rasa penasaran dalam diri gue untuk mencari dan mengunjungi ereveld - ereveld lainnya. Kenapa ? Karena gue tertarik dan kagum dengan cerita sejarah yang melatarbelakangi pembangunan ereveld - ereveld ini. 

Lokasinya yang ada di dalam area Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), 'memaksa' gue harus merogoh kantong untuk mengunjungi Ereveld ini, yaitu untuk tiket masuk TIJA. Meskipun Ereveld ini bukan termasuk dari wahana hiburan yang ada di TIJA, namun petunjuk lokasinya jelas. Ereveld terletak di dekat Pantai Carnaval. Kalau kehadiran Ereveld Menteng Pulo menurut gue sangat kontras dengan gedung - gedung pencakar langit yang ada di sekitarnya, Ereveld ini kontras karena terletak di antara pantai dan keramaian pengunjung yang sedang piknik di Ancol.

Area Ereveld Ancol ngga terlalu luas. Menurut informasi Pak Elisa, Kepala Ereveld Menteng Pulo, luasnya 'hanya' sekitar 1 hektar. Saat gue tiba di sana sore itu, gue ngga melihat siapapun, termasuk petugas kebersihan ereveld. Di dekat gerbang gue melihat petunjuk mengenai jam berkunjung, dan agar pengunjung membunyikan bel jika hendak memasuki area. Bel yang dimaksud ternyata istimewa, yaitu sebuah lonceng. Setelah 2 kali menarik tali lonceng, seorang petugas kebersihan datang mendekat. Beliau dengan ramah membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

Gerbang Ereveld
Waktu berkunjung

Bel lonceng
Meskipun saat itu sudah cukup sore, namun gue beruntung karena Pak Dicky, kepala Ereveld Ancol, kebetulan keluar dari rumahnya yang memang berada di area Ereveld, dan bersedia menemani gue dan Ony sejenak serta berbagi cerita mengenai ereveld ini.

Setelah itu, karena ngga ingin menahan Pak Dicky terlalu lama, karena gue tahu waktu kerjanya sudah berakhir sejak jam 1 siang tadi, gue dan Ony pun pamit untuk melihat pemakaman lebih dekat.

Ereveld Ancol, yang berbatasan langsung dengan pantai ini, diresmikan pada 14 September 1946. Di sini terdapat sekitar 1,500 makam. Yang menjadi kekhususan dari Ereveld Ancol adalah di sini dimakamkan warga negara Belanda maupun Indonesia, baik tentara maupun sipil, yang menjadi korban eksekusi oleh pihak Jepang selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Karena itu pada nisan banyak terdapat tulisan "Geexecuteerd...." Ada "Geexecuteerd Mandor" (dieksekusi di Mandor), "Geexecuteerd Antjol" (dieksekusi di Ancol), "Geexecuteerd Pontianak" (dieksekusi di Pontianak) dan banyak lagi lainnya. Ditulis 'Geexecuteerd' karena identitas mereka tidak dikenali, sehingga hanya ditulis berdasarkan lokasi dimana mereka ditemukan saja.

Di tengah - tengah keasyikan gue mengeksplorasi ereveld tiba - tiba handphone gue berbunyi. Nama di layar "Mama" dengan gambar bunga matahari sebagai foto profilnya. Mendadak gue panik. Di seberang sana ternyata Mama bingung karena tadi gue meninggalkan rumah tanpa pamit. Memang....karena tadi Mama sedang menikmati tidur siangnya dan gue ngga mau ganggu. Selama berbicara dengan Mama dalam hati gue terus berharap...jangan sampai Mama tanya dimana gue saat itu...please, Tuhan...Jantung gue nyaris berdetak lebih kencang dari biasanya....berada di antara 1,500 makam yang sepi ngga bikin gue ngeri. Tapi begitu berbicara dengan Mama di telepon, rasa takut justru tiba - tiba menyergap. Takut kalau Mama menanyakan tujuan langkah kaki panjang gue saat itu....dan entah apalagi yang harus gue lakukan...berbohong lagi...atau dengan jujur bilang, "Di Ancol Ma..." Dengar "Ancol" aja Mama pasti akan mengeluarkan jurus histerisnya. Nanti pasti Mama akan memekik, "Apa? Ancol? Jauh banget kau kesana ? Ngapain sih ?" Lalu jika si pemburu makam bersejarah bernyali tipis ini menjawab, "Di makam Belanda, Ma..." Maka, tamatlah riwayat gue saat itu juga...

Namun kali ini gue beruntung, Mama ngga menanyakan lebih lanjut keberadaan gue saat itu. Mungkin itu caranya untuk menghindari serangan darah tinggi. Karena dia tahu, langkah kaki gue terkadang menuju tempat - tempat yang baginya aneh sehingga memancing emosi kesal. Begitu pembicaraan di telepon dengan Mama selesai, gue pun lega dan perhatian gue kembali pada ereveld ini. 

Pendopo tempat menerima tamu
Lambang Oorlogsgraven Stichting
Dilihat dari gazeb
Seluruh makam tersusun rapi dan bersih
Monumen Ereveld Ancol
"Hungeest Heeft Overwonnen"
Semangat Mereka Telah Menang
....beristirahatlah dengan tenang....
Geexecuteerd Antjol
 "Geexecuteerd Antjol"adalah para korban eksekusi yang dilakukan di Ancol. Salah satu lokasi eksekusinya masih tersisa dan menjadi bagian dari ereveld, yaitu sebuah pohon mindi. Di pohon inilah eksekusi terhadap ratusan korban dilakukan. Kini, pohon besar yang merupakan saksi bisu sejarah itu sudah mati dan diawetkan. Pada bagian batang pohon diletakkan sebuah pelat dengan tulisan penggalan puisi "For The Fallen" karya seorang penyair Inggris bernama Laurence Binyon:

Hemelboom

They shall not grow old
as we that are left grow old
Age shall not weary them
nor the years condemn
at the going down of the sun
and the morning
We shall remember them
We shall remember them

Antjol 1942 - 1945

...Hemelboom...

Pohon Mindi
Duduk di dekat pohon ini dengan puisi indahnya yang bermakna mendalam, menimbulkan perasaan berkecamuk, antara kengerian, kesedihan, haru, namun juga takjub. Terlepas dari bagaimana kematian menjemput mereka, dengan cara yang kejam dan mengenaskan yang gue pribadi pun terlalu ngeri untuk membayangkannya, namun dari dalam hati yang terdalam, meskipun gue ngga mengenal mereka, tersisip doa semoga semua korban ini dapat beristirahat dengan tenang.

Meskipun Ereveld Ancol tidaklah terlalu luas, dan tanpa bangunan - bangunan tambahan indah seperti gereja dan lainnya, namun ereveld ini tetaplah menyimpan keistimewaan untuk gue. Satu lagi lokasi yang telah gue kunjungi dan membuat gue merasa bertambah 'kaya' karena kisah sejarah yang dimilikinya. Sepenggal cerita yang menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia namun belum pernah gue dengar dari pelajaran - pelajaran mana pun sepanjang masa sekolah gue.