I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, January 21, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (Persiapan Trip)


Sejak beberapa bulan yang lalu gue berniat banget pengen ke Trowulan. Awalnya karena gue pernah baca artikel kalau Trowulan dahulu adalah pusat Kerajaan Majapahit, yang masih menyisakan banyak peninggalan kejayaan kerajaan tersebut. Gue langsung takjub seketika. Pertama, demi mendengar nama 'Majapahit' aja langsung bikin penasaran, karena ini adalah salah satu kerajaan paling besar, paling kuat, dan termasyur di Indonesia, dengan nama tokoh - tokoh besar seperti Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan lainnya. Kedua, ternyata di Trowulan terdapat banyak candi - candi serta bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Kenapa telat amat gue tahu mengenai ini ya...

Gue paling senang wisata ke tempat - tempat bersejarah. Khususnya untuk hobi gue menyambangi candi - candi dan bangunan bersejarah, selama ini gue berpikir Siem Reap (Kamboja) dengan Angkornya adalah yang paling fenomenal dan keren. Secara luas, Angkor seperti sebuah kota yang isinya candi di mana - mana. Saking kagumnya, gue sampai dua kali berkunjung ke sana. Ternyata Indonesia juga punya kawasan yang merupakan peninggalan sebuah kerajaan, di mana sebuah daerah atau kota dipenuhi peninggalan berupa candi - candi dan bangunan peninggalan kerajaan kuno.

Untuk mewujudkan impian gue ke Trowulan, awalnya sempat berniat mau naik kereta ke Mojokerto. Trowulan adalah salah satu kecamatan di Mojokerto. Tapi gue urung naik kereta karena perjalanan 12 jam yang harus ditempuh dari Gambir, Jakarta. Rasanya ngabisin waktu di jalan banget. Akhirnya....gue memilih perjalanan ke Trowulan ini sebagai perjalanan ulang tahun gue. Sudah jadi kebiasaan, setiap ulang tahun gue akan melakukan trip jalan - jalan. Karena ini trip ulang tahun, jadi persiapannya agak lebih matang dari biasanya. Gue pun memutuskan untuk menempuh perjalanan menuju Surabaya menggunakan pesawat. Khan ulang tahun, jadi budgetnya boleh lebih dikit...Trus, gue pun mengambil cuti 2 hari dari kantor, biar gue punya waktu leluasa untuk puas-puasin impian buat jelajah Trowulan, 4 hari. Oya, berhubung tahun ini ulang tahun gue jatuh di hari Jumat, gue pun memutuskan menjadwalkan tripnya tanggal 11-14 Januari 2018.

Agak ragu awalnya... Karena seumur - umur ngga pernah merayakan ulang tahun jauh dari keluarga. Keluarga gue punya kebiasaan kalau ada yang berulang tahun akan dirayakan bersama - sama, dengan tiup lilin, makan malam bersama dan berdoa bersama. Dan tahun ini sepertinya gue ngga bisa menjalankan kebiasaan itu tepat di hari ulang tahun gue.

Meskipun udah beli tiket pesawat beberapa bulan sebelum trip, tapi persiapan detil gue menuju Trowulan agak mendadak, baru di awal Januari. Persiapannya termasuk mencari penginapan, transportasi dan tentunya lokasi - lokasi wisata di Mojokerto, dan Trowulan khususnya.

Untuk hotel....cukup sulit mencari informasi mengenai hotel di Mojokerto. Dari pengalaman gue menyiapkan trip ini, gue bisa bilang kalau wisata Mojokerto, dan Trowulan khususnya, belum terlalu terekspos. Jadi agak menantang untuk menggali dan mencari informasinya. Khususnya untuk urusan hotel, sedikit banget daftar hotel yang bisa gue temukan ketika browsing - browsing di internet. Pilihan gue akhirnya jatuh ke Sun Palace Hotel. Ini adalah satu - satunya hotel yang berlokasi di Jalan Trowulan, jadi gue beramsumsi dekat dengan situs - situs candi Trowulan. Untungnya gue bisa booking hotel ini di aplikasi Pegipegi. Rate hotelnya adalah Rp. 372,000/malam untuk deluxe room sudah termasuk pajak dan sarapan untuk 2 orang.

Awalnya, gue berniat menginap di Grand Whiz Trawas, buat nyobain capsule room-nya yang baru di-launched sekitar November tahun lalu. Etappii... Waktu gue mencoba booking melalui websitenya, ngga ada pilihan untuk capsule room, hanya ada untuk 'regular' room. Gue coba booking melalui salah satu platform booking hotel, sama! Trus gue hubungi bagian reservasinya melalui email, ngga dibalas. Terakhir gue kontak dengan cara komen di akun Instagramnya, dan nanya: gimana cara booking capsule roomnya? Komen gue dijawab sih, tapi simpel : bisa melalui website atau di Traveloka, semacam itulahh. Herannn...kok booking hotel bisa sesulit itu ya? Kenapa ngga coba telepon? Ogaaahh...!! Belum apa-apa budget trip gue udah kepake buat pulsa nelpon ke Mojokerto dong. Gue pun jadi ngga ngotot lagi untuk nyobain capsule room di sana. Yang bikin gue ragu juga karena pengen tetap fokus cari penginapan di daerah yang terdekat dengan Trowulan.

Untuk transportasi....ini sama menantangnya dengan urusan hotel. Di Mojokerto dan Trowulan ngga ada transportasi umum ! Satu-satunya cara berpertualang di sini, ya dengan sewa kendaraan. Setelah browsing sana - sini sampai puyeng, akhirnya secara random gue menemukan tempat rental mobil, namanya Pendowo Rent Car. Gue menyewa mobil (berikut supir, sudah termasuk bensin) dengan tarif Rp. 500,000 seharian untuk tanggal 11 Januari 2018, termasuk penjemputan dari Airport Juanda yang lokasinya di Sidoarjo, alias di luar Mojokerto. Wuihhh... Bekpeker gembel pake dijemput segala dari airport? Iyalahhh!! Khan ULANG TAUUNN! Sebenarnya, gue pengen nyobain naik bus umum menuju Mojokerto. Tapi gue lebih kepengen nyari cara tercepat untuk tiba di Trowulan. Gue tahu ada bus dari Sidoarjo yang lewat Mojokerto. Masalahnya, dari terminal Mojokerto gimana caranya gue mencari Sun Palace Hotel yang entah di mana lokasinya gue belum tahu, mengingat fix ngga ada angkutan umum di Mojokerto.

Trus gue juga sewa untuk hari kedua,  12 Januari untuk seharian keliling Mojokerto, tarifnya Rp. 400,000,-. Untuk tanggal 13 dan 14 Januari, gue masih belum punya ide gimana urusan transportasinya, karena kalo liat itinerary yang gue buat, semestinya gue sudah bisa mengeksplorasi seluruh Trowulan dan beberapa lokasi lainnya di luar Trowulan, dalam 2 hari tersebut.

Gue sudah bisa mulai membayangkan, trip Trowulan ini ngga mungkin bisa dilakukan dengan budget minimalis. Secara akomodasi dan transportasinya terbatas banget. Tapi ngga papa lah....khan, ULANG TAUNNN....

Setelah urusan hotel dan transportasi kelar, misi berikutnya nyari informasi wisata Mojokerto. Karena masih blank sama sekali, gue ngga ada gambaran Mojokerto (kota) itu kayak apa...Trowulan itu kayak apa...trus jarak antar kecamatan kayak apa...Selain Trowulan, lokasi wisata Mojokerto yang cukup banyak diulas adalah Trawas dan Pacet. Dengan informasi - informasi ini, gue mulai menyusun daftar dan jadwal jalan - jalan gue...bahasa kerennya itinerary. Oya, seperti gue bilang tadi wisata Mojokerto cenderung kurang banyak diekspos, jadi cukup susah nyari rekomendasi - rekomendasi wisata di sana. Gue pun menjelajah medsos untuk menggali info sebanyak-banyaknya. Gue bergabung di group MJJ (Mojokerto Jalan-Jalan) di Facebook dan beberapa group serupa di Instagram. Tapi yang paling banyak membantu gue adalah Group Facebooknya MJJ itu. Seneng banget bisa nemu group ini, karena anggota-anggotanya sangat aktif share info wisata Mojokerto. Baik wisata sejarah, alam, atau wisata kekinian ala-ala ABG gitu. Ngeliat info - info wisata yang dibagiin di group ini, bikin gue makin ngiler dengan pengen buru - buru ke Mojokerto.

Ini dia itinerary yang gue susun untuk trip Trowulan ini :

11 dan 12 Januari 2018:
  • Candi Brahu
  • Candi Gentong
  • Candi Gapura Wringin
  • Candi Bajangratu
  • Candi Tikus
  • Museum Trowulan 
  • Maha Vihara Mojopahit (Sleeping Buddha)
  • Segaran
  • Situs Pemukiman Majapahit
  • Situs Kedaton
  • Umpak Delapan
  • Situs Minak Jinggo
  • Jolotundo
  • Akar Seribu
13 Januari 2018
  • Museum Sanggar Gubug Wayang
  • Mojokerto kota
14 Januari 2018
  • Museum Kapal Selam, Surabaya
  • House of Sampoerna, Surabaya
Sepanjang kiprah kaki panjang gue berpetualang, kayaknya ini salah satu perjalanan gue yang paling matang persiapannya. Meskipun gue senang melakukan perjalanan yang spontan, tapi positifnya, dengan persiapan kayak begini rasanya lebih tenang.

Can't wait to see you, Trowulan !

Wednesday, December 27, 2017

Bertamu Ke Rumah Rusa Cariu


Sabtu, 16 Desember 2017.

Akhirnya keinginan gue buat ke lokasi penangkaran rusa di Cariu, Bogor, terwujud. Yesss ! Udah lama pengen ke sana, tapi berhubung jauhnya bukan main, jadi nyerah duluan. Gue bisa membayangkan jauhnya, karena sebelumnya gue ama Ony pernah berusaha mencapai lokasinya, tapi cuma sanggup sampai Jonggol. Jadi kalau bermotor, rute (yang gue tahu) yang harus ditempuh adalah melalui Cibubur - Cileungsi - Mekarsari - Jonggol - Cariu....Cariu tuh udah deket banget sama Cianjur. Jelas khan jauhnya ? 'Touring' bermotor ke sana pasti bakal seru sekaligus melelahkan banget. Tapi rasa penasaran gue ngga akan hilang kalau belum menginjakkan kaki di sana dan bertemu para rusa penghuninya. 

Gue memang senang ke tempat - tempat piknik di mana gue bisa leluasa bertemu dan berinteraksi dengan satwa. Terlebih di saat lagi suntuk dan 'bosan' dengan rutinitas hidup sehari - hari, dimana gue bertemu berbagai manusia dengan sejuta karakter dari yang baik, tulus, nyebelin, fake, dan lain sebagainya. Gue butuh bertemu dengan teman - teman satwa untuk sekedar break dari suntuk dan stres yang harus gue rasakan setiap hari. Dengan tekad bulat kabur dari hingar bingar Jakarta, melepas penat pikiran, dan berkenalan dengan warga rusa di negeri Cariu, gue pun mantap berangkat.

Perjalanannya tuh ngga mudah....dan yang jelas, jauhhhh !! Dahsyat banget jauhnya...mungkin sebenarnya terlalu jauh untuk dijalanin pake motor. Apalagi untuk orang seusia gue yang udah bukan ABG lagi.....tssahhhh! Tantangan lainnya juga karena gue dan Ony ngga tahu lokasinya dimana, trus di beberapa titik jalannya ngga mulus. Setiap kali menepi untuk nanya arah ke orang - orang sekitar, dijawabnya, "Ohhhh....paling 5 km lagi..." Prasaan sampe nanya ke beberapa orang di lokasi berbeda, jawabannya sama. Thanks God, setelah hampir 3 jam, akhirnya sampe di lokasi dengan selamat tanpa kesasar. Oya, sebenarnya gue menikmati perjalanan tanpa ujung menuju Cariu sih, karena mulai dari Jonggol, gue bisa menikmati pemandangan alami dan indah berupa pengunungan serta area sawah nan hijau. Segar di mata !

Tiba di lokasi Penangkaran Rusa Cariu, gue membayar Rp. 25,000 untuk tiket masuk 2 orang dan parkir motor. Setelah membayar, gue pun melesat ke lokasi penangkaran rusa, dengan melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari anyaman bambu (kalo ngga salah). Sebenarnya area penangkaran tuh luas banget. Dan selain lokasi penangkaran rusanya itu sendiri, banyak spot-spot keren lainnya yang bisa dinikmati untuk sekedar duduk santai di bawah rindangnya pepohonan yang teduh disuguhi pemandangan sungai dengan volume airnya yang saat itu lumayan deras. Buat yang nyari tempat untuk refreshing yang tenang dan alami, di sini pas banget.

 
 

Tiba di lokasi penangkaran rusa gue disambut oleh 2 ekor rusa. Sepertinya rusa-rusa di sini sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, dan mungkin terbiasa untuk 'meminta' makan dari pengunjung. Jadi kebanyakan rusa - rusa ini akan mendekat dan 'menyerbu' pengunjung berharap akan mendapatkan asupan makanan langsung dari tangan pengunjung. Buat pengunjung yang hendak memberi makan, kebetulan di dekat situ ada seorang ibu yang menjual ubi sebagai makanan rusa. Mahal sih, Rp. 10,000 per bungkusnya. Sebenarnya dari rumah gue sudah menyiapkan 1 kg wortel kecil untuk diberikan ke rusa - rusa ini. Tapi akhirnya gue membeli juga 2 bungkus dagangannya si ibu, sebagai bentuk dukungan gue bagi usaha mikro dan kemajuan perekonomian Cariu... *apa sih...*

 


Dan...gue pun langsung turun dari gazebo yang disediakan di sana, dan memuaskan diri untuk 'berkenalan' dan bermain - main dengan rusa - rusa penghuni penangkaran. Saat itu ngga banyak rusa yang 'keluar' dari hutan dan menyambut pengunjung. Cuma ada sekitar 6 - 7 rusa. Asyiknya, pengunjung yang datang juga gak banyak. Sayangnya, hampir sepanjang kunjungan gue di sana disertai dengan turunnya hujan. Jadi ngga bisa leluasa bermain - main dengan satwa bertanduk ini.  Kalau hujannya tinggal rintik - rintik, gue akan meninggalkan gazebo lagi dan bermain dengan para rusa lagi. Kalau hujannya mendadak lebat, gue naik dan berteduh di gazebo. Begitu terus.....Gue dan Ony adalah pengunjung terlama di situ. Kalau pengunjung lainnya cuma turun, kasih makan, berfoto, trus pulang, kalau gue betah berjam-jam di sana. Kepikiran pulang cuma karena inget perjalanan panjang yang harus ditempuh. 

 

Walaupun belum puas dan menyimpan keinginan untuk melihat hutan lebih ke dalam demi melihat kawanan rusa yang lebih banyak, dengan langkah berat, gue pun meninggalkan Penangkaran Rusa Cariu. Kali ini perjalanannya lebih seru lagi, karena nonstop disertai hujan. Berhubung gue terlanjur terpesona dengan keindahan Cariu, gue pun memantapkan niat untuk ke sini lagi kapan - kapan, dan melanjutkan perjalanan sampai Cianjur. Yeayyy !!

Thursday, August 10, 2017

Merayakan Cinta Dengan Via Ferrata


Suuerrrrr....judulnya norak abisss !

Sabtu, 29 Juli 2017 yang lalu gue ikutan trip Via Ferrata ke Gunung Parang, Purwakarta. Selama ini review mengenai via ferrata ini udah bikin gue amat sangat penasaran. Tapi gue masih ragu ikutan karena kayaknya selain menantang, ngeri juga.

Oya, via ferrata adalah kegiatan memanjat dengan mendaki tangga besi yang "ditanam" di sepanjang dinding tebing. Gimana caranya ? Ngga tahu....belum bisa gue bayangkan karna blum pernah...

Dua hari sebelumnya, tepatnya di hari Kamis, akhirnya gue fix nekat ikutan daftar trip. Seperti biasa, gue selalu menyiapkan segala sesuai mendadak. Gue mantap ikutan, selain untuk memuaskan rasa penasaran, juga pengen merayakan ulang tahun pertama pernikahan gue dengan Ony (30 Juli) dengan cara yang spesial.

Untuk ikutan tripnya, gue membayar Rp. 400,000 per orang, ke vendor bernama Skywalker. Paket seharga ini untuk via ferrata ketinggian 300 meter. Sebenarnya ada paket yang untuk 150 meter juga, tapi saat itu meskipun belum ada bayangan gimana gue bisa melakukannya, gue nekat milih yang 300 meter. Paket ini sudah termasuk transportasi dari dan ke Jakarta, dengan meeting point di Plaza Smanggi, dokumentasi, dan makan siang.

Di hari Sabtu itu, dengan semangat 2017, gue dan Ony bangun subuh untuk naik commuter line jam 5 pagi. Begitu tiba di Plaza Smanggi, udah banyak kendaraan Elf di sana, yang ternyata merupakan meeting point favorit untuk join trip kayak begini. Singkatnya, Elf yang gue tumpangi meninggalkan lokasi hampir jam 06:30 pagi, mengangkut sekitar 14 peserta ditambah 2 kru Skywalker.

Gue tiba di Gunung Parang, tepatnya pintu masuk kawasan via ferrata, sekitar jam 11 siang. Tiba di sana peserta dipersilahkan untuk istirahat, bersih - bersih dan makan. Selain ada toilet, di sana juga ada penjual makanan alakadar (mie instant), dan peserta bisa leluasa bersantai karena terdapat banyak hammock dan balai bambu.

Menjelang jam 12 siang, akhirnya kegiatan via ferrata pun dimulai. Semua peserta harus menggunakan alat keselamatan seperti harnes dan helm. Sebelum dimulai kedua kru Skywalker memberikan pengarahan singkat mengenai cara memanjat, dan menggunakan alat - alat yang tersambung di harnes. Via ferrata pun dimulai !

Di luar dugaan, ternyata via ferrata tuh seru dan menyenangkan banget. Melelahkan juga iya....tapi karena gue begitu excited, jadi lelahnya ngga gitu berasa. Kadang gue memang kesulitan dan menghadapi kendala, misalnya kalau harus melalui jalur besi horisontal, karena agak susah menjaga keseimbangan dan bingung kemana tangan gue harus berpijak.




Selain itu, di satu titik ketinggian, ada beberapa tangga besi yang lenyap ! Ternyata ada orang iseng yang merusak dan melenyapkan tangga - tangga tersebut dengan cara menggergajinya, entah apa tujuan, dan hanya menyisakan sisa - sisa pancang besi sepanjang sekitar 5 cm. Ini kayaknya bagian yang paling serem buat gue, meskipun dilengkapi harness, tapi gue harus mendaki dengan hanya memijakkan kaki di pancang - pancang besi tersebut, begitu juga untuk berpegangan.




Setelah jalur 'tanpa tangga besi' terlewati, mendekati titik ketinggian 150 meter, tantangannya semakin maknyusss dengan turunnya hujan. Diawali dengan gerimis, dan dalam segera menjadi hujan lebat. Untuk pemula kayak gue, yang harus memanjat dengan mengandalkan tangga besi, hal ini jadi tantangan tersendiri, karena sekujur badan basah oleh hujan, dan untuk tangga besinya juga menjadi licin.


Karena hujan lebat ini, akhirnya gue dan Ony memutuskan untuk tidak melanjutkan ke ketinggian 300 meter. Di Gunung Parang, tepatnya dalam jalur via ferrata ini terdapat beberapa ceruk, dimana pendaki bisa beristirahat dan menikmati keindahan alam sekitar Gunung Parang sampai dengan Waduk Jatiluhur. Rasanya nyaman dan sensasional banget !




Pas waktunya menuruni gunung, gue baru tahu bahwa peserta harus melakukan rappeling. Rappeling adalah teknik menuruni tebing dengan menggunakan tali.

Astagahhh ! Gue ketakutan setengah mati. Kalau tahu dari awal bakal begini cara turunnya, bisa jadi gue akan ogah ikutan. Gue kan takut akan ketinggian. Trus sekarang gue harus menuruni tebing setinggi 150 meter dengan dikerek - kerek pake tali begini. Sendirian pula...ngga ada teman barengannya !

Berhubung ngga punya pilihan lain, dan gue tetap harus turun anyway (iyalahh...masa nginep di ceruk gunung!), dengan berat hati, gue cuma bisa pasrah. Di awal, Yudha, salah satu kru Skywalker memberikan pengarahan, "Mbak, posisinya kayak duduk, tapi berdiri ya...." Gue bingung tujuh keliling....Apa sihh, duduk tapi berdiri itu ?! Jodi, kru lainnya, pun kasih contoh gaya 'duduk tapi berdiri'.

Yang lebih absurd lagi saat Jodi bilang, "Mbak gak usah pegang talinya. Lepas aja... Ngga bakalan jatuh kok..." Tali yang dimaksud adalah tali keamanan yang posisinya ada di pinggang gue, dan terhubung ke alat katrol yang digunakan untuk mengerek gue. Please deh...gue baru kali ini rappeling, secara mental gak secepat itu juga gue nyaman untuk menggantungkan keselamatan jiwa raga ke seonggok tali kayak begini.

Langkah pertama pun di mulai....perlahan, dan diikuti langkah - langkah berikutnya. Selama itu gue mencoba bertahan untuk tetap tenang, dan fokus mendengarkan kru Skywalker yang berteriak untuk memberikan pengarahan.

'Mundur Mbaaaaaaa......!!! Badannya dikebelakangi, Mbaaaaa......!'
'Kiriiii, Mbaaaaaaa....! Kanan, Mbaaaaaa....! Badannya tegaaaaakk...kakinya lurus, Mbaaaaaa....!'

Di antara mengontrol rasa takut dan fokus pada setiap langkah yang gue lakukan, kadang instruksi dari atas sana bikin gue bingung sendiri.



Sesekali gue membalas, 'Jangan kecepettaaaaaaann....!!!' maksudnya agar kru tidak mengerek talinya kecepatan yang membuat badan gue terhempas ke belakang, ngga selaras dengan langkah kaki gue.

Tiba - tiba....buuukkkk!!! Langkah gue terhenti, dan gue mendarat di sebuah ceruk yang jauh lebih besar dan luas. Sialannnn....!! Gue ngga dikasih tahu bakal ada ceruk ini. Sementara gue kan jalan mundur dari tadi, jadi ngga lihat dan ngga siap. Gue terjatuh karena kaki gue mendadak ngga punya landasan untuk berpijak.

Kaki gue lemas gemetaran. Posisi gue sedikit menggantung di ceruk. Dari atas sana, gue denger teriakan, 'Mba Cherrryyy.....Mbaaaa.....Mbaaaakkkk....??' kayaknya mereka khawatir karena posisi gue ngga keliatan, dan ngga bersuara. Gue berusaha mengumpulkan keberanian dan tenaga. 'Tungguuu....!!' jawab gue singkat, lemas. Setelah bisa menenangkan diri, 'membereskan' posisi tubuh, gue pun kembali berteriak, 'Mulaaaaaaiii, Masss....!! Pelaaaaannn !' Posisi tubuh yang gue maksud adalah berdiri tegak lurus terhadap tebing. Karena saat gue jatuh tadi, gue hanya tergelantung pasrah di tali.

Setelah beberapa meter, gue kembali terpeleset, karena kaki gue ternyata melewati tebing yang ngga rata. Sialan...gue kecolongan lagi ! Kali ini gue malah dapat bonus beberapa luka gores di betis karena gesekan dengan batu tebing. Mana gue udah mulai ngos - ngosan ! Tenaga gue terkuras dengan cepat tuh lebih karena ketakutan dan deg - degan sebenarnya. Tapi menariknya, dalam keadaan sendirian dan 'lemah' begini, gue justru memaksakan diri untuk menemukan kekuatan dan keberanian dari dalam diri sendiri, untuk bertahan dan kembali melangkah. Beuughhhh ! Semacam orang bijak aja !

Tapi bener deh....biasanya yang selalu memberikan gue dukungan dan motivasi kalau lagi ketakutan atau down adalah Ony, yang sayangnya saat itu terpaut sekitar 100 meter dari gue. Jadi gue berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa takut.

Akhirnya gue tiba di beberapa meter terakhir dari perjalanan paling mengerikan dan menantang yang pernah gue lakukan. Dan akhirnya.....gue mendarat di tanah ! Yessss...Makasih Yesus, gue bisa mendarat dengan selamat tanpa kekurangan apapun selain jantung yang masih berdegup kencang dan luka berdarah di betis.

Overall, ini pengalaman paling seru dan unik yang pernah gue lakukan. Gue dan Ony super happy dan excited banget dengan kegiatan via ferrata hari ini. Thanks Skywalker yang sudah memfasilitasi trip ini, dan juga teman - teman peserta lainnya yang bikin tripnya makin menyenangkan. On top of that, thanks to suami tercintahh, Ony, yang merupakan partner traveling seru - seruan gue, dan above all my beloved partner in life. I love you, muacchhh !

Sunday, July 02, 2017

'Kenangan Anda di Facebook Pada Hari Ini': Lamaran Day


Pagi - pagi pas buka Facebook, langsung lihat foto 'Kenangan Anda di Facebook Pada Hari Ini'...sebuah foto yang gue posting pas hari lamaran gue dan Ony, tepat setahun yang lalu ! Wow...udah setahun aja ternyata! Bagus juga ada fitur kayak begini dari Facebook, jadi reminder hari spesial. 

Kembali ke masa setahun lalu, yes...itu adalah hari lamaran gue dan Ony. Sebenarnya itu juga momen perkenalan antar keluarga. Mengingat Ony berasal dari keluarga dengan adat Jawa dan gue dari Batak, awalnya gue sempat ragu dan menyimpan kekhawatiran, bagaimana acaranya bisa berlangsung. Kalau dari gue pribadi, dari awal sih gue menekankan ngga perlunya menggunakan tradisi adat tertentu untuk mengurangi kompleksitas. Maklum deh, gue kan super duper casual, dan untuk pernikahan gue termasuk persiapannya, gue ngga berharap menggunakan dasar adat tertentu, agar lebih simple dan sesuai dengan prinsip gue : sederhana. Bukannya ngga menghargai adat dan tradisi, gue bangga sebagai orang Batak dan bangga dengan adat Batak kok. Namun gue berusaha realistis dengan kondisi saat itu, dengan keberagaman yang ada, dan waktu persiapan yang sangat minimalis, mari bikin segala sesuatunya simple aja ya !

Persiapan acara lamaran gue memang bisa dibilang sangat singkat, cuma dua minggu kali ! Thanks Lord, atas berkah dan penyertaanNya, acara bisa terwujud dan berlangsung dengan sangat lancar. Yang bikin terharu juga, betapa Yesus mencurahkan berkatNya untuk acara gue melalui anggota - anggota keluarga besar baik dari keluarga gue dan Ony, yang udah membantu dan meluangkan waktunya untuk hadir dan berperan dalam mempersiapkan acara. 

Oiyaa....di acara lamaran ini juga Ony dan keluarga membawakan seserahan seabreg. Beberapa memang gue dan Ony yang mencari sendiri, biar pas dan sesuai kebutuhan. Ide mengenai kebutuhan seserahan ini datang mendadak. Jadilah gue dan Ony ngebut untuk mempersiapkannya. Bahkan, gue membutuhkan waktu beberapa saat untuk 'mempelajari' pakem seserahan yang umumnya dipersiapkan. Setelah menggali informasi sana-sini, rasanya konsep seserahan yang 'tradisional' dan konservatif kurang pas buat gue yang tomboy ini.

Jadilah isi seserahan pilihan gue berupa :
  1. Tas ransel (laptop) Deuter. Yeayyy....konon katanya salah satu isi seserahan standard adalah tas wanita. Sesuai kebutuhan dan kegemaran gue aja, gue butuh tas ransel karena keseharian gue kan naik commuter line dan memerlukan tas ransel yang tepat dan nyaman untuk membawa laptop. Kebetulan gue pengguna setia merek Deuter, jadi gue pilihlah ransel laptopnya merek ini. 
  2. Make up (PAC). Ini untuk memenuhi syarat seserahan standard aja sih, isinya juga sesimpel mungkin : lipstik, bedak, dan blush on, seinget gue. Dikit ? Emang...abis selain ngga hobi make-up an, saat itu juga gue masih menyimpan beberapa perlengkapan make up yang dikasih temen - temen di pabrik Bayer sebagai hadiah perpisahan (gue pindah ke kantor Midplaza). 
  3. Sendal/selop.Tadinya maksud gue memilih sendal ini untuk gue gunakan di hari pernikahan, tapi akhirnya gue berubah pikiran karena warna sendalnya kurang ngejreeengg.
  4. Kalung emas. Gue kan seneng berinvestasi dalam bentuk emas. Jadi kalung emas ini bisa menambah tabungan investasi gue, yang suatu saat bisa gue dan Ony gunakan, jika diperlukan. Gue ngga berniat untuk menggunakan kalung emas sih, karena selain anting, kayaknya gue ngga terlalu doyan menggunakan perhiasan
  5. Pakaian dalam. Untuk sekedar memenuhi standard seserahan pada umumnya, lagian memang pasti berguna dan dipake khan ?
That's it ! Simpel khan ? Gue dan Ony ngga mau berboros ria menyiapkan seserahan, karena selain untuk formalitas aja, khan lebih baik dana yang ada digunakan untuk kebutuhan pernikahan lainnya khan...

Ternyata di hari lamaran keluarga Ony membawakan seserahan tambahan buanyaak banget....ada buah-buahan, kue-kue segala rupa, dan bahkan hidangan sangsang babi ! Weewwww....ngilllerrr !

Untuk keperluan gue pribadi juga simpel dan ngga neko-neko. Gue ngga membeli kebaya secara khusus untuk acara ini. Pake kebaya yang udah ada aja, cuma jahit roknya doang. Trus, untuk urusan dandan, gue serahkan ke pihak salon yang akan mendandani gue untuk acara pernikahan. Sebelum hari pernikahan kan standardnya ada yang namanya test make up tuh, dimana calon pengantin akan didandani oleh salon untuk menilai oke atau ngga dengan 'hasil karya' si salon. Tentunya calon Pengantin harus membayar test make up tersebut, karena treatment dan perlengkapan make up yang digunakan hampir mendekati dengan yang akan diberikan untuk hari pernikahan nanti. Gue pikir, biar irit, mendingan test make up dilakukan pas acara lamaran aja. Paket ekonomis khan ?

Gaya preman didandanin
Pertemuan keluarga
Mama tercinta menyiapkan dekke mas arsik yang merupakan simbol harapan dan berkat
Kakak, adik, dan sepupu-sepupu tersayang
Gue ngga akan melupakan kebahagiaan gue di hari itu. Rasanya mukzizat banget, betapa Yesus yang maha baik telah memimpin dan menyertai acara dari awal hingga akhir. Acara yang tadinya gue pikir akan berlangsung canggung mengingat perbedaan adat keluarga, ternyata berlangsung hangat dan lancar. Terima kasih Yesus!

Friday, June 30, 2017

Piknik Seru Ke Kawah Ratu


Kamis, 29 Juni 2017

Akhirnya hari ini gue bisa mewujudkan keinginan gue ke Kawah Ratu. Setelah perencanaan seadanya dan bantuan Usep, ranger Ciampea yang gue kenal sejak piknik ke Bukit Galau beberapa waktu yang lalu, gue menemukan jalan dan cara buat ke sana.

Gue pengen ke sana sejak beberapa lama, tapi bingung caranya. Setelah baca-baca review mengenai Kawah Ratu, kayaknya ngga mungkin untuk jalan ke sana secara mandiri, tanpa ditemani seseorang yang kenal daerahnya. Selain itu, kayaknya 'medan' ke Kawah Ratu cukup berat. Untuk tiba ke sana aja perlu trekking sekitar 2 - 3 jam. Tapi entah kenapa, gue malah jadi makin penasaran.

Gue dan Ony ketemuan Usep sekitar jam 8:30 pagi di Sekolah Pandu, Ciampea, meleset dari rencana awal yaitu 7:00 pagi. Ternyata Usep juga mengajak kenalannya yang lain, Wildan, Fitri dan Vita. Wildan adalah seorang ranger juga, sedangkan Fitri dan Vita adalah pelajar yang pengen ikutan ke Kawah Ratu. 

Perjalanan pun dimulai dengan bermotor sekitar 1 jam menuju pintu masuk Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Dari pintu masuk, ngga terlalu jauh, tibalah gue di pintu masuk Kawah Ratu. Di dekat pintu masuk terdapat hutan pinus yang dipenuhi tenda-tenda pengunjung yang berkemah di sana.

Setelah Usep menyelesaikan urusan administrasi di pos masuk, trekking pun dimulai. Awalnya jalur yang ditempuh menurut gue ngga berat-berat amat. Dengan jalur berbatu dan ngga terlalu landai, gue yang amatiran dengan kondisi fisik biasa - biasa aja ini, masih bisa menikmati perjalanan meskipun dengan keringat bercucuran. Yang bikin perjalanannya menyenangkan tuh karena udaranya sejuk dan segar, juga karena keindahan hutan yang harus gue lalui. Ditambah lagi, di sisi jalur selalu ada aliran sungai kecil yang airnya jernih dan bersih. 




Gue udah mulai kehabisan tenaga setelah perjalanan sekitar 1.5 jam. Di saat itu, jalur yang harus dilalui udah ngga sekedar bebatuan di tanah yang datar. Kadang harus melewati jalur yang menanjak, tanah yang licin, lumpur, bahkan genangan air setinggi betis. 

Setelah perjalanan yang melelahkan, dengan keringat yang membasahi seluruh badan dan baju, trus kering, trus basah lagi, gue, Ony dan teman - teman lainnya tiba di Kawah Mati 1. Begitu tiba di Kawah Mati 1, rasanya pemandangannya kontras banget dengan pemandangan hutan nan lebat yang gue lewati sebelumnya. Kawah Mati ini kayak hutan yang mati dan kering, dengan pepohonan yang sudah mati, sebagian masih berdiri tegak dan sebagian tumbang. Dengan pemandangannya yang eksotis dan suasananya yang sangat sunyi, Kawah Mati memiliki keindahan tersendiri yang belum pernah gue lihat sebelumnya.






Sejak awal Usep mengingatkan untuk menyiapkan masker penutup hidung untuk digunakan di Kawah Mati, karena bau belerang yang menyengat. Tapi sore itu ketika di sana, gue ngga merasakan bau menyengat itu, bahkan sampai lupa memakai masker. Kayaknya gue terlalu fokus dan terpana oleh keindahan di sekeliling gue.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Kawah Mati 2. Pemandangannya tetap sama, indah dan sedikit seram disaat yang bersamaan. 


 


Akhirnya, gue, Ony dan yang lainnya tiba di Kawah Ratu. Aaaahhh....senang banget rasanya ! Setelah 3 jam ber-trekking ria dan kelelahan maksimal, mata gue disuguhi pemandangan yang lebih indah lagi dan kontras dengan pemandangan yang gue lalui sebelumnya, Kawah Mati 1 dan Kawah Mati 2. Kawah Ratu lebih banyak berupa bebatuan besar, dengan kawah tebal membumbung tinggi. Keindahannya ditambah dengan sebuah sungai kecil melintas yang dasarnya berwarna putih dan air yang dari kejauhan tanpa berwarna biru toska. Eksotis banget !! Pengunjung bisa berendam dan mandi disini. Airnya cenderung hangat hingga panas. 

Gue, Ony dan yang lainnya beristirahat selama sekitar 1 jam di kawasan Kawah Ratu. Usep yang membawa kompor outdoor memasak air panas untuk membuat kopi. Dengan pemandangan terhampar di depan mata, sambil menyeruput segelas kopi dan cemilan biskuit seadanya, rasanya segala kelelahan setelah trekking tadi luluh lantah. Anyway, itu mungkin yang dirasakan Ony, yang kebagian kopi. Gue sih cuma bisa icip-icip kopinya Ony sedikit, karena ngga kebagian gelas. 
 

Gue pun menggelar matras yang dibawakan Usep, untuk duduk dan merebahkan badan, pengen beristirahat. Tapi apa daya, karena begitu terpesona dengan keindahan Kawah Ratu, rasanya sayang banget kalau gue hanya memandangi dari kejauhan. Gue dan Ony pun mulai turun dan menuju sungai untuk berfoto - foto dan main air.







Tepat jam 3 sore, gue dan yang lainnya pun meninggalkan Kawah Ratu untuk kembali ke Pos Masuk. Saat tiba di Kawah Mati 2, rintik hujan mulai turun, dan akhirnya semakin deras. Rombongan sempat berhenti di batas air minum untuk memakai jas hujan. Oya, Wildan menyebut area ini 'batas air minum' karena disini terdapat sungai dengan airnya yang bersih, jernih dan segar yang mengalir dengan derasnya. Di sinilah batas dimana pengunjung bisa mengambil persediaan air minum. Melewati batas ini, meskipun ada sungai atau aliran air lainnya, namun airnya tidak bisa dikonsumsi / diminum karena mengandung belerang.

Gue menyebutnya air kulkas, karena selain jernih juga dingin. Andaikan gue tahu dari awal, gue ngga perlu berat-berat membawa beberapa botol air minum di ransel gue, sejak dari Depok ! Dasar pemula dan amatiran....

Perjalanan pulang rasanya lebih berat dibanding ketika berangkat tadi. Karena hujan deras yang mengguyur sepanjang jalan, bikin jalur - jalur yang harus dilalui licin dan becek. Ditambah lagi karena harus bertrekking ria dengan pakaian dan ransel basah. Maklumlah, selain karena tadi telat pakai jas hujannya, jas hujan yang gue bawa juga alakadar banget, cuma terbuat dari plastik dan minimalis sehingga cuma menutupi badan gue seadanya aja. 'Perjuangan' pulang ini semakin menantang karena Wildan, yang sejak awal memimpin perjalanan rombongan kecil ini, memutuskan untuk 'tidak beristirahat' selama perjalanan. Tadi ketika berangkat, gue dan lainnya sempat berhenti 3 kali untuk beristirahat sejenak. 


Dengan tanpa istirahat dan langkah kaki yang semakin dipercepat, perjalanan pulang ditempuh dalam 2 jam saja. Gue tiba di pos masuk dengan hati puas, rasa lelah, dan pegal luar biasa di sekujur tubuh yang ngga bisa digambarkan dengan kata - kata. Dan sekonyong-konyong gue dilanda rasa lapar yang membahana. Iyalah...gue belum makan siang. Selama perjalanan sejak pagi tadi gue cuma makan roti, kacang kulit dan biskuit seadanya. 

Gue puas banget dengan perjalanan ke Kawah Ratu ini. Pertama, karena ini perjalanan yang sudah gue idam-idamkan sejak beberapa waktu belakangan. Kedua... Oh My God...Kawah Ratu indah seindah - indahnya! Ketiga, karena dalam perjalanan ini gue dan Ony bisa dibilang memaksa diri untuk melewati batas kemampuan fisik masing - masing. Awalnya gue ragu akan kemampuan fisik dan niat gue untuk bisa menempuh perjalanan yang sejak awal gue tahu akan 'berat'. Tapi ternyata gue dan Ony sanggup dan berhasil. Yes!! Makasih Yesus, untuk penyertaanMu sepanjang perjalanan, dan kesempatan menikmati keindahan ciptaanMu yang yang luar biasa.