I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Laos. Show all posts
Showing posts with label Laos. Show all posts

Friday, January 01, 2016

And The Friendship Begins.....

Lagi buka - buka file foto lama...malah ketemu beberapa foto waktu di Vientiane, Laos (Januari 2013) yang belum pernah di-upload dimana pun. Ini adalah foto - foto yang sangat berkesan buat gue. Vientiane adalah kota yang menarik, dan senang rasanya selain bisa bertemu orang - orang baru, juga mahluk berkaki empat (baca : anjing) yang selalu lucu. 

Anjing hitam ini, yang entah siapa pemiliknya, selalu beredar di teras sebuah minimarket yang juga coffee shop di (jalan), yang cuma berjarak sekitar 200 meter dari hostel tempat gue tinggal, Vientiane Backpacker's Hostel. Dan setiap hari gue akan selalu ke minimarket ini, untuk sekedar membeli persediaan air mineral atau cemilan.

Anjingnya ngga galak, tapi juga ngga ramah - ramah banget....tipikal anjing yang biasa bertemu orang lalu - lalang. Anjing yang hanya duduk santai dengan tatapan tanpa ekspresi, atau tidur dan minim reaksi terhadap apapun yang terjadi di sekitarnya. Anjing gue di rumah, Bruncuz dan Momo, punya reaksi khas masing - masing setiap kali bertemu orang pertama kali. Bruncuz yang sekarang jadi pemarah akan agresif dan menyerang, sementara Momo akan langsung menerjang orang tersebut dengan semangat, 'menuntut' untuk dipeluk.

Anjing hitam ini, dia bersikap acuh dan tidak menunjukkan ketertarikan atas apapun dan siapapun sepertinya. Tapi secuek - cueknya anjing, mereka tetap mahluk paling bersahabat dan tanpa prasangka buruk, yang pernah gue kenal. Mereka hanya perlu secuil waktu untuk 'mengobservasi' sekelilingnya termasuk manusia yang datang mendekat. Ketika mereka sudah merasakan segala sesuatunya 'aman' dan positif, mereka akan membuka diri untuk....mungkin sekedar perkenalan...atau sebuah persahabatan.

'leave me alone...'
'who is she.....?'
'she seems nice.....'
'hi, nice to meet you...'

Wednesday, October 22, 2014

Goresan Kenangan di Vientiane

Ini catatan perjalanan yang udah basi banget sebenarnya. Perjalanan yang gue lakukan tanggal 18 Januari 2013 yang lalu, sebagai hadiah ulang tahun dari gue dan untuk gue. Alasan baru diposting sekarang karena gue adalah blogger pemalas dan tergantung mood. Hanya saja, gue selalu mengingatkan diri sendiri untuk gak pernah absen posting catatan perjalanan gue di blog. Karena menurut gue ini cara paling tepat untuk mendokumentasikan kiprah dan sepak terjang kedua kaki panjang gue ini ketika melanglang buana. 

Perjalanan gue ke Laos, tepatnya di ibukota Vientiane, terbilang singkat, cuma 4 hari. Rute yang gue ambil adalah Jakarta - Kuala Lumpur - Vientiane (vice versa). Gue sempat bermalam di terminal LCCT Kuala Lumpur, dan sekali lagi mendapat kesempatan emas untuk.....menikmati tidur dan menghabiskan malam di lantai terminal yang super dingin.

Kota Vientiane sendiri adalah kota yang gak terlalu luas namun tenang dan menyenangkan. Untuk biaya hidup, kota ini menawarkan fasilitas super terjangkau untuk bekpeker gembel macam gue. Di sana gue tinggal di Vientiane Backpacker Hostel yang terletak di Jalan Norkeokoummarn yang gue booking via www.hostelbookers.com. Pilihan gue jatuh ke hostel ini terlebih karena harganya yang fantastis (USD 5/ranjang/malam, untuk 16 bed di mix dorm room), dan karena review - review yang  gue baca. Lokasinya strategis banget, berada di tengah kota dan sentra turis.

Setiap traveling dan akan memilih hostel, sensasinya kayak beli kucing dalam karung. Bisa saja gue membaca review - review menarik, dan foto - foto hostel yang memprovokasi dan bikin gue ngiler untuk tinggal di suatu hostel, namun begitu gue datang dan tinggal di situ, berakhir dengan kekecewaan. Namun pilihan hostel gue kali ini adalah salah satu pilihan tepat yang gue lakukan, karena gue benar - benar puas dengan fasilitas, kondisi dan harga hostelnya.

Selama di sana, meskipun waktunya lumayan sempit, gue menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata Vientiane, yaitu :

Patuxai

Patuxai
Patuxai merupakan monumen yang didedikasikan kepada para pahlawan perang Laos yang berjuang merebut kemerdekaan dari pihak Perancis. Monumen yang megah ini terletak di Jalan Lang Xang yang gue tempuh dengan berjalan kaki, di bawah sengatan matahari yang menyala - nyala. Gue sempat meniti anak tangganya sampai ke bagian paling atas monumen. Bagian dalam monumen ini dipenuhi dengan penjual aksesoris dan barang oleh - oleh khas Laos. Menurut gue monumen ini iconic dan megah banget.

That Dam (Black Stupa)

That Dam (Black Stupa)
Gue sempat mampir ke sini tanggal 20 Januari 2013, dalam perjalanan menuju terminal bus di belakang Morning Market, ketika gue hendak ke Buddha Park. Lokasinya berada di sebuah taman yang asri, di antara rumah - rumah warga lokal yang menurut gue cukup berkelas. Ada kepercayaan lokal yang mengatakan bahwa di stupa ini tinggal seekor naga berkepala tujuh yang melindungi rakyat Laos dari serangan Thailand. Dari hostel ke sini, gue tempuh dengan berjalan kaki.

That Luang
That Luang (The Great Stupa)
Entah apa fungsi bangunannya....apakah kuil, monumen, benteng....yang jelas tempat ini indah, megah dan sekaligus sakral sekali. Ditambah dengan warna emas yang melapisi hampir seluruh bangunannya yang siang itu ditimpa oleh sinar matahari yang demikian menyilaukan, bikin bangunannya jadi bertambah agung.

Memandang That Luang dari dekat, rasanya menghapus segala lelah derita gue sepanjang perjalanan menuju ke sini. Bayangkan, di tengah hari, setiba di terminal bus dari perjalanan ke Buddha Park, gue melanjutkan dengan berjalan kaki ke Wat Ho Phra Keo. Setelah puas berkeliling di tempat itu, gue kembali berjalan kaki sejauh 7 km ke That Luang, diiringi dengan dahsyatnya dan silaunya mentari siang itu. Meskipun hari itu sudah berlalu hampir 2 tahun lamanya, namun gue akan selalu ingat, itu adalah salah satu siang paling p.a.n.a.s yang pernah gue lalui, titik.

Catatan : 
Tiket masuk : 5,000 kip
Tuktuk dari That Luang - Vientiane Backpacker Hostel : 25,000 kip

Buddha Park
Buddha Park (Xieng Khuan)
Hal yang paling bikin gue penasaran tentang Laos, tepatnya Vientiane, adalah mengunjungi tempat ini. Kalau ngelihat gallery photo - photonya di Google, tampak tua, keren dan mistis. Lokasinya sebenarnya bukan berada di dalam kota, melainkan sekitar 25 km dari Vientiane.

Di atas "labu" raksasa
Pagi itu (20 Jan 2013), gue meninggalkan hostel agak pagi, dan berjalan kaki menuju terminal bus yang ada di belakang Morning Market. Kenapa gue selalu berjalan kaki ? Karena itu cara tercepat, teraman dan tersehat untuk gue ketika mencari suatu lokasi baru. Setiba di terminal bus, gue naik bus No. 14. Info penting ini gue dapat ketika browsing di Google. Gue naik bus ini sampai ke Friendship Brigde, dimana gue menyambung naik minivan menuju ke Buddha Park, dengan melewati jalan yang kondisi sangat tidak mulus.

Bagian belakang : Patung Dewa Indra menunggang gajah berkepala tiga
Buddha Park ternyata ngga sekuno atau setua yang gue pikir, karena taman ini dibangun 'baru' di tahun 1950an. Di sini terdapat sekitar 200 patung, perpaduan antara Buddha dan Hindu. Bentuk patungnya macam - macam, ada patung Buddha, hewan, dewa, dan lainnya. Salah satu patung paling besar adalah Patung Buddha dalam posisi berbaring. Selain itu ada juga bangunan menyerupai labu setinggi 3 lantai, yang bisa dimasuki dan dinaiki pengunjung. Meskipun ketakutan setengah mati saat memasuki bagian dalam 'labu' ini, tapi akhirnya gue tiba di bagian atap 'labu'.


Area tamannya sendiri menurut gue gak terlalu luas. Tapi berhubung di dalamnya dipenuhi dengan patung - patung berbentuk unik dan raksasa, ini tempat yang sangat tepat mendapatkan foto - foto keren.

Reclining Buddha

Catatan :
Ongkos Bus No. 14 : 6,000 kip
Ongkos Minivan : 2,000 kip
Tiket Buddha Park : 5,000 kip

Wat Ho Phra Keo
Wat Ho Phra Keo
Alkisah di suatu siang yang panas menyengat, di balik tembok tinggi gue melihat bangunan seperti kuil yang kokoh nan megah didominasi warna emas sekaligus nuansa gelap, yang bikin bangunan itu tampak sangat kuno. Namanya Wat Ho Phra Keo, yang dibangun sejak tahun 1565. Saat ini fungsinya bukan lagi tempat ibadah, melainkan museum. Sepanjang yang gue ingat, keindahan museum ini terlebih pada setiap detil bangunannya yang dipenuhi dengan ukiran serta pahatan dimana - mana. Juga, gue takjub melihat pilar - pilarnya yang tinggi menjulang yang membuat kesan megah bangunan ini.


Selain ke lokasi - lokasi di atas, hal menarik yang gue lakukan selama di kota kecil ini adalah mengunjungi kuil - kuil Buddha dan museum - museum, berkeliling night market setiap malamnya, menikmati acara jajan dan makan dengan harga murah meriah, mengeksplorasi jalan - jalan kotanya dengan berjalan kaki, dan tentunya sedikit memanjakan badan letih gue dengan sesi pijat ala Laos.

Entah berapa jumlah kuil Buddha yang tersebar di kota ini, pastinya banyak banget dengan bangunan - bangunannya yang berbentuk super indah dan anggun dengan dominasi warna emas.

Temple tour
Yang menurut gue 'unik' lainnya mengenai kota ini adalah, dimana sentra turis baik yang kelas backpacker maupun premium berada di area yang sama. Trus, sentra penginapan turis ini lokasinya gak jauh dari pusat - pusat serta kantor - kantor pemerintahan Laos. Contohnya dari hostel tempat gue tinggal, cukup dengan berjalan kaki meniti sebuah jalan utama sejauh beberapa ratus meter, gue akan menemukan kantor - kantor kementerian, kedutaan besar, bahkan Istana Kepresidenan.

Satu lagi, 'jejak' Perancis masih terasa cukup kental di kota ini, dan digunakan untuk menamakan berbagai fasilitas umum, seperti "rue" untuk "jalan", lalu "National Biblioteque" atau perpustakaan nasional, ada juga "Lycee de Vientiane" atau sekolah menengah atas Vientiane, dan lain sebagainya.

Vientiane sangat berkesan buat gue karena menawarkan obyek - obyek wisata yang cukup beragam dan mudah dijangkau. Mungkin ada yang menilai kota ini membosankan karena sepi dan 'begitu - begitu saja'....namun jiwa gue akan selalu merindukan tempat - tempat yang menawarkan ketenangan serta  menyajikan rasa damai dan relaks seperti kota ini.

Anjing Laos nan ramah :)

Friday, January 25, 2013

Mr. Freak, Pendengkur Sakti dan Si Celana Dalam

Tinggal di dorm room adalah bagian dari kisah bekpekeran gue. Ini adalah pengalaman yang lebih kaya rasa, karena banyak hal bisa terjadi. Berbagi kamar dengan beberapa orang lainnya, baik pria maupun perempuan, dengan segala keragamannya akan selalu menghasilkan pengalaman yang bisa jadi seru, lucu, atau menyebalkan.

Untuk trip kali ini ke Vientiane, Laos, gue menginap di mix dorm room yang terdiri dari 16 ranjang, di Vientiane Backpacker Hostel. Gue tertarik untuk reservasi di tempat ini karena review yang gue baca di hostelbookers.com. Dari segi lokasi, hostel ini sangat strategis. Dengan harga hanya sekitar USD 5 per malam, gue merasa mendapatkan lebih dari yang gue harapkan. Kamarnya lumayan luas dan bersih, dengan 16 bunk bed, 1 AC, dan 2 kipas angin.

Saat gue check in, kamar gue sepertinya sudah full. Gue menempati ranjang nomor 8 yang letaknya di bawah, dekat dengan jendela. Penghuni yang menempati ranjang di sebelah gue namakan Mr. Freak. Gue merasa gerak - geriknya yang selalu tampak tegang, kikuk, dan canggung itu agak ganjil. Tentu saja, karena gue selalu beransumsi bahwa orang yang tinggal di hotel atau hostel berarti sedang berlibur...lalu kenapa ada orang yang tampak tegang dan stress seperti itu berkeliaran di hostel...tepatnya ada di sebelah ranjang gue. Sore tadi gue melihat dia tampak serius memandangi langit - langit ranjangnya. Gue sampai penasaran dan mencuri cara untuk melihat apa yang ada di langit - langit ranjangnya.Tentu aja ngga ada apa - apa selain ranjang penghuni yang tinggal di atasnya karena itu merupakan bunk bed alias kasur tingkat.

Malam itu gue sedang asyik duduk di lantai sambil mengerjakan jurnal, daftar pengeluaran uang di hari itu. Mr. Freak masuk ke kamar dan nampaknya bersiap - siap untuk tidur. Mula - mula dia melepaskan kemejanya. Saat itu mungkin gue sedang mencatat pengeluaran untuk internet dan telepon internasional hari itu. Setelah itu gue melihat Mr. Freak bersiap - siap untuk membuka celana panjangnya. Dengan spontan gue langsung membalikkan arah pandangan gue ke pintu masuk. Gue mungkin nampak berhasil menutupi rasa kaget dan bingung dengan kesibukan gue membuat jurnal...5,000 Kip untuk pop corn...orang yang aneh...50,000 kip untuk makan malam....memangnya dia mau tidur dalam keadaan telanjang ??....35,000 kip untuk beli bandana...kenapa dia harus pilih kasur di sebelah gue ??? Jurnal selesai, dan gue merebahkan badan lelah di ranjang.

Segalanya tampak menyenangkan sampai ketika ketenangan tidur gue terganggu oleh suara dengkuran yang maha dahsyat kencangnya. Sebagai orang yang terbiasa tidur di dorm room seharusnya telinga gue cukup terlatih untuk tahan dengan berbagai suara berisik di saat  tidur...tapi kali ini, suaranya terlalu bising dan mengganggu. Dengkuran ini berhasil membangunkan gue dari tidur yang seharusnya nikmat dan nyenyak. 

Gelap. Gue ngga tahu dari ranjang mana suara dengkuran itu berasal. Mr. Freak ternyata juga terbangun dan dalam kegelapan pun gue tahu dia merasa gelisah dan terganggu dengan suara dengkuran. Gue bahkan bisa mendengar dia menggumam sesuatu...pasti mengeluh. Gue mencoba menutup telinga dengan bantal, namun sia - sia karena suara dengkurannya terlampau keras, dan sebuah bantal tipis bukan tandingannya. 


Di pabrik tempat gue bekerja, ada prosedur dinamakan noise mapping untuk mengukur tingkat kebisingan di area kerja tertentu. Apabila tingkat kebisingannya berada di level tertentu, karyawan yang bekerja di area tersebut direkomendasikan menggunakan earplugs atau earmuffs, demi menghindari resiko atau bahaya bagi karyawan, baik untuk jangka waktu pendek maupun panjang. Suara dengkuran yang sedang gue dengarkan saat ini jika diukur pasti berada di level kebisingan maksimal. Gue bingung dengan kompleksnya suara yang gue dengar, dan gue sampai berkesimpulan bahwa si pendengkur pasti memiliki masalah THT serius.

Dalam gelap, gue melihat bayangan seseorang melewati ranjang gue, dan beberapa detik kemudian membuka pintu kamar. Gue pikir, penghuni yang barusan lewat itu pasti salah satu korban yang terpaksa terbangun gara - gara suara dengkuran yang belum jelas dari mana asalnya. Di saat itu, gue pasrah tidak akan bisa melanjutkan tidur. Gue lihat jam, 2.30 pagi. Gue pun bangkit dan hendak meninggalkan kasur. Di saat itulah gue terkejut bukan main karena ternyata si pendengkur sialan tidur di ranjang sebelah gue. Jelas aja suara dengkurannya nyaring terdengar ! Jadi, di kamar ini gue tidur di antara orang aneh dan pendengkur sakti....gue adalah orang paling beruntung sedunia!

Kali ini gue menghadap ke arah lorong kamar, ke ranjang - ranjang lain yang ada di seberang gue. Di saat itulah si penghuni yang tadi meninggalkan kamar kembali. Meskipun gelap, namun berhubung mendapat sedikit cahaya lampu dari rumah sebelah, gue bisa melihat si penghuni tersebut ketika melewati gue. Dan lagi - lagi gue harus terkejut. Seorang lelaki dengan santai melintas dengan hanya mengenakan celana dalam....bukan celana pendek, melainkan celana dalam. Di saat gue menahan rasa dingin dengan mengenakan celana panjang, kaos kaki, jaket dan selimut, orang ini berjalan kesana kemari hanya dengan celana dalam. Sekonyong - konyong gue merasa sedang tersesat di negeri kumpulan orang - orang aneh. 

Si Celana Dalam mendekat ke jendela, dan membukanya. Untuk apa orang membuka jendela pada jam 2 pagi ? Lagian dia mengharapkan pemandangan apa dengan membuka jendela, karena jendela tersebut hanya menghubungkan dengan tembok rumah sebelah. Lalu gue melihatnya berbalik ke arah pintu...lalu kembali ke jendela....lalu ke arah pintu lagi...dan gue ngga tahu kemana lagi dia melangkah. Gue mencoba untuk menutup mata dan melanjutkan tidur. Walaupun tidak senyenyak yang gue harapkan, tapi gue berharap paling tidak badan gue bisa beristirahat sejenak.

Saat pagi menjelang dan gue hendak ke kamar mandi, gue menemukan botol bir di dekat kasur si Pendengkur Sakti. Di ranjang gue berjejer botol - botol air mineral...sementara si Pendengkur Sakti membawa botol bir ke dalam kamar....dalam keadaan tumpah hingga membuat genangan kecil.

Bukan hanya kegaduhan di tengah malam, hal - hal lain yang belum biasa gue liat pun kadang bikin gue tertawa. Misalnya di kamar ini ada yang meletakkan sepatu bootnya yang sebenarnya kotor, tepat di kasur yang akan ditidurinya. Mungkin bootnya itu memiliki nilai histori yang luar biasa, atau si pemilik membelinya seharga trilyunan rupiah sampai - sampai dia tidak rela meninggalkan di pintu luar, seperti penghuni - penghuni lainnya. Di hari berikutnya Mr. Freak menjemur dan menggantung celana dalamnya di langit - langit kasurnya. Jadi, di saat gue merebahkan kepala di bantal, celana dalam itu posisinya hanya beberapa jengkal saja dari mata gue. Bukan pemandangan yang biasa, namun bukan pula istimewa. 

Seperti gue bilang tadi, tidur di dalam kamar hostel adalah pengalaman yang seru, dan juga menantang. Tidak kalah menantang dibandingkan kehidupan gue di siang harinya saat harus menjelajah setiap jalan - jalan di kota, hanya bermodalkan peta. Tinggal di kamar juga memerlukan perjuangan tersendiri. Berjuang untuk sanggup bertoleransi kepada penghuni kamar lainnya, dan merasa nyaman di tengah kondisi yang tidak biasa.