I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Monday, January 16, 2023

When Cherry Meets Corgi....

Akhir taun lalu, 29 Desember 2022, gue staycation di Best Western Hotel Kemayoran. Sebenarnya niat ngga niat pake vouchernya, tapi sayang aja karena udah telanjur dibeli pas lagi ada promo murah Tiket.com.

Berhubung gue ngga mau stay di hotel doang, dan udah lama juga ngga ngebolang, gue pikir mumpung lagi di pusat kota, gue akan eksplor daerah Kemayoran.

Kelar check-in, mandi dan istirahat, gue browsing - browsing tempat yang bisa gue datangin siang itu. Tiba - tiba terbersit keinginan untuk cari pet cafe yang ada di kawasan Jakarta Pusat dan sekitarnya. Main bareng anjing atau kucing adalah terapi dan aktivitas menyenangkan tersendiri yang positif untuk jiwa dan pikiran gue. Jadi, sorry not sorry, terkadang gue bisa bosan dan males bertemu orang. Tapi ketemu dan main - main sama anjing, adalah hal favorit yang selalu pengen gue lakukan.

Gue nemu informasi mengenai cafe Mama Corgi, di kawasan Jakarta Barat. Wahh...gue baru tau ada cafe khusus corgi di Jakarta ! Tahun 2019 yang lalu gue sampe nyari pet cafe di Penang, Malaysia, demi bisa ngelihat anjing ras asal Britania Raya dan kesayangan mendiang Ratu Elizabeth II ini secara langsung. Dan saat itu agak kurang puas sih, karena cafenya rame pengunjung. 

Gue pun meninggalkan kamar, dan tujuan pertama adalah cari makan siang, dan kali ini gue mau makan pempek Garuda di Jalan Garuda. Gue amazed karena di sepanjang jalan Garuda ini ada banyak banget kios jualan pempek.

Abis makan, gue lanjut menuju Mama Corgi naik Gojek. Sebenarnya Mama Corgi ini lokasinya jauuuuhhh...dari hotel. Jadi, perjalanannya berasa lama dan ngga kunjung nyampe, untuk standard perjalanan pake ojol. Tapi, berhubung gue sadar belakangan gue sangat mager dan males keluar rumah, bahkan untuk piknik sekalipun, jadi gue pikir, kepalang tanggung. Apalagi ini demi ketemu para Corgi lucu, seketika semangat gue membara!

Mama Corgi beralamat di Jl. Tanjung Duren Utara 3 Nomor 340 B, Petamburan, Jakarta Barat. Dari luar, bangunannya gak keliatan gede - gede amat. Begitu tiba, gue langsung membayar Rp. 45ribu untuk bisa bermain - main dengan para Corgi selama 45 menit, ditambah Rp. 12ribu untuk beli makanan anjing. Dengan membayar tiket masuk ini, selain mendapatkan kaos kaki, pengunjung mendapat potongan harga lumayan untuk segelas minuman kekinian yang lumayan segarlah...

Basecamp para corginya ada di lantai 2. Begitu membuka pintu, gue girang banget ngeliat para anjing - anjing cebol nan bahenol yang menggemaskan itu. Yang bikin tambah seneng, corginya banyaaakkkk....ada sekitar 12 ekor. Ada berbagai ukuran, usia dan warna. 

Saat itu, selain gue, ada beberapa tamu lainnya yang hadir duluan. Jadi gue harus 'berbagi' corgi ini dengan beberapa orang lainnya. Tapi karena gue paling belakangan hadir, jadi setelah menunggu beberapa saat, jadilah gue orang terakhir di sana, ditinggalkan bersama 12 ekor corgi. OMG...I'm in heaven! Karena gue sendirian, gue minta tolong seorang staff cewe baik hati yang bertugas di ruang itu untuk memotret dan mengambil beberapa video. Jadi, gue punya dokumentasi kenangan bersama gerombolan corgi yang bisa gue lihat dan lihat lagi di saat perlu mood booster. 

Corgi itu yaa...ngeliat bentuk body dan gerak - geriknya aja dijamin selalu bikin senyum. Badannya panjang kayak sosis, bulu tebal, kaki pendek, dan bokongnya itu...semok banget! Walopun begitu, corgi lincah dan playful, jadi tambah lucu ngeliat gerak - geriknya. Dan di luar dugaan gue, ada beberapa corgi di sana yang 'doyan' menggonggong dengan suara keras. Dengan badannya yang super pendek itu, tapi suara gonggongannya membahana, jadi makin menggemaskan! 

Setelah 45 menit gue berakhir (ada semacam alarm pengingat waktu yang dipasang untuk setiap tamu), dengan berat hati gue pun turun menuju resepsionis sekaligus kasir. Di sana gue bisa membersihan baju dengan roller pembersih bulu. Walaupun sebenarnya hampir sia - sia, karena baju dan celana gue dipenuhi bulu akibat diserbu para corgi yang rebutan minta treat / cemilan.

Overall....gue happy banget !! Sebagai dog lover, rasanya seneng dan bersyukur banget ada cafe keren kayak gini, dan gue pasti akan balik ke sini lagi someday.

Wednesday, June 28, 2017

Jadi Turis Di Kota Sendiri (2)




Vihara Dharma Bhakti
26 Juni 2017

Kelar urusan check in dan bersih-bersih gue langsung meninggalkan The Packer Lodge (TPL). Target gue adalah jalan - jalan sekitar Petak Sembilan, dan ke Kota Tua.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Vihara (Klenteng) Dharma Bhakti. Sebenarnya gue udah pernah ke sini beberapa kali. Tapi, kapan sih gue pernah bosan mengunjungi klenteng ? Apalagi dengan klenteng - klenteng seperti yang ada di kawasan Petak Sembilan ini yang sudah ikonik banget. Lagian, gue belum ke sini lagi setelah klenteng Dharma Bhakti terbakar tahun 2015. 

Meskipun awalnya ngga ngotot - ngotot amat pengen berfoto di sini, namun dengan bantuan pengunjung - pengunjung lainnya, gue berkesempatan mengabadikan beberapa momen di sini. Sensasi turis lainnya....minta tolong orang lain untuk motret. Bahkan gue juga minta tolong ke warga sekitar yang lagi nongkrong di luar klenteng. Sebenarnya gue membawa tongsis. Tapi entah deh...gue tuh paling ogah pake tongsis, macam alay gitu rasanya. Dengan berepot - repot mencari bala bantuan orang lain untuk berfoto, kayaknya lebih menantang.

Vihara Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bhakti
Vihara Dharma Bhakti
Puas berada di Vihara Dharma Bakti, tujuan gue berikutnya adalah Kota Tua. Perjalanan gue tempuh dengan berjalan kaki melalui pasar Asemka. Jauh ? Iya...tapi rasanya menyenangkan. Karena jalanan sepi, langit cerah, dan mungkin karena gue sangat menikmati momen nostalgia jadi solo bekpeker kayak gini, yang berpetualang sendirian, hanya gue dan ransel di pundak. Cihuyyy !

Tiba di kawasan Kota Tua, gue 'disambut' lautan manusia yang memenuhi area di depan Museum Fatahillah. Sebenarnya gue sadar, lokasi - lokasi Kota Tua pasti jadi salah satu tujuan utama warga Jakarta dan sekitarnya untuk menghabiskan liburan. Tapi baru kali ini gue kegirangan jadi bagian dari lautan manusia ini. 

Kota Tua
Saat perut berteriak - teriak kelaparan, gue pun mampir di Bangi Kopitiam yang juga berada di kawasan Kota Tua. Awalnya, untuk menyempurnakan idealisme jadi turis dadakan, gue pengen nyari makanan ala Chinese food di kawasan Pecenongan. Tapi, setelah dipikir-pikir kayaknya kejauhan untuk sekedar cari makan. Gue tertarik nongkrong (walaupun sendirian) di Bangi Kopitiam karena restoran ini menempati bangunan tua yang menjadi bagian dari komplek Kota Tua. Ini merupakan daya tarik tersendiri buat gue....soal rasa makanannya ? Standard alias biasa banget sih!

Kota Tua
Kota Tua
Menjelang jam 8 malam, gue kembali ke The Packer Lodge. Kali ini gue ogah berjalan kaki, tapi naik angkot dari dekat Stasiun Jakarta Kota. Sebelum naik angkot, gue mampir dulu di Stasiun Jakarta Kota. Gue senang berada di sini. Selain menikmati memandangi bangunannya yang tua dan kokoh, juga hiruk-pikuk calon penumpang yang menyesaki stasiun.

Stasiun Jakarta Kota
Tiba di hostel, gue langsung mandi dan menghabiskan waktu membaca novel yang gue bawa di ruang makan. Malam itu ruang makan dan ruang merokok dipenuhi tamu hostel lainnya. Sayangnya, gue ngga bisa mengobrol dengan mereka karena sedang asyik dengan makanan atau gadget masing - masing. Tapi ngga apa - apa...sampai detik ini, gue happy bukan kepalang karena semua hal tipikal kehidupan hostel ada di mata gue. Sekitar jam 9 malam gue ke kapsul tersayang, dan tidur. 

Tidur gue di malam itu memang ngga seindah yang gue harapkan. Kenapa ? Tamu di sebelah gue mendengkur dengan dahsyatnya! Gilaaaa....padahal ini kamar khusus perempuan, dan gue takjub luar biasa ada perempuan mendengkur sekeras itu. Tapi di tengah kenikmatan tidur gue yang tercabik - cabik sempurna di malam itu, dalam hati gue ketawa-ketiwi dan bilang pada diri sendiri, "Welcome to hostel life, Cherry. Be carefull what you wish for..."

27 Juni 2017

Gue bangun sekitar jam 8 pagi. Setelah mandi, gue pun menikmati sarapan gratis ala hostel. Menu standard...roti tawar dengan berbagai rasa selai, dan berbagai minuman (kopi dan teh). Kesukaan gue ketika sarapan di hostel adalah membakar roti gue sampai gosong. Tapi kali ini ngga bisa gue lakukan, karena harus ngantri pake mesin toaster. Gue memang menargetkan meninggalkan hostel secepat mungkin. Banyak tempat yang pengen gue kunjungi sampai sebelum waktu check out tiba.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Gang Gloria. Keren ya namanya....Ada apa di sini ? Ini adalah sentra kuliner Glodok. Tapi, khusus untuk makanan mengandung babi. Gilaaaa.....Glodok tuh surga buat siapapun penggemar hidangan daging babi. Sepanjang jalan mulai dari pasar Petak Sembilan dipenuhi penjual - penjual somay dan sekba babi. Trus, di Gang Gloria ini kayaknya ngga ada makanan yang luput dari daging babi, mulai dari somay, bakso, bakmi, sate, dan kawan - kawannya. Gue rasa kalo disini ada jualan rujak, bakalan mengandung babi juga kalii... Benar-benar membabi buta Gang Gloria ini! 

Gang Gloria
Bakmi Amoy
Gue bukan penggemar hidangan daging babi sejati sih, tapi ngiler juga pengen sarapan bakmi Amoy. Gue mendapat rekomendasi Bakmi Amoy ini dari hasil browsing, sebagai salah satu bakmi yang paling mantap rasanya. Dengan semangkuk Bakmi Amoy dan segelas liang teh, rasanya sensasi bekpekeran gue kali ini terbayar lunas ! Gue ngga sabar bawa Ony, Mama dan anggota keluarga gue ke Gang Gloria ini suatu saat. 

Oya, gang Gloria ini gampang dicari. Lokasinya di kawasan Pancoran. Bisa dibilang pas berseberangan dengan Pasar Petak Sembilan. Kalau nanya ke siapapun warga sini pasti tahu. Waktu gue nanya ke seorang petugas parkir langsung dijawab, "Ohh...tinggal nyeberang di situ....Banyak makanan di situ, ci !" Siappp, boss !!

Dengan perut kenyang, gue melanjutkan kisah-kasih ala turis dan menuju sebuah lokasi yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya, Candra Naya. Sebelum menyeberang jalan, gue tertarik untuk mampir ke Pantjoran Tea House, karena melihat sebuah meja di luar restoran, dengan delapan teko serta beberapa cangkir bergaya vintage. Di atas meja juga terdapat papan tulisan 'Tradisi Patekoan (8 Teko) Silahkan minum ! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.' Seorang pelayan segera keluar dan menyambut serta mempersilahkan gue untuk menikmati teh yang disajikan gratis untuk pejalan kaki. Hahhh ? Kok bisa ? Begini ceritanya. Adalah Kapiten Gan Djie yang tinggal di kawasan ini sekitar tahun 1663 dan memulai tradisi minum teh. Kapiten Gan Djie dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan serta hendak menumpang berteduh. So sweet ! Gue bukan pedagang keliling sih...ngga lagi lelah-lelah amat juga (khan baru makan bakmi Amoy)...cuma bekpeker gembel yang pengen neduh bentar dan nyobain tehnya. Boleh kan, Kapiten ? Boleh laaahh...! Boleh doongg !!
Patekoan, Pantjoran Tea House
Dengan diantar Gojek, gue pun tiba di Candra Naya. Candra Naya adalah bangunan kuno yang dahulunya merupakan tempat tinggal Mayor Khouw Kim An, yang diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1807. Bangunannya berarsitektur khas Tionghoa dengan atap yang mirip banget seperti atap klenteng. Lokasinya aneh bin ajaib, dan gampang dicari. Karena Candra Naya ini seakan - akan terbelenggu di tengah-tengah Hotel Novotel Gajah Mada. Yes, Candra Naya berada tepat di tengah Hotel Novotel. Heran dan prihatin jadinya, bangunan bersejarah kayak gini, meskipun terlihat sangat terawat dan bersih, namun terkesan kurang dilindungi. 

Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Di sini gue ngga kesulitan sama sekali dalam hal potret memotret. Karena ada petugas keamanan yang setia menemani gue kemana pun melangkah. Awalnya gue kecewa begitu tahu bangunan utama Candra Naya ngga dibuka karena masih libur Lebaran. Namun sang petugas yang ramah ini berusaha menghibur dengan memperlihatkan lokasi - lokasi dan sudut - sudut menarik Candra Naya lainnya. 

Dari Candra Naya, berikutnya kaki panjang gue melangkah ke gedung paling indah di Jakarta, versi gue. Gedung Arsip Nasional yang juga berada di Jalan Gajah Mada. Ini gedung favorit gue sepanjang masa. Bagus banget abisnya...tapi begitu Gojek yang gue tumpangi merapat di pintu gerbangnya, gue membaca pemberitahuan bahwa Gedung Arsip Nasional sedang tutup. 

Gue ngga mau menyerah begitu saja, dan bertanya ke tukang kebun yang sedang sibuk menyapu taman. Jawabannya justru membakar semangat gue untuk masuk ke area gedung, "Masuk aja Mbak, bilang sama petugas sekuritinya tuh di pos. Baik kok orangnya..." Gue pun memasuki gerbang dan menuju pos keamanan sambil bilang, "Pak, saya boleh masuk ya...cuma mau lihat-lihat di depan aja kok, ngga masuk. Saya sudah jauh-jauh dari Depok, Pak. Saya dari Sawangan. Sawangan jauh lho Pak, dekat Parung..." Dan sang petugas pun pasrah dengan kebawelan gue yang maha dahsyat dan membolehkan gue berkeliling sejenak. Belum selesai kebaikan bapak sang petugas sekuriti ini, beliau juga membantu gue berfoto dengan latar belakang gedung Arsip yang fenomenal itu. Ceklek!!

Gedung Arsip Nasional
Gedung Arsip Nasional
Setelah memuaskan rasa kangen akan Gedung Arsip Nasional, gue memutuskan kembali ke The Packer Lodge. Panasnya pagi itu bukan main. Gue pengen menikmati kenyamanan capsule bed yang harus gue tinggalkan beberapa jam lagi. Tiba di hostel, gue langsung mandi, sebelum berbaring di capsule bed. Mandi lagi ? Iyaaaa....itu kebiasaan gue kalo lagi bekpekeran. Tepatnya kalau gue lagi kepanasan plus kegerahan luar biasa, gue akan mandi sesering mungkin untuk menyegarkan diri.

Setelah berbaring santai di capsule bed selama beberapa waktu, dengan berat hati gue pun check out dari The Packer Lodge. Overall, gue puas banget tinggal di sini, meskipun cuma semalem. Entah udah berapa hostel yang pernah gue singgahi di beberapa negara, ngga berlebihan kalau gue bilang TPL adalah salah satu yang terbaik. 

Check out dari hostel, bukan berarti kaki panjang gue ini lelah. Dari TPL gue melanjutkan perjalanan dengan misi mencari Gang Kecap. Apa itu ? Gue pengen mencari lokasi rumah seniman kaligrafi Cina yang menurut informasi yang gue dapatkan, berada di kawasan Gang Kecap. Setelah keluar masuk gang - gang dan pasar - pasar yang ada di sekitar Petak Sembilan dan Jalan Pancoran, langkah gue pun terhenti setelah mendapat informasi dari warga sekitar bahwa toko Sanjaya (tempat seniman kaligrafi Cina tersebut), tutup. Agak kecewa sih...begitu gue hendak mencari Alfamart untuk beli minum karena haus luar biasa, eng...ing...enggg....tepat di seberang Alfamart berdiri Klenteng Toasebio. Gue langsung semangat lagi dan mampir ke dalamnya.

Klenteng Toasebio
Klenteng Toasebio
Abis dari Kleteng Toasebio, gue kembali menuju jalan raya Glodok dan naik angkot menuju Stasiun Jakarta Kota. Niat gue, nanti mau turun di Museum Bank Mandiri untuk berturut-turut mengunjungi Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang dan Museum Seni Rupa. Tapppiii...gue kecewa ! Karena Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia tutup. Heran...kenapa tempat - tempat menarik yang potensial dikunjungi warga di hari - hari libur begini malah tutup. Gue pun berasumsi museum - museum lainnya di kawasan kota tua tutup semua. 

Perjalanan pun berakhir di Stasiun Jakarta Kota. Gue mengakhiri petualangan dan hasrat pengen jadi turis di kota sendiri dengan hati senang dan puas. Keinginan untuk menjadi horraanggg Kota pun tercapai sudah, walaupun cuma sehari semalam.

Jadi Turis Di Kota Sendiri (1)

 

26 Juni 2017

Di libur panjang Lebaran tahun ini, seperti biasa gue ngga punya rencana traveling kemana pun. Gue bahkan enggan ngebayangin pergi ke tempat wisata mana pun, karena males ngebayangin penuh sesaknya oleh pengunjung...tipikal kalo liburan panjang gitu deh. Trus, Ony pun lagi di luar kota. 

Tapi pagi itu gue mendadak kepikiran untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Gue pengen jadi turis di kota sendiri. Gue pengen merasakan tinggal di hostel di Jakarta. Gue kangen tinggal di hostel, yang merupakan salah satu pengalaman paling tak terlupakan dalam setiap cerita bekpekeran gue.

Gue pun langsung browsing sana - sini, mencari informasi hostel dengan konsep 'dormitory room' yang ada di Jakarta. Awalnya ngga terlalu berharap banyak, mengingat saat ini lagi libur panjang, pasti susah mencari hostel yang masih available. Tapi ternyata dugaan gue salah, karena sebuah hostel di kawasan Kota, Jakarta Barat masih menyediakan satu capsule bed. The Packer Lodge (TPL) namanya. Woww ! Capsule....? Keren dong...kebetulan gue belum pernah tinggal di hostel berkonsep kapsul. Gue langsung booking via booking.com. Asyiknya booking di sini tuh gue ngga harus bayar down payment atau full payment. Kelar booking, gue langsung terima konfirmasinya melalui email. 

Karena serba dadakan, dan saat itu gue lagi di rumah Mama, gue pun langsung melesat menuju rumah Sawangan. Di sana gue ngga berlama-lama, cuma ambil baju dan perlengkapan mandi seadanya. Dari Sawangan gue ke Stasiun Depok Baru dan naik commuter line menuju Stasiun Jakarta Kota. Gue tiba di Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 15:30 dan langsung naik angkutan umum No. 08 (tujuan Tanah Abang). TPL berlokasi di Jalan Kemurnian IV No. 20 - 22. Sebenarnya gue ngga merasa terlalu asing dengan daerah Kota, karena sering melintas di daerah sini bareng Ony. Gue merasa familiar dengan nama - nama jalan seperti Kemurnian, Keadilan, Kebahagiaan, dll. Tapi gue ngga tahu lokasi tepatnya sih.

Gue turun dari angkot pas di Halte TransJakarta Glodok, dan menyeberang jalan. Tepat di depan halte TransJakarta Glodok gue langsung melihat Jl. Kemurnian I. Gue pun memulai petualangan gue di sore itu dengan mencari jejak keberadaan Jl. Kemurnian IV. I'm so happy and excited !! Rasanya kayak kembali lagi jadi bekpeker gembel yang kesasar kesana kesini mencari arah, sendirian.

Akhirnya gue menemukan bangunannya, yang dari luar ngga tampak menonjol karena terlihat nyaris sama dengan rumah - rumah bertingkat di sekitarnya. Tiba di ruang resepsionis gue disambut dengan hangat oleh para staff. Setiap tamu harus membayar semacam 'security deposit' alias uang jaminan sebesar Rp. 200,000 yang akan dikembalikan saat tamu check out. Untuk harga capsul bed-nya sendiri gue membayar Rp. 144,500 per malam. Dengan membayar seharga itu gue bisa menggunakan fasilitas yang ada di hostel gratis, termasuk internet dan sarapan. 

Reception Room
Salah satu staff TPL, Felis, mengantarkan gue ke kamar yang terletak di lantai 3. Sepanjang 'perjalanan' singkat itu gue ngga berhenti terkagum-kagum akan hostel ini. Interiornya tuh antik dan artistik banget. Di setiap dinding terdapat karikatur dengan tema berbeda-beda. Kebanyakan adalah tempat - tempat ikonik sekitar daerah Glodok dan Kota. Selain karikatur dinding, properti - properti unik, mulai dari lukisan, sepeda ontel, koper - koper tua juga ditambahkan untuk melengkapi keindahan setiap sudut ruangan di bangunan hostel. 

Sebagian karikatur dinding di TPL

Kamar gue, No. 3, berada tepat di sebelah ruang makan, dapur, dan ruang merokok. Ruang makan dan dapurnya nyaman dan bagus banget. 

Dapur dan ruang makan
Ruang Merokok

Ruang santai (internet dan TV)
Setelah itu Felis pun mengantar gue ke dalam kamar. Wowww....! Empat 'bilik' tempat tidur berbentuk kotak disusun secara bertingkat, dua di bawah, dua di bagian atas. Gue kebagian di ranjang atas, artinya gue harus menggunakan tangga. Begitu berada di ranjang kapsul, gue amazed karena ternyata luas dan nyaman banget. Kata Felis setiap kapsul sengaja dibuat tinggi untuk mengakomodir tamu yang hendak melakukan sholat.

Capsule beds
me, my capsule, and my book..
Felis pun menyerahkan handuk dan selimut ke gue. Setelah itu gue mandi dan membersihkan diri. Untuk urusan bersih - bersih, lagi - lagi gue dibikin takjub dengan lengkap, nyaman dan bersihnya fasilitas yang tersedia, mulai dari wastafel, kamar mandi, toilet, dll.

Gue girang luar biasa, meskipun mendadak tapi bisa mewujudkan keinginan gue untuk merasakan sensasi tinggal di hostel, tanpa perlu beranjak dari kota sendiri. Bahkan rasanya gue mendapatkan bonus, karena kali ini bisa tinggal di hostel berkonsep kapsul. Dengan semangat meluap - luap, gue pun meninggalkan hostel untuk menikmati sensasi turis lainnya : mencari dan mengeksplorasi daya tarik kawasan Glodok dan sekitarnya.

shoes wonderland

Thursday, April 14, 2016

Siang Bolong Di Museum Katedral



Sepanjang pengalaman gue mengunjungi museum - museum di Jakarta, gue pikir Museum Di Tengah Kebunlah yang paling menantang. Selain karena harus reservasi terlebih dahulu, juga karena hari dan jam operasionalnya yang terbatas banget. Tapi ternyata ada lagi museum yang lebih menantang untuk dikunjungi, dan sukses bikin gue penasaran, yaitu Museum Katedral.

Gue mendengar Museum Katedral ini belum lama....dan begitu tahu, agak - agak kaget dan takjub karena Gereja Katedral atau Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, tempat di mana museum ini berada, selama ini sudah bikin gue kagum karena keindahan bangunannya yang bergaya arsitektur Neo Gothic itu. Gue memang super terpesona dengan gereja yang satu ini, dan untuk gue, ini salah satu bangunan paling indah dan megah yang pernah gue lihat langsung. Dan kali ini gue bertambah takjub karena ternyata di dalam gereja ini juga terdapat museum, yaitu Museum Katedral.



Kenapa tadi gue bilang menantang ? Jawabannya, karena museum ini hanya dibuka setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, jam 10:00 pagi sampai dengan 12:00 siang. Jika kebetulan bertepatan dengan hari libur nasional, maka museum pun tutup. Bayangin....museumnya cuma buka di hari dan jam kerja begitu...

Berhubung gue enggan cuti segala demi mengunjungi museum, maka gue pun musti bersabar...minggu demi minggu....menunggu kondisi kantor yang'kondusif' dimana gue bisa 'ijin' untuk bisa berkunjung ke sini.

Singkatnya, hari yang gue tunggu - tunggu itu pun akhirnya tiba....Gue meninggalkan kantor sekitar jam 10:30 pagi, dan melesat ke Museum Katedral, diantar oleh Gojek.

Tiba di sana, gue memasuki bangunan gereja yang megah itu, dan naik ke arah balkon, dimana museum ini berada.


 

Museum Katedral diresmikan tahun 1991. Museumnya terbilang ngga terlalu luas, karena hanya menempati balkon di sisi kiri dan kanan gereja. Koleksi yang dimiliki museum ini menarik dan unik...ada orgel pipa, relikui, monstran, mitra (topi) uskup, kasula, teks doa, buku catatan perkawinan pertama, buku babtis pertama, dan foto-foto Uskup Agung Jakarta. Selain itu ada juga patung Bunda Maria berkonde, dan replika perahu belo yang dinaiki oleh Pater Bonneke, yang tenggelam di Larantuka, tahun 1889.

Orgel pipa
Koleksi relikui
Koleksi mitra (topi) uskup
Buku babtis pertama

Buku Catatan Perkawinan Pertama
Patung Bunda Maria Berkonde
Replika perahu belo Pater Bonneke
Dan yang paling bikin gue takjub adalah koleksi jubah (patena) yang dihadiahkan oleh Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Jakarta tahun 1989. Woww... 

Koleksi jubah (patena), termasuk jubah Paus Yohanes Paulus II (tengah)
Siang itu pengunjung museum ngga terlalu banyak. Mungkin karena ngga banyak orang yang tahu mengenai keberadaan museum ini. Di sini gue mendapatkan teman - teman baru sesama pengunjung, namanya Claret dan Mayang. Berawal ketika gue meminta tolong untuk difoto, dan akhirnya malah keasyikan foto bareng sambil menikmati mengeksplorasi museum dan gereja bersama.

Bareng Claret, Mayang, dan pengunjung museum lainnya
Selain menikmati museumnya, gue juga mendapat mendapat kesempatan menikmati suasana gereja yang ketika itu sepi dan hening. Rasanya damai banget berada di situ. Kalau ngga mikirin soal pekerjaan di kantor, rasanya pengen berlama - lama di situ. Sebelum ini sebenarnya gue sudah beberapa kali ke sini bareng Ony, bahkan pernah mengikuti misa di sini juga. Tapi siang itu gereja Katedral yang super indah, sepi dan hening itu menyajikan rasa damai dan teduh tersendiri.

Berhubung waktu 'pelarian' gue sudah hampir habis, gue pun mengambil langkah pulang....ke kantor! Pengennya sih jalan kaki ke stasiun Juanda, trus naik commuter line turun di Stasiun Pasar Minggu, kemudian pulang ke rumah...tapi apa daya, pekerjaan di kantor menunggu.

Gue berpamitan pada kedua teman baru gue yang menyenangkan dan sudah menemani gue menikmati eksplorasi museum dan gereja Katedral siang itu. 

Monday, March 28, 2016

Mengintip Koleksi Museum Layang Layang


Sabtu, 26 Maret 2016, gue main ke Museum Layang Layang Indonesia di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan. Awalnya, sebenarnya ngga terlalu niat ke sini, cuma berhubung kondisi kesehatan gue lagi kurang fit karena diganggu oleh si sinusitis nakal, jadi gue dan Ony bermaksud mencari tempat refreshing yang ngga terlalu jauh dari rumah.

Di luar harapan, ternyata museum ini cukup menyenangkan, dan ngga melulu pas untuk anak - anak. Begitu tiba di sini gue langsung kagum dengan bangunan - bangunannya yang etnik berbentuk joglo. Ditambah dengan pekarangan yang rindang dan teduh, bikin nyaman dan betah.

Gue dan Ony membeli tiket masuk seharga Rp. 15,000 per orang. Dengan tiket seharga ini, selain bisa melihat-lihat museum, gue juga bisa ikutan bikin layang layang.

Selain bisa lihat-lihat museum, ada juga paket yang ditawarkan seperti bikin keramik, lukis payung, membatik, dan lainnya, dengan harga tiket Rp. 50,000 per orang.

Mula - mula setiap pengunjung yang datang dipersilahkan untuk ke ruang audio visual dimana pengunjung dapat menyaksikan video berdurasi kurang lebih 15 menit, mengenai sejarah layang layang, jenis - jenis layang layang, dan festival layang layang di berbagai tempat.

Setelah itu, dengan diantar oleh petugas yang berperan sebagai guide, gue dan Ony pun menuju bangunan pendopo yang merupakan ruang pamer koleksi layang layang. Meskipun bukan penggemar permainan layang layang, namun koleksi yang dimiliki museum ini cukup bikin gue takjub. Pertama, karena baru kali ini gue melihat langsung berbagai jenis layang layang dalam bentuk, warna, dan ukuran yang tidak biasa. Sebagian bahkan menurut gue berukuran sangat besar alias raksasa dan berbentuk unik, sampai - sampai harus dipajang di langit - langit rumah. Seluruh layang layang tersebut sudah pernah digunakan atau dimainkan dalam berbagai kesempatan atau festival. 





Kedua, museum ini memiliki koleksi layang layang tidak hanya dari berbagai propinsi di Indonesia, melainkan juga dari negara-negara lainnya. Dan gue bahkan baru tahu, untuk beberapa propinsi di Indonesia, layang layang merupakan bagian dari adat dan kebudayaan. Misalnya digunakan sebagai bagian dari prosesi adat perkawinan, upacara panen, dan lain sebagainya.

Ketiga, ada spot yang menarik di museum dimana dipamerkan contoh layang layang jadi, berikut bahan - bahannya yang masih tradisional banget...yaitu bambu, daun, dan sebagai benangnya menggunakan serat nanas. Yang biking takjub, koleksi layang layang yang terbuat dari daun ini seakan ngga hancur atau rapuh dimakan waktu. 


Puas melihat - lihat koleksi museum, kunjungan gue di sini ditutup dengan workshop kecil - kecilan 'bikin layang layang'. Setiap pengunjung diberikan sebuah rangka layang layang berbentuk konvensional yang terbuat dari bambu dan benang, lalu kertas khusus, dan peralatan lainnya. Lumayanlah....cara refreshing yang menyenangkan. 

'i am cherry'
Sebelum pulang, kenalan sama Yaba
Secara keseluruhan, Museum Layang Layang Indonesia ini worth to see kok ! Sebelumnya, tahun 2010, gue pernah mengunjungi Museum Layang Layang di Melacca, Malaysia. Seingat gue, dalam hal koleksi dari ruang pamer, Museum Layang Layang yang ada di Jakarta ini ngga kalah. Dan yang terpenting adalah selain tempatnya nyaman dan teduh untuk dikunjungi, dan bikin betah bersantai - santai di sini, museum ini juga menyajikan banyak informasi (seputar layang layang) yang menarik dan menambah wawasan pengunjung.