I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, March 20, 2013

Cerita Vaksinasi di Sabtu Pagi

Adalah niat dan rencana gue selama ini untuk membawa Bruncuz ke rumah sakit hewan terdekat untuk mendapatkan, minimal, vaksin rabies.Walaupun seumur hidup gue selalu hidup serumah dengan anjing, namun selama ini gue belum memiliki kesadaran untuk memberikan proteksi bagi fisik anjing - anjing peliharaan dengan vaksinasi. Gue terbiasa memelihara anjing dengan cara yang, menurut gue, konservatif dan sealami mungkin. Namun harus diakui, bahwa alasan terbesar mengapa gue ngga pernah peduli dengan masalah vaksinasi ini karena malas, ngga mau repot, dan kurangnya kesadaran bertanggung jawab atas hewan peliharaan. 

Rasanya malu mengatakan bahwa gue menyayangi anjing peliharaan, namun menutup mata dan telinga rapat - rapat di saat memikirkan masalah vaksinasinya. Kini, gue berjanji pada diri sendiri untuk merawat sahabat berkaki empat ini sebaik mungkin. Masalah kesehatannya harus ada di urutan teratas. Selain menyediakan makanan berupa daging mentah, tanpa tambahan nasi, bumbu dan lainnya, sejak tahun lalu, mulai Januari tahun ini gue juga sudah mulai memberikan obat cacing khusus anjing untuk Bruncuz. Ini perlu gue lakukan untuk mencegah Bruncuz terkena cacingan, karena daging mentah yang gue berikan. Uniknya, gue memilih obat cacing Drontal keluaran Bayer, Thailand. Memang ada sedikit unsur fanatisme, karena gue juga bekerja di Bayer. Selama ini gue sering berkonsultasi dengan seorang dokter hewan perusahaan yang sangat informatif dan mendorong gue untuk meningkatkan kualitas hidup anjing peliharaan melalui vaksinasi.

Niat untuk memberikan vaksinasi rabies kepada Bruncuz sudah tertanam cukup lama, tepatnya sejak tahun lalu. Niat ini gue wujudkan dengan cara unik, mengikutkan nama Bruncuz dalam group arisan di kantor tempat gue bekerja sebelumnya. "Bruno Sitanggang", begitulah nama arisannya. Dia adalah satu - satunya peserta berkaki empat dalam group arisan yang terdiri dari 25 peserta itu. Arisan ini rencananya akan menjadi sumber dana segala keperluan Bruncuz, seperti tali, kalung, dan tentu saja vaksin. 

Peruntungan Bruncuz dalam dunia arisan nampaknya kurang begitu cerah, jadilah dia mendapatkan arisannya di urutan terakhir, tepatnya awal tahun ini. Dan gue pun mulai rajin menggali informasi mengenai vaksinasi ini. Mengenai prosedurnya, harganya dan lokasinya. Hasil akhirnya ada 2 pilihan, yaitu Rumah Sakit Hewan Jakarta atau Pondok Pengayom Satwa. Keduanya berlokasi di Ragunan, Jakarta Selatan. Namun niat gue belum bisa segera terwujud, karena beberapa kesibukan dan terlebih kendala transportasi. Masalah transportasi adalah yang utama. 

Ada beberapa rencana yang sempat terpikir : menyewa angkutan umum S15 atau S15A, taksi, atau yang lebih ekstrem, berjalan kaki. Semua alternatif itu akan menjadi tantangan besar buat gue dan Bruncuz. Bruncuz belum pernah naik mobil, dan dia belum pernah sekalipun menginjakkan keempat kakinya keluar dari kawasan Tanjung Barat. Perjalanan menuju negeri Ragunan, bagaimana pun caranya, akan menjadi sesuatu yang penuh perjuangan untuknya.

Solusi muncul pagi ini, tepatnya di saat gue sedang membawa Bruncuz berjalan pagi. Di saat melintas di depan sebuah komplek perumahan, gue melihat sebuah taksi sedang parkir dan tanpa menaruh harapan terlalu besar gue bertanya pada sang supir apakah bersedia membawa penumpang seekor anjing. Ternyata Pak Yoga, sang supir, bersedia. Gue pun meminta nomor teleponnya, dan berjanji akan menelepon hari ini juga.

Sekitar jam 9 pagi, gue dan Bruncuz pun meninggalkan rumah dengan taksi Pak Yoga. Hari ini satu sejarah terukir : Bruncuz naik taksi. Baru beberapa ratus meter perjalanan, Bruncuz sudah mulai bereaksi. Jelas dia terlihat takut dan bingung sampai gemetar. Yang dapat gue lakukan adalah memeluknya erat - erat dan memijit punggungnya sesekali agar Bruncuz lebih relaks.

Awalnya gue meminta Pak Yoga untuk menuju Pondok Pengayom Satwa. Namun tiba di sana gue kecewa karena belum ada dokter yang datang. Ngga tega untuk membuat Bruncuz menunggu, gue pun langsung meminta Pak Yoga melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit Hewan Jakarta yang lokasinya dekat situ.

Tiba di Rumah Sakit Hewan Jakarta, gue mengeluarkan Bruncuz dari taksi dan membawanya ke loket pendaftaran. Ada perasaan haru menyeruak di hati. Ini adalah pertama kalinya gue membawa Bruncuz ke suatu tempat dimana ia diperlakukan layaknya tamu terhormat, tanpa ada orang di sekitarnya yang menatap curiga atau menyimpan rasa takut akan diterkam olehnya. Nampaknya kali ini Bruncuz berada di zona penyayang satwa. Bahkan petugas keamanan dan kebersihan di rumah sakit ini pun bersikap sangat ramah kepada Bruncuz.

Selama menunggu, Bruncuz menuai pujian dari beberapa pemilik satwa yang kebetulan juga sedang antri. Menurut mereka Bruncuz terlihat sangat sehat dan bersih, dan terkejut begitu mengetahui bahwa Bruncuz berasal dari ras lokal murni. Di samping itu, sikap Bruncuz yang sangat pendiam dan pemalu, tidak galak atau agresif, menjadi daya tarik tersendiri. 

Saat nama Bruncuz dipanggil yang berarti sudah harus memasuki ruang praktik dokter, masih ada sedikit rasa takut terbersit. Ini adalah pengalaman baru untuk gue dan Bruncuz. Namun gue bertekad untuk mengusir rasa takut dan ragu jauh - jauh, demi Bruncuz. 

Drh. Ayu yang akan menangani Bruncuz mulai mengajukan beberapa pertanyaan seputar Bruncuz.

Namanya siapa ?
Saya Cherry, dok....ini Bruncuz.
Berapa usia Bruncuz ?
Maaf, dok...saya kurang tahu tepatnya. Antara 7 - 8 tahun.
Oh...sudah tua ya ? Sudah pernah divaksin sebelumnya ?
Belum, dok. Ini yang pertama. 

Sang dokter yang sangat ramah pun mendekat ke meja pemeriksaan, tempat gue meletakkan Bruncuz. Drh. Ayu memuji kondisi fisik Bruncuz yang masih sangat prima di usia senjanya itu. Gue mengatakan bahwa Bruncuz adalah pemakan daging ayam mentah, yang selalu gue yakini sangat baik untuk pencernaannya, juga kesehatan gigi dan bulunya. Berat badan Bruncuz pun ditimbang, hasilnya 12 kg. Berat badannya jauh melampaui perkiraan gue selama ini. Gue pikir beratnya sekitar 8 kg. Dalam hati gue berjanji untuk menghitung ulang takaran makanan yang harus gue berikan. Setelah itu tes kotoran pun dilakukan, dan gue lega setengah mati saat dokter mengatakan bahwa Bruncuz bebas cacingan dan kondisinya sangat fit untuk menerima vaksin.

Drh. Ayu menyarankan agar Bruncuz mendapatkan paket vaksin lengkap. Gue, yang sejak awal hanya berniat memberikan vaksin rabies, mulai bingung. Drh. Ayu pun meyakinkan gue bahwa paket vaksin yang terdiri dari vaksin Distemper, Hepatitis, Leptospirosis, Parvovirus dan Rabies ini akan lebih baik untuk Bruncuz, meskipun dari segi usia agak terlambat diberikan. Maka Bruncuz pun mendapatkan paket vaksin lengkapnya. Proses penyuntikan vaksin nyaris tanpa kendala. Tidak ada perlawanan atau gerakan berontak apapun dari Bruncuz. Matanya memancarkan rasa takut mendalam, namun mungkin karena nalurinya mengatakan bahwa apa yang sedang dilakukan orang - orang disekelilingnya saat ini adalah demi kebaikannya, Bruncuz hanya pasrah. 

Vaksin masuk ke dalam tubuhnya dalam hitungan detik. Setelah proses selesai, gue adalah pemilik anjing paling bahagia sedunia. Ini adalah satu langkah perubahan yang membawa kebaikan untuk mahluk berkaki empat yang merupakan sahabat gue ini. 

Drh. Ayu menyerahkan buku vaksin Bruncuz ke gue. Gue girang menerimanya. Bulan Desember 2012 yang lalu, saat sempat berniat menitipkan Bruncuz di Pondok Pengayom Satwa karena gue dan keluarga hendak berlibur ke Yogyakarta, Bruncuz ditolak dengan alasan belum divaksin. Dan buku ditangan gue mencatatkan dengan terperinci bahwa Bruncuz, telah menerima paket vaksinasi lengkap, tertanggal 16 Maret 2013. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang berhak menolak Bruncuz dengan alasan vaksinasi. Gue berjanji, di sisa usianya yang mungkin tidak banyak, gue akan membawanya untuk vaksinasi rutin tahunan, dan memberikan obat cacing secara rutin di rumah.
Meninggalkan ruang pemeriksaan, gue pun ke loket pembayaran. Total biaya yang harus gue bayar adalah Rp. 319,000. Dengan perincian :
  • Biaya Laboratorium (cek feces) : Rp. 25,000
  • Biaya registrasi : Rp. 25,000
  • Vaksinasi (Hexadog/Eurican - 7) : Rp. 240,000
  • Biaya administrasi 10% : Rp. 29,000
Ada yang lucu terjadi saat gue sedang menunggu antrian pembayaran. Seorang Ibu mendekati Bruncuz dan membelainya dengan gemas. Di saat yang sama kasir loket pun memanggil nama gue kencang - kencang, "Cherry", yang artinya urusan administrasi sudah kelar dan gue bisa membayar. Gue pun permisi sejenak kepada sang Ibu penggemar baru Bruncuz ini, karena hendak mendekat ke loket kasir. Sang Ibu yang mengira "Cherry" adalah nama anjing yang gue bawa, membelai Bruncuz seraya mengatakan, "Ohh...namanya Cherry ya ? Anjingnya lucu, namanya juga lucu...Sakit apa si Cherry, Mbak ?", tanpa mengalihkan pandangannya dari Bruncuz. Gue pun tersenyum paling manis dan sambil menahan tawa menjawab, "Cherry nama saya, Bu...Ini Bruncuz. Dia ngga sakit kok, dibawa kemari untuk divaksin aja."

Berhubung ini adalah rumah sakit hewan, memang terkadang petugas loket atau asisten dokter hewan seringnya memanggil nama sang binatang peliharaan.

Bruncuz memang lucu, dan dia adalah anjing yang akan membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati. Bruncuz bersikap pemalu, bukan agresif. Dan semoga mulai hari ini Bruncuz menjadi anjing yang lebih sehat dari sebelumnya.

Friday, January 25, 2013

Mr. Freak, Pendengkur Sakti dan Si Celana Dalam

Tinggal di dorm room adalah bagian dari kisah bekpekeran gue. Ini adalah pengalaman yang lebih kaya rasa, karena banyak hal bisa terjadi. Berbagi kamar dengan beberapa orang lainnya, baik pria maupun perempuan, dengan segala keragamannya akan selalu menghasilkan pengalaman yang bisa jadi seru, lucu, atau menyebalkan.

Untuk trip kali ini ke Vientiane, Laos, gue menginap di mix dorm room yang terdiri dari 16 ranjang, di Vientiane Backpacker Hostel. Gue tertarik untuk reservasi di tempat ini karena review yang gue baca di hostelbookers.com. Dari segi lokasi, hostel ini sangat strategis. Dengan harga hanya sekitar USD 5 per malam, gue merasa mendapatkan lebih dari yang gue harapkan. Kamarnya lumayan luas dan bersih, dengan 16 bunk bed, 1 AC, dan 2 kipas angin.

Saat gue check in, kamar gue sepertinya sudah full. Gue menempati ranjang nomor 8 yang letaknya di bawah, dekat dengan jendela. Penghuni yang menempati ranjang di sebelah gue namakan Mr. Freak. Gue merasa gerak - geriknya yang selalu tampak tegang, kikuk, dan canggung itu agak ganjil. Tentu saja, karena gue selalu beransumsi bahwa orang yang tinggal di hotel atau hostel berarti sedang berlibur...lalu kenapa ada orang yang tampak tegang dan stress seperti itu berkeliaran di hostel...tepatnya ada di sebelah ranjang gue. Sore tadi gue melihat dia tampak serius memandangi langit - langit ranjangnya. Gue sampai penasaran dan mencuri cara untuk melihat apa yang ada di langit - langit ranjangnya.Tentu aja ngga ada apa - apa selain ranjang penghuni yang tinggal di atasnya karena itu merupakan bunk bed alias kasur tingkat.

Malam itu gue sedang asyik duduk di lantai sambil mengerjakan jurnal, daftar pengeluaran uang di hari itu. Mr. Freak masuk ke kamar dan nampaknya bersiap - siap untuk tidur. Mula - mula dia melepaskan kemejanya. Saat itu mungkin gue sedang mencatat pengeluaran untuk internet dan telepon internasional hari itu. Setelah itu gue melihat Mr. Freak bersiap - siap untuk membuka celana panjangnya. Dengan spontan gue langsung membalikkan arah pandangan gue ke pintu masuk. Gue mungkin nampak berhasil menutupi rasa kaget dan bingung dengan kesibukan gue membuat jurnal...5,000 Kip untuk pop corn...orang yang aneh...50,000 kip untuk makan malam....memangnya dia mau tidur dalam keadaan telanjang ??....35,000 kip untuk beli bandana...kenapa dia harus pilih kasur di sebelah gue ??? Jurnal selesai, dan gue merebahkan badan lelah di ranjang.

Segalanya tampak menyenangkan sampai ketika ketenangan tidur gue terganggu oleh suara dengkuran yang maha dahsyat kencangnya. Sebagai orang yang terbiasa tidur di dorm room seharusnya telinga gue cukup terlatih untuk tahan dengan berbagai suara berisik di saat  tidur...tapi kali ini, suaranya terlalu bising dan mengganggu. Dengkuran ini berhasil membangunkan gue dari tidur yang seharusnya nikmat dan nyenyak. 

Gelap. Gue ngga tahu dari ranjang mana suara dengkuran itu berasal. Mr. Freak ternyata juga terbangun dan dalam kegelapan pun gue tahu dia merasa gelisah dan terganggu dengan suara dengkuran. Gue bahkan bisa mendengar dia menggumam sesuatu...pasti mengeluh. Gue mencoba menutup telinga dengan bantal, namun sia - sia karena suara dengkurannya terlampau keras, dan sebuah bantal tipis bukan tandingannya. 


Di pabrik tempat gue bekerja, ada prosedur dinamakan noise mapping untuk mengukur tingkat kebisingan di area kerja tertentu. Apabila tingkat kebisingannya berada di level tertentu, karyawan yang bekerja di area tersebut direkomendasikan menggunakan earplugs atau earmuffs, demi menghindari resiko atau bahaya bagi karyawan, baik untuk jangka waktu pendek maupun panjang. Suara dengkuran yang sedang gue dengarkan saat ini jika diukur pasti berada di level kebisingan maksimal. Gue bingung dengan kompleksnya suara yang gue dengar, dan gue sampai berkesimpulan bahwa si pendengkur pasti memiliki masalah THT serius.

Dalam gelap, gue melihat bayangan seseorang melewati ranjang gue, dan beberapa detik kemudian membuka pintu kamar. Gue pikir, penghuni yang barusan lewat itu pasti salah satu korban yang terpaksa terbangun gara - gara suara dengkuran yang belum jelas dari mana asalnya. Di saat itu, gue pasrah tidak akan bisa melanjutkan tidur. Gue lihat jam, 2.30 pagi. Gue pun bangkit dan hendak meninggalkan kasur. Di saat itulah gue terkejut bukan main karena ternyata si pendengkur sialan tidur di ranjang sebelah gue. Jelas aja suara dengkurannya nyaring terdengar ! Jadi, di kamar ini gue tidur di antara orang aneh dan pendengkur sakti....gue adalah orang paling beruntung sedunia!

Kali ini gue menghadap ke arah lorong kamar, ke ranjang - ranjang lain yang ada di seberang gue. Di saat itulah si penghuni yang tadi meninggalkan kamar kembali. Meskipun gelap, namun berhubung mendapat sedikit cahaya lampu dari rumah sebelah, gue bisa melihat si penghuni tersebut ketika melewati gue. Dan lagi - lagi gue harus terkejut. Seorang lelaki dengan santai melintas dengan hanya mengenakan celana dalam....bukan celana pendek, melainkan celana dalam. Di saat gue menahan rasa dingin dengan mengenakan celana panjang, kaos kaki, jaket dan selimut, orang ini berjalan kesana kemari hanya dengan celana dalam. Sekonyong - konyong gue merasa sedang tersesat di negeri kumpulan orang - orang aneh. 

Si Celana Dalam mendekat ke jendela, dan membukanya. Untuk apa orang membuka jendela pada jam 2 pagi ? Lagian dia mengharapkan pemandangan apa dengan membuka jendela, karena jendela tersebut hanya menghubungkan dengan tembok rumah sebelah. Lalu gue melihatnya berbalik ke arah pintu...lalu kembali ke jendela....lalu ke arah pintu lagi...dan gue ngga tahu kemana lagi dia melangkah. Gue mencoba untuk menutup mata dan melanjutkan tidur. Walaupun tidak senyenyak yang gue harapkan, tapi gue berharap paling tidak badan gue bisa beristirahat sejenak.

Saat pagi menjelang dan gue hendak ke kamar mandi, gue menemukan botol bir di dekat kasur si Pendengkur Sakti. Di ranjang gue berjejer botol - botol air mineral...sementara si Pendengkur Sakti membawa botol bir ke dalam kamar....dalam keadaan tumpah hingga membuat genangan kecil.

Bukan hanya kegaduhan di tengah malam, hal - hal lain yang belum biasa gue liat pun kadang bikin gue tertawa. Misalnya di kamar ini ada yang meletakkan sepatu bootnya yang sebenarnya kotor, tepat di kasur yang akan ditidurinya. Mungkin bootnya itu memiliki nilai histori yang luar biasa, atau si pemilik membelinya seharga trilyunan rupiah sampai - sampai dia tidak rela meninggalkan di pintu luar, seperti penghuni - penghuni lainnya. Di hari berikutnya Mr. Freak menjemur dan menggantung celana dalamnya di langit - langit kasurnya. Jadi, di saat gue merebahkan kepala di bantal, celana dalam itu posisinya hanya beberapa jengkal saja dari mata gue. Bukan pemandangan yang biasa, namun bukan pula istimewa. 

Seperti gue bilang tadi, tidur di dalam kamar hostel adalah pengalaman yang seru, dan juga menantang. Tidak kalah menantang dibandingkan kehidupan gue di siang harinya saat harus menjelajah setiap jalan - jalan di kota, hanya bermodalkan peta. Tinggal di kamar juga memerlukan perjuangan tersendiri. Berjuang untuk sanggup bertoleransi kepada penghuni kamar lainnya, dan merasa nyaman di tengah kondisi yang tidak biasa.

Saturday, October 20, 2012

Cerita Anjing : Dog House

Sejak akhir September yang lalu Bruncuz resmi memiliki rumah permanen sendiri. Ini adalah salah satu wujud keinginan gue untuk menyediakan tempat hidup yang lebih nyaman buat Bruncuz. Istimewanya, rumah Bruncuz berhasil dibangun atas kerja keras Mama dan Bapak.

Ide pembangunan rumah ini berawal karena kekhawatiran gue dengan kondisi rumah Bruncuz sebelumnya yang super alakadar di halaman belakang. Bruncuz memang ngga boleh masuk dan tidur di dalam rumah keluarga, namun gue tetap ingin Bruncuz punya teritori sendiri, dimana dia bisa mendapatkan kenyamanan ala rumah, di sepanjang siang dan malamnya. Ide ini sempat terpikir beberapa bulan yang lalu, hanya saja saat itu bagi gue mustahil untuk mewujudkannya karena terbentur ijin dari Mama.

Mama memang tidak menyukai anjing. Namun belakangan Mama banyak mengalah berkompromi, karena menyadari bahwa anjing adalah sahabat yang penting dalam hidup gue. Terlebih belakangan ini, dimana hari - hari gue dipenuhi dengan stres dan tekanan terutama dari pekerjaan. Mama tahu, Bruncuz banyak membantu dalam proses gue melepaskan diri dari stres. Rutinitas yang gue lakukan dengan Bruncuz banyak membantu gue agar relaks dan santai.

Setiap pagi dan sepulang kantor, gue akan menghabiskan beberapa saat di halaman belakang, bersama Bruncuz. Yang paling istimewa dari seekor sahabat anjing adalah betapa penat dan stresnya gue, dia takkan pernah bertanya, dan akan menunjukkan support dan perhatiannya dengan caranya sendiri. 

Karena waktu gue banyak dihabiskan di halaman belakang, dan karena Bruncuz adalah sahabat istimewa gue, Mama mengijinkan saat gue meminta dibuatkan rumah permanen untuk Bruncuz berukuran 1.5 x 1.5 meter. Di luar dugaan, Mama justru rela repot dan aktif untuk mengawasi pembangunan rumah Bruncuz dari awal hingga penyelesaiannya. Mulai dari mencari tukang, memilihkan bahan bangunan, dan menentukan model dan ukuran rumah. Ngga jarang gue lihat Mama dan Bapak berdiskusi serius mengenai proyek rumah Bruncuz ini. Kadang mereka bersilang pendapat misalnya mengenai bentuk pintu rumahnya, atau tipe keramik yang dipakai, atau lokasi rumah itu sendiri. Mama dan Bapak bagaikan manager proyek dengan tugas masing - masing, Mama yang mengatur segala sesuatunya, dan Bapak yang lebih bertanggung jawab di proses pengerjaannya bersama tukang. 

Suatu hari, saat keempat tembok rumah sudah terbangun, Mama kecewa bukan main melihat pintu rumahnya yang menurutnya menjadikan rumah menjadi seperti kuburan. Mama kesal karena pembuatan pintunya dilakukan saat Mama tidur siang, dengan kata lain, lolos dari pengamatannnya, dan hasilnya mengecewakan. Keesokan harinya, bentuk dan ukuran pintu sudah berubah. Mama yang terkejut melihatnya, puas dan senang dengan perubahan itu. Ternyata semalaman Bapak bekerja keras sendirian untuk mengubah bentuk pintu supaya sesuai dengan rencana Mama. Dedikasi Mama dan Bapak untuk mewujudkan istana untuk Bruncuz sungguh luar biasa.

Setelah seminggu, rumah Bruncuz pun berdiri dengan megah dan indahnya. Rasa senang gue bercampur dengan rasa haru, begitu melihat rumah yang jauh lebih indah dari yang gue bayangkan dan rencanakan.

Rumah Bruncuz yang megah itu adalah simbol rasa sayang Mama dan Bapak. Mereka mengenyampingkan rasa tidak sukanya terhadap anjing, dan berbalik mendukung gue untuk mewujudkan rasa sayang pada anjing. Dengan caranya yang unik mereka menyatakan bahwa apapun yang membuat gue bahagia, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar dan memberikannya. Walaupun mereka kesal setiap kali melihat gue berinteraksi terlalu akrab dengan Bruncuz, namun mereka justru berusaha untuk membuat tempat bermain gue dan Bruncuz senyaman mungkin. 

Dan untuk Bruncuz sendiri, rumah ini adalah istana yang menyediakan kenyamanan dan kehangatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sekarang gue ngga khawatir lagi dengan kondisinya sehari - hari, karena gue tahu Bruncuz sudah memiliki tempat perlindungan yang kokoh. Terima kasih Mama dan Bapak.

Wednesday, October 17, 2012

Terima Kasih Yesus Atas Doa Yang Terjawab

Hari ini gue senang bukan main. Akhirnya, kabar yang gue tunggu - tunggu beberapa hari terakhir pun datang di siang hari. Gue diterima kerja di perusahaan yang gue idam - idamkan selama setahun terakhir ini. Istimewanya, selain seluruh prosesnya berlangsung sangat cepat, anugerah ini datangnya juga ngga disangka - sangka. 

Gue sudah mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tempat gue bekerja sejak akhir bulan lalu. Rencananya gue ingin berlibur, menenangkan dan menyenangkan diri beberapa saat, mungkin berkeliling Asia Tenggara selama beberapa minggu, lalu kembali ke Jakarta, dan mulai menata hidup lagi dengan mencari pekerjaan baru.

Ini bukan keputusan yang mudah dan bisa gue ambil dengan cepat. Banyak pertimbangan yang harus gue lalui, banyak kekhawatiran yang sering menunda keputusan gue. Namun, rasanya gue sudah terjebak dengan rutinitas bekerja yang semakin hari dipenuhi dengan stres dan tekanan. Gue senang bekerja, tapi ngga suka kalo pekerjaan membelenggu dan menekan gue. Di saat yang sama, gue dihinggapi rasa bosan bekerja. Ini mengejutkan, terlebih untuk Mama, karena selama ini anak perempuannya adalah sosok yang super aktif dan menikmati bekerja. Tapi fisik dan pikiran gue berkata lain....Gue ingin mengubah pola rutinitas gue...gue pengen bangun di siang hari....menonton televisi kapan pun gue pengen....memelihara dan bermain dengan banyak anjing...dan tentunya, liburan.

Belum genap seminggu yang lalu, gue menerima telepon dari seseorang yang gue kenal. Seseorang yang menilai kinerja kerja gue selama ini sangat positif dan menghargainya. Yang paling menarik, seseorang yang bekerja di perusahaan idaman gue. Dia sudah mendengar kabar pengunduran diri gue, dan hendak menawarkan sebuah posisi di perusahaan tempatnya bekerja. Gue cuma terkejut dan senang luar biasa.

Keesokan harinya, rangkaian perjuangan gue untuk meraih pekerjaan di perusahaan idaman pun dimulai. Wawancara demi wawancara....tes demi tes, termasuk tes kesehatan, pun gue lalui. Dan hari ini, seseorang yang baik hati itu menelepon dan bilang, "Selamat ya Cher...hasil kesehatanmu Obesitas, tapi kamu diterima kerja di sini...." Gue langsung berlari mencari arah aman untuk berbicara panjang lebar mengenai berita sukacita ini. Dia pun menutup pembicaraan dengan berkata, "Bekerjalah sehebat yang gue tahu selama ini Cher...bahkan kalau bisa lebih hebat lagi!".

Rasa bahagia dan bersyukur meluap - luap memenuhi hati gue. Gue langsung menelepon Mama. Mama adalah rekan seperjuangan gue selama pergumulan panjang beberapa waktu belakangan. Mama mendukung penuh saat gue mengundurkan diri. Mama setia mendengarkan keluh - kesah gue yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan yang terpenting, Mama selalu mendoakan gue, termasuk selama proses berusaha untuk masuk bekerja di perusahaan yang baru ini. 

Ini adalah mukzizat dari Yesus. Lagi - lagi gue dibuatNya takjub. RencanaNya di luar perkiraan dan jauh dari apa yang gue pikirkan. Gue ingin istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan, namun Yesus menentukan lain. Setiap saat gue panjatkan doa pada Yesus, agar setiap usaha gue untuk mendapatkan pekerjaan ini dilancarkan dan diberkati. Gue juga selalu berdoa Novena Tiga Salam Maria. Ini adalah doa Katolik yang gue kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar di Santo Markus. Doa yang selalu gue kumandangkan di saat gue memanjatkan permohonan - permohonan khusus....doa yang sangat menguatkan dan memberikan keyakinan bagi diri gue. 

Terima kasih Yesus...terima kasih Bunda Maria....sebuah langkah awal bagi perjuangan baru gue. Pastinya, sebuah anugerah yang sangat istimewa.

Saturday, October 06, 2012

Cerita Anjing : Daging Mentah vs Makanan Kaleng

Sejak memutuskan untuk bersahabat dengan Bruno alias Bruncuz, anjing rumah, gue berkomitmen untuk lebih memperhatikan kondisinya, terlebih urusan makanan. Selama beberapa tahun Bruncuz terbiasa makan makanan apapun yang diberikan Mama, Bapak atau Riko. Pastinya makanan sisa seadanya. Apa yang anggota keluarga makan, itulah yang akan dimakan oleh Bruncuz.

Kali ini gue berjanji, meskipun Bruncuz sudah cukup tua dari segi usia, urusan makanannya akan menjadi salah satu prioritas gue. Apalagi, Bruncuz adalah partner jogging pagi gue setiap hari. Ngga bisa diingkari, kebutuhan makanan Bruncuz harus dipenuhi, berhubung aktivitas barunya yang pasti membutuhkan sumber gizi seimbang. Awalnya gue membeli makanan daging olahan yang dikemas dalam kaleng. Agak susah untuk mengenalkan jenis makanan ini ke Bruncuz, mengingat pola dan jenis makanan selama kurang lebih 6 tahun terakhir. Sebagai 'snack' gue juga selalu memberikan Bruncuz keju.

Sebenarnya gue juga pengen beli biskuit khusus anjing, atau mungkin jenis makanan 'dry food'. Tapi gue ragu, apakah Bruncuz akan suka. Terlebih, apakah makanan tersebut memang baik dari segi kesehatan. Gue ngga nyaman dengan konsep 'dry food' karena menurut gue sangat jauh dari alami. Memang makanan yang praktis, dengan janji - janji mengandung segala macam jenis dan sumber gizi yang dibutuhkan oleh anjing. Tapi 'dry food' ini ada di urutan terakhir dalam daftar makanan yang ingin gue berikan buat Bruncuz.

Suatu saat gue nonton acara Dog 101 di channel Animal Planet, yang kebetulan membahas salah satu konsep makanan, yang sebenarnya sampai saat ini masih menjadi kontroversi, yaitu daging mentah untuk anjing. Gue tertarik dan sejak itu mencari - cari sumber informasi mengenai daging mentah ini melalui internet. 

Saat ini, Bruncuz secara rutin makan daging mentah atau setengah matang. Perubahan jenis makananBruncuz menuntut gue untuk lebih rajin dan bersedia menyediakan waktu extra. Misalnya, gue harus ke hipermarket yang menjual daging ayam segar setiap 3 hari sekali. Selain itu, untuk menyiapkannya pun dibutuhkan waktu ngga sedikit. Berhubung stok daging untuk Bruncuz gue simpan di freezer, otomatis gue harus memastikan saat waktunya Bruncuz makan, daging tersebut ngga dalam keadaan beku atau dingin. 

Ada 2 jenis daging yang gue kasih ke Bruncuz di setiap waktu makannya. Yaitu daging ayam mentah  bertulang (biasanya gue rendam di air matang terlebih dahulu selama beberapa menit supaya tidak terlalu dingin atau beku), kedua adalah daging sapi giling untuk campuran nasi. Untuk penyajiannya, gak perlu menambahkan garam, minyak atau bumbu lainnya. Nasi hanyalah salah satu makanan alternatif. Kadang Bruncuz terlalu bosan untuk melahap nasi, maka di saat  - saat seperti itu gue hanya akan memberikannya beberapa potong daging untuk disantap. Bagi Bruncuz, tidak pernah ada kata bosan untuk daging mentah. Dia akan melahap dagingnya dengan penuh nafsu dan semangat.

Melihat semangatnya Bruncuz makan, menghapus lelah dan repot gue. Gue sudah mulai melihat perubahan positif dari fisik Bruncuz. Menurut yang gue baca, daging mentah baik untuk kesehatan pencernaan, gigi, bahkan bulunya. Konsep ini banyak ditentang kalangan ahli. Menurut mereka, dengan menhidangkan daging mentah untuk anjing, si pemilik sama saja membiarkan salmonella, e-coli, dan bakteri berbahaya lainnya masuk ke tubuh anjing. Teori ini sedikit menakutkan buat gue. Tapi teori lain menentang, dan mengatakan bahwa sistem percernaan anjing tidaklah sama dengan manusia.

Jadi, sampai saat ini Bruncuz bertahan dengan makanan barunya, daging mentah. Tidak ada lagi makanan kaleng, atau keju. Walaupun masih ada sisa makanan kaleng yang gue belikan untuk Bruncuz sebelum mengenal konsep daging mentah, tapi gue memilih untuk membuangnya. Sebisa mungkin, selama masih dalam jangkauan pengamatan gue, Bruncuz tidak lagi makan produk kalengan yang pastinya mengandung banyak bahan pengawet, atau makanan manusia, yang ditambahi dengan bumbu dan garam. 

Dari segi biaya, menyediakan daging mentah memang sedikit lebih mahal. Setelah gue hitung - hitung, dengan harga daging sapi giling berkisar Rp. 7,000 - 8,000 per 100 gr, dan punggung atau sayap ayam sekitar Rp. 2,500 - Rp. 3,000 per potong, total biaya makan Bruncuz adalah sekitar Rp. 5,000an per harinya, belum termasuk nasi. Sampai sekarang gue masih merancang rencana penghematan biaya makan Bruncuz. Hal ini perlu gue lakukan karena sebentar lagi Bruncuz akan memiliki teman seekor rottweiler bernama Bernice yang gue adopsi dari Pejaten Shelter. Tentu saja tanpa mengurangi kualitas dan bobot makanan yang wajib gue berikan. Paling tidak dalam sehari Bruncuz harus mengkonsumsi makanan sebanyak 3% dari total berat tubuhnya.

Hal positif yang gue petik adalah gue menyadari bahwa memelihara anjing merupakan komitmen besar, dimana gue harus mau mengemban tanggung jawab untuk segala hal yang berhubungan dengan sahabat baru gue ini. Salah satunya urusan makanannya ini. Bruncuz adalah sahabat gue yang baik dan menggemaskan. Sahabat yang menerima gue apa adanya, baik gue dalam keadaan ngga punya duit, sedih, atau stress sekalipun. Jadi, sebisa mungkin, gue berjanji akan merawat Bruncuz. That what friends are for, right ?