I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Thailand. Show all posts
Showing posts with label Thailand. Show all posts

Friday, March 12, 2010

11 Februari 2010 - Pulang

di Pra Pinkloa Pier, nunggu beberapa saat, akhirnya kapal datang. Kapal terakhir yang gue naikin dalam kisah kasih bekpekeran gue di Bangkok ini. Tiba di Chang, gue langsung jalan ngebut menuju Khaosan. Udah jam 11 siang lewat, waktu gue sempit buat berkemas dan check out dari 7 Holder. Begitu sampe hostel, gue sempat ngumpulin jemuran gue, ngerecharge kamera dan handphone, ngerapiin isi ransel dan bersihin kamar gue. Sebenernya kamar gue ngga kotor, tapi yang jelas ada selusin lebih botol air mineral ukuran 1 liter ampe menumpuk di lantai kamar.

Gak nyangka, ternyata ada perasaan berat juga saat ninggalin kamar yang udah jadi tempat berlindung dan istirahat gue dan barang - barang selama 5 malam. Bahkan untuk bisa betah dan menyesuaikan diri dengan kamar ini pun butuh perjuangan tersendiri buat gue. Ini kamar dengan kondisi paling pas - pasan yang pernah gue tempatin selama gue berbekpeker ria. Biar gimana pun, pengalaman gue tinggal di kamar dengan kondisi ini menambah pengalaman tersendiri dan bikin gue jadi bekpeker yang lebih tahan banting.

Selesai berkemas gue turun untuk mengembalikan kunci kamar ke resepsionis, dan gue siap berangkat menuju booth tiket Aiport Express. Gue telat sampe di booth Aiport Express, dan ketinggalan bus yang berangkat jam 12.00. Gue harus menunggu keberangkatan bus jam 13.00. Tadinya sempet ada pikiran iseng terlintas, sambil nunggu gue pengen jalan - jalan deket Khaosan Road. Tapi ngga jadi, karena ransel gue rasanya terlalu berat. Lagian, hampir semua sudut dari Khaosan Road ini gue liat.

Gak beberapa lama kemudian, bus datang, gue masuk dan cuma bisa mengucapkan 'goodbye' ke Khaosan Road dalam hati. Ini mungkin akan jadi tempat yang paling susah gue lupain sepanjang hidup gue. Walopun judulnya 'traveling' ke Bangkok tapi setiap waktu rasanya perjuangan. Dan perjuangan gue dari hari ke hari berawal dan berakhir di Khaosan Road ini.

Bus berangkat, menuju Suvarnabhumi Airport. Perjalanan lancar, jadi hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam. Ketika dari kejauhan bangunan airport udah mulai keliatan, mata gue nyaris ngga berkedip. Takjub Suvarnabhumi Airport megah dan luas banget.

Gue turun tepat di pintu masuk/keluar saat kedatangan gue ke Bangkok 5 hari yang lalu. Karena masih cukup waktu, gue makan di kantin airport yang luas banget. Asyiknya, walopun berada di dalam area aiport, bersih, nyaman ber-AC, harga makanan di sini sangat terjangkau. Gue memesan sepiring nasi tim, tanpa beli minum, karena gue masih ada sisa air mineral untuk sepanjang waktu tunggu gue sampe keberangkatan nanti.

Entah kenapa, tapi sepertinya gue berhasil belajar hemat dalam perjalanan kali ini. Dari Jakarta gue bawa uang saku USD 155 ditambah 1,410 bath. Sekarang, saat gue akan terbang balik ke Jakarta, gue masih punya USD 30 dan sekitar 150 bath. Tapi walopun gue berhemat alias ngga keluar banyak biaya, tapi gue sangat menikmati perjalanan selama di Bangkok.

Di airport gue masih harus menunggu beberapa jam sampai waktunya check ini. Gue ngga terlalu merasa bosan, karena selain perut gue udah terisi dengan nasi tim khas Suvarnabhumi Airport, gue juga punya bacaan yang setia nemenin gue selama di Bangkok : To Kill A Mockingbird.

Waktunya check in pun tiba. Gue sempet khawatir dengan peraturan Airasia mengenai tas yang boleh dibawa ke kabin, yaitu hanya 1 buah dan maksimal 7 kg. Ransel gue ini rasanya udah jauh melewati batas itu. Gue ngga mo beli bagasi saat check in, tapi pasrah aja. Sewaktu - waktu petugas Airasia menangkap basah dan meminta gue untuk beli bagasi, gue akan nurut. Tapi ternyata lancar, tanpa masalah. Bagus deh...gue ngga perlu ngeluarin extra duit untuk beli bagasi.

Menjelang waktunya ngelewati pemeriksaan imigrasi gue sempet ke minimarket yang ada di dalam airport. Gue keluarin semua uang bath receh yang ada di kantong ato dompet gue. Setelah terkumpul, ternyata gue bisa beli 2 buah kue bakpao kecil untuk bekal di pesawat. Selama 3 jam lebih perjalanan kan pastinya gue akan ngerasa kelaparan nanti.

Gue pun melewati pemeriksaan imigrasi, dan menuju ruang boarding Airasia. Sial...kenapa selalu ada rasa sedih setiap kali akan ninggalin kota/negara tujuan bekpekeran gue. Gue jadi inget, malam pertama di Bangkok rasanya gue pengen kabur dan kembali ke Jakarta. Dan setelah semua proses penyesuaian diri yang ngga mudah itu terlewati, dengan sekejap gue harus ninggalin tempat itu.

Pesawat yang gue tumpangi pun berangkat dari Suvarnabhumi Airport jam 20.15. Sepanjang perjalanan gue sempat tertidur, makan bakpao, baca buku, bengong...tertidur lagi. Pesawat tiba di Bandara Soeta, Indonesia sekitar jam 23.45. Seperti rencana gue dari awal, malam ini gue akan nginep di bandara dan tidur di bangku yang ada di terminal keberangkatan international. Ini pengalaman kedua gue bermalam di airport, tapi kali ini sendirian. Ngga ada yang perlu gue takutkan, karena di dalam terminal ada beberapa petugas kebersihan bandara yang juga tidur di bangku lainnya.

Tidur dan bermalam di bangku bandara ini sebagai penutup traveling gembel gue. Mungkin orang bingung dengan alternatif liburan yang gue pilih, yang terkesan menjauh dari segala hal yang nyaman - nyaman, bahkan menjurus merepotkan diri sendiri. Tapi buat gue pribadi, bekpekeran itu bukan sekedar membawa ransel di pundak dan berpetualang dengan mencari segala hal yang paling murah. Buat gue, bekpekeran itu pengalaman yang sangat indah. Sebuah proses keluar dari kenyamanan rutin gue sejenak, menghadapi segala masalah dan rintangan, menangis karena nyaris putus asa (dan karena gue emang cengeng), mencari solusi, dan bangkit lagi. Bekpekeran mengingatkan gue kalo Yesus selalu menemani kemanapun gue pergi, dan dalam kondisi apapun dengan berbagai cara, Yesus pasti mendengar dan menjawab doa gue. Makasih Yesus...!!

11 Februari 2010 - Royal Barge Museum

Kisah pencarian Royal Barge Museum ini sama persis saat gue nyari Vimanmek Mansion. Sebenernya gue gak tau dan ngga punya modal informasi secuilpun mengenai posisi tepatnya, tapi cuma bermodal nekad dengan singgah di dermaga terdekat di lokasi itu. Gue punya niat sekuat baja (baca : nekad abiessz), karena gue udah ukur jarak posisi antara Pra Pinkloa Pier dan Royal Barge Museum dalam peta adalah 1 ruas jari telunjuk gue. Entah artinya berapa puluh kilometer, tapi bagi gue itu artinya masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tiba di Pra Pinkloa Pier gue mampir di 7Eleven. Perut udah mulai bersenandung kelaparan. Di sini gue beli roti bakar isi tuna...lumayan murah, cuma 20 bath. Rotinya gue bungkus buat bekal di jalan.


Dalam pencarian Royal Barge Museum, gue berkali - kali nyasar. Gue sempet bertanya ke beberapa orang yang gue temui di jalan...dan semuanya menunjukkan arah yang beda. Gue cuma pasrah tanpa berenti jalan, dan tiba di Soi Wat Dusitaram, gue nanya arah lagi ke seorang turis bule yang jalan dari arah berlawanan. Dari informasi yang dia kasih, gue jadi lega karena gue ternyata udah mendekat menuju lokasi Royal Barge Museum.


Ternyata pencarian gue berakhir di sebuah jalan setapak kecil alias gang. Gue sebenernya bingung, tapi petunjuk jalan yang ada mengarahkan gue buat masuk ke gang itu. Sepi. Mau ngga mau gue mulai menyusuri gang, melewati rumah - rumah penduduk yang kecil, sempit bahkan bisa dibilang kumuh. Tapi walopun di dalam gang sempit, petunjuk arah menuju Royal Barge Museum di sepanjang gang, sangat jelas...

Sepanjang jalan gue terheran - heran, masa jalan masuk menuju museum penting yang menjadi tujuan wisata Bangkok, melalui gang sempit yang panjang dan berliku - liku seperti itu. Kalo bekpeker gembel kayak gue sih mau aja ngejalanin rute panjang yang melelahkan demi ngeliat Royal Barge Museum, tapi gue ngga yakin semua wisatawan yang datang ke Bangkok sanggup dan berminat kalo tau begini jalan yang harus ditempuh. Gue sedikit khawatir ngga bisa mengingat arah balik gue, karena walopun petunjuk arah banyak, tapi alakadar banget...cuma triplek kecil dengan tulisan : Royal Barge Museum dan tanda panah seadanya.


Akhirnya....tiba juga di loket tiket masuk museum. Gue beli tiket seharga 100 bath. Ternyata kalo gue mo memotret di dalam museum, gue harus bayar extra 100 bath untuk kamera gue. Busseett...udah jalannya jauh, harga tiket masuknya mahal pula : total 200 bath. Begitu masuk, gue bengong terpana. Oh Nooo...!! Museumnya unik....berdiri di atas kanal Bangkok Noi, anak dari sungai Chao Phraya...tepat di hadapan museum, terbentang sungai. Kondisi di museum sendiri gelap - gelap yang bikin gue ngeri ngga jelas. Kapal - kapal kerajaan yang megah disusun bersebelahan. Pengunjung bisa berkeliling dan melihat - lihat isi museum dengan berjalan di lantai semen selebar sekitar 1 meter, di antara kapal - kapal. Sementara kapal - kapal tersebut posisinya ada di atas air...Alamaakkk....gue jadi merinding.

Awalnya gue cuma berani berjalan di bagian depan museum...gak berani menyusuri ke bagian belakang museum...tapi semangat gue bangkit karna gue inget 2 hal : perjalanan panjang menuju museum ini dan tiket masuknya yang onde mandeee....mahal ! Saat itu gue satu - satunya pengunjung yang datang, tapi untungnya ada beberapa petugas juga yang berjaga. Selain mengurangi rasa takut gue, kehadiran mereka juga gue manfaatkan untuk memotret gue. Gue ngga mau terburu - buru meninggalkan museum...200 bath yang harus keluar dari pundi - pundi gue hari itu bikin ngga rela untuk meninggalkan museum terlalu cepat.

Tapi, semakin lama di museum ini, gue justru menikmati dan mengagumi kapal - kapal kerajaan yang tersimpan disini. Kapal - kapal ini hanya digunakan pada perayaan ato upacara kenegaraan. Gue terpana ngeliatin kapal - kapalnya karena didekorasi dengan ukiran - ukiran dan warna yang, menurut gue, super indah. Setelah gue yakin kalo gue benar - benar puas menikmati kunjungan ke Royal Barge Museum, gue meninggalkan lokasi. Kembali menyusuri gang sempit yang berkelok - kelok. Tiba di jalan besar, perjuangan belum selesai. Gue belum lupa jauhnya jarak yang harus gue tempuh menuju Pra Pinkloa Pier lagi. Matahari rasanya udah tegak lurus di atas kepala gue, ngebakar kulit gue yang udah gosong bukan main.

11 Februari 2010 - Giant Swing & 14 October Monument

Selamat paggiii !!!

Bangun tidur di hari ini dengan perasaannya gado - gado. Tapi yang paling kerasa : sedih...karena hari ini waktunya pulang kembali ke Indonesia Raya. Padahal udah mulai menikmati Bangkok, terutama Khaosan Road yang hingar - bingar ini.

Hari ini gue bertekad tetep jalan - jalan, menikmati setiap sisa detik yang gue punya. Masih ada tempat - tempat di peta yang kayaknya harus disinggahi juga. Nanti siang ato sore baru berangkat ke airport.

Abis mandi gue nyuci baju sedikit. Hari terakhir ini sekaligus puncak dan rekor kegembelan gue selama berbekpeker. Pagi ini gue gue bener - bener kehabisan baju, terutama bawahan (celana). Akhirnya, kain Bali gue harus berkorban lebih dan berubah jadi rok hari ini. Karena modelnya kain, bukan rok, gue butuh sesuatu untuk menjepit tuh rok jadi - jadian supaya ngga melorot apalagi lepas. Berhubung gue ngga bawa peniti dari Jakarta, 2 binder clip yang biasanya gue pake buat jepit segala macem kertas - kertas di passport pun gue pake untuk jepit sana - jepit sini tuh kain...dan voila !! Here I am...bekpeker wannabe pake rok kain Bali.

Rencana gue hari ini : ke Giant swing di Dinso Road....abis itu jalan kaki ke Chang pier dan naek kapal ke Ratchawong Pier menuju ChinaTown...dari Ratchawong naek kapal balik, tapi bukan turun di Chang, melainkan ke Pra Pinkloa Pier untuk nyari Royal Barge Museum. Selanjutnya, gue balik ke Chang lagi, menuju Khaosan, siap - siap check out dari 7 Holder, dan brangkat ke aiport. So little time so much to do !!! Gue udah harus check out dari 7 Holder jam 12.00, supaya ngga kena charge kamar hari itu.

Setelah gue beres - beres ransel dan jemur cucian, gue mulai perjalanan hari ini, ke target pertama, Giant Swing. Gue penasaran aja...apa maksudnya Giant Swing...ayunan raksasa ?? ayunan apaan...? mainan yang biasa ada di taman - taman ato sekolah itu ?

Walopun sempet nyasar sedikit, akhirnya tiba juga di Dinso Road. Di area yang sama gue malah ketemu City Hall. Di depan City Hall ada alun - alun, dan sepertinya sedang dilangsungkan upacara keagamaan di situ. Pengennya sih tinggal sebentar di situ buat liat upacara, tapi ngga bisa....waktu terbatas. Gue mendekat ke Giant Swing.

Giant Swing ini dibangun tahun 1784, di masa King Rama I. Kayaknya ini bangunan paling tua dibandingkan tempat lain di Bangkok yang udah gue kunjungin. Giant Swing pada masa itu digunakan untuk upacara keagamaan. Maksudnya ?? Upacara Tri-yampawai, yaitu upacara tahun baru Brahmin, yang berlangsung selama 10 hari. Berdasarkan cerita Hindu Kuno, setelah Brahma menciptakan alam semesta, ia mengirim Shiva untuk melihatnya. Waktu Shiva turun ke bumi, ular naga melingkari gunung-gunung untuk menjaga supaya bumi tetap pada tempatnya. Shiva melihat bumi tampak kokoh, dan para naga pun pindah ke laut untuk merayakannya.

Upacara Tri-yampawai untuk memperingati kisah ini. Pilar - pilah ayunan menyimbolkan gunung - gunung, sementara dasar tempat pilar berdiri, yang bentuknya melingkar, menyimbolkan bumi dan laut.

Di masa King Rama II, upacara dihentikan karena giant swing rusak akibat disambar petir. Setelah itu Giant Swing mengalami banyak proses renovasi dan rekonstruksi. Wuihh...walopun menurut gue Giant Swing letaknya ngga terlalu strategis (buktinya gue sempet nyasar..), tapi ternyata ada sejarah panjang dibaliknya, mengenai fungsinya yang sangat penting.

Gak bisa berlama - lama menikmati Giant Swing, gue harus melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju Chang Pier, gue malah mampir ke Monument of 14 October.

Monument of 14 October dibangun sebagai penghormatan bagi rakyat Thailand yang tewas terbunuh pada unjuk rasa melawan pemerintahan militer yang diprakarsai oleh kalangan mahasiswa, pada 14 Oktober 1973. Monumen ini juga sebagai simbol penghormatan bagi rakyat Thailand yang tewas pada Oktober 1976 dan Mei 1992, dalam aksi protes melawan aturan militer.

Di monumen ini pengunjung (yang pagi itu cuma gue seorang), bisa membaca mengenai sejarah monumen dan peristiwa - peristiwa yang melatarbelakangi dibangunnya monumen ini, melalui potongan artikel - artikel berita media cetak yang dipamerkan di monumen itu.

Walopun blon puas, tapi gue harus meninggalkan monumen, untuk menuju Chang Pier. Sepanjang jalan gue menimbang - nimbang....waktu semakin menipis...sepertinya gue cuma punya kesempatan untuk mengunjungi 1 lokasi lagi. Jadi gue harus memilih, ke ChinaTown ato Royal Barge Museum. Tiba di Chang Pier, keputusan gue bulat : let's go to Royal Barge Museum. Gue pun naek kapal menuju Pra Pinkloa Pier.

Monday, March 08, 2010

10 Feb 2010 - BTS & MRT Tour

Jim Thompson Mansion mission completed, selanjutnya gue mo menghabiskan waktu sore dengan naek BTS ato MRT sepuas - puasnya, tapi gak boleh ketinggalan kapal di Satorn Pier. Target gue berikutnya adalah Victory Monument. Victory Monument adalah monumen militer yang dibangun taun 1941 untuk memperingati kemenangan Thailand atas perang Franco - Thailand. Untuk mencapai lokasinya, dari National Stadium Station gue naek BTS lagi ke Victory Monument Station.

Dari station gue udah bisa ngeliat Victory Monument, dan gue sempat keluar dari station dan ke jalan raya untuk nyeberang ke monumen, buat liat lebih dekat. Tapi gue sedikit ngeri dengan kondisi jalan raya di kawasan itu yang sore itu lagi padat banget. Bukan cuma padat sama bus - bus tapi juga orang - orang yang ramai lalu lalang dan pedagang kaki lima...Akhirnya gue naek ke station lagi, memandang monumen dari jarak aman.

Perjalanan dilanjutkan. Kali ini pengen nyoba MRT nya Bangkok. So, dari Victory Monument Station naek BTS lagi ke Chit Lom Station. Chit Lom Station adalah station transit buat naek BTS ke Si Lom Station. Di Chit Lom Station pas gue lagi antri mesin tiket, perempuan di depan gue, yang keliatan lagi bingung, tiba - tiba bilang, "Sorry, I'm a tourist, and this my first time using this machine, and I dont know how.." Ternyata dia turis Asia yang lagi traveling di Bangkok juga bareng ibunya dan seorang cowo. Dengan senang hati gue kasih liat ke dia gimana cara kerja mesinnya. Gue ngerti banget gimana rasanya bingung saat lagi di tempat asing, di antara orang asing juga....dan sama seperti gue, di saat - saat seperti itu pasti gue juga akan butuh orang yang bersedia ngebantu gue.

Si Lom Station adalah pertemuan antara BTS dan MRT station. Waktu mo beli tiket MRT gue sempet bingung tujuh keliling gimana cara pake mesin tiketnya, karena beda ama mesin tiket BTS, kayaknya lebih complicated. Bedanya, mesin tiket MRT bisa nerima uang kertas, sementara mesin tiket BTS hanya uang logam, makanya di station - station BTS selalu dilengkapi dengan tempat penukaran uang logam. Udah gitu, kalo tiket BTS berupa kartu magnetik, tiket MRT berupa koin.

Tujuan gue adalah Hua Lampong Station. Sebenernya gue ngga ada tujuan jelas di Hua Lampong ini, cuma pengen nyobain MRT nya doang. Awalnya sih pengen ke daerah Sukhumvit, tapi takut ketinggalan kapal nanti. Berhubung Hua Lampong adalah station paling ujung, gue naek MRT balik lagi sampe Si Lom Station. Tiba di Si Lom lagi, gue malah tergoda buat mampir di King Rama VI Statue. Berarti hari ini, King Rama V dan King Rama VI Statue missions completed.

Gue naek BTS lagi, pulang ke Saphan Taksin Station. Hari mulai gelap, gue udah mulai dag dig dug takut ketinggalan kapal. Tiba di Saphan Taksin, lanjut lagi naek kapal pulang dari Satorn Pier.

Hmm...kalo diitung - itung, perjalanan gue hari ini panjang banget....tapi puas banget karena akhirnya udah bisa nyobain alat transportasi lainnya di Bangkok : MRT.

Tiba di Khaosan Road, gue langsung ke 7 Holders. Abis mandi dan bersih - bersih, gue keluar hostel lagi...biasa, jalan - jalan malam di Khaosan Road sambil beli air mineral di 7Eleven. Kayaknya lama - lama gue terbiasa banget dengan kesendirian gue. Di tengah keramaian Khaosan Road, gue justru menikmati acara jalan malam walopun sendirian. Malam ini gue jalan agak jauh, sampe ke ke Rambuttri Road, dan tepat di ujung jalan nemu warnet yang murah meriah, dan gue menghabiskan hampir 3 jam di sini.

Abis itu gue pulang ke 7 Holder dan bobo dengan nyenyaknya.

Thursday, February 25, 2010

10 Feb 2010 - Jim Thompson Mansion

Dari Thewet Pier gue kembali naik kapal, bukan pulang ke Chang, tapi ke Satorn. Target gue berikutnya adalah Jim Thompson Mansion. Sebenernya gue udah laper banget (laper mulu..), tapi untung gue bawa bekal biskuit Regal (dari Jakarta) dan sebotol air mineral di tas, jadi bisa ngemil buat ngeganjal perut yang dangdutan, sambil jalan.

Tiba di Satorn Pier, gue ke Saphan Taksin Station dan naik BTS ke National Stadium Station. Thanks God, nyari Jim Thompson Mansion sama sekali ngga susah. Karena dari National Stadium Station pun petunjuk keberadaannya udah kelihatan. Jim Thompson Mansion letaknya bukan tepat di pinggir jalan besar tapi jalan kecil Soi Kasemsan 2, yang ada di Rama 1 Road.

Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, akhirnya tiba di gerbang rumah Pak Jim Thompson yang bergaya tradisional Thailand, didominasi oleh kayu berwarna merah. Pak Jim Thompson adalah orang USA kelahiran 1906, yang berprofesi sebagai arsitek, dan menjadi sukarelawan US Army. Ketika ditugaskan ke Bangkok, Pak Jim jatuh cinta (ciieeeeeee...) sama kota ini dan memutuskan tinggal menetap di sini.

Pak Jim menaruh perhatian besar pada kerajinan tenun tangan sutera, dan dianggap berjasa karna udah memajukan industri kerajinan sutera Thailand dan mengenalkannya pada dunia international.

Tragisnya, Pak Jim menghilang secara misterius di Cameron Highlands, Malaysia, tanggal 26 Maret 1967, dia ngga pernah ditemukan, dan ngga meninggalkan petunjuk apapun mengenai keberadaannya sampe saat ini.

Untuk masuk ke rumah Pak Jim, harus bayar tiket seharga 100 bath. Abis beli tiket, pengunjung harus menunggu group tour sesuai dengan bahasa tour guide yang dipilih. Gue milih bahasa Inggris dan harus menunggu sekitar 15 menit stafnya. Asyiknya, selama menunggu gue boleh liat - liat taman mansion yang asri, hijau dan teduh banget.

Gue keasyikan liat - liat tamannya Pak Jim, dan tiba - tiba tour guide manggil peserta group T, groupnya gue, untuk mulai tour. Tour dimulai dengan...melepas alas kaki. Bagus deh...biar sendal jepit gue yang kotor dan dekil itu ngga ngotorin lantai rumah Pak Jim. Abis itu...masukkin barang - barang ke loker yang disediakan, termasuk kamera.

Tour guide menunjukkan satu persatu ruangan rumah Pak Jim. Gue terkagum - kagum ngeliat perabotan rumah yang mengisi setiap ruangan. Jelas terlihat kalo pemiliknya pasti seseorang yang mengerti dan menjunjung seni setinggi - tingginya. Kadang pengunjung ketawa mendengar penjelasan tour guide, mengenai perabot - perabot unik yang ada di rumah Pak Jim. "Oohh...? Really...?? Hahahaha...!!" itu kata - kata yang paling sering terucap dari bibir pengunjung di group gue. Kalo gue, cuma mata gue doang yang sibuk mengamati rumah Pak Jim dan segala pernak - perniknya...paling sesekali gue teriak dalam hati, "Sumpe lho ? Gileee...keren abieezzz!! Oo Em Jiiii !!"

Tour pun berakhir, saking puasnya pengunjung sampe bertepuk tangan segala .

Abis itu, gue ngga langsung meninggalkan rumah Pak Jim. Mula - mula gue ke WC, untuk bersih - bersih, setelah itu gue ke bangunan lain di dalam area rumah Pak Jim. Kebetulan saat itu lagi berlangsung pameran astrologi bertema Golden Tiger / Hidden Monkey di The Jim Thompson Art Center (TJTAC). Di dalam ruang pameran hampir ngga ada pengunjung laen, cuma ada seorang petugas yang asyiknya sangat ngebantu kalo gue mo motret.

Setelah berputar - putar di dalam TJTAC, baca ini itu, info yang gue dapatin adalah : gue bershio kambing, dengan karakter :

creative (kayaknya agak tepat)
refined (what's this ? sopan ? tergantung)
gentle (benar - benar.....salah total !)
patient (salah orang, not me)
trendy (dalam hal ?)
sometimes indecisive (better 'sometimes' than 'always')
shy (really ? me ?)
merciful and caring (I am !! )
lonely (kadang - kadang)
prudent (bijaksana...hopefully lha !)
It is very difficult for them to fall in love. But once they are in love they will love deeply and romantically (agree !! agree ! agreeeee !! )
superstitious (I'm a superstitious girl, I'm the worst in the world ~by Desree...yes, that's me !!)

Selain itu, disediain juga sample - sample wewangian yang cocok buat masing - masing shio. Khusus untuk kambing people, wewangian yang cocok adalah minyak esensial citrus dan sejenisnya, dengan aroma asam seperti jeruk, yang bisa menenangkan kambing people. Karena gue seneng banget dengan aroma minyak esensialnya, gue olesin tuh minyak sebanyak mungkin ke kaos gue, mumpung sepi banget di ruang pameran, jadi gak ada yang liat. Maklum deh, perjalanan panjang, cuaca panas, keringetan....gue butuh aroma yang segar - segar biar semangat lagi, sekaligus.....mengurangi bau keringat yang menempel di kaos gue .

Friday, February 19, 2010

10 Feb 2010 - Vimanmek Mansion

Udah hari kelima gue di Bangkok...masih banyak lokasi yang harus gue cari dan kunjungi. Hari ini gue harus nyari Vimanmek Mansion yang cukup fenomenal itu.

Walopun gue pernah dikasih tau bahwa kalo mau ke Vimanmek Mansion dari Khaosan Road harus naek taxi, tapi gue ngotot mau pake cari laen, naik kapal. Gue liat di peta, dermaga yang paling deket menuju Vimanmek Mansion adalah Thewet Pier. Setelah itu, gue harus cari jalan lagi untuk sampe ke Vimanmek. Dengan langkah agak ragu, gue jalan menuju Chang Pier.

Di pintu masuk Chang Pier ada booth kecil yang ngakunya 'tourist information center'. Trus gue nanya ke seorang bapak yang jaga booth, mengenai rencana gue mencapai Vimanmek dengan cara naek kapal sampe Thewet Pier, trus jalan kaki. Tampangnya berubah bingung, trus dia bilang gue salah jalan, dan nyuruh gue naek naek taxi. Gue ngotot ngasih liat peta gue, yang menunjukkan posisi antara Thewet Pier dan Vimanmek. Akhirnya si bapak cuma bilang, "If you want to go to Thewet...just go there."

Huhhh....dari cara dia ngemeng seakan - akan cara yang gue pilih tuh konyol dan salah banget gitu. Gue sebenernya masih yakin dengan alternatif yang mau gue ambil, kecuali peta Bangkok yang gue pegang, yang gue dapat secara gratis di bandara, emang dibuat untuk menyesatkan orang.

Tapi di tengah kebingungan akhirnya gue malah kembali ke jalan raya, dan mencari taxi. Udah 2 sopir taxi gue berentiin, tapi mereka ngga tau di mana Vimanmek itu berada. Gue jadi bertambah bingung, karena Vimanmek itu letaknya masih di Bangkok, dan menjadi salah satu icon tujuan wisata Bangkok, tapi kok sopir taxi ngga tau dimana letaknya.

Trus gue cari Taxi motor. Gue kasih liat peta gue, dan sopirnya nanya - nanya ke sesama sopir lainnya...trus masih dengan tampang ngga yakin dia bilang, "100 bath". Halllaaaahh.....bukan 100 bathnya yang jadi masalah...tapi dari wajahnya aja gue udah yakin kalo dia ngga tau di mana Vimanmek itu.

Akhirnya gue kembali ke Chang Pier. Selama pengalaman gue bekpekeran, terlebih sendirian, kadang ada hal yang lebih bisa diandalkan dibandingkan peta ato petunjuk manapun, namanya i-n-s-t-i-n-g. Insting gue bilang ke Thewet Pier adalah cara terbaik yang harus gue tempuh. Walopun pas tiba di Thewet nanti gue belum tau jalan berikutnya yang harus gue tempuh, tapi setidaknya alternatif ini lebih menghemat uang gue, dan itu hal yang sangat gue butuhkan saat ini. Selama gue masih bisa menjangkau dengan jalan kaki, sejauh apapun, selelah apapun, semoga bisa gue jalanin dan nikmatin.

Gue naek kapal dan turun di Thewet Pier. Begitu tiba, gue jalan kaki tanpa tau pasti arah perjalanan gue. Gue udah ngga bisa mengandalkan peta lagi, karena peta ngga menjelaskan secara detil sampai ke jalan - jalan kecil di Thewet. Udah gitu, kendala yang gue hadapi selama di Bangkok ini karena masih banyak nama jalan ato lokasi yang ditulis dalam tulisan Thailand yang bener - bener ngga gue ngerti. Gue cuma mengandalkan insting gue, kapan harus nyeberang, harus berbelok atau jalan terus. Sampai gue sadar, ternyata gue udah berjalan sangat jauh dari Thewet Pier tadi, dan kelelahan menghentikan langkah gue tepat di seberang sebuah bangunan bernama Thailand Youth Hostel International.

Gue menyeberangi jalan, masuk ke kantor itu, dan nanya arah ke Vimanmek. Lelaki baek hati yang gue tanyain dengan ramah ngejelasin kalo gue tinggal jalan lurus, lalu belok kiri di perempatan jalan. Gue girang bukan main...karena ternyata gue ngga nyasar, dan dalam jalan yang bener menuju Vimanmek. Dengan semangat, gue lanjut berjalan kaki.

Tiba di Ratchadamnoen Nok Avenue, dari kejauhan gue malah melihat sebuah bangunan megah berdiri tepat lurus di hadapan gue. Gue liat peta gue lagi....National Assembly. Di depannya ada King Rama V Statue. Artinya, Vimanmek semakin deket. Ternyata Assembly Hall ini disebut juga Anantasamakon Thone Hall. Wahh...berarti gue bisa masuk ke sini dengan tiket yang gue beli di Grand Palace. Gue pun berlari (saking girangnya) ke pintu utama. Untuk boleh masuk ke dalam bangunan ternyata gue harus pake rok. Gampang, gue keluarin kain Bali dari tas.....melingkarkan ke pinggang gue.....dan jadilah rok !


Masuk ke Anantasamakon Throne Hall, gue ngga berhenti berdecak kagum. Bangunannya megah bergaya Rennaisance, dibangun tahun 1907 pas masanya King Rama V, oleh arsitek Italia. Sayangnya di sini ngga boleh memotret.

Selesai dari Anantasamakon Throne Hall, gue cuma perlu berjalan kaki sebentar dan tiba di Abhisek Dusit Throne Hall. Anantasamakon Throne Hall dan Abhisek Dusit Throne Hall masih berada dalam komplek Dusit Palace. Abhisek Dusit Throne Hall juga dibangun di masa King Rama V, yang salah satu fungsinya tempat menjamu tamu - tamu kenegaraan. Tapi sekarang fungsinya kayak museum, tempat memamerkan hasil - hasil seni dan kerajinan khas Thailand, buatan Support (Supplementary Occupation and Related Technology) Foundation, yayasan yang dinaungi oleh Ratu Thailand. Lagi - lagi, di sini dilarang memotret.

Masih di dalam komplek Dusit Palace, akhirnya gue menemukan Vimanmek Mansion. Masuk ke sini lebih ketat, harus pake rok, gak boleh pake topi, barang pribadi harus dititip di loker yang cuma berfungsi kalo dimasukin koin 2 x 10 bath alias musti bayar, trus gak boleh pake alas kaki juga.

Vimanmek adalah rumah kayu jati terbesar di dunia, dibangun tahun 1900 oleh King Rama V. King Rama V menempati Vimanmek sebagai istana kerajaan hanya selama 5 tahun. Tahun 1982, atas keinginan Ratu Sirikit, Vimanmek mulai dijadikan museum untuk mengenang King Rama V.

Pengunjung yang datang ngga boleh asal masuk ke dalam bangunan Vimanmek, harus antri, karena tour keliling Vimanmek harus didampingi tour guide. Seperti biasa....dilarang memotret di dalam istana...cuma boleh dari luar aja. Di sini gue kenalan sama turis lain, Diane dari Philippine, dan kita bedua kerja sama dalam urusan potret - memotret.




Puas menjelajah di komplek Dusit Palace, waktunya gue keluar karena masih banyak tempat yang harus gue kunjungi hari ini. Pas gue lagi di depan gerbang, tiba - tiba ada taxi berenti di depan gue, dan si sopir nanya arah menuju Vimanmek Mansion. Sesaat gue kaget...gimana bisa, sopir taxi malah nanya arah ke turis non lokal ? Vimanmek gitu lhoo...yang notabene salah satu tujuan wisata utama di kota Bangkok. Gue kasih tau ke Pak Sopir. Trus, 2 turis bule keluar dari tuh taxi, dan nanya lebih lanjut gimana cara ke Vimanmek. Dan dengan senang hati gue jelasin kalo Vimanmek tuh ada di dalam komplek Dusit Palace yang ada di hadapan gue...Jadi, gue sarankan, terlebih kalo dia udah beli tiket Grand Palace, supaya masuk dan lihat National Assembly dulu, lalu Abhisek, terakhir ke Vimanmek deh ! Gratisszzz kalo pake tiket dari Grand Palace.

Abis itu gue melanjutkan perjalanan pulang. Walopun gue udah bisa ngebayangin jauhnya jalan balik yang harus gue tempuh untuk ke Thewet Pier, tapi rasa happy dan puas menghapus cape dan lapar gue sejenak. Thanks Jesus..finally, Vimanmek Mansion search is accomplished.

Thursday, February 18, 2010

09 Feb 2010 - Jalan Panjang Menuju Tiger Temple


Kirain masalah udah selesai, ternyata ngga. Baru beberapa menit mobil jalan, trus mampir lagi di restaurant village. Di sini kita ketemu sama beberapa turis laennya, yang gue asumsiin sebagai korban dari tur agent juga. Ternyata mobil yang nganterin ke sini, tujuannya bukan Tiger Temple, tapi entah kemana, ngantarin cewe - cewe bule yang belakangan masuk. Gue berlima lagi - lagi diturunkan dari mobil. Jam - jam segitu panasnya matahari udah bener - bener menyengat kulit gue...Tapi gue rasa nasib gue dan 4 orang peserta laennya mendingan, karna di sini masih banyak turis lainnya yang udah nungguin lebih lama.

Sialan banget nih tour agent, pengaturannya kacau balau. Kok berani - beraninya menelantarkan kliennya. Setelah itu kita berlima disuruh masuk ke sebuah mobil. Gak beberapa lama kemudian mobil udah full, sama wajah - wajah baru yang belum gue liat sebelumnya. Warna kulit boleh beda, ada yang merah, putih, kuning, item (dan gosong kayak gue.)..tapi wajah kita menunjukkan emosi yang sama....bingung, kesal, marah , lapar dan cape. Walopun mobil udah full, mobil ngga kunjung berangkat. Di situlah perut gue udah mulai terasa mual. Pusing. Panas banget...jam makan siang udah lewat, dan mobil masih menunggu tanpa kepastian.

Lalu seorang cewe yang kayaknya koordinator tour masuk ke mobil dan duduk di kursi paling belakang. Trus dia bilang, "Sorry....bla...bla...bla..." Kamprettt tuh orang....untung dia duduk jauh dari gue. Kalo deket pengen gue rasanya, saking keselnya gue.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan, mobil berenti lagi. Kali ini untuk makan siang. Semua penumpang mobil yang isinya 15 orang dipersilahkan duduk di 1 meja makan. Di meja udah tersaji piring nasi seadanya dan beberapa piring lauk. Kalo diitung - itung, perbandingannya 3 piring kecil lauk (dengan menu berbeda) untuk 5 orang. Minim banget...padahal kita semua udah kelaparan. Udah gitu kebanyakan yang duduk di meja itu bule....porsi mereka jauh lebih banyak dari gue.

Kita pun makan dengan lahapnya...dan selama itu, rombongan - rombongan tour lainnya berdatangan. Restoran penuh. "Korban - korban lainnya nih..." pikir gue.

Selesai makan, mobil gue berangkat lagi, menuju River Kwai Bridge. Perjalanan sekitar 45 menit. Kondisi gue udah kurang enak saat itu. Walopun udah makan siang, rasa eneg dan pusing ngga hilang begitu aja. Perjalanan jadi semakin menyiksa. Udara panas, mobil yang sempit, dan...bule Italiano yang duduk di belakang gue ngga berenti - berenti ngobrol sejak dari restaurant village tadi. Gue makin pusing ngedenger suaranya yang bising.

Mobil berhenti lagi, di depan War Museum...si koordinator sialan bilang kalo group tour dipersilahkan masuk ke War Museum tersebut, tapi harus bayar masing - masing (40 bath), ato bisa juga langsung ke River Kwai Brigde dengan berjalan kaki ngga terlalu jauh dari War Museum.

Selain itu dia juga bilang, kalo nanti di Tiger Temple tuh ngga boleh pake baju warna merah, orange, ato warna mencolok lainnya...bajunya harus lengan panjang...ngga boleh pake celana pendek....Kalo mau beli baju ato celana panjang di Tiger Temple harganya bakal mahal banget....What ??! Kenapa pas gue bayar semalem di kantor Mama Tour ngga ada yang ngasih tau gue informasi sepenting itu ?! Jadi maksudnya, rombongan dengan kostum ngga memenuhi syarat harus belanja baju dan celana di River Kwai, gitu ??! Ternyata bukan gue doang, peserta yang lain pun ngerasa jengkel karena sebelumnya ngga dikasih tau soal peraturan baju itu.

Gue berusaha menyingkirkan sejenak kekhawatiran gue soal baju. Walopun hati gue agak gundah gulana juga....setelah perjalanan panjang yang penuh cobaan ini, jangan - jangan gue ngga boleh masuk ke Tiger Temple cuma gara - gara urusan baju.

Gue dan 4 orang lainnya (Ursula dari Austria, 2 orang USA dan 1 Canadian), korban sejak Damnoen Saduak tadi, ngga berminat buat ke War Museum, so kita langsung menuju River Kwai Bridge. Di atas jembatan inilah dibangun rel kereta api yang menghubungkan Thailand dengan Burma, dan dibangun pada masa Perang Dunia II. Foto - foto bentar, trus balik lagi ke War Museum.

Beberapa saat kemudian, mobil berangkat lagi...kali ini...akhirnya...menuju ke Tiger Temple. Perjalanannya lama, sekitar 1 jam lebih.

Tiger Temple dibanjiri mobil - mobil tour. Gue pun antri buat beli tiket masuk, 500 bath. Kata si koordinator tour baju gue "enough" alias cukup memenuhi syarat untuk masuk.

Tiger Temple di luar dugaan gue. Gue pikir tempatnya bakal hening, adem, tenang, kayak layaknya temple yang sering gue datangin. Tapi Tiger Temple lebih kayak hutan luas yang..alamakkk...gersang amatt...Di pintu masuk, langsung disambut sama hewan - hewan kayak sapi, rusa, babi hutan....ada unta juga. Mereka kayaknya dibiarkan hidup bebas di sini. Gue langsung ke area utama, tempatnya para harimau. Tiba di sana, turis udah lumayan membludak. Gue langsung ambil antrian untuk foto bareng harimau. Hanya foto reguler, karena kalo gue mo foto spesial, harus bayar lagi 1,000 bath. Wadduhhh...emangnya foto spesial sama harimau tuh kayak mana sih ?? Cakar - cakaran sambil berdarah - darah, gitu ??

Selama di barisan antri, para volunteer berseragam biru ngasih petunjuk. Ngga boleh pake topi, ngga boleh pake aksesoris, ngga boleh bawa tas ato apapun termasuk tas pocket kamera. Kamera harus dikasih ke petugas berseragam merah, karena merekalah yang akan memotret. Pas waktunya gue, seorang petugas menarik tangan gue, dan membawa gue ke salah satu harimau, dan gue dipersilahkan duduk dan membelai tuh harimau....Hikkzz...terharu sambil ngeri nih ...terharu karena baru kali ini bisa berdekatan dengan harimau dan ngelus - ngelus badannya...Unbelievable...tapi ngeri juga...karena ini harimau gitu lhooo !! Walopun dia lagi bobo siang, tapi tetep aja !! Sapa tau ngeliat bodi gue yang ndut, dia malah ngiler and jadi pengen snack siang !!

"What are you looking at ??"

Tiger bobo...ooohhh...tiger bobo..kalo tidak bobo digigit nyamuk...

"Aaarrrrgggghhh....!!! Look at my teeth !!"

Setelah itu petugas yang sama kembali menggandeng tangan gue dan mengajak gue ke harimau lainnya....Harimaunya lagi bobo juga...ampe gue ngga berani berisik, takut ganggu. Gue aja yang terganggu mulu tidurnya selama tinggal di Khaosan Road bisa naik pitam dan bertindak sedikit ekstrem...gimana kalo harimau marah gara - gara tidurnya terganggu ya ?? Dia pasti ngga perlu repot - repot banting pintu sekencang - kencangnya kayak yang gue lakukan...tinggal menerkam aja!

Sleep tide, big cat....

Abis itu, gue kembali dibawa ke harimau yang laen...yang ini kayaknya bandel, dia ngga sedang bobo siang. Dia bangun, dengan pandangan tajam dan waspada. Baru nyadar...kalo harimau tuh gede banget...even gue yang gendut gini terlihat mini kalo dibandingkan mereka. Setelah diajak berkeliling dari 1 harimau ke yang lainnya, gue keluar dari area.

Setelah itu gue ke area lainnya. Gue mendekat ke sebuah pohon dimana seorang biksu lagi 'maen' sama baby harimau. Lucu banget tuh harimau, bobonya harus pake bantal segala...gue foto - foto lagi disini. Abis itu gue liat - liat area lainnya....

Zzzz..zzz...Zzz..ZZzz...

Ini pengalaman luar biasa . Selama ini liat harimau cuma di TV ato di kebun binatang, tapi itu pun jarak jauh dan belum tentu selalu ada. Gue ngga bisa berhenti takjub sama Tiger Temple ini....bagi gue misterius banget hubungan antara harimau dan para biksu di sini.

Sebenernya posisi gue berada di tengah kontroversi yang ada . Ada yang mendukung, tapi ada juga yang mengutuk Tiger Temple. Tiger Temple dituduh memberikan drug kepada para harimau, dan membuat mereka tidak berdaya. Tiger Temple juga dituduh mengeksploitasi harimau, mencari keuntungan dengan mengatasnamakan perlindungan terhadap harimau. Tapi menurut para pendukung, Tiger Temple justru memelihara dan merawat mereka dengan baik dan penuh cinta, buktinya populasi harimau disini bertambah lebih banyak dari pada di kebun binatang atau tempat lainnya. Entahlah....

Hari makin sore dan udah waktunya pulang. Gue seneng banget karena hari ini gue bisa merasakan pengalaman baru dalam hidup gue. Begitu tiba di pintu keluar, lagi - lagi masalah terjadi. Group tour gue terlantar, ngga ada mobil. Ya ampuunn...berat amat jalan menuju Tiger Temple ini...ngga abis - abis masalahnya. Gue dan yang lainnya pun menunggu...dan menunggu....dan menunggu...kali ini si koordinator sialan itu bahkan ngga keliatan beredar. Tiba - tiba ada koordinator lain teriak, "One person to Khaosan !!"...langsung gue pamit dari group gue, dan lari ke mobil yang dia tunjuk. Ursula ngikut, jadi gue berdua masuk ke mobil yang penumpangnya ngga gue kenal. Yang penting mobil ini akan mengembalikan gue ke Khaosan, pikir gue. Di dalam mobil gue liat si cowo Canada dan pasangan USA, udah dapat tumpangan juga di mobil lain. Sisanya, masih tampak bengong ketakutan dan kesal, belum dapat tumpangan.

Perjalanan panjang ditempuh lagi, meninggalkan Kanchanaburi untuk kembali ke Bangkok, tepatnya ke Khaosan Road. Tiba di Khaosan, gue langsung ke hostel. Gue ngga sabar untuk mandi dan istirahat. Tapi gue ngga bisa istirahat lama - lama, karena gue ada janji sama Mandee, anak IBP. Dia dan temennya lagi makan di sebuah resto di Khaosan Road juga....gue pun ke sana ketemu mereka. Lumayan, akhirnya ada temen ngobrol sesama orang Indonesia.

Dari restoran itu, kita bertiga jalan menyusuri Khaosan Road. Heran...ngga ada abis - abisnya acara menyusuri Khaosan Road ini. Di tengah jalan kita berhenti, karna tertarik buat beli belalang goreng yang dijual di atas gerobak. Rasanya lumayan...asin dan gurih. Agak kriuk - kriuk karena terlalu garing. Setelah itu liat - liat lagi...dan gue pamit untuk balik ke hostel, karena udah pengen banget merebahkan badan lelah gue di kasur. Tiba di kamar, ngga lama kemudian gue tidur dengan pulasnya.

Gong Xi Fat Chai, everyone !

Wednesday, February 17, 2010

09 Feb 2010 - Floating Market Tour @ Damnoen Saduak

Bangun pagi lagi...semalem sebelum sampe hostel, mampir dulu di Mama Tour buat daftar dan bayar 1 day tour ke Floating Market di Damnoen Saduak plus Tiger Temple. So, pagi ini harus tiba di kantor Mama Tour sebelum jam 7. Tapi sebelum keluar hostel, gue sempet nyuci celana dulu di wastafel dan dijemur di jendela. Abis gimana lagi, semua celana gue (yang cuma 2 biji itu) udah kotor semua, sementara waktu gue masih lumayan panjang di Bangkok.

Tiba di Mama Tour, udah ada beberapa orang yang nunggu buat ke floating market (pasar terapung) di Damnoen Saduak juga. Kali ini mobil yang bakal ngantar gue ke sana agak kurang bagus, dengan AC sedikit error kayaknya. Damnoen Saduak jaraknya kurang lebih 110 km dari Bangkok, dan sepanjang perjalanan yang ditempuh sekitar 2 jam, gue tertidur dengan nyenyaknya .

Tiba di Damnoen Saduak, perahu - perahu kecil (tanpa mesin) sudah menanti. Gue pun naek ke salah satunya. Perahu inilah yang ngantarin gue dan group tour menyusuri pasar terapung ini. Seru juga sih...apalagi mengingat perahu yang gue tumpangin kecil, lebih mirip kayak sampan, jadi mudah terombang - ambing.

Gue pun tiba di pusat pasar yang diramaikan dengan perahu - perahu para pedagang dan turis lainnya. Padat banget, dan kalo gue perhatiin malah kayaknya banyakan perahu turisnya daripada pedagang. Saking padatnya sampe macet, ngga bergerak. Segala macam barang dijual di sini, makanan, pakaian, souvenir, sayur - mayur dan buah, serta barang lainnya. Gue cukup jadi penonton, karena ngga tertarik dengan apapun yang ditawarkan disini.

Walopun masih terbilang pagi, cuaca saat itu panas banget. Sebenernya setiap peserta tour dipinjemin topi anyaman bambu, tapi tetep ngga bisa ngelindungin dari teriknya sinar matahari pagi itu . Panas dan pegal, karena posisi duduk di perahu kecil ini agak ngga nyaman buat gue.

Trus, peserta tur diturunkan di sebuah pasar, dan dikasih waktu sekitar 45 menit buat liat - liat ato belanja di pasar itu. Sebenernya secara keseluruhan pasarnya ngga luas - luas amat, gue cuma butuh sedikit waktu buat berkeliling dan kembali ke tempat semula. Jam 11 siang, waktunya peserta kumpul lagi untuk melanjutkan perjalanan. Di sinilah kekacauan di mulai. Ternyata dari 9 orang yang ikut ke Damnoen Saduak ini, cuma 4 orang yang akan lanjut ke Tiger Temple (termasuk gue), dan sisanya akan kembali ke Bangkok. Gue jadi bingung, kok ada orang yang mau menempuh perjalanan 4 jam bolak - balik sekedar buat liat floating market kayak tadi.

Gue dan ketiga orang lainnya yang mau lanjut ke Tiger Temple pun disuruh turun dari mobil. Feeling gue udah mulai ngga enak nih...si sopir yang nganter ke lokasi ini pun belagak bego begitu dimintain informasi . Setelah nunggu beberapa saat, kita berempat disuruh naek mobil yang laen...dan dibiarkan menunggu beberapa lama...dan kita ngga tau, sebenernya nungguin apa dan siapa. Setelah itu masuk lagi cowo Canadian ke mobil. Kayaknya dia korban dari tour agent lainnya. Karena kita masih harus nunggu lagi, kita berlima ngobrol, dan udah mulai tenang karena tujuannya sama : Tiger Temple. Kemudian masuk lagi beberapa cewe bule. Setelah nunggu sekitar 30 menit, barulah mobil berangkat.