I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, September 12, 2012

Cerita Anjing : Jogging Pagi

Sebulan terakhir, gue punya aktivitas tambahan di pagi hari, bersama Bruno alias Bruncuz, anjing gue. Setiap harinya, gue akan bangun jam 4.45 pagi, kemudian bersiap - siap, termasuk menyiapkan Bruno, lalu meninggalkan rumah untuk jogging pagi.

Niat gue ini dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. Alasan utamanya adalah karena kebutuhan gue untuk berolah raga, atau paling tidak, mencari kegiatan untuk menggerakkan badan gue yang tambun ini. Sebelumnya, yang gue lakukan adalah berjalan kaki dari rumah sampai ke Ragunan, pulang - pergi. Tapi ternyata hal itu bikin Mama khawatir. Mama takut hal buruk terjadi, apalagi karena gue berjalan kaki sendirian, mulai dari subuh, yang berarti masih sepi dan gelap. Untuk itulah gue memikirkan metode terbaru dan mutakhir, yaitu mengajak Bruno sebagai partner jalan atau jogging gue.

Di tengah gelapnya langit dini hari, dan kedua mata yang masih menyipit menahan kantuk, gue dan Bruno akan menyusuri Jalan Raya TB. Simatupang, mulai dari rumah sampai ke kampus Universitas Tama Jagakarsa, yang kalo diitung - itung total jaraknya pulang - pergi sekitar 3 kilometer.

Ini adalah salah satu 'proyek' gue yang cukup menantang. Membawa Bruno, yang sudah terbiasa tinggal di tengah kesunyian halaman belakang rumah, dan kali ini harus menghadapi hingar - bingarnya jalan raya yang berisik dan semrawut, bukanlah hal yang mudah. Awalnya, gue harus memaksa Bruno dengan cara menarik talinya tanpa peduli bahwa Bruno tidak ingin melanjutkan perjalanan. Kadang ngga tega, takut hal itu akan menyakiti Bruno. Gue sampai harus bereksperimen dengan beberapa model tali, rantai atau kalung anjing. Gue pernah harus membawa beberapa potong keju, sebagai 'motivator' supaya Bruno mau berjalan. Di beberapa hari pertama, Bruno cuma mau melangkah sejauh beberapa meter, karena dikuasai rasa takut. Dia kaget dan shock mendengar deru suara kendaraan lalu - lalang, belum lagi kalo melihat orang melintas. Bruno akan gemetaran dengan dahsyatnya, dan ngga sanggup bergerak. 

Tantangan lainnya berasal dari luar. Berjalan - jalan dengan seekor anjing, sebetapa  pun menggemaskannya, bukanlah pemandangan biasa di sini. Sepertinya kebanyakan orang memvonis anjing sebagai sosok monster yang menakutkan, menyeramkan dan mengancam keselamatan jiwa raga. Predikat negatif seperti ini justru diberikan oleh orang - orang yang sebenarnya tidak pernah mengenal dan berinteraksi dengan anjing. Bruno bukan monster yang menyeramkan, dia adalah anjing baik yang penurut. Lagian, orang - orang ketakutan itu terlalu percaya diri, seakan - akan Bruno berniat untuk menyentuh atau menggigit mereka. Kalau bisa bicara, Bruno pasti akan menjawab bahwa daging ayam yang gue hidangkan setiap hari untuknya jauh lebih menggiurkan dan mengundang selera dibandingkan orang - orang lalu lalang di hadapannya yang menyimpan rasa takut setengah mati.

Sampai saat ini, kegiatan jogging pagi gue dan Bruno masih menyimpan tantangan tersendiri, yang justru bikin makin seru. Bruno masih tampak grogi dan tegang apalagi kalau mendengar suara bus atau truk melaju kencang, atau saat harus berpapasan dengan orang. Di tengah jalan, Bruno beberapa kali 'ngambek' jogging dan memilih diam, ogah bergerak. Ekornya layu kaku dan tersembunyi di balik kedua kaki belakangnya. Telinganya bediri tegak tanda waspada. 

Jogging pagi adalah saat menyenangkan. Kegiatannya ini memberikan kebugaran dan kesegaran baik untuk  fisik maupun pikiran gue. Hal terbaiknya adalah gue selalu ditemani oleh partner berkaki empat yang spesial, Bruno. Gue mau menularkan hobi jalan - jalan gue pada Bruno, dan berharap suatu saat nanti Bruno akan menikmati sepenuhnya acara jalan kaki bareng gue. Dan yang lebih positif, kegiatan ini adalah saat dimana gue dan Bruno bisa membangun kepercayaan dan persahabatan. 

Sunday, August 26, 2012

Red Horse Bulletin

Red Horse Bulletin udah menginjak bulan keempat sejak terbitan pertamanya di bulan Mei 2012. Sayangnya, gue belum pernah sempat membaca secara lengkap dan detil isi dari newsletter khusus karyawan Santa Fe Relocation Services global ini. 

Seingat gue, gue hanya sempat 'melirik' edisi pertama Red Horse Bulletin di bulan Mei 2012 yang lalu. Itu pun karena foto gue terpampang di situ, yakni saat gue menerima hadiah iPad dari Director Santa Fe Relocation Services Indonesia. Saat itu gue penasaran apakah pose gue cukup memuaskan atau justru memalukan. Selebihnya, bahkan gue belum sempat membuka - buka setiap halaman berikutnya.
Bukan berarti rasa senang dan bangga gue memudar. Gak ada kata - kata yang bisa melukiskan perasaaan gue karena mendapat kesempatan untuk menamai newsletter ini. Newsletter ini jadi bagian tak terpisah dari gue, sampai kapan pun. Newsletter ini juga memiliki arti penting untuk mengingatkan diri pribadi, bahwa meskipun gue terkadang merasa 'kecil', namun ada kontribusi yang bisa gue berikan, yakni ide. Ide menamai newsletter yang dibaca oleh seluruh karyawan Santa Fe Relocation Services di seluruh dunia. Rasa senang juga timbul karena menulis dan membaca adalah salah satu hobi gue. Dan jika gue bisa menamai sebuah media yang berhubungan dengan urusan membaca dan menulis seperti newsletter ini, itu memberikan kesenangan khusus untuk gue.

Untuk berikutnya, gue menantang diri sendiri untuk bisa menulis dan mengirimkan artikel yang layak dimuat di newsletter ini. Sebenarnya ada sekian banyak ide melayang - layang di pikiran gue selama ini. Namun waktu dan perhatian gue, terlebih selama jam kantor, terkuras untuk urusan pekerjaan. There is a will, there is a way...suatu saat gue akan meluangkan perhatian untuk memikirkan, mengolah dan mewujudkan artikel impian tersebut. 

Tuesday, June 12, 2012

"Mommy Always Love You Son, Whatever It Takes..."


Akhir pekan yang lalu, gue berkunjung ke Pondok Pengayom Satwa yang terletak di daerah Ragunan. Awalnya gue pikir tempat ini hanya semacam panti asuhan untuk satwa anjing dan kucing liar. Namun ternyata, banyak pelayanan dan fasilitas lainnya tersedia disini. Ada klinik satwa, tempat penitipan satwa, grooming, bahkan pelayanan pemakaman dan kremasi satwa. Satwa yang dimaksud dikhususkan pada anjing dan kucing saja.


Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Taman Makam Satwa. Areanya tidak terlalu luas, tapi sangat asri, bersih, dan tenang. Walaupun ini adalah area pemakaman satwa, namun entah disengaja atau tidak, terdapat pohon kemboja yang rindang, yang sepertinya menjadi ciri area pemakaman umum. Beberapa pohon jenis lainnya yang tak kalah rindang juga terdapat di area ini, seakan - akan hendak memberikan keteduhan dan kenyamanan untuk para penghuninya.

Hal unik yang gue temui di sini adalah batu - batu nisan di atas setiap kubur para satwa. Bentuknya ngga kalah dan berbeda dengan batu nisan tempat pemakaman jasad manusia. Awalnya, saat melihat batu nisan satu persatu, gue tertawa karena merasa ada sesuatu yang lucu, namun pada akhirnya gue terharu dan turut bersimpati pada setiap manusia pemilik para satwa yang telah beristirahat abadi itu, atas kesedihan mendalam yang mereka rasakan karena kehilangan 'teman' atau 'anggota keluarga' tercinta mereka.

Kesedihan atas perpisahan abadi mereka dengan satwa kesayangan masing - masing terlihat jelas pada kata - kata yang diurai pada setiap batu nisan. Betapa para satwa ini adalah sosok yang sangat berarti untuk setiap pemiliknya, bahkan sebagian pemilik mencantumkan nama belakang masing - masing pada nama satwanya, pada setiap batu nisan, menandakan bahwa para satwa ini adalah anggota keluarga mereka tercinta.

Keunikan lainnya, beberapa batu nisan mencantumkan tanda salib, seperti layaknya batu nisan manusia, yang menandakan agama dan kepercayaan si penghuni makam yaitu Kristiani. Hal baru yang pernah gue liat, tapi menurut gue dengan cara demikian si pemilik menunjukkan rasa terima kasih kepada Yesus atas karunia tak ternilai, yakni satwa yang mereka sayangi. Dan mereka meyakini bahwa para satwa tersebut telah berpulang ke pangkuan Yesus.


Kata - kata yang tertoreh di batu nisan, bahkan lebih menyentuh hati. Kata - kata terakhir yang berasal dari hati terdalam setiap pemilik yang siap atau tidak siap ditinggalkan selamanya oleh yang mereka cintai,  yakni para satwa tersebut. Ada yang menuliskan, "We never forget our beloved PEPSI. Jesus will take care of you dear.." Di batu nisan lainnya, dengan tulisan tangan sang pemilik berpesan, "Rest in peace my living miracle, BINGO. Mommy always love you son, whatever it takes..so long my son.."

Gue pernah merasakan beberapa kali ditinggalkan sahabat satwa yang sangat gue sayangi, dan akibat yang ditimbukan adalah kesedihan mendalam. Rasanya hanya gue dan Yesus yang mengerti. Hubungan persahabatan antara manusia dan satwa adalah hubungan yang tulus dan spesial. Dan saat hubungan  persahabatan itu terenggut saat maut datang, tiada hal lain yang tersisa selain rasa kehilangan yang menyesakkan.

Gue salut pada para pemilik yang telah menguburkan satwanya di sini, atau di tempat - tempat  layak lainnya. Dengan memberikan tempat peristirahatan yang indah seperti di Taman Makam Satwa ini seakan - akan mereka hendak mengungkapkan "Terima kasih dan selamat jalan, Kawan..." dan mendoakan kedamaian abadi untuk para satwa. Sebentuk persahabatan yang indah dan tak berakhir, meski hingga maut memisahkan.

Saturday, May 26, 2012

Mengeksplorasi Keindahan Beng Mealea


Akhirnya bisa kembali ke Siem Reap. Tepatnya 13 bulan setelah kunjungan pertama gue ke kota ini. Sewaktu gue meninggalkan Siem Reap tahun 2011, rasanya berat bukan main. Kota ini punya pesona luar biasa,dan gue berdoa pada Yesus agar diijinkan kembali ke sini. Dan gue pun kembali...

Ada beberapa hal yang berubah dari Siem Reap sejak kunjungan terakhir gue. Kali ini ngga ada Mr. Sambo yang menjemput di airport dan menemani gue berpetualang...ngga ada lagi toko roti kesayangan gue, Luck Bakery, yang selalu gue datangi setiap jam 7 malam karena memberikan diskon 50%...Perubahan pun datang dari gue pribadi. Kali ini gue ngga lagi mengandalkan KFC sebagai makan malam. Gue terbuka untuk nyobain makanan lokal di sepanjang Pub Street.

Hal - hal lain belum berubah. Penduduk lokal yang tetap ramah dan bersahabat, dengan sapaan khas,"Good morning/afternoon/evening, lady...How are you ? Where are you from ?" Juga, keindahan Angkor yang tetap bikin gue terpesona dan selalu pengen kembali ke kota ini. Namun dalam kunjungan ke Siem Reap kali ini, hati gue tertinggal dan melekat kuat di temple yang baru pertama kali gue kunjungi, Beng Mealea.Gue berkunjung ke Beng Mealea di hari Minggu (20 Mei 2012), yang diawali dengan perasaan ragu - ragu. Selain jaraknya jauh, ongkos tuktuk menuju ke sana juga lumayan mahal. Golden Temple Villa sendiri menawarkan harga USD 28 untuk ongkos tuktuknya. Gue pun bernegosiasi dengan Veng, dan akhirnya mendapat harga spesial : USD 22. Sejak dari airport, Veng adalah sopir tuktuk andalan yang dikirim The Siem Reap Hostel untuk menjemput gue. Dia gesit, ramah dan cukup lancar berbahasa Inggris.

Beng Mealea, yang berarti kolam teratai, dibangun dipertengahan abad ke 12. Jaraknya 70 km dari Siem Reap, yang berarti sekitar 2 jam perjalanan naik tuktuk. Untuk memasuki kawasan temple, pengunjung harus membeli tiket seharga USD 5. Tiket terusan Angkor sendiri ngga bisa digunakan disini.

Sejak tiba di depan gerbang utamanya, ngga ada hal lain yang gue lakukan selain mengaguminya dan terheran - heran dengan kondisi temple. Kawasan temple sepi pengunjung. Mungkin wisatawan yang datang ke Siem Reap lebih tertarik dan fokus untuk mengeksplorasi Angkor. Entahlah...yang jelas gue sangat menikmati suasana sepi temple ini. Bangunannya tidak direstorasi seperti temple - temple yang banyak gue temui di Angkor. Kondisi temple dibiarkan 'berantakan' dengan bebatuan yang tadinya elemen pendiri temple, dan telah runtuh.

Gue hanya bisa mengeksplorasi temple dengan bersusah payah menyusuri hamparan bebatuan berukuran besar. Awalnya gue ngeri karena kondisi temple yang terkesan misterius dan mistis, terlebih karena pohon - pohon raksasa mendominasi dan menguasai temple, dengan akar - akarnya yang menjalar ke segala arah, seakan - akan mencengkeram setiap tembok yang dilaluinya.  Kesannya dramatis banget.


 
 
Baru beberapa saat, gue kelelahan. Lelah karena harus menjelajah bangunan temple yang sangat luas, di bawah teriknya sinar matahari siang itu, dan tanpa berbekal air minum. Namun kelelahan gue dengan ajaibnya berubah menjadi antusiasme menjelajah temple, walaupun itu berarti gue harus melompat, memanjat, dan merayapi hamparan bebatuan di temple ini.

Setelah selesai menjelajah seluruh area temple, gue kembali ke sisi gerbang utama. Kelelahan dan kengerian gue di awal kunjungan berubah seketika. Area ini menjadi tempat bermain yang mengasyikan buat gue. Temple ini seakan - akan menyentuh sisi lain diri gue, dan memberikan kebebasan seluas - luasnya untuk menyalurkan energi gue. Mama selalu bilang gue ngga pernah merasa cape. Biasanya kata - kata itu Mama ucapkan dalam keadaan kesal dan marah karena menurutnya gue gak memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk beristirahat. Mama bilang energi dan tingkat kenekatan gue terkadang melebihi laki - laki sekalipun.

Gue membayangkan andaikan Mama ada di Beng Mealea saat itu, pasti Mama akan melihat gue yang sangat bahagia....dan bisa meloncat serta memanjat ke sana kemari di tempat menakjubkan seperti ini, adalah hal yang luar biasa untuk gue...ngga peduli dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh, dan kulit yang semakin menggelap dibakar sinar matahari. Semuanya sepadan dengan apa yang bisa gue nikmati di Beng Mealea ini. Sebagian hati gue tertinggal di temple ini. Di setiap bebatuan raksasa...di setiap tembok - temboknya yang kokoh...dan di setiap pepohonan yang memberikan keindahan tersendiri pada temple ini. Seluruh elemen yang ada disini membentuk sebuah harmoni yang sanggup menyihir pengunjung yang melihatnya.

Sore itu gue meninggalkan Beng Mealea dengan perasaan berbeda. Sebelumnya gue sudah memutuskan, kunjungan ke Siem Reap kali ini adalah yang terakhir, tapi Beng Mealea membuat gue menarik kembali keputusan gue itu. Gue harus kembali ke sini suatu saat nanti. Gue harus kembali ke temple yang bukan sekedar gue kagumi, melainkan memberikan rasa damai, bahagia dan puas untuk gue.


Kalau Yesus mengijinkan, gue akan kembali ke Beng Mealea.

Tuesday, May 15, 2012

Selamat Jalan, Mr. Sambo

 
 
Keberangkatan gue besok menuju Siem Reap diisi dengan berita sedih. Gue baru menerima balasan email dari pihak Golden Temple Villa, tempat gue menginap di Siem Reap tahun lalu, mengabarkan bahwa Mr. Sambo, supir tuktuk yang selalu menemani gue berkeliling Siem Reap, ternyata telah meninggal dunia, bulan yang lalu.

Berita yang sangat mengagetkan, terlebih di saat gue sibuk mencari cara menghubungi Mr. Sambo lagi, supaya beliau bisa menjadi supir tuktuk sekaligus teman andalan gue lagi dalam trip kali ini. Tahun lalu, Mr. Sambo sempat memberikan kartu namanya supaya gue bisa menghubungi beliau kalau berkunjung ke Siem Reap lagi. Beberapa hari terakhir gue sudah mencoba mencari kartu nama Mr. Sambo, tapi ngga menemukan. Siang tadi akhirnya gue memutuskan untuk mengirim email ke pihak Golden Temple Villa, untuk menanyakan nomor telepon Mr. Sambo. Sebenarnya awalnya gue agak ragu akan mendapatkan tanggapan, berhubung kali ini gue tidak akan menginap di Golden Temple Villa. Tapi ternyata, gue justru menerima berita menyedihkan.

Gue ngga akan lupa kebaikan Mr. Sambo selama gue di sana. Beliau adalah partner perjalanan yang sangat menyenangkan. Mr. Sambo adalah bagian dari cerita perjalanan gue ke Siem Reap tahun 2011 yang lalu, yang semuanya berjalan dengan indah dan berkesan. Mr. Sambo, tuktuk merahnya, dan sikapnya yang sangat ramah dan baik. Sosok yang ngga mungkin gue lupakan, sampai kapan pun. 

Gue akan selalu ingat orang - orang yang gue temui dalam perjalanan bekpekeran gue. Terlebih orang - orang yang memberikan keramahan dan kebaikan nan tulus, di saat gue berada jauh di negeri orang, sendirian. Orang - orang yang selalu gue sebut sebagai 'malaikat' yang dikirim Yesus untuk menemani kesendirian gue dalam berpetualang. Dan Mr. Sambo salah satunya. Sosok yang memiliki kesabaran di atas rata - rata, karena bisa menemani gue dan meladeni apapun permintaan gue. Meskipun sulit karena kendala komunikasi...atau karena keinginan gue yang diluar batas wajar...
 
Bahkan Mr. Sambo adalah salah satu yang paling spesial. Dan berita kepergiannya meninggalkan kesedihan di hati gue..Kali ini ngga ada lagi yang menyambut gue di airport dengan senyum tulusnya seraya membawa kertas bertuliskan "Welcome, Cherry Sitanggang"...ngga ada lagi Mr. Sambo yang akan setia mengantar gue sepanjang hari, bahkan dari matahari baru terbit, sampai awan malam menyelimuti langit. Mr. Sambo sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Beristirahatlah dengan tenang, Mr. Sambo...Maaf karena tidak sempat ada ucapan selamat jalan sempat terucap menjelang kepergian Mr. Sambo. Gue akan selalu mengenang Mr. Sambo sebagai sahabat jauh gue, yang akan selalu tersenyum ramah dan menawarkan kebaikan hatinya yang tulus kepada siapapun.