I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, March 19, 2014

Tips Menitip

Beberapa waktu lalu, hari Sabtu, saat gue hendak memperbaharui kontrak jasa titipan di Pegadaian Persero Pusat, gue mendapat sedikit 'teguran' dari salah satu petugasnya. Pasalnya, udah beberapa waktu belakangan gue selalu telat datang ke sana untuk memperbaharui kontrak. Telatnya pernah dalam hitungan hari, bahkan bulan. Teguran yang sangat positif, karena sang petugas berusaha mengingatkan bahwa di masa antara berakhirnya kontrak sampai saat gue memperbaharuinya lagi, Pegadaian tidak bertanggung jawab atas barang - barang berharga yang titipkan di situ, karena tidak ada asuransi yang melindungi selama gue tidak membereskan urusan administrasinya.

Gue berterima kasih pada petugas tersebut, dan sejak itu gue menggunakan fasilitas alarm di HP untuk mengingatkan gue mengenai jatuh tempo kontrak jasa titipan. Gue udah menggunakan fasilitas jasa titipan ini hampir 3 tahun terakhir. Ini adalah solusi terbaik yang membuat gue tenang, karena urusan penyimpanan barang - barang berharga yang merupakan investasi, gue serahkan ke pihak ketiga, dalam hal ini Pegadaian, dan gue merasa lebih yakin dibandingkan harus menyimpannya sendiri di rumah. Bukan hanya karena gue ngga punya brankas atau tempat penyimpanan dengan level keamanan cukup, namun gue pribadi juga bukanlah orang yang mau bersusah payah menjaga barang - barang berharga. Yang ngga berharga aja bisa hilang....apalagi yang berharga.....Musibah memang bisa datang kapan pun pada siapa pun, tapi setidaknya untuk gue pribadi, Pegadaian memiliki sistem penyimpanan dengan jaminan keamanan yang lebih baik dari lemari buku atau pakaian di kamar gue.

Banyak nilai plus - plus yang gue rasakan dengan menggunakan jasa titipan Pegadaian Persero, yaitu :
  1. Kantor Pegadaian Pusat (alamat : Jl.Kramat Raya 162 Jakarta Pusat) buka di hari Sabtu sampai dengan jam 12 siang. Ini sangat pas untuk gue yang bekerja Senin - Jumat dengan jam kantor normal
  2. Biaya murah, yaitu Rp. 20,000/bulan untuk setiap 100 gram barang berharga. Gue pernah cek di bank BTN, biaya penyewaannya memang lebih murah, namun dikenakan biaya jaminan sekitar Rp. 450,000/tahun. Di Pegadaian Persero tidak dikenakan biaya jaminan
  3. Berhubung gue senang berinvestasi dalam bentuk logam mulia, dan biasanya melakukan pembelian (baik cash maupun cicilan) di Pegadaian juga, jadi serasa layanan satu atap. Beli logam mulia di Pegadaian, dan bisa langsung disimpan di Pegadaian juga.
  4. Lokasinya sangat terjangkau untuk gue. Bisa gue tempuh baik dengan Komuter Line maupun Transjakarta. Dekat dengan lokasi - lokasi 'penting' lainnya. Jadi, sepulang dari sini gue bisa nonton di Metropole XXI atau mampir borong kue dan cemilan di Pasar Jatinegara
  5. Penalty keterlambatan yang sangat ringan. Keterlambatan yang dimaksud adalah apabila pengguna jasa tidak mengurus administrasi perpanjangan kontrak tepat waktu atau sebelum kontrak berakhir. Sebenarnya bisa dikatakan Pegadaian tidak mengenai denda apapun untuk keterlambatan. Karena untuk setiap bulan keterlambatan hanya dikenakan biaya Rp. 20,000 yang berarti sama saja dengan biaya sewa. Periode kontrak baru akan dihitung saat perpanjangan dilakukan, bukan saat kontrak yang sebelumnya berakhir. Misalnya, jatuh tempo titipan gue adalah 31 Januari 2014 dan gue baru datang ke Pegadaian 31 Maret 2014, maka biaya yang dikenakan adalah : 2 x Rp. 20,000 (sebagai biaya sewa Februari dan Maret) + 3 x Rp. 20,000 (sebagai biaya sewa April, Mei & Juni).
  6. Untuk keuntungan lainnya seperti keamanan, asuransi, petugas yang profesional dan kemudahan administrasinya mungkin sama dengan penyedia jasa titipan lainnya.
Namun menurut gue pribadi, masih ada kekurangan dari fasilitas ini, yaitu :
  1. Saat ini baru bisa melayani penyimpanan barang berharga seperti logam mulia dan perhiasan (emas, berlian). Untuk barang berharga seperti surat - surat dan dokumen belum bisa dilakukan di sini
  2. Jangka waktu penyimpanan maksimal adalah 3 bulan. Jadi, setiap 3 bulan apabila hendak dilanjutkan, pengguna jasa harus datang untuk mengurus administrasi. Ini termasuk berat untuk gue yang pemalas ini, dan inilah penyebab gue selalu telat untuk memperbaharuinya. Andaikan Pegadaian menyediakan jangan waktu lebih panjang yaitu 6 bulan atau 1 tahun, pasti sangat menguntungkan buat pengguna jasanya. Mungkin jangka waktu 3 lebih cocok dan tepat bagi pengguna jasa yang frekuensi pergerakan barang berharga yang disimpannya sangat besar.
  3. Fasilitas ini baru tersedia di Kantor Pegadaian Pusat saja
Kesimpulannya, fasilitas jasa titipan Pegadaian sangat membantu orang - orang yang ingin berinvestasi dalam bentuk barang berharga (walaupun alakadarnya), tanpa perlu pusing memikirkan masalah keamanan penyimpanannya.

Monday, March 03, 2014

Nikmatnya Serabi Bogor Ala Pak Tohir


Jika  mendengar kota "Bogor" salah satu hal yang terlintas di pikiran gue pertama kali adalah Serabi Pak Tohir yang ada di Gang Roda, Surya Kencana. Gue udah mengenal dan mencicipi serabi ini sejak beberapa tahun silam. Belakangan gue kembali rajin berkunjung ke Bogor setiap hari Minggu, selain untuk ikut kebaktian pagi di Gereja Zebaoth, juga untuk bisa berkesempatan menikmati surabi ini tentunya.

Di warung tendanya yang terbilang sangat sederhana dan alakadarnya, Pak Tohir menyajikan 2 hidangan jajanan andalannya : serabi dan colenak. Untuk menu minuman, beliau menawarkan teh tawar hangat, es kelapa dan es jeruk. Menu - menu ini belum berubah sejak 10 tahun lalu saat gue pertama datang ke sini. Kenikmatan serabi dan colenak buatan Pak Tohir, menurut gue, belum ada tandingannya. Itu adalah cita rasa yang lahir dari 30 tahun pengalamannya membuat dan menyajikan kedua menu jajanan tersebut. Pak Tohir tidak tergoda untuk menciptakan variasi rasa dan menu, seperti pusat - pusat jajanan yang banyak tersebar.

Colenak
Beliau konsisten dengan rasa orisinil yang dibuatnya dari bahan - bahan terbaik yang diolah dengan cara sederhana pula. Misalnya beberapa tahun lalu, sebagai bahan serabi, Pak Tohir masih menggunakan tepung beras yang ditumbuknya sendiri. Memang sekarang hal itu tidak bisa dilakukan lagi, mengingat kondisi fisiknya yang semakin tua dengan tenaga yang telah berkurang. Untuk kuah gulanya, Pak Tohir mengaku hanya menggunakan gula aren asli, bukan sekedar gula merah, karena menurutnya gula aren memberikan rasa manis yang lebih kuat dan pas untuk kuah surabi dan colenaknya. Surabi dan Colenak akan disajikan dengan teh tawar hangat yang sangat pas untuk menetralkan rasa manis. Perpaduan yang sempurna.
Dapur sederhana Pak Tohir

Memasuki warung tenda Pak Tohir seakan - akan memasuki mesin waktu, yang membawa gue ke masa lampau, dimana hanya ada kesederhanaan, baik yang tercermin dari sikap Pak Tohir si pemilik warung, maupun peralatan dan perlengkapan sangat konvensional di setiap sudut. Juga tersirat dari cara penyajian yang sangat sederhana, tanpa kerumitan maupun suara gaduh. Tidak ada suara bising bersahut - sahutan, karena Pak Tohir menjaga warungnya dan melayani pelanggan hanya sendirian. Selain itu, yang membuat gue betah adalah keramahan Pak Tohir baik kepada pelanggannya maupun kepada siapa saja yang melewati warungnya. Setiap orang yang melintasi warungnya pasti akan saling berinteraksi, bertegur sapa, mulai dari sekedar menanyakan kabar masing - masing, dan obrolan - obrolan ringan sesama warga sekitar.

Surabi
Lalu, apa jajanan favorit gue ? Semuanya, baik serabi maupun colenak. Setiap kali menginjakkan kaki di stasiun Bogor, gue berjanji dalam hati akan menikmati beberapa macam makanan berbeda. Gue pengen makan wedang ronde, ngo hiang, bakso gepeng, soto kuning, tahu Yun Yi, dan lain sebagainya. Semua makanan lezat ala Bogor tersebut satu per satu melayang - layang di pikiran gue. Pada akhirnya, serabi Pak Tohir jadi pemenangnya. Bahkan.....maafkan aku, Yesus....gue sudah membayangkan kenikmatan serabi dan colenak ini disela - sela mengikuti kebaktian di gereja....tepatnya di saat - saat kritis, dimana perut gue dilanda rasa lapar karena tidak pernah sempat sarapan. Sepulang gereja gue akan menikmati menu makan siang yang ngga biasa : seporsi colenak dan 4 buah serabi, dengan 2 gelas teh tawar hangat. Mungkin bukan menu makan siang ideal dengan kandungan nutrisi yang pas dan disarankan para ahli gizi, namun ini adalah cara makan siang yang memberikan kenikmatan tingkat tinggi.

Soal harga, sangat terjangkau dan tidak akan menguras kantong. Harga seporsi colenaknya Rp. 7,000 dan seporsi serabi (2 biji) Rp. 3,000. Teh tawar hangat gratis. Pak Tohir nampaknya konvensional dalam segala hal, termasuk menentukan harga jualannya, yang tidak dipengaruhi oleh embel - embel kenaikan harga BBM, laju inflasi dan hal lainnya. 

Untuk menuju warung Pak Tohir tidaklah sulit. Cukup naik komuter line jurusan Bogor, kemudian dari stasiun Bogor naik angkutan umum warna hijau No. 02 jurusan Sukasari - Bubulak, dan turun di Gang Roda, Surya Kencana. Menu yang orisinil dan nikmat, harga yang murah meriah, dan lokasi yang sangat terjangkau, adalah sebagian dari keistimewaan warung Pak Tohir yang bikin gue, dan pelangan setia lainnya, selalu ingin mampir.

Thursday, January 16, 2014

Birthday : Gratis Day


Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun gue. Ritualnya, gue punya hadiah untuk diri sendiri, yaitu trip bekpekeran, yang akan gue lakukan minggu depan. Namun selain itu, sebenarnya gue berniat melakukan sesuatu di luar kebiasaan, pas di hari H. Banyak tujuan, tapi lagi males merencanakannya. Jadilah gue memulai hari istimewa itu dengan santai dan tanpa rencana jelas. 

Gue ke gereja jam 6 pagi, karena ingin membuka hari istimewa dengan rasa syukur kepada Yesus yang sudah memberikan gue kehidupan, berkat & anugerah tiada henti. Selepas gereja, gue menuju Pejaten Village. Maksudnya pengen sarapan dan nraktir Ony. Tapi ternyata Pejaten Village masih tutup, dan baru buka jam 9 pagi. Biar ngga rugi - rugi amat karena musti bayar parkir, pagi itu gue makan bubur ayam di kantin karyawan yang ada di dalam lokasi Pejaten Village.

Dari Pejaten Village gue menuju sebuah salon di Pasar Minggu, pengen massage. Gue udah janji untuk memanjakan diri sendiri di hari ulang tahun. Selama dipijat, pikiran gue melayang - layang, mencari ide, apa yang akan gue lakukan selanjutnya. Harus lain dari biasanya.

Akhirnya idenya muncul : gue akan mencari restoran - restoran yang menyediakan makanan gratis bagi yang berulang tahun. Seketika gue jadi bersemangat. Meskipun hujan tiada henti dari pagi tadi, gue dan Ony mencari lokasi target pertama : restoran steak Holycow! di kawasan Kemang. Walaupun sempat kelewatan dan musti berteduh dulu di SPBU karena hujannya dahsyat, akhirnya gue tiba di Holycow! yang beralamat di Jalan Kemang Raya No. 95E, depan Bank Panin.

Gue langsung menuju meja kasir dan dengan senyum bahagia dan terlalu percaya diri nanya ke salah satu staffnya, "Mas, promo makan gratis untuk yang berulang tahun masih ada ?" Dan yang ditanyakan pun menjawab, "Masih, Mbak..." Tapi, wajahnya bingung dan bengong gitu ngeliatin gue. Gue pun penasaran.
"Kok Masnya bingung gitu mukanya ?"
"Iyah...abis Mbaknya basah gitu...." dengan sikap malu - malu.
"Khan di luar hujan, Mas..." jawab gue singkat. Sudahlah, permbicaraan ngga penting.

Gue pun langsung naik ke lantai 2. Setelah beberapa saat gue menebak - nebak si Mas Staff tadi pasti terbingung - bingung plus tersanjung, betapa besarnya tekad gue untuk menikmati hidangan steak Holycow!, sampai - sampai rela menerobos hujan badai segala. Iyalahh...gratis !

Ada 2 pilihan gratisnya : Holysteak part 1 atau part 2. Gue ngga berlama - lama perhatiin deskripsinya di buku menu, mata gue langsung tertuju pada keterangan berat masing - masing daging steak yaitu 250 gram untuk part 1 dan 450 gram untuk part 2. Dengan mantap gue langsung order Holysteak part 2 dengan saos barbeque, senilai Rp. 115,000  (belum termasuk pajak). Untuk minumnya, gue pilih yang paling murah meriah (paket gratis ngga termasuk minum): teh tawar hangat refill seharga Rp. 15,000. Steaknya besar, juicy dan lezat bukan main. Blasssss.....450 gram daging steak dan 2 cangkir teh panas, lenyap seketika....pindah ke lambung gue.

Target berikutnya adalah Loobie Lobster & Shrimps, di Jalan Gunawarman No. 32, Kebayoran Baru. Tempatnya sempit tapi ramai pengunjung. Gue dapat bangku di pojok, menghadap ke tembok. Begitu pelayan datang untuk mencatat pesanan, gue langsung sodorin pajangan menu yang ada di meja, "Saya mau yang ini, masih berlaku kan ?" sementara jari gue menunjuk tulisan : Free Lobster On Your Birthday!.

Pesanan pun dicatat, ngga lupa KTP asli gue diminta untuk diberikan ke kasir sebentar. Ngga lama, pelayannya datang lagi mengembalikan KTP gue, sambil menyodorkan sebuah bando ulang tahun yang sebenarnya (agak) norak. Sempat agak - agak malu makenya, mengingat ramainya pengunjung. Gue pastinya nampak seperti pembeli semi sinting pagi itu. Tapi menikmati makanan lezat gratis yang ada di hadapan gue, lama - lama bikin lupa ada bando boneka nangkring di kepala. Di sini, yang berulang tahun berhak menikmati paket Half Lobster senilai Rp. 65,000 (belum termasuk pajak). Selain itu, gue juga memesan minuman paling murah, Ice Lemon Tea seharga Rp. 13,000 yang disajikan di gelas berukuran jumbo.

Lobster ulang tahun...thanks, Loobie !
Bando ulang tahunnya Loobie

Ice Lemon Teanya Loobie : jumbo, segar, irit
Masih diiringi hujan yang kadang rintik kadang deras, gue dan Ony kembali ke Pejaten Village. Rencana awalnya mau nonton (kalau ada film menarik), sekalian ke counter The Body Shop karena pagi ini gue menerima sms dari The Body Shop, mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus info bahwa gue bisa mendapatkan hadiah ulang tahun dari mereka. Namun lagi - lagi kedatangan gue ke Pejaten Village yang kedua kalinya di hari itu berujung sia - sia. Pertama, ngga ada film menarik yang bisa ditonton. Kedua, gue ngga bisa mengklaim hadiah ulang tahun dari The Body Shop karena ngga membawa kartu member. Gue pun meninggalkan lokasi.

Target selanjutnya, Ayam Bakar Mas Mono di Jalan Pejaten Raya Kav. 30. Lagi - lagi, hanya dengan menunjukkan kartu sakti, KTP, gue berhak menikmati pake nasi + ayam bakar + lalap + sambal dan es teh manis, senilai kurang lebih Rp. 19,000. Gila.....saat itu belum juga jam 4 sore, tapi itu adalah acara makan gue yang keempat di hari itu.

Ronde berikutnya : Ayam Bakar Mas Mono
Abis beef steak...lalu lobster....lalu...eng...ing..eng...Ayam Bakar Mas Mono !
kenyang...puas....nyengir...
Setelah gue mengambil kartu member The Body Shop, tujuan berikut ke Pecel Lele Lela di Jalan Margonda Raya, untuk acara makan gratisan berikutnya. Onde mandeee....hari ini rasanya kayak lagi makan di restoran all you can eat. Perut gue rasanya udah full...tapi harus diisi lagi dan lagi...biar ngga rugi. Rugi melewatkan kesempatan makan gratis, maksudnya. Bedanya, kalau biasanya makanan udah disiapkan di depan mata, cukup jalan kaki beberapa langkah untuk ngambilnya, kali ini gue harus loncat ke resto - resto di area yang beda - beda. Musti nyari - nyari alamatnya dulu....hujan - hujanan pula.

Kedatangan gue di Pecel Lele Lela disambut dengan greeting khas restoran ini oleh salah satu staff yang berdiri di depan, "Selamat pagi, selamat datang di Pecel Lele Lela" (padahal gue tiba di sana sekitar jam 8 malam) yang kemudian diikuti oleh staff - staff lainnya secara kompak, "Selamat pagggiiiiii!!!" Hmmm.....rasanya jadi ngga enak. Ramah dan bersemangat banget mereka, padahal gue kesini cuma buat "nagih" makan gratisan.

Seperti di tempat - tempat sebelumnya, gue disambut oleh staf dan pelayan yang ramah yang selalu mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" dengan senyum mengembang, begitu gue sodorkan KTP. Satu paket nasi + lele original + lalap + sambal + es teh manis senilai Rp. 19,000 pun tersaji di meja gue, siap menjadi santapan kelima di hari itu. 

Paket Ulang Tahun Pecel Lele Lela
f.r.e.e, Sodarah - Sodarah!
Dari Pecel Lele Lela gue menuju Margo City untuk mendapatkan hadiah ulang tahun. Di sana SPG yang ramah menyerahkan 1 botol kecil Japanese Cherry Blossom Body Lotion serta birthday voucher senilai Rp. 50,000, sambil mengucapkan "Selamat Ulang Tahun".

Cherry Blossom Body Lotion for Birthday Cherry
 Malam itu di atas ranjang, gue menghitung - hitung 'keuntungan' alias nilai traktiran yang gue nikmati hari itu sbb. :


Lumayan....baik dari segi nominal maupun pengalaman serunya. Hujan - hujanan ke sana kemari, nunjukkin KTP kemana - mana untuk membuktikan gue berulang tahun di hari itu, sekedar untuk mendapatkan makanan gratisan atau hadiah, serta mendapatkan ucapan selamat berulang tahun dari orang - orang yang baru pertama kali gue temui....Serunya lagi, seharian bisa nikmati berbagai menu berbeda mulai dari hidangan sapi, lobster, ayam, dan terakhir, lele, yang semuanya gratis, cukup dengan modal cuek (...eh, ngga tau malu.....eh, percaya diri....Ahhhh...samalah itu artinya...!) dan KTP asli. Pas banget sama prinsip bekpekeran gue : murah penting, tapi gratisan itu MAHA PENTING BANGETT !

Selamat Ulang Tahun, Ceiii....! Semoga tahun depan resto - resto baik hati kayak gini bertambah. Amen.

Wednesday, November 27, 2013

"Medical Reimbursement : ....... "

Barusan intip slip gaji bulan November, dan....senang bukan kepalang...biaya vaksinasi kanker serviks yang gue keluarkan, ternyata dibayarkan oleh perusahaan. Padahal sejak awal gue siap untuk menanggung biayanya secara pribadi. Dan untuk mencapai tingkat kesiapan dan kerelaan itu (terkadang gue bisa sangat pelit pada diri sendiri), gue memerlukan waktu bertahun - tahun. Bayangkan, gue sudah berencana untuk melakukan vaksin saat gue masih bekerja di perusahaan A. Kemudian gue pindah kerja di perusahaan B, dan lalu gue pindah lagi ke perusahaan C, yaitu tempat gue bekerja saat ini. Dan hasil pertimbangan gue yang terlalu lama itu ternyata memberi hasil. Jadwal vaksin kedua gue tepat bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan perusahaan bahwa vaksinasi jenis ini ditanggung oleh perusahaan.

Senangnya karena banyak hal. Satu, gue mendapatkan uang gue kembali. Kedua, ada perasaan lega dan salut pada managemen perusahaan karena kesediaannya menanggung biaya vaksinasi ini menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada karyawatinya. Di perusahaan - perusahaan lainnya, secara umum biasanya biaya vaksinasi, khususnya untuk orang dewasa tidaklah ditanggung. Kebanyakan perusahaan hanya bersedia menanggung biaya sakit, bukan tindakan pencegahannya seperti vaksinasi ini. Ini berdasarkan hasil pengalaman gue pribadi yang berloncat ria dari satu perusahaan ke lainnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Hari Senin (25 Nov) yang lalu perusahaan ini menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Depok sebagai pemenang kegiatan Penilaian Perusahaan Terbaik Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Perempuan Tingkat Kota Depok Tahun 2013. Gue sebagai salah satu karyawati, mengamini dan turut senang. Menurut gue pribadi, itu bukanlah basa - basi atau sekedar predikat belaka. Gue mengatakan ini bukan untuk pamer atau pun menjilat....meskipun bulan Desember adalah bulan bonus akhir tahun...hehhehehe! Ini murni ekspresi dari rasa senang dan apresiasi gue kepada perusahaan yang telah mengapresiasi sumber daya manusianya. Makasih, perusahaan ! *senyum manis mengembang sambil kipas - kipas slip gaji*

Tuesday, November 26, 2013

Curhat Adopsi

dog walking with Momo
Sekedar curhat. Kemarin (Senin, 25 Nov 2013), rumah gue kedatangan penghuni baru, seekor Siberian Husky jantan usia 5 bulan bernama Momo. Gue ngga suka namanya. Melihat fisiknya yang gagah seperti seekor srigala, seharusnya dia layak mempunyai nama yang lebih baik. Tapi biarlah....karena si Momo sudah telanjur mengenal namanya.

Kehadirannya sebenarnya bukan di saat yang tepat, bukan di saat gue menginginkan anjing lain dalam rumah gue, dalam hidup gue. Secara finansial, sejak gue mulai mencicil sebuah rumah mungil, sebenarnya gue sudah berjanji untuk mengetatkan segala pengeluaran. Gue sudah pernah membuat daftar pengeluaran pemeliharaan anjing, dan angkanya fantastis menurut gue. Tapi, perhitungan gue saat itu adalah untuk anjing lokal seperti Bruncuz. Bukan seekor Siberian Husky dalam masa pertumbuhan seperti yang gue miliki saat ini. Artinya, biaya perawatannya pasti jauh lebih tinggi.

Momo si Husky adalah anjing yang diberikan pemilik sebelumnya ke abang gue. Abang gue suatu saat menelepon dan menanyakan apakah gue mau merawatnya. Gue menolak karena mengetahui bahwa Momo adalah anjing jantan. Bruncuz juga jantan dan menurut gue itu akan menjadi situasi yang tidak mengenakkan buat Bruncuz. Hubungan mereka pasti akan dipenuhi dengan persaingan. Gue gak tega sama Bruncuz, karena kehadiran Momo pasti akan membuatnya cemburu dan lalu stress. Bruncuz cuma mengenal gue seorang dalam hidupnya. Bruncuz adalah penggemar gue nomor satu. 

Namun lalu Abang gue bilang bahwa Momo adalah bocah malang yang harus dilepaskan pemiliknya karena sang istri tidak mengharapkan kehadirannya, dan membiarkannya berkeliaran di sebuah area proyek. Momo, bocah yatim piatu yang tidak mempunyai tempat tinggal dan sumber makanan yang jelas setiap harinya. Ceritanya menjadi demikian dramatis, yang membawa gue ke situasi serba salah. Gue bukanlah pahlawan penyelamat kaum anjing. Namun demi mendengar cerita seperti itu, gue jadi ngga tega. Apalagi Abang gue juga bilang terkadang Momo mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari warga sekitar, misalnya dilempari. Akhirnya gue mengiyakan untuk memelihara Momo.

Memelihara seekor Siberian Husky bukanlah sebuah kebanggaan atau gengsi untuk gue. Justru seakan - akan beban berat baru saja diletakkan di pundak gue yang lemah. Gue ngga mengenal Husky sama sekali. Seperti apa sifatnya, bagaimana merawatnya, bagaimana melatihnya, dan lain sebagainya. Justru selama ini gue pribadi berpendapat seharusnya seekor Husky tidak berada wilayah beriklim tropis seperti Indonesia. Hal itu kejam, bagaimana mungkin seekor Husky yang identik dengan salju 'dipaksa' hidup di sini. Belum lagi, gue diresahkan oleh perasaan bersalah karena kehadiran Momo mengganggu kedamaian dan ketenangan hidup Bruncuz. Semalam, gue di halaman belakang sampai sekitar jam 11 malam, hanya untuk mengawasi keduanya, karena mereka kerap berantam. 

Gue berjanji dalam hati bahwa gue akan melatih Momo sedini mungkin, meskipun belum tahu bagaimana caranya. Gue tahu, apabila gue tidak melatihnya, gue yang akan merasakan segala kerepotannya di kemudian hari. Soal biaya, itu adalah tantangan lainnya. Pagi ini gue meminta tolong pada Mama untuk membelikan gue sekarung beras. Momo adalah anjing besar dan tinggi, yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kebutuhan makannya yang menggila menjadi penyebab utama keributannya dengan Bruncuz. Hal - hal lainnya, sampai saat ini masih menjadi tantangan yang belum gue ketahui bagaimana cara melaluinya. 

Beberapa penyesuaian (baca : pengorbanan) pun harus gue lakukan. Gue bolos berenang karena harus meluangkan waktu untuk mengenal dan melatih kedua anjing gue. Gue juga bertekad untuk membawa keduanya secara bergantian, berjalan kaki setiap paginya, yang artinya bangun subuh adalah kewajiban. Selain Momo harus gue biasakan ber-morning walking di sekitar rumah, hal itu juga harus gue lakukan untuk menyalurkan energi dan naluri bermainnya. Dan banyak penyesuaian lainnya.

Gue harus berusaha untuk tetap berpikir positif. Katanya anjing merasakan energi dalam diri pemiliknya. Jadi sebaiknya gue berusaha senang menyambut kehadiran Momo. Sekali lagi....ini curahan hati belaka dari seorang adopter amatiran.