I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Vaksinasi Kanker Serviks. Show all posts
Showing posts with label Vaksinasi Kanker Serviks. Show all posts

Friday, March 28, 2014

Vaksinasi Kanker Serviks - Edisi Terakhir

Akhirnya, hari ini gue mendapatkan Vaksinasi Kanker Serviks yang ketiga alias yang terakhir. Awalnya sempat lupa jadwal karena terakhir kali gue mendapatkan vaksinasi cukup lama, yaitu di bulan Oktober 2013. Begitu baru - baru ini liat kartu kontrol, ternyata gue harus kembali ke RS. Harapan Bunda tanggal 28 Maret 2014. Dan itu baru gue sadari 2 hari yang lalu.

completed
Jadi, kemarin gue telepon ke klinik kebidanan rumah sakit untuk konfirmasi. Dari perawat jaga, gue mendapatkan informasi bahwa dr. Rina Fajarwati akan praktik hari ini jam 11 - 1 siang. Dan di siang bolong tadi pun, saat matahari lagi menyengat maksimal, gue ijin dari kantor menuju RS. Harapan Bunda yang ada di Pasar Rebo, dengan menggunakan kendaraan umum. Sempat mau naik taksi aja biar nyaman dan cepat, cuma ngga jadi. Kesannya manja amat, lagian gue ngga terburu - buru waktu. Bos kan lagi cuti (makanya gue bisa meninggalkan pabrik....makanya kemarin sempat kabur makan siang di Margocity karena bosan di kantin....makanya seminggu ini rajin nge-blogging...)

Tiba di klinik kebidanan, perawat bilang bahwa dr. Rina baru akan kembali dari melakukan operasi 30 menit lagi. Gue pun keluar dari klinik untuk mencari makan dan tidak menemukan apapun. Gue kembali ke klinik dengan tangan hampa dan perut kosong. Sekitar jam 12 siang, giliran konsultasi gue pun tiba. 

Seperti biasa, dr. Rina menyambut gue dengan gaya keibuannya yang sangat ramah. Proses penyuntikan pun berlangsung nyaris sekejap. Gue pun berpamitan, karena kemungkinan ini adalah pertemuan terakhir gue dengan dokter yang baik itu.

Setelah itu gue ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran, totalnya Rp. 860,067, dan kemudian meninggalkan rumah sakit dengan hati lega dan senyum berseri - seri. Setelah ini paling gue tinggal 'menikmati' pegalnya lengan kiri gue yang menerima suntikan vaksinasi. Saat suntikan kedua, bahkan sampai bengkak dan memerah. Tapi ngga apa - apa, karena itu emang reaksi normal.

Kembali ke kantor hal pertama yang gue lakukan adalah makan siang di kantin, lalu ke ruangan gue untuk mengurus administrasi claim biaya vaksinasinya. Bulan ini ada pengeluaran ekstra yang ngga sedikit, jadi pengeluaran dari sektor lainnya harus ekstra diketatkan sampai bulan depan saat gue menerima reimbursement biaya vaksinasi, kata gue dalam hati sambil manggut - manggut sendirian.

Akhirnya 'proyek' vaksin kanker serviks terselesaikan. Hufff....lega...jadi teringat betapa inginnya gue melakukan vaksinasi ini sejak tahun 2008 yang lalu, dan baru gue wujudkan 5 tahun kemudian. Terima kasih Yesus, karena sudah membukakan jalan, dan betapa jalan yang harus ditempuh sangatlah bebas hambatan.

Wednesday, November 27, 2013

"Medical Reimbursement : ....... "

Barusan intip slip gaji bulan November, dan....senang bukan kepalang...biaya vaksinasi kanker serviks yang gue keluarkan, ternyata dibayarkan oleh perusahaan. Padahal sejak awal gue siap untuk menanggung biayanya secara pribadi. Dan untuk mencapai tingkat kesiapan dan kerelaan itu (terkadang gue bisa sangat pelit pada diri sendiri), gue memerlukan waktu bertahun - tahun. Bayangkan, gue sudah berencana untuk melakukan vaksin saat gue masih bekerja di perusahaan A. Kemudian gue pindah kerja di perusahaan B, dan lalu gue pindah lagi ke perusahaan C, yaitu tempat gue bekerja saat ini. Dan hasil pertimbangan gue yang terlalu lama itu ternyata memberi hasil. Jadwal vaksin kedua gue tepat bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan perusahaan bahwa vaksinasi jenis ini ditanggung oleh perusahaan.

Senangnya karena banyak hal. Satu, gue mendapatkan uang gue kembali. Kedua, ada perasaan lega dan salut pada managemen perusahaan karena kesediaannya menanggung biaya vaksinasi ini menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada karyawatinya. Di perusahaan - perusahaan lainnya, secara umum biasanya biaya vaksinasi, khususnya untuk orang dewasa tidaklah ditanggung. Kebanyakan perusahaan hanya bersedia menanggung biaya sakit, bukan tindakan pencegahannya seperti vaksinasi ini. Ini berdasarkan hasil pengalaman gue pribadi yang berloncat ria dari satu perusahaan ke lainnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Hari Senin (25 Nov) yang lalu perusahaan ini menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Depok sebagai pemenang kegiatan Penilaian Perusahaan Terbaik Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Perempuan Tingkat Kota Depok Tahun 2013. Gue sebagai salah satu karyawati, mengamini dan turut senang. Menurut gue pribadi, itu bukanlah basa - basi atau sekedar predikat belaka. Gue mengatakan ini bukan untuk pamer atau pun menjilat....meskipun bulan Desember adalah bulan bonus akhir tahun...hehhehehe! Ini murni ekspresi dari rasa senang dan apresiasi gue kepada perusahaan yang telah mengapresiasi sumber daya manusianya. Makasih, perusahaan ! *senyum manis mengembang sambil kipas - kipas slip gaji*

Thursday, October 31, 2013

Vaksinasi HPV Tahap Kedua

29 Oktober 2013. Gue kembali ke RS. Harapan Bunda untuk mendapatkan vaksinasi HPV tahap kedua. Kalau menurut anjuran Rumah Sakit, seharusnya gue kembali kemarin, 28 Oktober 2013. Tapi berhubung gue sempat lupa dan ditambah dengan jadwal dr. Rina Fajarwati yang lebih pas dengan jam pulang kantor, maka gue pilih hari Selasa, 29 Oktober 2013.

Kali ini gue santai melakukannya. Gue berangkat dari kantor menerobos hujan badai dengan naik mikrolet disambung dengan taksi, demi tiba di RS. Harapan Bunda. Sebelum berangkat gue sempat menelepon ke sana dan ternyata bisa mendaftar sekalian. Jadilah gue ada di daftar tunggu nomor 2.

Selain itu, langkah gue lebih mantap lagi karena sekarang perusahaan tempat gue bekerja sudah menyatakan bersedia untuk menanggung biaya vaksinasi HPV ini. Walaupun disertai dengan berbagai persyaratan, namun tetap saja ini berita gembira.

Seperti proses sebelumnya, vaksinasinya berlangsung kilat. Gue lebih tenang saat dr. Rina menyuntikkan cairan vaksinnya, tanpa perlu memeluk lengannya erat - erat. Setelah itu gue menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi pembayaran. Rincian biayanya : Rp. 160,000 (konsultasi dokter spesialis) ditambah Rp. 700,000 (biaya vaksinasi). Total Rp. 860,000. Gue kumpulkan semua dokumen pembayaran tersebut untuk keperluan klaim ke perusahaan.

Kemungkinan, kalau klaim ini dikabulkan oleh perusahaan, gue adalah karyawan pertama yang menggunakan benefit ini. Namun, jika pada akhirnya nanti mungkin karena kurang memenuhi syarat maka klaim gue tak terbayar, ini pun sudah gue antisipasi. 

Saat gue mantap untuk memulai tahapan vaksinasi ini, gue sudah sadar konsekuensinya, lebih tepatnya, biaya tidak sedikit yang harus gue keluarkan. Ini adalah satu kebutuhan yang termasuk kritikal, namun cukup menguras kantong. Dan kehadirannya di antara kebutuhan - kebutuhan lainnya seperti cicilan rumah, bantuan bulanan untuk Mama, arisan, cicilan logam mulia, kewajiban menabung, dan pos - pos lainnya, semakin menambah semarak dan berat beban keuangan gue. Dengan demikian, ada hal yang perlu gue korbankan. Salah satunya, harus menahan hasrat traveling sementara waktu.

Tapi setidaknya gue puas karena sudah melakukan apa yang menurut prinsip gue perlu dilakukan dan didahulukan. Masalah kesehatan harus di urutan pertama. Kemarin saat di Rumah Sakit, seorang sahabat yang mengetahui bahwa gue melakukan vaksinasi HPV ini kebetulan menelepon dan dengan santai bilang, "Mahal amat ah....Gue nanti - nanti aja deh...kalau udah nikah. Biar suami gue aja nanti yang bayarin." Gue cuma tertawa dan dalam hati bersyukur, "Untung Nyonya Sitanggang mendidik dan membesarkan gue untuk menjadi perempuan mandiri. Untuk apa gue menunggu sampai orang lain turun tangan membiayai sesuatu yang positif bagi kesehatan gue, di saat gue sendiri pun diberikan berkah dan rejeki dari Tuhan untuk bisa melakukannya sendiri.

Sampai jumpa, vaksinasi tahap ketiga tahun depan !

Sunday, September 29, 2013

Ragu Berliku Menuju Vaksinasi Kanker Serviks

Setelah bertahun - tahun menunda dan menunda, akhirnya Sabtu (28 Sept) kemarin gue membulatkan tekad untuk melakukan vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) alias pencegah kanker serviks. Gue bilang "bertahun - tahun" karena sejauh yang gue ingat, niat untuk melakukannya udah ada sejak tahun 2008 yang lalu. Saat itu, dengan semangat menggebu - gebu dan rasa ingin tahu yang sangat dahsyat, gue berusaha mencari informasi sebanyak - banyaknya mengenai vaksinasi ini. Sejak saat itu sampai akhirnya gue memutuskan untuk vaksin, ada 2 (dua) kendala internal yang menghalangi gue untuk segera merealisasikan niat ini.

Pertama, cara berpikir yang sangat konservatif bikin gue takut untuk mendapatkan tindakan medis apapun selama ngga sedang menderita sakit. Gue takut tindakan pencegahan ini justru menjadi bumerang dan memberikan efek samping membahayakan. Ini cara berpikir yang aneh sebenarnya. Karena di sisi lain gue menganggap vaksinasi adalah cara pencegahan yang efektif. Sayangnya itu hanya gue terapkan pada anjing gue, Bruncuz. Bruncuz punya daftar vaksinasi lebih panjang dari gue. 

Kedua, harga vaksinnya yang selangit, berkisar antara Rp. 700,000 - Rp. 1,000,000/suntikan, belum termasuk biaya konsultasi dokter. Sementara untuk sepaketnya, sebanyak 3 (tiga) kali suntikan harus dilakukan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan. Untuk alasan yang kedua ini, sebenarnya gue bersikap ngga konsisten. Gue ngga pernah bersikap hemat dan perhitungan kalau itu mengenai tiket pesawat atau rencana liburan. Gue menjadwalkan liburan sekitar 3 - 4 kali setahun, yang meskipun ala backpacker, tapi tetap saja merogoh kantong. Selain itu, walaupun seadanya, gue juga menyisihkan penghasilan untuk menabung dan investasi. Tapi entah mengapa, tiap kali memikirkan kembali niat untuk vaksinasi, gue segera berusaha menguburnya dalam - dalam dengan alasan finansial. Bahkan gue sempat bertekad baru akan melakukan vaksinasi jika perusahaan tempat gue bekerja saat ini menanggung biayanya, atau paling tidak mensubsidi sebagian biayanya.

Belakangan, niat yang belum kesampaian ini kembali mengganggu ketenangan pikiran gue. Akhirnya di hari Sabtu itu gue berangkat ke Rumah Sakit Umum Pasar Rebo. Saat itu niat gue sekedar untuk mencari informasi, karena gue kurang puas dengan segudang informasi yang udah gue peroleh melalui Google. Setiap kali gue menelepon Smileybeberapa Rumah Sakit di Jakarta, hasilnya selalu mengecewakan. Telepon gue dioper - oper ke divisi yang berbeda - beda. Dan selalu berakhir dengan tanpa hasil. Gue belum pernah mendapatkan informasi tepat dari orang yang tepat pula di Rumah Sakit tersebut. Informasi yang jelas pernah gue dapatkan ketika menghubungi Yayasan Kanker Indonesia, baik yang ada di Sunter maupun Lebak Bulus. Namun soal harga selangit itu lagi - lagi mementahkan niat gue. 

Usaha lain yang gue lakukan adalah mencari program promo. Program ini pernah ditawarkan sebuah klinik melalui website agregator, dengan potongan harga lumayan. Tapi program diskon yang bombastis justru membuat gue ragu mengenai kualitas vaksinnya. Setelah sibuk browsing, sebuah klinik lainnya menawarkan diskon menggiurkan dengan menggunakan kartu kredit tertentu. Tapi lagi - lagi gue bingung dan ragu, bagaimana mungkin masalah kesehatan serius tingkat tinggi dijual obral seperti itu.Gue semakin ngga ngerti dengan diri sendiri. Dari awal gue begitu 'terganggu' dengan masalah harga yang tinggi, tapi begitu ada tawaran diskon menarik, gue justru meragukan kualitas vaksin dan kredibilitas klinik atau rumah sakitnya. Memangnya gue berharap akan ada rumah sakit sekelas Gleneagles Singapura yang akan menawarkan potongan harga  90%, gitu ? Smiley.

Kembali ke kunjungan ke RSU Pasar Rebo, begitu di meja informasi gue langsung memperoleh kepastian bahwa rumah sakit tersebut belum melayani vaksinasi HPV. Mengejutkan sekaligus mengecewakan. Bukankah penyakit kanker serviks salah satu pembunuh perempuan tertinggi di Indonesia ? Lalu kenapa rumah sakit umum ini belum melayani program (vaksinasi) pencegahannya ?

Belum puas dengan hasil pencarian gue, perjalanan pagi itu pun berlanjut ke RSU. Harapan Bunda. Yang menarik, ini adalah satu - satunya rumah sakit yang memberikan informasi jelas mengenai program vaksinasi HPV termasuk harganya melalui website resminya Smiley.

Di meja pendaftaran gue dilayani oleh petugas - petugas yang ramah dan siap membantu. Dengan keraguan mendalam gue bertanya, "Mbak, saya mau vaksin kanker serviks, bisa ?" Dalam hati gue berharap sang petugas menjawab, "Vaksinasi tidak bisa dilayani di hari Sabtu.." Namun petugas yang ramah itu justru menjawab, "Sebentar saya cek dulu Mbak, ada dokter kebidanan atau tidak." Gue kaget mendengarnya, dokter kebidanan ? Terdengar sangat menakutkan. Gue bahkan sangat jarang berurusan dengan dokter umum, dan saat ini gue akan dipertemukan dengan dokter kebidanan. 

Petugas itu pun berlalu ke dalam kantor dan gue bisa melihatnya menelepon. Dia kembali dan bilang, "Dokternya ada Mbak. Mbak mau dengan dr. Rina atau dr. Arman ?" Otak gue berpacu. Gue ngga siap untuk melangkah sejauh ini. Awalnya khan hanya untuk mencari informasi, namun sekarang gue harus memilih dokter. Dan, siapa pula dr. Rina dan dr. Arman ? Gue cuma menjawab dengan suara tertahan, "Yang perempuan aja Mbak...dokter Rina.." Gue pun dipersilahkan menuju ruang kebidanan. Astaga....ini peristiwa bersejarah yang menegangkan untuk gue. Berstatus masih lajang, belum menikah, dan melangkah menuju ruang praktek kebidanan. Rasa paniknya hampir sama seperti waktu gue pertama kali bekpekeran, sendirian, bertahun - tahun silam. Saat gue tiba di pelabuhan Harbourfront, siap menghadapi barisan petugas imigrasi Singapura. Sensasinya sama. Berjalan di lorong rumah sakit, siap menghadapi dokter spesialis kebidanan.

Di ruang yang dipenuhi banyak pasien itu, beberapa perawat menyambut gue dengan ramah. Mereka mencatat data pribadi dan mengukur tekanan darah gue. Begitu selesai, gue bertanya pada salah satu perawat, "Hasilnya apa Mbak ? Darah rendah ya ?" Hasil tekanan darah gue selama ini emang seringnya rendah, dan kali ini gue berharap hasil itu menjadi penyelamat gue. Gue berkhayal si perawat menjawab, "Darah rendah, Mbak....Mbak dilarang vaksin hari ini." Namun lagi - lagi jawabannya lain, "Normal, Mbak.." Setelah itu, gue pun dipersilahkan menunggu di antara pasien - pasien lainnya. Kehadiran gue disitu sepertinya menjadi pemandangan yang kontras, di antara para perempuan lainnya yang kebanyakan sedang mengandung, dan ditemani suami masing - masing. Gue harus menunggu sekitar sejam lebih karena panjangnya antrian. Akhirnya nama gue pun dipanggil, "Nona Cherry !" Entah apa yang ada di pikiran orang - orang yang ada di ruang itu begitu mendengar sebutan "Nona" itu.

Di dalam ruang praktek dr. Rina Fajarwati spOG., lagi - lagi gue disambut dengan keramahan ala rumah sakit ini baik oleh sang dokter maupun perawat pendampingnya. Dr. Rina tidak menggunakan jaket atau pakaian putih ala dokter, dan sejujurnya secara psikis itu menolong gue untuk mengurangi rasa takut. Dr. Rina mengatakan bahwa keputusan gue untuk vaksin sangatlah positif mengingat begitu banyaknya pasien kanker serviks yang dia layani sehari - hari. Mencegah lebih baik daripada mengobati, katanya. Yang dimaksud dengan "mencegah" karena vaksinasi ini dianjurkan dilakukan ketika belum menikah alias belum aktif secara seksual, pada usia sedini mungkin (dapat diberikan sejak usia 10 tahun).

Dari awal gue udah bilang ke dr. Rina kalau gue sangat penakut berhadapan dengan jarum suntik, vaksin, dan sejenisnya. Gue teringat waktu melakukan vaksin flu di kinik kantor beberapa bulan sebelumnya. Gue harus memeluk tangan sang dokter erat - erat demi mengurangi rasa sakitnya. Sebenarnya rasa sakitnya tidak seberapa, namun karena rasa takutnya segunung, jarum suntik secuil itu pun menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Dokter yang bersikap sangat keibuan itu pun seakan - akan bisa membaca pikiran gue dan dia bilang, "Gak sakit kok...cuma sebentar. Pegang tangan saya saja.." Dan jarum suntik itu pun mendarat di lengan kiri gue. Dr. Rina bilang efeknya lengan gue akan terasa pegal. Gue ngga masalah dengan itu, karena toh kedua lengan gue saat itu sudah sangat pegal akibat berenang sampai malam di hari sebelumnya.

Proses vaksinasi selesai, dan senyum bahagia mengembang di wajah gue. Akhirnya dengan keberanian seadanya gue bisa mewujudkan niat yang udah tertahan selama bertahun - tahun. Gue pun melangkah dengan girang ke meja kasir. Biaya yang harus gue bayar hari itu :
  1. Vaksin Cervarix (total) : Rp. 699,925
  2. Biaya dokter & administrasi : Rp. 170,000
Selain itu gue pun diberikan jadwal vaksinasi berikutnya, yaitu bulan Oktober 2013 dan Maret 2014. Dalam hati gue berjanji untuk jadwal berikutnya tidak akan membiarkan alasan apapun membuat gue ragu dan menunda proses vaksinasinya. Kesehatan gue, yang penting baik untuk saat ini maupun masa depan, harus menjadi yang utama dan prioritas.