I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Sunday, August 22, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (5)


 30 Juli 2021

Setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya Mama bersedia untuk dibawa ke RS PGI Cikini malam itu juga. Gue cuma bisa pasrah, di satu sisi gue sedih bukan main karena ngga bisa melihat Mama sehari - sehari selama Mama diisolasi di RS, namun di sisi lain gue lega. Jika Mama dibawa ke RS, artinya Mama berada di tempat yang paling memungkinkan untuk memberikan perawatan dan penyembuhan terbaik untuknya. Jika tetap di rumah saja, hasilnya tidak akan optimal.

Menjelang tengah malam Mama dibawa ke RS. Pardo dan Carol yang mengantarkan ke sana. Setelah serangkaian tes, Mama akhirnya ditempatkan di UGD malam itu. Ternyata Bapak juga sempat akan dirawat malam itu karena saat di-tes juga, saturasi Bapak sempat turun ke angka 94. Namun akhirnya batal, dan Bapak diijinkan pulang.

Sejak malam itu Mama dirawat di RS PGI Cikini. Mungkin itu adalah masa - masa terberat gue dan keluarga, Mama ngga pernah dirawat inap sebelumnya. Terlebih ini bukan rawat inap biasa dimana keluarga bisa berkunjung dan melihat pasien kapan pun mereka ingin. Karena ini kasus Covid-19, Mama tentunya akan dirawat di ruang isolasi. Gue semakin berat membayangkan bagaimana Mama akan menghadapi hari - harinya di sana. Gue cuma bisa pasrah dan menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan Yesus. Setiap hari gue berdoa Novena Hati Kudus Yesus dan Novena Tiga Salam Maria bersama Ony, karena hanya doalah yang memberikan gue kekuatan. 

Keesokan harinya, gue, Pardo dan Carol mulai berbagi tugas. Pardo dan Carol akan mulai tinggal di Hotel Puri Inn yang berlokasi tepat di seberang RS. PGI Cikini, agar bisa lebih 'dekat' dengan Mama dan memantau setiap perkembangan, sementara gue tetap di Tanjung Barat, karena harus memenuhi logistik sehari - hari buat yang isoman di rumah.

Mama menjalani perawatan di sana selama kurang lebih 10 hari. Perjuangan Mama untuk bisa bertahan kuat baik secara fisik dan mental pastinya luar biasa. Ngga bisa gue bayangkan, di saat Mama harus merasakan sakit di fisiknya akibat Covid-19 ini dan menjalankan setiap proses penyembuhannya, secara psikis Mama juga harus berjuang lebih kuat lagi, karena berada di sebuah bangsal isolasi yang dipenuhi oleh pasien - pasien Covid-19 lainnya pastilah berat. Apalagi ini adalah bangsal isolasi, dimana pasien tidak memiliki akses untuk bertatap muka dengan anggota keluarga. Kesehariannya, orang - orang yang Mama temui adalah sesama pasien dan tenaga nakes.

Mengenai para nakes di bangsal isolasi C, mereka bagai malaikat - malaikat yang Tuhan Yesus kirim untuk merawat dan menemani Mama selama menjalani masa penyembuhan dan isolasinya yang pasti sangat berat. Saat menceritakan mengenai kebaikan mereka, Mama begitu terharu dan seakan kehabisan kata - kata menggambarkan betapa mereka sangat sabar, lembut dan tekun dalam merawat Mama. Bukan hanya fisik Mama, mereka jugalah yang selalu memberikan semangat dan mengingatkan Mama untuk tetap kuat menjalani perawatan dan tidak drop secara mental. Mereka kerap mengingatkan, "Opung, jangan sedih, nanti anak - anaknya Opung jadi sedih..." 

Bisa dibilang para suster / perawat di bangsal isolasi C mungkin paling ingat sama anak - anaknya Mama. Karena setiap malam, Pardo dan Carol akan menuju bangsal C ini untuk menemui suster/perawat, atau dokter (jika sedang ada dan memungkinkan untuk ditemui) untuk mendapatkan update mengenai kondisi Mama. Selain menanyakan kondisi Mama, mereka juga akan meminta tolong kepada suster agar membantu Mama agar bisa mengisi batere handphonenya. 

Meskipun mereka sangat sibuk karena banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang berdatangan setiap hari tanpa memandang waktu, namun sebisa mungkin para nakes ini berusaha membantu dan memenuhi keperluan para pasien. Mama tidak terlalu mengingat nama - nama suster dan perawat di sana, tapi dia mengingat nama Suster Nova. Gue begitu terharu dan bersyukur dengan kebaikan para nakes di RS ini, terlebih di bangsal isolasi Mama. Setiap malam gue mendoakan mereka agar kiranya Tuhan Yesus melindungi dan memberkati mereka dengan kesehatan dan sukacita, terlebih dalam mereka menjalankan pekerjaan mereka sehari - hari yang sangat beresiko.

Terkadang Mama menyampaikan keinginannya untuk menikmati makanan tertentu. Misalnya jus apel. Ketika ada keinginan seperti ini, gue langsung bersemangat untuk bikin jus apel, dan mengirimkannya melalui Gosend secepat mungkin. Di lain waktu Mama tiba - tiba pengen makan ikan teri dan meminta langsung ke Natulang Jogi, dan langsung disiapkan dan dikirimkan ke RS (terima kasih Nantulang yang begitu baik). Pardo dan Carol akan memantau sesering mungkin, apabila Mama membutuhkan sesuatu agar bisa segera terpenuhi.

Setiap malam biasanya keluarga gue akan melakukan video call, untuk bisa saling memberi kabar dan update, dan berdoa bersama. Keluarga kami mungkin saat itu sedang menghadapi masa - masa terberatnya, namun nyata banget kuasa dan kebaikan Tuhan Yesus, yang tidak pernah meninggalkan kami, dan memimpin keluarga kami menghadapi situasi itu. Tuhan Yesus semakin menyatukan kami, hingga kami semakin sehati dan kompak bergotong - royong agar beban yang kami rasakan saat itu bisa terasa lebih ringan. 

Friday, July 30, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (4)

 
30 Juli 2021

Udah beberapa hari ini gue ngga ngeblog mengenai kondisi di keluarga dan rumah Mamak. Kemarin - kemarin ngga sempat ngeblog karena situasinya kurang mengenakkan, ngga tenang, dan sangat menguras pikiran dan energi gue. Dan di saat berada di posisi 'terendah' seperti itu, bukan saat nyaman untuk gue mengungkapkan sesuatu di blog. 

Di blog sebelumnya gue sempat bilang kalau kondisi sudah mulai aman dan stabil, karena semua yang sedang isoman di rumah Mama, sudah mendapatkan obat - obatan masing - masing. Jadi gue berpikir, proses isoman akan lancar. Untuk tabung oksigen, kebetulan sudah ada satu tabung yang Anggi pinjam dari teman dekat di gereja. 

Namun ternyata kondisi belum benar - benar 'aman'. Di tiga hari pertama Mama isoman, Mama tidur terus menerus. Hal ini membuat Mama ngga ada waktu untuk makan, minum, atau berjemur. Padahal ketiga hal ini sangat dibutuhkan dan harus dilakukan agar kondisi gejala Mama yang awalnya ringan, tidak menjadi lebih berat. Menurut orang - orang di rumah, sulit sekali membangunkan Mama. 

Situasi seperti ini yang bikin tertekan buat gue, Carol dan Pardo yang cuma bisa menunggu dan memantau dari luar. Mungkin karena masing - masing yang isoman di dalam rumah juga sedang bergumul dengan kondisi mereka, baik secara fisik maupun mental, jadi ngga ada yang benar - benar bisa fokus memaksa Mama untuk bangun, makan, minum dan berjemur.

Di hari Sabtu (24 Juli) gue sekeluarga melakukan video call, dan di situ gue bisa lihat dengan jelas, meskipun Mama sudah dibangunkan namun Mama seperti 'teler' entah karena sudah terlalu lama tertidur, atau menahan kantuk yang luar biasa. Untuk saturasi, tetap selalu dipantau dan sampai saat itu masih normal, di angka 95 atau di atasnya.

Di hari Minggu pagi gue ke rumah Mama, karena ingin melihat Mama dan mengajaknya ngobrol. Sejujurnya gue sedih melihat kondisi Mama semalam saat video call. Meskipun mengobrol dari kejauhan, gue sangat bahagia melihat Mama bisa terbangun, duduk, sambil menjawab pertanyaan - pertanyaan gue. Gue sengaja melontarkan pertanyaan - pertanyaan ringan ke Mama, karena ingin melihat apakah Mama merespon dengan baik atau tidak. Ternyata cukup baik.

Minggu pagi itu, Mama dan Bapak dibawa ke laboratorium Prodia, untuk melakukan beberapa tes, termasuk D-dimer. Kebanyakan hasilnya baru akan keluar di hari Senin. Di sore hari, kami mendatangkan home care doctor untuk memeriksa kondisi Mama. Di sinilah kehebohan dimulai. Tujuan kami memanggil dokter adalah agar Mama bisa mulai diinfus, mengingat inilah satu - satunya cara Mama tetap mendapatkan asupan cairan. Namun tiba - tiba gue mendapat pesan untuk mencari selang NRM. Lohh....buat apa ? Memangnya Mama harus disupport oksigen ? Ternyata saat pemeriksaan oleh dokter, saturasi Mama turun di angka 92, bahkan sempat di angka 80an. Gue panik luar biasa, dan bareng Ony langsung meninggalkan rumah demi mencari selang tersebut.

Gue menyusuri apotik dan Rumah Sakit yang ada mulai dari area Pasar Minggu sampai dengan Pancoran, tidak ada yang menjual selang ini. Puji Tuhan, gue bisa mendapatkannya di Siloam Hospitals Asri di daerah Duren Tiga. Gue pun langsung ke rumah Mama. Dari jendela kamar Mama, gue bisa melihat Mama sudah diinfus dan menggunakan oksigen. Hati gue retak banget melihatnya. 

Gue langsung berpikir, bagaimana cara mendapatkan ekstra tabung oksigen untuk backup tabung yang ada saat ini, yang paling hanya bisa support maksimal selama 4 jam. Gue langsung terpikir untuk ke tempat pengisian oksigen yang ada di dekat Gedung Aneka Tambang. Ternyata pemiliknya memiliki stok satu buah tabung oksigen, dan gue pun membelinya seharga Rp. 2 juta. Saat itu gue ngga mau berpikir panjang, yang penting Mama punya cukup stok oksigen!

Di saat bersamaan Carol juga sedang mengambil pinjaman tabung oksigen dari rumah sahabatnya. Jadi di malam itu, setidaknya ada 3 tabung oksigen standby untuk support Mama. Namun meskipun saturasi Mama stabil setelah menggunakan oksigen, salah satu sepupu yang merupakan seorang dokter dan telah memantau kondisi Mama sejak awal terkonfirmasi positif Covid-19, dr. Anggun (Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati Anggun yang tidak sangat baik dan mencurahkan perhatiannya untuk proses perawatan Mama), tetap mengharapkan Mama dibawa ke UGD Rumah Sakit PGI Cikini malam itu juga. 

Begitu rencana itu disampaikan ke Mama, Mama menolak mentah - mentah. Mama ngga suka ke rumah sakit. Zona nyaman Mama hanyalah di rumahnya sendiri. Mama pasti ngga bisa tidur jika bukan berada di rumah sendiri. 

Di saat yang lainnya berusaha membujuk Mama, gue dan Ony ke daerah Pekayon untuk mengisi ulang tabung oksigen yang Mama pakai sejak sore tadi. Dua kali gue ke sana, karena juga harus mengisi tabung oksigen pinjaman dari sahabat Carol. Meskipun sudah ada rencana untuk membawa Mama ke rumah sakit malam itu, tapi buat gue, segala antisipasi tetap harus dilakukan. Dengan adanya tiga tabung oksigen dalam keadaan ready to use, bikin hati ini lebih tenang (lanjut di blog berikutnya).

Friday, July 23, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (3)


23 Juli 2021

Memasuki akhir pekan di minggu ini, minggu dimana huru-hara Covid-19 menimpa keluarga gue tercinta.

Situasi per saat gue mengetik blog ini, aman terkendali. Ada beberapa perkembangan, dan hal itu bikin gue cukup happy dan lega. Semalem lagi - lagi gue terbangun dari tidur gue, sekitar jam 1 dini hari. Belakangan ini setiap kali gue terbangun, hal pertama yang gue cek adalah WA group keluarga. Ternyata sudah panjang lebar. Masalah kali ini adalah Mama yang sangat ngga bernafsu makan, dan kebanyakan tidur sepanjang hari. Yang menjadi kekhawatiran kami adalah asupan makan dan minum Mama jika sepanjang waktunya dilalui dengan tidur. Menurut Anggi, meskipun Mama sudah ngga muntah lagi, namun setiap diberi makan, Mama paling cuma bisa menghabiskan 2 - 3 sendok. 

Carol sempat berkonsultasi dengan dokter sahabatnya, dan menurut sang dokter kondisi Mama seperti itu harus diobservasi selama 2 - 3 hari. Jika terus seperti itu, terpaksa Mama harus dirawat inap. Inilah pesan - pesan yang ada di group WA tersendiri yang isinya gue, Pardo dan Carol. Seketika gue langsung gelisah dan tegang. Gue ngga mau Mama dirawat inap ! Kalau Mama dirawat inap, gue ngga bisa melihat Mama sehari - hari. Dalam kondisi saat ini gue masih bisa memandang Mama dari kejauhan, ketika mengantar logistik, mengambil sampah dan lain - lain. Walaupun gue sadar banget bahwa setiap kali gue ada keperluan untuk mengantar / ambil sesuatu dari teras rumah, gue harus melakukannya dan meninggalkan rumah secepat kilat, tapi gue selalu menyempatkan diri memandang ke arah jendela kamar Mama, dan melihat Mama sedang tertidur di ranjangnya, walaupun hanya beberapa detik. Meskipun gue tahu Mama tidur, gue selalu bilang, "Halo Mama, semangat ya, biar cepat sembuh".

Gue pun membangunkan Ony, dan kami memanjatkan doa Bapa Kami dan Novena Tiga Salam Maria. Setelah itu meskipun gue tetap terjaga, namun hati gue lebih tenang.

Di pagi harinya gue mendapatkan kabar gembira dari Carol yang bilang sudah menelepon Mama, dan memberikan semangat panjang lebar kepada Mama. Mama menjadi termotivasi untuk 'bangkit' setelah mengetahui bahwa gejala ringan yang saat ini Mama alami, bisa meningkat jadi gejala berat jika pola makan dan minum Mama seperti saat ini. Dan bahwa kondisi Mama akan lebih baik jika Mama juga rajin berjemur. Jika kondisi Mama memburuk, maka Mama terpaksa harus dirawat inap. 

Mama pun langsung menunjukkan lagi semangat sembuh dan sehatnya. Gue girang bukan main. Karena Nyonya Sitanggang alias Mama yang gue kenal adalah pejuang yang selalu semangat melawan sakitnya. Mama selalu bisa memaksakan dirinya makan meskipun sedang dalam keadaan sakit, dan juga rajin mengkonsumsi apapun yang menurutnya baik buat kesehatannya, meskipun rasanya tidak enak sekalipun. Namun semangat itu hilang sejak Mama terkonfirmasi positif Covid-19. Dan gue sedih banget.

Tapi di pagi ini Mama bahkan sudah meminta sarapan bubur ayam. Gue pun langsung bersemangat untuk ke restoran bubur Acongs langganan keluarga kami, dan memesan sarapan untuk seisi rumah Mama.

Beberapa saat kemudian, Anggi mengirim foto - foto mereka sedang berjemur, termasuk Mama. Aahhh....senangnya, puji Tuhan ! Karena Anggi info kalau pesanan juicer gue sudah tiba, gue pun ke rumah Mama untuk mengambil pesanan juicer gue itu, tentunya dengan saling berjauhan dengan mereka yang sedang berjemur.

Juicer ini gue beli supaya bisa menyediakan jus buah dan sayuran untuk Mama dan yang lainnya. Gue sudah punya segudang buah dan sayuran dari yang gue beli dan juga dari Nantulang Jogi. Tapi karena saking bersemangatnya, gue mampir ke Naga untuk membeli brokoli, timun dan wortel. Siang tadi, gue menyiapkan 4 botol jus campuran pepaya, brokoli dan wortel. Ada sebersit perasaan haru tadi pas berjibaku dengan juicer yang memang baru pertama kali gue gunakan. Biasanya Bapak yang menyiapkan jus untuk gue sekeluarga. Bapak adalah the King of Juice di keluarga gue. Aneh juga....ternyata baru kali ini gue menyiapkan jus untuk Bapak, dan yang lainnya. 

Kabar gembira lainnya adalah obat isoman untuk Rico dan Anggi dari Kemenkes tiba hari ini ! Woww...! Padahal kemarin gue membaca banyak banget pemberitaan mengenai segudang keluhan para pasien Covid-19 yang tidak kunjung menerima obat - obatan mereka meskipun sudah menunggu beberapa lama. Saran gue buat pasien Covid-19 yang masih menunggu obat isomannya, segera kontak Halo Kemenkes melalui WA di nomor +62 812-1230-5515. Karena jalur ini responnya cepat banget dan memberikan solusi. Jika dihitung - hitung obat isoman ini diterima dalam waktu kurang dari 48 jam sejak Anggi melakukan langkah 'tebus obat', sesuai dengan petunjuk Kemenkes. Udah gitu, informatif banget, bahkan nama jasa kurirnya dan nomor resinya pun dikasih tahu, jadi kita bisa track. Gue sangat menghargai dan berterima kasih ke Pemerintah RI dengan bantuan ini. 

Well, untuk gue sendiri di minggu pertama sejak konfirmasi positif Covid-19 Mama dan yang lainnya, hidup terasa seperti roller coaster. Tapi Tuhan Yesus baik banget, sepertinya gue sudah menerima kondisi ini dan merasakan bahwa semua ini sudah seperti rutinitas baru buat gue. Meskipun gue kurang suka bagian dimana gue mendengar kabar kurang 'mengenakkan' mengenai kondisi di rumah, terutama Mama, dan dalam sekejap membuat syaraf gue terasa tegang, tapi hal itu ngga terhindarkan. Ini pengalaman baru buat gue, berhadapan dengan situasi seperti ini, dimana dalam waktu bersamaan, lima orang yang paling gue cintai dan paling penting dalam hidup gue, sakit dalam waktu bersamaan. Bukan sakit yang sederhana dan ringan. Penyakit yang seluruh dunia saat ini sedang hadapi dengan serius. Penyakit yang resikonya bisa mengerikan. 

Puji Tuhan kondisi gue saat ini memungkinkan untuk fokus mengurus anggota keluarga. Gue sudah mengambil cuti dari kantor, dan Puji Tuhan gue memiliki bos yang super baik, pengertian dan berempati tinggi. Begitu gue ceritakan kondisi keluarga gue hari Selasa (20 Juli 2021) yang lalu, pesan Pak Mike cuma satu : agar gue fokus pada kesehatan keluarga dan diri sendiri. Jangan ada secuil pun memikirkan pekerjaan. Di minggu ini gue sering menangis diam - diam, karena menghadapi situasi ini. Tapi gue bukan hanya menangis di saat gelisah dan khawatir dengan kondisi Mama dan yang lainnya. Namun seringkali juga gue menangis karena begitu terharu dengan kebaikan dan empati orang - orang kepada gue.  

Seperti gue bilang tadi, rutinitas gue pun baru. Saat ini gue lagi ngga memungkinkan untuk jalan pagi sambil melakukan aktivitas street feeding. Karena di pagi hari biasanya gue mengantarkan sarapan ke rumah Mama. Dalam sehari gue bisa 4 - 5 kali ke rumah Mama, mengantarkan logistik, diakhiri dengan mengambil sampah di malam hari. Aktivitas ekstra lainnya yang gue lakukan adalah mandi dan mencuci baju. Jadi, setiap pulang dari rumah Mama, gue akan mandi dan mencuci seluruh baju yang gue gunakan, termasuk tas kain yang gue pakai ketika kesana, sekedar antisipasi untuk menghindari resiko terpapar virus yang sama. Lelah ? Iyahhh....tapi perjuangan gue ngga seberapa dibanding dengan perjuangan Mama dan yang lainnya dalam menghadapi sakit mereka. Menurut gue penyakit ini bukan hanya menyerang fisik, namun juga psikis penderitanya.

Perjuangan belum berakhir, dan bahkan terasa belum dalam kondisi stabil. Karena itu ngga ada putus - putusnya gue berdoa memohon berkat dan belas kasih Tuhan Yesus untuk keluarga gue yang saat ini sedang mengalami pergumulan berat menghadapi situasi Covid-19 ini. Terima kasih, Yesus.

Thursday, July 22, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (2)

 22 Juli 2021

Kemarin beban (terutama psikis) yang gue rasakan, banyak berkurang. Tuhan Yesus memberikan banyak perkembangan dan jalan terbuka untuk situasi yang keluarga gue sedang hadapi. Di pagi hari Mama dan Bapak diantar oleh Pardo dan Carol (menggunakan mobil berbeda) ke RS Siloam TB. Simatupang untuk menjalani beberapa tes untuk mengetahui kondisi tubuh mereka secara detail, agar bisa diberikan obat - obatan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing - masing. 

Untuk Rico dan Anggi, kami melakukan approach ke Puskemas. Kebetulan domisili Rico dan Anggi berbeda, jadi kami berbagi tugas. Tito mengurus pelaporan dan permintaan obat isoman Anggi di Puskesmas Srengseng Sawah, sementara gue dan Ony ke Puskesmas Tanjung Barat untuk mewakili Rico.

Di Puskesmas Tanjung Barat, gue ditemui oleh petugas bernama Ibu Tiwi yang sangat baik dan responsif. Gue melaporkan situasi Rico, memberikan detail informasi (nomor kontak, dll), dan juga gue sampaikan bahwa selain Rico, di dalam satu rumah yang sama, ada anggota keluarga lainnya yang sedang menjalani isoman. Ibu Tiwi mengatakan nanti petugas Puskemas akan menghubungi Rico, dan setelah itu obat - obatan yang diperlukan akan diberikan.

Gue sempat ke Apotik Roxy untuk membeli alat suntikan (tanpa jarum) dan transofix (pembuka ampul NaCl), karena gue mau mengajarkan Anggi cara mencuci hidung. Gue sudah melakukan kebiasaan mencuci hidung selama beberapa tahun terakhir, direkomendasikan oleh salah satu dokter di RS THT Proklamasi saat gue berobat karena masalah alergi debu. Di saat ini, segala action yang berpotensi membantu proses isoman dan penyembuhan, seberapa besar/kecil dampaknya, harus dilakukan. Sore harinya gue ke rumah untuk mengajarkan Anggi cara mencuci hidung, dengan posisi berdiri saling berjauhan, di taman rumah Mama.

Kemarin, Nantulang Jogi (Condet) mengirimkan segudang makanan (untuk makan siang dan malam), dan buah - buahan, yang diberikan melalui Pardo. Nantulang mengatakan akan menyiapkan dan mengirimkan makanan selama seminggu ke depan. Luar biasa wujud bantuan Tuhan Yesus yang datang dari berbagai pihak dalam berbagai bentuk. Entah bagaimana membalas kebaikan Nantulang sekeluarga. Rasanya terharu banget.

Di siang hari, hasil tes Mama dan Bapak keluar. Kondisi Mama secara umum baik, dan gejala ringan. Untuk Bapak, CRP atau C-reactive protein-nya agak tinggi, dan ada sedikit kabut di paru - paru. Obat - obatan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi masing - masing. Untuk Fajar, Carol juga sudah mewakilkan untuk teleconsultation dengan salah satu dokter di RS Brawijaya, dan obat - obatan juga disiapkan. 

Di siang hari, Pardo (sebagai contact person saat melakukan tes di Bumame untuk seisi rumah Mama), menerima WA dari Kemenkes. Pesan WA tersebut memberitahukan bahwa masing - masing Bapak, Mama, Rico, Anggi dan Fajar telah terdata di Kemenkes sebagai pasien Covid-19, dan bisa mendapatkan konsultasi, pengobatan dan pengawasan gratis dari Kemenkes RI.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan :

  1. Cek status NIK sebagai Pasien COVID-19 dari WA Kemenkes RI atau lakukan mandiri di https://isoman.kemkes.go.id
  2. Pilih layanan konsultasi telemedisin & masukkan kode voucher dalam layanan (gue memilih Halodoc). 
  3. Melakukan konsultasi dengan dokter dengan menginformasikan bahwa pasien mendapatkan WA dari Kemenkes RI atau bukti verifikasi NIK dari website ISOMAN (point nomor 1 di atas)
  4. Dokter akan memberikan resep digital dalam bentuk PDF atau JPG
  5. Lakukan penebusan resep di website https://isoman.kemkes.go.id/tebusresep  (melampirkan point nomor 4 di atas)
  6. Simpan tracking ID untuk cek status pengiriman dari Apotik Kimia Farma terdekat
Gue dan Anggi langsung mengikuti setiap langkahnya. Saat ini kami masih menunggu pengiriman obat dari apotik Kimia Farma Blok M yang sampai sekarang belum tiba juga. 

Gue sempat menghubungi nomor call center Kimia Farma (1500 255), hasilnya nihil, tidak ada yang merespon. Lalu gue mengirimkan pesan pribadi ke akun Instagram Kimia Farma Care. Dalam waktu singkat pesan gue dijawab dan intinya gue bisa melakukan pelaporan ke nomor kontak Halo Kemenkes : 1500 567 atau via WA. Gue mencoba menelepon ke nomor telepon tersebut namun tanpa hasil, dan Puji Tuhan, ketika gue kontak ke nomor WAnya, responnya sangat cepat. Saat ini status permintaan obat masih dalam verifikasi, tapi setidaknya ada perkembangan, yaitu laporan gue sudah terdaftar dan mendapatkan nomor.

Oya, keluarga gue bisa menerima pesan WA dari Kemenkes ini karena lab tempat seisi rumah Mama melakukan tes PCR, yaitu Bumame, termasuk dalam daftar laboratorium jejaring pemeriksa Covid-19 Kemenkes. Jadi, sepertinya begitu ada hasil tes PCR yang positif Covid-19, pihak lab (Bumame) yang langsung melaporkan ke Kemenkes, sehingga Kemenkes bisa mem-follow up dengan pihak pasien. 

Untuk kondisi Mama dan yang lainnya kemarin, gejala masih terbilang ringan. Mama dan Bapak cenderung kurang bernafsu makan, tapi kami desak terus agar mau makan, karena mulai kemarin Mama, Bapak (dan Fajar) sudah mulai mengkonsumsi obat dokter. Untuk Rico dan Anggi, mereka tetap mengkonsumsi vitamin D, vitamin C dan yang lainnya. 

Begitulah cerita dan perkembangan kemarin dan pagi tadi. Apapun yang terjadi, ngga ada pilihan lain, kami harus tetap berjuang, mengusahakan yang terbaik untuk anggota keluarga yang kami cintai ini, dan tetap berpikir positif. Kami yakin dan percaya, pertolongan Tuhan Yesus pasti tak akan pernah terlambat.

Wednesday, July 21, 2021

Cerita Karantina : Ketika Covid-19 Menyerang Keluarga (1)

21 Juli 2021.

2 - 3 hari terakhir bukan the best days in my life. Mungkin hari - hari yang cukup berat untuk gue dan keluarga harus lalui. Dimulai dari Senin lalu, 19 Juli 2021 ketika pagi - pagi gue mampir ke rumah Mama untuk ambil belanjaan online shop gue. Gue emang selalu menggunakan alamat rumah Mama untuk pengiriman, karena lebih mudah dicari dan akan selalu ada orang di rumah. 

Pagi itu pagar masih digembok, yang bikin gue mulai ngerasa aneh, karena saat itu sudah menjelang jam 8 pagi. Mama keluar dari rumah untuk membuka pagar, dan gue agak kaget kenapa Mama tampak pucat, dan gue langsung menanyakan kenapa seisi rumah masih pada tidur. Di dalam rumah, sambil merapihkan barang belanjaan gue, Anggi sempat bilang, seisi rumah sedang batuk, jadi sebaiknya gue jangan ke rumah dulu. Gue pun langsung pamit pulang.

Kembali ke rumah gue, gue langsung menghubungi Carol mengenai kondisi di rumah. Di situlah dimulai 'investigasi' gue berdua mengenai kondisi keluarga di rumah Mama. Begini, Mama adalah tipe orang yang kalau kita hubungi melalui telepon dan menanyakan kabarnya, akan menjawab, "Mama sehat". Itu juga yang terjadi bahkan di hari sebelumnya. Karena gue sudah melihat sendiri (gue memang sudah jarang ke rumah Mama untuk mengamankan Mama dan Bapak dari resiko penularan virus Covid-19), gue ngga percaya lagi kalau Mama bilang begitu. Setelah didesak - desak, barulah ada pengakuan bahwa Mama batuk, pusing, dan gejala - gejala ringan lainnya. Begitu juga Bapak. Siang hari, Mama dan Bapak pun langsung diantar ke Bumame TB. Simatupang untuk menjalani tes PCR. Hasilnya baru bisa keluar dalam 16 jam kemudian. 

Di hari itu, gue dan Carol sudah mengkondisikan seisi rumah Mama terpapar Covid-19, meskipun belum menerima hasil. Mulai hari itu, rumah Mama diisolasi, tidak ada yang boleh keluar. Untuk kebutuhan mereka, gue, Carol dan Tito bergantian datang untuk mengirimkan vitamin, obat, tabung oksigen, makanan, dan lainnya. 

Di malam itu gue ngga bisa tidur pulas. Hati gue ngga tenang menunggu hasil. Ketika di pagi hari mata gue sudah mulai mengantuk, Pardo menelepon, dengan suara lemah mengabarkan bahwa hasil PCR sudah keluar, Mama dan Bapak positif Covid-19. Dunia gue seakan runtuh seketika. Hal terburuk yang paling gue takuti, terlebih sejak dimulainya masa pandemi ini, terjadi. Tapi dari hari sebelumnya gue sudah mulai belajar 'menerima' the worst situation. Gue berdoa ngga ada putusnya, "Tuhan Yesus, apapun hasil tes Mama dan Bapak, berikan mereka kekuatan untuk menerimanya, dan berikan gue juga kekuatan. Gue ngga boleh down, karena kalau memang benar positif, seisi rumah Mama dipastikan positif semua. Artinya hanya ada gue, Carol, Ony, dan Tito yang bisa merawat dan memenuhi kebutuhan mereka, meskipun ngga secara langsung." 

Mulai pagi itu, gue dan Carol bergantian ke rumah. Bagian gue mengantarkan makanan (sarapan, makan siang, makan malam, buah, susu), dan kebutuhan lainnya yang sewaktu - waktu dibutuhkan. Kemarin gue bolak - balik ke rumah sekitar 5 kali. Dan setiap datang, gue menyempatkan melihat dan berbicara dengan Mama yang berada di kamarnya, melalui jendela yang tertutup dan jarak beberapa meter. Yang gue bisa lakukan cuma memberikan semangat, bersikap ceria dan menahan tangis gue di dalam hati. Mama pun menasihati supaya gue tetap kuat dan tenang, dan sempat bilang kondisi Mama pada dasarnya baik. Mama pengen keluar kamar tapi khawatir karena ada Fajar. Fajar sangat lengket sama Opung dan Omanya. Pagi itu gue sempat melihat Fajar cengeng, karena ngga bisa minta digendong Opungnya. Di saat berbalik menuju gerbang untuk pulang, air mata gue jatuh karena ngga tahan menahan sedih melihat situasi itu.

Menjelang siang, Pardo, Rico, Anggi dan Fajar berangkat ke Bumame untuk tes PCR. Sore harinya hasil tes keluar: Rico, Anggi dan Fajar dinyatakan positif Covid-19, dan Pardo negatif. Gue berasa langsung lemas lunglai, demi mikirin Fajar. Ya Tuhan, gimana anak sekecil itu (2 tahun) harus menghadapi virus Covid-19 ini di tubuhnya ? Rasanya pengen nangis, tapi di saat yang sama gue langsung merasakan kekuatan dari Tuhan Yesus. Pardo, Carol dan gue pun langsung mulai mengatur 'strategi', karena saat ini lebih mudah dengan keluarnya hasil semua penghuni rumah Mama. Untuk Rico dan Anggi, kita akan menghubungi Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan gratis. Untuk Fajar, Carol akan menghubungi RS Brawijaya untuk mengatur janji telemedicine. Dan untuk Mama dan Bapak, kami akan membawa ke RS Siloam TB. Simatupang, agar keduanya bisa melakukan CT Scan Torax, Rontgen paru - paru dan tes lainnya. Harapan kami, jika keduanya sudah melalui semua tes ini, pihak rumah sakit akan memberikan obat yang spesifik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan keduanya. Keputusan ini kami ambil dengan mempertimbangkan : 1) keduanya sudah lansia, Bapak berusia 76 tahun dan Mama 71 tahun, 2) Mama memiliki komorbid.



Hari itu gue lewati dengan bolak - balik ke Naga Supermarket untuk membeli keperluan logistik makanan, buah, sayur dan susu, ke Indomaret/Alfa berkali - kali, ke ACE untuk membeli UV Sterilizer, ke toko kelontong untuk membeli termos air panas Mama, dan di sela - selanya menyiapkan makan siang dan makan malam buat di rumah Mama.

Di malam hari, Pardo mengabarkan beberapa kali bahwa Mama muntah, rasanya sedih banget, membayangkan kondisi Mama pasti sangat lemah, tapi gue ngga berdaya, ngga bisa melihat apalagi hadir di sisi Mama dan membantunya. Hari itu gue sempat saling bertelepon sama Mama. Hampir di setiap hubungan telepon, gue menahan nangis. Mama sedang berjuang menghadapi sakitnya, dan gue ngga bisa berada di dekatnya. Sesaat setelah Mama muntah, gue menelepon Mama. Gue bilang, "Mama, setiap anak - anak Mama sakit, Mama selalu wanti - wanti, 'paksain makan...paksain makan' iya kan, Ma ? Jadi sekarang Mama harus paksain makan walaupun mual ya, supaya perut Mama ngga kosong." 

Sampai tengah malam Mama muntah lagi. Gue langsung berbagi tugas dengan Pardo, untuk mencari apotik manapun yang masih buka. Puji Tuhan, dalam kondisi PPKM seperti saat ini, apotik masih bisa tetap buka 24 jam. Dan di apotik andalan gue, Apotik Roxy, gue mendapatkan semua keperluan Mama untuk mengatasi mual dan antisipasi kekurangan cairan.

Gue melalui malam itu dengan sangat gelisah. Gelisah akan banyak hal. Gimana kondisi Mama sepanjang malam. Gimana tes besok, akan baikkah hasilnya ? Bagaimana Fajar, Anggi, Rico ? Semua berkecamuk di pikiran gue. Dan tentu saja, kalau gue sedang banyak pikiran, insomnia pun kumat, gue ngga tidur semaleman. Gue cuma bisa berdoa memohon pertolongan Tuhan Yesus agar gue diberikan ketenangan.

Tuesday, January 14, 2020

Highlight & Lowlight 2019


Selamat tahun baru 2020 !

Menyambut tahun yang baru (dan usia baru buat gue), 2020, iseng - iseng gue sempat merenung, apa aja yang menjadi highlight dan lowlight dalam kehidupan gue di 2019 yang lalu. 

Okay, dimulai dari highlight.  

Di pertengahan tahun, tepatnya 8 Juni 2019, Tuhan Yesus memberikan anugerah yang luar biasa yaitu kelahiran Fajar Limbong, keponakan gue tersayang, putra pertama adik gue, Anggira, yang kehadirannya adalah sumber sukacita dan kegembiraan baru buat gue sekeluarga. Sedikit banyak, buat gue pribadi, kelahiran Fajar juga merubah pola hidup gue. Setiap harinya, hal yang selalu gue tunggu - tunggu adalah ketemu keponakan gue yang menggemaskan ini. Gue akan berusaha untuk pulang cepat dari kantor, mencari alternatif perjalanan kantor - rumah yang paling kilat, apapun gue usahakan biar ada momen ketemu Fajar. Menyaksikan tumbuh kembangnya dari waktu ke waktu, adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri buat gue. Rasa bahagia itu juga timbul karena kelahiran Fajar membawa sukacita dan semangat baru buat semua anggota keluarga, terlebih Mama dan Bapak. 



Highlight berikutnya di November 2019, adalah hari ulang tahun Mama dan Bapak. Puji Tuhan, tahun ini Tuhan Yesus tetap setia memberkati dan menyertai Mama memasuki usia 70 tahun dan Bapak usia 75 tahun dalam kondisi sehat. Gue sangat bersyukur karena Tuhan Yesus memberikan berkat umur panjang dan kesehatan buat Mama dan Bapak, sehingga keduanya masih kuat menyertai kehidupan gue, dan menjadi  sumber cinta, kekuatan dan support terbesar buat gue. 

 
 
Oya, Tuhan Yesus juga memberikan bonus, di mana ketika hari ulang tahun Bapak ke - 75 tahun, tanggal 2 November 2019, gue sekeluarga bisa merayakan dengan membuat acara syukur kecil - kecilan. Awalnya Mama ngga setuju dengan konsep perayaan berupa pesta, sekedar makan - makan, nyanyi - nyanyi, mengundang sanak keluarga lainnya. Bagi Mama perayaan seperti itu tidak tepat dan tanpa makna. Mama hanya mau merayakannya dengan sebuah kebaktian syukur yang dihadiri dan dipimpin seorang pendeta gereja, yang bisa memberikan pembekalan rohani buat Bapak dan orang - orang yang hadir di situ. Sampai beberapa hari menjelang hari ulang tahun Bapak, belum ada kesepakatan dan 'persetujuan' dari Mama ketika kami, anak - anaknya, merencanakan untuk merayakan dengan lebih spesial. By the way, sebagai tradisi keluarga, setiap ada yang berulang tahun di keluarga, maka akan dirayakan dengan makan malam bersama dan tiup lilin kue ulang tahun yang dilakukan dengan sederhana di rumah. Kali ini, berhubung Bapak memasuki usia yang sangat spesial, 75 tahun, kelima anaknya pun berinisiatif menyiapkan perayaan syukur yang lebih spesial dari biasanya, dengan mengundang sanak keluarga lainnya.

Singkatnya, beberapa hari saja menjelang hari ulang tahun Bapak, Mama akhirnya menyerah, dan membolehkan anak - anaknya merencanakan sebuah perayaan, tetap dengan syarat harus dimulai dengan sebuah kebaktian dan menghadirkan pendeta. Tuhan Yesus yang maha baik memimpin setiap perencanaan. Sehingga meskipun waktunya sempit, dan keterbatasan di sana sini, semua perencanaan bisa berjalan lancar. Atas seijin Tuhan Yesus juga, keluarga gue bisa mengadakan kebaktian ibadah syukur dengan dipimpin oleh Bapak Pendeta Risto Andaki, ketua majelis GPIB Gideon, yang gue hubungi dan undang sangat mendadak sebenarnya. Sehabis ibadah, acara dilanjutkan dengan makan - makan sederhana dan hiburan yang dibawakan oleh para sepupu - sepupu yang bertalenta luar biasa. Rasa syukur gue atas campur tangan Yesus dalam perayaan ini, ngga bisa diungkapkan dengan kata - kata.

Berikutnya, lowlight dalam hidup gue di 2019. Di tahun ini gue kehilangan sahabat terdekat dan paling setia, Bruncuz, di tanggal 1 Desember 2019. Bruncuz meninggal di usianya yang memasuki 15 tahun. Arti kehadiran Bruncuz dalam hidup gue, ngga bisa digambarkan dengan kata - kata. Bruncuz adalah sahabat terbaik yang seakan - akan mendedikasikan hidupnya untuk menyenangkan dan menyayangi gue. Ketika seseorang memiliki hubungan sangat erat dengan sahabat anjingnya, orang tersebut mendapatkan cinta yang murni dari seorang sahabat, tanpa pamrih, tanpa pernah ada kekecewaan atau kesedihan sedikit pun. Tidak ada up & down jika memiliki sahabat anjing, yang ada hanya kegembiraan. Bruncuz adalah penghilang stres paling ampuh buat gue. Dan di saat dunia di luar sana tampak mengecewakan, Bruncuz akan hadir dan menyambut gue, seperti gue adalah makhluk dan sosok paling berharga. 

Kehilangan Bruncuz adalah mimpi buruk yang jadi nyata buat gue. Hingga saat ini, gue masih berjuang untuk bisa mengikhlaskan kepergian Bruncuz. Bahkan baru sekarang gue 'berani' menulis mengenai kepergian Bruncuz. Selama ini gue selalu ogah menulis atau membahas soal kepergian Bruncuz karena cuma akan menimbulkan kesedihan buat gue. 


Selain itu gue juga masih menyesuaikan diri dan menerima perbedaan - perbedaan dalam pola hidup gue antara ketika masih ada Bruncuz, dan saat seperti sekarang di mana Bruncuz sudah pergi untuk selamanya. Sepanjang hidup Bruncuz, aktivitas yang sangat gue sukai dan banggakan adalah mengurus sahabat setia gue itu, baik dalam keadaan sehatnya maupun sakitnya. Kesehatan dan kebahagiaannya adalah salah satu target pencapaian dalam hidup gue. Dan ketika Bruncuz pergi, gue agak sedikit kehilangan arah. Setelah kepergian Bruncuz, gue belum berencana memiliki anjing baru. Mungkin gue akan fokus untuk mulai merawat dan memberikan perhatian untuk Momo si Husky yang selama ini, sejujurnya, bukan menjadi prioritas gue (maap, Momo).

Melihat ke belakang, kehidupan gue di 2019, ngga ada hal lain yang ingin gue lakukan selain bersyukur...bersyukur...dan bersyukur kepada Tuhan Yesus. Betapa pun hidup gue diisi oleh hal - hal yang membuat gue bersukacita, maupun peristiwa - peristiwa yang membuat gue terpuruk dalam kesedihan, namun yang pasti, Tuhan Yesus ngga pernah meninggalkan gue dan selalu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan buat gue. Semoga Tuhan Yesus senantiasa menyertai setiap langkah hidup gue di tahun yang baru ini dan tahun - tahun berikutnya.

Friday, June 14, 2019

Selamat Datang di Dunia, Fajar !


Kali ini bloggingnya mengenai berita bahagia keluarga, yaitu kehadiran seorang keponakan laki - laki baru di tengah keluarga gue. Namanya Fajar, lahir Sabtu minggu lalu, 8 Juni 2019.

Kehadirannya di dunia cukup bikin perasaan gue campur aduk, mulai dari khawatir nungguin operasi cesar Anggira, adik gue / mamanya Fajar, yang terbayar dengan kebahagiaan yang luar biasa begitu operasi berakhir lancar, dengan ending lahirnya seorang bayi dengan berat 3,4 kg dan panjang 51 cm di dunia ini.

Malam sebelum operasi cesar, perasaan gue berkecamuk membayangkan esok paginya adik gue harus menghadapi ruang operasi untuk melahirkan. Gue mengerti, setiap harinya ada ribuan bayi lahir di bumi ini baik melalui proses normal maupun operasi cesar. Tappiiii...begitu anggota keluarga terdekat, terlebih adik sendiri harus bertaruh nyawa dan melahirkan, rasa was-wasnya begitu menyala - nyala.

Jadi malam itu gue lalui dengan berdoa kepada Yesus, dengan semua doa yang gue tahu, mulai dari doa Bapa Kami, Salam Maria, Novena Tiga Salam Maria, semua...Permohonan gue cuma satu, supaya adik dan bayinya selamat. Di ujung malam, entah di mana ketemunya, gue sempat membaca potongan ayat Alkitab (Bible) : 'Do not be afraid, I am with you. I'm your God, let nothing terrify you. I will make you strong and help you. I will protect you and save you." Setelah membaca ayat itu, entah kenapa ada kelegaan dan hati gue bilang, "Sudah...stop khawatirnya, serahkan semua kepada Yesus."


Keesokan harinya, di Rumah Sakit Aulia (Jagakarsa) operasi yang seharusnya dijadwalkan dimulai jam 9 pagi, molor sampai jam 10 lewat karena Pak Dokter masih terjebak macet. 

Sebelum Anggi dibawa ke ruang operasi, keluarga berdoa bersama. Rasanya gue yang paling tegang sekaligus cengeng dibandingkan yang lain. Jadi tiap kali liat Anggi yang udah tampak pucat dan membengkak, rasanya pengen nangis mulu. Mungkin kayaknya lebay...tapi gimana pun dia adik kecil gue (walaupun sering nyebelin juga).

Tentu saja gue menunggu dimulai dan jalannya operasi dengan tegang dan ngga sabaran. Berhubung saat itu keluarga juga lagi sibuk nyari kain putih yang akan digunakan untuk menyimpan ari-ari bayi, dan ternyata sulit didapat karena toko bahan/kain masih pada tutup, gue pun menawarkan diri untuk pulang dan mengambil stok bahan warna putih yang gue punya. 

Kebetulan yang unik bukan....beberapa tahun yang lalu gue sempat membeli kain putih dari pasar, entah untuk apa, dan menyimpannya di lemari pakaian. Dan hari itu, beberapa tahun setelahnya, tuh kain cukup berperan penting di salah satu hari bersejarah di keluarga gue : untuk menyimpan ari - ari anggota baru keluarga.

Oya, gue sengaja memilih kabur dari rumah sakit, karna ini satu - satunya cara gue mengalihkan ketegangan yang gue rasakan ketika menunggu proses operasi. Begitu di tengah jalan gue menerima pesan WA dari abang kalau proses operasi sudah selesai, kondisi adik dan bayinya sehat....Yesus, rasanya ngga pernah selega dan sebahagia itu dalam waktu bersamaan. Rasanya pengen sembah sujud memanjatkan rasa syukur dan terima kasih gue ke Yesus yang sudah menjawab doa gue yang penuh cucuran air mata sejak semalam.

Terima kasih Yesus atas kehadiran seorang keponakan baru dalam hidup gue. Semoga Yesus senantiasa menjaga dan melindungi lelaki kecil ini. Semoga Yesus berkenan menyertai tumbuh kembangnya dan memberikan berkat kesehatan. Semoga kehadirannya seperti Fajar yang memancarkan terang dan memberikan pengharapan baik bagi keluarga dan orang - orang di sekelilingnya. Amin.

Friday, March 06, 2015

Yang Paling Sulit ketika Traveling Adalah......

...minta ijin ke Mama....

Sebenarnya 'minta ijin' bukan kata yang pas. Mungkin tepatnya :  kasih tahu Mama soal rencana perjalanan gue.

Gue mulai doyan bekpekeran sendirian ke luar negeri sejak awal 2009. Tepatnya ketika mulai mencetuskan tekad bahwa tiap berulang tahun gue harus menyenangkan diri sendiri dengan berlibur. Berlibur yang menantang...ngegembel di luar negeri gitu, sendirian...alias gaya backpacker. Awalnya sekedar untuk memberikan hadiah ulang tahun untuk diri sendiri...namun traveling bikin gue kecanduan...dosisnya bertambah....sampai - sampai gue pernah traveling sebanyak 4 kali dalam setahun.

Sayangnya hobi gue ini bertentangan dengan kemauan Mama, yang kepengen anak - anaknya, terlebih yang perempuan, duduk manis di rumah sepanjang waktu....mungkin memasak...membersihkan rumah...membaca buku...menonton TV...atau mengobrol sama Mama. Mama ngga pernah suka dan ngga pernah siap tiap kali gue bilang mau 'pergi'. Selalu ada drama tiap kali gue menyampaikan rencana ke Mama. Dimulai dengan respon Mama yang histeris...

"Apa ?? Mau kemana lagi kau ?"
"....Panjang banget kakimu, Cher !!..."
" Kenapa sih kau ngga pernah betah di rumah, sukanya malah keluyuran...."
"...Refreshing....refreshing....!! Di rumah aja kek kau...emang ngga ada yang bisa kau kerjain ?"

dan misalnya gue membela diri dan mempertanyakan kenapa Mama begitu dramatis tiap kali gue mau 'jalan'....jawaban populernya adalah :

"....Sekarang kau ngga ngerti....nanti kalau kau punya anak baru kau bisa rasakan....repot kali Mama kau bikin karena panjangnya kakimu itu!....Huhh....perempuan kok nekatnya ngelebih-lebihin laki-laki!!"

dan puncaknya hampir selalu sama....

"Bikin Mama cepat mati aja kau....jalan melulu! Udah tahu ngga pernah bisa tenang Mama kalau kau pergi....tapi kau ngga peduli!"

Belum lagi kalo Mama mendengar negara - negara tujuan gue yang 'asing' di telinganya...misalnya waktu gue pamit ke Vietnam, Mama sempat terbengong dan ngga bisa mengucapkan satu kata pun...tiba - tiba malah teriak..."Vietnam ?? Ngga salah kau ? Bukannya negara perang itu ??!!" Padahal Mama adalah orang yang paling update berita sedunia....meskipun profesinya adalah Ibu Rumah Tangga, tapi Mama selalu mengikuti berita - berita terkini baik nasional maupun internasional. Namun sekonyong - konyong pengetahuan Mama langsung buyar seketika oleh amarah, tiap kali gue datang dengan rencana jalan - jalan gue. Perang Vietnam berakhir 30 tahun silam, Mama....

Ketika gue hendak ke Nepal, Mama langsung mengernyitkan dahinya dan dengan bingungnya bertanya, "Apa itu Nepal ? Dimana itu ?" Di Asia Selatan, Ma..."Dimananya tepatnya ? Dekat negara mana ?" Kayaknya India, Ma...."Apaaa ?? Ngga takut kau ke India ? Banyak kasus pemerkosaan di sana, Cher !!" Cei ke Nepal Ma, bukan India.... "Tapi kau bilang berdekatan ? Kenapa sih aneh - aneh banget tujuanmu Cher...? Ngga ada yang ngga berbahaya ?? Lagian ngga ada takutmu naik pesawat pas lagi begini cuacanya ? Ahh...! Ngga ada berhentinya saraf Mama tegang kau bikin, Cher..." Mama pun langsung masuk kamar tidurnya dan membanting pintu.

Pembicaraan semacam ini adalah sesuatu yang harus gue lalui, namun cukup meninggalkan trauma untuk gue. Gue selalu ragu dan takut untuk menyampaikan rencana perjalanan gue ke Mama, demi membayangkan seru dan hebohnya respon Mama nantinya. Rasa takutnya  bisa parah banget sampai berpengaruh ke fisik gue segala....saking tertekannya, gue pernah sampai kehilangan nafsu makan, pusing, insomnia, cuma gara - gara enggan membayangkan harus menghadapi Mama dan melalui pembicaraan emosional itu. Gue bukan takut bakal ngga dijinkan. Mama udah sangat sadar hasrat gue untuk berkelana terlalu menggebu - gebu dan tak terbendung. Jadi, ngga ada gunanya dilarang.

Begadang alias ngga tidur semalaman demi cari tiket pesawat promo....ngga masalah.
Nyusun itinerary perjalanan sendiri....gampang.
Tidur di dorm room hostel, bersama dengan orang - orang asing lainnya....asyik!
Menyusuri dan kesasar di jalan - jalan yang baru gue temui bermodal peta doang....seru.
Pamit sama Mama....sekonyong-konyong gue menjadi pengecut juara satu sedunia...ini yang paling menakutkan.
Akibatnya, gue kerap menunda untuk mengatakan ke Mama soal rencana gue....dan fatalnya, bisa-bisa gue baru akan bilang ke Mama kira - kira 3 hari sebelum keberangkatan. Sebenarnya itu justru bikin Mama makin mengamuk.

Dan hari - hari setelah pembicaraan menegangkan itu, Mama akan tampak kusut dan tidak bersemangat.

"Mama kenapa ? Mama sakit ?"
"Iya !"
"Kenapa ?"
"Gara - gara kau mau keluyuran lagi...tegang saraf Mama!"

Bagi Mama, membiarkan gue melakukan perjalanan bekpekeran ke luar negeri sendirian seakan - akan simbol 'kegagalan' sebagai seorang Ibu dalam mengatur putrinya. Jadi, setiap perjalanan gue bagaikan aib yang musti disembunyiin. Kemana pun gue berpetualang, jika ada yang bertanya Mama akan selalu menjawab singkat, "Ke Bandung..." Jadi dalam kurun waktu sejak 2009 hingga kini, gue sudah puluhan kali ke "Bandung".

Di hari kepergian gue, Mama bukan lagi sosok histeris seperti ketika gue membicarakan rencana perjalanan gue. Dengan segala kelembutannya Mama berusaha 'melepas' kepergian gue dengan berbesar hati dan pasrah. Ritualnya adalah Mama akan mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk berdoa bersama. "Yesus, lindungi Cherry dalam perjalanannya....Yesus yang selalu bersama dia....dan cukupkan kebutuhannya...Jauhkan boru kami ini dari hal - hal jahat dan musibah...Amen.."

Setelah itu Mama akan memeluk gue erat-erat, mengantarkan sampai ke jalan di mana gue akan naik kendaraan umum, sambil tiada hentinya memberikan nasihat - nasihat, "Hati-hati kau...jangan sampai ada yang ketinggalan....passportmu ? Dompetmu ? Selalu berdoa...Jangan lupa kau sms Mama tiap hari....jaga kesehatanmu....jangan kemalaman pulang ke hotel..."

Seakan - akan Mama hendak melepas gue ke medan perang. 

 
Dan yang paling indah saat traveling adalah......

ketika gue kembali ke rumah...dan disambut oleh Mama tepat di pintu gerbang rumah dengan wajah berseri-seri...Mama akan memeluk gue erat - erat, mencium kedua pipi gue, dan mengucapkan rasa syukurnya kepada Yesus karena putrinya yang panjang kaki ini sudah kembali ke sisinya, setelah ratusan tahun berpetualang (pada kenyataannya paling lama gue berlibur 8 hari saja).

Selain itu Mama juga udah menyiapkan 'kemewahan' lainnya buat gue seperti makanan kesukaan (termasuk bubur kacang ijo), air panas untuk mandi, dan kamar tidur yang sudah tertata rapi dan bersih dengan sprei yang baru diganti.

Mungkin saat ini masih sangat sulit untuk gue mengerti kenapa demikian beratnya buat Mama membiarkan gue berlibur. Namun pada akhirnya gue sadar, rasa cintanya yang tanpa bataslah yang membuatnya selalu mengkhawatirkan keadaan gue. Rasa cintanya yang menyertai gue kemana pun kaki ini melangkah dan berpetualang. Rasa cintanya yang bikin seindah apapun dunia luar yang sedang gue jelajahi, ada yang hal yang lebih indah dan selalu gue rindukan, menanti di rumah.

Thursday, February 23, 2012

Cinta Dalam Segelas Juice

Suatu waktu, pulang dari kantor, gue akan tiba di rumah sekitar jam 8 malam. Hal pertama yang gue lakukan adalah melepaskan lelah sejenak dengan merebahkan tubuh di mana Mama berada, kadang di kamar tidurnya, atau di ruang keluarga. Sekedar curhat ato menonton tivi bersama, mengomentari berita ato gosip ini - itu...pokoknya istirahat. Di saat bersamaan Bapak akan bangkit dari duduknya, menuju dapur dan segera menyiapkan perlengkapan juicer andalannya. Geraknya lincah dan sigap...mengeluarkan beberapa wortel segar dan brokoli dari kulkas lalu membersihkannya. Beberapa saat kemudian suara - suara yang terdengar adalah, deru mesin juicer, dentingan gelas dan sendok, diakhiri dengan suara Bapak, "Minum juice mu ini, Cher.." Abis itu, Bapak akan membereskan peralatan juicernya lagi, dan mencuci setiap bagiannya dengan sangat hati - hati dan mendetil.

Di lain waktu, karena harus lembur di kantor atau sekedar ada janji dengan teman lama di mall terdekat, gue akan tiba di rumah jam 10 atau bahkan jam 11 malam. Rutinitasnya akan tetap sama. Mama pantang tidur kalo anak - anak perempuannya belum pulang, dan Bapak pantang tidur kalo belum menyiapkan juice untuk para perempuan di rumah. Khusus untuk gue, Bapak cuma akan mulai membuat juice kalo gue udah tiba di rumah. Alasan Bapak, wortel harus langsung diminum setelah dijuice, ngga boleh ditunda. Beda sama juice sirsak dan apel untuk Mama, atau juice jambu merah untuk Anggira.

Biasanya begini cara Bapak menyiapkan juice untuk ketiga perempuan di rumah. Sekitar jam 7 malam, Bapak akan mulai 'menggarap' juice untuk Mama dan Anggira, kemudian menyimpannya di kulkas untuk diminum oleh pemiliknya masing - masing, sesuai selera. Setelah itu Bapak akan mencuci peralatan juicer yang sebenarnya tidak simple dan sederhana itu, dan segera mengeringkannya. Lalu begitu gue pulang, Bapak akan menyiapkan peralatan juicernya lagi, membuat juice, lalu mencuci peralatan tersebut lagi. Melelahkan....

Gue pernah nanya ke Mama, kenapa cara kerja Bapak merepotkan diri sendiri begitu...bukankah lebih baik Bapak menyiapkan juicenya sekaligus yaitu saat gue tiba di rumah. Mama senyum, bukan karena tau alasannya, tapi karena sangat tau kalo Bapak akan melakukan apapun dengan caranya sendiri, yang baginya paling tepat dan nyaman dilakukan.

Selain itu, Bapak selalu siap mengingatkan gue mengenai posisi stok buah dan sayur di kulkas. Bapak ingin memastikan kekosongan stok yang menyebabkan ketidaktersediaan juice untuk ketiga perempuan, tidak sampai terjadi.

Setiap hari Kamis, Bapak ada jadwal rutin latihan paduan suara gereja. Biasanya, Bapak akan menyiapkan juice untuk gue sepulang dari latihan. Tapi Kamis kali ini berbeda. Saat gue pulang kantor, gue sudah menemukan gelas juice gue tersedia di meja makan. Ternyata bukan juice wortel dan brokoli, seperti biasanya, melainkan jambu merah plus apel, yang disiapkan Bapak sebelum berangkat latihan. Kata Mama, khusus malam ini gue 'libur' dulu minum juice wortel dan brokoli, karena Bapak akan pulang larut malam. Ada hal yang harus dilakukan sepulang dari latihan paduan suara.

Bikinin juice tiap malam untuk ketiga perempuan di keluarga, emang jadi rutinitas Bapak sejak sekitar 2 tahun terakhir. Bukan rutinitas sembarangan, melainkan hal yang dilakukan Bapak dengan sangat senang dan bangga. Bukan karena Bapak kekurangan aktifitas untuk mengisi hari - harinya pasca pensiun. Untuk seorang kakek berusia 68 tahun, stamina Bapak cukup prima, dengan gerak - gerik yang ngga kalah dengan kaum muda. Ngga ada yang bisa mencegah dan membuat Bapak menghentikan rutinitasnya, kecuali saat kehabisan stok buah, ato listrik mati.

Juice buatan Bapak adalah juice paling istimewa yang tak ternilai harganya. Ada cinta dan kasih sayang di setiap gelas juice yang Bapak buatkan untuk gue, Mama dan Anggira. Dari berbagai cara Bapak mengungkapkan kasih sayang kepada keluarganya, membuat juice adalah hal paling lembut dan unik yang dilakukan Bapak. Setiap sedang menikmati juice buatan Bapak, pikiran gue menerawang dan mengucapkan doa pada Yesus, "Semoga Yesus memberikan Bapak kesehatan dan kekuatan, supaya Bapak bisa tetap melakukan hal kesukaan dan kebanggaannya : menyiapkan juice untuk gue, Mama dan Anggira.

Thursday, June 11, 2009

See you again next time, Bro !


Hari Jumat minggu lalu, gue sekeluarga makan malam di Bandar Jakarta, Ancol. Namanya makan malam perpisahan sama Pardo yang udah mo balik ke Batam. Pardo cuti dan datang ke Jakarta sekitar 2 mingguan yang lalu.

And as always, it's sad to say goodbye. Hikssz....terakhir Pardo datang ke Jakarta mungkin 2 tahun yang lalu. Walopun April lalu gue ketemu waktu transit di Batam, tapi gue ngga menghabiskan waktu lama bareng dia karena langsung lanjut ke Singapura. Yang bikin sedih berpisah sama Pardo mungkin karena gue ngga bisa prediksi kapan ketemu lagi sama dia.

Sebenernya kalo diitung - itung, Pardo udah 5 tahun lebih hijrah ke Batam. Tapi biar gimana pun, he's my lovely brother, so I hate to say goodbye to him...I wish I could see him more often. But this is life, everyone has choices. And he prefers to stay in Batam...and left his spoiled sister (me!!) who sometimes misses him a lot...Somehow it's difficult to realize that life's goes on...but I miss my childhood moment when we all still live together in one crowded house. Miss my bro so much...every night I can only pray, that Jesus takes care of him, always. I wish for his success too...he's such a hardworker person, Jesus knows that.

When I see him for the last time last Saturday, I didn't cry. But I know, soon I will. Crying release me from pain....from being sad. And now I cry. We are both close, and he knows me a lot, including my sentimental behavior who will easily cry.

Again...I just miss my bro. Hope I can see him again, soon. Jesus, this is my pray.

Monday, January 05, 2009

Christmas in Jogja


Liburan kemarin, tepatnya tanggal 22 Dec 08, gue sekeluarga berangkat ke Jogja...Kalo denger 'Jogja" gue pasti langsung teringat sama lagunya KLA project, Yogyakarta...(gue pernah denger cerita, bahwa saat Lilo bikin lirik lagu ini, dia belum pernah ke Jogja sebenernya...hebattt ! kok bisa bikin sedetil itu yaa..??)..

So, dengan iringan soundtrack lagu Yogyakarta by KLA, gue pengen ngereview pengalaman liburan gue selama di sana....


Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu
(Gue pernah ke sini waktu SMP pas retreat dari Santo Markus....waktu itu naek bis dari sekolah, apesnya AC nya mati, jadi sumpek banget selama perjalanan..trus cuma bawa duit 25 ribu perak, jadi ngga bisa blanja di Malioboro...udah gitu, bawa kamera rusak pula ! Setelah kerja, udah beberapa kali pengen jalan - jalan lagi ke Jogja, cuma rencana tinggal rencana dowang...)
Masih seperti dulu
(mungkin kali....)
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
(Jogja berhati nyaman euyy....)
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama Suasana Jogja
(Hmmm.....satu - satunya kenangan gue di Jogja sebelum ini cuma pas retreat itu doang....bareng temen - temen Santo Markus....waktu luangnya tapi kebanyakan di dalam Kesusteran Santo Fransiskus, belajar agama...bukan jalan - jalan di Jogja..retreat gitu lhoo !)
Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila
(Katanya kolo ke Jogja kudu ngerasain makan lesehan di depan Malioboro sambil makan gudeg asli Jogja....Mission Accomplished !!)
Musisi jalanan mulai beraksi
(Di Malioboro ada rombongan pemusik full band dengan alat musik tradisional ngebawain lagu - lagu pop...mantappp...apalagi pas mereka bawain P.u.s.p.a nya ST12...putuskanlah saja pacarmuuuu...lalu bilang ai lap yuuuu...padakuuuuu....!! )
Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu ...
(gue sempet beberapa kali keluar hotel sendirian buat jalan - jalan....tapi ngga lara sih, malah happy...walopun hanya bertemankan tukang becak yang nganterin gue kemana - mana)
Walau kini kau tlah tiada tak kembali Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
(Jogja hawanya sejuk, nyaman, orangnya ramah - ramah, banyak yg bisa dikunjungin, banyak yang bisa dibeli, harga bersahabat, banyak becak yang siap nganterin kemana pun, makanan khas nya cocok sama lidah gue...pokoknya happy terus deh selama di sana.. )
Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi
(Ijinkan aku untuk cuti dan bisa ke Jogja lagi...)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
(sendiri ato rame - rame....kolo memungkinkan, gue bakal balik ke Jogja lagi, amin!!)

Waktu Natalan, pagi - pagi gue bangun, dan langsung pergi sendirian nyari gereja diantar sama tukang becak. Akhirnya gue ikutin kebaktian Natal di GPIB Margo Mulyo yang ada di Malioboro. Baru kali itu ngikutin kebaktian Natal sendirian, di gereja yang jauh dari tempat tinggal gue, Jogja cciinnngg....!! Gue sangat amat bahagia dan di sela - sela kebaktian cuma bisa menyisipkan doa, "Selamat Ulang Taun Mr. J....terima kasih buat hadiah Natal yang spesial ini...Seinget gue, ngga pernah minta hadiah Natal seistimewa ini...Tapi Mr. J, ngasih jauh lebih indah dari yang pernah gue harapkan..AS ALWAYS"

Tuesday, October 21, 2008

Trois Petits Hamsters

Tadi pagi di rumah agak sedikit heboh...karena salah satu dari empat hamsternya Ibet hilang. Kebetulan tadi pagi gue yang pertama kali bangun, so gue yang lihat bahwa atap rumah - rumahan di kandangnya hamster udah jatuh terjungkal...dan salah satu hamster udah keluar dari kandang..tapi gue herannya tuh hamster justru berusaha pengen masuk ke dalam kadang. Mengejutkan....bukannya semua binatang, terutama jenis tikus kayak hamster, justru bakal happy kalo berhasil keluar dari kandang ??

Karena gue jijik banget ngeliat hamster, gue panggil si Rohit supaya masukin tuh hamster bego kembali ke kandang. Kayaknya semalem kandangnya baru diobrak - abrik sama leluhur mereka, tikus dapur di rumah gue. Tiba - tiba bokap bangun karena gue berisik, dan dia langsung benerin kandangnya hamster, dan ngecek hamsternya. Pas Mama bangun dan ke dapur, yang langsung dia tanyain, ke mana hamsternya Ibet. Gue ceritain soal yang gue liat pas bangun tidur tadi, dan dia langsung heboh...karena ternyata salah satu hamsternya Ibet hilang semalam. Kabur kali...atau dimakan leluhurnya, tikus dapur...Mama panik, karena Ibet semalem sebelum pulang udah wanti - wanti supaya hamsternya dijagain. What ?? Jagain hamster ??!!

Hmmm...gue heran, kenapa semua orang begitu peduli masalah hamsternya Ibet. Hamster tuh sebangsa ama tikus bukan siyy ? Dan menurut gue hamster sama menjijikannya dengan tikus. Trus, sejak kapan mahluk kayak gitu naik kasta jadi binatang peliharaan yang disayang - sayang manusia ?? Terlebih Mama...bukannya dia juga paling jijik dan benci sama tikus dan binatang sejenisnya ? Belakangan dia lagi cari solusi buat ngusir tikus yang beredar di rumah..pake racun, pake jebakan, atau pake lem..pokoknya "say NO to RAT". Kenapa sekarang mendadak jadi pemerhati hamster ? Ternyata cuma gue doang yang seneng karena hamsternya Ibet ada yang hilang.

Saat ini trennya Ibet lagi doyan melihara hamster. Gue tinggal menghitung hari aja, kapan tuh hamsternya mati satu - persatu. Karena Ibet kalo punya binatang peliharaan apapun ngga pernah awet dan bertahan. Selain ngga konsisten ngerawatnya, Ibet juga suka keterlaluan kalo mainin binatang peliharaannya, kadang cenderung sadisz....Dulu ikan koki, trus keong..trus ikan cupang..trus ikan sapu - sapu..trus kura - kura..sekarang hamster.

Hmmm...jadi inget waktu gue bilang ke Mama kalo gue pengen pelihara burung hantu yang udah gue tawar seharga Rp. 200,000,- di pasar burung Jatinegara. Entah kenapa, gue suka banget ngeliat burung hantu..kayaknya serius banget tampangnya. Udah gitu, kesannya pintar..maklum, terpengaruh ama tontonan masa kecil, kuis Galilea Galileo yang punya maskot burung hantu. Burung hantu yang gue tawar di Jatinegara itu ukurannya jumbo, warnanya coklat gelap, katanya yang jual sih masih muda. Gue udah berhayal - hayal..kalo tuh burung gue beli nanti gue bakal kasih nama si Burhan (singkatan dari Burung Hantu), atau Slowlie...ato..Owl The Best...Tapi ternyata, baru denger rencana gue aja, nyokap marah - marah..katanya,'Emangnya rumah kita hutan, kok pelihara burung hantu ??! Mau ditaruh dimana ?? Dikasih makan apa ?? Kalo kena flu burung gimana??" Ya sudah..ngga jadi...

Kemarin waktu hari minggu ke rumah Tetot gue juga nekad nyari anak anjing..daerah Mayasari gitu lho..jumlah orang kayaknya hampir sebanding sama jumlah anjing yang beredar. Gue pernah liat ada yang punya induk Hush Puppies..gileeeeee...hush puppies di Mayasari ??? dikasih makan apa ya ? sangsang ?? atau babi panggang ?? Tapi begitu gue lewat rumah itu lagi, kayaknya lagi belum beranak lagi tuh induknya. Si Tetot udah pelihara anak anjing juga, dikasih nama Blawhite, singkatan dari Black and White. Kemarin gue main - main ama si Blawhite. Huhhh..gue jadi mikir, kalo aja di rumah gue ada anjing NORMAL, hidup gue lebih bahagia pastinya. Karena gue rasa untuk 50% dari beban stress gue bisa gue hilangkan dengan main - main sama anjing.

Tapi yang ada di rumah gue justru seekor anjing ngga waras bernama Whisky binti Mirinda alias Bruno, dua ekor ikan sapu - sapu, seekor keong, dan tiga ekor hamster menjijikan....

Thursday, September 11, 2008

Animal Planet - Missing Yopi Cavalera soowww muucch..!!

Sekarang tiap pulang kantor, kalo kebetulan Ibet udah pulang, gue bisa nguasain tipi dan gue habiskan malam dengan nonton cenel Animal Planet...gue bisa betah berjam - jam nontonnya...

Kolo udah nonton segala macem satwa gitu, jadi inget ama si almarhum Yopy Cavalera..anjing gue dulu yg gue sayang banget...tuh anjing dibawa mama entah dari mana pas gue kelas 6 SD...waktu itu, gue lagi doyan - doyannya pelihara burung dara bareng abang - abang gue, Rico and Pardo. Komplek kandangnya di loteng, deket genteng..makanya mama resah and darah tinggi tiap kali gue kabur ke genteng buat ngurusin burung - burung peliharaan gue...Karena itu diboyonglah si Yopi ke rumah, biar gue bisa betah di dalam rumah, bukan di genteng rumah lagi...Baru kali itu, and cuma saat itu aja mama bolehin gue bobo sekamar ama anjing, karena emang si Yopi bersih and jinak banget..

Yang paling gue inget, kayaknya si Yopi paling sering ngerepotin gue kolo dia liat gerbang rumah kebuka..nanti dia kabur keluar..trus gue kejar - kejar...semakin dikejar, dia semakin blagu..gue udah teriak - teriak manggil, dia belagak budeg..Nanti malah masuk ke gang - gang di Condet...bikin tambah cape, karena waktu itu masih banyak kebon salak di Condet, jd susah nyarinya...lain waktu, dia malah pernah masuk ke mesjid condet yang gede banget itu. walhasil gue dimarahin ama ibu - ibu yg rumahnya di komplek mesjid itu..kolo udah ketangkep, gue gendong dia, n bawa ke rumah, jalan kaki pula...

Pernah dia beberapa minggu kabur and tak terlacak...sedihnya bukan main, ampe suatu pagi mama buka pintu kamar gue sambil teriak "Si Yoppiiii udah balllliiiikkkk !!"..ternyata ada tetangga jauh kasih tau ke bokap bahwa si Yopi terjebak di kebon salak, karena rantainya nyangkut di salah satu pohon..Duuuhh, bandel bgt siyy nih anjing (kek yg punya)..

Saking sayangnya, gue yang mandiin Yopi, nyisirin rambutnya, bahkan nguncir - nguncir and kepangin rambutnya....di kasih pita, ato karet norak warna - warni..kebetulan rambut di bagian kupingnya gondrong gitu..nanti kolo udah keenakan disisirin, dia malah ketiduran..and kolo udah tidur dia bisa jadi kayak anjing yang begadang berminggu - minggu, susaaaaahhh banget banguninnya..ampe gue tarik - tarik badannya, tarik - tarik kupingnya, cubit - cubitin..tetep aja asik tidur..gimana bisa jagain rumah dari maling kolo punya anjing males kayak gini..

Kadang - kadang dia gue pakein kaos juga..punyanya Anggi tentunya, bukan gue..
Kolo gue makan, berarti gue makan berdua..karena dia selalu stand by di sebelah gue, dengan tatapan (sok) memelas, lidah yang menjulur - julur, suara nangis yang dibuat - buat, trus tangan depannya dia berusaha nyolek - nyolek gue, biar di bagi makanan..

Tapi si Yopi juga sayang ama gue kayaknya...karena dia suka nangis - nangis tiap malem di pintu kamar kolo gak gue bolehin masuk..ato dia suka gonggong sejadi - jadinya kolo ada orang yang belum pernah dia liat, deket - deket gue...bahkan, kolo gue pulang sekolah and baru buka pintu gerbang, dia udah heboh nyambut gue, padahal dia dalam rumah...

Waktu di Condet si Yopi emang tinggal di dalam rumah, karena rumahnya gede dan kebetulan dia model anjing cengeng yang gak bisa tinggal di luar sendirian..tapi begitu pindah rumah ke Lenteng Agung, dia musti tinggal di luar, karena rumahnya kecil..

Suatu sore pas gue pulang sekolah, saat itu gue udah kelas 2 ato 3 SMA, pas lagi ngobrol - ngobrol sama mama, tiba - tiba mama bilang "Oya, Cher...kamu udah tau belum si Yopi udah mati...."..Aaappaaaaaaaaaaaaa.....??!!!! Gue langsung keluar and liat ke rumahnya Yopi, and rumahnya kosong..gue cuma bisa nangis sejadi - jadinya...
Kata mama karena Yopi ketabrak...Gue kesal and marah, kenapa Yopi dibolehin keluar gerbang, kolo dia tetap di halaman rumah pasti gak bakal ketabrak..kenapa matinya pas gue lagi ngga di rumah, jadi bisa langsung liat...kenapa Yopi udah dikubur sebelum gue liat untuk yg terakhir kali..kenapa mama menyampaikan berita duka citanya seakan - akan itu masalah sepele and gampang gue terima...tapi bisa gue ngerti juga siyy, dia juga pasti udah pusing sepanjang siang mikirin gimana bagusnya buat ngasih tau ke gue...Karena dia tau betapa sayang and kompaknya gue ama Yopi..

Bahkan di sela - sela gue nangis dia masih berusaha bujuk gue and menenangkan gue...gue sempat denger mama bilang.."Kayaknya bukan karena ketabrak dia mati..karena gak ada lukanya kok...kayaknya karena dia udah tua dan waktunya mati aja.."..trus gue protes, "Kolo emang dia mo mati, ngepain dia harus keluar rumah segala..khan ini rumahnya dia !!!!!"..trus mama bilang "Mungkin itu instingnya dia, Cher...dia mau mati di luar aja, biar gak usah kamu lihat, dan bikin kamu sedih..".

Well, itu penjelasan terakhir yang bisa gue terima..walaupun terkesan ngga logis, tapi gue yakin siapapun orang di dunia ini yang punya hubungan sangat dekat dan baik dengan anjingnya bisa mengerti itu. Mungkin emang benar begitu, karena 6 tahun persahabatan gue dengan Yopi, pasti bukan cuma gue yang bisa ngertiin dia, tapi sebaliknya juga..Goodbye Yopi...sejak saat itu belum pernah pelihara anjing dalam waktu lama dengan keeratan seperti gue and Yopi...kehilangan sosok sahabat baik, merangkap teman sekamar, adik angkat, boneka dan bantal, untuk yang pertama kalinya, emang tak terlupakan...

Jadi kayak lagu aja..."Baby, I'll try to love again but I know...the first cut is the deepest.."

Monday, August 25, 2008

Ogi and Echa

Gue, Jogy and Tesalonika..di Kebun Binatang Ragunan...2 ato 3 taon silam...sama-sama gendut..doyan makan, doyan jalan, berisik, dll...

Friday, August 22, 2008

Gilberth


Ibeeeetttt.....

keponakan g yg super bandel, super bongsor, super rakus (kek gue) n super jahil..tp skrg lagi di opname di rs. cikini..i miss u a lot...ibet kan partner gue jajan di alfa tiap pulang kantor, lawan berantem gue (kadang sampe jambak-jambakan malah), temen nonton acara yg lucu - lucu di tipi..temen maen monopoli, yg selalu ngumpet di balik pintu kolo ada yg buka pintu gerbang (gak nyadar bodinya yg gendut...ngumpet dimana pun pasti keliatan..), yang ngaku-ngakunya kurus..padahal siyy...yang lagi doyan ikutan ekskul bola di strada..yang mintain parfum gue mulu katanya biar dibilang wangi ama temen2nya di strada (pliss deh bet..loe kan masie klas 3 sd)...suka bgt ama lagu2nya yovie n d nuno (padahal waktu kecil rajin gue nyanyiin twinkle twinkle little star), yg ternyata diam - diam (menurut laporan nyokap) doyan nonton sinetron indosiar (najong ih...yg pake didubbing2 gitu, ular terbang, burung raksasa, dan hal2 insane lainnya..)..yang percaya pas gue bilang kolo gue kerjanya di kantor bagian yg nyapu - nyapu n ngepel - ngepel, gajinya cuma 200rb per bulan (biar gak ditodong jajan mulu)..yg ngeberantakin kamar gue mulu, ngaduk-ngaduk isi lemari gue (termasuk ngebaca2in diary gue...nyebelin loe, bet..)..

kmrn udah besuk dia di cikini...mengejutkan..ternyata sepanjang dia diopname, dia malah kecentilan jalan-jalan kesana kemari, nonton tipi dengan volume lumayan gede, n gak pernah lepas dari portable playstationnya...

get well soon, ibet..miss u velly velllyyyy mucchh!