I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Thursday, October 13, 2011

08 Oktober 2011 : Dari Yogurt Ke Chili Crab

Selamat pagi, The Hive ! Selamat pagi kamar sempit !

Gue bangun dengan semangat. Choi masih asyik tidur. Di king size bed gue liat ada 1 tamu lagi. Ternyata semalem udah ada 3 perempuan yang menempati kamar ini. Bagus deh...the more the merrier !

Gue langsung mandi, dan setelah itu menyiapkan secangkir teh hangat. The Hive menyediakan sarapan gratis, tapi bukan di sini, melainkan di bangunan utama di Serangoon Road. Walaupun begitu, di hostel ini juga selalu tersedia berbagai minuman hangat kayak kopi teh atau sekedar air putih. Lumayan....

Pagi itu gue berangkat sarapan ke bangunan utama The Hive ditemani Choi. Walaupun agak susah berkomunikasi dengan Choi, tapi gue senang karena dia orangnya menyenangkan. Pagi ini gue sarapan dengan 4 lembar roti bakar gosong, favorit gue. Kelar sarapan, gue dan Choi kembali ke hostel. Choi cerita kalo tamu yang tidur di king bed namanya Cho, asal Korea Selatan juga. Nanti malam mereka berdua pengen ke restoran Jumbo di Clark Quay untuk nyobain hidangan Chili Crab, yang menurut Choi sangat fenomenal. Masa sih ? Sepanjang sejarah bekpekeran, hidangan fenomenal buat gue paling McDonald. Choi dan Cho ngajakin gue untuk ikutan ke Jumbo.

Gue sambut undangan mereka dengan girang. Pagi ini kami bertiga punya rencana masing - masing, gue ke Bugis, Pasir Ris dan Orchard, Choi ke Little India dan Cho ke Botanical Garden. Tapi kami janjian di hostel sekitar jam 6 sore untuk berangkat bareng ke Clark Quay.

Gue meninggalkan hostel duluan. Hari ini sebenarnya jadwal gue akan agak padat. Dimulai dengan ke Bugis Street. Di Boon Keng station gue sempat top up Ez - Link Card dulu. Dari Boon Keng gue naik MRT menuju Dhobi Ghaut intersection, dilanjut naik MRT jalur North South (NS) Line tujuan City Hall intersection. Dari City Hall gue naik lagi MRT jalur East West (EW) Line dan berhenti di Bugis Station. Di dekat station gue sempat masuk ke minimarket untuk beli strawberi segar dan susu kopi.

Di Bugis Street gue membeli beberapa kaos khas Singapura. Gue sempat mampir di kios aksesoris rambut, dan beli jepitan topi kecil berwarna merah. Untuk siapa ? Untuk Samudra, kuda latihan gue. Gue emang suka iseng kalo lagi latihan. Kadang gue suka kuncir - kuncir atau kepang poninya yang gondrong...Berhubung gue selalu pake topi merah pas latihan, maka gue beliin topi merah juga buat Samudra...topi solidaritas, ceritanya. Setelah itu gue sempat berkeliling lihat - lihat Bugis Junction. Walaupun ngga niat belanja di sini, tapi gue pengen menghabiskan waktu sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasir Ris.

Bosan di Bugis Junction, gue kembali ke Bugis Station. Gue melanjutkan perjalanan ke Pasir Ris. Ngapain kemari ? Gue pengen berkunjung ke rumah Zaiem. Zaiem adalah mantan siswa Singapore International School. Dia juga yang udah bikinin akun Facebook buat gue. Sekitar setahun yang lalu dia kembali ke negara asalnya, Singapura, dan melanjutkan sekolah di sini. Beberapa minggu sebelum berangkat ke Singapura gue udah janjian sama Zaiem untuk berkunjung ke rumahnya.

Zaiem udah membekali gue dengan alamat rumahnya, lengkap dengan peta lokasi. Tapi begitu gue tiba di Pasir Ris station, gue bingung harus berjalan ke arah mana. Gue tahu kalo gue harus mencari Pasir Ris Drive 3...tapi gue ngga ada lihat tanda - tanda jalan besar dengan nama itu. Gue berjalan terus menyusuri Pasir Ris Drive 1. Sampai tiba di Sunge Tampines, gue melihat peta yang ada di situ. Gue menyusuri jalan sepanjang pinggir Sunge Tampines, dan bertemu dengan 2 orang petugas berseragam. Gue nanya arah menuju Pasir Ris Drive 3. Menurut mereka gue salah ambil arah tadi sejak dari station. Seharusnya gue mengambil arah sebaliknya. Mereka menyarankan gue beberapa altenatif menuju alamat yang gue cari. Gue bertekad untuk tetap jalan kaki...walaupun kaki gue udah terlalu cape dan mulai lecet.

Bagi gue, cara terbaik untuk mempelajari jalan - jalan yang baru gue lalui adalah dengan jalan kaki, selama gue emang masih sanggup dan kuat. Salah satu manfaat gue rajin jalan kaki ke kantor khan supaya gue punya daya tahan untuk berjalan kaki jarak jauh...manfaat lainnya ? Bikin betis bengkak...dan kulit hitam legam serta dekil. Tapi kali ini emang rasanya lebih berat dibandingkan program Walk to Work gue sehari - hari, karena cuaca amat sangat panas. Pasir Ris sebenarnya tempat yang nyaman buat berjalan kaki. Sepi, tenang dan hijau. Hebatnya lagi, kayaknya kebanyakan warga di sini lebih memilih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi...jadi di mana - mana banyak lahan parkir sepeda.

Akhirnya gue tiba di rumah Zaiem. Sayangnya, asisten rumah tangga keluarga Zaiem bilang kalo dia dirawat di rumah sakit mulai malam sebelumnya. Sedih. Bukan karena merasa sia - sia perjalanan panjang gue, tapi sedih karena tahu kalo Zaiem lagi sakit, bahkan sampai dirawat di rumah sakit. Gue sempat bermaksud membesuk Zaiem di rumah sakit tempat dia dirawat, sayangnya gue ngga tahu bagaimana caranya kesana.

Di halte bus gue sempat bertanya seorang calon penumpang, dan dia bilang rumah sakitnya masih jauh dari situ. Andaikan gue bisa menemukan fasilitas intenet saat ini, pasti gue akan langsung cari informasinya sendiri. Tapi ngga ada...dan daerah ini sepi amat, jadi ngga banyak orang yang gue tanyain. Selain itu gue juga ragu, apakah kunjungan gue nanti akan diijinkan oleh pihak rumah sakit. Gue khan ngga tahu kebijakan rumah sakit di sini, terlebih rumah sakit khusus anak - anak.

Akhirnya gue membatalkan niat untuk ke rumah sakit. Butuh beberapa saat buat gue bisa menerima keputusan sendiri. Ada kalanya bukan hasil akhirnya yang penting, tapi bagaimana proses gue berusaha mencapai sesuatu. Yang terpenting, gue sudah mewujudkan niat dan janji untuk berkunjung ke rumah Zaiem....walaupun ngga gampang... jauh...melelahkan...kesasar kemana - mana dulu...

Gue naik bus untuk kembali ke Pasir Ris station. Sebelum ke MRT stationnya gue mampir ke White Sand Shopping Center. Sekonyong - konyong gue bangkit dari rasa lelah bercampur sedih (karena gagal ketemu Zaiem), begitu ngeliat counter yogurt yang ramai pengunjung. Ternyata lagi ada acara bagai - bagi yogurt gratis. Gue, yang semangat luar biasa tiap kali tahu ada sesuatu yang gratisan, langsung mendekat dan ikutan antri. Akhirnya yogurt gratisan pun berhasil gue dapatkan. Lumayan...

Dari Pasir Ris station gue naik MRT sampai ke City Hall intersection. Dari City Hall dilanjut naik MRT arah North South (NS) Line dan turun di Orchard Station. Di Orchard, selain berniat untuk cari toko coklat kesukaan, gue juga berkeliling, keluar masuk mall yang berserakan di sini. Sekitar jam 4 sore gue mengambil langkah kembali ke The Hive.

Gue ada janji jam 6 sore sama Choi dan Cho untuk ke Clark Quay. Tapi berhubung rasa cape yang gue rasa udah seluas samudra, gue berharap sempat istirahat sejenak di kamar hostel nanti.

Tiba di The Hive gue langsung mandi, bikin teh, internetan ria, dan merebahkan badan di ranjang. Sayangnya gue ngerasa kurang nyaman, karena jam segini AC kamar masih dimatikan...jadi agak gerah. Sekitar jam 5 sore Choi datang, dan membawakan gue sekaleng Coca Cola dingin. Mantap.

Jam 6.30 sore gue dan Choi berangkat menuju Boon Keng Station. Rencananya kami berdua akan ketemu Cho di Clark Quay station.

Jam 7 malam, akhirnya gue, Choi dan Cho ketemu bertiga dan langsung menuju Jumbo restaurant, siap menyantap Chili Crab yang fenomenal. Sayangnya, kami ngga bisa langsung mendapatkan meja. Resepsionis bilang, kami mendapatkan giliran makan di Jumbo jam 10 malam !! Ternyata reservasi bisa dilakukan dengan menelepon terlebih dahulu...hal ini baru kami tahu belakangan, begitu ngebaca - baca lagi buku panduan wisata Singapuranya Choi !

Gue, Choi dan Cho pun bermaksud menghabiskan waktu menunggu di Marina Bay. Dari Clark Quay kami naik taksi sampai Marina Bay, dengan membayar ongkos sekitar SGD 6. Di Marina Bay, tepatnya di dekat patung Merlion, gue bertiga asyik ngobrol. Lucu juga. Walaupun bahasa selalu menjadi kendala, tapi ngga mengurangi keseruan obrolan 3 solo traveler ini. Terkadang mendadak mereka berdua ngobrol dalam bahasa Korea, "meninggalkan" gue yang cuma manggut - manggut karena ngga ngerti sama sekali. Gue serasa lagi nonton serial Korea di TV...walaupun gue bukan salah satu penggemarnya. Dengan susah payah, kami bertiga saling share soal urusan pribadi, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, dan segala macam impian masing - masing. Pokoknya gue sangat menikmati menghabiskan malam dengan kedua teman baru gue ini....kami bertiga sama - sama cewe yang senang berpetualang...seorang diri...mungkin ada kesamaan di antara kami yang bikin pertemanan cepat terjalin dalam waktu singkat.

Jam 9.30 malam, gue Choi dan Cho naek taksi untuk kembali ke Jumbo, Clark Quai. Di Jumbo, karena sudah lapar maksimal, kami langsung memesan Chili Crab. Berhubung harganya mahal, SGD 40 per kilogram, jadi kami hanya memesan 1 kilogram. Ternyata kekhawatiran soal mahalnya harga makanan di Jumbo, bukan cuma gue yang rasain, mereka juga. Jadi kami memesan menu berikutnya dengan ekstra hati - hati. Begitu Chili Crab dihidangkan di meja, gue bertiga langsung sigap menyerbu. Enak. Berikutnya datang pesanan sayur kangkung...trus udang goreng. Semua hidangan yang tersaji, dilahap habis ! Choi dan Cho fokus sama Chili Crab, sementara tugas gue menghabiskan kangkung dan udang. Begitu makanan habis tak tersisa, waktunya menyelesaikan urusan pembayaran. Total SGD 86. Astaga....gue bertiga kaget bukan main dan membuka dompet masing - masing dengan perasaan berat dan ngga percaya. Masing - masing kena SGD 30, sekaligus ongkos taksi pulang ke The Hive.

Dengan perut penuh dan dompet kosong, gue, Choi dan Cho pulang ke The Hive. Di hostel, setelah mandi gue ke ruang nonton, Choi menyusul. Cho langsung terlelap di King size bed yang super nyaman. Jam 12 lewat, gue masuk ke kamar. Ini malam terakhir gue tidur di The Hive. Seperti biasa, sebelum tidur gue akan membaca novel, kali ini gue bawa Pride and Prejudice. Bosan membaca, waktunya membiarkan pikiran gue menerawang. Semua hal yang gue lakukan hari ini seru dan menarik banget. Apalagi perjalanan ke Pasir Ris yang berbuah semangkuk yogurt gratisan.

Tiba - tiba mata gue tertuju ke kaos hitam yang gue gantung di pinggir ranjang, tepat di hadapan gue sekarang. Ini kaos kebanggaan. Udah 2 hari gue pake kaos itu, mulai dari Jakarta ! Kemarin ke Singapore Turf Club pun pake itu...trus tadi city tour pun pake itu juga. Kaos ini sudah mengalami banyak fase dalam 2 hari ini...fase dijemur sinar matahari yang menyengat...trus basah karena keringat gue yang membanjir...trus kering lagi ditiup angin....Kalo Mama tahu pasti dia ngamuk - ngamuk karena menurut Mama tingkat kejorokan gue udah di level memprihatinkan. Dan kalo dia tahu riwayat kaos kebanggaan gue ini selama di Singapura, kaos gue pasti bakal langsung turun kasta, jadi kain pel di rumah.

Tapi ini adalah hal kecil yang pengen gue lakukan...sesuatu yang ngga pernah bisa gue lakukan di Jakarta...di kehidupan normal dan teratur gue. Sementara saat ini anggap aja gue lagi menjalani hidup abnormal...hidup suka - suka, semau gue. Gue pengen melakukan sesuatu yang gak penting, tapi bikin hati puas. Selamat malam, Singapura....selamat malam kaos dekil...!

Tuesday, October 11, 2011

07 October 2011 : Selamat Pagi, Singapura !

Belum genap 3 bulan yang lalu gue ninggalin zona nyaman, Singapura, dan sekarang gue kembali lagi. Kembali buat liburan singkat, dengan harapan bisa menyegarkan pikiran dan fisik gue yang penat dan cape sama rutinitas hidup di Jakarta.

Pagi ini gue terlambat bangun. Entah kenapa...semalam kayaknya gue udah masang alarm di handphone, dan pagi ini alarmnya ngga bunyi. Gue terbangun jam 4.30 pagi. Mungkin karena kecapean. Malam sebelumnya, banyak kerjaan kantor yang harus gue selesaikan, itu pun dengan terburu - buru karena gue udah ditunggu keluarga yang jemput ke kantor, untuk makan malam ulang taunnya Ibet. Pulang dari acara makan - makan di daerah BSD, gue baru sempat packing. Karena udah terlalu mengantuk, gue packing seadanya, dan berharap ngga ada barang penting yang ketinggalan.


Berhubung telat, gue ketinggalan bus Damri pagi. Jadilah gue naik taksi dari Pancoran sampai Soeta Airport. Di airport, berhubung belum siapin uang tunai, gue harus ke ATM dulu, lapor ke petugas check in AirAsia, trus ke Imigrasi. Jalur Imigrasinya panjang dan padat. Gue nunggu dengan agak khawatir. Setelah itu gue melesat ke ruang boarding, dan ngga lama kemudian, jam 7.20 pagi pesawat berangkat.


Tiba di Changi airport, Singapura, gue langsung nyari fasilitas internet. Gue harus ngirim email, pesan atau kalo bisa chatting dengan team gue di kantor. Saking terburu - burunya semalem, gue lupa ninggalin pesan - pesan buat mereka semalem. Selesai urusan kordinasi kerjaan, gue melangkah dengan ringan. Mula - mula, gue naik skytrain (gratis) menuju Terminal 2 Changi Airport. Tiba di Terminal 2 gue lanjut naek MRT dari Changi Station ke Tanah Merah Station. Gue turun di sini karena gue bermaksud mengunjungi Changi Chapel and Museum. Dari station gue naik bus SBS Transit No. 2 tujuan Upper Changi Road North. Sesuai petunjuk yang gue dapatkan, seharusnya gue berhenti tepat di Changi Museum Bus Stop. Tapi karena gue dan kapten busnya sama - sama ragu, kapten menurunkan gue di Women's Prison. Dari situ, gue harus jalan kaki dengan jarak lumayan menuju museum.

Tiba di museum, bangunan pertama yang gue lihat adalah Changi Chapel. Suasanya tenang dan sepi. Gue sempat duduk - duduk di sini...untuk istirahat sekaligus menikmati bangunan chapel yang sederhana, dipenuhi pohon rindang, dan bersih. Abis itu gue masuk ke dalam museum, yang isinya banyak menggambarkan suasana masa pendudukan Jepang di Singapura.

Abis dari Changi Chapel and Museum, gue pun menuju hostel. Dari Changi, perjalanan yang harus gue tempuh lumayan panjang dan memakan waktu. Mula - mula gue naik bus SBS Transit No. 2 menuju Tanah Merah MRT Station. Tiba di Tanah Merah gue liat peta MRT untuk cari alternatif menuju Boon Keng MRT Station. Ada beberapa pilihan sebenarnya, tapi akhirnya gue milih untuk naek MRT sampai intersection Outram Park. Abis itu disambung naek MRT arah North East Line (NE) menuju Boon Keng Station. Gue ambil rute ini, karena gue cuma perlu berhenti di satu intesection. Gue terlalu cape dan pegal untuk turun - naek MRT dan transit di beberapa intersection.

Tiba di pintu keluar Boon Keng, dari kejauhan gue langsung bisa melihat bangunan The Hive Backpacker Hostel yang warnanya khas, hitam dan kuning. Kaki gue yang super lelah pun berjalan cepat menuju target. Jalan cepat yang selalu dikritik Mama tiap pagi saat ngantarin gue ke gerbang rumah, siap berangkat ke kantor. Mama bilang, sebentar lagi dia udah ngga akan punya tenaga untuk menyusul langkah gue yang kelewat panjang dan cepat.

Di The Hive gue disambut Ricky dan temannya. Proses check in cepat, gue membayar SGD 22 untuk female dorm room dan menerima kunci. Asyik, ngga perlu ada deposit untuk kunci dan lain - lainnya segala. Ricky, dengan membawa kunci gue, malah mengajak ke luar hostel. Gue bingung. Di luar dia menjelaskan kalo gue tidak akan tinggal di bangunan utama itu, karena sedang full. Gue akan dapat ranjang di bangunan lain yang letaknya di Lavender Street. Gue bingung, tapi cuma bisa nurut dan ngikutin Ricky yang akan mengantar gue ke sana.

Di hostel itu suasana sepi dan gelap. Gelap karena jam segini waktunya hemat listrik dengan mematikan lampu dan AC. Ricky mengantar ke kamar gue, yang berbentuk memanjang. Kamarnya berisi 2 bunk bed, dan 1 king size bed. Gue satu - satunya orang di kamar ini...tepatnya di hostel ini. Belum ada tamu lainnya. Ricky menghibur gue dengan bilang kalo biasanya nanti malam akan ada tamu - tamu baru yang akan tinggal di hostel ini juga. Sebenarnya gue ngga kecewa atau sedih....cuma takjub. Baru kali ini gue tinggal di bangunan hostel, dimana ngga ada orang lain di situ, termasuk reception desk.

Begitu Ricky meninggalkan hostel, gue memilih untuk beristirahat dan mandi. Asyik benar rasanya sendirian begini....serasa di rumah sendiri. Ngga ada suara bising atau hingar - bingar...ngga ada antri...tenang...sepi...Benar - benar nikmat liburan gue kali ini.

Sekitar jam 4, gue bersiap - siap untuk berangkat menuju Kranji. Ada apa di sana ? Gue mau nonton pacuan kuda di Singapore Turf Club. Tapi hujan menahan langkah gue, padahal jadwal pacuan pertama jam 6.20 sore. Untungnya gue ngga perlu menunggu terlalu lama. Saat ujan tinggal rintik - rintik, gue langsung kabur menuju Boon Keng Station, untuk naik MRT menuju Dhobi Ghaut Intersection. Dari situ gue sambung naek MRT North South (NS) Line dan turun di Kranji. Perjalanan cukup lama, karena gue harus melewati sekitar 15 station, dari Dhobi Ghaut ke Kranji.

Tiba di Kranji, gue disambut hujan luar biasa lebat. Beruntunglah gue, karena bangunan Singapore Turf Club hampir menyatu dengan station, jadi gue ngga perlu melewati hujan.

Tiba di loket tiket, gue langsung bertanya ke petugasnya, apakah gue boleh beli tiket untuk Gold Card Room. Dari informasi yang gue baca di webnya Singapore Turf Club, untuk kelas ini, pengunjung diharuskan berpakaian formal dan tanpa jeans belel. Sebenarnya, karena emang udah niat dari Jakarta untuk nonton pacuan kuda, gue bawa 1 baju gaun simple. Tapi tadi di hostel gue mendadak males pake baju feminin, dan milih pake celana panjang jeans. Menurut petugas loket, baju gue cukup layak untuk masuk ke Gold Card Room, dan gue pun membeli tiketnya seharga SGD 15.

Dengan tiket di tangan, gue melangkah menuju pintu masuk dengan hati girang. Nonton pacuan kuda di sini emang udah jadi salah satu target gue sejak di Jakarta. Maklum, sejak berlatih kuda, gue menyimpan rasa penasaran untuk bisa nonton pacuan kuda secara langsung. Kalo ditarik mundur, awal gue penasaran berlatih kuda bermula sejak gue nonton film The Secretariat. Film berdasar kisah nyata tentang kuda pacu bernama Secretariat. Gue pengen merasakan langsung euforia pacuan kuda di sini. Walaupun ngga ada kuda atau jockey yang gue kenal.

Begitu masuk ke dalam, ruang yang gue masukin adalah
Public Grandstand Level 1. Ramai banget ternyata, sama pengunjung yang 99.99% laki - laki semua. Mereka datang untuk bertaruh. Riuh dan ramai suasana di sini. Gue pun naek eskalator menuju level 2. Gue harus melewati Public Grandstand lainnya, tapi dilengkapi AC, sebelum tiba di Gold Card Room.

Gold Card Room ngga terlalu penuh...tapi isinya masih sama, pengunjung yang hampir semuanya laki - laki yang sibuk mengatur taruhan masing - masing. Pacuan pertama ditunda selama 30 menit karena hujan. Gue mengisi waktu dengan makan malam. Di sini ada mini restoran yang menyediakan makanan variatif seharga SGD 4. Dengan harga segini, pengunjung boleh menikmati nasi dengan 3 menu berbeda, sesuai pilihan masing - masing.

Pacuan pun satu per satu dimulai. Sepanjang acara, gue takjub dengan mata terbelalak. Gue selalu kagum dengan nyali dan stamina jockey dalam mengendalikan kuda masing - masing, dengan kecepatan lari yang luar biasa cepat....dan posisi badan menungging pula !

Gue sempat turun lagi ke Public Grandstand Level 1. Kayaknya lebih nikmat nonton dari sini, karena tanpa batas kaca segala. Lagian gue mau liat kudanya secara langsung saat didisplay, sebelum pacuan dimulai. Tapi gue terlalu lama di sini. Selain karena padat dan gerah, karena ngga dilengkapi dengan AC, jumlah perempuan di sini kayaknya bisa dihitung pake jari. Itu pun bukan penonton, kayak gue, melainkan penjual makanan di area taruhan. Gue kembali ke Gold Card Room. Sayangnya gue ngga bisa tinggal di Singapore Turf Club sampai pacuan terakhir.

Jam 9 malam gue meninggalkan Gold Card Room. Gue harus pulang sekarang karena khawatir kehabisan MRT untuk pulang ke hostel. Gue pun naek MRT untuk kembali ke Boon Keng Station.

Gue tiba di hostel sekitar jam 10 malam lewat. Hostel masih tak berpenghuni, tapi lampu dan AC di ruang tamu udah dinyalain, walaupun tetap remang - remang.
Kelar mandi gue langsung berinternetan ria sambil menikmati secangkir teh hangat. Abis itu gue ke ruang nonton, dan saat itulah Ricky datang bersama seorang tamu perempuan. Horeee! Akhirnya malam ini gue ngga akan tidur sendirian di hostel itu. Choi nama tamu yang baru yang asal Korea Selatan itu. Dia tidur di kamar yang sama dengan gue, ranjang kami bersebelahan. Di kamar gue sempat ngobrol sama Choi, walaupun dengan kesulitan tingkat tinggi. Choi ngga gitu ngerti bahasa Inggris. Tapi ngga apa - apa, gue tetap senang karena akhirnya ada teman sekamar malam ini.

Selesai ngobrol sama Choi gue pun merebahkan badan gue di ranjang. Pikiran gue asyik menerawang mengingat pacuan kuda yang gue tonton hari ini. Andaikan gue bisa jadi jockey...tapi hampir mustahil kayaknya, dimulai dari masalah fisik. Gue terlalu gendut dan tinggi untuk jadi jockey kayaknya. Kata pelatih kuda gue, berat badan seorang jockey ngga boleh lebih dari 50 kg. Kapan berat badan gue pernah 50 kg ? Mungkin waktu gue SD ? atau SMP ? Belum lagi masalah nyali dan kemampuan berkuda yang dituntut dari seorang jockey. Gue ingat, setiap gue menunggang Samudra yang sedang berlari, dalam hati gue akan menjerit..."Mamaaaaaaaa!!!"

Friday, September 16, 2011

Selamat Tinggal, Kuala Lumpur !

Senin, 8 Agustus 2011

Bus Transnational yang gue tumpangi akhirnya tiba di Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur sekitar jam 1.30 pagi. Mata gue yang sebenarnya masih mengantuk, terbelalak ngelihat terminalnya yang menurut gue, super megah. Ini memang baru pertama kalinya gue menginjakkan kaki di terminal yang beroperasi sejak 2010 ini. Ketakutan dan keraguan gue mendadak lenyap. Awalnya sejak dari Singapura gue menyimpan rasa ngeri ngebayangin musti bermalam sendirian di terminal bus. Terminal bus, gitu lhooo! Tapi di luar dugaan, terminalnya keren banget...! Megah, bersih, fasilitas lengkap, dan semoga aman Smiley !

Gue langsung mencari tempat untuk merebahkan badan lelah dan ngantuk gue. Sederet bangku isi lima langsung gue 'booking'. Ransel berganti menjadi bantal darurat...kain Bali ungu kesayangan berubah menjadi selimut...dan kaos kaki langsung menjalankan fungsinya menghangatkan kaki gue....Entah karena kondisi terminal yang sepi, atau karena terminalnya masih baru, jadi semua fasilitasnya masih berfungsi maksimal, AC di dalam terminal dingin luar biasa !

Terminalnya ngga terlalu sepi, ada beberapa orang lainnya menumpang tidur di sini. Gue sempat membaca beberapa lembar novel The Pilgrimage, dan akhirnya tertidur....Gue sempat terbangun karena kedinginan. Gue langsung ambil kaos bekas dari ransel, berharap menambah sedikit kehangatan di badan.

Jam 5 tepat alarm gue berbunyi. Waktunya bersiap - siap menuju LCCT. Gue langsung merapikan ransel dan peralatan mandi, trus mencari toilet di dalam terminal. Di dalam toilet, gue sempat mengganti kaos dan cuci muka. Sebenarnya gue pengen mandi, tapi ngga ada kamar mandi di sini. Setelah berganti kaos dan bersih - bersih, gue langsung berlari keluar dari area utama terminal. Gue pun berlari ke Bandara Tasik Selatan - LRT Station.

Gue takjub banget sama Terminal Bersepadu Selatan. Terminal paket komplit. Jadi, di dalam satu lokasi terdapat berbagai stasiun yang saling teritegrasi. Di sini ada terminal bus, LRT station, KTM Station, dan Express Rail Link (ERL) KLIA Transit Station. Kereeennn !! Salut sama Pemerintah Malaysia yang giat dan semangat banget ngebangun infrastuktur transportasinya.

Begitu tiba di Bandara Tasik Selatan - LRT Station, udah ada beberapa calon penumpang lainnya mulai menunggu kedatangan LRT. Rencana awal gue adalah naek LRT sampai ke KL Sentral, trus dari situ gue akan naek Sky Bus menuju LCCT. Tapi setelah gue pertimbangkan, kayaknya rute itu ngga praktis, karena boros waktu. Gue pun batal naek LRT, dan meninggalkan Bandara Tasik Selatan - LRT Station.

Sambil berlari dengan segera gue memutuskan untuk mencoba naek KLIA Transit, karena seingat gue ada rute langsung dari Terminal Bersepadu Selatan ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport), berarti lebih menghemat waktu dan uang gue. Walaupun masih pagi dan langit gelap, tapi gue udah cukup berkeringat karena harus berlari kesana - kemari....naik - turun tangga...dengan ransel lumayan berat di punggung Smiley. Tiba di ERL Station, gue langsung ke loket dan membeli tiket tujuan KLIA. Tiketnya seharga RM 10.80.

Setelah menunggu beberapa waktu, KLIA Transit pun tiba. Begitu masuk, gue kembali dibikin takjub. Eksklusif dan nyaman banget ! Station yang harus gue lewati adalah Putrajaya Station dan berhenti di Salak Tinggi Station. Tiba di Salak Tinggi Station, udah ada shuttle bus yang stand by, siap mengantar penumpang KLIA transit menuju LCCT. Busnya ngga kalah eksklusif, dan tiketnya sudah termasuk dalam ongkos KLIA Transit yang gue beli seharga RM 10.80 tadi. Yesus, makasih karena bekpeker gembel seperti gue bisa menikmati fasilitas VIP kayak begini.

Gue tiba di LCCT sekitar jam 8 pagi, dan Airasia yang akan mengantar gue kembali ke Jakarta akan berangkat jam 9.50 pagi. Berhubung udah check in sejak dari Jakarta, ngga banyak proses yang harus gue lakukan. Begitu gue tiba di ruang tunggu LCCT, tiba - tiba gue teringat sama kaos dan kain Bali ungu kesayangan gue. Dimana mereka ????? Gue langsung membongkar ransel dan ngga menemukan barang - barang favorit gue itu. Panik...berpikir...berpikir....astaga, ketinggalan di toilet Terminal Bersepadu Selatan !! Ahh...sebal ! Kenapa gue ceroboh banget meninggalkan barang - barang...serasa gue ganti baju di toilet pribadi ! Gue kesal sama diri sendiri...karena kecerobohan yang sangat ngga penting ini, gue meninggalkan 'teman - teman' terbaik yang selalu menjadi partner bekpekeran gue. Apalagi kain Bali ungu kesayangan yang selalu ikut kemana pun gue pergi selama ini, dan sangat multi fungsi. Pernah jadi rok di saat gue kehabisan celana, jadi selimut di tidur gue yang kedinginan, jadi alas bantal yang menampung iler gue di kala tidur, jadi tutup kepala kalo gue kepanasan disengat sinar matahari, jadi syal kalo gue pengen sedikit gaya....pokoknya kain gue itu bisa jadi segala - galanya...Smiley!

Seakan - akan jadi ada ikatan emosi antara gue dan kain Bali kesayangan gue itu....yang sekarang mungkin masih tergantung tak berdaya di pintu toilet, siap untuk dibuang oleh petugas kebersihan yang pertama kali ngelihat. Sekali lagi...sebal Smiley! Seharusnya pengalaman sebagai solo traveler mengajarkan gue untuk selalu waspada dan menjaga barang - barang gue dengan hati - hati. Tapi kali ini, kain yang biasa gue lingkarkan di leher aja bisa seenaknya gue tinggalkan.

Panggilan untuk penerbangan QZ 7691 pun terdengar. Gue bangkit dan berjalan mendekati pesawat. Gue lupakan sejenak 'tragedi' kain Bali kesayangan. Gue belajar untuk ikhlas secepat kilat. Ngga boleh berlama - lama menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Di samping kehilangan itu, ada jutaan hal lainnya yang harus gue syukuri, yaitu liburan yang menyenangkan ini. Seru dan spontan Smiley. Banyak hal - hal yang 'ngga biasa' yang gue lakukan di liburan singkat kali ini. Salah satunya, mengijinkan diri gue untuk berbelanja. Tapi bukan itu kesenangan utama yang gue cari....hal yang cuma bisa gue dapat pas bekpekeran adalah keasyikan menjadi sendirian, menjauh dari tempat dan hal - hal nyaman yang gue rasakan selama ini, dan membebaskan kaki gue melangkah kemana pun hati gue mau. Makasih Yesus !

Friday, September 09, 2011

Pencarian Jalan Lavender

Minggu, 07 Agustus 2011

Hari ketiga di Singapura. Hujan mulai mengguyur sejak gue bangun dan menemani waktu sarapan Smiley. Seperti biasa, 6 lembar roti bakar gosong ditambah secangkir teh hangat jadi modal tenaga hari ini. Hari ini gue sarapan dengan santai, karena emang belum punya target lokasi yang pengen dikunjungi.

Sejak gue di masih di Kuala Lumpur, sebenarnya gue udah menyusun rencana kembali dari Singapura dengan dari Queen Street menuju Johor Baru dilanjut ke Kuala Lumpur, sama dengan cara yang gue tempuh dari Kuala Lumpur menuju Singapura. Tapi rencana ini mendadak berubah Smiley...tekad untuk melakukan segala sesuatu secara spontan mendorong gue untuk mengubah rencana. Gue ngga jadi naek bus dari Queen Street, tapi dari Lavender Street. Bus incaran gue adalah bus malam Transnational. Sejak 2009 gue tahu bahwa untuk tujuan Johor Baru bisa naek bus dari Lavender Street, dan kali ini target gue adalah menemukan lokasi Lavender Street itu.

Kelar sarapan, gue sempat berkenalan dengan dua orang tamu Indonesia di ABC, namanya Lia dan Rere. Mereka rencananya juga akan kembali ke Jakarta siang nanti, dengan pesawat langsung dari Changi Airport. Sambil mengisi waktu sampai keberangkatan ke Changi Airport, mereka ngajakin jalan - jalan ke Bugis Street. Baiklah...gue ikut aja...Di Bugis Junction, saat mereka sedang asyik lihat - lihat counter kosmetik, mata gue tertuju ke counter Swatch. Hati gue bergejolak, pengen lihat - lihat isinya Smiley. Tapi gue membatalkan niat, takut malah tergoda. Gue udah lama banget pengen punya jam Swatch...tiap kali dapat bonus dari kantor, gue selalu menimbang - nimbang untuk membelikan diri sendiri sebuah jam Swatch. Tapi bagian diri gue yang galak penuh perhitungan selalu melarang Smiley....alasannya karena gue masih punya jam dalam kondisi prima...yang gue beli sejak 2004 !! Udah jadi peraturan tak tertulis buat diri sendiri, kalo gue ngga boleh beli barang baru sebelum barang yang gue miliki rusak parah dan ngga bisa dipakai lagi.

Puas berkeliling di Bugis Junction, gue bertiga menyeberang ke Bugis Street. Lia dan Rere asyik melihat - lihat toko yang menjual produk kaos. Sementara gue tertarik untuk lihat - lihat toko sepatu di dekatnya. Cuma ada satu sepatu yang bikin mata gue susah untuk berpaling, sepatu bot selutut. Gue langsung berhayal, bisa menunggang Samudra dengan sepatu bot yang lumayan keren itu Smiley. Cuma khayalan doang tapinya....karena harganya mahal.

Karena keasyikan mengkhayalkan sepatu boot, gue ditinggal sama Lia dan Rere yang udah meninggalkan toko kaos. Ngga apa - apa.... gue udah terlalu sering melihat - lihat Bugis Street dan bosan. Akhirnya gue kembali ke Bugis Junction....dan ke counter Swatch! Dalam waktu 5 menit, gue langsung suka sama salah satu produk jamnya yang menurut gue imut. Gue mau beli !! Tapi berhubung uang yang ada di dompet tidak mencukupi, gue langsung berlari mencari mesin ATM, dan kembali ke counter Swatch. Sejak masuk counter, melihat - lihat, suka, mencari mesin ATM, menarik sejumlah uang dan berlari girang kembali ke counter Swatch, gue berusaha keras untuk tidak mempedulikan kata hati yang bergema - gema, melarang untuk belanja Smiley. Dan traksaksi pun terjadi...beberapa lembar Dollar Singapura tertukar dengan sebuah jam Swatch imut warna kombinasi bening dan merah. Lucu dan imut. Horeeee Smiley !!!

Puas dengan jam baru di dalam tas, langkah gue menuju Lavender MRT Station jadi ringan. Tiba di Lavendar, gue malah kebingungan mencari bus station...bahkan ngga berhasil menemukan Lavender Street. Setelah beberapa kali kesasar, bolak - balik, bertanya ke sana - kemari, tibalah gue di perhentian bus di Lavender Street Smiley. Tempatnya cuma berupa lapangan luas di mana ada beberapa bus besar parkir. Sepi.

Gue langsung membeli tiket Transnational tujuan Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur, untuk keberangkatan jam 8 malam. Harga tiketnya SGD 32.35. Inilah salah satu kedahsyatan rasa penasaran gue. Walaupun gue sangat tahu, bahwa kalo naek bus dari Queen Street menuju Johor Baru, dilanjut naek bus Transnational dari Johor Baru tujuan Kuala Lumpur, harga tiketnya adalah RM 32, tapi gue berkeras untuk berangkat dari Lavender Street, yang harga tiketnya jauh lebih mahal, SGD 32.35. Padahal bus Transnational yang akan gue tumpangi, nantinya juga akan transit di Terminal Johor Baru untuk mengangkut penumpang.

Itu semua karena gue bertekad untuk ngerasain naek bus dari Lavender Street....cuma sekedar mengobati rasa penasaran aja. Dengan tiket di tangan dan wajah berseri - seri girang Smiley...cuma karena gue berhasil menemukan perhentian bus Lavender Street...ngga penting sebenarnya...gue pun kembali ke Bugis. Tiba di Bugis, gue mampir di Burger King untuk makan siang. Makan siang jam 4 sore....tragisnya, karena gue kehabisan uang, gue cuma sanggup membeli burger tanpa minum ! Sebenarnya gue masih menyisakan sejumlah receh SGD, tapi gue simpan di ransel.

Selesai makan, gue kembali ke ABC. Berhubung tadi pagi udah check out, gue ngga bisa mengisi waktu dengan tiduran di kamar. Ransel udah gue taruh di tempat penyimpanan sejak kelar sarapan tadi. Gue menyempatkan diri untuk mandi, dan menghabiskan sisa waktu dengan berinternetan ria Smiley.

Tepat jam 6.30 sore, gue meninggalkan ABC. ABC cuma sekedar tempat tidur buat gue...tidak ada kehangatan atau persahabatan bisa terjalin di sini Smiley. Tidak ada ruang yang memungkinkan para tamu untuk saling berinteraksi. Jadi melangkah keluar meninggalkan ABC bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan.

Gue tiba di Lavendar Station terlalu cepat...sekitar jam 7. Untuk mengisi waktu gue bolak - balik di foodcourt yang ada di komplek V Hotel, tepat di atas Lavender MRT Station. Dengan beberapa SGD yang gue punya, gue membeli sedikit roti untuk bekal di dalam bus. Perjalanan kali ini pasti bakalan seru Smiley, karena gue akan menghabiskan malam di bus, dan akan tiba di Kuala Lumpur jam 2 pagi. Rencananya gue akan tidur di Terminal Bersepadu Selatan. Kalau Mama tahu soal ini, pasti dia akan histeris di Jakarta dan ngga akan bisa tidur sepanjang malam..ngebayangin anak perempuannya yang agak preman...naik bus malam....dengan uang recehan tersisa...kue seadanya buat makan malam...dan akan tidur di terminal bus...di negara orang ! Padahal setiap kali gue tidur di Bandara Soeta aja udah bikin Mama uring - uringan. Gue sempatkan untuk mengirim sms ke Mama, "Ma, cei bentar lagi berangkat ke Kuala Lumpur naek bus." Dan Mama ngebalas :"Hati - hati, ntar kalo udah nyampe kasih tau Mama". Pastinya gue ngga akan kasih tau...Mama bakalan stres mikirin gue sampai di terminal antah - berantah jam 2 pagi ! Smiley

Gue pun mulai berjalan santai menuju lokasi perhentian bus. Ternyata dari sini cuma ada 2 penumpang yang berangkat, gue dan seorang lelaki bule. Saat bus berhenti di Terminal Johor Baru, akhirnya bangku - bangku kosong pun mulai terisi. Perjalanan dilanjutkan menuju Kuala Lumpur.

Bus berhenti sekali di sebuah tempat peristirahatan. Lumayan untuk bisa bisa berdiri meluruskan badan, dan menghirup udara segar. Perjalanan panjang dimulai lagi, dan gue pun tertidur dengan dengan nyenyaknya Smiley.

Smiley

Tuesday, September 06, 2011

Sunny Day In Singapore

Sabtu, 06 Agustus 2011

Hari ini gue bangun agak kesiangan. Pasti karena tidur semalem terganggu sama masalah sakit perut berkepanjangan yang gue rasain.

Gue langsung melesat ke kamar mandi. ABC tuh menyediakan banyak kamar mandi, jadi gue ngga perlu repot - repot antri. Gue mandi sedikit terburu - buru karena sebentar lagi jam 10.30 pagi waktu Singapura. Itu berarti waktunya sarapan gratis di ABC hampir berakhir. Gue ngga boleh ketinggalan sarapan gratis. Rugi !

Sarapan yang disediakan alakadar...setumpuk roti tawar, margarin, selai strawberry dan nanas. Untuk minumannya, disediakan teh celup, kopi dan creamer. Sederhana. Pagi ini perut gue terisi dengan 6 lembar roti bakar plus segelas teh hangat. Banyak amaatt ?? Harus...karena semalem gue udah mengeluarkan isi perut habis - habisan Smiley.

Selesai sarapan, gue kembali ke kamar dan bersiap - siap untuk meninggalkan hostel. Mulai hari ini, aktivitas gue agak terganggu karena gue kehilangan kartu kunci semalem. Jadi setiap kali mau masuk kamar, gue harus minjem kartu kunci dari resepsionis, trus buka pintu kamar dan menahannya dengan tong sampah supaya tetap terbuka, dan lari lagi ke resepsionis untuk ngembaliin kartu kunci. Repot. Entah kenapa gue ngga dikasih kartu kunci pengganti...

Gue menikmati pagi menjelang siang dengan jalan - jalan di sekitar komplek perbelanjaan Bugis street. Tempat pertama yang gue datangi adalah...penjual durian !! Oh My God...hampir tiada hari tanpa durian ! Harga 1 paketnya SGD 2, tapi rasanya mengecewakan, ngga manis...ngga selezat durian yang gue beli di Petaling Street, Kuala Lumpur.

Puas di kawasan Bugis, gue melanjutkan perjalanan ke Marina Bay. Ngapain ? Apalagi kalo bukan absen di Merlion Park. Gue naek MRT dari Bugis station ke City Hall Station. Abis itu dilanjut dengan berjalan kaki melewati Esplanade Mall yang letaknya di bawah tanah. Muncul - muncul gue langsung ngelihat bangunan nan megah Marina Bay Sands Hotel. Merlion Park juga udah jelas terlihat, walopun gue masih harus berjalan kaki lumayan jauh.

Gue pun mendekat ke Merlion Park yang siang itu lagi dipenuhi sama wisatawan. Entah apa yang sebenarnya istimewa dengan Merlion Park ini, tapi mungkin karena patung Merlion sudah sangat dikenal sebagai icon Singapura, setiap wisatawan merasa harus berkunjung kemari buat sekedar foto - foto. Padahal cuaca siang itu panas luar biasa.

Perjalanan menuju Merlion Park ini mengingatkan gue sama perjalanan yang sama tahun 2009 yang lalu. Waktu itu keluar dari City Hall station, gue mendadak kehilangan arah. Sampai gue menanyakan arah sama pejalan kaki, seorang India bernama Anand. Anand yang mengaku sebagai face reader. Begitu gue tanya, apa yang dia bisa baca dari wajah gue, dia bilang "Luck". Amin, ya Yesus Smiley.

Abis berfoto - foto sebentar di Merlion Park, gue melanjutkan berjalan kaki ke Asian Civilizations Museum dan sekitarnya. Ngga ada banyak hal yang bisa gue lakukan di sini selain melihat - lihat bangunan gedung - gedung megah pencakar langit di dalam komplek City Hall ini.

Puas berkeliling di area City Hall, gue kembali ke City Hall MRT Station, untuk melanjutkan acara jalan - jalan siang ke China Town.

Tiba di China Town, gue berkeliling dan berkeliling....liat - liat deretan toko - toko yang menjajakan berbagai macam barang - barang, terutama souvenir khas Singapura, lebih tepatnya souvenir khas China Town, trus melihat - lihat temple India dan China di dekat situ, makan di foodcourt terdekat, dan begitu sore menjelang, gue balik ke ABC.

Digicam gue udah kehabisan baterai, jadi gue bermaksud untuk recharge digicam gue dulu. Digicam gue kehabisan baterai bukan karena keseringan dipake, tapi karena emang dari Jakarta pun gue belum charge.

Trip gue kali ini berbeda banget. Gue ngga terlalu kepengen untuk mengabadikan momen liburan atau hal - hal yang gue temui sepanjang trip. Gue pernah baca di forumnya Lonely Planet, mengenai bagaimana rasanya kalo kita benar - benar menikmati liburan tanpa 'terbebani' sama hal - hal seperti urusan berfoto ria. Itu yang gue coba lakukan sekarang, walaupun ngga sepenuhnya. Nikmat ternyata Smiley. Singapura adalah zona nyaman gue. Sekedar untuk menikmati berkeliling menyusuri jalan - jalan di sini, sudah merupakan keasyikan tersendiri buat gue. Udah jadi kayak meditasi yang bikin pikiran relaks, walaupun fisik cape. Itu yang terpenting, foto jadi urusan yang kesekian. Lagian, gue masih punya setumpuk tiket ke Singapura sampai tahun depan kok...jadi semoga ini bukan trip terakhir gue ke negara nyaman ini.

Tiba di ABC, resepsionis langsung ngasih gue pesan dari Senthil. Senthil adalah temen yang gue kenal waktu gue traveling ke Phuket, dia tinggal di Singapura. Dia datang berkunjung sejak tadi siang, dan akan kembali ke ABC begitu menerima kabar dari gue. Gue pun ke ruang internet dan menghubungi dia melalui facebook. Ngga beberapa lama kemudian Senthil tiba - tiba nongol di dapur ABC ! Setelah ngobrol sebentar, gue dan Senthil berpisah. karena gue mau melanjutkan acara jalan - jalan gue ke Orchard, dan Senthil kembali ke apartemennya yang entah dimana.

Di Orchard, gue keluar masuk mall yang bejibun di sini. Gue mampir di sebuah toko coklat dan membeli beberapa produk coklat buat oleh - oleh. Benar - benar perjalanan gue kali ini "Out of the box". Kemarin di Mustaffa market pun gue sempat belanja beberapa bungkus kacang Almond sebagai oleh - oleh buat di rumah dan buat Ony. Kali ini gue belanja lagi beberapa paket coklat. Gue langgar aturan ketat bekpekeran soal belanja. Tapi ngga apa - apa...kali ini gue emang pengen lakukan sesuatu yang berbeda.

Sekitar jam 8 malam, gue meninggalkan Orchard Road. Kaki gue udah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan Smiley. Bisa dibilang gue menghabiskan sebagian besar waktu gue di hari ini untuk berjalan, dengan waktu istirahat yang sangat minimum. Tiba di ABC gue langsung mandi, berinternetan ria, trus ke kamar untuk istirahat Smiley.

Di sela - sela waktu menjelang tertidur, pikiran gue langsung melayang ke Jakarta. Apa yang biasa gue lakukan di hari Sabtu ? Biasanya dari pagi gue udah akan ke Depok untuk latihan berkuda Smiley dan bermain - main dengan anjing - anjing K9. Hari Sabtu ngga pernah terasa garing karena gue akan asyik berinteraksi dengan Ony, Samudra dan Pak Sukrin, pelatih berkuda gue. Gue menyebutnya Gank 4S : Sitanggang, Setiadi, Samudra dan Sukrin...nama yang dipaksakan banget sih sebenarnya...Smiley

Tapi Sabtu kali ini berbeda total. Naluri bekpeker malah menerbangkan gue kembali ke Singapura untuk merasakan nikmatnya berpetualang sendirian di negeri orang. Harus gue akui, sejak gue pindah kerja ke Santa Fe, baru kali ini gue ngerasa tanpa beban saat harus cuti, meninggalkan pekerjaan gue sejenak, keluar dari Indonesia, dan berpetualang. Kali ini gue bebas dari beban karena segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue udah lebih terorganisir dan rapi, jadi gue bisa sangat tenang Smiley.

Makasih Yesus untuk hari yang istimewa ini. Good night !