I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Thursday, January 16, 2014

Birthday : Gratis Day


Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun gue. Ritualnya, gue punya hadiah untuk diri sendiri, yaitu trip bekpekeran, yang akan gue lakukan minggu depan. Namun selain itu, sebenarnya gue berniat melakukan sesuatu di luar kebiasaan, pas di hari H. Banyak tujuan, tapi lagi males merencanakannya. Jadilah gue memulai hari istimewa itu dengan santai dan tanpa rencana jelas. 

Gue ke gereja jam 6 pagi, karena ingin membuka hari istimewa dengan rasa syukur kepada Yesus yang sudah memberikan gue kehidupan, berkat & anugerah tiada henti. Selepas gereja, gue menuju Pejaten Village. Maksudnya pengen sarapan dan nraktir Ony. Tapi ternyata Pejaten Village masih tutup, dan baru buka jam 9 pagi. Biar ngga rugi - rugi amat karena musti bayar parkir, pagi itu gue makan bubur ayam di kantin karyawan yang ada di dalam lokasi Pejaten Village.

Dari Pejaten Village gue menuju sebuah salon di Pasar Minggu, pengen massage. Gue udah janji untuk memanjakan diri sendiri di hari ulang tahun. Selama dipijat, pikiran gue melayang - layang, mencari ide, apa yang akan gue lakukan selanjutnya. Harus lain dari biasanya.

Akhirnya idenya muncul : gue akan mencari restoran - restoran yang menyediakan makanan gratis bagi yang berulang tahun. Seketika gue jadi bersemangat. Meskipun hujan tiada henti dari pagi tadi, gue dan Ony mencari lokasi target pertama : restoran steak Holycow! di kawasan Kemang. Walaupun sempat kelewatan dan musti berteduh dulu di SPBU karena hujannya dahsyat, akhirnya gue tiba di Holycow! yang beralamat di Jalan Kemang Raya No. 95E, depan Bank Panin.

Gue langsung menuju meja kasir dan dengan senyum bahagia dan terlalu percaya diri nanya ke salah satu staffnya, "Mas, promo makan gratis untuk yang berulang tahun masih ada ?" Dan yang ditanyakan pun menjawab, "Masih, Mbak..." Tapi, wajahnya bingung dan bengong gitu ngeliatin gue. Gue pun penasaran.
"Kok Masnya bingung gitu mukanya ?"
"Iyah...abis Mbaknya basah gitu...." dengan sikap malu - malu.
"Khan di luar hujan, Mas..." jawab gue singkat. Sudahlah, permbicaraan ngga penting.

Gue pun langsung naik ke lantai 2. Setelah beberapa saat gue menebak - nebak si Mas Staff tadi pasti terbingung - bingung plus tersanjung, betapa besarnya tekad gue untuk menikmati hidangan steak Holycow!, sampai - sampai rela menerobos hujan badai segala. Iyalahh...gratis !

Ada 2 pilihan gratisnya : Holysteak part 1 atau part 2. Gue ngga berlama - lama perhatiin deskripsinya di buku menu, mata gue langsung tertuju pada keterangan berat masing - masing daging steak yaitu 250 gram untuk part 1 dan 450 gram untuk part 2. Dengan mantap gue langsung order Holysteak part 2 dengan saos barbeque, senilai Rp. 115,000  (belum termasuk pajak). Untuk minumnya, gue pilih yang paling murah meriah (paket gratis ngga termasuk minum): teh tawar hangat refill seharga Rp. 15,000. Steaknya besar, juicy dan lezat bukan main. Blasssss.....450 gram daging steak dan 2 cangkir teh panas, lenyap seketika....pindah ke lambung gue.

Target berikutnya adalah Loobie Lobster & Shrimps, di Jalan Gunawarman No. 32, Kebayoran Baru. Tempatnya sempit tapi ramai pengunjung. Gue dapat bangku di pojok, menghadap ke tembok. Begitu pelayan datang untuk mencatat pesanan, gue langsung sodorin pajangan menu yang ada di meja, "Saya mau yang ini, masih berlaku kan ?" sementara jari gue menunjuk tulisan : Free Lobster On Your Birthday!.

Pesanan pun dicatat, ngga lupa KTP asli gue diminta untuk diberikan ke kasir sebentar. Ngga lama, pelayannya datang lagi mengembalikan KTP gue, sambil menyodorkan sebuah bando ulang tahun yang sebenarnya (agak) norak. Sempat agak - agak malu makenya, mengingat ramainya pengunjung. Gue pastinya nampak seperti pembeli semi sinting pagi itu. Tapi menikmati makanan lezat gratis yang ada di hadapan gue, lama - lama bikin lupa ada bando boneka nangkring di kepala. Di sini, yang berulang tahun berhak menikmati paket Half Lobster senilai Rp. 65,000 (belum termasuk pajak). Selain itu, gue juga memesan minuman paling murah, Ice Lemon Tea seharga Rp. 13,000 yang disajikan di gelas berukuran jumbo.

Lobster ulang tahun...thanks, Loobie !
Bando ulang tahunnya Loobie

Ice Lemon Teanya Loobie : jumbo, segar, irit
Masih diiringi hujan yang kadang rintik kadang deras, gue dan Ony kembali ke Pejaten Village. Rencana awalnya mau nonton (kalau ada film menarik), sekalian ke counter The Body Shop karena pagi ini gue menerima sms dari The Body Shop, mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus info bahwa gue bisa mendapatkan hadiah ulang tahun dari mereka. Namun lagi - lagi kedatangan gue ke Pejaten Village yang kedua kalinya di hari itu berujung sia - sia. Pertama, ngga ada film menarik yang bisa ditonton. Kedua, gue ngga bisa mengklaim hadiah ulang tahun dari The Body Shop karena ngga membawa kartu member. Gue pun meninggalkan lokasi.

Target selanjutnya, Ayam Bakar Mas Mono di Jalan Pejaten Raya Kav. 30. Lagi - lagi, hanya dengan menunjukkan kartu sakti, KTP, gue berhak menikmati pake nasi + ayam bakar + lalap + sambal dan es teh manis, senilai kurang lebih Rp. 19,000. Gila.....saat itu belum juga jam 4 sore, tapi itu adalah acara makan gue yang keempat di hari itu.

Ronde berikutnya : Ayam Bakar Mas Mono
Abis beef steak...lalu lobster....lalu...eng...ing..eng...Ayam Bakar Mas Mono !
kenyang...puas....nyengir...
Setelah gue mengambil kartu member The Body Shop, tujuan berikut ke Pecel Lele Lela di Jalan Margonda Raya, untuk acara makan gratisan berikutnya. Onde mandeee....hari ini rasanya kayak lagi makan di restoran all you can eat. Perut gue rasanya udah full...tapi harus diisi lagi dan lagi...biar ngga rugi. Rugi melewatkan kesempatan makan gratis, maksudnya. Bedanya, kalau biasanya makanan udah disiapkan di depan mata, cukup jalan kaki beberapa langkah untuk ngambilnya, kali ini gue harus loncat ke resto - resto di area yang beda - beda. Musti nyari - nyari alamatnya dulu....hujan - hujanan pula.

Kedatangan gue di Pecel Lele Lela disambut dengan greeting khas restoran ini oleh salah satu staff yang berdiri di depan, "Selamat pagi, selamat datang di Pecel Lele Lela" (padahal gue tiba di sana sekitar jam 8 malam) yang kemudian diikuti oleh staff - staff lainnya secara kompak, "Selamat pagggiiiiii!!!" Hmmm.....rasanya jadi ngga enak. Ramah dan bersemangat banget mereka, padahal gue kesini cuma buat "nagih" makan gratisan.

Seperti di tempat - tempat sebelumnya, gue disambut oleh staf dan pelayan yang ramah yang selalu mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dengan senyum mengembang, begitu gue sodorkan KTP. Satu paket nasi + lele original + lalap + sambal + es teh manis senilai Rp. 19,000 pun tersaji di meja gue, siap menjadi santapan kelima di hari itu. 

Paket Ulang Tahun Pecel Lele Lela
f.r.e.e, Sodarah - Sodarah!
Dari Pecel Lele Lela gue menuju Margo City untuk mendapatkan hadiah ulang tahun. Di sana SPG yang ramah menyerahkan 1 botol kecil Japanese Cherry Blossom Body Lotion serta birthday voucher senilai Rp. 50,000, sambil mengucapkan "Selamat Ulang Tahun".

Cherry Blossom Body Lotion for Birthday Cherry
 Malam itu di atas ranjang, gue menghitung - hitung 'keuntungan' alias nilai traktiran yang gue nikmati hari itu sbb. :


Lumayan....baik dari segi nominal maupun pengalaman serunya. Hujan - hujanan ke sana kemari, nunjukkin KTP kemana - mana untuk membuktikan gue berulang tahun di hari itu, sekedar untuk mendapatkan makanan gratisan atau hadiah, serta mendapatkan ucapan selamat berulang tahun dari orang - orang yang baru pertama kali gue temui....Serunya lagi, seharian bisa nikmati berbagai menu berbeda mulai dari hidangan sapi, lobster, ayam, dan terakhir, lele, yang semuanya gratis, cukup dengan modal cuek (...eh, ngga tau malu.....eh, percaya diri....Ahhhh...samalah itu artinya...!) dan KTP asli. Pas banget sama prinsip bekpekeran gue : murah penting, tapi gratisan itu MAHA PENTING BANGETT !

Selamat Ulang Tahun, Ceiii....! Semoga tahun depan resto - resto baik hati kayak gini bertambah. Amen.

Wednesday, November 27, 2013

"Medical Reimbursement : ....... "

Barusan intip slip gaji bulan November, dan....senang bukan kepalang...biaya vaksinasi kanker serviks yang gue keluarkan, ternyata dibayarkan oleh perusahaan. Padahal sejak awal gue siap untuk menanggung biayanya secara pribadi. Dan untuk mencapai tingkat kesiapan dan kerelaan itu (terkadang gue bisa sangat pelit pada diri sendiri), gue memerlukan waktu bertahun - tahun. Bayangkan, gue sudah berencana untuk melakukan vaksin saat gue masih bekerja di perusahaan A. Kemudian gue pindah kerja di perusahaan B, dan lalu gue pindah lagi ke perusahaan C, yaitu tempat gue bekerja saat ini. Dan hasil pertimbangan gue yang terlalu lama itu ternyata memberi hasil. Jadwal vaksin kedua gue tepat bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan perusahaan bahwa vaksinasi jenis ini ditanggung oleh perusahaan.

Senangnya karena banyak hal. Satu, gue mendapatkan uang gue kembali. Kedua, ada perasaan lega dan salut pada managemen perusahaan karena kesediaannya menanggung biaya vaksinasi ini menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada karyawatinya. Di perusahaan - perusahaan lainnya, secara umum biasanya biaya vaksinasi, khususnya untuk orang dewasa tidaklah ditanggung. Kebanyakan perusahaan hanya bersedia menanggung biaya sakit, bukan tindakan pencegahannya seperti vaksinasi ini. Ini berdasarkan hasil pengalaman gue pribadi yang berloncat ria dari satu perusahaan ke lainnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Hari Senin (25 Nov) yang lalu perusahaan ini menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Depok sebagai pemenang kegiatan Penilaian Perusahaan Terbaik Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Perempuan Tingkat Kota Depok Tahun 2013. Gue sebagai salah satu karyawati, mengamini dan turut senang. Menurut gue pribadi, itu bukanlah basa - basi atau sekedar predikat belaka. Gue mengatakan ini bukan untuk pamer atau pun menjilat....meskipun bulan Desember adalah bulan bonus akhir tahun...hehhehehe! Ini murni ekspresi dari rasa senang dan apresiasi gue kepada perusahaan yang telah mengapresiasi sumber daya manusianya. Makasih, perusahaan ! *senyum manis mengembang sambil kipas - kipas slip gaji*

Tuesday, November 26, 2013

Curhat Adopsi

dog walking with Momo
Sekedar curhat. Kemarin (Senin, 25 Nov 2013), rumah gue kedatangan penghuni baru, seekor Siberian Husky jantan usia 5 bulan bernama Momo. Gue ngga suka namanya. Melihat fisiknya yang gagah seperti seekor srigala, seharusnya dia layak mempunyai nama yang lebih baik. Tapi biarlah....karena si Momo sudah telanjur mengenal namanya.

Kehadirannya sebenarnya bukan di saat yang tepat, bukan di saat gue menginginkan anjing lain dalam rumah gue, dalam hidup gue. Secara finansial, sejak gue mulai mencicil sebuah rumah mungil, sebenarnya gue sudah berjanji untuk mengetatkan segala pengeluaran. Gue sudah pernah membuat daftar pengeluaran pemeliharaan anjing, dan angkanya fantastis menurut gue. Tapi, perhitungan gue saat itu adalah untuk anjing lokal seperti Bruncuz. Bukan seekor Siberian Husky dalam masa pertumbuhan seperti yang gue miliki saat ini. Artinya, biaya perawatannya pasti jauh lebih tinggi.

Momo si Husky adalah anjing yang diberikan pemilik sebelumnya ke abang gue. Abang gue suatu saat menelepon dan menanyakan apakah gue mau merawatnya. Gue menolak karena mengetahui bahwa Momo adalah anjing jantan. Bruncuz juga jantan dan menurut gue itu akan menjadi situasi yang tidak mengenakkan buat Bruncuz. Hubungan mereka pasti akan dipenuhi dengan persaingan. Gue gak tega sama Bruncuz, karena kehadiran Momo pasti akan membuatnya cemburu dan lalu stress. Bruncuz cuma mengenal gue seorang dalam hidupnya. Bruncuz adalah penggemar gue nomor satu. 

Namun lalu Abang gue bilang bahwa Momo adalah bocah malang yang harus dilepaskan pemiliknya karena sang istri tidak mengharapkan kehadirannya, dan membiarkannya berkeliaran di sebuah area proyek. Momo, bocah yatim piatu yang tidak mempunyai tempat tinggal dan sumber makanan yang jelas setiap harinya. Ceritanya menjadi demikian dramatis, yang membawa gue ke situasi serba salah. Gue bukanlah pahlawan penyelamat kaum anjing. Namun demi mendengar cerita seperti itu, gue jadi ngga tega. Apalagi Abang gue juga bilang terkadang Momo mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari warga sekitar, misalnya dilempari. Akhirnya gue mengiyakan untuk memelihara Momo.

Memelihara seekor Siberian Husky bukanlah sebuah kebanggaan atau gengsi untuk gue. Justru seakan - akan beban berat baru saja diletakkan di pundak gue yang lemah. Gue ngga mengenal Husky sama sekali. Seperti apa sifatnya, bagaimana merawatnya, bagaimana melatihnya, dan lain sebagainya. Justru selama ini gue pribadi berpendapat seharusnya seekor Husky tidak berada wilayah beriklim tropis seperti Indonesia. Hal itu kejam, bagaimana mungkin seekor Husky yang identik dengan salju 'dipaksa' hidup di sini. Belum lagi, gue diresahkan oleh perasaan bersalah karena kehadiran Momo mengganggu kedamaian dan ketenangan hidup Bruncuz. Semalam, gue di halaman belakang sampai sekitar jam 11 malam, hanya untuk mengawasi keduanya, karena mereka kerap berantam. 

Gue berjanji dalam hati bahwa gue akan melatih Momo sedini mungkin, meskipun belum tahu bagaimana caranya. Gue tahu, apabila gue tidak melatihnya, gue yang akan merasakan segala kerepotannya di kemudian hari. Soal biaya, itu adalah tantangan lainnya. Pagi ini gue meminta tolong pada Mama untuk membelikan gue sekarung beras. Momo adalah anjing besar dan tinggi, yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kebutuhan makannya yang menggila menjadi penyebab utama keributannya dengan Bruncuz. Hal - hal lainnya, sampai saat ini masih menjadi tantangan yang belum gue ketahui bagaimana cara melaluinya. 

Beberapa penyesuaian (baca : pengorbanan) pun harus gue lakukan. Gue bolos berenang karena harus meluangkan waktu untuk mengenal dan melatih kedua anjing gue. Gue juga bertekad untuk membawa keduanya secara bergantian, berjalan kaki setiap paginya, yang artinya bangun subuh adalah kewajiban. Selain Momo harus gue biasakan ber-morning walking di sekitar rumah, hal itu juga harus gue lakukan untuk menyalurkan energi dan naluri bermainnya. Dan banyak penyesuaian lainnya.

Gue harus berusaha untuk tetap berpikir positif. Katanya anjing merasakan energi dalam diri pemiliknya. Jadi sebaiknya gue berusaha senang menyambut kehadiran Momo. Sekali lagi....ini curahan hati belaka dari seorang adopter amatiran.

Thursday, October 31, 2013

Vaksinasi HPV Tahap Kedua

29 Oktober 2013. Gue kembali ke RS. Harapan Bunda untuk mendapatkan vaksinasi HPV tahap kedua. Kalau menurut anjuran Rumah Sakit, seharusnya gue kembali kemarin, 28 Oktober 2013. Tapi berhubung gue sempat lupa dan ditambah dengan jadwal dr. Rina Fajarwati yang lebih pas dengan jam pulang kantor, maka gue pilih hari Selasa, 29 Oktober 2013.

Kali ini gue santai melakukannya. Gue berangkat dari kantor menerobos hujan badai dengan naik mikrolet disambung dengan taksi, demi tiba di RS. Harapan Bunda. Sebelum berangkat gue sempat menelepon ke sana dan ternyata bisa mendaftar sekalian. Jadilah gue ada di daftar tunggu nomor 2.

Selain itu, langkah gue lebih mantap lagi karena sekarang perusahaan tempat gue bekerja sudah menyatakan bersedia untuk menanggung biaya vaksinasi HPV ini. Walaupun disertai dengan berbagai persyaratan, namun tetap saja ini berita gembira.

Seperti proses sebelumnya, vaksinasinya berlangsung kilat. Gue lebih tenang saat dr. Rina menyuntikkan cairan vaksinnya, tanpa perlu memeluk lengannya erat - erat. Setelah itu gue menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi pembayaran. Rincian biayanya : Rp. 160,000 (konsultasi dokter spesialis) ditambah Rp. 700,000 (biaya vaksinasi). Total Rp. 860,000. Gue kumpulkan semua dokumen pembayaran tersebut untuk keperluan klaim ke perusahaan.

Kemungkinan, kalau klaim ini dikabulkan oleh perusahaan, gue adalah karyawan pertama yang menggunakan benefit ini. Namun, jika pada akhirnya nanti mungkin karena kurang memenuhi syarat maka klaim gue tak terbayar, ini pun sudah gue antisipasi. 

Saat gue mantap untuk memulai tahapan vaksinasi ini, gue sudah sadar konsekuensinya, lebih tepatnya, biaya tidak sedikit yang harus gue keluarkan. Ini adalah satu kebutuhan yang termasuk kritikal, namun cukup menguras kantong. Dan kehadirannya di antara kebutuhan - kebutuhan lainnya seperti cicilan rumah, bantuan bulanan untuk Mama, arisan, cicilan logam mulia, kewajiban menabung, dan pos - pos lainnya, semakin menambah semarak dan berat beban keuangan gue. Dengan demikian, ada hal yang perlu gue korbankan. Salah satunya, harus menahan hasrat traveling sementara waktu.

Tapi setidaknya gue puas karena sudah melakukan apa yang menurut prinsip gue perlu dilakukan dan didahulukan. Masalah kesehatan harus di urutan pertama. Kemarin saat di Rumah Sakit, seorang sahabat yang mengetahui bahwa gue melakukan vaksinasi HPV ini kebetulan menelepon dan dengan santai bilang, "Mahal amat ah....Gue nanti - nanti aja deh...kalau udah nikah. Biar suami gue aja nanti yang bayarin." Gue cuma tertawa dan dalam hati bersyukur, "Untung Nyonya Sitanggang mendidik dan membesarkan gue untuk menjadi perempuan mandiri. Untuk apa gue menunggu sampai orang lain turun tangan membiayai sesuatu yang positif bagi kesehatan gue, di saat gue sendiri pun diberikan berkah dan rejeki dari Tuhan untuk bisa melakukannya sendiri.

Sampai jumpa, vaksinasi tahap ketiga tahun depan !

Saturday, October 26, 2013

N.A.S.A.R


Gue pernah berjanji...atau mungkin lebih tepat disebut bernasar, akan berjalan kaki dari kantor dan ke rumah. Janji ini sebagai bentuk kecil dari rasa syukur dan senang gue karena diterima kerja di tempat sekarang.

19 Oktober 2013. Pagi ini gue bertekad untuk mewujudkan janji itu. Gue merasa mulai terdesak karena sudah hampir setahun gue bekerja di sini, tapi belum juga gue merealisasikannya. Persiapannya nyaris ngga ada. Namun yang pasti, untuk berjalan kaki 10.2 km melewati Jalan Raya Bogor yang padat dan semrawut, paling ngga pagi ini gue sudah membawa baju, celana dan sepatu olah raga.

Tepat jam 6.30 sore, gue meninggalkan kantor. Rencana awalnya seharusnya tidak semalam ini. Hanya saja gue sempat tertahan di kantor oleh beberapa urusan pekerjaan. Gue memulai langkah dengan santai. Gue belum pernah menempuh perjalanan sekitar 10 km sekaligus, jadi harus bijak menentukan ritme jalan gue yang kadang terlalu cepat dan bersemangat. Gue gak mau kehabisan tenaga atau pegal di tengah jalan nantinya.

Belum apa - apa gue sudah harus mampir di SPBU terdekat, untuk buang air kecil. Sebelum ini, gue sudah melakukan yang bisa gue sebut 'pemetaan'. Gue mencatat dalam pikiran gue, dalam perjalanan gue nanti akan ada sekitar 4 SBPU dimana gue bisa berhenti untuk keperluan buang air kecil. Selain SPBU, gue juga memetakan pusat perbelanjaan, dan bahkan pohon beringin ! Di sepanjang jalan Raya Bogor banyak terdapat pohon - pohon beringin yang kadang ukurannya sangat besar dan raksasa.

Ada satu pohon  beringin raksasa di daerah bernama Lapan yang paling perlu gue antisipasi. Pohon itu terletak di antara kios - kios yang kebanyakan menjual perlengkapan otomotif. Batang pohonnya bahkan menempati satu buah kios di antaranya. Dahan - dahannya terbentang hingga menutupi lebih dari satu ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo. Saat mulai malam dan gelap, sosok raksasanya yang misterius itu cukup bikin gue ngeri. Terlebih, kios - kios yang ada disekitarnya akan tutup pada sore menjelang malam, dan membuat area itu menjadi sepi.

Beberapa ratus meter sebelum melalui pohon itu, gue pun menyeberang jalan. Si penakut yang ingin menaklukkan Jalan Raya Bogor ini pun hanya berani mencuri - curi pandang ke arah sosok beringin dari seberang jalan.

Sepanjang perjalanan gue memang harus beberapa kali menyeberangi jalan. Gue ingin menghindari ruas - ruas jalan yang terlalu sepi, terlalu gelap, atau kurang nyaman dan aman untuk gue lalui.

Gue terus berjalan dan berjalan. Kedua kaki gue mungkin sudah mulai pegal, tapi secara keseluruhan fisik gue masih sangat kuat. Gue sedikit takjub dengan kondisi ini, yang gue asumsinya sebagai hasil positif dari kegiatan renang yang gue lakukan hampir 3 kali dalam seminggu. Yang luput dari persiapan gue adalah, masker. Sebenarnya gue sudah siapkan masker, namun sayangnya gue tinggal begitu saja di laci meja kerja. Gue ngga nyaman pakai masker, sementara untuk perjalanan ini gue ingin mengutamakan kenyamanan semaksimal mungkin. Namun saat gue menempuh perjalanan ini, keputusan itu menjadi sedikit penyesalan. Gue terpaksa harus menghirup udara dan gas kotor yang berasal dari debu jalanan maupun knalpot. Jalan Raya Bogor memang kurang bersahabat terhadap pejalan kaki. Di beberapa bagian jalan, gue bahkan kesulitan mencari ruang untuk berjalan. Kadang gue berjalan dengan berebut ruang dengan para pengendara motor, di tengah kemacetan. Di saat - saat seperti itu rasanya paru - paru gue terisi penuh dengan asap knalpot. Sebenarnya gue bisa berhenti sejenak untuk mampir ke toko terdekat untuk membeli masker. Namun kebiasaan buruk gue saat berjalan kaki adalah sulit berhenti. Berhenti memberi kesempatan untuk fisik gue merasakan lelah dan pegal. Ini harus dihindari.

Menjelang jam 8 malam, posisi gue sudah di sekitar pabrik Khong Guan. Di dekatnya terdapat pusat belanja Naga, yang entah kenapa setiap kali gue lewat situ selalu tergoda untuk mampir dan jajan. Lalu gue mempertimbangkan untuk mencari makan malam. Seperti gue bilang tadi, gue ingin menjalani acara jalan kaki gue malam ini sesantai dan senyaman mungkin, dan gue harus menikmatinya. Kali ini gue ingin menikmati makan malam berupa sate padang yang ada di daerah Keong.

Herannya, gue ngga betah berlama - lama duduk. Jadi gue sekedar menyelesaikan makan malam gue itu, lalu dengan semangat memulai berjalan kaki lagi. Di titik itu, gue udah menemukan kenikmatan berjalan kaki di sepanjang Jalan Raya Bogor yang semrawut. Banyak hal yang bisa gue lihat dan lakukan. Seakan - akan berjalan kaki membuat gue bisa lebih dekat dengan hal - hal menarik yang selama ini tak terjangkau oleh gue. Dengan segala tantangan dan kenikmatannya, perjalanan ini jauh lebih penting dan menarik dari sekedar mencapai tujuan akhirnya.

Sejak awal perjalanan, dua kali gue berhenti karena masalah alas sepatu gue yang hampir copot. Ini adalah perpaduan antara usia pakai sepatu itu yang lumayan lama yaitu 3 tahun, dan jalan berjalan gue yang terlalu cuek dan membuat sepatu apapun yang gue pakai cenderung cepat rusak. Sempat terbersit niat untuk mampir ke toko yang menjual lem power atau semacamnya. Karena kondisi sepatu ini membuat gue terseok - seok, dan ini sangat menghambat perjalanan. Tapi tentunya lagi - lagi gue ogah berhenti. Gue bahkan enggan berhenti untuk menyelamatkan paru - paru gue dari gas beracun tadi, lalu untuk apa gue berhenti untuk sekedar urusan sepatu. Gue pun merobek paksa bagian sol yang terlepas dari sepatu. Masalah pun selesai.

Mendekati daerah Cijantung, gue memutuskan untuk tetap di ruas Jalan Raya Bogor arah Bogor. Karena setiap hari melewati jalan ini, gue sudah sangat hapal bahwa kawasan ini akan berubah menjadi tempat bisnis prostitusi gelap di malam hari. Beberapa wanita atau pria yang ingin menjadi wanita dengan pakaian agak terbuka dan dandanan seadanya akan berdiri di sepanjang trotoar atau (mungkin) menunggu pelanggan di warung - warung kecil yang ada di dekatnya, di sepanjang ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo.

Mal Cijantung pun sudah di depan mata. Gue sudah sering menempuh perjalanan Mal - Cijantung sampai ke rumah. Jadi rasanya misi perjalanan gue sudah hampir berakhir. Mama pasti sedang menunggu gue dengan was - was dan khawatir. Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, seperti biasa apabila gue membawa tas ransel Mama akan menanyakan apakah gue berencana berenang hari ini. Gue jawab, "Ngga Ma. Cei mau jalan kaki dari kantor ke rumah." Senyum semangat terukir di wajah gue. "Apaaaa ?!!!" dan gue lihat wajah Mama sedikit histeris dan berakhir dengan ekspresi dan was - was kesal. Sepertinya Mama sadar, nasihat apapun yang akan disampaikannya, gue akan tetap berjalan kaki.

Gue tiba di rumah tepat jam 9 malam. Mama menyambut kepulangan gue dengan kelegaan mendalam yang terlihat jelas di wajahnya. Bruncuz menyambut gue dengan gonggongan dan loncatan, bersemangat dan berenergi maksimal, seakan - akan sudah 20 tahun ngga berjumpa dengan gue. Ya, meskipun gue sudah kelelahan dan ingin segera mandi, kewajiban malam gue harus tetap dijalankan. Masih dengan pakaian dan sepatu olah raga lengkap, gue memasak dan menyiapkan makan malam untuk Bruncuz. Setelah beberapa saat bermain - main dengan Bruncuz di teras belakang, gue pun mandi dan naik ke ranjang.

Alamak, rasa lelah dan pegalnya menyerbu dengan ganas. Gue pun segera terlelap. Di tengah malam gue dibangunkan oleh rasa sakit di tenggorokan. Ini pastinya efek dari tidak menggunakan masker. Seluruh indra pernafasan di tubuh gue mulai menunjukkan respon atas segala macam udara kotor yang gue hirup di sepanjang perjalanan. Namun semuanya terobati dengan rasa senang dan puas yang gue rasakan. Setelah hampir setahun menunda, akhirnya gue bisa menepati nasar gue. Makasih Yesus!