I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, August 26, 2012

Red Horse Bulletin

Red Horse Bulletin udah menginjak bulan keempat sejak terbitan pertamanya di bulan Mei 2012. Sayangnya, gue belum pernah sempat membaca secara lengkap dan detil isi dari newsletter khusus karyawan Santa Fe Relocation Services global ini. 

Seingat gue, gue hanya sempat 'melirik' edisi pertama Red Horse Bulletin di bulan Mei 2012 yang lalu. Itu pun karena foto gue terpampang di situ, yakni saat gue menerima hadiah iPad dari Director Santa Fe Relocation Services Indonesia. Saat itu gue penasaran apakah pose gue cukup memuaskan atau justru memalukan. Selebihnya, bahkan gue belum sempat membuka - buka setiap halaman berikutnya.
Bukan berarti rasa senang dan bangga gue memudar. Gak ada kata - kata yang bisa melukiskan perasaaan gue karena mendapat kesempatan untuk menamai newsletter ini. Newsletter ini jadi bagian tak terpisah dari gue, sampai kapan pun. Newsletter ini juga memiliki arti penting untuk mengingatkan diri pribadi, bahwa meskipun gue terkadang merasa 'kecil', namun ada kontribusi yang bisa gue berikan, yakni ide. Ide menamai newsletter yang dibaca oleh seluruh karyawan Santa Fe Relocation Services di seluruh dunia. Rasa senang juga timbul karena menulis dan membaca adalah salah satu hobi gue. Dan jika gue bisa menamai sebuah media yang berhubungan dengan urusan membaca dan menulis seperti newsletter ini, itu memberikan kesenangan khusus untuk gue.

Untuk berikutnya, gue menantang diri sendiri untuk bisa menulis dan mengirimkan artikel yang layak dimuat di newsletter ini. Sebenarnya ada sekian banyak ide melayang - layang di pikiran gue selama ini. Namun waktu dan perhatian gue, terlebih selama jam kantor, terkuras untuk urusan pekerjaan. There is a will, there is a way...suatu saat gue akan meluangkan perhatian untuk memikirkan, mengolah dan mewujudkan artikel impian tersebut. 

Tuesday, June 12, 2012

"Mommy Always Love You Son, Whatever It Takes..."


Akhir pekan yang lalu, gue berkunjung ke Pondok Pengayom Satwa yang terletak di daerah Ragunan. Awalnya gue pikir tempat ini hanya semacam panti asuhan untuk satwa anjing dan kucing liar. Namun ternyata, banyak pelayanan dan fasilitas lainnya tersedia disini. Ada klinik satwa, tempat penitipan satwa, grooming, bahkan pelayanan pemakaman dan kremasi satwa. Satwa yang dimaksud dikhususkan pada anjing dan kucing saja.


Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Taman Makam Satwa. Areanya tidak terlalu luas, tapi sangat asri, bersih, dan tenang. Walaupun ini adalah area pemakaman satwa, namun entah disengaja atau tidak, terdapat pohon kemboja yang rindang, yang sepertinya menjadi ciri area pemakaman umum. Beberapa pohon jenis lainnya yang tak kalah rindang juga terdapat di area ini, seakan - akan hendak memberikan keteduhan dan kenyamanan untuk para penghuninya.

Hal unik yang gue temui di sini adalah batu - batu nisan di atas setiap kubur para satwa. Bentuknya ngga kalah dan berbeda dengan batu nisan tempat pemakaman jasad manusia. Awalnya, saat melihat batu nisan satu persatu, gue tertawa karena merasa ada sesuatu yang lucu, namun pada akhirnya gue terharu dan turut bersimpati pada setiap manusia pemilik para satwa yang telah beristirahat abadi itu, atas kesedihan mendalam yang mereka rasakan karena kehilangan 'teman' atau 'anggota keluarga' tercinta mereka.

Kesedihan atas perpisahan abadi mereka dengan satwa kesayangan masing - masing terlihat jelas pada kata - kata yang diurai pada setiap batu nisan. Betapa para satwa ini adalah sosok yang sangat berarti untuk setiap pemiliknya, bahkan sebagian pemilik mencantumkan nama belakang masing - masing pada nama satwanya, pada setiap batu nisan, menandakan bahwa para satwa ini adalah anggota keluarga mereka tercinta.

Keunikan lainnya, beberapa batu nisan mencantumkan tanda salib, seperti layaknya batu nisan manusia, yang menandakan agama dan kepercayaan si penghuni makam yaitu Kristiani. Hal baru yang pernah gue liat, tapi menurut gue dengan cara demikian si pemilik menunjukkan rasa terima kasih kepada Yesus atas karunia tak ternilai, yakni satwa yang mereka sayangi. Dan mereka meyakini bahwa para satwa tersebut telah berpulang ke pangkuan Yesus.


Kata - kata yang tertoreh di batu nisan, bahkan lebih menyentuh hati. Kata - kata terakhir yang berasal dari hati terdalam setiap pemilik yang siap atau tidak siap ditinggalkan selamanya oleh yang mereka cintai,  yakni para satwa tersebut. Ada yang menuliskan, "We never forget our beloved PEPSI. Jesus will take care of you dear.." Di batu nisan lainnya, dengan tulisan tangan sang pemilik berpesan, "Rest in peace my living miracle, BINGO. Mommy always love you son, whatever it takes..so long my son.."

Gue pernah merasakan beberapa kali ditinggalkan sahabat satwa yang sangat gue sayangi, dan akibat yang ditimbukan adalah kesedihan mendalam. Rasanya hanya gue dan Yesus yang mengerti. Hubungan persahabatan antara manusia dan satwa adalah hubungan yang tulus dan spesial. Dan saat hubungan  persahabatan itu terenggut saat maut datang, tiada hal lain yang tersisa selain rasa kehilangan yang menyesakkan.

Gue salut pada para pemilik yang telah menguburkan satwanya di sini, atau di tempat - tempat  layak lainnya. Dengan memberikan tempat peristirahatan yang indah seperti di Taman Makam Satwa ini seakan - akan mereka hendak mengungkapkan "Terima kasih dan selamat jalan, Kawan..." dan mendoakan kedamaian abadi untuk para satwa. Sebentuk persahabatan yang indah dan tak berakhir, meski hingga maut memisahkan.

Saturday, May 26, 2012

Mengeksplorasi Keindahan Beng Mealea


Akhirnya bisa kembali ke Siem Reap. Tepatnya 13 bulan setelah kunjungan pertama gue ke kota ini. Sewaktu gue meninggalkan Siem Reap tahun 2011, rasanya berat bukan main. Kota ini punya pesona luar biasa,dan gue berdoa pada Yesus agar diijinkan kembali ke sini. Dan gue pun kembali...

Ada beberapa hal yang berubah dari Siem Reap sejak kunjungan terakhir gue. Kali ini ngga ada Mr. Sambo yang menjemput di airport dan menemani gue berpetualang...ngga ada lagi toko roti kesayangan gue, Luck Bakery, yang selalu gue datangi setiap jam 7 malam karena memberikan diskon 50%...Perubahan pun datang dari gue pribadi. Kali ini gue ngga lagi mengandalkan KFC sebagai makan malam. Gue terbuka untuk nyobain makanan lokal di sepanjang Pub Street.

Hal - hal lain belum berubah. Penduduk lokal yang tetap ramah dan bersahabat, dengan sapaan khas,"Good morning/afternoon/evening, lady...How are you ? Where are you from ?" Juga, keindahan Angkor yang tetap bikin gue terpesona dan selalu pengen kembali ke kota ini. Namun dalam kunjungan ke Siem Reap kali ini, hati gue tertinggal dan melekat kuat di temple yang baru pertama kali gue kunjungi, Beng Mealea.Gue berkunjung ke Beng Mealea di hari Minggu (20 Mei 2012), yang diawali dengan perasaan ragu - ragu. Selain jaraknya jauh, ongkos tuktuk menuju ke sana juga lumayan mahal. Golden Temple Villa sendiri menawarkan harga USD 28 untuk ongkos tuktuknya. Gue pun bernegosiasi dengan Veng, dan akhirnya mendapat harga spesial : USD 22. Sejak dari airport, Veng adalah sopir tuktuk andalan yang dikirim The Siem Reap Hostel untuk menjemput gue. Dia gesit, ramah dan cukup lancar berbahasa Inggris.

Beng Mealea, yang berarti kolam teratai, dibangun dipertengahan abad ke 12. Jaraknya 70 km dari Siem Reap, yang berarti sekitar 2 jam perjalanan naik tuktuk. Untuk memasuki kawasan temple, pengunjung harus membeli tiket seharga USD 5. Tiket terusan Angkor sendiri ngga bisa digunakan disini.

Sejak tiba di depan gerbang utamanya, ngga ada hal lain yang gue lakukan selain mengaguminya dan terheran - heran dengan kondisi temple. Kawasan temple sepi pengunjung. Mungkin wisatawan yang datang ke Siem Reap lebih tertarik dan fokus untuk mengeksplorasi Angkor. Entahlah...yang jelas gue sangat menikmati suasana sepi temple ini. Bangunannya tidak direstorasi seperti temple - temple yang banyak gue temui di Angkor. Kondisi temple dibiarkan 'berantakan' dengan bebatuan yang tadinya elemen pendiri temple, dan telah runtuh.

Gue hanya bisa mengeksplorasi temple dengan bersusah payah menyusuri hamparan bebatuan berukuran besar. Awalnya gue ngeri karena kondisi temple yang terkesan misterius dan mistis, terlebih karena pohon - pohon raksasa mendominasi dan menguasai temple, dengan akar - akarnya yang menjalar ke segala arah, seakan - akan mencengkeram setiap tembok yang dilaluinya.  Kesannya dramatis banget.


 
 
Baru beberapa saat, gue kelelahan. Lelah karena harus menjelajah bangunan temple yang sangat luas, di bawah teriknya sinar matahari siang itu, dan tanpa berbekal air minum. Namun kelelahan gue dengan ajaibnya berubah menjadi antusiasme menjelajah temple, walaupun itu berarti gue harus melompat, memanjat, dan merayapi hamparan bebatuan di temple ini.

Setelah selesai menjelajah seluruh area temple, gue kembali ke sisi gerbang utama. Kelelahan dan kengerian gue di awal kunjungan berubah seketika. Area ini menjadi tempat bermain yang mengasyikan buat gue. Temple ini seakan - akan menyentuh sisi lain diri gue, dan memberikan kebebasan seluas - luasnya untuk menyalurkan energi gue. Mama selalu bilang gue ngga pernah merasa cape. Biasanya kata - kata itu Mama ucapkan dalam keadaan kesal dan marah karena menurutnya gue gak memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk beristirahat. Mama bilang energi dan tingkat kenekatan gue terkadang melebihi laki - laki sekalipun.

Gue membayangkan andaikan Mama ada di Beng Mealea saat itu, pasti Mama akan melihat gue yang sangat bahagia....dan bisa meloncat serta memanjat ke sana kemari di tempat menakjubkan seperti ini, adalah hal yang luar biasa untuk gue...ngga peduli dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh, dan kulit yang semakin menggelap dibakar sinar matahari. Semuanya sepadan dengan apa yang bisa gue nikmati di Beng Mealea ini. Sebagian hati gue tertinggal di temple ini. Di setiap bebatuan raksasa...di setiap tembok - temboknya yang kokoh...dan di setiap pepohonan yang memberikan keindahan tersendiri pada temple ini. Seluruh elemen yang ada disini membentuk sebuah harmoni yang sanggup menyihir pengunjung yang melihatnya.

Sore itu gue meninggalkan Beng Mealea dengan perasaan berbeda. Sebelumnya gue sudah memutuskan, kunjungan ke Siem Reap kali ini adalah yang terakhir, tapi Beng Mealea membuat gue menarik kembali keputusan gue itu. Gue harus kembali ke sini suatu saat nanti. Gue harus kembali ke temple yang bukan sekedar gue kagumi, melainkan memberikan rasa damai, bahagia dan puas untuk gue.


Kalau Yesus mengijinkan, gue akan kembali ke Beng Mealea.

Tuesday, May 15, 2012

Selamat Jalan, Mr. Sambo

 
 
Keberangkatan gue besok menuju Siem Reap diisi dengan berita sedih. Gue baru menerima balasan email dari pihak Golden Temple Villa, tempat gue menginap di Siem Reap tahun lalu, mengabarkan bahwa Mr. Sambo, supir tuktuk yang selalu menemani gue berkeliling Siem Reap, ternyata telah meninggal dunia, bulan yang lalu.

Berita yang sangat mengagetkan, terlebih di saat gue sibuk mencari cara menghubungi Mr. Sambo lagi, supaya beliau bisa menjadi supir tuktuk sekaligus teman andalan gue lagi dalam trip kali ini. Tahun lalu, Mr. Sambo sempat memberikan kartu namanya supaya gue bisa menghubungi beliau kalau berkunjung ke Siem Reap lagi. Beberapa hari terakhir gue sudah mencoba mencari kartu nama Mr. Sambo, tapi ngga menemukan. Siang tadi akhirnya gue memutuskan untuk mengirim email ke pihak Golden Temple Villa, untuk menanyakan nomor telepon Mr. Sambo. Sebenarnya awalnya gue agak ragu akan mendapatkan tanggapan, berhubung kali ini gue tidak akan menginap di Golden Temple Villa. Tapi ternyata, gue justru menerima berita menyedihkan.

Gue ngga akan lupa kebaikan Mr. Sambo selama gue di sana. Beliau adalah partner perjalanan yang sangat menyenangkan. Mr. Sambo adalah bagian dari cerita perjalanan gue ke Siem Reap tahun 2011 yang lalu, yang semuanya berjalan dengan indah dan berkesan. Mr. Sambo, tuktuk merahnya, dan sikapnya yang sangat ramah dan baik. Sosok yang ngga mungkin gue lupakan, sampai kapan pun. 

Gue akan selalu ingat orang - orang yang gue temui dalam perjalanan bekpekeran gue. Terlebih orang - orang yang memberikan keramahan dan kebaikan nan tulus, di saat gue berada jauh di negeri orang, sendirian. Orang - orang yang selalu gue sebut sebagai 'malaikat' yang dikirim Yesus untuk menemani kesendirian gue dalam berpetualang. Dan Mr. Sambo salah satunya. Sosok yang memiliki kesabaran di atas rata - rata, karena bisa menemani gue dan meladeni apapun permintaan gue. Meskipun sulit karena kendala komunikasi...atau karena keinginan gue yang diluar batas wajar...
 
Bahkan Mr. Sambo adalah salah satu yang paling spesial. Dan berita kepergiannya meninggalkan kesedihan di hati gue..Kali ini ngga ada lagi yang menyambut gue di airport dengan senyum tulusnya seraya membawa kertas bertuliskan "Welcome, Cherry Sitanggang"...ngga ada lagi Mr. Sambo yang akan setia mengantar gue sepanjang hari, bahkan dari matahari baru terbit, sampai awan malam menyelimuti langit. Mr. Sambo sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Beristirahatlah dengan tenang, Mr. Sambo...Maaf karena tidak sempat ada ucapan selamat jalan sempat terucap menjelang kepergian Mr. Sambo. Gue akan selalu mengenang Mr. Sambo sebagai sahabat jauh gue, yang akan selalu tersenyum ramah dan menawarkan kebaikan hatinya yang tulus kepada siapapun.


Thursday, March 22, 2012

Dari Hostel Ke Hostel

Kamis, 08 Maret 2012, gue kembali ke comfort zone, Singapura.

Selain karena tiketnya udah dibeli jauh - jauh hari, juga karena gue emang benar - benar butuh break dari urusan pekerjaan yang terlalu melelahkan pikiran dan fisik belakangan ini.

Yang menarik dari trip kali ini, akhirnya gue bisa mewujudkan impian untuk ngerasain tinggal di hostel / penginapan yang berbeda tiap malamnya. Sebenarnya sejak trip bekpekeran pertama kali tahun 2009 yang lalu, gue pengen mewujudkan rencana kayak begini, tapi batal karena ternyata merepotkan dan melelahkan. Tapi kali ini, situasilah yang memaksa gue untuk loncat dari hostel satu ke yang lainnya.
Kamis, 08 Maret 2012

Hostel pertama yang gue singgahi di trip kali ini adalah Fern Loft Hostel, Little India, yang terletak di 257 Jalan Besar Road. Sejak dari Jakarta gue udah reservasi melalui www.hostelbookers.com untuk ranjang di '6 bed - mix dorm room' dengan rate SGD 20.

Lantai dasarnya dijadikan ruang lobby, resepsionis, ruang duduk dan sarapan, yang disusun sedemikian rupa jadi tampak artistik dan nyaman. Kamar terletak mulai di lantai 2. Mungkin karena warna di kamar ini didominasi warna cerah mulai dari cat tembok dan sprei ranjangnya, jadi memberi kesan luas. Walaupun tanpa dilengkapi jendela tapi suasana di dalammnya tetap nyaman, karena fasilitasnya lengkap, mulai dari kipas angin, exhaust fan dan AC.

Selimutnya....gue suka selimutnya yang tebal dan hangat, karena mengingatkan gue sama selimut di kamar tidur di rumah gue. Biasanya hostel - hostel paling hanya menyediakan sebuah kain tipis sebagai selimut.

Di lantai 2 ini terdapat 2 kamar mandi yang berfungsi sekaligus sebagai toilet. Pasti tiap pagi keduanya jadi bahan rebutan. Gue kurang sreg karena toiletnya ngga dilengkapi dengan semprotan air, dan lagi hostel ngga menyediakan hair drier. Hair drier tuh penting banget buat gue yang butuh waktu cukup lama untuk sekedar mengeringkan rambut habis keramas.

Malam ini gue gak akan tidur di kamarnya Loft Fern Hostel yang mungil dan nyaman dengan selimut tebalnya itu. Gue akan melalui malam ini di bus malam tujuan Johor Baru - Kuala Lumpur. Gue reservasi di Loft Fern Hostel karena gue butuh tempat untuk mandi, beristirahat sejenak (1 jam) dan menitipkan ransel karena gue akan langsung bertolak ke Kuala Lumpur.

Walaupun tidak akan menginap di sini esok hari, tapi pihak Fern Loft mengijinkan gue menitipkan ransel di loker yang ada di lantai 1. Loker disediakan dengan gratis, tapi gue harus menggunakan gembok dan kunci sendiri.

Jumat, 09 Maret 2012 (pagi)

Gue tiba di Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur, hampir jam 4 pagi. Sekitar jam 5 gue menuju lantai 2 terminal, tepatnya ke hotel transit bernama Rest & Go. Dengan RM 15 per jam, tamu bisa menikmati tidur di kasur empuk di dalam kamar sempit dengan pintu geser.

Sekitar jam 7 pagi, ketukan keras di pintu membangunkan gue. Ternyata sudah 2 jam sejak gue check in tadi, yang berarti sudah waktunya gue keluar dari kamar. Jadi begitulah cara sang resepsionis mengingatkan para tamunya untuk segera check out dari hotel.

Selain kamar, hotel ini juga menyediakan pelayanan lainnya seperti pijat, internet, dan tempat penitipan bagasi.

Sayangnya hotel - yang buat gue pantas disebut hotel terkecil di dunia ini - ngga menyediakan kamar mandi dan toilet. Tamu dipersilahkan untuk menggunakan kamar mandi dan toilet yang ada di area terminal.

Jumat, 09 Maret 2012 (Malam)

Gue tiba kembali di Singapura sekitar jam 10 malam. Dengan tergesa - gesa gue menuju Fern Loft Hostel untuk mengambil ransel. Setelah itu gue langsung menuju Tresor Tavern Hostel yang letaknya hampir bersebelahan dengan Loft Fern.

Gue reservasi di TresorTavern Hostel melalui www.hostelbookers.com, untuk ranjang di '12 bed-mix dorm room" dengan rate USD 14.31. Kondisi kamarnya agak - agak mengerikan. Dari 12 ranjang berbentuk bunk bed yang tersedia, 9 diantaranya sudah ditempati oleh penghuni tetap. Penghuni tetap ini adalah warga non Singapura yang tinggal dan bekerja di Singapura. Dan ranjang di bawah gue, sepertinya dijadikan tempat menggantung dan menumpuk pakaian mereka. Di setiap kolong tempat tidur berserakan koper, sepatu, kaus kaki, dan sampah. Di atas setiap loker, terdapat tumpukan sampah lainnya, sisa makanan atau koran bekas. Nyaris semua yang ada di kamar ini tidak sedap di mata dan hidung gue.

Baru beberapa saat tertidur, gue dibangunkan oleh suara yang nyaris menyerupai suara terompet bersahut - sahutan. Ternyata suara mengganggu itu adalah dengkuran maha dahsyat dari salah satu penghuni. Gue penasaran untuk mencari asal suaranya, tapi kesulitan karena lampu kamar dipadamkan. Dengan seketika suara ini melenyapkan napsu dan kenyamanan tidur gue. Dalam hati gue mengutuki si pendengkur sialan yang sudah mengacaukan acara tidur gue, sementara badan gue sudah sangat lelah karena perjalanan panjang Kuala Lumpur - Singapura. Suara dengkurannya memiliki efek teror ke telinga dan hati gue !

Sabtu, 10 Maret 2012

Pagi pun datang, dan suara dengkuran tetap tak berakhir. Gue pun turun dari ranjang dan bersiap - siap untuk mandi. Setelah itu gue sarapan di lantai 1 hostel. Sarapan pagi itu adalah buah apel, roti bakar dan teh hangat.

Selesai sarapan gue menuju ruang internet. Yang kurang menyenangkan lagi di hostel ini adalah fasilitas internet yang tidak gratis. Tamu harus membayar SGD 1 per 30 menitnya. Padahal pagi itu gue harus mencari informasi hostel, karena gue pengen segera kabur dari Tresor Tavern Hostel. Setelah mendapatkan beberapa alamat dan nomor telepon, menyiapkan ransel, dan meninggalkan hostel. Dalam hati gue berjanji untuk tidak akan pernah lagi menginap di sana.

Pagi ini gue menghubungi beberapa hostel untuk mencari ranjang kosong, dan itu adalah hal yang sulit karena sedang weekend. Akhirnya kabar gembira datang dari ABC Hostel di Bugis, karena disana masih tersedia mix dorm room. Gue tiba di sana sejam kemudian dan segera check in dengan membayar SGD 24 untuk '6 bed-mix dorm room'.

Kamarnya, walaupun kecil dan berisi 3 pasang bunkbed, adalah kamar ternyaman dan terbersih dalam catatan bekpekeran gue kali. Ngebandingin nyamannya kamar di ABC sama Tresor Tavern, bagaikan langit dan bumi...terlalu jauuuhh ! Semua bersih...bahkan sprei biru langitnya pun terlihat bersih meyakinkan. Seprei ranjang gue di Tresor Tavern semalam sangat mencurigakan...kayaknya seseorang udah menempati ranjang itu sebelum gue.

Minggu, 11 Maret 2012

Gue bangun sekitar jam 5 pagi, karena harus mengejar MRT pertama tujuan Changi airport yang akan datang jam 6.30. Selesai mandi dan membereskan ransel, gue ke dapur untuk sekedar mencari air putih untuk minum vitamin. Seorang staf hostel, laki - laki, sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi itu. Gue ngga berharap bisa sarapan karena baru akan dimulai jam 7.30 setiap paginya. Tapi begitu staf yang ramah itu selesai, gue tergoda untuk bertanya apakah boleh memulai sarapan. Dengan ramah staf ini pun mempersilahkan. Bahkan dia berpesan, kalo lain waktu gue tinggal di ABC dan flight gue lebih pagi lagi, gue tinggal memberitahukan ke resepsionis supaya sarapannya bisa disiapkan lebih pagi.

Gue senang bukan main, karena masih berkesempatan menikmati roti gosong ala hostel sebelum kembali ke Jakarta.

Setelahnya, gue meninggalkan ABC hostel menuju Bugis MRT Station dengan perut kenyang dan hati senang.

Gue senang tinggal di hostel. Selain karena harganya yang backpacker friendly, banyak pengalaman unik dan seru yang bisa didapat. Pengalaman yang bisa jadi menyenangkan atau menyebalkan, tapi akan selalu berkesan. Tinggal di hostel, mau ngga mau, membuat orang bertemu dan saling berbagi dengan banyak orang lainnya dari negara dengan kultur yang berbeda. Privasi nyaris ngga ada, digantikan sama tuntutan untuk bertoleransi dengan sesama penghuni hostel. Dan yang terpenting, tinggal di hostel menuntut pribadi yang mandiri, berani dan senang bersosialisasi.