I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label cerita karantina. Show all posts
Showing posts with label cerita karantina. Show all posts

Sunday, August 22, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (5)


 30 Juli 2021

Setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya Mama bersedia untuk dibawa ke RS PGI Cikini malam itu juga. Gue cuma bisa pasrah, di satu sisi gue sedih bukan main karena ngga bisa melihat Mama sehari - sehari selama Mama diisolasi di RS, namun di sisi lain gue lega. Jika Mama dibawa ke RS, artinya Mama berada di tempat yang paling memungkinkan untuk memberikan perawatan dan penyembuhan terbaik untuknya. Jika tetap di rumah saja, hasilnya tidak akan optimal.

Menjelang tengah malam Mama dibawa ke RS. Pardo dan Carol yang mengantarkan ke sana. Setelah serangkaian tes, Mama akhirnya ditempatkan di UGD malam itu. Ternyata Bapak juga sempat akan dirawat malam itu karena saat di-tes juga, saturasi Bapak sempat turun ke angka 94. Namun akhirnya batal, dan Bapak diijinkan pulang.

Sejak malam itu Mama dirawat di RS PGI Cikini. Mungkin itu adalah masa - masa terberat gue dan keluarga, Mama ngga pernah dirawat inap sebelumnya. Terlebih ini bukan rawat inap biasa dimana keluarga bisa berkunjung dan melihat pasien kapan pun mereka ingin. Karena ini kasus Covid-19, Mama tentunya akan dirawat di ruang isolasi. Gue semakin berat membayangkan bagaimana Mama akan menghadapi hari - harinya di sana. Gue cuma bisa pasrah dan menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan Yesus. Setiap hari gue berdoa Novena Hati Kudus Yesus dan Novena Tiga Salam Maria bersama Ony, karena hanya doalah yang memberikan gue kekuatan. 

Keesokan harinya, gue, Pardo dan Carol mulai berbagi tugas. Pardo dan Carol akan mulai tinggal di Hotel Puri Inn yang berlokasi tepat di seberang RS. PGI Cikini, agar bisa lebih 'dekat' dengan Mama dan memantau setiap perkembangan, sementara gue tetap di Tanjung Barat, karena harus memenuhi logistik sehari - hari buat yang isoman di rumah.

Mama menjalani perawatan di sana selama kurang lebih 10 hari. Perjuangan Mama untuk bisa bertahan kuat baik secara fisik dan mental pastinya luar biasa. Ngga bisa gue bayangkan, di saat Mama harus merasakan sakit di fisiknya akibat Covid-19 ini dan menjalankan setiap proses penyembuhannya, secara psikis Mama juga harus berjuang lebih kuat lagi, karena berada di sebuah bangsal isolasi yang dipenuhi oleh pasien - pasien Covid-19 lainnya pastilah berat. Apalagi ini adalah bangsal isolasi, dimana pasien tidak memiliki akses untuk bertatap muka dengan anggota keluarga. Kesehariannya, orang - orang yang Mama temui adalah sesama pasien dan tenaga nakes.

Mengenai para nakes di bangsal isolasi C, mereka bagai malaikat - malaikat yang Tuhan Yesus kirim untuk merawat dan menemani Mama selama menjalani masa penyembuhan dan isolasinya yang pasti sangat berat. Saat menceritakan mengenai kebaikan mereka, Mama begitu terharu dan seakan kehabisan kata - kata menggambarkan betapa mereka sangat sabar, lembut dan tekun dalam merawat Mama. Bukan hanya fisik Mama, mereka jugalah yang selalu memberikan semangat dan mengingatkan Mama untuk tetap kuat menjalani perawatan dan tidak drop secara mental. Mereka kerap mengingatkan, "Opung, jangan sedih, nanti anak - anaknya Opung jadi sedih..." 

Bisa dibilang para suster / perawat di bangsal isolasi C mungkin paling ingat sama anak - anaknya Mama. Karena setiap malam, Pardo dan Carol akan menuju bangsal C ini untuk menemui suster/perawat, atau dokter (jika sedang ada dan memungkinkan untuk ditemui) untuk mendapatkan update mengenai kondisi Mama. Selain menanyakan kondisi Mama, mereka juga akan meminta tolong kepada suster agar membantu Mama agar bisa mengisi batere handphonenya. 

Meskipun mereka sangat sibuk karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang berdatangan setiap hari tanpa memandang waktu, namun sebisa mungkin para nakes ini berusaha membantu dan memenuhi keperluan para pasien. Mama tidak terlalu mengingat nama - nama suster dan perawat di sana, tapi dia mengingat nama Suster Nova. Gue begitu terharu dan bersyukur dengan kebaikan para nakes di RS ini, terlebih di bangsal isolasi Mama. Setiap malam gue mendoakan mereka agar kiranya Tuhan Yesus melindungi dan memberkati mereka dengan kesehatan dan sukacita, terlebih dalam mereka menjalankan pekerjaan mereka sehari - hari yang sangat beresiko.

Terkadang Mama menyampaikan keinginannya untuk menikmati makanan tertentu. Misalnya jus apel. Ketika ada keinginan seperti ini, gue langsung bersemangat untuk bikin jus apel, dan mengirimkannya melalui Gosend secepat mungkin. Di lain waktu Mama tiba - tiba pengen makan ikan teri dan meminta langsung ke Natulang Jogi, dan langsung disiapkan dan dikirimkan ke RS (terima kasih Nantulang yang begitu baik). Pardo dan Carol akan memantau sesering mungkin, apabila Mama membutuhkan sesuatu agar bisa segera terpenuhi.

Setiap malam biasanya keluarga gue akan melakukan video call, untuk bisa saling memberi kabar dan update, dan berdoa bersama. Keluarga kami mungkin saat itu sedang menghadapi masa - masa terberatnya, namun nyata banget kuasa dan kebaikan Tuhan Yesus, yang tidak pernah meninggalkan kami, dan memimpin keluarga kami menghadapi situasi itu. Tuhan Yesus semakin menyatukan kami, hingga kami semakin sehati dan kompak bergotong - royong agar beban yang kami rasakan saat itu bisa terasa lebih ringan. 

Friday, July 30, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (4)

 
30 Juli 2021

Udah beberapa hari ini gue ngga ngeblog mengenai kondisi di keluarga dan rumah Mamak. Kemarin - kemarin ngga sempat ngeblog karena situasinya kurang mengenakkan, ngga tenang, dan sangat menguras pikiran dan energi gue. Dan di saat berada di posisi 'terendah' seperti itu, bukan saat nyaman untuk gue mengungkapkan sesuatu di blog. 

Di blog sebelumnya gue sempat bilang kalau kondisi sudah mulai aman dan stabil, karena semua yang sedang isoman di rumah Mama, sudah mendapatkan obat - obatan masing - masing. Jadi gue berpikir, proses isoman akan lancar. Untuk tabung oksigen, kebetulan sudah ada satu tabung yang Anggi pinjam dari teman dekat di gereja. 

Namun ternyata kondisi belum benar - benar 'aman'. Di tiga hari pertama Mama isoman, Mama tidur terus menerus. Hal ini membuat Mama ngga ada waktu untuk makan, minum, atau berjemur. Padahal ketiga hal ini sangat dibutuhkan dan harus dilakukan agar kondisi gejala Mama yang awalnya ringan, tidak menjadi lebih berat. Menurut orang - orang di rumah, sulit sekali membangunkan Mama. 

Situasi seperti ini yang bikin tertekan buat gue, Carol dan Pardo yang cuma bisa menunggu dan memantau dari luar. Mungkin karena masing - masing yang isoman di dalam rumah juga sedang bergumul dengan kondisi mereka, baik secara fisik maupun mental, jadi ngga ada yang benar - benar bisa fokus memaksa Mama untuk bangun, makan, minum dan berjemur.

Di hari Sabtu (24 Juli) gue sekeluarga melakukan video call, dan di situ gue bisa lihat dengan jelas, meskipun Mama sudah dibangunkan namun Mama seperti 'teler' entah karena sudah terlalu lama tertidur, atau menahan kantuk yang luar biasa. Untuk saturasi, tetap selalu dipantau dan sampai saat itu masih normal, di angka 95 atau di atasnya.

Di hari Minggu pagi gue ke rumah Mama, karena ingin melihat Mama dan mengajaknya ngobrol. Sejujurnya gue sedih melihat kondisi Mama semalam saat video call. Meskipun mengobrol dari kejauhan, gue sangat bahagia melihat Mama bisa terbangun, duduk, sambil menjawab pertanyaan - pertanyaan gue. Gue sengaja melontarkan pertanyaan - pertanyaan ringan ke Mama, karena ingin melihat apakah Mama merespon dengan baik atau tidak. Ternyata cukup baik.

Minggu pagi itu, Mama dan Bapak dibawa ke laboratorium Prodia, untuk melakukan beberapa tes, termasuk D-dimer. Kebanyakan hasilnya baru akan keluar di hari Senin. Di sore hari, kami mendatangkan home care doctor untuk memeriksa kondisi Mama. Di sinilah kehebohan dimulai. Tujuan kami memanggil dokter adalah agar Mama bisa mulai diinfus, mengingat inilah satu - satunya cara Mama tetap mendapatkan asupan cairan. Namun tiba - tiba gue mendapat pesan untuk mencari selang NRM. Lohh....buat apa ? Memangnya Mama harus disupport oksigen ? Ternyata saat pemeriksaan oleh dokter, saturasi Mama turun di angka 92, bahkan sempat di angka 80an. Gue panik luar biasa, dan bareng Ony langsung meninggalkan rumah demi mencari selang tersebut.

Gue menyusuri apotik dan Rumah Sakit yang ada mulai dari area Pasar Minggu sampai dengan Pancoran, tidak ada yang menjual selang ini. Puji Tuhan, gue bisa mendapatkannya di Siloam Hospitals Asri di daerah Duren Tiga. Gue pun langsung ke rumah Mama. Dari jendela kamar Mama, gue bisa melihat Mama sudah diinfus dan menggunakan oksigen. Hati gue retak banget melihatnya. 

Gue langsung berpikir, bagaimana cara mendapatkan ekstra tabung oksigen untuk backup tabung yang ada saat ini, yang paling hanya bisa support maksimal selama 4 jam. Gue langsung terpikir untuk ke tempat pengisian oksigen yang ada di dekat Gedung Aneka Tambang. Ternyata pemiliknya memiliki stok satu buah tabung oksigen, dan gue pun membelinya seharga Rp. 2 juta. Saat itu gue ngga mau berpikir panjang, yang penting Mama punya cukup stok oksigen!

Di saat bersamaan Carol juga sedang mengambil pinjaman tabung oksigen dari rumah sahabatnya. Jadi di malam itu, setidaknya ada 3 tabung oksigen standby untuk support Mama. Namun meskipun saturasi Mama stabil setelah menggunakan oksigen, salah satu sepupu yang merupakan seorang dokter dan telah memantau kondisi Mama sejak awal terkonfirmasi positif Covid-19, dr. Anggun (Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati Anggun yang tidak sangat baik dan mencurahkan perhatiannya untuk proses perawatan Mama), tetap mengharapkan Mama dibawa ke UGD Rumah Sakit PGI Cikini malam itu juga. 

Begitu rencana itu disampaikan ke Mama, Mama menolak mentah - mentah. Mama ngga suka ke rumah sakit. Zona nyaman Mama hanyalah di rumahnya sendiri. Mama pasti ngga bisa tidur jika bukan berada di rumah sendiri. 

Di saat yang lainnya berusaha membujuk Mama, gue dan Ony ke daerah Pekayon untuk mengisi ulang tabung oksigen yang Mama pakai sejak sore tadi. Dua kali gue ke sana, karena juga harus mengisi tabung oksigen pinjaman dari sahabat Carol. Meskipun sudah ada rencana untuk membawa Mama ke rumah sakit malam itu, tapi buat gue, segala antisipasi tetap harus dilakukan. Dengan adanya tiga tabung oksigen dalam keadaan ready to use, bikin hati ini lebih tenang (lanjut di blog berikutnya).

Friday, July 23, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (3)


23 Juli 2021

Memasuki akhir pekan di minggu ini, minggu dimana huru-hara Covid-19 menimpa keluarga gue tercinta.

Situasi per saat gue mengetik blog ini, aman terkendali. Ada beberapa perkembangan, dan hal itu bikin gue cukup happy dan lega. Semalem lagi - lagi gue terbangun dari tidur gue, sekitar jam 1 dini hari. Belakangan ini setiap kali gue terbangun, hal pertama yang gue cek adalah WA group keluarga. Ternyata sudah panjang lebar. Masalah kali ini adalah Mama yang sangat ngga bernafsu makan, dan kebanyakan tidur sepanjang hari. Yang menjadi kekhawatiran kami adalah asupan makan dan minum Mama jika sepanjang waktunya dilalui dengan tidur. Menurut Anggi, meskipun Mama sudah ngga muntah lagi, namun setiap diberi makan, Mama paling cuma bisa menghabiskan 2 - 3 sendok. 

Carol sempat berkonsultasi dengan dokter sahabatnya, dan menurut sang dokter kondisi Mama seperti itu harus diobservasi selama 2 - 3 hari. Jika terus seperti itu, terpaksa Mama harus dirawat inap. Inilah pesan - pesan yang ada di group WA tersendiri yang isinya gue, Pardo dan Carol. Seketika gue langsung gelisah dan tegang. Gue ngga mau Mama dirawat inap ! Kalau Mama dirawat inap, gue ngga bisa melihat Mama sehari - hari. Dalam kondisi saat ini gue masih bisa memandang Mama dari kejauhan, ketika mengantar logistik, mengambil sampah dan lain - lain. Walaupun gue sadar banget bahwa setiap kali gue ada keperluan untuk mengantar / ambil sesuatu dari teras rumah, gue harus melakukannya dan meninggalkan rumah secepat kilat, tapi gue selalu menyempatkan diri memandang ke arah jendela kamar Mama, dan melihat Mama sedang tertidur di ranjangnya, walaupun hanya beberapa detik. Meskipun gue tahu Mama tidur, gue selalu bilang, "Halo Mama, semangat ya, biar cepat sembuh".

Gue pun membangunkan Ony, dan kami memanjatkan doa Bapa Kami dan Novena Tiga Salam Maria. Setelah itu meskipun gue tetap terjaga, namun hati gue lebih tenang.

Di pagi harinya gue mendapatkan kabar gembira dari Carol yang bilang sudah menelepon Mama, dan memberikan semangat panjang lebar kepada Mama. Mama menjadi termotivasi untuk 'bangkit' setelah mengetahui bahwa gejala ringan yang saat ini Mama alami, bisa meningkat jadi gejala berat jika pola makan dan minum Mama seperti saat ini. Dan bahwa kondisi Mama akan lebih baik jika Mama juga rajin berjemur. Jika kondisi Mama memburuk, maka Mama terpaksa harus dirawat inap. 

Mama pun langsung menunjukkan lagi semangat sembuh dan sehatnya. Gue girang bukan main. Karena Nyonya Sitanggang alias Mama yang gue kenal adalah pejuang yang selalu semangat melawan sakitnya. Mama selalu bisa memaksakan dirinya makan meskipun sedang dalam keadaan sakit, dan juga rajin mengkonsumsi apapun yang menurutnya baik buat kesehatannya, meskipun rasanya tidak enak sekalipun. Namun semangat itu hilang sejak Mama terkonfirmasi positif Covid-19. Dan gue sedih banget.

Tapi di pagi ini Mama bahkan sudah meminta sarapan bubur ayam. Gue pun langsung bersemangat untuk ke restoran bubur Acongs langganan keluarga kami, dan memesan sarapan untuk seisi rumah Mama.

Beberapa saat kemudian, Anggi mengirim foto - foto mereka sedang berjemur, termasuk Mama. Aahhh....senangnya, puji Tuhan ! Karena Anggi info kalau pesanan juicer gue sudah tiba, gue pun ke rumah Mama untuk mengambil pesanan juicer gue itu, tentunya dengan saling berjauhan dengan mereka yang sedang berjemur.

Juicer ini gue beli supaya bisa menyediakan jus buah dan sayuran untuk Mama dan yang lainnya. Gue sudah punya segudang buah dan sayuran dari yang gue beli dan juga dari Nantulang Jogi. Tapi karena saking bersemangatnya, gue mampir ke Naga untuk membeli brokoli, timun dan wortel. Siang tadi, gue menyiapkan 4 botol jus campuran pepaya, brokoli dan wortel. Ada sebersit perasaan haru tadi pas berjibaku dengan juicer yang memang baru pertama kali gue gunakan. Biasanya Bapak yang menyiapkan jus untuk gue sekeluarga. Bapak adalah the King of Juice di keluarga gue. Aneh juga....ternyata baru kali ini gue menyiapkan jus untuk Bapak, dan yang lainnya. 

Kabar gembira lainnya adalah obat isoman untuk Rico dan Anggi dari Kemenkes tiba hari ini ! Woww...! Padahal kemarin gue membaca banyak banget pemberitaan mengenai segudang keluhan para pasien Covid-19 yang tidak kunjung menerima obat - obatan mereka meskipun sudah menunggu beberapa lama. Saran gue buat pasien Covid-19 yang masih menunggu obat isomannya, segera kontak Halo Kemenkes melalui WA di nomor +62 812-1230-5515. Karena jalur ini responnya cepat banget dan memberikan solusi. Jika dihitung - hitung obat isoman ini diterima dalam waktu kurang dari 48 jam sejak Anggi melakukan langkah 'tebus obat', sesuai dengan petunjuk Kemenkes. Udah gitu, informatif banget, bahkan nama jasa kurirnya dan nomor resinya pun dikasih tahu, jadi kita bisa track. Gue sangat menghargai dan berterima kasih ke Pemerintah RI dengan bantuan ini. 

Well, untuk gue sendiri di minggu pertama sejak konfirmasi positif Covid-19 Mama dan yang lainnya, hidup terasa seperti roller coaster. Tapi Tuhan Yesus baik banget, sepertinya gue sudah menerima kondisi ini dan merasakan bahwa semua ini sudah seperti rutinitas baru buat gue. Meskipun gue kurang suka bagian dimana gue mendengar kabar kurang 'mengenakkan' mengenai kondisi di rumah, terutama Mama, dan dalam sekejap membuat syaraf gue terasa tegang, tapi hal itu ngga terhindarkan. Ini pengalaman baru buat gue, berhadapan dengan situasi seperti ini, dimana dalam waktu bersamaan, lima orang yang paling gue cintai dan paling penting dalam hidup gue, sakit dalam waktu bersamaan. Bukan sakit yang sederhana dan ringan. Penyakit yang seluruh dunia saat ini sedang hadapi dengan serius. Penyakit yang resikonya bisa mengerikan. 

Puji Tuhan kondisi gue saat ini memungkinkan untuk fokus mengurus anggota keluarga. Gue sudah mengambil cuti dari kantor, dan Puji Tuhan gue memiliki bos yang super baik, pengertian dan berempati tinggi. Begitu gue ceritakan kondisi keluarga gue hari Selasa (20 Juli 2021) yang lalu, pesan Pak Mike cuma satu : agar gue fokus pada kesehatan keluarga dan diri sendiri. Jangan ada secuil pun memikirkan pekerjaan. Di minggu ini gue sering menangis diam - diam, karena menghadapi situasi ini. Tapi gue bukan hanya menangis di saat gelisah dan khawatir dengan kondisi Mama dan yang lainnya. Namun seringkali juga gue menangis karena begitu terharu dengan kebaikan dan empati orang - orang kepada gue.  

Seperti gue bilang tadi, rutinitas gue pun baru. Saat ini gue lagi ngga memungkinkan untuk jalan pagi sambil melakukan aktivitas street feeding. Karena di pagi hari biasanya gue mengantarkan sarapan ke rumah Mama. Dalam sehari gue bisa 4 - 5 kali ke rumah Mama, mengantarkan logistik, diakhiri dengan mengambil sampah di malam hari. Aktivitas ekstra lainnya yang gue lakukan adalah mandi dan mencuci baju. Jadi, setiap pulang dari rumah Mama, gue akan mandi dan mencuci seluruh baju yang gue gunakan, termasuk tas kain yang gue pakai ketika kesana, sekedar antisipasi untuk menghindari resiko terpapar virus yang sama. Lelah ? Iyahhh....tapi perjuangan gue ngga seberapa dibanding dengan perjuangan Mama dan yang lainnya dalam menghadapi sakit mereka. Menurut gue penyakit ini bukan hanya menyerang fisik, namun juga psikis penderitanya.

Perjuangan belum berakhir, dan bahkan terasa belum dalam kondisi stabil. Karena itu ngga ada putus - putusnya gue berdoa memohon berkat dan belas kasih Tuhan Yesus untuk keluarga gue yang saat ini sedang mengalami pergumulan berat menghadapi situasi Covid-19 ini. Terima kasih, Yesus.

Thursday, July 22, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (2)

 22 Juli 2021

Kemarin beban (terutama psikis) yang gue rasakan, banyak berkurang. Tuhan Yesus memberikan banyak perkembangan dan jalan terbuka untuk situasi yang keluarga gue sedang hadapi. Di pagi hari Mama dan Bapak diantar oleh Pardo dan Carol (menggunakan mobil berbeda) ke RS Siloam TB. Simatupang untuk menjalani beberapa tes untuk mengetahui kondisi tubuh mereka secara detail, agar bisa diberikan obat - obatan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing - masing. 

Untuk Rico dan Anggi, kami melakukan approach ke Puskemas. Kebetulan domisili Rico dan Anggi berbeda, jadi kami berbagi tugas. Tito mengurus pelaporan dan permintaan obat isoman Anggi di Puskesmas Srengseng Sawah, sementara gue dan Ony ke Puskesmas Tanjung Barat untuk mewakili Rico.

Di Puskesmas Tanjung Barat, gue ditemui oleh petugas bernama Ibu Tiwi yang sangat baik dan responsif. Gue melaporkan situasi Rico, memberikan detail informasi (nomor kontak, dll), dan juga gue sampaikan bahwa selain Rico, di dalam satu rumah yang sama, ada anggota keluarga lainnya yang sedang menjalani isoman. Ibu Tiwi mengatakan nanti petugas Puskemas akan menghubungi Rico, dan setelah itu obat - obatan yang diperlukan akan diberikan.

Gue sempat ke Apotik Roxy untuk membeli alat suntikan (tanpa jarum) dan transofix (pembuka ampul NaCl), karena gue mau mengajarkan Anggi cara mencuci hidung. Gue sudah melakukan kebiasaan mencuci hidung selama beberapa tahun terakhir, direkomendasikan oleh salah satu dokter di RS THT Proklamasi saat gue berobat karena masalah alergi debu. Di saat ini, segala action yang berpotensi membantu proses isoman dan penyembuhan, seberapa besar/kecil dampaknya, harus dilakukan. Sore harinya gue ke rumah untuk mengajarkan Anggi cara mencuci hidung, dengan posisi berdiri saling berjauhan, di taman rumah Mama.

Kemarin, Nantulang Jogi (Condet) mengirimkan segudang makanan (untuk makan siang dan malam), dan buah - buahan, yang diberikan melalui Pardo. Nantulang mengatakan akan menyiapkan dan mengirimkan makanan selama seminggu ke depan. Luar biasa wujud bantuan Tuhan Yesus yang datang dari berbagai pihak dalam berbagai bentuk. Entah bagaimana membalas kebaikan Nantulang sekeluarga. Rasanya terharu banget.

Di siang hari, hasil tes Mama dan Bapak keluar. Kondisi Mama secara umum baik, dan gejala ringan. Untuk Bapak, CRP atau C-reactive protein-nya agak tinggi, dan ada sedikit kabut di paru - paru. Obat - obatan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi masing - masing. Untuk Fajar, Carol juga sudah mewakilkan untuk teleconsultation dengan salah satu dokter di RS Brawijaya, dan obat - obatan juga disiapkan. 

Di siang hari, Pardo (sebagai contact person saat melakukan tes di Bumame untuk seisi rumah Mama), menerima WA dari Kemenkes. Pesan WA tersebut memberitahukan bahwa masing - masing Bapak, Mama, Rico, Anggi dan Fajar telah terdata di Kemenkes sebagai pasien Covid-19, dan bisa mendapatkan konsultasi, pengobatan dan pengawasan gratis dari Kemenkes RI.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan :

  1. Cek status NIK sebagai Pasien COVID-19 dari WA Kemenkes RI atau lakukan mandiri di https://isoman.kemkes.go.id
  2. Pilih layanan konsultasi telemedisin & masukkan kode voucher dalam layanan (gue memilih Halodoc). 
  3. Melakukan konsultasi dengan dokter dengan menginformasikan bahwa pasien mendapatkan WA dari Kemenkes RI atau bukti verifikasi NIK dari website ISOMAN (point nomor 1 di atas)
  4. Dokter akan memberikan resep digital dalam bentuk PDF atau JPG
  5. Lakukan penebusan resep di website https://isoman.kemkes.go.id/tebusresep  (melampirkan point nomor 4 di atas)
  6. Simpan tracking ID untuk cek status pengiriman dari Apotik Kimia Farma terdekat
Gue dan Anggi langsung mengikuti setiap langkahnya. Saat ini kami masih menunggu pengiriman obat dari apotik Kimia Farma Blok M yang sampai sekarang belum tiba juga. 

Gue sempat menghubungi nomor call center Kimia Farma (1500 255), hasilnya nihil, tidak ada yang merespon. Lalu gue mengirimkan pesan pribadi ke akun Instagram Kimia Farma Care. Dalam waktu singkat pesan gue dijawab dan intinya gue bisa melakukan pelaporan ke nomor kontak Halo Kemenkes : 1500 567 atau via WA. Gue mencoba menelepon ke nomor telepon tersebut namun tanpa hasil, dan Puji Tuhan, ketika gue kontak ke nomor WAnya, responnya sangat cepat. Saat ini status permintaan obat masih dalam verifikasi, tapi setidaknya ada perkembangan, yaitu laporan gue sudah terdaftar dan mendapatkan nomor.

Oya, keluarga gue bisa menerima pesan WA dari Kemenkes ini karena lab tempat seisi rumah Mama melakukan tes PCR, yaitu Bumame, termasuk dalam daftar laboratorium jejaring pemeriksa Covid-19 Kemenkes. Jadi, sepertinya begitu ada hasil tes PCR yang positif Covid-19, pihak lab (Bumame) yang langsung melaporkan ke Kemenkes, sehingga Kemenkes bisa mem-follow up dengan pihak pasien. 

Untuk kondisi Mama dan yang lainnya kemarin, gejala masih terbilang ringan. Mama dan Bapak cenderung kurang bernafsu makan, tapi kami desak terus agar mau makan, karena mulai kemarin Mama, Bapak (dan Fajar) sudah mulai mengkonsumsi obat dokter. Untuk Rico dan Anggi, mereka tetap mengkonsumsi vitamin D, vitamin C dan yang lainnya. 

Begitulah cerita dan perkembangan kemarin dan pagi tadi. Apapun yang terjadi, ngga ada pilihan lain, kami harus tetap berjuang, mengusahakan yang terbaik untuk anggota keluarga yang kami cintai ini, dan tetap berpikir positif. Kami yakin dan percaya, pertolongan Tuhan Yesus pasti tak akan pernah terlambat.

Wednesday, July 21, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (1)

21 Juli 2021.

2 - 3 hari terakhir bukan the best days in my life. Mungkin hari - hari yang cukup berat untuk gue dan keluarga harus lalui. Dimulai dari Senin lalu, 19 Juli 2021 ketika pagi - pagi gue mampir ke rumah Mama untuk ambil belanjaan online shop gue. Gue emang selalu menggunakan alamat rumah Mama untuk pengiriman, karena lebih mudah dicari dan akan selalu ada orang di rumah. 

Pagi itu pagar masih digembok, yang bikin gue mulai ngerasa aneh, karena saat itu sudah menjelang jam 8 pagi. Mama keluar dari rumah untuk membuka pagar, dan gue agak kaget kenapa Mama tampak pucat, dan gue langsung menanyakan kenapa seisi rumah masih pada tidur. Di dalam rumah, sambil merapihkan barang belanjaan gue, Anggi sempat bilang, seisi rumah sedang batuk, jadi sebaiknya gue jangan ke rumah dulu. Gue pun langsung pamit pulang.

Kembali ke rumah gue, gue langsung menghubungi Carol mengenai kondisi di rumah. Di situlah dimulai 'investigasi' gue berdua mengenai kondisi keluarga di rumah Mama. Begini, Mama adalah tipe orang yang kalau kita hubungi melalui telepon dan menanyakan kabarnya, akan menjawab, "Mama sehat". Itu juga yang terjadi bahkan di hari sebelumnya. Karena gue sudah melihat sendiri (gue memang sudah jarang ke rumah Mama untuk mengamankan Mama dan Bapak dari resiko penularan virus Covid-19), gue ngga percaya lagi kalau Mama bilang begitu. Setelah didesak - desak, barulah ada pengakuan bahwa Mama batuk, pusing, dan gejala - gejala ringan lainnya. Begitu juga Bapak. Siang hari, Mama dan Bapak pun langsung diantar ke Bumame TB. Simatupang untuk menjalani tes PCR. Hasilnya baru bisa keluar dalam 16 jam kemudian. 

Di hari itu, gue dan Carol sudah mengkondisikan seisi rumah Mama terpapar Covid-19, meskipun belum menerima hasil. Mulai hari itu, rumah Mama diisolasi, tidak ada yang boleh keluar. Untuk kebutuhan mereka, gue, Carol dan Tito bergantian datang untuk mengirimkan vitamin, obat, tabung oksigen, makanan, dan lainnya. 

Di malam itu gue ngga bisa tidur pulas. Hati gue ngga tenang menunggu hasil. Ketika di pagi hari mata gue sudah mulai mengantuk, Pardo menelepon, dengan suara lemah mengabarkan bahwa hasil PCR sudah keluar, Mama dan Bapak positif Covid-19. Dunia gue seakan runtuh seketika. Hal terburuk yang paling gue takuti, terlebih sejak dimulainya masa pandemi ini, terjadi. Tapi dari hari sebelumnya gue sudah mulai belajar 'menerima' the worst situation. Gue berdoa ngga ada putusnya, "Tuhan Yesus, apapun hasil tes Mama dan Bapak, berikan mereka kekuatan untuk menerimanya, dan berikan gue juga kekuatan. Gue ngga boleh down, karena kalau memang benar positif, seisi rumah Mama dipastikan positif semua. Artinya hanya ada gue, Carol, Ony, dan Tito yang bisa merawat dan memenuhi kebutuhan mereka, meskipun ngga secara langsung." 

Mulai pagi itu, gue dan Carol bergantian ke rumah. Bagian gue mengantarkan makanan (sarapan, makan siang, makan malam, buah, susu), dan kebutuhan lainnya yang sewaktu - waktu dibutuhkan. Kemarin gue bolak - balik ke rumah sekitar 5 kali. Dan setiap datang, gue menyempatkan melihat dan berbicara dengan Mama yang berada di kamarnya, melalui jendela yang tertutup dan jarak beberapa meter. Yang gue bisa lakukan cuma memberikan semangat, bersikap ceria dan menahan tangis gue di dalam hati. Mama pun menasihati supaya gue tetap kuat dan tenang, dan sempat bilang kondisi Mama pada dasarnya baik. Mama pengen keluar kamar tapi khawatir karena ada Fajar. Fajar sangat lengket sama Opung dan Omanya. Pagi itu gue sempat melihat Fajar cengeng, karena ngga bisa minta digendong Opungnya. Di saat berbalik menuju gerbang untuk pulang, air mata gue jatuh karena ngga tahan menahan sedih melihat situasi itu.

Menjelang siang, Pardo, Rico, Anggi dan Fajar berangkat ke Bumame untuk tes PCR. Sore harinya hasil tes keluar: Rico, Anggi dan Fajar dinyatakan positif Covid-19, dan Pardo negatif. Gue berasa langsung lemas lunglai, demi mikirin Fajar. Ya Tuhan, gimana anak sekecil itu (2 tahun) harus menghadapi virus Covid-19 ini di tubuhnya ? Rasanya pengen nangis, tapi di saat yang sama gue langsung merasakan kekuatan dari Tuhan Yesus. Pardo, Carol dan gue pun langsung mulai mengatur 'strategi', karena saat ini lebih mudah dengan keluarnya hasil semua penghuni rumah Mama. Untuk Rico dan Anggi, kita akan menghubungi Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan gratis. Untuk Fajar, Carol akan menghubungi RS Brawijaya untuk mengatur janji telemedicine. Dan untuk Mama dan Bapak, kami akan membawa ke RS Siloam TB. Simatupang, agar keduanya bisa melakukan CT Scan Torax, Rontgen paru - paru dan tes lainnya. Harapan kami, jika keduanya sudah melalui semua tes ini, pihak rumah sakit akan memberikan obat yang spesifik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan keduanya. Keputusan ini kami ambil dengan mempertimbangkan : 1) keduanya sudah lansia, Bapak berusia 76 tahun dan Mama 71 tahun, 2) Mama memiliki komorbid.



Hari itu gue lewati dengan bolak - balik ke Naga Supermarket untuk membeli keperluan logistik makanan, buah, sayur dan susu, ke Indomaret/Alfa berkali - kali, ke ACE untuk membeli UV Sterilizer, ke toko kelontong untuk membeli termos air panas Mama, dan di sela - selanya menyiapkan makan siang dan makan malam buat di rumah Mama.

Di malam hari, Pardo mengabarkan beberapa kali bahwa Mama muntah, rasanya sedih banget, membayangkan kondisi Mama pasti sangat lemah, tapi gue ngga berdaya, ngga bisa melihat apalagi hadir di sisi Mama dan membantunya. Hari itu gue sempat saling bertelepon sama Mama. Hampir di setiap hubungan telepon, gue menahan nangis. Mama sedang berjuang menghadapi sakitnya, dan gue ngga bisa berada di dekatnya. Sesaat setelah Mama muntah, gue menelepon Mama. Gue bilang, "Mama, setiap anak - anak Mama sakit, Mama selalu wanti - wanti, 'paksain makan...paksain makan' iya kan, Ma ? Jadi sekarang Mama harus paksain makan walaupun mual ya, supaya perut Mama ngga kosong." 

Sampai tengah malam Mama muntah lagi. Gue langsung berbagi tugas dengan Pardo, untuk mencari apotik manapun yang masih buka. Puji Tuhan, dalam kondisi PPKM seperti saat ini, apotik masih bisa tetap buka 24 jam. Dan di apotik andalan gue, Apotik Roxy, gue mendapatkan semua keperluan Mama untuk mengatasi mual dan antisipasi kekurangan cairan.

Gue melalui malam itu dengan sangat gelisah. Gelisah akan banyak hal. Gimana kondisi Mama sepanjang malam. Gimana tes besok, akan baikkah hasilnya ? Bagaimana Fajar, Anggi, Rico ? Semua berkecamuk di pikiran gue. Dan tentu saja, kalau gue sedang banyak pikiran, insomnia pun kumat, gue ngga tidur semaleman. Gue cuma bisa berdoa memohon pertolongan Tuhan Yesus agar gue diberikan ketenangan.

Monday, July 12, 2021

Cerita Karantina : Cat Street Feeding


12 Juli 2021

Memasuki 1.5 tahun masa pandemi Covid-19, 'kesibukan' gue dalam hal perkucingan bertambah,  Belakangan gue suka melakukan 'street feeding' yaitu memberikan makanan kepada kucing - kucing jalanan dan telantar. Ada hal sedih yang melatarbelakangi aktivitas gue ini. 

Jadi, sekitar awal Mei 2021 gue kehilangan salah satu kucing yang bernama Tikus alias Ty-Ty. Hilangnya misterius, di suatu pagi, gue ngga menemukan Ty-Ty dimana pun. Dia ngga meninggalkan jejaknya sama sekali. 


Gue sedih, karena Ty-Ty adalah salah satu kucing telantar pertama yang gue rawat, sejak masih sangat kecil. Sudah banyak suka duka selama gue merawat Ty-Ty. Dan meskipun gue bukan penggemar kucing, namun karena gue ngga pernah tegaan terhadap hewan, gue tetap merawat Ty-Ty sebaik mungkin. Lalu Ty-Ty menghilang. Di pikiran gue berkecamuk segudang asumsi dan prasangka tentang kemana dan gimana hilangnya Ty-Ty. Tapi satu hal yang paling bikin gue khawatir, betapa Ty-Ty ngga punya 'skill' dan pengalaman untuk hidup di dunia luar sana, yang sebenarnya sangat mengancam dan berbahaya untuk seekor kucing seperti Ty-Ty, yang terbiasa dirawat sejak kecil. 

Untuk mencari Ty-Ty, gue biasa berjalan kaki sampai radius beberapa kilometer dari rumah gue, baik pagi maupun sore selesai kerja. Ini gue lakukan non stop, bahkan sampai sekarang. Hasilnya nihil. Lalu, suatu hari gue pernah membaca di sebuah group kucing di Facebook. Ada seseorang curhat mengenai kucingnya yang hilang. Kemudian seorang pecinta kucing lainnya menyarankan ide yang aneh dan unik. Katanya, kasih makan kucing - kucing jalanan yang ada di sekitar rumah, lalu katakan ke kucing itu, supaya mencari kucing kita yang hilang. Masih di thread yang sama, beberapa orang memberikan testimoni bahwa meskipun metode ini aneh bin ajaib, kucing - kucing mereka yang hilang, berhasil kembali ke rumah masing - masing.

Gue pun mengikuti saran tersebut. Saat ini, ada sekitar 15 kucing jalanan yang rutin gue hampiri dan kasih makan setiap harinya. Sejak gue melakukan kegiatan streetfeeding ini, penilaian gue terhadap kucing sedikit berubah. Dulunya gue pikir kucing ngga sepintar anjing, yang bisa mengenal dan mengingat orang. Ternyata kucing juga bisa. Sebagai kucing jalanan, mereka bisa acuh tak acuh dan tak bergeming ketika ada orang lalu - lalang di depannya. Tapi setiap gue lewat, mereka langsung mengejar, menuntut diberi makanan.

Lalu, apakah Ty-Ty sudah kembali ke rumah gue ? Belum. Ty-Ty belum kembali. Tapi kegiatan 'streetfeeding' ini sudah menjadi kebiasaan untuk gue, dan gue ngga keberatan untuk terus melakukannya selama mampu. Bahkan, ada hal positif dari kebiasaan ini, karena 'memaksa' gue untuk rajin, konsisten dan tepat waktu untuk jalan kaki setiap pagi ini. Jadi, setiap pagi kegiatan gue adalah meninggalkan rumah sekitar jam 7 pagi, jalan pagi mengejar target 10000 langkah, 'berburu' sinar matahari pagi yang pasti baik buat fisik gue, sambil memberikan makanan kepada kucing - kucing jalanan dan telantar yang gue temui. 

Puji Tuhan, gue selalu dicukupkan untuk bisa menyediakan dan memberikan makanan kepada para kucing jalanan. Salah satunya dari kuis - kuis yang gue ikuti, gue pernah beberapa kali memenangkan kuis berhadiah makanan kucing dalam jumlah yang lumayan banget. Kalaupun mesti membeli, selalu ada flash sale di sebuah e-commerce yang memungkinkan gue membeli stok makanan kucing berkualitas dengan harga miring. Pokoknya selalu ada aja jalannya kok.

Mengingat sudah hampir 3 bulan sejak Ty-Ty menghilang, saat ini gue cuma bisa berharap Ty-Ty masih hidup dan dirawat dengan baik oleh seseorang. Dan untuk gue sendiri, gue sudah harus move on dan ngga berlarut dalam kesedihan karena kehilangan ty-Ty. Gue yakin, dengan menyebarkan kebaikan kepada para kucing jalanan dan telantar, di sisi dunia yang lain, ada seseorang yang akan berbuat kebaikan juga kepada Ty-Ty. 

Thursday, January 28, 2021

Me & Pandemic Diary (28 January 2021)


Kamis, 28 Januari 2021. 

Kalo ngga salah ini udah memasuki bulan ke-11 pandemi Covid-19. Sayangnya, kondisi belum membaik. Bahkan, saat ini angka kasus positif bertambah secara bombastis. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah memasuki angka 1 juta, dan di dunia mencapai 100 juta kasus. 

Sejujurnya, mungkin karena belum pernah mengalami situasi seperti ini, dan pandemi ini sudah berlangsung berkepanjangan, untuk gue pribadi, perjuangan untuk menguatkan fisik, hati/perasaan dan mental, rasanya luar biasa sih. Ada saatnya gue bisa stabil, tetap optimis dan berfikir positif, tapi ada saatnya juga mental gue jatuh, bosan dan lelah dengan kondisi ini. 

Terlebih, semakin ke sini, semakin banyak orang - orang di sekeliling gue, di dekat gue, yang terkena virus ini. Setiap hal itu terjadi, di saat itulah gue serasa dikeliling awan hitam, yang bikin perasaan suram, sedih, dan putus asa. 

Selama ini gue pernah sekali dites PCR, bukan karena sukarela atau penasaran. Salah satu sahabat gue dites positif Covid-19. Sebagai close contact, gue wajib dites juga. Puji Tuhan, saat itu hasilnya negatif. Saat gue mengetahui sahabat gue itu positif, gue serasa mendapat pukulan dua kali. Pertama, gue sedih karena teman gue 'sakit' diserang si virus sadis ini. Kedua, gimana kondisi gue ya, apakah gue baik - baik saja ?

Selama masa pandemi ini gue punya beberapa cara, atau tepat juga disebut 'pelarian' untuk mengalihkan beban mental. Semakin mendekatkan diri pada Tuhan Yesus yang maha baik, pastinya yang utama. Tampak luar, mungkin gue akan terlihat baik - baik saja sepanjang waktu. Namun aslinya, sering kali dalam hati gue berteriak dan menangis mengungkapkan kegalauan, dan meminta pertolongan dan kekuatan Yesus, bagi fisik dan jiwa, bukan hanya untuk gue sendiri, juga kedua orang tua gue, suami dan keluarga gue, juga sahabat dan teman.

Kedua, quality time bersama keluarga. Buat gue, berada di rumah Mamak, melewatkan waktu bersama Mamak dan Bapak, meskipun tidak melakukan apa - apa, sudah memberikan rasa damai, nyaman, dan tenang tersendiri. 

Ketiga, membuat diri gue bertanggung jawab, dalam hal ini bukan soal pekerjaan gue di kantor. Fokus gue saat ini adalah membantu Mamak dan Bapak agar mereka tetap dalam keadaan fisik sehat dan stabil. Caranya, dengan menyediakan apapun yang 'aman' dan direkomendasikan untuk dikonsumsi bagi lansia seperti mereka. Misalnya vitamin, suplemen, madu, susu, dan lain sebagainya. Sebisa mungkin gue berusaha untuk memenuhi apapun yang mereka butuhkan. 'Kekuatan' yang gue dapatkan dari melakukan ini adalah bagaimana pun jatuh bangunnya kondisi gue, gue akan selalu diingatkan bahwa gue bertanggung jawab dan bertugas untuk menjaga mereka. Entah mengapa, feeling seperti itu, selalu bisa mengembalikan gue ke jalur yang semestinya. 

Selain itu, gue juga berusaha melakukan hal - hal yang bisa menghibur diri sendiri, dan juga menyibukkan diri sendiri juga. Merawat kucing - kucing jalanan yang ada di sekitar lingkungan rumah gue, pun, salah satu 'pelarian' yang positif. Berada di sekitar manusia dan saling berinteraksi, ngga selamanya 'sehat' untuk gue, karena semua manusia di bumi saat ini sedang dirundung kekhawatiran dan kelelahan jiwa menghadapi pandemi ini. Dunia kucing, atau pun hewan lainnya, ngga mengenal topik Covid-19 ini. 

Untuk piknik atau traveling, bukanlah menjadi pilihan pelepas stress buat gue saat ini. Entah kenapa ya....rasanya ngga akan menyenangkan aja untuk melanglang buana namun di saat yang sama harus  ekstra waspada bahkan mengkhawatirkan penularan virus Covid-19 yang bisa terjadi dimana saja, dengan cara apa saja, dari siapa saja. Apalah artinya gue traveling tapi membawa beban kuatir seperti  itu kemana - mana. Saat ini, zona aman gue hanyalah di rumah sendiri dan rumah Mamak. Nowhere else.

Blogging begini juga cara dan media gue untuk menguraikan pikiran yang kusut, yang belakangan tentunya disebabkan situasi Covid-19 ngga menentu ini.

Hmm...apalagi ya ?

Lain waktu gue update lagi mengenai perasaan dan kondisi gue, masih dalam hal berjuang menghadapi situasi ini. Take care, myself !

Wednesday, November 04, 2020

Cerita Karantina : Belajar Investasi ST (Sukuk Tabungan)

Hari ini Pemerintah resmi mengeluarkan instrumen investasi yang disebut Green Sukuk Ritel – Sukuk Tabungan seri ST007. Woww....apa ini ? kok ada green green nya sgala ? gue baru denger dan tentunya belum pernah beli sebelumnya. Sebenarnya gue ngga expect Pemerintah masih akan mengeluarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) lagi sampai akhir tahun. Pas minggu lalu gue liat teasernya di IG account DJPPR Kemenkeu, gue langsung semangat cari - cari info dan mempelajari produk yang satu ini. 

ST007 ditawarkan mulai 4 - 25 November 2020, dengan  tagline Dari Diri Untuk Bumi”. Melalui instrumen ini Pemerintah memberikan kesempatan buat masyarakat berinvestasi sekaligus berpartisipasi mendukung pembangunan nasional dan membantu mengatasi dampak dari perubahan iklim karena hasil penerbitannya akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek hijau dalam APBN. Wuihh...keren ya filosofinya !

Setelah gue menggali info sana - sini, sebenarnya ST007 ngga terlalu jauh berbeda dari SR (Sukuk Ritel) yang sebelumnya gue bahas di postingan blog sebelumnya berjudul Cerita Karantina : Belajar Investasi ORI & SR. Perbedaannya dengan SR adalah :

  1. di ST berlaku "Suku bunga mengambang dengan batas minimal (floating with floor)". Maksudnya gini. Saat Pemerintah mulai menawarkan produk ini Pemerintah sudah menentukan imbal hasilnya adalah (minimal) 5.5% yang akan dijadikan acuan imbalan di 3 bulan pertama. Berikutnya setiap 3 bulan akan dilakukan penyesuaian sesuai dengan BI (Bank Indonesia) 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Misalnya ke depannya BI Rate naik menjadi 20% (AMEENN!!) maka imbalan ST mengikuti angka ini. Namun jika misalnya turun ke (contoh aja), 4%, imbalan ST akan tetap 5.5%. Menarik banget menurut gue, karena ada semacam 'proteksi' pada imbalan minimumnya.  
  2. Tenor ST hanya 2 tahun (kalo SR 3 tahun). ST007 akan jatuh tempo 10 November 2022. Tenor kayak gini menurut gue memberikan kesan 'aman' untuk investor baru dan kecil - kecilan (kayak gue gini), yang mungkin khawatir jika sewaktu - waktu perlu dana. 2 tahun tuh ngga terlalu singkat, dan ngga terlalu panjang juga. Kalo 3 tahun kesannya, lamaaaaaaa banget. Ini pendapat gue pribadi sih..
  3. ST tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder
  4. ST bisa dicairkan sebelum jauh tempo, dengan syarat : 1) masa kepemilikan ST minimal setahun, 2) nilai kepemilikan minimal IDR 2,000,000,- 3) nilai yang bisa dicairkan maksimal 50% dari setiap transaksi pembelian, 4) pencairan hanya bisa dilakukan di periode yang sudah ditentukan yaitu : 26 Oktober - 4 November 2021

Untuk yang lain - lainnya, karakteristiknya sama aja kok ama ORI dan SR. Sekiaaaannnn !

Monday, October 19, 2020

Cerita Karantina : Quizholic

(di-update Dec 2020)

Salah satu hal yang sering gue lakukan untuk mengisi masa - masa karantina dan work from home adalah dengan mengikuti kuis. Gue emang penghobi ikutan kuis kelas berat. Kadang orang lain suka bingung sama niat gue ikutan kuis yang mungkin buat mereka di atas rata - rata. Tapi why not ? Kuis itu mengasah gue untuk jadi kreatif, kompetitif dan sportif. Kalo menang, bikin perasaan happy, meskipun hadiah yang gue dapatkan sederhana. Kalo kalah, itu momen yang baik untuk gue menerima kekalahan dengan santai dan mengakui keunggulan orang lain. Positif dan simpel kan...

Selama masa karantina (mulai Maret 2020) seinget gue pernah memenangkan 6 (enam) kuis. Pertama, Quiz Screenshot Advantix yang diadakan oleh akun IG sbm.pet. PT. SBM (Sumber Bina Makmur) saat itu adalah distributor resmi produk Animal Health Bayer. Untuk ikutan kuisnya mudah banget, cuma perlu screenshot foto produk bernama Advantix. Untuk kuis yang terbilang 'mudah' kayak gini biasanya gue gak pernah menang, karena saingannya (yang ikutan kuis) bejibun. Tapi kali ini gue beruntung. Hadiahnya, ya produk Bayer, 1 (satu) box Advantix, yang gue gunakan untuk anjing gue si Momo.

Kedua, menang kuis di akun sbm.id lagi. Di awal masa work from home gue, akun ini, beserta akun IG Bayer Animal Health (saat itu), emang salah satu yang paling sering gue monitor. Mereka sering bikin acara IG live, sharing ilmu mengenai bagaimana merawat binatang peliharaan, atau unboxing produk - produk Bayer. Cara mendapatkan hadiahnya saat itu adalah dengan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Beberapa pertanyaan terbaik akan dibacakan dan dipilih sebagai pemenang, dan berhak mendapatkan hadiah atau voucher, yang tentunya masih berhubungan dengan produk Bayer Animal Health. Saat itu gue mendapatkan voucher Tokopedia.

Ketiga, gue menjadi pemenang "Giveaway IG Live Cooking bersama Chef Yo'el" yang diadakan oleh The 1O1 Jakarta Darmawangsa Hotel dalam rangka Perayaan HUT RI ke-75. Gue rasa ini pencapaian gue yang paling epic, secara hal masak - memasak bukan bidang gue banget. Waktu itu challenge-nya mudah sih, Chef Yo'el nya sedang IG Live dengan topik demo memasak rawon. Yang nonton berkesempatan mendapatkan hadiah dengan cara mengirimkan pertanyaan ke chef. Nanti chef-nya akan memilih pertanyaan terbaik. Dan pertanyaan gue terpilih. Hore banget kan untuk gue yang ngga bisa membedakan bumbu masak ini !? Hadiahnya keren, yaitu voucher menginap di The 1O1 Jakarta Darmawangsa Hotel termasuk breakfast untuk 2 (dua) orang. Pas banget buat gue yang lagi doyan staycation.

Keempat, gue menang kuis yang diadakan oleh perusahaan tempat gue bekerja, dalam rangka Patient Safety Day 2020, dan dapat diikuti oleh seluruh karyawan. Caranya mudah banget, dan gue bisa berkompetisi menggunakan akun Facebook gue. Jaman sekarang kayaknya ngga terlalu banyak orang masih mempertahankan dan aktif di akun Facebook masing - masing. Dan itu kesempatan emas buat gue. Gue terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang, dan mendapatkan hadiah voucher yang bisa gue gunakan untuk belanja dan lainnya. 

Kelima, gue menang kuis "Virtual Tour & Virtual Cooking at PappaJack" di Instagram, beberapa hari yang lalu. Cara ikutannya gampang banget, gue cuma perlu ketik sebuah hastag, lalu di-screenshot dan posting di IG story gue. Dan gue terpilih sebagai salah satu pemenang yang akan mendapatkan hadiah voucher makan di restoran PappaJack.

Yang paling fresh, gue menang Sunday Quiz di akun IG Holysteak_ID. Di kuis itu followers diminta nebak/sebutin nama menu makanan (Holysteak tentunya), yang ditampilkan di sebuah foto. Waktu liat kuisnya tayang, gue yang belum pernah sekalipun makan di Holysteak (maybe someday..), langsung browsing menu makanan Holysteak di Google. Nemu, langsung komen di postingannya. Dan menang...! Sebagai hadiahnya, gue dikirimin (ke alamat rumah), 2 (dua) porsi Rice Box Holysteak. Lumayan...jadi bisa nyobain menunya Holysteak.

Selain kuis - kuis tersebut di atas, kayaknya ada lebih dari selusin kuis yang udah gue ikutin. Di samping kemenangan yang gue peroleh, ngga jarang gue juga kalah. Teman - temen gue banyak yang bilang kalo gue (selalu) beruntung dalam hal kuis. Padahal sebenarnya bukan karna faktor keberuntungan sih, tapi NIAT. Yes, 'niat' yang bikin gue selalu semangat ikutan tiap kali liat ada info kuis - kuis baru. Saat ini gue lagi nungguin beberapa pengumuman kuis yang gue ikutin, semoga ada yang bisa gue menangkan. Jika belum ada, semoga masih banyak kesempatan kuis - kuis lain yang bisa gue ikutin dan mengisi waktu luang gue (yang segudang) selama masa work from home. Amiiinnnnn..   

Wednesday, October 14, 2020

Cerita Karantina : Belajar Investasi ORI & SR


Gue bersyukur pada Tuhan Yesus yang Maha Baik, karena di masa pandemi ini gue masih diberikan pekerjaan, sumber rejeki dan penghasilan, untuk gue bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung. 

Seumur - umur baru kali ini gue melihat dan merasakan dampak pandemi terhadap perekonomian secara global. Hal itu mendorong gue untuk semakin sadar untuk menabung dan berinvestasi, karena kita ngga akan pernah tahu, mungkin suatu saat kita harus berada di situasi yang sulit dan terpuruk secara finansial. Jadi menurut gue, selama ada sumber penghasilan ~berapa pun besar / kecilnya~ siapapun: ngga cewe atau cowo, menikah atau single, ada tanggungan atau tanpa tanggungan, gunakanlah kesempatan yang ada untuk menabung dan berinvestasi.

Kebetulan di masa pandemi begini, ruang gerak gue pun sangat terbatas. Belanja dan nongkrong di mall ngga bisa, piknik, traveling dan jalan - jalan ngga memungkinkan. Bahkan ke kantor aja jaraaangg... banget, yang artinya gue irit di ongkos dan jajan - jajan. Jadi, gue berusaha mencari cara untuk mengalokasikan simpanan dari penghasilan gue. 

Selama work from home, karena gue punya waktu berlimpah untuk melakukan aktivitas apapun di rumah, gue mulai tertarik untuk 'mempelajari' produk investasi bernama : ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dan SR (Sukuk Ritel). Gue udah mendengar kedua produk investasi ini dari bertahun - tahun silam, tapi belum kesampaian untuk memilikinya karena belum apa-apa gue udah skeptis mikirin : 1) males cari informasinya, 2) males proses belinya, pasti ribet, 3) asumsi gue, pasti butuh modal gede, dan 4) gue tipe konservatif banget dalam hal investasi. Jadi, produk investasi apapun selain deposito berjangka dan logam mulia, (bagi gue) pasti beresiko !

Kecuekan gue akan kedua produk ini berakhir selama masa pandemi ini, berganti dengan rasa penasaran. Di tahun 2020 ini Pemerintah mengeluarkan ORI  seri ke 017 dan 018, dan juga SR seri ke 012 dan 013. 

Gue pun mulai rajin membaca informasi dan artikel - artikel mengenai kedua produk ini. Untuk makin menambah wawasan, gue follow juga account - account IG milik Kementerian Keuangan dan DJPPR (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko), dan lain sebagainya. Dari hasil perburuan informasi tersebut, gue mendapatkan pengertian begini : ORI adalah surat hutang yang dikeluarkan negara ke masyarakat sebagai sumber dana untuk pembiayaan anggaran pembangunan. Menurut gue ORI ini konsepnya (hampir) sama dengan Deposito yang gue kenal, yaitu :

  1. Bisa dipesan di midis (mitra distribusi) berupa bank umum (bedanya, ORI juga bisa dipesan di perusahaan sekuritas gitu)
  2. adanya bunga (kalo di ORI sebutannya kupon) dengan rate (%) tetap per tahun, sampai dengan ORI tersebut jatuh tempo (untuk ORI017 & 018 tenornya 3 tahun), dan dibayarkan tiap bulan ke rekening investor. 
  3. Besar pokok untuk pemesanan ORI (berkaca di ORI017 & 018) ngga beda dengan deposito. Masyarakat sudah bisa memiliki ORI dengan minimum pembelian Rp. 1,000,000. 

Untuk perbedaannya :

  1. ORI berbentuk tanpa warkat, pembeliannya bisa dilakukan online 
  2. ORI hanya bisa dipesan di periode tertentu (disebut periode penawaran ORI) yang sudah ditentukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Contohnya : ORI017 hanya bisa dipesan selama tanggal 15 Juni - 9 Juli 2020, dan ORI018 selama tanggal 1 - 21 Oktober 2020. Kalo deposito bisa dibuka / dipesan kapan aja 
  3. tenornya lebih panjang dibandingkan deposito, yaitu antara 3 - 5 tahun. ORI017 dan 018 tenornya 3 tahun (berarti akan jatuh tempo tahun 2023). ORI005 (dikeluarkan tahun 2008) ditawarkan dengan tenor paling panjang : 5 tahun. Sementara kalo deposito (setidaknya yang gue tahu dari BTN) maksimal tenornya 2 tahun.
  4. bunga  (kupon) cenderung lebih tinggi dari bunga tabungan regular maupun deposito.
  5. pas ORI jatuh tempo, pokok dana yang sudah investor bayarkan, akan dikembalikan ke rekening investor. Kalo deposito, investor harus datang ke bank untuk memproses pencairan dana yang nantinya akan ditransfer ke rekening investor. Jika investor tidak datang untuk proses ini, deposito akan diperpanjang otomatis.
  6. sebelum jatuh tempo, ORI dapat diperjualbelikan di pasar sekunder (mengenai 'pasar sekunder' ini gue mesti menggali informasi lagi)
  7. Ada potensi capital gain/loss. ini hubungannya dengan poin 6 di atas. Bisa jadi saat investor menjual ORInya, harga di pasar sedang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga asli (saat pembelian). Intinya, gain/loss hanya terjadi kalo investor menjual ORInya (sebelum jatuh tempo). Kalo gak ada penjualan, resiko ini nol. 

Kalo Sukuk Ritel (SR), ini adalah produk investasi yang dikeluarkan Pemerintah dan dikelola menggunakan prinsip syariah. Sejujurnya, sebagai investor, gue ngga lihat/ngerti apa perbedaan antara ORI dan SR. SR dikatakan surat berharga syariah negara yang mekanismenya di bawah pengawasan Majelis Ulama Indonesia. 'Prinsip dan mekanisme syariah' aja gue ngga ngerti sama sekali. Tapi setelah baca sana sini, intinya, Sukuk adalah bukti penyertaan atas kepemilikan aset negara, membeli sukuk berarti membeli aset negara. Woww...!! macam horraaaangg kaiyaaaa... ! Setelah investor membeli 'aset negara', kemudian dipinjamkan ke negara. Dari sinilah investor menerima "imbalan" tetap (kalo dalam deposito namanya bunga, dan di ORI namanya kupon). Sedangkan ORI adalah surat hutang. Buat gue, karateristik SR sama aja ama ORI seperti di list di atas.

Di bulan Juni 2020 yang lalu, Pemerintah menerbitkan ORI017. Ini adalah investasi perdana gue di ORI. Ternyata ada beberapa hal yang harus gue urus sebelum akhirnya bisa bertransaksi. Dengan metode pembelian online, ada plus - minusnya juga. Kalo deposito, gue tinggal datang ke bank, bawa segala macam dokumen persyaratan, pulang - pulang gue langsung bawa warkat bukti pembelian produk investasi. Petugas Customer Servicenya akan membantu seluruh prosesnya. Kalo ORI dan SR, proses dilakukan sendiri via online, tepatnya internet maupun mobile banking. Syaratnya, calon investor harus sudah memiliki SID atau Single Investor Identification. Untuk Bank BTN (tapi gue rasa berlaku di semua bank), investor yang hendak mendaftarkan internet banking dan SID harus datang ke bank langsung. 

Masalahnya di masa pandemi gini, untuk keluar rumah, pergi ke tempat keramaian termasuk bank, bukan hal yang pengen banget gue lakukan. Dan pengalaman awal gue dalam proses ini kurang mulus sih. Gue harus mendatangi 3 cabang BTN sampai akhirnya urusan pendaftaran SID ini rampung, yaitu di BTN Lenteng Agung. Awalnya gue udah hampir menyerah, membatalkan niat membeli ORI, karena proses pendaftaran SID-nya buntu dimana - mana, sampai gue ngga ngerti sendiri masalahnya di mana. Ada yang alasan 'atasannya lagi tidak di tempat', ada juga 'jaringan lagi offline' dll deh...

Oya, gue memilih menggunakan rekening BTN, karena gue sudah memiliki rekening 'Tabunganku' di sini, jenis tabungan yang bebas biaya administrasi bulanan. Gue ingin 'menyimpan' hasil kupon, imbalan, bunga, apapun itu namanya...di rekening ini. 

Setelah berhasil mendaftarkan internet banking dan SID, baru kerasa berinvestasi di ORI dan SR ini mudaaaahhh...dan praktis banget! Awalnya gue agak kurang terbiasa aja, karena 'token' di internet banking-nya BTN tuh menggunakan handphone yang gue gunakan. Tapi lama - lama jadi terbiasa. Setelah menyelesaikan proses pemesanan dan pembayaran ORI dan SR di internet banking, nanti gue akan menerima beberapa email konfirmasi yaitu Bukti Pemesanan SBN (surat berharga negara) ritel dan Bukti Penerimaan Negara. Email - email inilah yang menjadi pengganti warkat fisik.

Oya, ORI017 ditawarkan di Juni 2020 dengan kupon 6.4% per tahun. Di saat itu bunga deposito (untuk simpanan < Rp. 100,000,000) di BTN hanya 5.25%. Berikutnya di bulan Agustus 2020, pemerintah mengeluarkan SR013 dengan imbalan sebesar 6.05% per tahun. Terakhir, di bulan ini (Oktober 2020) pemerintah mengeluarkan ORI018 dengan kupon sebesar 5.7% per tahun. Makin ke sini kupon/imbalan makin kecil. Tapi gue maklum sih mengingat situasi di masa pandemi yang bikin perekonomian porak - poranda kayak gini. Tadi pagi gue menerima email dari BTN (tumben) yang menginformasikan bunga deposito saat ini adalah 4.7%. Jadi, kupon/imbalan produk ORI dan SR ini tetap lebih tinggi kok.

Ke depannya, kalo ada niat, mood dan mendadak penasaran, gue juga pengen belajar jenis - jenis SBN atau surat berharga negara lainnya, terutama yang ritel. Lumayan banget buat nambah wawasan dan pilihan investasi. Khusus untuk ORI dan SR ini, positifnya, selain berinvestasi, gue juga turut berpartisipasi dalam program pembangunan nasional. Mantulll !

Cerita Karantina : Tontonan ala Karantina


29 April 2020, hari ke 44 karantina

Selama menjalani masa work from home, atau karantina di rumah, waktu luang gue jadi segudang, yang kadang bikin membosankan. Untuk mengusir rasa bosan, gue biasanya mencari hiburan - hiburan online. Secara, pengunaan internet selama masa karantina bukan main borosnya untuk support laptop supaya bisa terkoneksi dan bisa kerja dari rumah, jadi, urusan pengeluaran internet udah ngga perlu diperhitungkan lagi. Intisarinya, internet adalah segala - galanya di masa karantina ini.

Gue ngga berminat untuk nonton serial drama atau film, karena enggan mendedikasikan waktu dan pikiran/emosi gue too much, untuk mengikuti kisah fiksi semata. Jadi di saat kebanyakan orang saat ini begitu keranjingan nonton drakor, seperti yang lagi happening sekarang, The World of The Marriednya Netflix, dan lain sebagainya, gue punya genre kesukaan sendiri. Kesukaan gue adalah program - program reality show-nya TLC yang menurut gue menarik banget dan membuka pikiran dan memberikan gambaran dan informasi seluas - luasnya mengenai kisah dan perjalanan hidup manusia di belahan dunia lainnya.

Acara - acara kesukaan gue ngga selalu dari TLC sih, ada juga dari channel - chnanel lain. Berhubung TV berlangganan gue ngga bekerja sama dengan TLC, cara gue mengakses program - program tersebut adalah melalui video - video Facebook dan juga Youtube. Ini list program kesukaan gue, yang cukup membantu gue mengusir kebosanan selama masa karantina :  

My 600-lb Life
Ini program mengenai perjuangan dan transformasi orang - orang obesitas (di Amerika Serikat) yang berat badannya mencapai 600 lb (info aja, 1 kg = 2,2 lb/pound. Jadi, 600 lb = 270 kg an) atau lebih dalam mengurangi berat badannya secara signifikan agar bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali, dan menjalani aktivitas sehari - hari dengan normal. Perjuangan mereka untuk berdiet, agar bisa mencapai target dan mendapat approval untuk menjalani prosedur bedah bariatrik maupun bedah pengurangan kelebihan kulit (pengencangan kulit pasca berkurangnya berat badan) dari dr. Nowzaradan (dokter spesialis bedah vaskuler dan bariatrik), sampai dengan bagaimana mereka berjuang untuk survived dan tetap berkomitmen dalam program penurunan berat badan, terekam dengan detil dan apa adanya, yang ngga hanya melulu soal fisik namun juga mental dan emosional mereka. Dalam video berdurasi 1 - 2 jam, gue bisa menyaksikan kisah mereka yang didokumentasikan oleh TLC selama period 1 - 2 tahun.

90 Days Fiance
Ini programnya TLC juga, reality show mengenai pasangan - pasangan warga negara Amerika Serikat dengan non Amerika Serikat yang berjuang untuk menyatukan cinta (caelahh!) mereka dalam sebuah pernikahan, dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi dengan segala perbedaan yang masing - masing pasangan miliki. 

Kenapa 90 hari ? Karena ini berhubungan dengan Visa K-1 atau Visa Tunangan, yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, yang berlaku selama 90 hari. Jadi, pasangan berwarga negara AS harus mengajukan dan mengurus Visa K-1 terlebih dahulu untuk pasangannya yang berasal dari negara lain, agar bisa masuk ke Amerika Serikat. Begitu Visa K-1 dikabulkan, dan pasangan warga negara non AS masuk dan tinggal di negara AS, keduanya memiliki waktu maksimal 90 hari untuk menikah. Jika sampai masa 90 hari berakhir dan pasangan tersebut tidak menikah, maka pasangan warga non AS harus meninggalkan AS segera. Namun jika dalam 90 hari hubungan keduanya langgeng dan berakhir dengan pernikahan, maka proses imigrasi berikutnya adalah pengajuan permanent resident atau Green Card bagi pasangan non AS. Mungkin yang bikin program ini menarik untuk gue pribadi, karena pekerjaan gue sehari - hari yang berhubungan dengan visa dan mobility. Sedikit banyak gue mendapatkan ilmu dan pencerahan mengenai visa di negara lain.

Kata kunci 'Green Card' tadi, yang bikin di sepanjang program ini, stigma 'negatif' sering diberikan kepada pasangan non AS, karena beberapa dari mereka dianggap sengaja mengincar pasangan berwarga negara AS demi mendapatkan Green Card yang merupakan tiket emas untuk bisa tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, negeri sejuta impian dan harapan, dan lain sebagainya, bagi banyak orang di seluruh dunia.

Program ini menarik banget buat gue karena sangat complicated. Kadang pasangan - pasangan tersebut kenal di online dating platform, yang bikin perjuangan mereka selama 90 hari untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri dengan perbedaan lingkungan, tradisi, budaya dan prinsip, jadi terasa dramatis banget. Ada juga kisah - kisah dimana pasangan warga AS ternyata menjadi korban scammer atau catfishing dari orang - orang iseng di belahan dunia lain yang hendak mencari keuntungan (biasanya finansial) semata. Dan tentunya urusan visa K-1 dan Green Card, kadang menjadi sumber masalah sendiri. 

Dianxi Xiaoge
Gue ngefans banget sampai subscribe channel youtubenya segala. Channel ini mengenai food youtuber, food vlogger, bernama asli Dong Meihua yang menggunakan nama alias Dianxi Xiaoge. Dianxi sendiri diambil dari nama daerah di Yunan, dan Xiaoge artinya 'adik laki-laki'. Dianxi Xiaoge mulai membuat video - video singkat untuk memperkenalkan produk - produk yang berasal dari  Yunan, diikuti dengan video masakan - masakan khas Yunan. Bahan - bahan yang digunakan untuk memasak pun didapatkan dari peternakan atau perkebunan setempat, atau bahkan dari alam liar yang terdapat di area pedesaan di Yunan. Keseluruhan content videonya, dimulai dari mengambil bahan makanan langsung dari alam, mengelolanya baik untuk disimpan untuk kemudian hari ataupun langsung dimasak, sampai dengan menikmati hasil masakan bersama keluarga besarnya, adalah tontonan paling menenangkan dan menyehatkan untuk pikiran. Bintang yang ngga kalah menarik di channel  Youtube Dianxie Xiaoge adalah Dawang, anjing Alaskan Malamute milik Dianxie yang super lucu dan menggemaskan.

Dr. Pimple Popper
Selain channel Youtube Dianxi Xiaoge, gue juga men-subscibe channel-nya dr. Sandra Lee alias dr. Pimple Popper, supaya di sela - sela kebosanan karantina, gue bisa melihat hiburan yaitu proses removal komeda atau jerawat ala dr. Pimple Popper. Sebenarnya dr. Lee  bukan hanya dokter spesialis kulit yang ahli dalam mengatasi masalah jerawat pasiennya. Di program TV dan Youtubenya, dr. Lee juga membagikan video ketika menangani operasi kista ganglion, tumor jinak, lipoma dan sebagainya. Tapi karena kebanyakan content videonya terlalu 'seram' buat gue pribadi, jadi gue pilih content - content 'ringan', yaitu pengangkatan jerawat dan komedo - komedo parah.

Tiny House Hunting dan Income Property
Kedua program ini gue ikutin di Channel Lifetime, alias masih bisa gue tonton di TV. Gue selalu tertarik dengan program - program make over rumah/propertinya AS karena buat gue, skill dan vision mereka mengenai pembangunan rumah dan design tuh kayaknya berada di level advanced banget. Buat gue yang awam ini, nontonnya jadi asyik dan sangat menarik.

Serial Drama DAAI TV
Saat gue lagi pengen nonton drama yang menentramkan pikiran, berdasarkan kisah nyata, dan inspiratif, ngga norak dan absurd, gue akan tonton channel DAAI TV. Di masa - masa pandemi Covid - 19 begini, dimana TV dan internet setiap saat dipenuhi dengan berita - berita mencekam seputar Covid - 19, terkadang gue memilih mencari kenyamanan dalam keserderhanaan serial - serial drama ala DAAI TV. Serial yang sering gue tonton misalnya Ketika Gladiol Bersemi, Menelusuri Lorong Batin, Naskah Hidupku, Mantri Super dan lainnya. 

Durasi penayangannya gak terlalu panjang, dan yang jelas setiap episodenya bukan menjual adegan - adegan dramatis picisan kayak jambak-jambakan, mata melotot yang di zoom-in/zoom-out atau semacamnya. Meskipun gue ngga mengikuti setiap episode terus - menerus dan secara urut, kapan pun pas gue nonton episode manapun, gue bisa tetap menikmati dan mengikuti jalan ceritanya. 

Listnya sebenarnya masih panjang, tapi beberapa di atas adalah yang paling sering gue tonton dan akses, dan menjadi sumber hiburan selama gue menjalani masa-masa karantina yang panjang ini.

Wednesday, April 29, 2020

Cerita Karantina : Tontonan ala Karantina

Model : Kuningyellow

29 April 2020, hari ke 44 karantina

Selama menjalani masa work from home, atau karantina di rumah, waktu luang gue jadi segudang, yang kadang bikin membosankan. Untuk mengusir rasa bosan, gue biasanya mencari hiburan - hiburan online. Secara, pengunaan internet selama masa karantina bukan main borosnya untuk support laptop supaya bisa terkoneksi dan bisa kerja dari rumah, jadi, urusan pengeluaran internet udah ngga perlu diperhitungkan lagi. Intisarinya, internet adalah segala - galanya di masa karantina ini.

Gue ngga berminat untuk nonton serial drama atau film, karena enggan mendedikasikan waktu dan pikiran/emosi gue too much, untuk mengikuti kisah fiksi semata. Jadi di saat kebanyakan orang saat ini begitu keranjingan nonton drakor, seperti yang lagi happening sekarang, The World of The Marriednya Netflix, dan lain sebagainya, gue punya genre kesukaan sendiri. Kesukaan gue adalah program - program reality show-nya TLC yang menurut gue menarik banget dan membuka pikiran dan memberikan gambaran dan informasi seluas - luasnya mengenai kisah dan perjalanan hidup manusia di belahan dunia lainnya.

Acara - acara kesukaan gue ngga selalu dari TLC sih, ada juga dari channel - chnanel lain. Berhubung TV berlangganan gue ngga bekerja sama dengan TLC, cara gue mengakses program - program tersebut adalah melalui video - video Facebook dan juga Youtube. Ini list program kesukaan gue, yang cukup membantu gue mengusir kebosanan selama masa karantina :  

My 600-lb Life
Ini program mengenai perjuangan dan transformasi orang - orang obesitas (di Amerika Serikat) yang berat badannya mencapai 600 lb (info aja, 1 kg = 2,2 lb/pound. Jadi, 600 lb = 270 kg an) atau lebih dalam mengurangi berat badannya secara signifikan agar bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali, dan menjalani aktivitas sehari - hari dengan normal. Perjuangan mereka untuk berdiet, agar bisa mencapai target dan mendapat approval untuk menjalani prosedur bedah bariatrik maupun bedah pengurangan kelebihan kulit (pengencangan kulit pasca berkurangnya berat badan) dari dr. Nowzaradan (dokter spesialis bedah vaskuler dan bariatrik), sampai dengan bagaimana mereka berjuang untuk survived dan tetap berkomitmen dalam program penurunan berat badan, terekam dengan detil dan apa adanya, yang ngga hanya melulu soal fisik namun juga mental dan emosional mereka. Dalam video berdurasi 1 - 2 jam, gue bisa menyaksikan kisah mereka yang didokumentasikan oleh TLC selama period 1 - 2 tahun.

90 Days Fiance
Ini programnya TLC juga, reality show mengenai pasangan - pasangan warga negara Amerika Serikat dengan non Amerika Serikat yang berjuang untuk menyatukan cinta (caelahh!) mereka dalam sebuah pernikahan, dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi dengan segala perbedaan yang masing - masing pasangan miliki. 

Kenapa 90 hari ? Karena ini berhubungan dengan Visa K-1 atau Visa Tunangan, yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, yang berlaku selama 90 hari. Jadi, pasangan berwarga negara AS harus mengajukan dan mengurus Visa K-1 terlebih dahulu untuk pasangannya yang berasal dari negara lain, agar bisa masuk ke Amerika Serikat. Begitu Visa K-1 dikabulkan, dan pasangan warga negara non AS masuk dan tinggal di negara AS, keduanya memiliki waktu maksimal 90 hari untuk menikah. Jika sampai masa 90 hari berakhir dan pasangan tersebut tidak menikah, maka pasangan warga non AS harus meninggalkan AS segera. Namun jika dalam 90 hari hubungan keduanya langgeng dan berakhir dengan pernikahan, maka proses imigrasi berikutnya adalah pengajuan permanent resident atau Green Card bagi pasangan non AS. Mungkin yang bikin program ini menarik untuk gue pribadi, karena pekerjaan gue sehari - hari yang berhubungan dengan visa dan mobility. Sedikit banyak gue mendapatkan ilmu dan pencerahan mengenai visa di negara lain.

Kata kunci 'Green Card' tadi, yang bikin di sepanjang program ini, stigma 'negatif' sering diberikan kepada pasangan non AS, karena beberapa dari mereka dianggap sengaja mengincar pasangan berwarga negara AS demi mendapatkan Green Card yang merupakan tiket emas untuk bisa tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, negeri sejuta impian dan harapan, dan lain sebagainya, bagi banyak orang di seluruh dunia.

Program ini menarik banget buat gue karena sangat complicated. Kadang pasangan - pasangan tersebut kenal di online dating platform, yang bikin perjuangan mereka selama 90 hari untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri dengan perbedaan lingkungan, tradisi, budaya dan prinsip, jadi terasa dramatis banget. Ada juga kisah - kisah dimana pasangan warga AS ternyata menjadi korban scammer atau catfishing dari orang - orang iseng di belahan dunia lain yang hendak mencari keuntungan (biasanya finansial) semata. Dan tentunya urusan visa K-1 dan Green Card, kadang menjadi sumber masalah sendiri. 

Dianxi Xiaoge
Gue ngefans banget sampai subscribe channel youtubenya segala. Channel ini mengenai food youtuber, food vlogger, bernama asli Dong Meihua yang menggunakan nama alias Dianxi Xiaoge. Dianxi sendiri diambil dari nama daerah di Yunan, dan Xiaoge artinya 'adik laki-laki'. Dianxi Xiaoge mulai membuat video - video singkat untuk memperkenalkan produk - produk yang berasal dari  Yunan, diikuti dengan video masakan - masakan khas Yunan. Bahan - bahan yang digunakan untuk memasak pun didapatkan dari peternakan atau perkebunan setempat, atau bahkan dari alam liar yang terdapat di area pedesaan di Yunan. Keseluruhan content videonya, dimulai dari mengambil bahan makanan langsung dari alam, mengelolanya baik untuk disimpan untuk kemudian hari ataupun langsung dimasak, sampai dengan menikmati hasil masakan bersama keluarga besarnya, adalah tontonan paling menenangkan dan menyehatkan untuk pikiran. Bintang yang ngga kalah menarik di channel  Youtube Dianxie Xiaoge adalah Dawang, anjing Alaskan Malamute milik Dianxie yang super lucu dan menggemaskan.

Dr. Pimple Popper
Selain channel Youtube Dianxi Xiaoge, gue juga men-subscibe channel-nya dr. Sandra Lee alias dr. Pimple Popper, supaya di sela - sela kebosanan karantina, gue bisa melihat hiburan yaitu proses removal komeda atau jerawat ala dr. Pimple Popper. Sebenarnya dr. Lee  bukan hanya dokter spesialis kulit yang ahli dalam mengatasi masalah jerawat pasiennya. Di program TV dan Youtubenya, dr. Lee juga membagikan video ketika menangani operasi kista ganglion, tumor jinak, lipoma dan sebagainya. Tapi karena kebanyakan content videonya terlalu 'seram' buat gue pribadi, jadi gue pilih content - content 'ringan', yaitu pengangkatan jerawat dan komedo - komedo parah.

Tiny House Hunting dan Income Property
Kedua program ini gue ikutin di Channel Lifetime, alias masih bisa gue tonton di TV. Gue selalu tertarik dengan program - program make over rumah/propertinya AS karena buat gue, skill dan vision mereka mengenai pembangunan rumah dan design tuh kayaknya berada di level advanced banget. Buat gue yang awam ini, nontonnya jadi asyik dan sangat menarik.

Serial Drama DAAI TV
Saat gue lagi pengen nonton drama yang menentramkan pikiran, berdasarkan kisah nyata, dan inspiratif, ngga norak dan absurd, gue akan tonton channel DAAI TV. Di masa - masa pandemi Covid - 19 begini, dimana TV dan internet setiap saat dipenuhi dengan berita - berita mencekam seputar Covid - 19, terkadang gue memilih mencari kenyamanan dalam keserderhanaan serial - serial drama ala DAAI TV. Serial yang sering gue tonton misalnya Ketika Gladiol Bersemi, Menelusuri Lorong Batin, Naskah Hidupku, Mantri Super dan lainnya. 

Durasi penayangannya gak terlalu panjang, dan yang jelas setiap episodenya bukan menjual adegan - adegan dramatis picisan kayak jambak-jambakan, mata melotot yang di zoom-in/zoom-out atau semacamnya. Meskipun gue ngga mengikuti setiap episode terus - menerus dan secara urut, kapan pun pas gue nonton episode manapun, gue bisa tetap menikmati dan mengikuti jalan ceritanya. 

Listnya sebenarnya masih panjang, tapi beberapa di atas adalah yang paling sering gue tonton dan akses, dan menjadi sumber hiburan selama gue menjalani masa-masa karantina yang panjang ini.

Wednesday, April 22, 2020

Cerita Karantina : Bye Piknik, Hello Refund !



Kondisi selama pandemi Covid-19 bikin gue harus 'puasa' traveling sejenak dan merelakan beberapa tiket AirAsia dan juga voucher hotel yang udah gue beli sejak tahun lalu, untuk digunakan di tahun ini. Untungnya masing - masing provider memfasilitasi pengembalian dana dengan mekanisme masing - masing sih.

Yang pertama pemberitahuan datang dari Traveloka. Tahun lalu pas ada program promo 'Traveloka Epic' gue membeli beberapa voucher hotel, karena bermaksud pengen staycation di hotel - hotel di kawasan Bogor. Ada satu voucher terakhir yang mestinya bisa gue gunakan untuk menginap di Hotel Royal Bogor tanggal 1 Mei nanti, tepatnya di hari libur nasional, Hari Buruh. Setelah mengirimkan email pemberitahuan ke  gue bahwa hotel tersebut tidak akan menerima tamu selama pandemi Covid - 19 berlangsung, beberapa hari kemudian gue dihubungi oleh seorang Traveloka officer yang hendak membahas mekanisme pengembalian uang gue. Singkatnya, dalam waktu beberapa hari saja, uang gue kembali ke rekening. Mulus.

Selain itu, gue juga harus memproses refund untuk pembelian tiket AirAsia. Tahun lalu saat AirAsia mengadakan program promo gue membeli beberapa tiket. Jadwal terdekat adalah untuk tanggal 8 Mei 2020 dari Jakarta ke Kuala Lumpur (pp). AirAsia menawarkan dua mekanisme. Yang pertama : penggantian jadwal keberangkatan, maksimal sampai dengan tanggal 31 Oktober 2020, namun kali ini 'bonus'nya, pemilik tiket berhak mengubah jadwal keberangkatan beberapa kali (biasanya perubahan jadwal hanya diperbolehkan satu kali), dan tanpa biaya tambahan. Mekanisme kedua, credit account, yang bisa digunakan selama 365 hari ke depan. Mekanisme kedua ini lebih praktis dengan masa penggunaan lebih panjang. 

Sebenarnya gue pribadi lebih milih mekanisme pertama, mengingat tiket yang gue beli harganya murah banget (sekitar Rp. 310,000 untuk tiket pulang pergi). Kalau ngga promo, gue agak kesulitan membeli tiket baru dengan 'modal' credit account segitu. Sayangnya jadwal penggantian jadwal keberangkatan dibatasi maksimal sampai 31 Oktober 2020 doang. Gue ngga perlu tiket baru sampai dengan periode itu, karena gue udah beli beberapa tiket AirAsia untuk 2020 sejak tahun lalu. Andaikan bisa gue gunakan untuk Desember 2020, karena kebetulan gue belum ada rencana akhir tahun....

Mau ngga mau gue memilih mekanisme kedua. Berhubung AirAsia sudah tidak memiliki layanan call center lagi, gue pun menghubungi AirAsia melalui AVA (AirAsia Virtual Allstar), portal berupa chatbot untuk melayani permintaan atau pertanyaan pelanggan AirAsia. Gue sengaja memulai chat sekitar jam 10 malam, karena menurut pengalaman gue, menghubungi AVA di jam - jam normal (pagi, siang, sore), susahnya bukan main untuk terhubung dengan officernya. Dalam waktu singkat, proses klaim credit account pun selesai, dan gue langsung menerima email konfirmasinya. Namun gue masih menemukan kendala. 

Ketika membeli tiket AirAsia tersebut untuk gue dan Ony, gue melakukannya terpisah. Pertama gue membeli satu tiket pp untuk gue, lalu menyelesaikan pembayaran. Kemudian, gue melakukan transaksi untuk pembelian tiket Ony. 'Strategi' ini emang kadang gue gunakan saat pembelian promo AirAsia, karena seringnya ketika gue membeli dua tiket sekaligus, tidak tersedia. Jadi gue harus melakukan dua kali transaksi, dengan kondisi ada perbedaan jadwal keberangkatan (jam) antara gue dan Ony. 

Saat proses credit account untuk tiket atas nama gue, semua berjalan cepat dan mulus. Namun herannya untuk tiket Ony, proses gue ditolak dengan jawaban otomatis "My apology to inform you this, but at the moment we will only give the credits to the traveling guess OR to the person who had paid the booking. Chat with me again if you reached out to the persons I mentioned beforehand!" Bingung....padahal gue kontak AVA dari akun AirAsia gue, yang gue gunakan saat pembelian tiket. Dan, gue melakukan pembayaran juga melalui akun ini, dengan kartu debit atau kredit atas nama gue. Sayangnya, AVA chat ini bukan dioperasikan oleh orang. Jadi, komunikasi yang bisa dilakukan sangat ngga fleksibel, sudah ditentukan menu - menu topiknya. Jadi ngga jelas kalau mau nanya hal yang spesifik kemana. Mungkin akan gue coba lagi lain waktu. Selain itu gue juga akan mengirimkan pesan pribadi ke akun - akun sosmed AirAsia (IG, Facebook). 

Sejauh ini dampak pandemi Covid-19 terhadap hobi traveling gue, baru ke tiket dan voucher hotel yang gue sebutkan di atas. Untuk jadwal terdekatnya lagi, di bulan Juli 2020 gue juga sudah memiliki tiket AirAsia lainnya, dan juga tiket Citilink tujuan Silangit, Sumatera Utara untuk Mama. Semoga pandeminya segera berakhir semoga segala rencana yang sudah dibuat bisa berjalan normal kembali. Dan juga ngga ada kerepotan untuk proses refund atau semacamnya.

Friday, April 17, 2020

Cerita Karantina : Kucing


Sejak mulai menjalani Work From Home tanggal 17 Maret 2020 karena kasus Covid-19, ada hal baru yang mengisi keseharian gue selama di rumah, yaitu empat ekor anak kucing yang hadir di rumah gue dengan cara misterius.

Gue sebut 'misterius' karena tiga dari empat kucing ini, muncul di teras rumah gue begitu saja, di saat mereka masih sangat kecil, gue rasa berusia beberapa minggu saja. 

Gue bukan penyuka kucing, ngga pernah pelihara kucing juga, dan bahkan selama ini gue pikir gue adalah 'anti kucing' garis keras. Gue ngga suka melihat kucing, menyentuh atau sekedar mengelus bulunya, bahkan berada di dekat kucing pun bikin gue ngga nyaman. Tapi kehadiran  empat anak - anak kucing secara mendadak dan bertahap di rumah gue, mau ngga mau bikin gue harus sedikit 'berkompromi'. 

Di awal WFH, ada seekor kucing jantan bersama anaknya yang masih sangat kecil, tiba-tiba menjadi penghuni teras rumah gue. Tentunya gue merasa terganggu, karena gue ngga rela teras gue jadi tempat tinggal permanen keduanya. Tapi karena ngga tegaan terhadap hewan, gue beberapa kali (kalo sempat) ngasih makan ke keduanya. Gue pikir, keduanya ngga bakal mendapatkan makanan dari lingkungan sekitar (tetangga). Perlahan namun pasti, si ayah kucing meninggalkan teras rumah gue, termasuk anaknya sendirian. Si ayah kucing masih kerap berkeliaran di lingkungan sekitar, sepertinya tinggal di salah satu rumah tetangga.

Di suatu pagi, saat gue membuka pintu rumah, tiba-tiba si anak kucing berwarna hitam putih ini langsung loncat masuk ke dalam rumah, tepatnya mendarat di kaki gue, sambil mengeong - ngeong dengan histerisnya. Untuk gue yang ngga pernah menyelami dunia perkucingan, gue beransumsi si anak kucing menangis karena kelaparan. Gue pun menyiapkan makanan seadanya. Si anak kucing langsung makan dengan lahap dan beringasnya.


Si hitam putih menjadi penghuni tetap teras rumah gue. Gue menyediakan makan dua kali sehari berupa nasi dan ikan lembek dan juga susu cair, dengan harapan anak kucing tersebut akan segera bertumbuh besar dan dewasa, dan akan meninggalkan rumah gue. 

Minggu berikutnya, di suatu pagi saat gue membuka pintu rumah. Dari jarak beberapa meter dari pintu rumah, gue melihat dua anak kucing yang sepertinya masih sangat kecil tanpa ditemani oleh kucing dewasa, berjalan ke arah rumah gue. Mereka tampak tertarik untuk mampir karena saat itu si kucing hitam putih sedang menikmati sarapannya. Ketika kedua anak kucing kembar ingin nimbrung, gue pun menghalau, berharap kedua bayi kucing tersebut mengerti bahwa kehadirannya tidak diharapkan (oleh gue). Karena gue ingat 'kata-kata bijak' bahwa sekali seekor kucing diberikan makan, dia ngga akan mau meninggalkan rumah atau orang yang menyediakan makan tersebut. Dan gue harus menampung tiga bayi kucing di rumah gue ? No way lhaaa ! Si kembar ini menghabiskan sepanjang harinya di teras rumah gue. Sementara gue yang sepanjang hari bekerja dari ruang tamu dan memandangi kehadiran mereka, ngga berdaya mencari cara mengusir mereka. Dan keduanya menjadi penghuni tetap teras rumah gue, bergabung dengan seniornya, si hitam putih.


Minggu berikutnya, seperti biasa, di pagi hari gue akan menyediakan makan untuk...sekarang menjadi tiga anak kucing. Setelah itu gue masuk ke ruang tamu untuk menyalakan laptop dan mulai bekerja. Menjelang jam 10 pagi, gue keluar menuju teras untuk melakukan rutinitas selama masa WFH yaitu berjemur. Setiap kali gue keluar untuk berjemur, biasanya anak - anak kucing itu akan langsung mengikuti gue dan berkumpul di sekitar gue. Kalau gue duduk menggunakan kursi kecil, ketiganya akan berkumpul di bawah kursi. Menurut gue insting kucing beda dengan anjing. Kucing ngga sensitif siapa yang menyukainya atau ngga, mereka akan datang ke siapa aja dengan sikap manjanya. 

Dan pagi itu gue kaget dengan dahsyatnya karena yang mendatangi gue bukan tiga anak kucing, melainkan empat !! Tadi pagi waktu gue memberikan makan ketiga anak kucing lainnya, gue ngga melihat keberadaan si anak kucing berwarna kuning ini. Gue heran...si kuning ini super kecil. Kemana induknya ? dari mana dia tiba - tiba muncul ? siapa yang bawa ke rumah gue ? Ngga ada jejaknya. Gue ngga ngerti dengan dunia kucing. Setahu gue, induk hewan apapun akan sangat posesif dan protektif terhadap anak yang baru dilahirkannya. Kok ini anak masih kecil bisa 'lari' dari induknya dan berkeliaran jauh dari pantauan?

Namun kali ini, gue menyikapinya dengan lebih cuek...atau lebih tepatnya, pasrah. Gue pikir, biarlah mereka tinggal di teras rumah gue, dan gue akan menyediakan makan secukupnya, dan lagi - lagi berharap dalam waktu singkat keempatnya akan berusia cukup dewasa untuk memulai petualangan hidupnya sendiri, dan meninggalkan teras rumah gue. Dan tugas gue selesai. 


Meskipun gue ngga menyukai kucing, tapi yang pasti gue ngga akan tega membiarkan anak - anak kucing tanpa induk ini menderita kelaparan. Dan karena gue terbiasa memelihara dan merawat anjing sepanjang hidup gue, gue pun akan merawat keempatnya ngga setengah - setengah. Gue harus rela mengesampingkan 'ketidaksukaan' dan 'keasingan' gue akan kucing dan dunianya, tapi yang jelas, keempat anak kucing ini harus tetap dirawat dan diberi makanan. 

Sekarang di rumah gue menyimpan stok ikan, makanan kering dan basah khusus kucing. Gue bahkan menyimpan stok obat cacing, karena seorang teman memberikan advice begitu mencurigai sepertinya salah satu atau beberapa dari kucing - kucing ini menderita cacingan. Gue menyiapkan tempat tidur empuk seadanya tempat mereka bisa berkumpul di malam hari. Gue juga menyediakan tempat minum, dan beberapa piring untuk mereka masing - masing, yang akan gue cuci bersih setiap kali selesai digunakan. Hal - hal yang ngga pernah gue sangka akan gue lakukan....terhadap kucing. 

Baru - baru ini, salah satu dari si kembar, mati. Hari itu kebetulan gue ke kantor, dan baru pulang malam hari. Hanya tiga kucing berkumpul menyambut kedatangan gue dan Ony. Meskipun sedikit khawatir tapi gue berusaha berpikir positif bahwa mungkin dia di'pinjam' tetangga untuk dijadikan 'mainan' malam itu. Kalau gue ngga di rumah, keempat kucing ini memang akan meninggalkan teras dan asyik bemain - main ke sana kemari. Sampai esok sorenya, si kembar ngga muncul, dan gue tergerak untuk mencari ke sekitar lingkungan rumah gue, tepatnya ke arah sebidang tanah kosong dengan rerumputan ngga terawat. Dalam sekejap, mata gue tertuju ke suatu titik, dan di situ gue melihat bangkai si kembar. 

Seumur - umur baru kali ini gue sedih melihat kucing mati. Beberapa minggu terakhir ini, gue berkompromi dengan ketidaksukaan gue akan kucing, dan fokus untuk menyelamatkan keempat anak kucing yang mendadak datang ke teras rumah gue, ke kehidupan gue. Gue berhasil mengubah cara berpikir, bahwa ngga penting gue suka atau tidak suka, anak - anak kucing ini tidak boleh mati kelaparan atau karena telantar. Dan itu adalah tugas gue untuk merawat mereka. Dan ketika salah satu dari mereka mati, di usia yang masih kecil seperti itu, terlebih gue ngga pernah tahu apa yang terjadi dan menimpa si kembar, rasanya usaha gue selama ini sia - sia.

Sekarang tinggal tiga anak kucing tersisa: si hitam putih, si kembar (belang) dan si kuning. Everything happens for a reason. Meskipun gue masih bertanya - tanya bagaimana anak - anak kucing ini bisa sampai di rumah gue, tapi keyakinan gue, ngga ada yang namanya 'kebetulan'. Saat ini kondisinya gue mampu untuk merawat mereka, dan di luar dugaan gue, kepedulian gue terhadap hewan ternyata cukup panjang dan lebar sampai gue bisa berkompromi 'berbagi' dengan beberapa kucing sekaligus. Semoga semua mahluk berbahagia !