I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label me. Show all posts
Showing posts with label me. Show all posts

Monday, January 16, 2023

When Cherry Meets Corgi....

Akhir taun lalu, 29 Desember 2022, gue staycation di Best Western Hotel Kemayoran. Sebenarnya niat ngga niat pake vouchernya, tapi sayang aja karena udah telanjur dibeli pas lagi ada promo murah Tiket.com.

Berhubung gue ngga mau stay di hotel doang, dan udah lama juga ngga ngebolang, gue pikir mumpung lagi di pusat kota, gue akan eksplor daerah Kemayoran.

Kelar check-in, mandi dan istirahat, gue browsing - browsing tempat yang bisa gue datangin siang itu. Tiba - tiba terbersit keinginan untuk cari pet cafe yang ada di kawasan Jakarta Pusat dan sekitarnya. Main bareng anjing atau kucing adalah terapi dan aktivitas menyenangkan tersendiri yang positif untuk jiwa dan pikiran gue. Jadi, sorry not sorry, terkadang gue bisa bosan dan males bertemu orang. Tapi ketemu dan main - main sama anjing, adalah hal favorit yang selalu pengen gue lakukan.

Gue nemu informasi mengenai cafe Mama Corgi, di kawasan Jakarta Barat. Wahh...gue baru tau ada cafe khusus corgi di Jakarta ! Tahun 2019 yang lalu gue sampe nyari pet cafe di Penang, Malaysia, demi bisa ngelihat anjing ras asal Britania Raya dan kesayangan mendiang Ratu Elizabeth II ini secara langsung. Dan saat itu agak kurang puas sih, karena cafenya rame pengunjung. 

Gue pun meninggalkan kamar, dan tujuan pertama adalah cari makan siang, dan kali ini gue mau makan pempek Garuda di Jalan Garuda. Gue amazed karena di sepanjang jalan Garuda ini ada banyak banget kios jualan pempek.

Abis makan, gue lanjut menuju Mama Corgi naik Gojek. Sebenarnya Mama Corgi ini lokasinya jauuuuhhh...dari hotel. Jadi, perjalanannya berasa lama dan ngga kunjung nyampe, untuk standard perjalanan pake ojol. Tapi, berhubung gue sadar belakangan gue sangat mager dan males keluar rumah, bahkan untuk piknik sekalipun, jadi gue pikir, kepalang tanggung. Apalagi ini demi ketemu para Corgi lucu, seketika semangat gue membara!

Mama Corgi beralamat di Jl. Tanjung Duren Utara 3 Nomor 340 B, Petamburan, Jakarta Barat. Dari luar, bangunannya gak keliatan gede - gede amat. Begitu tiba, gue langsung membayar Rp. 45ribu untuk bisa bermain - main dengan para Corgi selama 45 menit, ditambah Rp. 12ribu untuk beli makanan anjing. Dengan membayar tiket masuk ini, selain mendapatkan kaos kaki, pengunjung mendapat potongan harga lumayan untuk segelas minuman kekinian yang lumayan segarlah...

Basecamp para corginya ada di lantai 2. Begitu membuka pintu, gue girang banget ngeliat para anjing - anjing cebol nan bahenol yang menggemaskan itu. Yang bikin tambah seneng, corginya banyaaakkkk....ada sekitar 12 ekor. Ada berbagai ukuran, usia dan warna. 

Saat itu, selain gue, ada beberapa tamu lainnya yang hadir duluan. Jadi gue harus 'berbagi' corgi ini dengan beberapa orang lainnya. Tapi karena gue paling belakangan hadir, jadi setelah menunggu beberapa saat, jadilah gue orang terakhir di sana, ditinggalkan bersama 12 ekor corgi. OMG...I'm in heaven! Karena gue sendirian, gue minta tolong seorang staff cewe baik hati yang bertugas di ruang itu untuk memotret dan mengambil beberapa video. Jadi, gue punya dokumentasi kenangan bersama gerombolan corgi yang bisa gue lihat dan lihat lagi di saat perlu mood booster. 

Corgi itu yaa...ngeliat bentuk body dan gerak - geriknya aja dijamin selalu bikin senyum. Badannya panjang kayak sosis, bulu tebal, kaki pendek, dan bokongnya itu...semok banget! Walopun begitu, corgi lincah dan playful, jadi tambah lucu ngeliat gerak - geriknya. Dan di luar dugaan gue, ada beberapa corgi di sana yang 'doyan' menggonggong dengan suara keras. Dengan badannya yang super pendek itu, tapi suara gonggongannya membahana, jadi makin menggemaskan! 

Setelah 45 menit gue berakhir (ada semacam alarm pengingat waktu yang dipasang untuk setiap tamu), dengan berat hati gue pun turun menuju resepsionis sekaligus kasir. Di sana gue bisa membersihan baju dengan roller pembersih bulu. Walaupun sebenarnya hampir sia - sia, karena baju dan celana gue dipenuhi bulu akibat diserbu para corgi yang rebutan minta treat / cemilan.

Overall....gue happy banget !! Sebagai dog lover, rasanya seneng dan bersyukur banget ada cafe keren kayak gini, dan gue pasti akan balik ke sini lagi someday.

Thursday, January 28, 2021

Me & Pandemic Diary (28 January 2021)


Kamis, 28 Januari 2021. 

Kalo ngga salah ini udah memasuki bulan ke-11 pandemi Covid-19. Sayangnya, kondisi belum membaik. Bahkan, saat ini angka kasus positif bertambah secara bombastis. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah memasuki angka 1 juta, dan di dunia mencapai 100 juta kasus. 

Sejujurnya, mungkin karena belum pernah mengalami situasi seperti ini, dan pandemi ini sudah berlangsung berkepanjangan, untuk gue pribadi, perjuangan untuk menguatkan fisik, hati/perasaan dan mental, rasanya luar biasa sih. Ada saatnya gue bisa stabil, tetap optimis dan berfikir positif, tapi ada saatnya juga mental gue jatuh, bosan dan lelah dengan kondisi ini. 

Terlebih, semakin ke sini, semakin banyak orang - orang di sekeliling gue, di dekat gue, yang terkena virus ini. Setiap hal itu terjadi, di saat itulah gue serasa dikeliling awan hitam, yang bikin perasaan suram, sedih, dan putus asa. 

Selama ini gue pernah sekali dites PCR, bukan karena sukarela atau penasaran. Salah satu sahabat gue dites positif Covid-19. Sebagai close contact, gue wajib dites juga. Puji Tuhan, saat itu hasilnya negatif. Saat gue mengetahui sahabat gue itu positif, gue serasa mendapat pukulan dua kali. Pertama, gue sedih karena teman gue 'sakit' diserang si virus sadis ini. Kedua, gimana kondisi gue ya, apakah gue baik - baik saja ?

Selama masa pandemi ini gue punya beberapa cara, atau tepat juga disebut 'pelarian' untuk mengalihkan beban mental. Semakin mendekatkan diri pada Tuhan Yesus yang maha baik, pastinya yang utama. Tampak luar, mungkin gue akan terlihat baik - baik saja sepanjang waktu. Namun aslinya, sering kali dalam hati gue berteriak dan menangis mengungkapkan kegalauan, dan meminta pertolongan dan kekuatan Yesus, bagi fisik dan jiwa, bukan hanya untuk gue sendiri, juga kedua orang tua gue, suami dan keluarga gue, juga sahabat dan teman.

Kedua, quality time bersama keluarga. Buat gue, berada di rumah Mamak, melewatkan waktu bersama Mamak dan Bapak, meskipun tidak melakukan apa - apa, sudah memberikan rasa damai, nyaman, dan tenang tersendiri. 

Ketiga, membuat diri gue bertanggung jawab, dalam hal ini bukan soal pekerjaan gue di kantor. Fokus gue saat ini adalah membantu Mamak dan Bapak agar mereka tetap dalam keadaan fisik sehat dan stabil. Caranya, dengan menyediakan apapun yang 'aman' dan direkomendasikan untuk dikonsumsi bagi lansia seperti mereka. Misalnya vitamin, suplemen, madu, susu, dan lain sebagainya. Sebisa mungkin gue berusaha untuk memenuhi apapun yang mereka butuhkan. 'Kekuatan' yang gue dapatkan dari melakukan ini adalah bagaimana pun jatuh bangunnya kondisi gue, gue akan selalu diingatkan bahwa gue bertanggung jawab dan bertugas untuk menjaga mereka. Entah mengapa, feeling seperti itu, selalu bisa mengembalikan gue ke jalur yang semestinya. 

Selain itu, gue juga berusaha melakukan hal - hal yang bisa menghibur diri sendiri, dan juga menyibukkan diri sendiri juga. Merawat kucing - kucing jalanan yang ada di sekitar lingkungan rumah gue, pun, salah satu 'pelarian' yang positif. Berada di sekitar manusia dan saling berinteraksi, ngga selamanya 'sehat' untuk gue, karena semua manusia di bumi saat ini sedang dirundung kekhawatiran dan kelelahan jiwa menghadapi pandemi ini. Dunia kucing, atau pun hewan lainnya, ngga mengenal topik Covid-19 ini. 

Untuk piknik atau traveling, bukanlah menjadi pilihan pelepas stress buat gue saat ini. Entah kenapa ya....rasanya ngga akan menyenangkan aja untuk melanglang buana namun di saat yang sama harus  ekstra waspada bahkan mengkhawatirkan penularan virus Covid-19 yang bisa terjadi dimana saja, dengan cara apa saja, dari siapa saja. Apalah artinya gue traveling tapi membawa beban kuatir seperti  itu kemana - mana. Saat ini, zona aman gue hanyalah di rumah sendiri dan rumah Mamak. Nowhere else.

Blogging begini juga cara dan media gue untuk menguraikan pikiran yang kusut, yang belakangan tentunya disebabkan situasi Covid-19 ngga menentu ini.

Hmm...apalagi ya ?

Lain waktu gue update lagi mengenai perasaan dan kondisi gue, masih dalam hal berjuang menghadapi situasi ini. Take care, myself !

Wednesday, April 29, 2020

Cerita Karantina : Tontonan ala Karantina

Model : Kuningyellow

29 April 2020, hari ke 44 karantina

Selama menjalani masa work from home, atau karantina di rumah, waktu luang gue jadi segudang, yang kadang bikin membosankan. Untuk mengusir rasa bosan, gue biasanya mencari hiburan - hiburan online. Secara, pengunaan internet selama masa karantina bukan main borosnya untuk support laptop supaya bisa terkoneksi dan bisa kerja dari rumah, jadi, urusan pengeluaran internet udah ngga perlu diperhitungkan lagi. Intisarinya, internet adalah segala - galanya di masa karantina ini.

Gue ngga berminat untuk nonton serial drama atau film, karena enggan mendedikasikan waktu dan pikiran/emosi gue too much, untuk mengikuti kisah fiksi semata. Jadi di saat kebanyakan orang saat ini begitu keranjingan nonton drakor, seperti yang lagi happening sekarang, The World of The Marriednya Netflix, dan lain sebagainya, gue punya genre kesukaan sendiri. Kesukaan gue adalah program - program reality show-nya TLC yang menurut gue menarik banget dan membuka pikiran dan memberikan gambaran dan informasi seluas - luasnya mengenai kisah dan perjalanan hidup manusia di belahan dunia lainnya.

Acara - acara kesukaan gue ngga selalu dari TLC sih, ada juga dari channel - chnanel lain. Berhubung TV berlangganan gue ngga bekerja sama dengan TLC, cara gue mengakses program - program tersebut adalah melalui video - video Facebook dan juga Youtube. Ini list program kesukaan gue, yang cukup membantu gue mengusir kebosanan selama masa karantina :  

My 600-lb Life
Ini program mengenai perjuangan dan transformasi orang - orang obesitas (di Amerika Serikat) yang berat badannya mencapai 600 lb (info aja, 1 kg = 2,2 lb/pound. Jadi, 600 lb = 270 kg an) atau lebih dalam mengurangi berat badannya secara signifikan agar bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali, dan menjalani aktivitas sehari - hari dengan normal. Perjuangan mereka untuk berdiet, agar bisa mencapai target dan mendapat approval untuk menjalani prosedur bedah bariatrik maupun bedah pengurangan kelebihan kulit (pengencangan kulit pasca berkurangnya berat badan) dari dr. Nowzaradan (dokter spesialis bedah vaskuler dan bariatrik), sampai dengan bagaimana mereka berjuang untuk survived dan tetap berkomitmen dalam program penurunan berat badan, terekam dengan detil dan apa adanya, yang ngga hanya melulu soal fisik namun juga mental dan emosional mereka. Dalam video berdurasi 1 - 2 jam, gue bisa menyaksikan kisah mereka yang didokumentasikan oleh TLC selama period 1 - 2 tahun.

90 Days Fiance
Ini programnya TLC juga, reality show mengenai pasangan - pasangan warga negara Amerika Serikat dengan non Amerika Serikat yang berjuang untuk menyatukan cinta (caelahh!) mereka dalam sebuah pernikahan, dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi dengan segala perbedaan yang masing - masing pasangan miliki. 

Kenapa 90 hari ? Karena ini berhubungan dengan Visa K-1 atau Visa Tunangan, yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, yang berlaku selama 90 hari. Jadi, pasangan berwarga negara AS harus mengajukan dan mengurus Visa K-1 terlebih dahulu untuk pasangannya yang berasal dari negara lain, agar bisa masuk ke Amerika Serikat. Begitu Visa K-1 dikabulkan, dan pasangan warga negara non AS masuk dan tinggal di negara AS, keduanya memiliki waktu maksimal 90 hari untuk menikah. Jika sampai masa 90 hari berakhir dan pasangan tersebut tidak menikah, maka pasangan warga non AS harus meninggalkan AS segera. Namun jika dalam 90 hari hubungan keduanya langgeng dan berakhir dengan pernikahan, maka proses imigrasi berikutnya adalah pengajuan permanent resident atau Green Card bagi pasangan non AS. Mungkin yang bikin program ini menarik untuk gue pribadi, karena pekerjaan gue sehari - hari yang berhubungan dengan visa dan mobility. Sedikit banyak gue mendapatkan ilmu dan pencerahan mengenai visa di negara lain.

Kata kunci 'Green Card' tadi, yang bikin di sepanjang program ini, stigma 'negatif' sering diberikan kepada pasangan non AS, karena beberapa dari mereka dianggap sengaja mengincar pasangan berwarga negara AS demi mendapatkan Green Card yang merupakan tiket emas untuk bisa tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, negeri sejuta impian dan harapan, dan lain sebagainya, bagi banyak orang di seluruh dunia.

Program ini menarik banget buat gue karena sangat complicated. Kadang pasangan - pasangan tersebut kenal di online dating platform, yang bikin perjuangan mereka selama 90 hari untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri dengan perbedaan lingkungan, tradisi, budaya dan prinsip, jadi terasa dramatis banget. Ada juga kisah - kisah dimana pasangan warga AS ternyata menjadi korban scammer atau catfishing dari orang - orang iseng di belahan dunia lain yang hendak mencari keuntungan (biasanya finansial) semata. Dan tentunya urusan visa K-1 dan Green Card, kadang menjadi sumber masalah sendiri. 

Dianxi Xiaoge
Gue ngefans banget sampai subscribe channel youtubenya segala. Channel ini mengenai food youtuber, food vlogger, bernama asli Dong Meihua yang menggunakan nama alias Dianxi Xiaoge. Dianxi sendiri diambil dari nama daerah di Yunan, dan Xiaoge artinya 'adik laki-laki'. Dianxi Xiaoge mulai membuat video - video singkat untuk memperkenalkan produk - produk yang berasal dari  Yunan, diikuti dengan video masakan - masakan khas Yunan. Bahan - bahan yang digunakan untuk memasak pun didapatkan dari peternakan atau perkebunan setempat, atau bahkan dari alam liar yang terdapat di area pedesaan di Yunan. Keseluruhan content videonya, dimulai dari mengambil bahan makanan langsung dari alam, mengelolanya baik untuk disimpan untuk kemudian hari ataupun langsung dimasak, sampai dengan menikmati hasil masakan bersama keluarga besarnya, adalah tontonan paling menenangkan dan menyehatkan untuk pikiran. Bintang yang ngga kalah menarik di channel  Youtube Dianxie Xiaoge adalah Dawang, anjing Alaskan Malamute milik Dianxie yang super lucu dan menggemaskan.

Dr. Pimple Popper
Selain channel Youtube Dianxi Xiaoge, gue juga men-subscibe channel-nya dr. Sandra Lee alias dr. Pimple Popper, supaya di sela - sela kebosanan karantina, gue bisa melihat hiburan yaitu proses removal komeda atau jerawat ala dr. Pimple Popper. Sebenarnya dr. Lee  bukan hanya dokter spesialis kulit yang ahli dalam mengatasi masalah jerawat pasiennya. Di program TV dan Youtubenya, dr. Lee juga membagikan video ketika menangani operasi kista ganglion, tumor jinak, lipoma dan sebagainya. Tapi karena kebanyakan content videonya terlalu 'seram' buat gue pribadi, jadi gue pilih content - content 'ringan', yaitu pengangkatan jerawat dan komedo - komedo parah.

Tiny House Hunting dan Income Property
Kedua program ini gue ikutin di Channel Lifetime, alias masih bisa gue tonton di TV. Gue selalu tertarik dengan program - program make over rumah/propertinya AS karena buat gue, skill dan vision mereka mengenai pembangunan rumah dan design tuh kayaknya berada di level advanced banget. Buat gue yang awam ini, nontonnya jadi asyik dan sangat menarik.

Serial Drama DAAI TV
Saat gue lagi pengen nonton drama yang menentramkan pikiran, berdasarkan kisah nyata, dan inspiratif, ngga norak dan absurd, gue akan tonton channel DAAI TV. Di masa - masa pandemi Covid - 19 begini, dimana TV dan internet setiap saat dipenuhi dengan berita - berita mencekam seputar Covid - 19, terkadang gue memilih mencari kenyamanan dalam keserderhanaan serial - serial drama ala DAAI TV. Serial yang sering gue tonton misalnya Ketika Gladiol Bersemi, Menelusuri Lorong Batin, Naskah Hidupku, Mantri Super dan lainnya. 

Durasi penayangannya gak terlalu panjang, dan yang jelas setiap episodenya bukan menjual adegan - adegan dramatis picisan kayak jambak-jambakan, mata melotot yang di zoom-in/zoom-out atau semacamnya. Meskipun gue ngga mengikuti setiap episode terus - menerus dan secara urut, kapan pun pas gue nonton episode manapun, gue bisa tetap menikmati dan mengikuti jalan ceritanya. 

Listnya sebenarnya masih panjang, tapi beberapa di atas adalah yang paling sering gue tonton dan akses, dan menjadi sumber hiburan selama gue menjalani masa-masa karantina yang panjang ini.

Wednesday, December 30, 2015

Demi e-KTP Seumur Hidup....

Kali ini gue mau share cerita 'perjuangan' bikin e-KTP yang masa berlakunya 'seumur hidup'. Jadi, awalnya niat gue cuma ingin memperpanjang e-KTP, karena masa berlakunya sampai dengan 12 Januari 2016. Memang masih tahun depan....tapi masalahnya tanggal 13 - 17 Januari 2016 gue sudah punya rencana trip keluar kota, dan gue akan memerlukan KTP yang masih berlaku untuk proses check in tiket, boarding, dan lainnya di airport nanti.

Selain itu, berhubung mulai awal tahun depan gue sudah akan efektif bekerja di Jakarta (bukan Cimanggis lagi), gue rasa waktu gue (untuk cuti ngurus KTP) ngga akan sefleksibel seperti saat ini...Jadi, libur panjang akhir tahun ini gue memang banyak gunakan untuk urusan-urusan kepindahan gue....kemarin gue membereskan urusan bank, dan target berikutnya adalah urusan KTP.

Senin, 28 Desember 2015
Siang-siang gue datang ke kantor kelurahan Tanjung Barat, hanya dengan membawa KTP asli. Di sana petugas yang ada justru menyambut gue dengan wajah bingung, dan malah menyarankan gue untuk memulai proses perpanjangan KTP ketika KTP gue sudah lewat masa berlakunya. Lalu gue jelaskan tujuan gue untuk memperpanjangnya sekarang, bahwa gue akan traveling mulai tanggal 13 Januari 2016, dan gue perlu KTP yang valid untuk proses check in

Setelah gue jelaskan, sang petugas malah menyarankan untuk datang ke Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang beralamat di Jalan Radio Dalam V No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu beliau juga memberitahukan dokumen-dokumen yang harus gue lengkapi yaitu :
  1. Surat pengantar dari RT/RW tempat gue tinggal
  2. Foto kopi Kartu Keluarga
  3. KTP asli
Gue langsung lemas....dari daftar di atas, cuma KTP asli yang gue punya. Nomor 1...gue ngga ngerti cara mengurusnya...di rumah, seluruh anggota keluarga biasanya mempercayakan (baca: membebankan) urusan beginian ke Bapak. Tapi saat ini Bapak dan Mama lagi mudik..dan gue kehilangan sosok ksatria gagah berani yang biasanya membereskan urusan administrasi seperti ini. Berhubung rasanya menemukan jalan buntu, 'perjuangan' hari itu pun gue akhiri.

Selasa, 29 Desember 2015
Pagi, gue nyari-nyari file tempat Bapak biasa menyimpan dokumen-dokumen penting keluarga...mulai dari raport SD, surat babtis, dan dokumen lainnya...demi mendapatkan Kartu Keluarga. Puji Tuhan, ketemu! Berhubung Pak RT tempat gue tinggal bekerja mulai pagi sampai sore, jadi gue menunggu hingga sore untuk bisa bertemu dengan beliau. Sorenya, gue mendatangi kediaman Pak RT dan menyampaikan maksud tujuan gue. Ini sesuatu yang canggung untuk gue karena seumur-umur, dimana pun gue tinggal, ngga pernah kenal Pak RT, ngga pernah ke rumah Pak RT, dan ngga pernah berurusan apapun dengan Pak RT. 

Ketika itu Pak RT sempat menyampaikan sedikit keraguannya...menurutnya, berhubung gue pemegang e-KTP, seharusnya proses perpanjangan dimulai ketika masa berlaku KTP sudah berakhir. Tapi akhirnya Pak RT yang baik hati pun memberikan surat yang gue perlukan. 

Dari kediaman Pak RT gue langsung beranjak ke rumah Pak RW. Rasanya lebih canggung lagi.... Kalau Pak RT tadi paling tidak masih mengenal gue karena beliau mengenal Mama dan Bapak...tapi kalau Pak RW ? Gue ragu....tapi gue cuek, dan menyampaikan keperluan gue. Dengan tanpa berbasa-basi, Pak RW pun memberikan tandatangan dan stempelnya di surat yang diberikan Pak RT tadi. Dan gue meninggalkan rumah Pak RW dengan hati berbunga-bunga seraya membawa sebuah surat sakti : Surat Pengantar RT/RW. Serius deh...gue mungkin sudah mendengar namanya jutaan kali....tapi ini adalah pengalaman pertama mengurusnya dengan 'usaha' sendiri. Bangga...

Rabu, 30 Desember 2015
Gue tiba di Kantor Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil sekitar jam 07:30 pagi, diantar Gojek. Tiba di sana antrian sudah banyak, dan gue segera mengambil nomor antrian. Karena jam pelayanan belum dimulai, gue masih sempat mencari minimarket terdekat untuk membeli perbekalan persiapan mengantri nanti seperti kopi, air mineral, kacang dan roti. Selain itu gue juga sudah menyiapkan novel dan smartphone dengan batere full dan prima. Gue cuma ingin memastikan kalau harus menunggu lama nanti, gue akan senantiasa kenyang dan sibuk.

Nomor antrian gue (untuk pelayanan 'Pendaftaran Kependudukan') adalah DO040. Puji Tuhan....dari 39 orang yang seharusnya akan mendapatkan pelayanan lebih dulu dari gue, hanya sekitar 10 - 15 orang yang muncul. Begitu giliran gue tiba, gue pun datang ke meja pelayanan, dan mengatakan ke ibu petugas mengenai maksud tujuan gue. Sebelum gue selesai menjelaskan, si ibu segera memotong, "Mbak....gini ya...kalau sudah e-KTP tuh otomatis sudah (berlaku) seumur hidup...Mbak lihat deh, surat edaran nomor 18/SE/2015..." Gue bengong dan bingung...Informasi (baru) apa pula ini ?! 

Lalu gue jelaskan bahwa gue mendapatkan informasi berbeda dari Pak RT, Pak RW, bahkan kantor Kelurahan tempat gue tinggal. Dengan santai si ibu menjawab, "Belum sampai kali informasinya tuh..." Sekonyong-konyong gue pengen teriak kencang, "Salah gue???!!" Si ibu, yang nampaknya mengharapkan gue untuk segera meninggalkan meja pelayanan, demi jutaan orang lainnya yang sudah antri di belakang gue, membuka smartphonenya, mencari sesuatu di file 'galery'nya dan memperlihatkan ke gue foto surat edaran yang dimaksud. Gue ngga puas, karena gue ngga bisa membayangkan bagaimana kacaunya ketika gue tiba di airport, siap untuk check in, dan petugas mempermasalahkan KTP gue yang saat itu sudah tidak berlaku lagi. Mana mungkin gue menjelaskan ke petugas maskapai mengenai surat edaran antah - berantah itu.

Gue mencari cara lain....spontan gue bilang, "Kalau gitu, karena saya sudah jauh-jauh naik Gojek ke sini...saya mau ganti KTP baru aja...lihat nih Bu...KTP saya sudah jelek, terkelupas....saya mau ganti...masa seumur hidup saya pegang KTP kondisinya begini....." kata gue sambil menunjukkan kondisi KTP gue dengan sebelumnya secepat kilat mengelupaskan plastik pelapisnya agar kondisinya terlihat lebih buruk. Si ibu pun mempersilahkan gue ke lantai 3, tanpa memberikan gue surat pengantar apapun. Aarghh !

Di lantai 3 kondisinya tidak setertib di lantai 1 tadi...selain pemohon yang datang sudah padat, di sini tidak ada system antrian apapun. Pemohon yang datang diminta untuk menumpuk dokumennya, tanpa diverifikasi terlebih dahulu kelengkapannya, dan tanpa diberikan tanda terima. Pemohon memang diberikan secarik kertas kecil....tapi harus mengisinya sendiri, dan tanpa stempel apapun. Setelah menyerahkan seluruh dokumen (termasuk KTP asli gue), gue duduk manis di luar ruangan, membuka novel, serta menyiapkan kopi instant dan kacang. Siap menunggu.

Lama - kelamaan suasana ruangan memanas. Ada 3 orang yang bertugas melayani. Satu orang bertugas mencetak dan fokus di balik monitor komputer dan mesin printer, 2 orang bertugas membagikan KTP yang sudah tercetak, dengan memanggil nama pemilik KTP, tanpa menggunakan mike alias pengeras suara. Pengunjung yang kebanyakan tidak sabar, berkerumun di depan 'loket' yang hanya berupa meja-meja kosong, sebagai pembatas antara petugas dan pemohon. Saking padatnya, gue kesulitan untuk mendengar nama-nama yang dipanggil. Dengan terpaksa gue meninggalkan kursi yang gue duduki, dan menutup keasyikan gue membaca. Gue mendekat ke loket, supaya bisa fokus mendengar jika nama gue dipanggil nanti. 

Menjelang jam 12:00 siang gue resah dan gelisah karena nama gue ngga kunjung dipanggil. Padahal gue sudah menumpuk dokumen sejak sekitar jam 08:30 pagi tadi. Apakah gue belum memenuhi persyaratan dokumen ? Gue khawatir, karena tidak membawa surat pengantar dari Kantor Kelurahan...Gue perhatiin, hampir semua pemohon melampirkan surat pengantar (untuk mencetak KTP baru) dari Kantor Kelurahan masing-masing. Gue ingin menanyakan status dokumen gue....tapi kondisi di ruangan tersebut bisa dibilang tidak kondusif sama sekali. Tidak ada petugas yang bisa ditanya...lagian, gue sudah mulai kesal dan kecewa dengan cara mereka mendistribusikan KTP-KTP tersebut yang sangat berantakan. Tepat jam 12:00 para petugas meninggalkan ruangan untuk istirahat makan siang. Gue pun melangkah meninggalkan kantor Sudin, untuk mencari makan siang.

Pelayanan dibuka kembali sekitar jam 13:00. Di saat itu kesabaran gue udah nyaris habis. Bukan hanya gue...melainkan orang-orang yang memadati ruangan lantai 3 tersebut. Yang menyebalkan, petugas tidak menggunakan cara dan pola yang efektif untuk mendistribusikan KTP. Lepas waktu istirahat, petugas yang melayani berkurang. Kebanyakan pengunjung sudah mulai naik pitam, karena petugas tak kunjung mulai memanggil nama - nama yang KTP nya sudah selesai tercetak.

Saat itu gue berdiri di kerumunan orang di dekat meja loket. Di tengah gaduhnya suasana ruangan, gue berdoa pasrah....karena rasanya mood menunggu gue sudah lenyap...tapi gue tetap harus menunggu, karena KTP asli gue sudah ada di tumpukan dokumen. Gue ngga mungkin pulang tanpa membawa kartu pengenal apapun. 

Ketika hampir jam 14:00, si petugas pun mulai memanggil nama kembali...satu persatu nama disebutkan...dan akhirnya, nama gue !! Puji Yesus, haleluyahh!! Gue pun meraih KTP dari tangan si petugas dan meninggalkan kerumunan dengan hati bahagia maksimal. Di luar ruangan, gue menyempatkan untuk memeriksa data yang tercantum pada KTP. Benar semua, dan bagian yang paling bikin gue terpesona adalah...."Berlaku Hingga : SEUMUR HIDUP".  Siapa nyangka....niatnya cuma mau perpanjang KTP sampai 5 tahun ke depan...ternyata malah mendapatkan yang 'seumur hidup'.

Seraya meninggalkan kantor Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil tersebut, pikiran gue langsung melayang ke Bapak. Pasti Yesus yang maha baik memberikan Bapak stok kesabaran yang luar biasa berlimpah...selama ini kami sekeluarga (Mama dan lima orang anak-anaknya), ngga pernah mengerti ribetnya mengurus KTP karena 'tinggal terima beres' aja....Bapak yang mengurus semuanya hingga selesai. Sementara gue, hanya mengurus satu KTP saja sudah langsung kapok dan bersyukur karena KTP gue sudah berlaku tanpa batas waktu, artinya gue ngga perlu melewati proses seperti ini yang sangat menghabiskan waktu. 

Dari pengalaman ini, ada dua kendala yang bagi gue paling menyulitkan : Pertama, proses antrian di ruang cetak KTP di lantai 3 tadi, karena tidak ada sistem (seperti pelayanan di lantai 1 yang sudah tertib dan teratur), sehingga antrian berantakan total. Kedua, petugas yang (maaf seribu maaf...semoga ini cuma asumsi gue doang...) entah kurang berdedikasi atau berkompeten. Kendala ini gue temui bukan hanya ketika di lantai 3 tadi...tapi juga ketika di lantai 1 dan mungkin saat di Kantor Kelurahan beberapa hari lalu. Dampaknya, banyak informasi simpang siur nan membingungkan yang gue peroleh. Dampak lainnya, distribusi KTP tidak efektif dan efisien.

Oya...berhubung gue sudah pernah melakukan foto untuk e-KTP sejak beberapa tahun lalu, dan selama ini sudah memegang e-KTP, maka kali ini gue ngga perlu melakukan foto lagi. Baik foto maupun data, mengikuti record dari Kelurahan tempat gue tinggal. Jadi hari ini Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil hanya perlu mencetak ulang e-KTP gue, dan mengganti bagian data 'Berlaku Hingga'nya.

Informasi tambahan, proses perpanjangan e-KTP atau pun konversi menjadi e-KTP seumur hidup ini gratis alias tidak dipungut biaya sama sekali.

Jadi, buat yang minat mengganti -KTPnya....selamat berjuang!! 

Thursday, January 16, 2014

Birthday : Gratis Day


Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun gue. Ritualnya, gue punya hadiah untuk diri sendiri, yaitu trip bekpekeran, yang akan gue lakukan minggu depan. Namun selain itu, sebenarnya gue berniat melakukan sesuatu di luar kebiasaan, pas di hari H. Banyak tujuan, tapi lagi males merencanakannya. Jadilah gue memulai hari istimewa itu dengan santai dan tanpa rencana jelas. 

Gue ke gereja jam 6 pagi, karena ingin membuka hari istimewa dengan rasa syukur kepada Yesus yang sudah memberikan gue kehidupan, berkat & anugerah tiada henti. Selepas gereja, gue menuju Pejaten Village. Maksudnya pengen sarapan dan nraktir Ony. Tapi ternyata Pejaten Village masih tutup, dan baru buka jam 9 pagi. Biar ngga rugi - rugi amat karena musti bayar parkir, pagi itu gue makan bubur ayam di kantin karyawan yang ada di dalam lokasi Pejaten Village.

Dari Pejaten Village gue menuju sebuah salon di Pasar Minggu, pengen massage. Gue udah janji untuk memanjakan diri sendiri di hari ulang tahun. Selama dipijat, pikiran gue melayang - layang, mencari ide, apa yang akan gue lakukan selanjutnya. Harus lain dari biasanya.

Akhirnya idenya muncul : gue akan mencari restoran - restoran yang menyediakan makanan gratis bagi yang berulang tahun. Seketika gue jadi bersemangat. Meskipun hujan tiada henti dari pagi tadi, gue dan Ony mencari lokasi target pertama : restoran steak Holycow! di kawasan Kemang. Walaupun sempat kelewatan dan musti berteduh dulu di SPBU karena hujannya dahsyat, akhirnya gue tiba di Holycow! yang beralamat di Jalan Kemang Raya No. 95E, depan Bank Panin.

Gue langsung menuju meja kasir dan dengan senyum bahagia dan terlalu percaya diri nanya ke salah satu staffnya, "Mas, promo makan gratis untuk yang berulang tahun masih ada ?" Dan yang ditanyakan pun menjawab, "Masih, Mbak..." Tapi, wajahnya bingung dan bengong gitu ngeliatin gue. Gue pun penasaran.
"Kok Masnya bingung gitu mukanya ?"
"Iyah...abis Mbaknya basah gitu...." dengan sikap malu - malu.
"Khan di luar hujan, Mas..." jawab gue singkat. Sudahlah, permbicaraan ngga penting.

Gue pun langsung naik ke lantai 2. Setelah beberapa saat gue menebak - nebak si Mas Staff tadi pasti terbingung - bingung plus tersanjung, betapa besarnya tekad gue untuk menikmati hidangan steak Holycow!, sampai - sampai rela menerobos hujan badai segala. Iyalahh...gratis !

Ada 2 pilihan gratisnya : Holysteak part 1 atau part 2. Gue ngga berlama - lama perhatiin deskripsinya di buku menu, mata gue langsung tertuju pada keterangan berat masing - masing daging steak yaitu 250 gram untuk part 1 dan 450 gram untuk part 2. Dengan mantap gue langsung order Holysteak part 2 dengan saos barbeque, senilai Rp. 115,000  (belum termasuk pajak). Untuk minumnya, gue pilih yang paling murah meriah (paket gratis ngga termasuk minum): teh tawar hangat refill seharga Rp. 15,000. Steaknya besar, juicy dan lezat bukan main. Blasssss.....450 gram daging steak dan 2 cangkir teh panas, lenyap seketika....pindah ke lambung gue.

Target berikutnya adalah Loobie Lobster & Shrimps, di Jalan Gunawarman No. 32, Kebayoran Baru. Tempatnya sempit tapi ramai pengunjung. Gue dapat bangku di pojok, menghadap ke tembok. Begitu pelayan datang untuk mencatat pesanan, gue langsung sodorin pajangan menu yang ada di meja, "Saya mau yang ini, masih berlaku kan ?" sementara jari gue menunjuk tulisan : Free Lobster On Your Birthday!.

Pesanan pun dicatat, ngga lupa KTP asli gue diminta untuk diberikan ke kasir sebentar. Ngga lama, pelayannya datang lagi mengembalikan KTP gue, sambil menyodorkan sebuah bando ulang tahun yang sebenarnya (agak) norak. Sempat agak - agak malu makenya, mengingat ramainya pengunjung. Gue pastinya nampak seperti pembeli semi sinting pagi itu. Tapi menikmati makanan lezat gratis yang ada di hadapan gue, lama - lama bikin lupa ada bando boneka nangkring di kepala. Di sini, yang berulang tahun berhak menikmati paket Half Lobster senilai Rp. 65,000 (belum termasuk pajak). Selain itu, gue juga memesan minuman paling murah, Ice Lemon Tea seharga Rp. 13,000 yang disajikan di gelas berukuran jumbo.

Lobster ulang tahun...thanks, Loobie !
Bando ulang tahunnya Loobie

Ice Lemon Teanya Loobie : jumbo, segar, irit
Masih diiringi hujan yang kadang rintik kadang deras, gue dan Ony kembali ke Pejaten Village. Rencana awalnya mau nonton (kalau ada film menarik), sekalian ke counter The Body Shop karena pagi ini gue menerima sms dari The Body Shop, mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus info bahwa gue bisa mendapatkan hadiah ulang tahun dari mereka. Namun lagi - lagi kedatangan gue ke Pejaten Village yang kedua kalinya di hari itu berujung sia - sia. Pertama, ngga ada film menarik yang bisa ditonton. Kedua, gue ngga bisa mengklaim hadiah ulang tahun dari The Body Shop karena ngga membawa kartu member. Gue pun meninggalkan lokasi.

Target selanjutnya, Ayam Bakar Mas Mono di Jalan Pejaten Raya Kav. 30. Lagi - lagi, hanya dengan menunjukkan kartu sakti, KTP, gue berhak menikmati pake nasi + ayam bakar + lalap + sambal dan es teh manis, senilai kurang lebih Rp. 19,000. Gila.....saat itu belum juga jam 4 sore, tapi itu adalah acara makan gue yang keempat di hari itu.

Ronde berikutnya : Ayam Bakar Mas Mono
Abis beef steak...lalu lobster....lalu...eng...ing..eng...Ayam Bakar Mas Mono !
kenyang...puas....nyengir...
Setelah gue mengambil kartu member The Body Shop, tujuan berikut ke Pecel Lele Lela di Jalan Margonda Raya, untuk acara makan gratisan berikutnya. Onde mandeee....hari ini rasanya kayak lagi makan di restoran all you can eat. Perut gue rasanya udah full...tapi harus diisi lagi dan lagi...biar ngga rugi. Rugi melewatkan kesempatan makan gratis, maksudnya. Bedanya, kalau biasanya makanan udah disiapkan di depan mata, cukup jalan kaki beberapa langkah untuk ngambilnya, kali ini gue harus loncat ke resto - resto di area yang beda - beda. Musti nyari - nyari alamatnya dulu....hujan - hujanan pula.

Kedatangan gue di Pecel Lele Lela disambut dengan greeting khas restoran ini oleh salah satu staff yang berdiri di depan, "Selamat pagi, selamat datang di Pecel Lele Lela" (padahal gue tiba di sana sekitar jam 8 malam) yang kemudian diikuti oleh staff - staff lainnya secara kompak, "Selamat pagggiiiiii!!!" Hmmm.....rasanya jadi ngga enak. Ramah dan bersemangat banget mereka, padahal gue kesini cuma buat "nagih" makan gratisan.

Seperti di tempat - tempat sebelumnya, gue disambut oleh staf dan pelayan yang ramah yang selalu mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dengan senyum mengembang, begitu gue sodorkan KTP. Satu paket nasi + lele original + lalap + sambal + es teh manis senilai Rp. 19,000 pun tersaji di meja gue, siap menjadi santapan kelima di hari itu. 

Paket Ulang Tahun Pecel Lele Lela
f.r.e.e, Sodarah - Sodarah!
Dari Pecel Lele Lela gue menuju Margo City untuk mendapatkan hadiah ulang tahun. Di sana SPG yang ramah menyerahkan 1 botol kecil Japanese Cherry Blossom Body Lotion serta birthday voucher senilai Rp. 50,000, sambil mengucapkan "Selamat Ulang Tahun".

Cherry Blossom Body Lotion for Birthday Cherry
 Malam itu di atas ranjang, gue menghitung - hitung 'keuntungan' alias nilai traktiran yang gue nikmati hari itu sbb. :


Lumayan....baik dari segi nominal maupun pengalaman serunya. Hujan - hujanan ke sana kemari, nunjukkin KTP kemana - mana untuk membuktikan gue berulang tahun di hari itu, sekedar untuk mendapatkan makanan gratisan atau hadiah, serta mendapatkan ucapan selamat berulang tahun dari orang - orang yang baru pertama kali gue temui....Serunya lagi, seharian bisa nikmati berbagai menu berbeda mulai dari hidangan sapi, lobster, ayam, dan terakhir, lele, yang semuanya gratis, cukup dengan modal cuek (...eh, ngga tau malu.....eh, percaya diri....Ahhhh...samalah itu artinya...!) dan KTP asli. Pas banget sama prinsip bekpekeran gue : murah penting, tapi gratisan itu MAHA PENTING BANGETT !

Selamat Ulang Tahun, Ceiii....! Semoga tahun depan resto - resto baik hati kayak gini bertambah. Amen.

Thursday, October 31, 2013

Vaksinasi HPV Tahap Kedua

29 Oktober 2013. Gue kembali ke RS. Harapan Bunda untuk mendapatkan vaksinasi HPV tahap kedua. Kalau menurut anjuran Rumah Sakit, seharusnya gue kembali kemarin, 28 Oktober 2013. Tapi berhubung gue sempat lupa dan ditambah dengan jadwal dr. Rina Fajarwati yang lebih pas dengan jam pulang kantor, maka gue pilih hari Selasa, 29 Oktober 2013.

Kali ini gue santai melakukannya. Gue berangkat dari kantor menerobos hujan badai dengan naik mikrolet disambung dengan taksi, demi tiba di RS. Harapan Bunda. Sebelum berangkat gue sempat menelepon ke sana dan ternyata bisa mendaftar sekalian. Jadilah gue ada di daftar tunggu nomor 2.

Selain itu, langkah gue lebih mantap lagi karena sekarang perusahaan tempat gue bekerja sudah menyatakan bersedia untuk menanggung biaya vaksinasi HPV ini. Walaupun disertai dengan berbagai persyaratan, namun tetap saja ini berita gembira.

Seperti proses sebelumnya, vaksinasinya berlangsung kilat. Gue lebih tenang saat dr. Rina menyuntikkan cairan vaksinnya, tanpa perlu memeluk lengannya erat - erat. Setelah itu gue menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi pembayaran. Rincian biayanya : Rp. 160,000 (konsultasi dokter spesialis) ditambah Rp. 700,000 (biaya vaksinasi). Total Rp. 860,000. Gue kumpulkan semua dokumen pembayaran tersebut untuk keperluan klaim ke perusahaan.

Kemungkinan, kalau klaim ini dikabulkan oleh perusahaan, gue adalah karyawan pertama yang menggunakan benefit ini. Namun, jika pada akhirnya nanti mungkin karena kurang memenuhi syarat maka klaim gue tak terbayar, ini pun sudah gue antisipasi. 

Saat gue mantap untuk memulai tahapan vaksinasi ini, gue sudah sadar konsekuensinya, lebih tepatnya, biaya tidak sedikit yang harus gue keluarkan. Ini adalah satu kebutuhan yang termasuk kritikal, namun cukup menguras kantong. Dan kehadirannya di antara kebutuhan - kebutuhan lainnya seperti cicilan rumah, bantuan bulanan untuk Mama, arisan, cicilan logam mulia, kewajiban menabung, dan pos - pos lainnya, semakin menambah semarak dan berat beban keuangan gue. Dengan demikian, ada hal yang perlu gue korbankan. Salah satunya, harus menahan hasrat traveling sementara waktu.

Tapi setidaknya gue puas karena sudah melakukan apa yang menurut prinsip gue perlu dilakukan dan didahulukan. Masalah kesehatan harus di urutan pertama. Kemarin saat di Rumah Sakit, seorang sahabat yang mengetahui bahwa gue melakukan vaksinasi HPV ini kebetulan menelepon dan dengan santai bilang, "Mahal amat ah....Gue nanti - nanti aja deh...kalau udah nikah. Biar suami gue aja nanti yang bayarin." Gue cuma tertawa dan dalam hati bersyukur, "Untung Nyonya Sitanggang mendidik dan membesarkan gue untuk menjadi perempuan mandiri. Untuk apa gue menunggu sampai orang lain turun tangan membiayai sesuatu yang positif bagi kesehatan gue, di saat gue sendiri pun diberikan berkah dan rejeki dari Tuhan untuk bisa melakukannya sendiri.

Sampai jumpa, vaksinasi tahap ketiga tahun depan !

Saturday, October 26, 2013

N.A.S.A.R


Gue pernah berjanji...atau mungkin lebih tepat disebut bernasar, akan berjalan kaki dari kantor dan ke rumah. Janji ini sebagai bentuk kecil dari rasa syukur dan senang gue karena diterima kerja di tempat sekarang.

19 Oktober 2013. Pagi ini gue bertekad untuk mewujudkan janji itu. Gue merasa mulai terdesak karena sudah hampir setahun gue bekerja di sini, tapi belum juga gue merealisasikannya. Persiapannya nyaris ngga ada. Namun yang pasti, untuk berjalan kaki 10.2 km melewati Jalan Raya Bogor yang padat dan semrawut, paling ngga pagi ini gue sudah membawa baju, celana dan sepatu olah raga.

Tepat jam 6.30 sore, gue meninggalkan kantor. Rencana awalnya seharusnya tidak semalam ini. Hanya saja gue sempat tertahan di kantor oleh beberapa urusan pekerjaan. Gue memulai langkah dengan santai. Gue belum pernah menempuh perjalanan sekitar 10 km sekaligus, jadi harus bijak menentukan ritme jalan gue yang kadang terlalu cepat dan bersemangat. Gue gak mau kehabisan tenaga atau pegal di tengah jalan nantinya.

Belum apa - apa gue sudah harus mampir di SPBU terdekat, untuk buang air kecil. Sebelum ini, gue sudah melakukan yang bisa gue sebut 'pemetaan'. Gue mencatat dalam pikiran gue, dalam perjalanan gue nanti akan ada sekitar 4 SBPU dimana gue bisa berhenti untuk keperluan buang air kecil. Selain SPBU, gue juga memetakan pusat perbelanjaan, dan bahkan pohon beringin ! Di sepanjang jalan Raya Bogor banyak terdapat pohon - pohon beringin yang kadang ukurannya sangat besar dan raksasa.

Ada satu pohon  beringin raksasa di daerah bernama Lapan yang paling perlu gue antisipasi. Pohon itu terletak di antara kios - kios yang kebanyakan menjual perlengkapan otomotif. Batang pohonnya bahkan menempati satu buah kios di antaranya. Dahan - dahannya terbentang hingga menutupi lebih dari satu ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo. Saat mulai malam dan gelap, sosok raksasanya yang misterius itu cukup bikin gue ngeri. Terlebih, kios - kios yang ada disekitarnya akan tutup pada sore menjelang malam, dan membuat area itu menjadi sepi.

Beberapa ratus meter sebelum melalui pohon itu, gue pun menyeberang jalan. Si penakut yang ingin menaklukkan Jalan Raya Bogor ini pun hanya berani mencuri - curi pandang ke arah sosok beringin dari seberang jalan.

Sepanjang perjalanan gue memang harus beberapa kali menyeberangi jalan. Gue ingin menghindari ruas - ruas jalan yang terlalu sepi, terlalu gelap, atau kurang nyaman dan aman untuk gue lalui.

Gue terus berjalan dan berjalan. Kedua kaki gue mungkin sudah mulai pegal, tapi secara keseluruhan fisik gue masih sangat kuat. Gue sedikit takjub dengan kondisi ini, yang gue asumsinya sebagai hasil positif dari kegiatan renang yang gue lakukan hampir 3 kali dalam seminggu. Yang luput dari persiapan gue adalah, masker. Sebenarnya gue sudah siapkan masker, namun sayangnya gue tinggal begitu saja di laci meja kerja. Gue ngga nyaman pakai masker, sementara untuk perjalanan ini gue ingin mengutamakan kenyamanan semaksimal mungkin. Namun saat gue menempuh perjalanan ini, keputusan itu menjadi sedikit penyesalan. Gue terpaksa harus menghirup udara dan gas kotor yang berasal dari debu jalanan maupun knalpot. Jalan Raya Bogor memang kurang bersahabat terhadap pejalan kaki. Di beberapa bagian jalan, gue bahkan kesulitan mencari ruang untuk berjalan. Kadang gue berjalan dengan berebut ruang dengan para pengendara motor, di tengah kemacetan. Di saat - saat seperti itu rasanya paru - paru gue terisi penuh dengan asap knalpot. Sebenarnya gue bisa berhenti sejenak untuk mampir ke toko terdekat untuk membeli masker. Namun kebiasaan buruk gue saat berjalan kaki adalah sulit berhenti. Berhenti memberi kesempatan untuk fisik gue merasakan lelah dan pegal. Ini harus dihindari.

Menjelang jam 8 malam, posisi gue sudah di sekitar pabrik Khong Guan. Di dekatnya terdapat pusat belanja Naga, yang entah kenapa setiap kali gue lewat situ selalu tergoda untuk mampir dan jajan. Lalu gue mempertimbangkan untuk mencari makan malam. Seperti gue bilang tadi, gue ingin menjalani acara jalan kaki gue malam ini sesantai dan senyaman mungkin, dan gue harus menikmatinya. Kali ini gue ingin menikmati makan malam berupa sate padang yang ada di daerah Keong.

Herannya, gue ngga betah berlama - lama duduk. Jadi gue sekedar menyelesaikan makan malam gue itu, lalu dengan semangat memulai berjalan kaki lagi. Di titik itu, gue udah menemukan kenikmatan berjalan kaki di sepanjang Jalan Raya Bogor yang semrawut. Banyak hal yang bisa gue lihat dan lakukan. Seakan - akan berjalan kaki membuat gue bisa lebih dekat dengan hal - hal menarik yang selama ini tak terjangkau oleh gue. Dengan segala tantangan dan kenikmatannya, perjalanan ini jauh lebih penting dan menarik dari sekedar mencapai tujuan akhirnya.

Sejak awal perjalanan, dua kali gue berhenti karena masalah alas sepatu gue yang hampir copot. Ini adalah perpaduan antara usia pakai sepatu itu yang lumayan lama yaitu 3 tahun, dan jalan berjalan gue yang terlalu cuek dan membuat sepatu apapun yang gue pakai cenderung cepat rusak. Sempat terbersit niat untuk mampir ke toko yang menjual lem power atau semacamnya. Karena kondisi sepatu ini membuat gue terseok - seok, dan ini sangat menghambat perjalanan. Tapi tentunya lagi - lagi gue ogah berhenti. Gue bahkan enggan berhenti untuk menyelamatkan paru - paru gue dari gas beracun tadi, lalu untuk apa gue berhenti untuk sekedar urusan sepatu. Gue pun merobek paksa bagian sol yang terlepas dari sepatu. Masalah pun selesai.

Mendekati daerah Cijantung, gue memutuskan untuk tetap di ruas Jalan Raya Bogor arah Bogor. Karena setiap hari melewati jalan ini, gue sudah sangat hapal bahwa kawasan ini akan berubah menjadi tempat bisnis prostitusi gelap di malam hari. Beberapa wanita atau pria yang ingin menjadi wanita dengan pakaian agak terbuka dan dandanan seadanya akan berdiri di sepanjang trotoar atau (mungkin) menunggu pelanggan di warung - warung kecil yang ada di dekatnya, di sepanjang ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo.

Mal Cijantung pun sudah di depan mata. Gue sudah sering menempuh perjalanan Mal - Cijantung sampai ke rumah. Jadi rasanya misi perjalanan gue sudah hampir berakhir. Mama pasti sedang menunggu gue dengan was - was dan khawatir. Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, seperti biasa apabila gue membawa tas ransel Mama akan menanyakan apakah gue berencana berenang hari ini. Gue jawab, "Ngga Ma. Cei mau jalan kaki dari kantor ke rumah." Senyum semangat terukir di wajah gue. "Apaaaa ?!!!" dan gue lihat wajah Mama sedikit histeris dan berakhir dengan ekspresi dan was - was kesal. Sepertinya Mama sadar, nasihat apapun yang akan disampaikannya, gue akan tetap berjalan kaki.

Gue tiba di rumah tepat jam 9 malam. Mama menyambut kepulangan gue dengan kelegaan mendalam yang terlihat jelas di wajahnya. Bruncuz menyambut gue dengan gonggongan dan loncatan, bersemangat dan berenergi maksimal, seakan - akan sudah 20 tahun ngga berjumpa dengan gue. Ya, meskipun gue sudah kelelahan dan ingin segera mandi, kewajiban malam gue harus tetap dijalankan. Masih dengan pakaian dan sepatu olah raga lengkap, gue memasak dan menyiapkan makan malam untuk Bruncuz. Setelah beberapa saat bermain - main dengan Bruncuz di teras belakang, gue pun mandi dan naik ke ranjang.

Alamak, rasa lelah dan pegalnya menyerbu dengan ganas. Gue pun segera terlelap. Di tengah malam gue dibangunkan oleh rasa sakit di tenggorokan. Ini pastinya efek dari tidak menggunakan masker. Seluruh indra pernafasan di tubuh gue mulai menunjukkan respon atas segala macam udara kotor yang gue hirup di sepanjang perjalanan. Namun semuanya terobati dengan rasa senang dan puas yang gue rasakan. Setelah hampir setahun menunda, akhirnya gue bisa menepati nasar gue. Makasih Yesus!

Sunday, September 29, 2013

Ragu Berliku Menuju Vaksinasi Kanker Serviks

Setelah bertahun - tahun menunda dan menunda, akhirnya Sabtu (28 Sept) kemarin gue membulatkan tekad untuk melakukan vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) alias pencegah kanker serviks. Gue bilang "bertahun - tahun" karena sejauh yang gue ingat, niat untuk melakukannya udah ada sejak tahun 2008 yang lalu. Saat itu, dengan semangat menggebu - gebu dan rasa ingin tahu yang sangat dahsyat, gue berusaha mencari informasi sebanyak - banyaknya mengenai vaksinasi ini. Sejak saat itu sampai akhirnya gue memutuskan untuk vaksin, ada 2 (dua) kendala internal yang menghalangi gue untuk segera merealisasikan niat ini.

Pertama, cara berpikir yang sangat konservatif bikin gue takut untuk mendapatkan tindakan medis apapun selama ngga sedang menderita sakit. Gue takut tindakan pencegahan ini justru menjadi bumerang dan memberikan efek samping membahayakan. Ini cara berpikir yang aneh sebenarnya. Karena di sisi lain gue menganggap vaksinasi adalah cara pencegahan yang efektif. Sayangnya itu hanya gue terapkan pada anjing gue, Bruncuz. Bruncuz punya daftar vaksinasi lebih panjang dari gue. 

Kedua, harga vaksinnya yang selangit, berkisar antara Rp. 700,000 - Rp. 1,000,000/suntikan, belum termasuk biaya konsultasi dokter. Sementara untuk sepaketnya, sebanyak 3 (tiga) kali suntikan harus dilakukan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan. Untuk alasan yang kedua ini, sebenarnya gue bersikap ngga konsisten. Gue ngga pernah bersikap hemat dan perhitungan kalau itu mengenai tiket pesawat atau rencana liburan. Gue menjadwalkan liburan sekitar 3 - 4 kali setahun, yang meskipun ala backpacker, tapi tetap saja merogoh kantong. Selain itu, walaupun seadanya, gue juga menyisihkan penghasilan untuk menabung dan investasi. Tapi entah mengapa, tiap kali memikirkan kembali niat untuk vaksinasi, gue segera berusaha menguburnya dalam - dalam dengan alasan finansial. Bahkan gue sempat bertekad baru akan melakukan vaksinasi jika perusahaan tempat gue bekerja saat ini menanggung biayanya, atau paling tidak mensubsidi sebagian biayanya.

Belakangan, niat yang belum kesampaian ini kembali mengganggu ketenangan pikiran gue. Akhirnya di hari Sabtu itu gue berangkat ke Rumah Sakit Umum Pasar Rebo. Saat itu niat gue sekedar untuk mencari informasi, karena gue kurang puas dengan segudang informasi yang udah gue peroleh melalui Google. Setiap kali gue menelepon Smileybeberapa Rumah Sakit di Jakarta, hasilnya selalu mengecewakan. Telepon gue dioper - oper ke divisi yang berbeda - beda. Dan selalu berakhir dengan tanpa hasil. Gue belum pernah mendapatkan informasi tepat dari orang yang tepat pula di Rumah Sakit tersebut. Informasi yang jelas pernah gue dapatkan ketika menghubungi Yayasan Kanker Indonesia, baik yang ada di Sunter maupun Lebak Bulus. Namun soal harga selangit itu lagi - lagi mementahkan niat gue. 

Usaha lain yang gue lakukan adalah mencari program promo. Program ini pernah ditawarkan sebuah klinik melalui website agregator, dengan potongan harga lumayan. Tapi program diskon yang bombastis justru membuat gue ragu mengenai kualitas vaksinnya. Setelah sibuk browsing, sebuah klinik lainnya menawarkan diskon menggiurkan dengan menggunakan kartu kredit tertentu. Tapi lagi - lagi gue bingung dan ragu, bagaimana mungkin masalah kesehatan serius tingkat tinggi dijual obral seperti itu.Gue semakin ngga ngerti dengan diri sendiri. Dari awal gue begitu 'terganggu' dengan masalah harga yang tinggi, tapi begitu ada tawaran diskon menarik, gue justru meragukan kualitas vaksin dan kredibilitas klinik atau rumah sakitnya. Memangnya gue berharap akan ada rumah sakit sekelas Gleneagles Singapura yang akan menawarkan potongan harga  90%, gitu ? Smiley.

Kembali ke kunjungan ke RSU Pasar Rebo, begitu di meja informasi gue langsung memperoleh kepastian bahwa rumah sakit tersebut belum melayani vaksinasi HPV. Mengejutkan sekaligus mengecewakan. Bukankah penyakit kanker serviks salah satu pembunuh perempuan tertinggi di Indonesia ? Lalu kenapa rumah sakit umum ini belum melayani program (vaksinasi) pencegahannya ?

Belum puas dengan hasil pencarian gue, perjalanan pagi itu pun berlanjut ke RSU. Harapan Bunda. Yang menarik, ini adalah satu - satunya rumah sakit yang memberikan informasi jelas mengenai program vaksinasi HPV termasuk harganya melalui website resminya Smiley.

Di meja pendaftaran gue dilayani oleh petugas - petugas yang ramah dan siap membantu. Dengan keraguan mendalam gue bertanya, "Mbak, saya mau vaksin kanker serviks, bisa ?" Dalam hati gue berharap sang petugas menjawab, "Vaksinasi tidak bisa dilayani di hari Sabtu.." Namun petugas yang ramah itu justru menjawab, "Sebentar saya cek dulu Mbak, ada dokter kebidanan atau tidak." Gue kaget mendengarnya, dokter kebidanan ? Terdengar sangat menakutkan. Gue bahkan sangat jarang berurusan dengan dokter umum, dan saat ini gue akan dipertemukan dengan dokter kebidanan. 

Petugas itu pun berlalu ke dalam kantor dan gue bisa melihatnya menelepon. Dia kembali dan bilang, "Dokternya ada Mbak. Mbak mau dengan dr. Rina atau dr. Arman ?" Otak gue berpacu. Gue ngga siap untuk melangkah sejauh ini. Awalnya khan hanya untuk mencari informasi, namun sekarang gue harus memilih dokter. Dan, siapa pula dr. Rina dan dr. Arman ? Gue cuma menjawab dengan suara tertahan, "Yang perempuan aja Mbak...dokter Rina.." Gue pun dipersilahkan menuju ruang kebidanan. Astaga....ini peristiwa bersejarah yang menegangkan untuk gue. Berstatus masih lajang, belum menikah, dan melangkah menuju ruang praktek kebidanan. Rasa paniknya hampir sama seperti waktu gue pertama kali bekpekeran, sendirian, bertahun - tahun silam. Saat gue tiba di pelabuhan Harbourfront, siap menghadapi barisan petugas imigrasi Singapura. Sensasinya sama. Berjalan di lorong rumah sakit, siap menghadapi dokter spesialis kebidanan.

Di ruang yang dipenuhi banyak pasien itu, beberapa perawat menyambut gue dengan ramah. Mereka mencatat data pribadi dan mengukur tekanan darah gue. Begitu selesai, gue bertanya pada salah satu perawat, "Hasilnya apa Mbak ? Darah rendah ya ?" Hasil tekanan darah gue selama ini emang seringnya rendah, dan kali ini gue berharap hasil itu menjadi penyelamat gue. Gue berkhayal si perawat menjawab, "Darah rendah, Mbak....Mbak dilarang vaksin hari ini." Namun lagi - lagi jawabannya lain, "Normal, Mbak.." Setelah itu, gue pun dipersilahkan menunggu di antara pasien - pasien lainnya. Kehadiran gue disitu sepertinya menjadi pemandangan yang kontras, di antara para perempuan lainnya yang kebanyakan sedang mengandung, dan ditemani suami masing - masing. Gue harus menunggu sekitar sejam lebih karena panjangnya antrian. Akhirnya nama gue pun dipanggil, "Nona Cherry !" Entah apa yang ada di pikiran orang - orang yang ada di ruang itu begitu mendengar sebutan "Nona" itu.

Di dalam ruang praktek dr. Rina Fajarwati spOG., lagi - lagi gue disambut dengan keramahan ala rumah sakit ini baik oleh sang dokter maupun perawat pendampingnya. Dr. Rina tidak menggunakan jaket atau pakaian putih ala dokter, dan sejujurnya secara psikis itu menolong gue untuk mengurangi rasa takut. Dr. Rina mengatakan bahwa keputusan gue untuk vaksin sangatlah positif mengingat begitu banyaknya pasien kanker serviks yang dia layani sehari - hari. Mencegah lebih baik daripada mengobati, katanya. Yang dimaksud dengan "mencegah" karena vaksinasi ini dianjurkan dilakukan ketika belum menikah alias belum aktif secara seksual, pada usia sedini mungkin (dapat diberikan sejak usia 10 tahun).

Dari awal gue udah bilang ke dr. Rina kalau gue sangat penakut berhadapan dengan jarum suntik, vaksin, dan sejenisnya. Gue teringat waktu melakukan vaksin flu di kinik kantor beberapa bulan sebelumnya. Gue harus memeluk tangan sang dokter erat - erat demi mengurangi rasa sakitnya. Sebenarnya rasa sakitnya tidak seberapa, namun karena rasa takutnya segunung, jarum suntik secuil itu pun menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Dokter yang bersikap sangat keibuan itu pun seakan - akan bisa membaca pikiran gue dan dia bilang, "Gak sakit kok...cuma sebentar. Pegang tangan saya saja.." Dan jarum suntik itu pun mendarat di lengan kiri gue. Dr. Rina bilang efeknya lengan gue akan terasa pegal. Gue ngga masalah dengan itu, karena toh kedua lengan gue saat itu sudah sangat pegal akibat berenang sampai malam di hari sebelumnya.

Proses vaksinasi selesai, dan senyum bahagia mengembang di wajah gue. Akhirnya dengan keberanian seadanya gue bisa mewujudkan niat yang udah tertahan selama bertahun - tahun. Gue pun melangkah dengan girang ke meja kasir. Biaya yang harus gue bayar hari itu :
  1. Vaksin Cervarix (total) : Rp. 699,925
  2. Biaya dokter & administrasi : Rp. 170,000
Selain itu gue pun diberikan jadwal vaksinasi berikutnya, yaitu bulan Oktober 2013 dan Maret 2014. Dalam hati gue berjanji untuk jadwal berikutnya tidak akan membiarkan alasan apapun membuat gue ragu dan menunda proses vaksinasinya. Kesehatan gue, yang penting baik untuk saat ini maupun masa depan, harus menjadi yang utama dan prioritas.

Wednesday, September 18, 2013

Kecerobohan Dibalas Dengan Kebaikan

Minggu lalu ada pengalaman berharga untuk gue. Ceritanya, di hari Rabu (11 Sept) sepulang kantor gue berenang di Cibubur, dan pulangnya diantar oleh teman kerja sampai ke depan terminal Kampung Rambutan. Saat itu kondisi gue memang ngga fit, terlebih setelah selesai berenang dan sauna. Badan terasa semakin lemas dan kehabisan tenaga. Sampai  - sampai gue terlalu malas untuk memasukkan dompet ke dalam ransel. 

Tiba di terminal Kampung Rambutan sekitar jam 7 malam, gue pun bergegas meninggalkan mobil dan perhatian gue langsung tertuju ke Mikrolet T19 yang udah siap berangkat. Begitu gue duduk di dalam Mikrolet, gue baru menyadari telah kehilangan dompet. Gue berusaha tenang....bahkan sempat mampir untuk makan malam di Ketupat Tahu Magelang di Tanjung Barat. Pelan - pelan gue cari dompet tersebut dengan mengeluarkan seluruh isi ransel. Gak ketemu. Gue menelepon teman yang mengantar tadi, dan ternyata di mobilnya pun tak ada tanda - tanda dompet tertinggal. Sedih dan panik. Seketika gue sadar, dompet gue pasti terjatuh saat gue meninggalkan mobil karena sepanjang perjalanan dompet tersebut ada di pangkuan gue.

Selain kehilangan uang tunai, sudah terbayang pula di benak gue segala hingar bingar dan kerepotan mengurus segala macam kartu identitas yang ada di dalam dompet. Ada KTP, kartu kredit, kartu ATM, kartu Jamsostek, kartu Asuransi, kartu dana pensiun, kartu diskon, kartu member, voucher isi ulang pulsa, dll.

Tapi kepanikan gue ngga berlangsung lama....gue melanjukan makan ketupat tahu yang lezat dengan penuh semangat, sambil menelepon pihak bank untuk memblokir kartu. Selesai makan, gue berjalan kaki menuju rumah, yang jaraknya sekitar 1 km. Itu gue lakukan untuk sekedar menenangkan dan mencerahkan pikiran gue. Agar ngga terlalu fokus memikirkan nasib gue yang malang di malam itu.

Keesokan harinya gue sengaja berangkat siang. Alasannya karena badan gue sangat amat lemas, kedua, karena gue pengen mampir ke kantor Polisi terdekat untuk mengurus surat kehilangan. Gue harus mendatangi 2 kantor Polisi untuk akhirnya mendapatkan surat yang gue perlukan. Kantor Polisi yang pertama bilang komputernya sedang rusak. Akhirnya gue mendapatkan surat kehilangan tersebut di pos Polisi Gandaria. 

Gue tiba di kantor disambut dengan tatapan prihatin atasan gue yang sangat baik. Gue menceritakan perihal kehilangan dompet tersebut. Gue sempat menanyakan ke pihak HRD mengenai prosedur pengurusan kartu - kartu yang hilang. Sisa hari itu gue lalui dengan santai dan keikhlasan setinggi langit sedalam samudra. Ikhlas, kata - kata ini sebenarnya agak asing untuk gue. Di saat gue mendapat masalah, kerap kali gue menyalahkan keadaan. Namun kali ini, dengan besar hati gue mengatakan pada diri sendiri, bahwa apa yang telah terjadi karena kecerobohan gue sendiri. Dan gue harus menerima konsekuensinya. Semoga Tuhan senantiasa membuka jalan untuk gue dalam mengurus segala hal sehubungan dengan hilangnya dompet dan dokumen penting di dalamnya. Amin.

Sekitar jam 3 sore, gue menerima sms. Isinya : "Selamat sore. Ini dengan Ibu Cherry  Apa Ibu merasa kehilangan barang ? Tolong hub. ke sini sekarang." Gue langsung menyambar telepon kantor secepat kilat demi menghubungi si pengirim sms. Di seberang sana, seorang Ibu menjelaskan bagaimana Ia menemukan dompet gue. Gue mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya karena telah menemukan dompet dan menghubungi gue. Terdorong oleh rasa penasaran, gue menanyakan bagaimana Ibu yang baik tersebut bisa mengetahui nomor handphone gue. Beliau menjelaskan, nomor itu ditemukan dari tanda terima pembayaran yang ada di dompet gue. Beberapa hari sebelumnya gue memang sempat memesan wallpaper di kawasan Fatmawati. Si pemilik toko meminta gue mencantumkan nomor handphone agar bisa mengkonfirmasi apabila wallpaper pesanan gue tersedia atau tidak. Rasanya percaya ngga percaya, betapa hal kecil dan sepele pun bisa menjadi titik terang untuk hal yang lebih besar.

Sore itu, akhirnya gue bertemu dengan Ibu yang sangat jujur tersebut di Pasar Rebo. Gue diliputi rasa syukur, haru dan takjub. Betapa di kota metroplitan yang kusut dan rawan ini, masih ada sosok sederhana yang penuh keikhlasan dan kejujuran seperti Ibu itu. Siapa yang pernah menyangka, kehilangan dompet di sebuah terminal di suatu malam, dan keesokan harinya dompet itu kembali, tanpa kurang satu apapun. Sang Ibu sempat menasihati gue untuk lebih berhati - hati. Nasihat yang sama yang sebenarnya selalu dikatakan Mama, Ony dan orang - orang lain yang kadang gemas dan was - was melihat betapa cueknya gue terhadap barang - barang pribadi. Namun Ibu di hadapan gue ini baru gue kenal, dan tatapan matanya memancarkan perhatian yang sungguh - sungguh. Gue terharu.

Terima kasih Yesus, karena telah mempertemukan gue dengan Ibu yang jujur dan baik ini. Terima kasih Ibu, karena telah menunjukkan kemuliaan hatimu, semoga Tuhan membalas kebaikanmu.

Wednesday, October 17, 2012

Terima Kasih Yesus Atas Doa Yang Terjawab

Hari ini gue senang bukan main. Akhirnya, kabar yang gue tunggu - tunggu beberapa hari terakhir pun datang di siang hari. Gue diterima kerja di perusahaan yang gue idam - idamkan selama setahun terakhir ini. Istimewanya, selain seluruh prosesnya berlangsung sangat cepat, anugerah ini datangnya juga ngga disangka - sangka. 

Gue sudah mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tempat gue bekerja sejak akhir bulan lalu. Rencananya gue ingin berlibur, menenangkan dan menyenangkan diri beberapa saat, mungkin berkeliling Asia Tenggara selama beberapa minggu, lalu kembali ke Jakarta, dan mulai menata hidup lagi dengan mencari pekerjaan baru.

Ini bukan keputusan yang mudah dan bisa gue ambil dengan cepat. Banyak pertimbangan yang harus gue lalui, banyak kekhawatiran yang sering menunda keputusan gue. Namun, rasanya gue sudah terjebak dengan rutinitas bekerja yang semakin hari dipenuhi dengan stres dan tekanan. Gue senang bekerja, tapi ngga suka kalo pekerjaan membelenggu dan menekan gue. Di saat yang sama, gue dihinggapi rasa bosan bekerja. Ini mengejutkan, terlebih untuk Mama, karena selama ini anak perempuannya adalah sosok yang super aktif dan menikmati bekerja. Tapi fisik dan pikiran gue berkata lain....Gue ingin mengubah pola rutinitas gue...gue pengen bangun di siang hari....menonton televisi kapan pun gue pengen....memelihara dan bermain dengan banyak anjing...dan tentunya, liburan.

Belum genap seminggu yang lalu, gue menerima telepon dari seseorang yang gue kenal. Seseorang yang menilai kinerja kerja gue selama ini sangat positif dan menghargainya. Yang paling menarik, seseorang yang bekerja di perusahaan idaman gue. Dia sudah mendengar kabar pengunduran diri gue, dan hendak menawarkan sebuah posisi di perusahaan tempatnya bekerja. Gue cuma terkejut dan senang luar biasa.

Keesokan harinya, rangkaian perjuangan gue untuk meraih pekerjaan di perusahaan idaman pun dimulai. Wawancara demi wawancara....tes demi tes, termasuk tes kesehatan, pun gue lalui. Dan hari ini, seseorang yang baik hati itu menelepon dan bilang, "Selamat ya Cher...hasil kesehatanmu Obesitas, tapi kamu diterima kerja di sini...." Gue langsung berlari mencari arah aman untuk berbicara panjang lebar mengenai berita sukacita ini. Dia pun menutup pembicaraan dengan berkata, "Bekerjalah sehebat yang gue tahu selama ini Cher...bahkan kalau bisa lebih hebat lagi!".

Rasa bahagia dan bersyukur meluap - luap memenuhi hati gue. Gue langsung menelepon Mama. Mama adalah rekan seperjuangan gue selama pergumulan panjang beberapa waktu belakangan. Mama mendukung penuh saat gue mengundurkan diri. Mama setia mendengarkan keluh - kesah gue yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan yang terpenting, Mama selalu mendoakan gue, termasuk selama proses berusaha untuk masuk bekerja di perusahaan yang baru ini. 

Ini adalah mukzizat dari Yesus. Lagi - lagi gue dibuatNya takjub. RencanaNya di luar perkiraan dan jauh dari apa yang gue pikirkan. Gue ingin istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan, namun Yesus menentukan lain. Setiap saat gue panjatkan doa pada Yesus, agar setiap usaha gue untuk mendapatkan pekerjaan ini dilancarkan dan diberkati. Gue juga selalu berdoa Novena Tiga Salam Maria. Ini adalah doa Katolik yang gue kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar di Santo Markus. Doa yang selalu gue kumandangkan di saat gue memanjatkan permohonan - permohonan khusus....doa yang sangat menguatkan dan memberikan keyakinan bagi diri gue. 

Terima kasih Yesus...terima kasih Bunda Maria....sebuah langkah awal bagi perjuangan baru gue. Pastinya, sebuah anugerah yang sangat istimewa.

Sunday, August 26, 2012

Red Horse Bulletin

Red Horse Bulletin udah menginjak bulan keempat sejak terbitan pertamanya di bulan Mei 2012. Sayangnya, gue belum pernah sempat membaca secara lengkap dan detil isi dari newsletter khusus karyawan Santa Fe Relocation Services global ini. 

Seingat gue, gue hanya sempat 'melirik' edisi pertama Red Horse Bulletin di bulan Mei 2012 yang lalu. Itu pun karena foto gue terpampang di situ, yakni saat gue menerima hadiah iPad dari Director Santa Fe Relocation Services Indonesia. Saat itu gue penasaran apakah pose gue cukup memuaskan atau justru memalukan. Selebihnya, bahkan gue belum sempat membuka - buka setiap halaman berikutnya.
Bukan berarti rasa senang dan bangga gue memudar. Gak ada kata - kata yang bisa melukiskan perasaaan gue karena mendapat kesempatan untuk menamai newsletter ini. Newsletter ini jadi bagian tak terpisah dari gue, sampai kapan pun. Newsletter ini juga memiliki arti penting untuk mengingatkan diri pribadi, bahwa meskipun gue terkadang merasa 'kecil', namun ada kontribusi yang bisa gue berikan, yakni ide. Ide menamai newsletter yang dibaca oleh seluruh karyawan Santa Fe Relocation Services di seluruh dunia. Rasa senang juga timbul karena menulis dan membaca adalah salah satu hobi gue. Dan jika gue bisa menamai sebuah media yang berhubungan dengan urusan membaca dan menulis seperti newsletter ini, itu memberikan kesenangan khusus untuk gue.

Untuk berikutnya, gue menantang diri sendiri untuk bisa menulis dan mengirimkan artikel yang layak dimuat di newsletter ini. Sebenarnya ada sekian banyak ide melayang - layang di pikiran gue selama ini. Namun waktu dan perhatian gue, terlebih selama jam kantor, terkuras untuk urusan pekerjaan. There is a will, there is a way...suatu saat gue akan meluangkan perhatian untuk memikirkan, mengolah dan mewujudkan artikel impian tersebut. 

Tuesday, March 06, 2012

iPalistic

Hari Jumat (02 Maret 2012) yang lalu akhirnya gue menerima hadiah kuis Good 2 Great Newsletter, berupa iPad2. Rasanya ? Senang, lega, tapi dengan antusiasme yang biasa - biasa saja. Hal pertama yang terlintas di benak gue saat memegang iPad2 yang masih tersimpan rapi di dalam kardusnya ini adalah : dipakai atau dijual ?

Ini pertanyaan yang kerap terngiang - ngiang sepanjang masa penantian gue sampai menerima iPad2 ini. Gue pengen menjualnya, karena gue ngga merasa membutuhkan sebuah iPad2. Untuk urusan gadget, gue emang ngga seperti kebanyakan orang, yang cenderung berlomba - lomba untuk memiliki gadget terbaru dan tercanggih. Gue, sangat amat nyaman dan bahagia dengan Nokia seri lama yang kondisinya masih super sampai saat ini. Yang terpenting, dengan handphone ini gue masih bisa berkomunikasi dengan Mama, kapan pun dan di mana pun.

Gue ngga pernah berminat dan berniat untuk memiliki Blackberry. Saat perusahaan mendesak agar gue memiliki blackberry sebagai fasilitas kantor, gue menolak dengan berbagai cara. Alasannya, bagi gue blackberry adalah perangkat yang terlalu rumit untuk digunakan. Terlebih, gue ngga pengen membuka akses diri selebar - lebarnya, apalagi hanya untuk urusan pekerjaan.

Laptop yang gue miliki pun sejauh ini fungsinya cuma untuk menonton DVD dan diary elektronik.

Dan sekarang iPad2...gue mempertimbangkan untuk menjualnya terutama karena gue ingin membagi kebahagiaan dan kemenangan gue sama Mama. Mama sangat amat tahu antusiasme gue untuk mengikuti kuis. Kuis apapun, yang diselenggarakan oleh siapapun.

November tahun lalu, saat gue menang kuis yang diadakan oleh Air Asia Indonesia, dan memenangkan tiket wisata ke Langkawi - Malaysia, Mama turut senang. Setelah itu Mama berpesan "Lain waktu kalo kau ikutan kuis, cari yang hadiahnya barang atau uang aja ya, Cher...Jangan lha yang hadiahnya tiket jalan - jalan. Capek Mama nungguin kau nanti..." Pesan Mama bagaikan doa buat gue. Hanya 2 bulan setelah itu, kali ini gue memenangkan sebuah iPad2.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue memutuskan untuk tidak menjual iPad2 baru ini, dan menyimpannya. Gue batal menjualnya karena iPad2 ini akan selalu mengingatkan gue, tentang tak sepeser pun uang gue keluarkan untuk memilikinya...tentang antusiasme dan semangat tinggi gue untuk mengikuti kuis, yang nampaknya jadi semacam hobi....tentang keberuntungan gue memenangkannya di antara ratusan peserta kuis lainnya yang merupakan karyawan perusahaan yang tersebar di beberapa benua yang berbeda...dan pastinya tentang doa Mama yang selalu menyertai gue, bahkan dalam urusan kuis sekalipun.

Saat ini, iPadnya masih tersimpan tersegel rapi di dalam kardus. Mungkin suatu saat nanti, kalo mulai berminat menggunakannya, akan gue buka dan gunakan. Terima kasih untuk iPad2nya, Yesus...

Tuesday, February 07, 2012

And The Winners are...

Kamis yang lalu, 02 Feb 2012, sore - sore gue nerima email yang bikin hati senang luar biasa. Email yang isinya Newsletter Santa Fe dan salah satu beritanya mengumumkan bahwa gue keluar sebagai pemenang sebuah kompetisi yang diadakan oleh Santa Fe, secara global alias diikuti oleh seluruh dunia.

Kompetisinya dibuka sejak akhir tahun lalu, dan sebenarnya simpel, panitia minta ide untuk nama Newsletter khusus karyawan. Walaupun simpel, dari awal gue udah bertekad untuk ikutan. Gue emang hobi banget ikutan kuis. Di sela - sela kerjaan, gue sering browsing - browsing di internet, demi mendapat inspirasi nama Newsletter. Gue sempat bosan dan putus asa karna ngga menemukan nama yang gue sukai.

Gue emang paling serius dalam hal mencari nama yang tepat. Harus ada keterkaitan antara nama dan objek yang gue beri nama. Misalnya, gue pribadi menamakan seekor anjing Rottweiler milik Polisi Satwa dengan "Sugar". Nama ini gue berikan ke anjing yang sebenarnya bernama Gucci itu, karena dia adalah rottweiller dengan sikap termanis yang pernah gue temui. Dia ngga galak, seperti rottweiler pada umumnya. Di awal kunjungan gue ke kennel anjing - anjing dalmas (pengendalian massa), di saat para rottweiler yang lain ganas menggonggong ke arah gue, Sugar cuma diam. Dan tiba - tiba dia balas menggonggong ke arah anjing - anjing lainnya, seakan - akan ingin membela dan menumpahkan kekesalannya pada yang lain yang tidak menerima kedatangan gue dengan ramah. Kalo gue masuk ke dalam kennel pribadinya, Sugar akan menyambut dengan ekspresi riang ala anjing. Setiap kali gue meninggalkan kennel, Sugar akan dengan setia menunggu sampai gue lenyap dari jangkauan pandangannya, gak peduli saat hujan turun atau cuaca panas bukan main. Sugar, karena dia bersikap sangat manis dan setia.

Kembali ke newsletter ini, gue sibuk mencari inspirasi. Nama apa yang mempunyai arti kuat dan sangat mewakilkan Santa Fe. Banyak hal berkeliaran di benak gue. Tapi fokus gue dari awal adalah Kuda. Santa Fe memang mempunyai logo seekor kuda berwarna merah. Gue cenderung ingin menggunakan kosa kata berupa kata benda dibandingkan kata sifat. Dan akhirnya gue memutuskan memberi nama "Red Horse Bulletin".

Mungkin untuk orang lain makna "Kuda" ngga berarti banyak. Tapi buat gue yang setiap akhir minggu menghabiskan waktu dengan berinteraksi bersama kuda, mulai dari berlatih menunggang, memandikan, memberikan makan dan bermain - main dengan kuda, kata ini terdengar sangat istimewa. Untuk gue pribadi 'kuda', berarti : berani, cerdas, kuat, gagah, cepat dan bebas.

Di saat gue mempertimbangkan untuk mengajukan nama ini, pikiran gue melayang ke Samudra, kuda latihan gue, dan kuda - kuda lainnya di tempat yang sama. Betapa hidup gue beberapa waktu terakhir lebih berwarna dengan kehadiran mereka. Teman - teman berkaki empat yang sangat istimewa, dan membawa kebahagiaan tersendiri buat gue. Rasa bahagia yang bikin gue pantang mundur walaupun awalnya ditentang Mama untuk berlatih menunggang. Terima kasih Samudra, yang udah memberikan gue inspirasi.

Kemenangan ini memberikan banyak hal untuk gue. Rasa senang, bangga, lega, dan pastinya, hadiah berupa sebuah iPad. Yesus selalu paling mengerti gue dan apa yang gue butuhkan. Bukan iPad yang gue perlukan saat ini, tapi perasaan senang dan semangat yang timbul karena menang. Ini sesuatu yang gue butuhkan, supaya gue tetap semangat dan mood kerja. Yes....the winner takes it all ! Makasih Yesus....

Tuesday, July 19, 2011

Latihan Kuda ? Why Not....


Hari Sabtu - Minggu (16 - 17 Juli 2011), salah satu weekend paling spesial buat gue. Mendadak gue menemukan tempat yang sangat gue nikmatin, dimana gue bisa "bertemu" kuda - kuda dan anjing - anjing terlatih. Bahkan sejak hari Minggu itu, secara diam - diam gue ikut latihan berkuda dengan instruktur berpengalaman. Senangnya bukan main. Gue pikir selama ini cuma gajah dan anjing yang bikin gue terpesona, ternyata kuda pun, dengan sosoknya yang tangguh, lincah dan kuat, bikin gue 'jatuh hati'.

Untuk kelanjutannya, gue masih menunggu konfirmasi mengenai perijinan Latihan Berkuda gue untuk waktu mendatang, tapi pengalaman gue hari Minggu yang lalu pun, di mana gue berkesempatan menunggangi kuda gagah bernama Samudra yang sangat jinak, terlatih dan yang paling berkesan buat gue...kooperatif..benar - benar pengalaman istimewa buat gue.

Kenalan sama Samudra dulu...ngobrol...gosip...

Samudra disikat dulu...biar makin ganteng pas latihan

Untuk naek ke punggung Samudra butuh perjuangan keras...lega begitu bisa duduk di pelana

Walaupun deg - degan...pantat dan paha pegal bukan main..tapi happy bisa nunggang kuda

Latihan selesai, waktunya Samudra kembali ke kandang

Harus dimandiin dulu, supaya bersih dan ngga bisulan / luka