I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, May 11, 2021

Kesengsem Pesona Benteng Pendem


11 Mei 2021

Tanggal 23 - 27 April 2021 yang lalu akhirnya gue bisa jalan lagi ke Semarang. Seinget gue sebelum masa pandemi, setiap tahun gue selalu ke sana. Semarang khan salah satu kota kesukaan gue. Kali ini tujuan gue ke sana, mau santai, staycation, work from hotel, mungkin singgah ke Ambarawa, pokoknya bukan untuk eksplor tempat - tempat wisata di sana. Tapi meskipun gue udah sering ke Semarang, ada satu lokasi yang gue belum pernah kunjungi dan masih penasaran mau ke sana, yaitu Benteng Willem I atau Benteng Pendem di Ambarawa. Jadi, trip Semarang kali ini gue bertekad akan mencari jalan ke sana, meskipun gue solo traveler.

Berhubung masih masa pandemi, kali ini gue milih naik kereta Eksekutif (Argo Muria) dari Stasiun Gambir. Dulunya, biasanya gue naik kereta kelas Ekonomi dari Stasiun Senen. Tapi ngebayangin kalo bangku kereta ekonomi tuh sederet bertiga dan tanpa pembatas antar penumpang, langsung bikin gue parno. Selama setahun pandemi, gue menahan diri banget untuk ngga piknik kemana - mana. Ini akhirnya gue memutuskan untuk ke Semarang pun karena bisa dibilang mulai jenuh kelamaan ngga piknik. Itupun dengan komitmen untuk menjaga diri gue sebaik-baiknya dan menjalankan protokol kesehatan baik selama perjalanan maupun selama di Semarang. Jadilah cara teraman, menurut gue, dengan naik kereta Eksekutif, dengan harapan kapasitas penumpang bakal dikurangi drastis. Dan benar sih, perjalanan dari Jakarta ke Stasiun Tawang, Semarang, keretanya super lengang. Oya, untuk harga tiket kereta pulang pergi gue beli seharga Rp. 489.500, sudah termasuk potongan harga, ada promo dari Tiket.com.

Tiba di Stasiun Tawang, gue naik grab car ke hotel Holiday Inn, Simpang Lima. Sebelum ke Semarang gue udah survey hotel yang lokasinya strategis, nyaman dan asyik buat work from hotel. Setelah baca beberapa review, pilihan gue jatuh ke Holiday Inn ini. Untuk harga, ekonomis banget menurut gue, apalagi belinya pas lagi program promo Tiket.com, jadilah total gue dapat harga Rp.1.254.260 untuk empat malam, sudah termasuk sarapan.

Setiba di hotel gue langsung buka laptop, kerja, telponan ama Pak Boss, kelar. Begitu sorean dan langit masih cerah - cerahnya, gue keluar meninggalkan hotel buat menikmati kota Semarang. Gue pun berjalan kaki menuju pusat oleh - oleh Bandeng Juwana di Pandanaran. Beli oleh - oleh bandeng vacuum buat Mamak, Carol dan Ony, paketin pake JNE langsung di lokasi yang sama, trus gue balik ke hotel. Gue ngga mau ribet sama urusan bawa oleh - oleh, karena kali ini bawaan gue sendiri udah banyak. Maklum, kali ini kan gue niat sekalian kerja, jadi tetap bawa laptop dan perlengkapan kerja lainnya. Udah gitu, gue bakal lumayan panjang stay di Semarang, 5 hari, jadi stok baju yang gue bawa pun mau gak mau agak lebih banyak. 

Hari kedua, Sabtu, 24 April 2021, rencana gue adalah mengunjungi benteng Willem I atau Benteng Pendem di Ambarawa. Gimana caranya ? Sebelum trip ke Semarang, gue udah cari - cari info mengenai owis alias ojek wisata di Semarang, yang bisa mengantar sampai ke Ambarawa juga. Ngga susah nyarinya, cukup modal Instagram. Lagian kayaknya 'owis' udah populer di Semarang. Gue menemukan satu kontak, dan sepakat mengenai harga yang ditawarkan, yaitu Rp. 230,000 untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata di Ambarawa. Sebenarnya gue ngga ngotot mau mengunjungi tempat wisata selain benteng Pendem sih, tapi berhubung paketnya begitu, gue oke - oke aja.

Gue minta dijemput oleh Yudha, owis yang akan menemani gue ke Ambarawa, sekitar jam 7:30 pagi. Perjalanan menuju Benteng Pendem seingat gue sekitar 45 menit deh. Dan gue ngga pernah bosan dengan perjalanan dari kota Semarang menuju Ambarawa, melewati Ungaran seperti ini. Gue selalu menikmati, entah apanya ya....udaranya yang sejuk, ngelewatin banyak bangunan - bangunan tua, pokoknya selalu suka. 

Tiba di Benteng Pendem, gue membayar sekitar Rp. 5,000 per orang kalo gak salah. Dan saat itu cuma gue dan Yudha yang ada di sana. Sepi, cuma sesekali ada motor lewat, karena Benteng Pendem sendiri ternyata dijadikan tempat tinggal dan Lapas. Begitu masuk lebih dalam ke area tengah benteng dan berdiri di antara tembok - temboknya yang tua namun tetap kokoh itu, rasanya tak tergambarkan. Sensasi yang muncul, setiap gue menyimpan rasa penasaran tingkat tinggi untuk mengunjungi suatu tempat, dan akhirnya bisa menginjakkan kaki di situ, apalagi tempatnya keren dan bersejarah banget kayak benteng Pendem ini, rasanya luar biasa banget. 






Benteng Pendem ini dibangun tahun 1834 dan namanya diambil dari nama raja Belanda Willem Frederik Prins Vans Oranje - Nassau (1815 - 1940). Disebut 'pendem' karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai bagian dari siasat perang. Buat gue, ini benteng 'pendem' kedua yang pernah gue kunjungi. Beberapa tahun yang lalu gue pernah ke benteng pendem di Cilacap, yang seinget gue dikelola lebih profesional sebagai tempat wisata. Sebenarnya benteng - benteng peninggalan jaman kolonial kayak gini memiliki kesan horor atau mistis tersendiri. Tapi entah kenapa selalu bikin gue penasaran dan bertekad mengunjungi benteng - benteng peninggalan Belanda di daerah lainnya. 


Gue berkesempatan untuk mengeksplor area benteng sampai mentok ke pintu masuk Lapas yang memang harus steril. Lalu gue mengambil arah sebaliknya, dan menuju area pesawahan, dimana gue bisa melihat sebuah bangunan yang merupakan bagian dari komplek benteng Pendem juga. Bangunan berbentuk kotak yang tampak tersusun dari bata merah, berdiri di tengah sawah. Kata Yudha, banyak bangunan seperti itu di kawasan benteng Pendem ini, dan saat ini fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan hasil sawah. Saat gue melanjutkan langkah menyusuri tepi sawah itu, lagi - lagi gue melihat bangunan benteng lainnya, kali ini tampak lebih padat penghuni. Gue bisa melihat jemuran pakaian, atau kandang burung digantung di dalam lantai dua bangunan itu. Gimana rasanya sih tinggal di sini ? Gue menyimpan rasa takjub yang demikian dahsyatnya. Di satu sisi, gue pecinta dan penggemar bangunan - bangunan kolonial bersejarah. Tapi logika gue ngga nyampe untuk membayangkan ada orang dan keluarganya bisa tinggal di bangunan - bangunan tersebut. Yang dibangun hampir 200 tahun silam...dengan kondisi apa adanya alias tanpa direvitalisasi dulu...salut deh gue ! Pasti itu jadi pengalaman dan cerita super menarik tersendiri yang mereka miliki. 



Gue kembali ke area tengah benteng, tempat gue masuk tadi. Saat di sana, tiba - tiba seseorang yang sedang mengendarai motor berhenti, dan bilang, "Kalau mau naik ke atas, naik aja. Kalau ada yang tanya, bilang aja 'kata Pak RT'."

Memang ada papan bertuliskan larangan untuk naik ke lantai 2 benteng. Karena mendapatkan 'ijin' gue pun naik ke atas. Di situ gue sempat melihat - lihat beberapa bagian benteng yang digunakan sebagai tempat tinggal termasuk rumah Pak RT. Dalam hati gue cuma terkagum - kagum sekaligus bertanya - tanya, "Gimana rasanya coba tinggal di sini ?" 






Setelah beberapa saat di area benteng Pendem, gue dan Yudha pun meninggalkan lokasi. Sebenarnya gue belum puas - puas banget sih, entah kenapa, rasanya berat melepaskan pandangan gue dari komplek benteng Pendem ini. Mempesona banget sih buat gue. Mungkin kalo ngga mikirin waktu, gue bisa menghabiskan waktu beberapa lama lagi, cuma berdiri diam di tengah komplek benteng ini. Tapi, weirdo banget gak sih ? Mau duduk - duduk, ngga ada tempatnya. Akhirnya gue menghibur diri dan berjanji dalam hati, secepatnya gue akan ke Ambarawa lagi, dan ke benteng ini lagi. Gue pun melangkah meninggalkan komplek benteng.

Thursday, January 28, 2021

Me & Pandemic Diary (28 January 2021)


Kamis, 28 Januari 2021. 

Kalo ngga salah ini udah memasuki bulan ke-11 pandemi Covid-19. Sayangnya, kondisi belum membaik. Bahkan, saat ini angka kasus positif bertambah secara bombastis. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah memasuki angka 1 juta, dan di dunia mencapai 100 juta kasus. 

Sejujurnya, mungkin karena belum pernah mengalami situasi seperti ini, dan pandemi ini sudah berlangsung berkepanjangan, untuk gue pribadi, perjuangan untuk menguatkan fisik, hati/perasaan dan mental, rasanya luar biasa sih. Ada saatnya gue bisa stabil, tetap optimis dan berfikir positif, tapi ada saatnya juga mental gue jatuh, bosan dan lelah dengan kondisi ini. 

Terlebih, semakin ke sini, semakin banyak orang - orang di sekeliling gue, di dekat gue, yang terkena virus ini. Setiap hal itu terjadi, di saat itulah gue serasa dikeliling awan hitam, yang bikin perasaan suram, sedih, dan putus asa. 

Selama ini gue pernah sekali dites PCR, bukan karena sukarela atau penasaran. Salah satu sahabat gue dites positif Covid-19. Sebagai close contact, gue wajib dites juga. Puji Tuhan, saat itu hasilnya negatif. Saat gue mengetahui sahabat gue itu positif, gue serasa mendapat pukulan dua kali. Pertama, gue sedih karena teman gue 'sakit' diserang si virus sadis ini. Kedua, gimana kondisi gue ya, apakah gue baik - baik saja ?

Selama masa pandemi ini gue punya beberapa cara, atau tepat juga disebut 'pelarian' untuk mengalihkan beban mental. Semakin mendekatkan diri pada Tuhan Yesus yang maha baik, pastinya yang utama. Tampak luar, mungkin gue akan terlihat baik - baik saja sepanjang waktu. Namun aslinya, sering kali dalam hati gue berteriak dan menangis mengungkapkan kegalauan, dan meminta pertolongan dan kekuatan Yesus, bagi fisik dan jiwa, bukan hanya untuk gue sendiri, juga kedua orang tua gue, suami dan keluarga gue, juga sahabat dan teman.

Kedua, quality time bersama keluarga. Buat gue, berada di rumah Mamak, melewatkan waktu bersama Mamak dan Bapak, meskipun tidak melakukan apa - apa, sudah memberikan rasa damai, nyaman, dan tenang tersendiri. 

Ketiga, membuat diri gue bertanggung jawab, dalam hal ini bukan soal pekerjaan gue di kantor. Fokus gue saat ini adalah membantu Mamak dan Bapak agar mereka tetap dalam keadaan fisik sehat dan stabil. Caranya, dengan menyediakan apapun yang 'aman' dan direkomendasikan untuk dikonsumsi bagi lansia seperti mereka. Misalnya vitamin, suplemen, madu, susu, dan lain sebagainya. Sebisa mungkin gue berusaha untuk memenuhi apapun yang mereka butuhkan. 'Kekuatan' yang gue dapatkan dari melakukan ini adalah bagaimana pun jatuh bangunnya kondisi gue, gue akan selalu diingatkan bahwa gue bertanggung jawab dan bertugas untuk menjaga mereka. Entah mengapa, feeling seperti itu, selalu bisa mengembalikan gue ke jalur yang semestinya. 

Selain itu, gue juga berusaha melakukan hal - hal yang bisa menghibur diri sendiri, dan juga menyibukkan diri sendiri juga. Merawat kucing - kucing jalanan yang ada di sekitar lingkungan rumah gue, pun, salah satu 'pelarian' yang positif. Berada di sekitar manusia dan saling berinteraksi, ngga selamanya 'sehat' untuk gue, karena semua manusia di bumi saat ini sedang dirundung kekhawatiran dan kelelahan jiwa menghadapi pandemi ini. Dunia kucing, atau pun hewan lainnya, ngga mengenal topik Covid-19 ini. 

Untuk piknik atau traveling, bukanlah menjadi pilihan pelepas stress buat gue saat ini. Entah kenapa ya....rasanya ngga akan menyenangkan aja untuk melanglang buana namun di saat yang sama harus  ekstra waspada bahkan mengkhawatirkan penularan virus Covid-19 yang bisa terjadi dimana saja, dengan cara apa saja, dari siapa saja. Apalah artinya gue traveling tapi membawa beban kuatir seperti  itu kemana - mana. Saat ini, zona aman gue hanyalah di rumah sendiri dan rumah Mamak. Nowhere else.

Blogging begini juga cara dan media gue untuk menguraikan pikiran yang kusut, yang belakangan tentunya disebabkan situasi Covid-19 ngga menentu ini.

Hmm...apalagi ya ?

Lain waktu gue update lagi mengenai perasaan dan kondisi gue, masih dalam hal berjuang menghadapi situasi ini. Take care, myself !

Wednesday, November 04, 2020

Cerita Karantina : Belajar Investasi ST (Sukuk Tabungan)

Hari ini Pemerintah resmi mengeluarkan instrumen investasi yang disebut Green Sukuk Ritel – Sukuk Tabungan seri ST007. Woww....apa ini ? kok ada green green nya sgala ? gue baru denger dan tentunya belum pernah beli sebelumnya. Sebenarnya gue ngga expect Pemerintah masih akan mengeluarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) lagi sampai akhir tahun. Pas minggu lalu gue liat teasernya di IG account DJPPR Kemenkeu, gue langsung semangat cari - cari info dan mempelajari produk yang satu ini. 

ST007 ditawarkan mulai 4 - 25 November 2020, dengan  tagline “Dari Diri Untuk Bumi”. Melalui instrumen ini Pemerintah memberikan kesempatan buat masyarakat berinvestasi sekaligus berpartisipasi mendukung pembangunan nasional dan membantu mengatasi dampak dari perubahan iklim karena hasil penerbitannya akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek hijau dalam APBN. Wuihh...keren ya filosofinya !

Setelah gue menggali info sana - sini, sebenarnya ST007 ngga terlalu jauh berbeda dari SR (Sukuk Ritel) yang sebelumnya gue bahas di postingan blog sebelumnya berjudul Cerita Karantina : Belajar Investasi ORI & SR. Perbedaannya dengan SR adalah :

  1. di ST berlaku "Suku bunga mengambang dengan batas minimal (floating with floor)". Maksudnya gini. Saat Pemerintah mulai menawarkan produk ini Pemerintah sudah menentukan imbal hasilnya adalah (minimal) 5.5% yang akan dijadikan acuan imbalan di 3 bulan pertama. Berikutnya setiap 3 bulan akan dilakukan penyesuaian sesuai dengan BI (Bank Indonesia) 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Misalnya ke depannya BI Rate naik menjadi 20% (AMEENN!!) maka imbalan ST mengikuti angka ini. Namun jika misalnya turun ke (contoh aja), 4%, imbalan ST akan tetap 5.5%. Menarik banget menurut gue, karena ada semacam 'proteksi' pada imbalan minimumnya.  
  2. Tenor ST hanya 2 tahun (kalo SR 3 tahun). ST007 akan jatuh tempo 10 November 2022. Tenor kayak gini menurut gue memberikan kesan 'aman' untuk investor baru dan kecil - kecilan (kayak gue gini), yang mungkin khawatir jika sewaktu - waktu perlu dana. 2 tahun tuh ngga terlalu singkat, dan ngga terlalu panjang juga. Kalo 3 tahun kesannya, lamaaaaaaa banget. Ini pendapat gue pribadi sih..
  3. ST tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder
  4. ST bisa dicairkan sebelum jauh tempo, dengan syarat : 1) masa kepemilikan ST minimal setahun, 2) nilai kepemilikan minimal IDR 2,000,000,- 3) nilai yang bisa dicairkan maksimal 50% dari setiap transaksi pembelian, 4) pencairan hanya bisa dilakukan di periode yang sudah ditentukan yaitu : 26 Oktober - 4 November 2021

Untuk yang lain - lainnya, karakteristiknya sama aja kok ama ORI dan SR. Sekiaaaannnn !

Monday, October 19, 2020

Cerita Karantina : Quizholic

(di-update Dec 2020)

Salah satu hal yang sering gue lakukan untuk mengisi masa - masa karantina dan work from home adalah dengan mengikuti kuis. Gue emang penghobi ikutan kuis kelas berat. Kadang orang lain suka bingung sama niat gue ikutan kuis yang mungkin buat mereka di atas rata - rata. Tapi why not ? Kuis itu mengasah gue untuk jadi kreatif, kompetitif dan sportif. Kalo menang, bikin perasaan happy, meskipun hadiah yang gue dapatkan sederhana. Kalo kalah, itu momen yang baik untuk gue menerima kekalahan dengan santai dan mengakui keunggulan orang lain. Positif dan simpel kan...

Selama masa karantina (mulai Maret 2020) seinget gue pernah memenangkan 6 (enam) kuis. Pertama, Quiz Screenshot Advantix yang diadakan oleh akun IG sbm.pet. PT. SBM (Sumber Bina Makmur) saat itu adalah distributor resmi produk Animal Health Bayer. Untuk ikutan kuisnya mudah banget, cuma perlu screenshot foto produk bernama Advantix. Untuk kuis yang terbilang 'mudah' kayak gini biasanya gue gak pernah menang, karena saingannya (yang ikutan kuis) bejibun. Tapi kali ini gue beruntung. Hadiahnya, ya produk Bayer, 1 (satu) box Advantix, yang gue gunakan untuk anjing gue si Momo.

Kedua, menang kuis di akun sbm.id lagi. Di awal masa work from home gue, akun ini, beserta akun IG Bayer Animal Health (saat itu), emang salah satu yang paling sering gue monitor. Mereka sering bikin acara IG live, sharing ilmu mengenai bagaimana merawat binatang peliharaan, atau unboxing produk - produk Bayer. Cara mendapatkan hadiahnya saat itu adalah dengan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Beberapa pertanyaan terbaik akan dibacakan dan dipilih sebagai pemenang, dan berhak mendapatkan hadiah atau voucher, yang tentunya masih berhubungan dengan produk Bayer Animal Health. Saat itu gue mendapatkan voucher Tokopedia.

Ketiga, gue menjadi pemenang "Giveaway IG Live Cooking bersama Chef Yo'el" yang diadakan oleh The 1O1 Jakarta Darmawangsa Hotel dalam rangka Perayaan HUT RI ke-75. Gue rasa ini pencapaian gue yang paling epic, secara hal masak - memasak bukan bidang gue banget. Waktu itu challenge-nya mudah sih, Chef Yo'el nya sedang IG Live dengan topik demo memasak rawon. Yang nonton berkesempatan mendapatkan hadiah dengan cara mengirimkan pertanyaan ke chef. Nanti chef-nya akan memilih pertanyaan terbaik. Dan pertanyaan gue terpilih. Hore banget kan untuk gue yang ngga bisa membedakan bumbu masak ini !? Hadiahnya keren, yaitu voucher menginap di The 1O1 Jakarta Darmawangsa Hotel termasuk breakfast untuk 2 (dua) orang. Pas banget buat gue yang lagi doyan staycation.

Keempat, gue menang kuis yang diadakan oleh perusahaan tempat gue bekerja, dalam rangka Patient Safety Day 2020, dan dapat diikuti oleh seluruh karyawan. Caranya mudah banget, dan gue bisa berkompetisi menggunakan akun Facebook gue. Jaman sekarang kayaknya ngga terlalu banyak orang masih mempertahankan dan aktif di akun Facebook masing - masing. Dan itu kesempatan emas buat gue. Gue terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang, dan mendapatkan hadiah voucher yang bisa gue gunakan untuk belanja dan lainnya. 

Kelima, gue menang kuis "Virtual Tour & Virtual Cooking at PappaJack" di Instagram, beberapa hari yang lalu. Cara ikutannya gampang banget, gue cuma perlu ketik sebuah hastag, lalu di-screenshot dan posting di IG story gue. Dan gue terpilih sebagai salah satu pemenang yang akan mendapatkan hadiah voucher makan di restoran PappaJack.

Yang paling fresh, gue menang Sunday Quiz di akun IG Holysteak_ID. Di kuis itu followers diminta nebak/sebutin nama menu makanan (Holysteak tentunya), yang ditampilkan di sebuah foto. Waktu liat kuisnya tayang, gue yang belum pernah sekalipun makan di Holysteak (maybe someday..), langsung browsing menu makanan Holysteak di Google. Nemu, langsung komen di postingannya. Dan menang...! Sebagai hadiahnya, gue dikirimin (ke alamat rumah), 2 (dua) porsi Rice Box Holysteak. Lumayan...jadi bisa nyobain menunya Holysteak.

Selain kuis - kuis tersebut di atas, kayaknya ada lebih dari selusin kuis yang udah gue ikutin. Di samping kemenangan yang gue peroleh, ngga jarang gue juga kalah. Teman - temen gue banyak yang bilang kalo gue (selalu) beruntung dalam hal kuis. Padahal sebenarnya bukan karna faktor keberuntungan sih, tapi NIAT. Yes, 'niat' yang bikin gue selalu semangat ikutan tiap kali liat ada info kuis - kuis baru. Saat ini gue lagi nungguin beberapa pengumuman kuis yang gue ikutin, semoga ada yang bisa gue menangkan. Jika belum ada, semoga masih banyak kesempatan kuis - kuis lain yang bisa gue ikutin dan mengisi waktu luang gue (yang segudang) selama masa work from home. Amiiinnnnn..   

Wednesday, October 14, 2020

Cerita Karantina : Belajar Investasi ORI & SR


Gue bersyukur pada Tuhan Yesus yang Maha Baik, karena di masa pandemi ini gue masih diberikan pekerjaan, sumber rejeki dan penghasilan, untuk gue bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung. 

Seumur - umur baru kali ini gue melihat dan merasakan dampak pandemi terhadap perekonomian secara global. Hal itu mendorong gue untuk semakin sadar untuk menabung dan berinvestasi, karena kita ngga akan pernah tahu, mungkin suatu saat kita harus berada di situasi yang sulit dan terpuruk secara finansial. Jadi menurut gue, selama ada sumber penghasilan ~berapa pun besar / kecilnya~ siapapun: ngga cewe atau cowo, menikah atau single, ada tanggungan atau tanpa tanggungan, gunakanlah kesempatan yang ada untuk menabung dan berinvestasi.

Kebetulan di masa pandemi begini, ruang gerak gue pun sangat terbatas. Belanja dan nongkrong di mall ngga bisa, piknik, traveling dan jalan - jalan ngga memungkinkan. Bahkan ke kantor aja jaraaangg... banget, yang artinya gue irit di ongkos dan jajan - jajan. Jadi, gue berusaha mencari cara untuk mengalokasikan simpanan dari penghasilan gue. 

Selama work from home, karena gue punya waktu berlimpah untuk melakukan aktivitas apapun di rumah, gue mulai tertarik untuk 'mempelajari' produk investasi bernama : ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dan SR (Sukuk Ritel). Gue udah mendengar kedua produk investasi ini dari bertahun - tahun silam, tapi belum kesampaian untuk memilikinya karena belum apa-apa gue udah skeptis mikirin : 1) males cari informasinya, 2) males proses belinya, pasti ribet, 3) asumsi gue, pasti butuh modal gede, dan 4) gue tipe konservatif banget dalam hal investasi. Jadi, produk investasi apapun selain deposito berjangka dan logam mulia, (bagi gue) pasti beresiko !

Kecuekan gue akan kedua produk ini berakhir selama masa pandemi ini, berganti dengan rasa penasaran. Di tahun 2020 ini Pemerintah mengeluarkan ORI  seri ke 017 dan 018, dan juga SR seri ke 012 dan 013. 

Gue pun mulai rajin membaca informasi dan artikel - artikel mengenai kedua produk ini. Untuk makin menambah wawasan, gue follow juga account - account IG milik Kementerian Keuangan dan DJPPR (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko), dan lain sebagainya. Dari hasil perburuan informasi tersebut, gue mendapatkan pengertian begini : ORI adalah surat hutang yang dikeluarkan negara ke masyarakat sebagai sumber dana untuk pembiayaan anggaran pembangunan. Menurut gue ORI ini konsepnya (hampir) sama dengan Deposito yang gue kenal, yaitu :

  1. Bisa dipesan di midis (mitra distribusi) berupa bank umum (bedanya, ORI juga bisa dipesan di perusahaan sekuritas gitu)
  2. adanya bunga (kalo di ORI sebutannya kupon) dengan rate (%) tetap per tahun, sampai dengan ORI tersebut jatuh tempo (untuk ORI017 & 018 tenornya 3 tahun), dan dibayarkan tiap bulan ke rekening investor. 
  3. Besar pokok untuk pemesanan ORI (berkaca di ORI017 & 018) ngga beda dengan deposito. Masyarakat sudah bisa memiliki ORI dengan minimum pembelian Rp. 1,000,000. 

Untuk perbedaannya :

  1. ORI berbentuk tanpa warkat, pembeliannya bisa dilakukan online 
  2. ORI hanya bisa dipesan di periode tertentu (disebut periode penawaran ORI) yang sudah ditentukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Contohnya : ORI017 hanya bisa dipesan selama tanggal 15 Juni - 9 Juli 2020, dan ORI018 selama tanggal 1 - 21 Oktober 2020. Kalo deposito bisa dibuka / dipesan kapan aja 
  3. tenornya lebih panjang dibandingkan deposito, yaitu antara 3 - 5 tahun. ORI017 dan 018 tenornya 3 tahun (berarti akan jatuh tempo tahun 2023). ORI005 (dikeluarkan tahun 2008) ditawarkan dengan tenor paling panjang : 5 tahun. Sementara kalo deposito (setidaknya yang gue tahu dari BTN) maksimal tenornya 2 tahun.
  4. bunga  (kupon) cenderung lebih tinggi dari bunga tabungan regular maupun deposito.
  5. pas ORI jatuh tempo, pokok dana yang sudah investor bayarkan, akan dikembalikan ke rekening investor. Kalo deposito, investor harus datang ke bank untuk memproses pencairan dana yang nantinya akan ditransfer ke rekening investor. Jika investor tidak datang untuk proses ini, deposito akan diperpanjang otomatis.
  6. sebelum jatuh tempo, ORI dapat diperjualbelikan di pasar sekunder (mengenai 'pasar sekunder' ini gue mesti menggali informasi lagi)
  7. Ada potensi capital gain/loss. ini hubungannya dengan poin 6 di atas. Bisa jadi saat investor menjual ORInya, harga di pasar sedang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga asli (saat pembelian). Intinya, gain/loss hanya terjadi kalo investor menjual ORInya (sebelum jatuh tempo). Kalo gak ada penjualan, resiko ini nol. 

Kalo Sukuk Ritel (SR), ini adalah produk investasi yang dikeluarkan Pemerintah dan dikelola menggunakan prinsip syariah. Sejujurnya, sebagai investor, gue ngga lihat/ngerti apa perbedaan antara ORI dan SR. SR dikatakan surat berharga syariah negara yang mekanismenya di bawah pengawasan Majelis Ulama Indonesia. 'Prinsip dan mekanisme syariah' aja gue ngga ngerti sama sekali. Tapi setelah baca sana sini, intinya, Sukuk adalah bukti penyertaan atas kepemilikan aset negara, membeli sukuk berarti membeli aset negara. Woww...!! macam horraaaangg kaiyaaaa... ! Setelah investor membeli 'aset negara', kemudian dipinjamkan ke negara. Dari sinilah investor menerima "imbalan" tetap (kalo dalam deposito namanya bunga, dan di ORI namanya kupon). Sedangkan ORI adalah surat hutang. Buat gue, karateristik SR sama aja ama ORI seperti di list di atas.

Di bulan Juni 2020 yang lalu, Pemerintah menerbitkan ORI017. Ini adalah investasi perdana gue di ORI. Ternyata ada beberapa hal yang harus gue urus sebelum akhirnya bisa bertransaksi. Dengan metode pembelian online, ada plus - minusnya juga. Kalo deposito, gue tinggal datang ke bank, bawa segala macam dokumen persyaratan, pulang - pulang gue langsung bawa warkat bukti pembelian produk investasi. Petugas Customer Servicenya akan membantu seluruh prosesnya. Kalo ORI dan SR, proses dilakukan sendiri via online, tepatnya internet maupun mobile banking. Syaratnya, calon investor harus sudah memiliki SID atau Single Investor Identification. Untuk Bank BTN (tapi gue rasa berlaku di semua bank), investor yang hendak mendaftarkan internet banking dan SID harus datang ke bank langsung. 

Masalahnya di masa pandemi gini, untuk keluar rumah, pergi ke tempat keramaian termasuk bank, bukan hal yang pengen banget gue lakukan. Dan pengalaman awal gue dalam proses ini kurang mulus sih. Gue harus mendatangi 3 cabang BTN sampai akhirnya urusan pendaftaran SID ini rampung, yaitu di BTN Lenteng Agung. Awalnya gue udah hampir menyerah, membatalkan niat membeli ORI, karena proses pendaftaran SID-nya buntu dimana - mana, sampai gue ngga ngerti sendiri masalahnya di mana. Ada yang alasan 'atasannya lagi tidak di tempat', ada juga 'jaringan lagi offline' dll deh...

Oya, gue memilih menggunakan rekening BTN, karena gue sudah memiliki rekening 'Tabunganku' di sini, jenis tabungan yang bebas biaya administrasi bulanan. Gue ingin 'menyimpan' hasil kupon, imbalan, bunga, apapun itu namanya...di rekening ini. 

Setelah berhasil mendaftarkan internet banking dan SID, baru kerasa berinvestasi di ORI dan SR ini mudaaaahhh...dan praktis banget! Awalnya gue agak kurang terbiasa aja, karena 'token' di internet banking-nya BTN tuh menggunakan handphone yang gue gunakan. Tapi lama - lama jadi terbiasa. Setelah menyelesaikan proses pemesanan dan pembayaran ORI dan SR di internet banking, nanti gue akan menerima beberapa email konfirmasi yaitu Bukti Pemesanan SBN (surat berharga negara) ritel dan Bukti Penerimaan Negara. Email - email inilah yang menjadi pengganti warkat fisik.

Oya, ORI017 ditawarkan di Juni 2020 dengan kupon 6.4% per tahun. Di saat itu bunga deposito (untuk simpanan < Rp. 100,000,000) di BTN hanya 5.25%. Berikutnya di bulan Agustus 2020, pemerintah mengeluarkan SR013 dengan imbalan sebesar 6.05% per tahun. Terakhir, di bulan ini (Oktober 2020) pemerintah mengeluarkan ORI018 dengan kupon sebesar 5.7% per tahun. Makin ke sini kupon/imbalan makin kecil. Tapi gue maklum sih mengingat situasi di masa pandemi yang bikin perekonomian porak - poranda kayak gini. Tadi pagi gue menerima email dari BTN (tumben) yang menginformasikan bunga deposito saat ini adalah 4.7%. Jadi, kupon/imbalan produk ORI dan SR ini tetap lebih tinggi kok.

Ke depannya, kalo ada niat, mood dan mendadak penasaran, gue juga pengen belajar jenis - jenis SBN atau surat berharga negara lainnya, terutama yang ritel. Lumayan banget buat nambah wawasan dan pilihan investasi. Khusus untuk ORI dan SR ini, positifnya, selain berinvestasi, gue juga turut berpartisipasi dalam program pembangunan nasional. Mantulll !