I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Bogor. Show all posts
Showing posts with label Bogor. Show all posts

Saturday, March 03, 2018

Review : Tom's Homestay, Bogor


2 Maret 2018.
Sejak perayaan Imlek di pertengahan Februari lalu, gue sudah merencanakan cuti untuk menghadiri festival Cap Go Meh 2018 di Bogor, yang berlangsung tanggal 2 Maret 2018 (Jumat).

Berhubung festival ini biasanya berlangsung sampai tengah malam, gue pun menyiapkan akomodasi untuk bermalam di sana. Tahun lalu, gue harus meninggalkan festival dengan segera, karena khawatir kehabisan kereta pulang. Tahun ini gue pengen puas-puasin menikmati festival tanpa khawatir urusan pulangnya.

Di Bogor, tepatnya di sekitar Jl. Surya Kencana, lokasi pusat penyelenggaraan festival Cap Go Meh, sebenarnya banyak hotel atau penginapan. Tapi gue mencari yang paling ekonomis, karena cuma buat numpang tidur doang pas tengah malam sepulang menyaksikan festival. Gue teringat, beberapa waktu yang lalu pernah kepengen ngerasain tinggal di Tom's Homestay, namanya. Dari review yang gue pernah baca, kediaman ini adalah peninggalan Dr. Ir. Soetomo, yang merupakan pendiri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Tom adalah putranya. 

Reservasi hanya bisa dilakukan melalui Airbnb. Ini adalah pertama kali gue menggunakan aplikasi ini, yang ternyata mudah ! Mudah - mudah susah juga...karena ketika gue hendak menyelesaikan pembayaran kamar sebesar Rp. 100,000 sekian, bermasalah. Jadilah gue berhasil booking dengan memilih pembayaran dengan mata uang USD, totalnya sekitar USD 8 sekian gitu deh.

Tanggal 1 Maret, Tom sudah menghubungi gue untuk janjian jam/waktu kedatangan di homestay. Tanggal 2 Maretnya gue tiba di homestay, yang beralamat di Jalan Selot No. 32 ini. Pas mencari lokasinya, dari stasiun Bogor gue berjalan kaki melalui arah Lapas Paledang, jadinya agak jauh. Padahal kalo ditempuh dari Jl. Raya Juanda, dekat banget ternyata. Gue langsung bertemu dengan Tom ketika tiba, beliau menyerahkan kunci, memperkenalkan fasilitas rumahnya. Begitu lihat rumahnya, terlebih bagian dalamnya, gue takjub. Typical rumah tua banget, peninggalan jaman Belanda gitu, berusia 60 tahunan. Dengan fondasi rumah yang tinggi banget, pintu dan jendelanya juga jaman dulu banget meskipun masih kokoh. Rumahnya luas dan memiliki banyak kamar. Dan yang lebih 'istimewa' bagian belakang rumah, berupa taman yang sangat rindang hampir menyerupai hutan.


Gue menempati sebuah kamar di bagian dalam rumah, di sebelah kamar mandi dan kamar kecil. Semua sudut dari rumah ini, vintage adanya. Meskipun gue seneng liat bangunan - bangunan tua apalagi peninggalan Belanda gitu, tapi percayalah gue sedikit ketakutan awalnya. Apalagi penerangan di setiap ruangan dibuat agak remang gitu. Menurut Tom saat itu hanya seorang turis asal Canada yang tinggal di homestay juga, dan gue 'menangkap' kayaknya Tom ngga tinggal di sini.

Begitu balik dari festival nyaris tengah malam, suasana gelap dan abis ujan, bikin gue ketakutan sebenarnya. Tapi syukurlah, begitu tiba di homestay, ada 3 orang yang sedang asyik mengobrol di halaman belakang yang mirip hutan itu. Gue berasumsi mereka adalah keluarga pemilik homestay. Oya, dari Surya Kencana ke sini bisa gue tempuh dengan berjalan kaki. Walaupun kedua kaki dan lutut gue udah mau rontok rasanya karena dieksploitasi abis-abisan demi menikmati festival tadi. 

Gue melewatkan malam dengan normal, tidur dengan nyenyaknya karena super lelah, ini melebihi perkiraan gue sendiri, dan terbangun jam 9 pagi. Abis mandi, gue sarapan. Di sini menu sarapan terbilang lengkap : ada roti dengan berbagai selai dan margarin, dan minuman teh dan kopi. Penghuni dipersilahkan untuk menyiapkan sarapan masing - masing, asalkan jangan lupa mencuci piring dan gelas kotor dengan bersih dan rapih. Oya, ada sebuah mesin toaster disediakan, jadi gue bisa menyiapkan roti super gosong favorit seperti ketika gue tinggal di hostel gitu.

Kebetulan gue sempat mengobrol dengan si turis Canada yang ternyata menghadiri festival Cap Go Meh juga semalam. Gue juga sempat menikmati roti gosong di teras belakang sambil menikmati rindangnya 'hutan' rumah tersebut. Sekonyong-konyong gue sadar....Rumah ini punya 'harta karun' tersendiri...ketenangan luar biasa! Selain 'sensasi' dibawa ke masa lampau puluhan tahun silam dengan interior rumah yang super vintage, rumah ini juga menawarkan kesunyian yang menenangkan. Caelaahhh ! 

Oya, dari segi lokasi homestay ini strategis banget, tepat di seberang Gereja GPIB Zebaoth. Jadi sebenarnya lokasinya bukan terpencil, dan berada di jalan utama. Tapi kerennya, berada di dalamnya, ngga terasa hiruk - pikuk metropolitan kota Bogor.

Wednesday, December 27, 2017

Bertamu Ke Rumah Rusa Cariu


Sabtu, 16 Desember 2017.

Akhirnya keinginan gue buat ke lokasi penangkaran rusa di Cariu, Bogor, terwujud. Yesss ! Udah lama pengen ke sana, tapi berhubung jauhnya bukan main, jadi nyerah duluan. Gue bisa membayangkan jauhnya, karena sebelumnya gue ama Ony pernah berusaha mencapai lokasinya, tapi cuma sanggup sampai Jonggol. Jadi kalau bermotor, rute (yang gue tahu) yang harus ditempuh adalah melalui Cibubur - Cileungsi - Mekarsari - Jonggol - Cariu....Cariu tuh udah deket banget sama Cianjur. Jelas khan jauhnya ? 'Touring' bermotor ke sana pasti bakal seru sekaligus melelahkan banget. Tapi rasa penasaran gue ngga akan hilang kalau belum menginjakkan kaki di sana dan bertemu para rusa penghuninya. 

Gue memang senang ke tempat - tempat piknik di mana gue bisa leluasa bertemu dan berinteraksi dengan satwa. Terlebih di saat lagi suntuk dan 'bosan' dengan rutinitas hidup sehari - hari, dimana gue bertemu berbagai manusia dengan sejuta karakter dari yang baik, tulus, nyebelin, fake, dan lain sebagainya. Gue butuh bertemu dengan teman - teman satwa untuk sekedar break dari suntuk dan stres yang harus gue rasakan setiap hari. Dengan tekad bulat kabur dari hingar bingar Jakarta, melepas penat pikiran, dan berkenalan dengan warga rusa di negeri Cariu, gue pun mantap berangkat.

Perjalanannya tuh ngga mudah....dan yang jelas, jauhhhh !! Dahsyat banget jauhnya...mungkin sebenarnya terlalu jauh untuk dijalanin pake motor. Apalagi untuk orang seusia gue yang udah bukan ABG lagi.....tssahhhh! Tantangan lainnya juga karena gue dan Ony ngga tahu lokasinya dimana, trus di beberapa titik jalannya ngga mulus. Setiap kali menepi untuk nanya arah ke orang - orang sekitar, dijawabnya, "Ohhhh....paling 5 km lagi..." Prasaan sampe nanya ke beberapa orang di lokasi berbeda, jawabannya sama. Thanks God, setelah hampir 3 jam, akhirnya sampe di lokasi dengan selamat tanpa kesasar. Oya, sebenarnya gue menikmati perjalanan tanpa ujung menuju Cariu sih, karena mulai dari Jonggol, gue bisa menikmati pemandangan alami dan indah berupa pengunungan serta area sawah nan hijau. Segar di mata !

Tiba di lokasi Penangkaran Rusa Cariu, gue membayar Rp. 25,000 untuk tiket masuk 2 orang dan parkir motor. Setelah membayar, gue pun melesat ke lokasi penangkaran rusa, dengan melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari anyaman bambu (kalo ngga salah). Sebenarnya area penangkaran tuh luas banget. Dan selain lokasi penangkaran rusanya itu sendiri, banyak spot-spot keren lainnya yang bisa dinikmati untuk sekedar duduk santai di bawah rindangnya pepohonan yang teduh disuguhi pemandangan sungai dengan volume airnya yang saat itu lumayan deras. Buat yang nyari tempat untuk refreshing yang tenang dan alami, di sini pas banget.

 
 

Tiba di lokasi penangkaran rusa gue disambut oleh 2 ekor rusa. Sepertinya rusa-rusa di sini sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, dan mungkin terbiasa untuk 'meminta' makan dari pengunjung. Jadi kebanyakan rusa - rusa ini akan mendekat dan 'menyerbu' pengunjung berharap akan mendapatkan asupan makanan langsung dari tangan pengunjung. Buat pengunjung yang hendak memberi makan, kebetulan di dekat situ ada seorang ibu yang menjual ubi sebagai makanan rusa. Mahal sih, Rp. 10,000 per bungkusnya. Sebenarnya dari rumah gue sudah menyiapkan 1 kg wortel kecil untuk diberikan ke rusa - rusa ini. Tapi akhirnya gue membeli juga 2 bungkus dagangannya si ibu, sebagai bentuk dukungan gue bagi usaha mikro dan kemajuan perekonomian Cariu... *apa sih...*

 


Dan...gue pun langsung turun dari gazebo yang disediakan di sana, dan memuaskan diri untuk 'berkenalan' dan bermain - main dengan rusa - rusa penghuni penangkaran. Saat itu ngga banyak rusa yang 'keluar' dari hutan dan menyambut pengunjung. Cuma ada sekitar 6 - 7 rusa. Asyiknya, pengunjung yang datang juga gak banyak. Sayangnya, hampir sepanjang kunjungan gue di sana disertai dengan turunnya hujan. Jadi ngga bisa leluasa bermain - main dengan satwa bertanduk ini.  Kalau hujannya tinggal rintik - rintik, gue akan meninggalkan gazebo lagi dan bermain dengan para rusa lagi. Kalau hujannya mendadak lebat, gue naik dan berteduh di gazebo. Begitu terus.....Gue dan Ony adalah pengunjung terlama di situ. Kalau pengunjung lainnya cuma turun, kasih makan, berfoto, trus pulang, kalau gue betah berjam-jam di sana. Kepikiran pulang cuma karena inget perjalanan panjang yang harus ditempuh. 

 

Walaupun belum puas dan menyimpan keinginan untuk melihat hutan lebih ke dalam demi melihat kawanan rusa yang lebih banyak, dengan langkah berat, gue pun meninggalkan Penangkaran Rusa Cariu. Kali ini perjalanannya lebih seru lagi, karena nonstop disertai hujan. Berhubung gue terlanjur terpesona dengan keindahan Cariu, gue pun memantapkan niat untuk ke sini lagi kapan - kapan, dan melanjutkan perjalanan sampai Cianjur. Yeayyy !!

Friday, June 30, 2017

Piknik Seru Ke Kawah Ratu


Kamis, 29 Juni 2017

Akhirnya hari ini gue bisa mewujudkan keinginan gue ke Kawah Ratu. Setelah perencanaan seadanya dan bantuan Usep, ranger Ciampea yang gue kenal sejak piknik ke Bukit Galau beberapa waktu yang lalu, gue menemukan jalan dan cara buat ke sana.

Gue pengen ke sana sejak beberapa lama, tapi bingung caranya. Setelah baca-baca review mengenai Kawah Ratu, kayaknya ngga mungkin untuk jalan ke sana secara mandiri, tanpa ditemani seseorang yang kenal daerahnya. Selain itu, kayaknya 'medan' ke Kawah Ratu cukup berat. Untuk tiba ke sana aja perlu trekking sekitar 2 - 3 jam. Tapi entah kenapa, gue malah jadi makin penasaran.

Gue dan Ony ketemuan Usep sekitar jam 8:30 pagi di Sekolah Pandu, Ciampea, meleset dari rencana awal yaitu 7:00 pagi. Ternyata Usep juga mengajak kenalannya yang lain, Wildan, Fitri dan Vita. Wildan adalah seorang ranger juga, sedangkan Fitri dan Vita adalah pelajar yang pengen ikutan ke Kawah Ratu. 

Perjalanan pun dimulai dengan bermotor sekitar 1 jam menuju pintu masuk Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Dari pintu masuk, ngga terlalu jauh, tibalah gue di pintu masuk Kawah Ratu. Di dekat pintu masuk terdapat hutan pinus yang dipenuhi tenda-tenda pengunjung yang berkemah di sana.

Setelah Usep menyelesaikan urusan administrasi di pos masuk, trekking pun dimulai. Awalnya jalur yang ditempuh menurut gue ngga berat-berat amat. Dengan jalur berbatu dan ngga terlalu landai, gue yang amatiran dengan kondisi fisik biasa - biasa aja ini, masih bisa menikmati perjalanan meskipun dengan keringat bercucuran. Yang bikin perjalanannya menyenangkan tuh karena udaranya sejuk dan segar, juga karena keindahan hutan yang harus gue lalui. Ditambah lagi, di sisi jalur selalu ada aliran sungai kecil yang airnya jernih dan bersih. 




Gue udah mulai kehabisan tenaga setelah perjalanan sekitar 1.5 jam. Di saat itu, jalur yang harus dilalui udah ngga sekedar bebatuan di tanah yang datar. Kadang harus melewati jalur yang menanjak, tanah yang licin, lumpur, bahkan genangan air setinggi betis. 

Setelah perjalanan yang melelahkan, dengan keringat yang membasahi seluruh badan dan baju, trus kering, trus basah lagi, gue, Ony dan teman - teman lainnya tiba di Kawah Mati 1. Begitu tiba di Kawah Mati 1, rasanya pemandangannya kontras banget dengan pemandangan hutan nan lebat yang gue lewati sebelumnya. Kawah Mati ini kayak hutan yang mati dan kering, dengan pepohonan yang sudah mati, sebagian masih berdiri tegak dan sebagian tumbang. Dengan pemandangannya yang eksotis dan suasananya yang sangat sunyi, Kawah Mati memiliki keindahan tersendiri yang belum pernah gue lihat sebelumnya.






Sejak awal Usep mengingatkan untuk menyiapkan masker penutup hidung untuk digunakan di Kawah Mati, karena bau belerang yang menyengat. Tapi sore itu ketika di sana, gue ngga merasakan bau menyengat itu, bahkan sampai lupa memakai masker. Kayaknya gue terlalu fokus dan terpana oleh keindahan di sekeliling gue.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Kawah Mati 2. Pemandangannya tetap sama, indah dan sedikit seram disaat yang bersamaan. 


 


Akhirnya, gue, Ony dan yang lainnya tiba di Kawah Ratu. Aaaahhh....senang banget rasanya ! Setelah 3 jam ber-trekking ria dan kelelahan maksimal, mata gue disuguhi pemandangan yang lebih indah lagi dan kontras dengan pemandangan yang gue lalui sebelumnya, Kawah Mati 1 dan Kawah Mati 2. Kawah Ratu lebih banyak berupa bebatuan besar, dengan kawah tebal membumbung tinggi. Keindahannya ditambah dengan sebuah sungai kecil melintas yang dasarnya berwarna putih dan air yang dari kejauhan tanpa berwarna biru toska. Eksotis banget !! Pengunjung bisa berendam dan mandi disini. Airnya cenderung hangat hingga panas. 

Gue, Ony dan yang lainnya beristirahat selama sekitar 1 jam di kawasan Kawah Ratu. Usep yang membawa kompor outdoor memasak air panas untuk membuat kopi. Dengan pemandangan terhampar di depan mata, sambil menyeruput segelas kopi dan cemilan biskuit seadanya, rasanya segala kelelahan setelah trekking tadi luluh lantah. Anyway, itu mungkin yang dirasakan Ony, yang kebagian kopi. Gue sih cuma bisa icip-icip kopinya Ony sedikit, karena ngga kebagian gelas. 
 

Gue pun menggelar matras yang dibawakan Usep, untuk duduk dan merebahkan badan, pengen beristirahat. Tapi apa daya, karena begitu terpesona dengan keindahan Kawah Ratu, rasanya sayang banget kalau gue hanya memandangi dari kejauhan. Gue dan Ony pun mulai turun dan menuju sungai untuk berfoto - foto dan main air.







Tepat jam 3 sore, gue dan yang lainnya pun meninggalkan Kawah Ratu untuk kembali ke Pos Masuk. Saat tiba di Kawah Mati 2, rintik hujan mulai turun, dan akhirnya semakin deras. Rombongan sempat berhenti di batas air minum untuk memakai jas hujan. Oya, Wildan menyebut area ini 'batas air minum' karena disini terdapat sungai dengan airnya yang bersih, jernih dan segar yang mengalir dengan derasnya. Di sinilah batas dimana pengunjung bisa mengambil persediaan air minum. Melewati batas ini, meskipun ada sungai atau aliran air lainnya, namun airnya tidak bisa dikonsumsi / diminum karena mengandung belerang.

Gue menyebutnya air kulkas, karena selain jernih juga dingin. Andaikan gue tahu dari awal, gue ngga perlu berat-berat membawa beberapa botol air minum di ransel gue, sejak dari Depok ! Dasar pemula dan amatiran....

Perjalanan pulang rasanya lebih berat dibanding ketika berangkat tadi. Karena hujan deras yang mengguyur sepanjang jalan, bikin jalur - jalur yang harus dilalui licin dan becek. Ditambah lagi karena harus bertrekking ria dengan pakaian dan ransel basah. Maklumlah, selain karena tadi telat pakai jas hujannya, jas hujan yang gue bawa juga alakadar banget, cuma terbuat dari plastik dan minimalis sehingga cuma menutupi badan gue seadanya aja. 'Perjuangan' pulang ini semakin menantang karena Wildan, yang sejak awal memimpin perjalanan rombongan kecil ini, memutuskan untuk 'tidak beristirahat' selama perjalanan. Tadi ketika berangkat, gue dan lainnya sempat berhenti 3 kali untuk beristirahat sejenak. 


Dengan tanpa istirahat dan langkah kaki yang semakin dipercepat, perjalanan pulang ditempuh dalam 2 jam saja. Gue tiba di pos masuk dengan hati puas, rasa lelah, dan pegal luar biasa di sekujur tubuh yang ngga bisa digambarkan dengan kata - kata. Dan sekonyong-konyong gue dilanda rasa lapar yang membahana. Iyalah...gue belum makan siang. Selama perjalanan sejak pagi tadi gue cuma makan roti, kacang kulit dan biskuit seadanya. 

Gue puas banget dengan perjalanan ke Kawah Ratu ini. Pertama, karena ini perjalanan yang sudah gue idam-idamkan sejak beberapa waktu belakangan. Kedua... Oh My God...Kawah Ratu indah seindah - indahnya! Ketiga, karena dalam perjalanan ini gue dan Ony bisa dibilang memaksa diri untuk melewati batas kemampuan fisik masing - masing. Awalnya gue ragu akan kemampuan fisik dan niat gue untuk bisa menempuh perjalanan yang sejak awal gue tahu akan 'berat'. Tapi ternyata gue dan Ony sanggup dan berhasil. Yes!! Makasih Yesus, untuk penyertaanMu sepanjang perjalanan, dan kesempatan menikmati keindahan ciptaanMu yang yang luar biasa. 

Monday, June 05, 2017

Curug Ciampea Yang Bikin Betah


Sabtu, 3 Juni 2017

Rencana gue hari ini adalah ke Curug Ciampea. Waktu berkunjung ke Puncak Lalana beberapa waktu yang lalu, gue dan Ony sudah janjian sama Usep, untuk mengunjungi Curug Ciampea. Usep adalah ranger yang nemenin gue dan Ony waktu ke Puncak Galau beberapa waktu sebelumnya. Gue udah ngobrol ama Usep via WA untuk merencanakan perjalanan hari ini sejak beberapa hari yang lalu. 

Gue dan Ony meninggalkan Depok menuju negeri Ciampea tercinta, sekitar jam 7 pagi. Berhubung saat ini lagi bulan puasa, gue baru sadar ternyata nyari sarapan susahnya bukan main. Jadilah gue mampir di McDonald's Bojongsari, Parung, demi menikmati menu sarapan yang sebenarnya ngga pas banget di perut.

Gue dan Ony tiba di Ciampea, tepatnya Sekolah Pandu, meeting point janjian sama Usep, hampir jam 9 pagi. Kami bertiga pun memulai perjalanan ke Curug Ciampea yang lokasinya ke arah Tenjolaya. Begitu mendengar 'Tenjolaya' gue langsung teringat Gunung Salak. Dan baru di pagi itu gue tahu bahwa lokasi curug ini ternyata di kawasan Gunung Salak. Gue girang. Entah kenapa gue selalu suka dan semangat untuk berkunjung ke Gunung Salak. Di mata gue kawasan Gunung Salak memiliki dan masih menyimpan begitu banyak lokasi dan spot yang indah dan mempesona. 

Dari jalan raya arah Leuwiliang gue dan Ony bermotor, dengan ngikutin Usep dari belakang, menuju Desa Tenjolaya, tepatnya lokasi pintu masuk Gunung Salak, selama kurang lebih 1 jam. Jujur aja, gue belum bisa mengingat rute perjalanannya, karena lumayan panjang dan berliku...kadang sampai harus menempuh jalan setapak kecil, di antara rumah - rumah warga.




Setelah tiba, memarkir motor, dan membayar uang masuk sebesar Rp. 15,000 per orang, perjalanan pun dilanjut dengan trekking selama sekitar 30 menit menuju lokasi curug. Kayaknya ini pengalaman trekking yang paling menyenangkan yang pernah gue lakukan. Pertama, saat itu cuacanya lagi cerah banget. Kedua, gue disuguhi pemandangan yang hijau dan indah berupa hutan pinus dan hamparan sawah. Ketiga, karena sepi banget. Saat itu yang ada di kawasan menuju curug hanyalah beberapa orang petani, trus gue, Ony dan Usep. Bahkan, di kawasan curug Ciampeanya hanya ada gue bertiga !! Wow....curug serasa milik bertiga kalo begini.



Begitu tiba di lokasi curug, gue terpukau dengan dahsyatnya. Keren banget....di sini bisa dibilang ada tiga curug. Yang bikin gue terpesona luar biasa tuh airnya jernih banget dan bersih. Trus, curugnya bisa dibilang aman untuk berbagai usia, karena di curug yang utama, yang paling tinggi dan deras, kedalamannya cuma sedada orang dewasa. Tiba di curug gue pun mengganti baju dan mulai nyebur untuk menikmati air jernih yang dingin dan segar banget. 

 
Setelahnya, berturut - turut gue pun berpindah ke lokasi curug yang lainnya. Kali ini meskipun ketinggiannya sama seperti yang sebelumnya, namun debit airnya gak terlalu besar. Tapi ngga mengurangi asyiknya bermain air di sini, sensasinya kayak dipijit-pijit dengan sesuatu yang agak tajam gitu.


Usep, si ranger baik hati, setia dan sabar nemenin gue dan Ony kemana - mana sambil bawa handphone gue dan berinisiatif dan siaga untuk memotret. Dia ngga ikutan nyebur karna ngga bawa baju ganti. 

Terakhir, gue mampir ke lokasi curug ketiga yang lebih nampak kayak kolam karena air terjunnya ngga terlalu tinggi dan kolamnya kecil. Setelah beberapa saat, puas mandi dan bermain air, sekaligus kedinginan sampai bikin ujung - ujung jari keriputan, gue pun bersiap untuk meninggalkan lokasi. Hmm.... Sebenarnya gue belum puas-puas amat berada di sini sih... Tempatnya tuh eksotis, tenang, dan damai banget, dijamin bikin betah berlama-lama. Lagian, kapan lagi bisa menikmati 'kemewahan' kayak begini, bercurug ria tanpa ada kehadiran pengunjung lainnya. 

Meskipun singkat, tapi gue sangat menikmati perjalanan ke Curug Ciampea ini. Ini adalah curug paling indah dan keren yang pernah gue kunjungi seumur - umur. Biarin dibilang lebay, tapi serius deh, curugnya layak disebut 'surga tersembunyi' karena keindahannya yang maksimal. Dalam hati gue berjanji untuk kembali lagi ke sini suatu saat. 

Perjalanan pulang diisi dengan obrolan seputar rencana - rencana trip berikutnya antara gue, Ony dan Usep. Begitu melewati kawasan hutan pinus bahkan kami bertiga mulai merencanakan atau untuk gue lebih tepat disebut 'berkhayal' untuk nginap di lokasi ini dengan camping atau menggunakan hammock. Hmmm...kayaknya petualang gue di Ciampea ini belum bakal berakhir...

Sunday, May 07, 2017

Berkelana Ke Puncak Lalana


6 Mei 2017. 
Gue ama Ony kembali ke Ciampea. Belakangan ini gue berdua emang hobi banget ke sini. Meskipun lumayan jauh dari Sawangan Depok, tapi berhubung penasaran untuk mengeksplorasi keindahan dan pesonanya, hampir tiap Sabtu gue ke sini. 

Kedatangan kali ini demi mencapai Puncak Lalana. Gue dan Ony meninggalkan rumah agak siangan, sekitar jam 12 an. Paginya kelar jogging pagi, gue milih lanjut tidur lagi. Setelah sempat mampir di Ampera buat makan siang, perjalanan dilanjut ke arah Parung, masih dengan rute favorit, arah Ciampea dari pertigaan Rumpin. Di tengah jalan hujan turun sederas - derasnya. Untungnya ngga berapa lama kemudian, mendekati Ciampea hujan reda, bahkan langit cerah. 

Pas tiba di jalan raya arah Leuwiliang, hujan turun lagi. Yaaaah...niat ke Puncak Lalana nyaris pupus. Gue males ngebayangin trekking menuju Puncak Galau seperti 2 minggu lalu, pas hujan. Alamakjaaann....repotnya dan capenya bukan main! Tapi berhubung hujannya ngga terlalu deras, gue dan Ony memilih nunggu beberapa saat, di SPBU Cibungbulan. Ternyata ngga lama kemudian hujan reda...yesss !...gue pun lanjut ke Pos 1 Puncak Galau.

Sebenarnya sejak tadi pagi gue udah kontak Usep, ranger yang nemenin pas ke Puncak Galau. Ternyata sore ini dia udah meninggalkan lokasi. Ranger lainnya, Yadi, menawarkan diri untuk mengantar. Awalnya gue ama Ony ngga yakin gitu...Yadi tuh masih bocah banget, anak kecil. Okelah dia ngerti jalan menuju Puncak Lalana....tapi selain itu gue butuh seseorang buat bantuin perjuangan gue trekking. Dan bocah ini terlalu mungil untuk harus menarik tangan dan menahan beban tubuh gue yang tambun ini jika diperlukan terlebih saat gue harus meniti jalan yang curam dan licin. Iseng - iseng gue nanya, "Yadi, sering ke atas ?" "Sering teh....seminggu sekali ke atas bawain sampah.." jawabnya. Ooppss...gue jadi ngerasa malu sendiri karena udah nyepelein kemampuan si ranger cilik ini.

Meskipun masih tetap ragu, gue dan Ony tetap melanjutkan perjalanan. Ragunya pertama karna saat itu udah terlalu sore untuk naik ke Puncak Galau. Alasan kedua, karena kali ini ditemani si ranger cilik, bukan Usep yang di mata gue udah berpengalaman banget.

Karena baru disiram hujan, tanah yang harus gue lalui licin dan lengket. Baru beberapa meter, tanah yang basah dan lengket udah menempel sempurna di sendal yang gue gunakan. Kondisinya ngga jadi lebih ringan dibanding pas ke Puncak Galau kalau gini. Seperti biasa, trekking gue lalui dengan penuh perjuangan, nafas ngos-ngosan, tenaga nyaris abis, dan keringat bercucuran kayak lagi mandi. Tapi, di luar dugaan gue, si ranger cilik, Yadi, gesit dan membantu banget !



Akhirnya tiba di Puncak Galau! Secara waktu, kayaknya kali ini lebih cepat. Kalau dari cape atau ngganya, sama ajalah! Mungkin setelah 50 kali ke sini baru deh gue terbiasa dan bisa bilang perjalanannya tuh ringan.

Berhubung hari sudah sore ~maklum, tadi mulai trekking aja sekitar jam 4 sore~ dari Puncak Galau, Yadi, gue dan Ony langsung menuju Puncak Lalana. Menurut Yadi, perjalanannya sekitar 10-15 menit lagi, dan medannya ngga seberat ketika menuju Puncak Galau tadi. Gue girang. Berhubung saat itu mulai gerimis, gue pun menggunakan jas hujan seadanya.

Ternyata meskipun bukan jalan terjal yang dilalui, medannya ngga mudah juga sih. Selain harus melalui hutan nan rimbun, juga bebatuan karang berukuran besar, yang kadang sempit, kadang terjal, kadang licin...Sampai sekarang gue masih bingung dan penasaran, kenapa di atas gunung begini kok ada bebatuan kayak karang begini. 


Akhirnya gue tiba di lokasi yang dinamakan Karang Gantung. Tempatnya keren...kalo bahasa alay bisa disebut 'instagramable', mungkin. Pemandangannya indah banget dilihat dari atas sini. Dan udaranya segar dan sejuk banget. Yadi, si ranger cilik, dengan gesit menjalankan perannya sebagai fotografer dan penata gaya. Walaupun belum puas di situ, tapi perjalanan harus dilanjutkan, ke Puncak Lalana, yang jaraknya cuma beberapa meter dari situ. Dan, eng..ing...eng....Puncak Lalana pun di depan mata...awesome !




Di Puncak Lalana tersedia sebuah balai yang terbuat dari bambu. Jika duduk-duduk santai di situ, sambil menikmati view yang indah terhampar sejauh mata memandang, ditambah angin sepoi - sepoi, rasanya ogah pulang. Damai dan tenang banget. Apalagi saat itu ngga ada pengunjung lain di Puncak Galau maupun Puncak Lalana. Jadi, Puncak Lalana serasa milik bertiga ajah!

Sayangnya, lagi - lagi karena hari menjelang gelap, Yadi pun mengajak untuk segera kembali ke Pos 1 Puncak Galau. Kali ini Yadi menawarkan untuk pulang menggunakan jalur Puncak Lalana, artinya, bukan dengan jalur yang sama ketika menuju Puncak Galau tadi. Seinget gue, sebelumnya Usep pernah bilang kalau jalur Puncak Lalana tuh terlalu berat, berlumpur segala, ngga cocok buat perempuan. 

Alasan Yadi, pulang melalui jalur Puncak Lalana akan lebih cepat, meskipun medannya memang lebih berat. Pertimbangan masalah waktu ini diambil karena saat itu langit sudah gelap. Untuk meyakinkan gue dan Ony, Yadi sampe wanti - wanti berjanji akan membantu gue melalui jalur trekkingnya. Gue nurut aja ama si bocah ini.

Benar aja, medan jalur Puncak Lalana ngga pernah terbayangkan di pikiran gue sebelumnya. Beberapa titik yang harus dilalui tuh udah ngga bisa dibilang terjal atau curam lagi, melainkan udah tegak lurus. Jadilah gue harus kayak orang panjat tebing aja, meraih batuan atau akar pohon apapun yang bisa gue genggam, sementara di bawah, Yadi dengan sabar ngasih petunjuk kemana kaki gue yang mana harus berpijak....Kaki kiri ke sini, teh...kaki kanannya ke sana...Awalnya gue ngga pernah menyangka jalur yang ditunjukkan Yadi bisa gue lalui. Tapi dengan bantuan moril dan tenaga dari Yadi dan Ony, ajaibnya gue bisa. Hal lainnya yang memotivasi gue untuk berjuang melalui jalur yang menantang itu adalah karena gue berada di tengah hutan antah berantah yang asing dan gelap dan pengen segera keluar dari sini. Saat itu untuk penerangan, kami bertiga mengandalkan cahaya seadanya dan senter. Yadi pake senter kepala, sedangkan Ony pake senter batu akik andalannya. Yaellaahh !

Akhirnya kami bertiga pun tiba di Pos Puncak Lalana. Legaaaaaaaa...! Begitu melewati gerbang masuk jalur Puncak Lalana, hujan lebat mendadak turun. Thanks God! Ngga kebayang kalau gue harus melalui jalur tadi yang udah cukup berat, ditambah hujan deras kayak gini. Gue dan Ony sempat beristirahat sejenak dan bersih - bersih di Pos Puncak Lalana. Saat itu seluruh tangan, kaki hingga betis, baju dan celana gue udah penuh dengan tanah. Penampilan gue nyaris kayak pekerja galian gitu. Setelah itu perjalanan dilanjut ke Pos 1 Puncak Galau, dan pulang ke rumah. 

So, malam minggu gue dan Ony kali ini diisi dengan kegiatan yang menantang dan seru abis. Plusnya, kali ini ditemani oleh ranger cilik, Yadi, yang super gesit dan kuat, di luar perkiraan gue. Bocah kelas 2 SMP ini bikin gue kagum dengan ketangguhannya bukan hanya tenaganya yang kuat yang bikin dia tampak ngga kesulitan sama sekali selama trekking, dan juga karena dia berhasil jadi pemandu yang sangat bisa diandalkan untuk gue dan Ony selama perjalanan tadi.

Akhirnyaaaa....setelah Bukit Roti, Puncak Galau dan kali ini Puncak Lalana, artinya gue dan Ony udah berkesempatan mengunjungi puncak - puncak pendakian di Gunung Kapur Ciampea ini, yang telah dibuka untuk umum. Gunung Kapur Ciampea, meskipun ngga tinggi - tinggi amat, menyimpan segudang daya tarik yang bikin gue dan Ony pengen balik lagi dan lagi. 

Thanks untuk Yadi dan Usep yang udah jadi teman perjalanan yang menyenangkan. Sampai jumpa di trip - trip lainnya!