I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Saturday, January 27, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (12 Januari 2018)


Ini hari ulang tahun gue. Dan menyenangkan banget rasanya bisa melewatkan hari spesial kayak gini dengan berlibur, ke tempat yang memang udah gue idam - idamkan. Jadi, hari ini gue cuma pengen menikmati hari, tanpa terganggu oleh urusan 'serius' lainnya.

Tujuan pertama adalah ke Candi Kedaton. Berhubung kemarin gue sudah ke sini namun kesorean dan hujan, jadi gue menyempatkan waktu lagi untuk ke sini. Gue ngga mau terburu-buru di satu tempat tujuan, dan harus menikmati mengeksplorasi tempat itu, kalau perlu sampai bosen.

 
Candi Kedaton ini tinggal reruntuhan...dan gue melihatnya jadi seperti labirin, seperti bangunan luas dengan banyak ruangan - ruangan, tapi kadang ada bagian yang seperti gua juga. Gue jadi semakin penasaran dengan bentuk dan kegunaan asli candi ini pada jamannya....jadi terkesan makin mistis dan misterius aja. 

Di tengah - tengah rasa penasaran dan takjub gue akan situs ini, seorang laki-laki yang ada di sekitar situ, yang gue asumsikan adalah salah satu penjaga candi karena kemarin sore pun gue melihat dia di sini, malah cerita bahwa di lokasi Candi Kedaton ini pernah ditemukan 5 buah peti mati berisi kerangka manusia. Kelima peti mati tersebut masih tersimpan di gudang yang berada di dalam area Candi Kedaton. Gue dipersilahkan melihat langsung, jika berminat. Gue bergidik ketakutan....tapi makin penasaran. Gue dan Ony pun menuju gudang tersebut, namun pintunya terkunci. Alhasil cuma bisa mengintip dari jendela kaca, peti mati yang ditumpuk dan ditutupi dengan kain berwarna emas. 

Gue dan Ony sebenarnya menunggu penjaga candi lainnya yang kemarin sore sempat gue temui di sini. Kemarin beliau ingin menunjukkan bagian candi yang merupakan sebuah gua. Karena sudah terlalu sore dan gelap, gue pun berjanji akan datang lagi pagi ini, supaya bisa melihat lebih jelas. Tapi bapak tersebut ngga terlihat pagi ini.

Setelah puas berkeliling, gue meninggalkan Candi Kedaton dan Sumur Upas, berjalan sedikit menuju Situs Watu Umpak yang posisinya tepat di sebelah komplek Candi Kedaton. Watu umpak diartikan sebagai batu berbentuk segi delapan, yang berfungsi sebagai pondasi dan alas (umpak) untuk menegakkan tiang - tiang bangunan jaman kerajaan Mahapahit.


Dari Situs Watu Umpak, gue dan Ony kembali berjalan kaki kali ini menuju Situs Lantai Segi Enam. Di sini gue bisa melihat peninggalan purbakala berupa ubin berbentuk segi enam. Ubin berbentuk segi enam ini hanya ditemukan di lokasi ini, tidak di situs - situs Trowulan lainnya. Kalau melihat bentuk ubin tersebut, rasanya familiar. Kayak paving block ato paving stone yang biasa gue liat dimana - mana, tepatnya area outdoor. Tapi, menyadari bahwa lantai ini adalah peninggalan purbakala dari rumah tinggal pada masa kerajaan Majapahit, yang berdiri dari tahun 1293 - 1500 Masehi, dan masyarakat di era tersebut sudah terpikir membuat ubin berbentuk seperti itu, gue amazed.

Oya, selama di situs lantai segi enam ini gue dan Ony ditemani oleh petugas penjaga candi yang sangat ramah dan informatif. Sementara gue asyik berkeliling ke sana kemari, gue lihat beliau asyik mengobrol dengan Ony mengenai candi ini. Seorang penjaga candi lainnya datang dan mempersilahkan jika gue mau turun langsung ke area candi. Yessss....dengan riang gembira gue pun membuka gerbang, menuruni anak tangga dan dengan berhati - hati mendekat dan mengamati susunan ubin segi enam itu.

 


Puas di situs ini, gue dan Ony melanjutkan perjalanan ke Candi Bajang Ratu. Candi ini berupa bangunan yang tersusun dari batu bata merah, dan masih kokoh berdiri. Bentuknya seperti gapura dengan atap berbentuk limas. Trus dibagian atapnya ada relief-relief yang tampak seperti bentuk hewan. Gue sempat membaca panduan informasi yang tersedia di dalam komplek candi, menurut para ahli yang pernah meneliti bangunan candi ini, dibuatnya candi ini berhubungan dengan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328. Jadi berapa umur candi ini ? Sila dihitung sendiri....


Seperti komplek - komplek candi lainnya di Trowulan, area sekitar candi Bajang Ratu tuh indah dan teduh, dengan rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Lagi - lagi gue dibikin takjub dan salut dengan pemeliharaan taman - taman yang berada di kompek candi - candi yang ada Trowulan ini. Siapapun tukang kebun atau tukang taman, atau apapun itu namanya yang bertugas di setiap komplek candi tuh berdedikasi dan mencintai pekerjaan mereka dan pastinya sangat menghormati serta mencintai candi - candi tersebut. Tanda dedikasi dan cinta mereka terefleksi langsung dalam taman komplek candi yang bersih, asri, dan indah bukan main.

Oya, untuk memasuki area candi - candi di Trowulan ini kebanyakan gratis, atau membayar seikhlasnya. Di setiap pintu masuk biasanya disediakan buku tamu yang wajib diisi oleh pengunjung. Kemarin pas masuk Museum Trowulan Majapahit yang keren itu kebetulan ada harga tiket masuk resmi, yaitu Rp. 5,000 per orang. Jadi, harga ini gue jadikan benchmark, ketika gue diminta untuk membayar seikhlasnya.

Dari Candi Bajang Ratu, tujuan berikutnya adalah Candi Tikus. Candi Tikus ngga kalah indah dari candi - candi lainnya di Trowulan. Bangunan Candi Tikus seperti sebuah tempat pemandian, yaitu kolam, dengan bangunan - bangunan lainnya yang terbuat dari batu bata merah. Dinamakan 'tikus' karena katanya saat ditemukan, lokasi candi tersebut merupakan sarang tikus. Omaigat....harus banget dikasih nama tikus ya....?


Sama halnya dengan candi - candi yang ada di Trowulan, gue kesulitan mencari referensi cerita sejarahnya. Karena kayaknya belum ada informasi yang pasti dan fix mengenai sejarah masing - masing candi....yang gue temukan kayak gini : menurut ahli ini....menurut penulis buku itu....namun ada perbedaan pendapat bla bla bla...konon katanya.....diduga....Kesan ini bikin candi Trowulan semakin misterius di mata gue. Tapi it's okay, menikmati landscape setiap bangunan candi aja udah kepuasan tersendiri buat gue.

Gue ngga bisa berlama - lama di Candi Tikus, karena agenda gue hari ini padat...hallaahhh ! Tujuan berikutnya adalah Akar Seribu. Destinasi ini gue ketahui dari group Facebook Mojokerto Jalan-Jalan, sebagai salah satu wisata alam kekinian ala Mojokerto. Lokasinya di Dusun Begagan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, tepatnya berada di hutan Megolemet, yang berada di pengunungan Anjasmoro. Untuk mencapai si pohon raksasa dengan akar seribu tersebut dari area parkir gue dan Ony harus trekking menyusuri hutan, tanpa tahu arah dan tujuan, selama kurang lebih 30 menit. Belum ada track dibuat khusus bagi pengunjung. Berhubung saat itu hari Jumat, hutannya sepi bukan main...iyalah, namanya juga hutan, kalo rame namanya pasar....maksudnya, ngga ada pengunjung lain yang trekking ke arah Akar Seribu. Untungnya sesekali gue dan Ony berpapasan dengan warga lokal yang namanya sedang mengambil rumput, kayu dan lainnya. 


Begitu tiba di lokasi Akar Seribu, ekspresi gue dan Ony beda. Gue larut dalam kebingungan karena ngga nyangka kalo si pohon berdiri di sebelah sungai yang saat itu arusnya deras amat. Sementara Ony kayaknya sedikiiiittt kecewa karena si akar ngga seraksasa yang dipikirkan. Gue berdua pun mencari akal gimana cara menyeberangi sungai untuk mendekat ke pohon akar seribu. Sebenarnya di situ ada sebuah jembatan bambu. Tapi tampak begitu rapuh dan dipalang menyilang, jadi gue asumsikan ngga boleh dilalui. Kebetulan dekat situ ada seorang warga, yang ngasih tahu gue berdua bahwa jembatan ngga boleh dilalui. Jadi gimana caranya mendekat ke pohon ? Caranya, ya dengan menyeberangi sungai langsung. Makjaann....selain arus airnya kencang banget, gue dan Ony khan juga ngga tau kedalamannya. Memang sungainya banyak bebatuan gitu, tapi tetap aja, siapa yang tahu mana titik yang dalam. Setelah beberapa kali mencoba, lepas sepatu, pake sepatu, trus lepas sepatu lagi, bahkan sampai berusaha mencari jalan memutar, dan akhirnya kembali ke seberang pohon akar seribu, gue dan Ony pun menyerah. Gue berdua ngga mau mengambil resiko dengan sungai ini. Terlebih ngga ada orang lain di situ, kalau terjadi sesuatu, siapa yang akan menolong. Setelah puas memandangi si pohon raksasa dengan akar seribunya, gue dan Ony melangkah pulang. 

 

Tujuan berikut adalah Candi Jolotundo, sebuah petirtaan atau pemandian peninggalan Raja Udayana dari Bali, yang dibangun untuk puteranya, Raja Airlangga. Candi Jolotundo terletak di lereng Gunung Penanggungan. Landscapenya tuh keren dan indah banget. Dikelilingi pepohonan tinggi nan rindang, dan pusat daya tarik dari komplek candi ini tentu saja sebuah kolam yang memiliki banyak pancuran atau sumber air mengalir. Air di Candi Jolotundo ini diyakini berkhasiat dan keramat. Ketika di parkiran, gue melihat orang - orang membawa galon atau jerigen berisi air. Dengan lugu dan polosnya gue berpikir bahwa mereka membawa stok air minum untuk sekeluarga saat piknik ke candi ini. Tapi setelah itu gue heran sendiri....kok sekedar stok air minum banyak amat ampe bawa segalon-galonnya ? Ternyata, kebanyakan pengunjung yang datang ke sini, akan membawa pulang air Candi Jolotundo karena itu tadi....menyakini sebagai air keramat yang berkhasiat. Khasiatnya mulai dari bisa bikin awet muda, sampai menyembuhkan penyakit. 


Di area kolam, tempat pemandian terbagi menjadi dua, untuk perempuan dan laki - laki. Sore itu banyak banget pengunjung di sekitar area kolam, dan kebanyakan pada membawa galon dan jerigen masing - masing. Di bagian tengah kolam terdapat sebuah bangunan, dan gue melihat beberapa orang memanjat ke situ. Ada yang tampak duduk bersila, seperti sedang melakukan sebuah ritual, ada yang sedang mengisi wadah air. Pemandangan ini bikin suasana komplek jadi berasa mistis banget. Gue dan Ony pun memilih melihat - lihat sisi lain dari komplek Candi Jolotundo. Dan ketika kembali ke arah kolam, orang - orang yang duduk di bangunan tengah dan melakukan ritual semakin banyak.

Karena sudah cukup puas berada di sana, gue dan Ony pun memutuskan untuk mengambil langkah pulang. Kayaknya semakin malam kolam akan semakin dipenuhi oleh pengunjung yang hendak melakukan ritual di situ.

Dari Candi Jolotundo Pak Mus sempat mengantar gue dan Ony ke Claket Adventure Park. Ini destinasi yang ngga direncanakan, cuma karena kebetulan lewat aja, jadi gue pikir ngga papa lah sesekali berfoto ala alay gitu.

 

Di situ gue ngga terlalu lama, perjalanan lanjut di sekitar Pacet, sempat mampir makan pentol bakar, yang kayaknya jajanan khas Mojokerto. Trus karena sudah malam, gue dan Ony kembali ke hotel, dan mengucapkan terima kasih dan selamat jalan buat Pak Mus. Ini adalah hari terakhir gue menyewa mobil Pak Mus. 

Oya, sepanjang waktu yang gue lalui hari ini, gue ngga bisa cerita mengenai acara makan siang atau wisata kuliner. Kenapa ? Karena gue emang ngga makan siang dan ngga mampir di rumah makan mana pun untuk makan siang!! Kenapa ? Entah deh, Pak Mus sepertinya kurang agresif dan inisiatif untuk memperkenalkan dan mengantarkan gue dan Ony untuk cari makan di mana kek, bahkan saat gue minta sekalipun ! Setiap kali gue menanyakan soal dimana dan kapan mau makan siang, ada aja alasannya. Karena udah putus asa menahan lapar dan puasa ngemil, beberapa kali gue minta agar mampir ke Indomaret atau Alfamart. Trus dijawab singkat, "Nanti yang di depan aja...." Dan akhirnya gue baru bisa mampir di Alfamart beberapa jam kemudian. Gue pun membeli stok makanan dan minuman sebanyak - banyaknya, sebagai pengganti makan siang. Menurut gue, untuk urusan bawa mobil, jalan, dan lokasi - lokasi wisata, beliau cukup oke. Tapi gue agak kecewa karena dari kemarin gue kesulitan untuk cari kesempatan untuk makan.

Overall gue happy dan puas, hari ini banyak banget yang sudah gue kunjungi. Ini salah satu hari ulang tahun paling seru dan awesome yang pernah gue lalui. Thanks Jesus! 

Tuesday, January 23, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (11 Januari 2018)



Flight gue pagi ini dijadwalkan berangkat jam 5:40 pagi. Gue dan Ony bangun jam 1...entah dini hari atau masih tengah malam itu namanya. Trus, berangkat ke Soetta Airport sekitar jam 2:30 pagi.

Pesawat yang gue naiki nyaris kosong setengahnya, jadi gue leluasa bisa memilih deret bangku yang kosong, dan rebahan, walaupun gak bisa tidur juga, karena perjalanannya cuma sekitar 1.5 jam.

Tiba di Juanda Airport, Sidoarjo, Pak Mustaim, driver dari rental mobil yang gue sewa, sudah standby. Dari airport sebenarnya gue pengen nyobain kuliner Sidoarjo. Tapi menurut Pak Mustaim, belum ada tempat kulineran yang buka. Trus gue malah ditanyain mau mampir kemana di Sidoarjo ini. Berhubung ngga kenal daerah ini, gue nurut aja waktu Pak Mus menawarkan wisata lumpur Lapindo. Hhmm....kawasan lumpur Lapindo ternyata bisa dikunjungi dan jadi salah satu pilihan wisata. Gue dan Ony pun mampir ke sana.

Di sana gue berdua langsung diserbu oleh para tukang ojek yang menawarkan diri untuk mengantar berkeliling dan mendekat ke titik semburan yang terlihat masih aktif, jadi nampak seperti hamparan kawah gitu. Awalnya gue ama Ony cuma mau lihat - lihat sebentar, tapi akhirnya tergoda juga untuk 'pinjam' motor salah satu tukang ojek seharga Rp. 30,000,-

Kawasan sekitar genangan lumpur Lapindo gersang dan panas luar biasa. Trus dengan pedenya gue naik motor tanpa jaket dan topi. Tiba di lokasi yang nampak seperti hamparan kawah yang membumbung tinggi itu, kulit gue udah gosong segosong-gosongnya, dengan rambut acak-acakan. Berada di tengah hamparan lumpur yang mengeras dan mengering itu, susah ngebayangi bahwa dulunya kawasan itu adalah desa-desa dengan bangunan - bangunan rumah, pabrik dan lainnya, yang musnah ditelan lumpur. 

 
 
Setelah puas berjemur dan membakar kulit di bawah ganasnya sinar matahari, gue dan Ony meninggalkan lokasi. Tadinya gue minta diantar ke Candi Pari, tapi menurut Pak Mus akses jalan ke sana sedang ditutup. Kecewa. Perjalanan pun dilanjutkan Menuju Mojokerto yang gue lalui dengan tertidur, dan Ony menemani Pak Mus mengobrol.

Memasuki Mojokerto, terlebih daerah Trowulan, yang gue lihat adalah bangunan - bangunan, baik rumah, kantor, sekolah dan lainnya dengan gapura - gapura menjulang terbuat dari batu bata dengan nuansa merah. Jadi buat gue yang awam gini, terasa ada sedikit nuansa Bali gitu deh....Trus di depan setiap rumah di Trowulan, terdapat bangunan rumah kecil dengan gaya arsitektur khas jaman Majapahit, yang disebut sebagai Majapahitan. 

Pak Mus mengantar gue dan Ony ke Sun Palace Hotel yang letaknya sangat strategis, yaitu pas di Jalan Raya Trowulan, jadi sangat mudah ditemukan. 

Sun Palace Hotel secara sekilas adalah hotel yang nyaman, bergaya Bali, dan fasilitasnya lumayan lengkap termasuk kolam renang. Berhubung hari Kamis, sepertinya tamu hotel saat itu ngga banyak, alias sepi.

Selesai bersih-bersih dan istirahat sejenak, gue dan Ony langsung meninggalkan hotel dan mulai mengeksplorasi Trowulan. Candi pertama yang gue kunjungi adalah Candi Gentong di desa Bejijong. Di dalam komplek Candi Gentong dibagi menjadi 2 lokasi : Candi Gentong 1 dan Candi Gentong 2. Keduanya kini hanya berupa puing - puing yang ditutupi dengan atap berbentuk pendopo. Asri banget komplek Candi Gentong ini....selain dipenuhi pepohonan, yang kebanyakan adalah pohon maja, juga karena hampir seluruh area terdiri dari lapangan rumput nan hijau dan terawat.

Selain itu gue menikmati banget berada di sini karena tidak ada pengunjung lainnya selain gue dan Ony.

Candi Gentong dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk untuk upacara Sraddha memperingati Tribuwana Wijaya Tungga Dewi, ibu Hayam Wuruk. Beughhh...nama - nama populer yang sering gue denger pas pelajaran sejarah jaman SD atau SMP dulu.

 
 
 

Dari Candi Gentong, perjalanan pun dilanjutkan ke Candi Brahu. Dari kejauhan gue udah bisa ngelihat betapa megahnya candi yang satu ini. Selain itu, berbeda dengan Candi Gentong, Candi Brahu bisa dibilang masih utuh dan berdiri kokoh. Candi yang tersusun dari bata merah ini mengingatkan gue sama beberapa candi yang pernah gue kunjungi di Ayyuthaya, Thailand.

Di sini lagi - lagi gue disuguhi pemandangan segar di mata, pepohonan yang super rindang, dan bangunan candi seakan - akan berdiri di atas rumput hijau luas yang nampak seperti permadani. Caelaahh !

Puas dari Candi Brahu, gue dan Ony menuju Maha Vihara Mojopahit. Tujuan gue ke sini tak lain dan tak bukan ya buat melihat patung Buddha Tidur sepanjang 22 meter dan tinggi 4,5 meter. Gue khan paling suka mencari dan mengunjungi patung Buddha Tidur. Salah satu destinasi yang bikin gue pengen banget ke Mojokerto ya Patung Buddha Tidur ini.


Berikutnya Pak Mus mengantarkan gue dan Ony ke Museum Trowulan. Ini adalah museum arkeologi yang menyimpan peninggalan arkeologi dari masa Majapahit, dan yang ditemukan di seluruh Jawa Timur, mulai dari era raja Airlangga, Kediri dan Singasari.

Kayaknya ini salah satu museum dengan koleksi paling banyak yang pernah gue kunjungi, mungkin kayak di Museum Nasional (Gajah) di Jakarta. Rasanya ngga cukup kalo cuma sejam - 2 jam di sini.

Di saat yang sama gue agak heran kenapa sebagian barang koleksi museum diletakkan di luar museum (outdoor), yang bikin gue jadi ngerasa sayang banget, khawatir peninggalan yang terbuat dari batu - batuan tersebut rusak oleh cuaca.

 

Museum Trowulan Majapahit terletak hampir bersebelahan dengan Kolam Segaran Trowulan. Konon kolam Segaran yang berukuran 375 meter x 175 meter ini, pada jaman Majapahit berfungsi sebagai waduk air. Sore itu ketika gue dan Ony mampir ke situ, kolam Segaran dipenuhi oleh banyak warga yang asyik memancing.

Asyik sih sebenarnya menghabiskan waktu di situ, tapi panasnya ngga tahan !


Dari Kolam Segaran gue dan Ony berjalan kaki menuju Pendopo Agung. Pendopo Agung dibangun di atas lokasi Pendopo Agung pada masa Kerajaaan Majapahit, dan konon di sinilah Maha Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang terkenal itu. Sisa-sisa peninggalan pelajaran Sejarah jaman SD dulu yang masih melekat di pikiran, terlebih kalau mengenai Kerajaan Majapahit, ya Hayam Wuruk....dan Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya. Dari teks yang gue sempat lihat di Museum Trowulan Majapahit, begini isi sumpahnya :

Setelah tunduk Nusantara saya akan beristirahat. Sesudah kalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda Palembang, Tumasik, barulah saya akan beristirahat.



Dari Pendopo Agung, tujuan berikutnya adalah ke Candi Kedaton dan Sumur Upas. Begitu tiba di pintu masuk Candi Kedaton dan Sumur Upas, gue takjub sekaligus ngeri, karena Candi Kedaton tinggal berupa reruntuhan yang tersusun seperti labirin, yang sangat luas. Trus di tengah - tengahnya terdapat sebuah sumur yang menurut penjaga candi, airnya beracun. Di sekitar sumur diletakkan bunga mungkin dimaksudkan sebagai sesajen.

Candi Kedaton dilindungi dengan tembok disekelilingnya dan atap kokoh yang bikin keseluruhannya tuh megah banget. Gue salut deh sama Pemkot Mojokerto karena sepertinya sadar banget akan kekayaaan dan aset daerahnya dan terlihat usaha untuk melindunginya. Misalnya dengan membangun pendopo atau bangunan di atas peninggalan candi - candi yang tinggal reruntuhan, dan juga berusaha mempercantik kawasan - kawasan candi dengan merawat taman - taman di dalamnya.

Berhubung saat itu sudah sore, langit gelap dan hujan turun dengan derasnya, gue dan Ony memutuskan untuk pulang dan kembali ke Candi Kedaton keesokan harinya.

Kalau dibandingkan dengan itinerary yang gue buat di awal, kayaknya memang agak meleset, hari ini cuma bisa mengunjungi beberapa tempat saja. Gue dan Ony emang mau leluasa menikmati tempat - tempat yang kita kunjungi tanpa dibatasin oleh waktu, jadi kadang malah berlama - lama di satu tempat.

Setelah diantar kembali ke Sun Palace, gue dan Ony kebingungan nyari makan malam. Akhirnya gue berdua berjalan kaki menuju Rumah Makan Asmuni yang juga berada di sepanjang Jalan Raya Trowulan. Selain masalah transportasi umum yang tak tersedia, tantangan lainnya di sepanjang jalan raya Trowulan yang sebenarnya lebar banget itu, ngga ada trotoarnya di segala sisi ! Bahaya banget buat pejalan kaki...padahal kendaraan - kendaraan yang melintasi jalan ini kebanyakan truk - truk atau bus antar kota yang melaju dengan kencang. Selain itu penerangan jalannya juga minimalis alias kurang banget. Gue dan Ony berjalan kaki justru di pembatas jalan yang berada di tengah jalan raya.


Kelar makan malam, gue dan Ony balik ke hotel dan istirahat. Hari yang super melelahkan, secara aktivitas sudah dimulai sejak jam 1 dini hari, dan sepanjang hari diisi dengan berpetualang di Trowulan. Tapi happy banget....sejauh ini, Trowulan bahkan lebih keren dari yang gue bayangkan sebelumnya.

Sunday, January 21, 2018

Niat Kesampaian Ke Trowulan (Persiapan Trip)


Sejak beberapa bulan yang lalu gue berniat banget pengen ke Trowulan. Awalnya karena gue pernah baca artikel kalau Trowulan dahulu adalah pusat Kerajaan Majapahit, yang masih menyisakan banyak peninggalan kejayaan kerajaan tersebut. Gue langsung takjub seketika. Pertama, demi mendengar nama 'Majapahit' aja langsung bikin penasaran, karena ini adalah salah satu kerajaan paling besar, paling kuat, dan termasyur di Indonesia, dengan nama tokoh - tokoh besar seperti Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan lainnya. Kedua, ternyata di Trowulan terdapat banyak candi - candi serta bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Kenapa telat amat gue tahu mengenai ini ya...

Gue paling senang wisata ke tempat - tempat bersejarah. Khususnya untuk hobi gue menyambangi candi - candi dan bangunan bersejarah, selama ini gue berpikir Siem Reap (Kamboja) dengan Angkornya adalah yang paling fenomenal dan keren. Secara luas, Angkor seperti sebuah kota yang isinya candi di mana - mana. Saking kagumnya, gue sampai dua kali berkunjung ke sana. Ternyata Indonesia juga punya kawasan yang merupakan peninggalan sebuah kerajaan, di mana sebuah daerah atau kota dipenuhi peninggalan berupa candi - candi dan bangunan peninggalan kerajaan kuno.

Untuk mewujudkan impian gue ke Trowulan, awalnya sempat berniat mau naik kereta ke Mojokerto. Trowulan adalah salah satu kecamatan di Mojokerto. Tapi gue urung naik kereta karena perjalanan 12 jam yang harus ditempuh dari Gambir, Jakarta. Rasanya ngabisin waktu di jalan banget. Akhirnya....gue memilih perjalanan ke Trowulan ini sebagai perjalanan ulang tahun gue. Sudah jadi kebiasaan, setiap ulang tahun gue akan melakukan trip jalan - jalan. Karena ini trip ulang tahun, jadi persiapannya agak lebih matang dari biasanya. Gue pun memutuskan untuk menempuh perjalanan menuju Surabaya menggunakan pesawat. Khan ulang tahun, jadi budgetnya boleh lebih dikit...Trus, gue pun mengambil cuti 2 hari dari kantor, biar gue punya waktu leluasa untuk puas-puasin impian buat jelajah Trowulan, 4 hari. Oya, berhubung tahun ini ulang tahun gue jatuh di hari Jumat, gue pun memutuskan menjadwalkan tripnya tanggal 11-14 Januari 2018.

Agak ragu awalnya... Karena seumur - umur ngga pernah merayakan ulang tahun jauh dari keluarga. Keluarga gue punya kebiasaan kalau ada yang berulang tahun akan dirayakan bersama - sama, dengan tiup lilin, makan malam bersama dan berdoa bersama. Dan tahun ini sepertinya gue ngga bisa menjalankan kebiasaan itu tepat di hari ulang tahun gue.

Meskipun udah beli tiket pesawat beberapa bulan sebelum trip, tapi persiapan detil gue menuju Trowulan agak mendadak, baru di awal Januari. Persiapannya termasuk mencari penginapan, transportasi dan tentunya lokasi - lokasi wisata di Mojokerto, dan Trowulan khususnya.

Untuk hotel....cukup sulit mencari informasi mengenai hotel di Mojokerto. Dari pengalaman gue menyiapkan trip ini, gue bisa bilang kalau wisata Mojokerto, dan Trowulan khususnya, belum terlalu terekspos. Jadi agak menantang untuk menggali dan mencari informasinya. Khususnya untuk urusan hotel, sedikit banget daftar hotel yang bisa gue temukan ketika browsing - browsing di internet. Pilihan gue akhirnya jatuh ke Sun Palace Hotel. Ini adalah satu - satunya hotel yang berlokasi di Jalan Trowulan, jadi gue beramsumsi dekat dengan situs - situs candi Trowulan. Untungnya gue bisa booking hotel ini di aplikasi Pegipegi. Rate hotelnya adalah Rp. 372,000/malam untuk deluxe room sudah termasuk pajak dan sarapan untuk 2 orang.

Awalnya, gue berniat menginap di Grand Whiz Trawas, buat nyobain capsule room-nya yang baru di-launched sekitar November tahun lalu. Etappii... Waktu gue mencoba booking melalui websitenya, ngga ada pilihan untuk capsule room, hanya ada untuk 'regular' room. Gue coba booking melalui salah satu platform booking hotel, sama! Trus gue hubungi bagian reservasinya melalui email, ngga dibalas. Terakhir gue kontak dengan cara komen di akun Instagramnya, dan nanya: gimana cara booking capsule roomnya? Komen gue dijawab sih, tapi simpel : bisa melalui website atau di Traveloka, semacam itulahh. Herannn...kok booking hotel bisa sesulit itu ya? Kenapa ngga coba telepon? Ogaaahh...!! Belum apa-apa budget trip gue udah kepake buat pulsa nelpon ke Mojokerto dong. Gue pun jadi ngga ngotot lagi untuk nyobain capsule room di sana. Yang bikin gue ragu juga karena pengen tetap fokus cari penginapan di daerah yang terdekat dengan Trowulan.

Untuk transportasi....ini sama menantangnya dengan urusan hotel. Di Mojokerto dan Trowulan ngga ada transportasi umum ! Satu-satunya cara berpertualang di sini, ya dengan sewa kendaraan. Setelah browsing sana - sini sampai puyeng, akhirnya secara random gue menemukan tempat rental mobil, namanya Pendowo Rent Car. Gue menyewa mobil (berikut supir, sudah termasuk bensin) dengan tarif Rp. 500,000 seharian untuk tanggal 11 Januari 2018, termasuk penjemputan dari Airport Juanda yang lokasinya di Sidoarjo, alias di luar Mojokerto. Wuihhh... Bekpeker gembel pake dijemput segala dari airport? Iyalahhh!! Khan ULANG TAUUNN! Sebenarnya, gue pengen nyobain naik bus umum menuju Mojokerto. Tapi gue lebih kepengen nyari cara tercepat untuk tiba di Trowulan. Gue tahu ada bus dari Sidoarjo yang lewat Mojokerto. Masalahnya, dari terminal Mojokerto gimana caranya gue mencari Sun Palace Hotel yang entah di mana lokasinya gue belum tahu, mengingat fix ngga ada angkutan umum di Mojokerto.

Trus gue juga sewa untuk hari kedua,  12 Januari untuk seharian keliling Mojokerto, tarifnya Rp. 400,000,-. Untuk tanggal 13 dan 14 Januari, gue masih belum punya ide gimana urusan transportasinya, karena kalo liat itinerary yang gue buat, semestinya gue sudah bisa mengeksplorasi seluruh Trowulan dan beberapa lokasi lainnya di luar Trowulan, dalam 2 hari tersebut.

Gue sudah bisa mulai membayangkan, trip Trowulan ini ngga mungkin bisa dilakukan dengan budget minimalis. Secara akomodasi dan transportasinya terbatas banget. Tapi ngga papa lah....khan, ULANG TAUNNN....

Setelah urusan hotel dan transportasi kelar, misi berikutnya nyari informasi wisata Mojokerto. Karena masih blank sama sekali, gue ngga ada gambaran Mojokerto (kota) itu kayak apa...Trowulan itu kayak apa...trus jarak antar kecamatan kayak apa...Selain Trowulan, lokasi wisata Mojokerto yang cukup banyak diulas adalah Trawas dan Pacet. Dengan informasi - informasi ini, gue mulai menyusun daftar dan jadwal jalan - jalan gue...bahasa kerennya itinerary. Oya, seperti gue bilang tadi wisata Mojokerto cenderung kurang banyak diekspos, jadi cukup susah nyari rekomendasi - rekomendasi wisata di sana. Gue pun menjelajah medsos untuk menggali info sebanyak-banyaknya. Gue bergabung di group MJJ (Mojokerto Jalan-Jalan) di Facebook dan beberapa group serupa di Instagram. Tapi yang paling banyak membantu gue adalah Group Facebooknya MJJ itu. Seneng banget bisa nemu group ini, karena anggota-anggotanya sangat aktif share info wisata Mojokerto. Baik wisata sejarah, alam, atau wisata kekinian ala-ala ABG gitu. Ngeliat info - info wisata yang dibagiin di group ini, bikin gue makin ngiler dengan pengen buru - buru ke Mojokerto.

Ini dia itinerary yang gue susun untuk trip Trowulan ini :

11 dan 12 Januari 2018:
  • Candi Brahu
  • Candi Gentong
  • Candi Gapura Wringin
  • Candi Bajangratu
  • Candi Tikus
  • Museum Trowulan 
  • Maha Vihara Mojopahit (Sleeping Buddha)
  • Segaran
  • Situs Pemukiman Majapahit
  • Situs Kedaton
  • Umpak Delapan
  • Situs Minak Jinggo
  • Jolotundo
  • Akar Seribu
13 Januari 2018
  • Museum Sanggar Gubug Wayang
  • Mojokerto kota
14 Januari 2018
  • Museum Kapal Selam, Surabaya
  • House of Sampoerna, Surabaya
Sepanjang kiprah kaki panjang gue berpetualang, kayaknya ini salah satu perjalanan gue yang paling matang persiapannya. Meskipun gue senang melakukan perjalanan yang spontan, tapi positifnya, dengan persiapan kayak begini rasanya lebih tenang.

Can't wait to see you, Trowulan !