I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, December 16, 2009

13 Desember 2009 : De Tham dan Bui Vien

Sepulang dari Mekong tur, rencananya ngga akan berlama - lama tinggal di My Home, karena pengen keluyuran di jalan De Tham dan Bui Vien. Kayaknya jalan ini menarik dijelajahi di waktu malam. Sebagai sentra kawasan backpacker, kedua jalan ini akan semakin ramai di malam hari, dengan turis - turis dari berbagai negara yang melintasi jalan, atau duduk santai di cafe dan restoran yang berjajar di sepanjang jalan, ato mungkin asyik melihat - lihat souvenir shop yang ngga kalah banyak berserakan di sepanjang kedua jalan ini. Ngga hanya itu, pedagang kaki lima yang beragam pun ikut nimbrung bikin kawasan ini semakin ramai dan hingar bingar. Seru nih.

Rika dan gue pun pengen liat toko - toko di sepanjang jalan ini. Sapa tau ada yang murah meriah yang bisa dibawa sebagai oleh - oleh ke Jakarta. Untuk gue pribadi, kayaknya sih ngga terlalu ngotot, karena pundi - pundi semakin menipis di hari kedua ini. Saking kuatnya tekad berbackpacker gue, gue emang sengaja cuma bawa duit 62 dollar. Khan shopping dan oleh - oleh ngga ada dalam 'A must to do' list gue.

Tapi gue tetep menikmati acara explorasi jalan De Tham dan Bui Vien ini, biar gue bisa puas - puasin mata dan hati gue, yang sebenernya belum rela meninggalkan Ho Chi Minh City besok. Jadi, dengan tenaga yang tersisa dan kaki yang sebenernya udah mulai pegal, gue tetep semangat wara - wiri di jalan ini.


Tuesday, December 15, 2009

13 Desember 2009 : Cai Be & Vinh Long Tour

Hari ini bangun agak pagi, karena jam 07.45 pagi udah harus ada di SinhTourist buat ikutan Tur Mekong Delta : Cai Be & Vinh Long Tour seharian. Gue pilih Tur Mekong ini karena rasa penasaran dengan nama sungai yang terdengar sangat familiar dan identik dengan Vietnam. Sungai ini salah satu sungai terpanjang di dunia, dan melewati beberapa negara di Asia, antara lain Vietnam, Kamboja, Laos, dan lainnya.

Untuk tur kali ini, rombongan tur akan berkunjung ke propinsi Cai Be dan Vinh Long, di selatan Vietnam yang terkenal dengan kegiatan pasar terapungnya. Perjalanan ditempuh selama 3 jam, dengan bus AC yang nyaman. Tiba di daerah tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan dengan kapal motor menyusuri sungai yang siang itu masih cukup padat dengan kapal - kapal, yang tampak sibuk dengan kegiatan dagang segala barang - barang kebutuhan, terutama sayur dan buah. Penduduk di daerah ini ternyata menjadikan kapal itu bukan hanya sebagai tempat melakukan segala kegiatan ekonomi, melainkan juga tempat tinggal. Jadi, di dalam kapal - kapal yang ukurannya ngga terlalu besar itu, tinggallah keluarga (bahkan anjing peliharaan sekalipun), di mana mereka melakukan rutinitas hidup sehari - hari.

Kapal motor yang kami tumpangi pun merapat ke sebuah desa kecil. Di sini rombongan diajak untuk mengenal daerah Cai Be lebih dekat, dengan melihat kegiatan yang biasa dilakukan oleh penduduknya. Mulai dari peternakan lebah madu, proses pembuatan rice paper, rice pop, rice pop caramel, coconut candy, minuman beralkohol, dan lain sebagainya. Rombongan juga dikasih kesempatan melihat secara singkat gimana asal muasal obat kuat yang biasanya dikemas dalam botol kaca, dan didalamnya terdapat kalajengking, ular, dan kawan - kawannya itu, yang kayaknya udah jadi ciri khas Vietnam. Di setiap tempat perhentian, rombongan mendapat kesempatan untuk membeli souvenir khas Vietnam, termasuk produk makanan khas daerah setempat. Dan tentu saja, gue ngga berminat belanja. Stoples besar berisi air berwarna kekuningan lengkap dengan ular melingkar - lingkar yang gue liat di perhentian pertama, udah cukup melenyapkan nafsu makan dan ngemil gue.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kapal motor. Dan berhenti di sebuah lokasi semacam tempat peristirahatan dengan pohon - pohon rindang. Di sini rombongan bisa menikmati makan siang dengan menu khas Vietnam secara gratis (cukup bayar minum). Rombongan juga dikasih waktu berkeliling beberapa saat, sebelum akhirnya berkumpul di sebuah pondok untuk menikmati musik dan lagu - lagu Vietnam. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan dengan kapal motor.

Perhentian berikutnya adalah Vinh Long Market. Menurut tour guidenya, disini kita bisa membeli buah - buahan dengan harga lebih murah daripada di Ho Chi Minh. Benar sih, karena gue membeli 3 kg rambutan hanya dengan 10,000 dong. Bahkan lebih murah dari di Jakarta. Cuaca panas saat itu bikin gue pengen ngemil yang segar - segar.

Setelah 30 menit berkeliling Vinh Long Market, rombongan melanjutkan perjalanan pulang menuju Ho Chi Minh dengan menggunakan bus. Dalam perjalanan, bus melewati jembatan kabel My Thuan. Jembatan sepanjang 15 km ini dibangun atas kerja sama antara Vietnam dan Australia, dan dibuka mulai tahun 2000.

Ternyata bus berhenti lagi di Mekong Rest Stop. Lumayanlah...disini rombongan bisa istirahat sejenak sambil makan ato belanja souvenir. Tempatnya asri dan hijau. Tempat ini cukup bersejarah buat gembel traveler kayak gue, karena bulan Februari tahun ini pun Pangeran Naruhito dari Jepang juga menginjakkan kaki disini untuk menikmati lunch, sebagai bagian dari kunjungan dia ke Vietnam untuk memperingati hubungan diplomatik Vietnam - Jepang yang sudah berusia 35 tahun. Bedanya, kalo Pangeran Naruhito makan segala macam menu makanan khas Vietnam dan belanja souvenir Vietnam disini, kalo gue ngga sama sekali. Abis, harganya mahal - mahal sih.

Perjalanan lanjut lagi. Bus pun tiba di kantor SinhTourist sekitar jam 7 malam. Cape..tapi puas banget..

12 Desember 2009 : Ben Thanh Market

Berhubung udah sore, ngga banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu. Ini saat yang tepat buat jalan - jalan di sekitar Jalan De Tham, lalu liat - liat Ben Thanh market yang lumayan terkenal itu.

Untuk kesana, gue cukup jalan kaki dari Jalan De Tham. Menurut gue, Ben Thanh hanya pasar tradisional yang padat namun bersih dan rapi, yang kebanyakan menjual produk - produk untuk souvenir, pakaian, makanan, dan lain - lain. Ngga heran, yang banyak berjejal - jejal di dalamnya adalah para turis.

Selama gue bolak - balik berkeliling, gue ngga bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk dibeli. Kayaknya urusan belanja, dari yang tradisional sampai modern, Indonesia emang surga banget. Di Indonesia kayaknya siapapun bisa beli barang kualitas lumayan dengan harga murah. Di Ben Thanh ini, untuk pasar tradisional, harga yang dipasang lumayan mahal. Memang sih disini apapun bisa ditawar, dan kalo beruntung katanya kita bisa mendapatkan barang dengan harga sangat murah. Tapi masalahnya, gue ngga menemukan sesuatu yang menarik, yang bisa bikin gue ngiler untuk susah payah nawar - nawar harga. Lagian, gue khan punya aturan pribadi : backpacker won't go for shopping. Belanja bikin repot aja....bikin berat ransel gue.

Tapi disini gue menikmati lucunya proses komunikasi antara turis dengan pedagang lokal. Pas kita nanya "How much ?" si pedagang bakal ambil kalkulatornya dan menunjukkan harga barang tersebut dengan kalkulator itu, dalam dong tentunya. Buat yang belum lincah mengkonversi dong ke dollar lalu ke rupiah, kayak gue, bakal ambil tuh kalkulator dan itung - itung sendiri. Pas nawar, gue kasih angka dengan kalkulator itu dan menunjukkan ke pedagang. Begitu seterusnya, kalkulator bakal terus bolak - balik berpindah tangan sampai ada kesepakatan harga...atau...salah satu pihak udah benar - benar putus asa, dan transaksi jual - beli gagal terjadi.

Kalo untuk pedagang yang kurang 'modal' (baca : ngga punya kalkulator), caranya dengan mengeluarkan beberapa lembar duit. Kalo mau nawar, gue cabut lembaran duit dengan nominal tertentu yang ada di genggaman si pedagang, maksudnya biar harga dikurangin. Kadang proses sederhana yang jadi rumit ini bikin gue ketawa, tapi kadang bikin gue putus asa juga. Lama - lama kalo kalkulator dan duit ngga cukup representatif untuk proses tawar - menawar tanpa akhir itu, bahasa isyarat dadakan pun dipake. Dengan menggunakan jari tangan dan suara seadanya, untuk menunjukkan harga. Aduuhh...capenya. Untuk nawar seikat buah klengkeng aja gue bisa ampe keringetan dan nyaris pusing kepala segala.

12 Desember 2009 : SinhTourist

Setelah beres - beres barang dan mandi, gue dan Rika pun berniat nyari kantor Sinhtourist yang letaknya di De Tham Street, sangat dekat dengan My Home. Gue udah beberapa kali email - emailan dengan salah satu staffnya, Nguyen Helene, untuk reservasi paket tur selama 3 hari berturut - turut, tapi untungnya belum bikin pembayaran online. Gue dapat informasi mengenai SinhTourist ini dari milis Indonesian Backpacker, tepatnya setelah baca emailnya Daniel si petualang yang gue temuin di Penang bulan Agustus yang lalu. Sekarang gue mau kesana untuk cek status booking gue dan liat - liat sapa tau schedule gue memungkinkan untuk diutak atik, mengingat gue udah kehilangan 1 hari di kota ini. But I don't wanna miss a thing...

Ternyata ngga ada yang bisa diutak - atik dari schedule gue. Besok gue akan ikut 1 day Mekong Delta Tour (Cai Be Vinh Long) dan hari berikutnya Half day Cu Chi Tunnel. Sebenernya di hari kedua gue pengen modifikasi dengan ikutan tur tambahan : half day Ho Chi Minh tour, tapi waktu ngga memungkinkan kayaknya. Karena tour akan berakhir jam 6 sore, sementara flight gue balik ke Jakarta jam 20.35. Gue pun menyelesaikan urusan pembayaran tour untuk kedua hari tersebut. Mekong Tour harganya 12 dollar, sementara Cu Chi Tunnel 5 dollar.

Kelar urusan pembayaran, gue dan Rika pun melanjutkan tur senja kita ke Ben Thanh Market.

12 Desember 2009 : My Home Guest House

Setelah melewati check point di imigrasi bandara Tan Son Nhat International Airport, gue dan Rika langsung ke money changer yang ada di area bandara, buat nukar mata uang Dollar yang kita bawa dari Jakarta menjadi Dong Vietnam. Saat itu dikasih rate lumayan bagus : 18,460 per Dollar.

Keluar dari bandara udah diserbu sama para sopir taxi, sopir ojek dan sejenisnya. Ada salah satu sopir taxi yang ngotot banget ngebujuknya. Ngga galak sih, malah bikin gue ngga tega gitu. Udah gitu dia ngasih harga tinggi banget. Dan gue cuma bisa bilang "I'll just take that bus, coz I only have to pay 2,000 dong", sambil nunjuk ke arah bus No. 152 yang udah nangkring di dekat pintu keluar. Tadi gue udah nanya soal ongkos bus itu ke staf money changer. Sopir taxi yang keliatan udah cape banget itu akhirnya nurunin harga, masih dengan ekspresi wajah memelasnya yang bikin iba. Harga masih ngga sesuai harapan gue, dengan belagak yakin gue menuju ke bus No. 152. Akhirnya dia bilang, "Okay, 4 dollar per person". "No way...3 dollar per person", jawab gue.

Tiba - tiba ada cowo perawakan Asia mendatangi sopir taxi. Gue ngga ngerti dia ngomong apa, tapi gue yakin dia penumpang taxi yang sama, hanya saja karena udah kelamaan nunggu tuh taxi ngga jalan - jalan dia secara halus ngancam bakal cari taxi lain. Akhirnya Pak Sopir setuju harga gue. Jadilah gue, Rika dan cowo sipit itu di dalam taxi yang sama. Cowo itu turun di Ben Thanh market, sementara gue masih lanjut.

Tiba di Phan Lan Hotel, gue langsung disambut sama Van, staf hotel, yang nerima email reservasi gue. Dia tampak ragu dan bengong ngga jelas ngeliat kedatangan gue. Begitu gue kasih liat email gue ke dia, dia malah garuk - garuk kepala kayak orang bego. Gue jadi bingung. Gue jelasin, gue ngga bisa check in kemarin karena ketinggalan pesawat (males banget deh harus ngebahas soal itu lagi).

Van bilang, kemarin dia dimarahin sama bosnya, karena dia nyisain 1 kamar buat gue, tapi ternyata gue ngga nongol. Masih menurut cerita Van, bosnya nyuruh dia bayar 16 dollar karena itu. Gue ngga ngerti apa point dari curahan hatinya Van itu, dan gue minta kepastian Van ada atau tidak kamar tersisa buat gue (kalo ngga ada, gue juga bisa cari kamar di tempat lain). Gerak - gerik Van makin bikin dongkol. Dengan ragu - ragu dia bilang udah full. Gue minta tolong dia kasih rekomendasi, tempat terdekat yang kira - kira masih ada kamar kosong. Van permisi naek ke ruangannya, sementara itu gue dan Rika menghibur diri dengan berfoto - foto ria di luar.

Unik banget kawasan itu, hampir semua rumah di sana dijadiin guest house, dan menyediakan kamar untuk disewain. Udah gitu bangunannya juga unik. Sempit, tapi tinggi menjulang ke atas. Rata - rata minimal 4 lantai.

Van bilang gue bisa dapat kamar disana, asal gue bayar dendanya 16 dollar. No way....I don't want to pay for nothing. Gue pun langsung meninggalkan Phan Lan. Di depan hotel, gue dijegat sama seorang bapak, namanya Mr. Hoang. Dia mau nawarin kamar di tempat lain. Karena udah cape dan ngga tahan dengan panasnya cuaca saat itu, gue ikut dia. Dia pun membawa gue ke My Home guesthouse, yang terletak di jalan yang sama. Gue disambut sama Thao dan tantenya, yang memiliki dan mengelola guesthouse itu. Setelah nego harga, akhirnya disepakati, 15 dollar per malam untuk kamar dengan 2 ranjang, TV, AC dan WC di dalam kamar. Tempatnya bersih dan nyaman banget, karena bangunannya pun masih baru. Sedikit masalah, kamar gue terletak di lantai 5. Jadi naek - turun tangganya serasa fitness.

Kasur gue yang sangat nyaman di My Home

Thao dan tantenya selain buka usaha penyewaan kamar di rumah mereka, juga menjual beras dan sarang burung walet

Abis check in, bersih - bersih, gue sama Rika pun siap - siap untuk ke Sinhtourist Cafe dan menyisir Ben Thanh market menjelang senja.