I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Showing posts with label Jonggol. Show all posts
Showing posts with label Jonggol. Show all posts

Sunday, June 17, 2018

Curug Cipamingkis Yang Eksotis


15 Juni 2018

Lebaran hari pertama, gue dan Ony memilih kabur dari Jakarta dan 'bersilahturahmi' dengan alam....Caellaahh ! Targetnya masih sama, the one and only, Jonggol. Pokoknya sebelum gue bosan ke sini dan puas mengeksplorasi keindahan alamnya, meskipun jauhnya kebangetan, gue akan kembali ke sini lagi....ke sini lagi...

Perjalanan kali ini agak spontan dan ngga direncanakan, jadilah gue dan Ony berangkat agak siang dari rumah, sekitar jam 9 pagi. Tujuan pastinya pun belum jelas - jelas amat. Begitu tiba di Jonggol city, gue dan Ony mampir dulu di warung bakso untuk mengisi perut. Lapar ? Sebenarnya belum. Tapi mengingat pengalaman biasanya, dimana mencari tempat makan di sini susah, terlebih pas hari Lebaran kayak gini, dan sepanjang perjalanan mulai dari Mekarsari, Cileungsi, sampai memasuki Jonggol, warung makan yang buka cuma warung bakso dan mie ayam doang, gue dan Ony memutuskan untuk makan bakso sebagai sarapan sekaligus makan siang.

Kelar ngebakso, berikutnya gue menuju Heaven Memorial Park (HMP) atau disebut juga Taman Makam Quiling. Gue khan senang mengunjungi makam, dan HMP ini menurut gue keren banget...luasnya 125 hektar dengan pemandangan berupa gunung, lereng, sungai, dan hutan. 

Tujuan berikutnya sebenarnya pengen langsung ke Curug Cipamingkis, tapi gue dan Ony malah mengambil arah menjauh, yaitu ke arah Cianjur. Ketika tiba di Puncak Hutan Pinus yang nampak seperti lokasi peristirahatan sejenak karena di kiri kanan jalan terdapat banyak warung - warung kopi dan pusat oleh - oleh, gue berhenti sejenak di situ. Ony mau istirahat sambil menikmati secangkir kopi. Meskipun namanya 'Puncak Hutan Pinus' tapi akses menuju hutan pinusnya sendiri sudah ditutup untuk umum. Kalau kata salah satu pemilik warung dan tukang parkir, dulunya area itu emang dibuka untuk pengunjung, tapi sekarang tidak. 

Dari Puncak Hutan Pinus, gue dan Ony mengambil arah balik ke Cariu, karena kita pengen ke Curug Cipamingkis. Alhasil tiba di curug udah menjelang sore, sekitar jam 15:00. Oya, sebelumnya gue cerita mengenai perjalanan gue ke Curug Ciherang. Mengenai rute perjalanan, Curug Cipamingkis ini berdekatan dengan Curug Ciherang, begitu tiba di sebuah pertigaan, ambil arah ke kiri untuk ke Curug Cipamingkis. Sebelum tiba di Curug Cipamingkis pengunjung akan melalui sebuah wahana wisata bernama Villa Khayangan Sukamakmur (di sebelah kiri) terlebih dahulu.

 

Setelah membeli karcis masuk berikut parkir, gue pun memasuki kawasan curug. Selain Curug Cipamingkisnya sendiri, area ini menyediakan wahana wisata lainnya, misalnya penginapan, camping ground, kolam renang, spot foto ala - ala, dan rumah pohon. Gue dan Ony langsung menuju curug, yang bisa ditempuh tanpa harus berlelah-lelah trekking. Curugnya keren....ada 1 sumber air terjun setinggi sekitar 20 meter. Di sekitarnya terdapat bebatuan besar. Curugnya ngga terlalu luas, dengan debit air lumayan deras. Di sekelilingnya berupa tebing dan pepohonan hijau, secara keseluruhan curugnya indah dan eksotis. Yang lebih menyenangkan lagi, area tepat di bawah air terjun, kedalamannya cuma setinggi dada orang dewasa. Jadi sangat aman dan menyenangkan banget buat mandi dan main air di sini. Trus gue nyebur ? Ngga sih....meskipun di situ juga disediakan tempat ganti/kamar mandi, tapi sore itu gue ingin menikmati kesejukan udara dan segarnya air Curug Cipamingkis dengan main-main air cantik dan merendam kaki aja. 


Puas di curug, gue dan Ony melangkah menuju rumah pohon. Untuk rumah pohonnya, pengelola curug mungkin terinsipirasi oleh keindahan rumah pohon di Curug Ciherang. Bentuknya sama, warna cat pada jembatan kayunya pun sama persis.Tapi favorit gue tetap rumah pohon Curug Ciherang, karena bentuk, lokasi dan pemandangan sekelilingnya bikin kesan sedikit magis.


Karena hari udah semakin sore, gue dan Ony meninggalkan lokasi. Overall, curug Cipamingkis mungkin salah satu favorit gue, dan bisa jadi suatu saat pengen balik lagi ke sini buat nyebur dan mandi sampai puas.

Saturday, June 16, 2018

Mandi Hujan di Curug Ciherang


19 Mei 2018.

Dengan tekad menggelora untuk mengeksplorasi pesona Jonggol yang menurut gue belum banyak terekspos ~ dan gue suka tempat-tempat seperti itu ~ gue dan Ony kembali ke sana, tepatnya kawasan Gunung Batu. Tujuannya untuk mengunjungi Curug Ciherang dengan rumah pohonnya yang instagrammable itu.

Perjalanan menuju Jonggol tuh selalu menguras tenaga dan waktu banget sebenarnya. Meskipun gue menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, tapi entah kenapa khusus untuk rute menuju Jonggol, terlebih Gunung Batu, bisa sampai menyentuh batas kebosanan gue. Mungkin karena rutenya masih sepi penduduk, misalnya jika dibandingkan dengan Gunung Salak. Jadi di sela-sela keasyikan gue menikmati perjalanan, tersisip juga rasa khawatir mengenai rasa amannya. 

Untuk misi kali ini ke Curug Ciherang, perjalanannya jauh lebih panjang lagi dari pada ke Puncak Gunung Batu, namun masih searah. Dari Puncak Gunung Batu, kira-kira masih 1 jam lagi, dengan kondisi jalan yang ngga selalu mulus. Dari jalan utama dan satu - satunya, pengunjung harus berbelok ke kiri. Gue melihat papan petunjuk arahnya secara ngga sengaja. Jadi besar kemungkinan pengunjung yang baru pertama kali ke sini kesasar dengan mengambil arah lurus. Di kawasan ini emang lebih baik banyak - banyak bertanya ke penduduk. Itu pun kalo kebetulan dekat dengan rumah penduduk. Banyak titik dimana sepanjang mata memandang yang terlihat hanya hamparan sawah padi, kebun, pepohonan bambu, jati, dsb. Oya, di sini gue juga ngga bisa mengandalkan GPS karena sinyal lenyap sama sekali. Ketika berbelok ke kanan menuju arah Gunung Batu dari jalan raya Jonggol, sebenarnya sinyalnya udah mulai susah. Pas posisi puncak Gunung Batu, udah ngga ada sama sekali. Apalagi arah ke Curug Ciherang. Nampaknya di sini tuh kawasan tidak ramah Telkomsel. 

Menjelang tiba di kawasan Curug Ciherang, petunjuknya makin jelas, karena berupa pertigaan. Kalo ke kanan, ke Curug Ciherang. Kalo ke kiri ke Curug Cipamingkis. Curug Ciherang menjadi bagian dari Wahana Wisata Curug Ciherang (WWCC) yang sepertinya dikelola oleh pribadi/perorangan gitu. Tiket masuknya mahal banget menurut gue ! Untuk 2 orang dan 1 motor harganya Rp. 43,000,- Alamakjannn...untuk menikmati keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa berupa curug di salah satu gunung di Jonggol, gue musti bayar segitu. Dahsyat ya...Tapi berhubung udah sampai sana, mau ngga mau gue beli tiketnya. 


WWCC ini luas banget....Setelah loket penjualan tiket, pengunjung akan melihat beberapa bangunan penginapan atau villa yang tersedia di sana. Gue rasa saat itu semua kosong tanpa penghuni, karena sepi banget. Bentuknya macam - macam, ada yang rumah modern, rumah panggung, atau rumah Teletubbies juga. Dari sini Rumah Pohon Curug Ciherang belum terlihat. Pengunjung harus mengambil arah ke kanan untuk menuju kawasan curugnya. Oya, hujan rintik sudah mulai turun sejak kedatangan gue di WWCC ini. Selain hujan, kabut tebal juga udah mulai muncul, jadilah kawasan tersebut nampak gelap.

Teletubbies wannabe
Setelah parkir motor, lokasi yang pertama gue lihat adalah Rumah Pohon Curug Ciherang. Gue girang banget lihatnya, karena sudah lama lihat, terpesona, dan penasaran pengen berkunjung, setelah baca travel story-nya yang udah pernah ke sana. Tempatnya emang keren banget. Berada di ketinggian, dengan latar belakang gunung. Di bawahnya, nampak Curug Ciherang berada. 


Saat itu ngga banyak pengunjung yang datang, cuma sekitar 6 - 10 orang, mungkin karena masih awal puasa. Jadi sepi, plus hujan, plus kabut tebal, bikin suasana sedikiiittt seram. Berhubung saat itu ngga terlalu leluasa berfoto - foto di rumah pohon, gue dan Ony pun melanjutkan perjalanan ke Curug Ciherang, yang lokasinya ngga jauh. Tiba di sana, hujan semakin deras, dan gue berteduh di kamar mandi dekat situ. Ketika hujan mulai reda, kabut bergeser dan langit sedikit cerah, gue dan Ony pun mulai turun mendekat ke curug. Arus airnya saat itu sangat deras, mungkin karena belakangan Jonggol dan sekitarnya diguyur hujan. Tapi entah karena hujan atau emang dasarnya begitu, air curugnya cenderung berwarna kecoklatan, bukan jernih. Ony pun nyebur menikmati dinginnya air curug, sementara gue enggan. Ngga beberapa lama kemudian, langit mendung lagi, rintik hujan mulai menetes, dan kabut mulai muncul lagi dan bikin langit gelap dalam sekejap, padahal saat itu hampir tengah hari. 


Gue dan Ony pun meninggalkan lokasi curug, dan kembali ke Rumah Pohon. Di situ gue sempat berteduh beberapa saat. Lalu sang hujan dan sahabat karibnya, kabut, mulai bersembunyi lagi....dan langit pun cerah kembali. Horeee....! Gue dan Ony tetap di Rumah Pohon. Di situ gue lihat beberapa pengunjung baru mulai berdatangan. Bagus deh...the more the merrier....Kalau terlalu sepi, makin terasa horor kawasan ini. Biasanya yang datang akan langsung menuju curug, dan sekedar lewat di Rumah Pohon. Jadi gue dan Ony betah berlama - lama di situ. Lagian, pemandangan dari sini terlihat jauh lebih memukau sih.

Beberapa saat kemudian, lagi-lagi duo hujan dan kabut muncul. Langit pun segera gelap, berasa kayak udah jam 6 sore lebih. Gue dan Ony pun memutuskan untuk meninggalkan lokasi, ditemani oleh rintik hujan. Ketika tiba di loket masuk tadi, karena hujan terlalu deras dan kabut sangat amat tebal, gue berhenti sejenak di situ. Ngga ada gunanya melanjutkan perjalanan, gue khawatir kabut tebal akan mengganggu perjalanan nanti. Mengingat jalan yang harus gue dan Ony lalui berupa tanjakan atau turunan yang agak curam, jalan yang tidak rata, dan jurang di sebelah kiri jalan (arah pulang), kayaknya memaksakan diri melanjutkan perjalanan ngga ada gunanya.

Setelah menunggu, menunggu dan menunggu.....hujan dan kabut kembali pergi. Senangnya! Gue dan Ony langsung meninggalkan WWCC, menyongsong perjalanan panjang lagi untuk keluar dari kawasan Gunung Batu, dilanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.

Sunday, May 13, 2018

Trip Gunung Batu : Awalnya Ragu Berakhir Seru

 

Sabtu, 12 Mei 2018.

Gue ama Ony emang udah merencanakan beberapa hari sebelumnya, weekend kali ini pengen ke Jonggol. Pokoknya keluar dari Jakarta, selain ke Bogor karena ngebayangin keluar masuk stasiun Bogor yang rutenya dibikin jauh dan muter-muter, udah males duluan. Minggu lalu, berhubung pengen nonton Infinity War dan kebagian tiket nonton di sore hari, gue berdua bisa dibilang menghabiskan waktu nyaris seharian di mall. Jadi weekend ini waktunya untuk sedikit berpetualang.

Gue tuh punya list panjang tempat - tempat piknik yang pengen gue datangin di Jonggol. Masalahnya, Jonggol tuh jauh banget...musti lewatin Cibubur, Cikeas, Mekarsari....Macet, gersang dan berdebu, dan harus rebutan jalan dengan bis - bis juga truk - truk besar. Udah gitu, belakangan kayaknya fisik gue terlalu dimanjakan karena makin jarang piknik - piknik outdoor. Jadilah gue semakin malas...dan malas...dan malas....untuk piknik yang menguras tenaga, berkeringat, panas-panasan...Parah nih!

Gue dan Ony berangkat ke Jonggol tanpa tahu tujuannya mau kemana. Yang penting keluar dari rumah pagi - pagi biar ngga kebablasan bermalas - malas di kasur atau depan TV sampai siang. Setelah beberapa lama bermotor di Jalan Raya Jonggol, trus liat plang jalan "Puncak Gunung Batu 2..." arah ke kanan, langsung kita putar balik. Gunung Batu....dari jaman pacaran, pertama kali menginjakkan roda motor ke daerah bernama 'Jonggol' karena pengen trekking ke Gunung Batu ini. Tapi waktu itu salah perencanaan, karena baru berangkat dari rumah siang bolong. Jadi begitu di Jonggol, sekitar jam 4 sorean, nyari - nyari lokasinya dan gak ketemu, tiap kali nanya orang jawabannya, 'masih jauhhhh....!" Akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Saat itu lagi marak pemberitaan mengenai kejahatan begal, dan kita berdua ngga mau ambil resiko, dengan melakukan perjalanan di kawasan ini saat sore sampai malam hari.

Dari jalan raya Jonggol ke pintu masuk Gunung Batu, jarak dan waktu tempuhnya cukup jauh dan lama. Mungkin sekitar 30 - 45 menit perjalanan. Rasanya kayak perjalanan menuju Gunung Salak gitu, karena kiri - kanan jalan terhampar sawah - sawah nan hijau, trus udaranya mulai sejuk. Bedanya, jalannya cenderung berkelok - kelok dan lebih sepi pemukiman penduduk. Trus liat kiri - kanan ngga ada tiang lampu. Fix...! Kalo begini pas malam pasti gelap gulita.

Tiba di area pintu masuk dan area parkir Gunung Batu, cuma ada seorang bapak yang dan beberapa motor plat B yang ada di sana. Ternyata kalau mau trekking ke puncak Gunung Batu gak ada guide atau ranger yang akan mendampingi. Jadi teringat waktu ke Bukit Galau yang ada di Ciampea, ada Usep, ranger berdedikasi tinggi, yang awalnya cuma mau nemenin sampai Pos 1, akhirnya nemenin sampai ke Puncak. 

Gue dan Ony pun mulai melangkah....entah kemana. Si bapak tadi cuma bilang, lurus, nanti ada pertigaan, ke kanan. Gue dan Ony menyusuri jalan berbatu, dan setelah beberapa saat menemui pertigaan yang kali ini dipenuhi dengan pepohonan jati (kali, nebak doang). Kebetulan ada sebuah batu gede pas di pertigaan, yang dicat dengan tulisan "200 meter" trus ada tanda panah ke kanan. Setelah mengambil arah kanan, petunjuk berikutnya adalah batu - batu yang dicat merah dengan tanda panah 'lurus', setiap 2 meter. Petunjuk alakadar ini mengantarkan gue dan Ony ke pintu masuk Gunung Batu. Di situ kita harus membayar Rp. 15,000 per orang. 


Perjalanan menjelajah Gunung Batu pun dimulai. Setelah trekking beberapa saat, gue dan Ony tiba di area camping, sebuah area dengan tanah datar, berumput dan terlindungi oleh pepohonan lebat. Gue berhenti di situ untuk istirahat. Gila....baru trekking menuju area ini aja gue udah kelelahan ! Entah kemana hilangnya stamina dan semangat yang selama ini menyertai kaki panjang gue melangkah ke sana kemari. 

Di situ ada beberapa pengunjung yang sedang berkemah dan asyik menikmati waktu sekitar tenda masing - masing. Ada juga group remaja atau muda - mudi yang menggelar terpal dan menikmati keindahan Jonggol dan ketinggian. Kelar kedua mata gue menyapu pemandangan di sekitar, mata gue tertuju pada puncak Gunung Batu. Di sanalah gue lihat beberapa orang tampak sangat kecil sedang berusaha mencapai puncak gunung menggunakan tambang. Woww...segitunya banget ?? Gue ngga bakal sanggup !! Gue berteriak kencang - kencang....tapi cuma dalam hati doang. Masih gengsi.

Jalur menuju puncaknya terjal banget ! Udah gitu, gak kebayang panasnya di atas sana. Gue bukannya khawatir masalah kulit jadi gosong, tapi panas ya panas. Kepanasan bisa menyedot setengah dari stok energi dan mood gue kayaknya. Pokoknya gue ngga mau ke sana! Gue mo tiduran aja di rumput sambil menikmati Chitato Rasa Sapi Panggang, satu - satunya bekal yang gue beli dalam perjalanan tadi. 

Group muda - mudi yang tadi gue temui satu per satu mulai mengambil langkah menuju puncak gunung. Gue cuma memandangi dari kejauhan. Saking terjalnya rutenya, gue bisa dengan mudah melihat keberadaan mereka dari posisi gue duduk sekarang. Awalnya tekad gue udah bulat untuk tidak naik ke puncak. Tapi Ony berusaha keras untuk memotivasi gue. Dicoba dulu, kalo ngga kuat turun lagi, gitu katanya. Okelah, kita lihat nanti. Dalam 10 langkah pertama gue akan mengkonfirmasi kegagalan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagian yang bikin gue semakin yakin untuk ngga trekking ke puncak, karena saat itu persediaan air minum gue habis total. Cuma sisa setengah botol air mineral punya Ony. 

Gue pun memulai langkah dengan seribu keraguan, dan herannya bisa tiba sebuah pohon rindang yang pas buat berteduh sementara. Di sini gue berpapasan dengan group muda - mudi yang tadi gue liat di area camping, dan sempat ngobrol sebentar. Kita pun melanjutkan langkah masing - masing, mereka hendak turun pulang, sementara gue dan Ony lanjut ke puncak. 

Beberapa saat setelahnya, kita ketemu lagi sama group lainnya yang juga hendak turun. Wajahnya pada merah sekaligus gosong semua. Dan dengan nafas terengah - engah mereka sempat berpesan, "Hati-hati....terjal banget..." Duuuh...gue jadi pengen ikutan turun juga nih ! Tapi demi Ony yang ngga ada berhentinya ngasih keyakinan kalo gue akan sanggup sampai ke puncak, akhirnya keinginan itu gue simpan dalam - dalam. Dengan turunnya group yang terakhir itu, artinya hanya gue dan Ony yang berada dalam perjalanan menuju puncak Gunung Batu. Kok gue semakin merasa takut dan ragu ya ? Kalau terjadi apa - apa, gimana dong....siapa yang akan bantu gue berdua ? 

Medan terjalnya benar-benar menantang. Tapi ada beberapa titik yang menantang dan sulitnya tuh berlipat - lipat kali. Ada jalur berupa bebatuan besar yang berdiri tegak lurus, yang harus gue lalui dengan menggunakan tambang. Selain gue penakut akan ketinggian, rasa takut juga muncul karena semakin ke puncak lebar jalurnya semakin sempit. Kalau ngga hati - hati, sampai kepleset atau terjatuh,......ah, ngeri gue ngebayanginnya! Di sini, gue kehabisan akal cara memanjat dengan menggunakan tali, dengan aman. Gue udah berusaha beberapa kali, tapi gagal. Awalnya Ony di bawah supaya bisa dorong badan gue yang tambun ini, gagal.....Lalu Ony naik duluan, supaya bisa narik gue dari atas....gagal juga. 'The power of fear' moment kalo begini...Pikiran gue sudah dikuasai oleh ketakutan dan kewaspadaan yang luar biasa, sampai - sampai gue putus asa di titik keberanian nol. Pelan - pelan gue coba lagi, dengan Ony siap siaga menarik tangan gue. Dan akhirnya gue berhasil naik ! Makasih Yesus !! 

Tantangannya ngga berhenti sampai di situ, masih ada beberapa titik terjal yang harus gue lalui sebelum tiba di puncaknya. Dan akhirnya, gue dan Ony sampai di puncak Gunung Batu ! Wowww !! Rasanya menakjubkan banget ! Kerennya lagi, cuma ada gue dan Ony di atas puncak tersebut. Kosong....cuma ada dua tiang dengan bendera merah putih, dan ilalang - ilalang tinggi di sana sini. Dari atas sini, pemandangan Jonggol terhampar luas. Tapi dalam hati gue bukan hanya sedang menikmati keindahan alam sekitar, tapi keindahan perjuangan gue melawan lelah, takut, dan rasa tidak percaya diri tadi ketika berusaha menuju puncak ini. Gue memulai langkah dengan dengan segudang keraguan dan secuil keyakinan doang, dan yang secuil itu pun segera lenyap setelah beberapa langkah di awal.

Tapi Yesus dengan baik dan ajaibnya memampukan gue untuk bisa lanjut melangkah, dengan ngasih kekuatan melalui fisik yang jauh dari bugar ini, dan yang terbesar melalui Ony yang ngga lelah memberikan keyakinan kalo gue akan sanggup menyelesaikan perjalanan.
 

Begitu hendak meninggalkan puncak, gue dan Ony bertemu pasangan trekker, salah satunya bernama Gerry. Gerry kebetulan minta difotoin, jadi karena posisi gue dan dia berjauhan, begini kesepakatannya. Gue akan foto dia dan temannya, begitu juga sebaliknya, cukup dari posisi berdiri masing - masing, setelah itu kita akan bertukar foto via WA. Ketika hendak bersiap turun meninggalkan puncak dan berpapasan, gue sempat bertukaran nomor HP. Setelah itu gue dan Ony melanjutkan perjuangan turun, dengan sisa - sisa tenaga yang seadanya, dan gawatnya....persediaan minum nol ! 

Dengan tenggorokan super kering dan langkah yang sangat pelan akibat kehausan dan kepanasan maksimal, gue dan Ony tiba di titik awal lagi. Makasih Yesus buat perjalanan super seru hari ini.

Niat awalnya abis dari Gunung Batu pengen lanjut hunting curug di sekitar sini. Tapi batal. Selain karena kaki dan tangan udah pegal kronis, juga biar bisa menikmati curug dengan lebih santai. Gue dan Ony akan ke Jonggol lagi dalam waktu dekat untuk menikmati keindahan curug-curug di sini.

Sampai jumpa, Jonggol !

Wednesday, December 27, 2017

Bertamu Ke Rumah Rusa Cariu


Sabtu, 16 Desember 2017.

Akhirnya keinginan gue buat ke lokasi penangkaran rusa di Cariu, Bogor, terwujud. Yesss ! Udah lama pengen ke sana, tapi berhubung jauhnya bukan main, jadi nyerah duluan. Gue bisa membayangkan jauhnya, karena sebelumnya gue ama Ony pernah berusaha mencapai lokasinya, tapi cuma sanggup sampai Jonggol. Jadi kalau bermotor, rute (yang gue tahu) yang harus ditempuh adalah melalui Cibubur - Cileungsi - Mekarsari - Jonggol - Cariu....Cariu tuh udah deket banget sama Cianjur. Jelas khan jauhnya ? 'Touring' bermotor ke sana pasti bakal seru sekaligus melelahkan banget. Tapi rasa penasaran gue ngga akan hilang kalau belum menginjakkan kaki di sana dan bertemu para rusa penghuninya. 

Gue memang senang ke tempat - tempat piknik di mana gue bisa leluasa bertemu dan berinteraksi dengan satwa. Terlebih di saat lagi suntuk dan 'bosan' dengan rutinitas hidup sehari - hari, dimana gue bertemu berbagai manusia dengan sejuta karakter dari yang baik, tulus, nyebelin, fake, dan lain sebagainya. Gue butuh bertemu dengan teman - teman satwa untuk sekedar break dari suntuk dan stres yang harus gue rasakan setiap hari. Dengan tekad bulat kabur dari hingar bingar Jakarta, melepas penat pikiran, dan berkenalan dengan warga rusa di negeri Cariu, gue pun mantap berangkat.

Perjalanannya tuh ngga mudah....dan yang jelas, jauhhhh !! Dahsyat banget jauhnya...mungkin sebenarnya terlalu jauh untuk dijalanin pake motor. Apalagi untuk orang seusia gue yang udah bukan ABG lagi.....tssahhhh! Tantangan lainnya juga karena gue dan Ony ngga tahu lokasinya dimana, trus di beberapa titik jalannya ngga mulus. Setiap kali menepi untuk nanya arah ke orang - orang sekitar, dijawabnya, "Ohhhh....paling 5 km lagi..." Prasaan sampe nanya ke beberapa orang di lokasi berbeda, jawabannya sama. Thanks God, setelah hampir 3 jam, akhirnya sampe di lokasi dengan selamat tanpa kesasar. Oya, sebenarnya gue menikmati perjalanan tanpa ujung menuju Cariu sih, karena mulai dari Jonggol, gue bisa menikmati pemandangan alami dan indah berupa pengunungan serta area sawah nan hijau. Segar di mata !

Tiba di lokasi Penangkaran Rusa Cariu, gue membayar Rp. 25,000 untuk tiket masuk 2 orang dan parkir motor. Setelah membayar, gue pun melesat ke lokasi penangkaran rusa, dengan melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari anyaman bambu (kalo ngga salah). Sebenarnya area penangkaran tuh luas banget. Dan selain lokasi penangkaran rusanya itu sendiri, banyak spot-spot keren lainnya yang bisa dinikmati untuk sekedar duduk santai di bawah rindangnya pepohonan yang teduh disuguhi pemandangan sungai dengan volume airnya yang saat itu lumayan deras. Buat yang nyari tempat untuk refreshing yang tenang dan alami, di sini pas banget.

 
 

Tiba di lokasi penangkaran rusa gue disambut oleh 2 ekor rusa. Sepertinya rusa-rusa di sini sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, dan mungkin terbiasa untuk 'meminta' makan dari pengunjung. Jadi kebanyakan rusa - rusa ini akan mendekat dan 'menyerbu' pengunjung berharap akan mendapatkan asupan makanan langsung dari tangan pengunjung. Buat pengunjung yang hendak memberi makan, kebetulan di dekat situ ada seorang ibu yang menjual ubi sebagai makanan rusa. Mahal sih, Rp. 10,000 per bungkusnya. Sebenarnya dari rumah gue sudah menyiapkan 1 kg wortel kecil untuk diberikan ke rusa - rusa ini. Tapi akhirnya gue membeli juga 2 bungkus dagangannya si ibu, sebagai bentuk dukungan gue bagi usaha mikro dan kemajuan perekonomian Cariu... *apa sih...*

 


Dan...gue pun langsung turun dari gazebo yang disediakan di sana, dan memuaskan diri untuk 'berkenalan' dan bermain - main dengan rusa - rusa penghuni penangkaran. Saat itu ngga banyak rusa yang 'keluar' dari hutan dan menyambut pengunjung. Cuma ada sekitar 6 - 7 rusa. Asyiknya, pengunjung yang datang juga gak banyak. Sayangnya, hampir sepanjang kunjungan gue di sana disertai dengan turunnya hujan. Jadi ngga bisa leluasa bermain - main dengan satwa bertanduk ini.  Kalau hujannya tinggal rintik - rintik, gue akan meninggalkan gazebo lagi dan bermain dengan para rusa lagi. Kalau hujannya mendadak lebat, gue naik dan berteduh di gazebo. Begitu terus.....Gue dan Ony adalah pengunjung terlama di situ. Kalau pengunjung lainnya cuma turun, kasih makan, berfoto, trus pulang, kalau gue betah berjam-jam di sana. Kepikiran pulang cuma karena inget perjalanan panjang yang harus ditempuh. 

 

Walaupun belum puas dan menyimpan keinginan untuk melihat hutan lebih ke dalam demi melihat kawanan rusa yang lebih banyak, dengan langkah berat, gue pun meninggalkan Penangkaran Rusa Cariu. Kali ini perjalanannya lebih seru lagi, karena nonstop disertai hujan. Berhubung gue terlanjur terpesona dengan keindahan Cariu, gue pun memantapkan niat untuk ke sini lagi kapan - kapan, dan melanjutkan perjalanan sampai Cianjur. Yeayyy !!