I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, November 27, 2013

"Medical Reimbursement : ....... "

Barusan intip slip gaji bulan November, dan....senang bukan kepalang...biaya vaksinasi kanker serviks yang gue keluarkan, ternyata dibayarkan oleh perusahaan. Padahal sejak awal gue siap untuk menanggung biayanya secara pribadi. Dan untuk mencapai tingkat kesiapan dan kerelaan itu (terkadang gue bisa sangat pelit pada diri sendiri), gue memerlukan waktu bertahun - tahun. Bayangkan, gue sudah berencana untuk melakukan vaksin saat gue masih bekerja di perusahaan A. Kemudian gue pindah kerja di perusahaan B, dan lalu gue pindah lagi ke perusahaan C, yaitu tempat gue bekerja saat ini. Dan hasil pertimbangan gue yang terlalu lama itu ternyata memberi hasil. Jadwal vaksin kedua gue tepat bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan perusahaan bahwa vaksinasi jenis ini ditanggung oleh perusahaan.

Senangnya karena banyak hal. Satu, gue mendapatkan uang gue kembali. Kedua, ada perasaan lega dan salut pada managemen perusahaan karena kesediaannya menanggung biaya vaksinasi ini menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada karyawatinya. Di perusahaan - perusahaan lainnya, secara umum biasanya biaya vaksinasi, khususnya untuk orang dewasa tidaklah ditanggung. Kebanyakan perusahaan hanya bersedia menanggung biaya sakit, bukan tindakan pencegahannya seperti vaksinasi ini. Ini berdasarkan hasil pengalaman gue pribadi yang berloncat ria dari satu perusahaan ke lainnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Hari Senin (25 Nov) yang lalu perusahaan ini menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Depok sebagai pemenang kegiatan Penilaian Perusahaan Terbaik Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Perempuan Tingkat Kota Depok Tahun 2013. Gue sebagai salah satu karyawati, mengamini dan turut senang. Menurut gue pribadi, itu bukanlah basa - basi atau sekedar predikat belaka. Gue mengatakan ini bukan untuk pamer atau pun menjilat....meskipun bulan Desember adalah bulan bonus akhir tahun...hehhehehe! Ini murni ekspresi dari rasa senang dan apresiasi gue kepada perusahaan yang telah mengapresiasi sumber daya manusianya. Makasih, perusahaan ! *senyum manis mengembang sambil kipas - kipas slip gaji*

Tuesday, November 26, 2013

Curhat Adopsi

dog walking with Momo
Sekedar curhat. Kemarin (Senin, 25 Nov 2013), rumah gue kedatangan penghuni baru, seekor Siberian Husky jantan usia 5 bulan bernama Momo. Gue ngga suka namanya. Melihat fisiknya yang gagah seperti seekor srigala, seharusnya dia layak mempunyai nama yang lebih baik. Tapi biarlah....karena si Momo sudah telanjur mengenal namanya.

Kehadirannya sebenarnya bukan di saat yang tepat, bukan di saat gue menginginkan anjing lain dalam rumah gue, dalam hidup gue. Secara finansial, sejak gue mulai mencicil sebuah rumah mungil, sebenarnya gue sudah berjanji untuk mengetatkan segala pengeluaran. Gue sudah pernah membuat daftar pengeluaran pemeliharaan anjing, dan angkanya fantastis menurut gue. Tapi, perhitungan gue saat itu adalah untuk anjing lokal seperti Bruncuz. Bukan seekor Siberian Husky dalam masa pertumbuhan seperti yang gue miliki saat ini. Artinya, biaya perawatannya pasti jauh lebih tinggi.

Momo si Husky adalah anjing yang diberikan pemilik sebelumnya ke abang gue. Abang gue suatu saat menelepon dan menanyakan apakah gue mau merawatnya. Gue menolak karena mengetahui bahwa Momo adalah anjing jantan. Bruncuz juga jantan dan menurut gue itu akan menjadi situasi yang tidak mengenakkan buat Bruncuz. Hubungan mereka pasti akan dipenuhi dengan persaingan. Gue gak tega sama Bruncuz, karena kehadiran Momo pasti akan membuatnya cemburu dan lalu stress. Bruncuz cuma mengenal gue seorang dalam hidupnya. Bruncuz adalah penggemar gue nomor satu. 

Namun lalu Abang gue bilang bahwa Momo adalah bocah malang yang harus dilepaskan pemiliknya karena sang istri tidak mengharapkan kehadirannya, dan membiarkannya berkeliaran di sebuah area proyek. Momo, bocah yatim piatu yang tidak mempunyai tempat tinggal dan sumber makanan yang jelas setiap harinya. Ceritanya menjadi demikian dramatis, yang membawa gue ke situasi serba salah. Gue bukanlah pahlawan penyelamat kaum anjing. Namun demi mendengar cerita seperti itu, gue jadi ngga tega. Apalagi Abang gue juga bilang terkadang Momo mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari warga sekitar, misalnya dilempari. Akhirnya gue mengiyakan untuk memelihara Momo.

Memelihara seekor Siberian Husky bukanlah sebuah kebanggaan atau gengsi untuk gue. Justru seakan - akan beban berat baru saja diletakkan di pundak gue yang lemah. Gue ngga mengenal Husky sama sekali. Seperti apa sifatnya, bagaimana merawatnya, bagaimana melatihnya, dan lain sebagainya. Justru selama ini gue pribadi berpendapat seharusnya seekor Husky tidak berada wilayah beriklim tropis seperti Indonesia. Hal itu kejam, bagaimana mungkin seekor Husky yang identik dengan salju 'dipaksa' hidup di sini. Belum lagi, gue diresahkan oleh perasaan bersalah karena kehadiran Momo mengganggu kedamaian dan ketenangan hidup Bruncuz. Semalam, gue di halaman belakang sampai sekitar jam 11 malam, hanya untuk mengawasi keduanya, karena mereka kerap berantam. 

Gue berjanji dalam hati bahwa gue akan melatih Momo sedini mungkin, meskipun belum tahu bagaimana caranya. Gue tahu, apabila gue tidak melatihnya, gue yang akan merasakan segala kerepotannya di kemudian hari. Soal biaya, itu adalah tantangan lainnya. Pagi ini gue meminta tolong pada Mama untuk membelikan gue sekarung beras. Momo adalah anjing besar dan tinggi, yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kebutuhan makannya yang menggila menjadi penyebab utama keributannya dengan Bruncuz. Hal - hal lainnya, sampai saat ini masih menjadi tantangan yang belum gue ketahui bagaimana cara melaluinya. 

Beberapa penyesuaian (baca : pengorbanan) pun harus gue lakukan. Gue bolos berenang karena harus meluangkan waktu untuk mengenal dan melatih kedua anjing gue. Gue juga bertekad untuk membawa keduanya secara bergantian, berjalan kaki setiap paginya, yang artinya bangun subuh adalah kewajiban. Selain Momo harus gue biasakan ber-morning walking di sekitar rumah, hal itu juga harus gue lakukan untuk menyalurkan energi dan naluri bermainnya. Dan banyak penyesuaian lainnya.

Gue harus berusaha untuk tetap berpikir positif. Katanya anjing merasakan energi dalam diri pemiliknya. Jadi sebaiknya gue berusaha senang menyambut kehadiran Momo. Sekali lagi....ini curahan hati belaka dari seorang adopter amatiran.

Thursday, October 31, 2013

Vaksinasi HPV Tahap Kedua

29 Oktober 2013. Gue kembali ke RS. Harapan Bunda untuk mendapatkan vaksinasi HPV tahap kedua. Kalau menurut anjuran Rumah Sakit, seharusnya gue kembali kemarin, 28 Oktober 2013. Tapi berhubung gue sempat lupa dan ditambah dengan jadwal dr. Rina Fajarwati yang lebih pas dengan jam pulang kantor, maka gue pilih hari Selasa, 29 Oktober 2013.

Kali ini gue santai melakukannya. Gue berangkat dari kantor menerobos hujan badai dengan naik mikrolet disambung dengan taksi, demi tiba di RS. Harapan Bunda. Sebelum berangkat gue sempat menelepon ke sana dan ternyata bisa mendaftar sekalian. Jadilah gue ada di daftar tunggu nomor 2.

Selain itu, langkah gue lebih mantap lagi karena sekarang perusahaan tempat gue bekerja sudah menyatakan bersedia untuk menanggung biaya vaksinasi HPV ini. Walaupun disertai dengan berbagai persyaratan, namun tetap saja ini berita gembira.

Seperti proses sebelumnya, vaksinasinya berlangsung kilat. Gue lebih tenang saat dr. Rina menyuntikkan cairan vaksinnya, tanpa perlu memeluk lengannya erat - erat. Setelah itu gue menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi pembayaran. Rincian biayanya : Rp. 160,000 (konsultasi dokter spesialis) ditambah Rp. 700,000 (biaya vaksinasi). Total Rp. 860,000. Gue kumpulkan semua dokumen pembayaran tersebut untuk keperluan klaim ke perusahaan.

Kemungkinan, kalau klaim ini dikabulkan oleh perusahaan, gue adalah karyawan pertama yang menggunakan benefit ini. Namun, jika pada akhirnya nanti mungkin karena kurang memenuhi syarat maka klaim gue tak terbayar, ini pun sudah gue antisipasi. 

Saat gue mantap untuk memulai tahapan vaksinasi ini, gue sudah sadar konsekuensinya, lebih tepatnya, biaya tidak sedikit yang harus gue keluarkan. Ini adalah satu kebutuhan yang termasuk kritikal, namun cukup menguras kantong. Dan kehadirannya di antara kebutuhan - kebutuhan lainnya seperti cicilan rumah, bantuan bulanan untuk Mama, arisan, cicilan logam mulia, kewajiban menabung, dan pos - pos lainnya, semakin menambah semarak dan berat beban keuangan gue. Dengan demikian, ada hal yang perlu gue korbankan. Salah satunya, harus menahan hasrat traveling sementara waktu.

Tapi setidaknya gue puas karena sudah melakukan apa yang menurut prinsip gue perlu dilakukan dan didahulukan. Masalah kesehatan harus di urutan pertama. Kemarin saat di Rumah Sakit, seorang sahabat yang mengetahui bahwa gue melakukan vaksinasi HPV ini kebetulan menelepon dan dengan santai bilang, "Mahal amat ah....Gue nanti - nanti aja deh...kalau udah nikah. Biar suami gue aja nanti yang bayarin." Gue cuma tertawa dan dalam hati bersyukur, "Untung Nyonya Sitanggang mendidik dan membesarkan gue untuk menjadi perempuan mandiri. Untuk apa gue menunggu sampai orang lain turun tangan membiayai sesuatu yang positif bagi kesehatan gue, di saat gue sendiri pun diberikan berkah dan rejeki dari Tuhan untuk bisa melakukannya sendiri.

Sampai jumpa, vaksinasi tahap ketiga tahun depan !

Saturday, October 26, 2013

N.A.S.A.R


Gue pernah berjanji...atau mungkin lebih tepat disebut bernasar, akan berjalan kaki dari kantor dan ke rumah. Janji ini sebagai bentuk kecil dari rasa syukur dan senang gue karena diterima kerja di tempat sekarang.

19 Oktober 2013. Pagi ini gue bertekad untuk mewujudkan janji itu. Gue merasa mulai terdesak karena sudah hampir setahun gue bekerja di sini, tapi belum juga gue merealisasikannya. Persiapannya nyaris ngga ada. Namun yang pasti, untuk berjalan kaki 10.2 km melewati Jalan Raya Bogor yang padat dan semrawut, paling ngga pagi ini gue sudah membawa baju, celana dan sepatu olah raga.

Tepat jam 6.30 sore, gue meninggalkan kantor. Rencana awalnya seharusnya tidak semalam ini. Hanya saja gue sempat tertahan di kantor oleh beberapa urusan pekerjaan. Gue memulai langkah dengan santai. Gue belum pernah menempuh perjalanan sekitar 10 km sekaligus, jadi harus bijak menentukan ritme jalan gue yang kadang terlalu cepat dan bersemangat. Gue gak mau kehabisan tenaga atau pegal di tengah jalan nantinya.

Belum apa - apa gue sudah harus mampir di SPBU terdekat, untuk buang air kecil. Sebelum ini, gue sudah melakukan yang bisa gue sebut 'pemetaan'. Gue mencatat dalam pikiran gue, dalam perjalanan gue nanti akan ada sekitar 4 SBPU dimana gue bisa berhenti untuk keperluan buang air kecil. Selain SPBU, gue juga memetakan pusat perbelanjaan, dan bahkan pohon beringin ! Di sepanjang jalan Raya Bogor banyak terdapat pohon - pohon beringin yang kadang ukurannya sangat besar dan raksasa.

Ada satu pohon  beringin raksasa di daerah bernama Lapan yang paling perlu gue antisipasi. Pohon itu terletak di antara kios - kios yang kebanyakan menjual perlengkapan otomotif. Batang pohonnya bahkan menempati satu buah kios di antaranya. Dahan - dahannya terbentang hingga menutupi lebih dari satu ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo. Saat mulai malam dan gelap, sosok raksasanya yang misterius itu cukup bikin gue ngeri. Terlebih, kios - kios yang ada disekitarnya akan tutup pada sore menjelang malam, dan membuat area itu menjadi sepi.

Beberapa ratus meter sebelum melalui pohon itu, gue pun menyeberang jalan. Si penakut yang ingin menaklukkan Jalan Raya Bogor ini pun hanya berani mencuri - curi pandang ke arah sosok beringin dari seberang jalan.

Sepanjang perjalanan gue memang harus beberapa kali menyeberangi jalan. Gue ingin menghindari ruas - ruas jalan yang terlalu sepi, terlalu gelap, atau kurang nyaman dan aman untuk gue lalui.

Gue terus berjalan dan berjalan. Kedua kaki gue mungkin sudah mulai pegal, tapi secara keseluruhan fisik gue masih sangat kuat. Gue sedikit takjub dengan kondisi ini, yang gue asumsinya sebagai hasil positif dari kegiatan renang yang gue lakukan hampir 3 kali dalam seminggu. Yang luput dari persiapan gue adalah, masker. Sebenarnya gue sudah siapkan masker, namun sayangnya gue tinggal begitu saja di laci meja kerja. Gue ngga nyaman pakai masker, sementara untuk perjalanan ini gue ingin mengutamakan kenyamanan semaksimal mungkin. Namun saat gue menempuh perjalanan ini, keputusan itu menjadi sedikit penyesalan. Gue terpaksa harus menghirup udara dan gas kotor yang berasal dari debu jalanan maupun knalpot. Jalan Raya Bogor memang kurang bersahabat terhadap pejalan kaki. Di beberapa bagian jalan, gue bahkan kesulitan mencari ruang untuk berjalan. Kadang gue berjalan dengan berebut ruang dengan para pengendara motor, di tengah kemacetan. Di saat - saat seperti itu rasanya paru - paru gue terisi penuh dengan asap knalpot. Sebenarnya gue bisa berhenti sejenak untuk mampir ke toko terdekat untuk membeli masker. Namun kebiasaan buruk gue saat berjalan kaki adalah sulit berhenti. Berhenti memberi kesempatan untuk fisik gue merasakan lelah dan pegal. Ini harus dihindari.

Menjelang jam 8 malam, posisi gue sudah di sekitar pabrik Khong Guan. Di dekatnya terdapat pusat belanja Naga, yang entah kenapa setiap kali gue lewat situ selalu tergoda untuk mampir dan jajan. Lalu gue mempertimbangkan untuk mencari makan malam. Seperti gue bilang tadi, gue ingin menjalani acara jalan kaki gue malam ini sesantai dan senyaman mungkin, dan gue harus menikmatinya. Kali ini gue ingin menikmati makan malam berupa sate padang yang ada di daerah Keong.

Herannya, gue ngga betah berlama - lama duduk. Jadi gue sekedar menyelesaikan makan malam gue itu, lalu dengan semangat memulai berjalan kaki lagi. Di titik itu, gue udah menemukan kenikmatan berjalan kaki di sepanjang Jalan Raya Bogor yang semrawut. Banyak hal yang bisa gue lihat dan lakukan. Seakan - akan berjalan kaki membuat gue bisa lebih dekat dengan hal - hal menarik yang selama ini tak terjangkau oleh gue. Dengan segala tantangan dan kenikmatannya, perjalanan ini jauh lebih penting dan menarik dari sekedar mencapai tujuan akhirnya.

Sejak awal perjalanan, dua kali gue berhenti karena masalah alas sepatu gue yang hampir copot. Ini adalah perpaduan antara usia pakai sepatu itu yang lumayan lama yaitu 3 tahun, dan jalan berjalan gue yang terlalu cuek dan membuat sepatu apapun yang gue pakai cenderung cepat rusak. Sempat terbersit niat untuk mampir ke toko yang menjual lem power atau semacamnya. Karena kondisi sepatu ini membuat gue terseok - seok, dan ini sangat menghambat perjalanan. Tapi tentunya lagi - lagi gue ogah berhenti. Gue bahkan enggan berhenti untuk menyelamatkan paru - paru gue dari gas beracun tadi, lalu untuk apa gue berhenti untuk sekedar urusan sepatu. Gue pun merobek paksa bagian sol yang terlepas dari sepatu. Masalah pun selesai.

Mendekati daerah Cijantung, gue memutuskan untuk tetap di ruas Jalan Raya Bogor arah Bogor. Karena setiap hari melewati jalan ini, gue sudah sangat hapal bahwa kawasan ini akan berubah menjadi tempat bisnis prostitusi gelap di malam hari. Beberapa wanita atau pria yang ingin menjadi wanita dengan pakaian agak terbuka dan dandanan seadanya akan berdiri di sepanjang trotoar atau (mungkin) menunggu pelanggan di warung - warung kecil yang ada di dekatnya, di sepanjang ruas Jalan Raya Bogor arah Pasar Rebo.

Mal Cijantung pun sudah di depan mata. Gue sudah sering menempuh perjalanan Mal - Cijantung sampai ke rumah. Jadi rasanya misi perjalanan gue sudah hampir berakhir. Mama pasti sedang menunggu gue dengan was - was dan khawatir. Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, seperti biasa apabila gue membawa tas ransel Mama akan menanyakan apakah gue berencana berenang hari ini. Gue jawab, "Ngga Ma. Cei mau jalan kaki dari kantor ke rumah." Senyum semangat terukir di wajah gue. "Apaaaa ?!!!" dan gue lihat wajah Mama sedikit histeris dan berakhir dengan ekspresi dan was - was kesal. Sepertinya Mama sadar, nasihat apapun yang akan disampaikannya, gue akan tetap berjalan kaki.

Gue tiba di rumah tepat jam 9 malam. Mama menyambut kepulangan gue dengan kelegaan mendalam yang terlihat jelas di wajahnya. Bruncuz menyambut gue dengan gonggongan dan loncatan, bersemangat dan berenergi maksimal, seakan - akan sudah 20 tahun ngga berjumpa dengan gue. Ya, meskipun gue sudah kelelahan dan ingin segera mandi, kewajiban malam gue harus tetap dijalankan. Masih dengan pakaian dan sepatu olah raga lengkap, gue memasak dan menyiapkan makan malam untuk Bruncuz. Setelah beberapa saat bermain - main dengan Bruncuz di teras belakang, gue pun mandi dan naik ke ranjang.

Alamak, rasa lelah dan pegalnya menyerbu dengan ganas. Gue pun segera terlelap. Di tengah malam gue dibangunkan oleh rasa sakit di tenggorokan. Ini pastinya efek dari tidak menggunakan masker. Seluruh indra pernafasan di tubuh gue mulai menunjukkan respon atas segala macam udara kotor yang gue hirup di sepanjang perjalanan. Namun semuanya terobati dengan rasa senang dan puas yang gue rasakan. Setelah hampir setahun menunda, akhirnya gue bisa menepati nasar gue. Makasih Yesus!

Sunday, September 29, 2013

Ragu Berliku Menuju Vaksinasi Kanker Serviks

Setelah bertahun - tahun menunda dan menunda, akhirnya Sabtu (28 Sept) kemarin gue membulatkan tekad untuk melakukan vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) alias pencegah kanker serviks. Gue bilang "bertahun - tahun" karena sejauh yang gue ingat, niat untuk melakukannya udah ada sejak tahun 2008 yang lalu. Saat itu, dengan semangat menggebu - gebu dan rasa ingin tahu yang sangat dahsyat, gue berusaha mencari informasi sebanyak - banyaknya mengenai vaksinasi ini. Sejak saat itu sampai akhirnya gue memutuskan untuk vaksin, ada 2 (dua) kendala internal yang menghalangi gue untuk segera merealisasikan niat ini.

Pertama, cara berpikir yang sangat konservatif bikin gue takut untuk mendapatkan tindakan medis apapun selama ngga sedang menderita sakit. Gue takut tindakan pencegahan ini justru menjadi bumerang dan memberikan efek samping membahayakan. Ini cara berpikir yang aneh sebenarnya. Karena di sisi lain gue menganggap vaksinasi adalah cara pencegahan yang efektif. Sayangnya itu hanya gue terapkan pada anjing gue, Bruncuz. Bruncuz punya daftar vaksinasi lebih panjang dari gue. 

Kedua, harga vaksinnya yang selangit, berkisar antara Rp. 700,000 - Rp. 1,000,000/suntikan, belum termasuk biaya konsultasi dokter. Sementara untuk sepaketnya, sebanyak 3 (tiga) kali suntikan harus dilakukan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan. Untuk alasan yang kedua ini, sebenarnya gue bersikap ngga konsisten. Gue ngga pernah bersikap hemat dan perhitungan kalau itu mengenai tiket pesawat atau rencana liburan. Gue menjadwalkan liburan sekitar 3 - 4 kali setahun, yang meskipun ala backpacker, tapi tetap saja merogoh kantong. Selain itu, walaupun seadanya, gue juga menyisihkan penghasilan untuk menabung dan investasi. Tapi entah mengapa, tiap kali memikirkan kembali niat untuk vaksinasi, gue segera berusaha menguburnya dalam - dalam dengan alasan finansial. Bahkan gue sempat bertekad baru akan melakukan vaksinasi jika perusahaan tempat gue bekerja saat ini menanggung biayanya, atau paling tidak mensubsidi sebagian biayanya.

Belakangan, niat yang belum kesampaian ini kembali mengganggu ketenangan pikiran gue. Akhirnya di hari Sabtu itu gue berangkat ke Rumah Sakit Umum Pasar Rebo. Saat itu niat gue sekedar untuk mencari informasi, karena gue kurang puas dengan segudang informasi yang udah gue peroleh melalui Google. Setiap kali gue menelepon Smileybeberapa Rumah Sakit di Jakarta, hasilnya selalu mengecewakan. Telepon gue dioper - oper ke divisi yang berbeda - beda. Dan selalu berakhir dengan tanpa hasil. Gue belum pernah mendapatkan informasi tepat dari orang yang tepat pula di Rumah Sakit tersebut. Informasi yang jelas pernah gue dapatkan ketika menghubungi Yayasan Kanker Indonesia, baik yang ada di Sunter maupun Lebak Bulus. Namun soal harga selangit itu lagi - lagi mementahkan niat gue. 

Usaha lain yang gue lakukan adalah mencari program promo. Program ini pernah ditawarkan sebuah klinik melalui website agregator, dengan potongan harga lumayan. Tapi program diskon yang bombastis justru membuat gue ragu mengenai kualitas vaksinnya. Setelah sibuk browsing, sebuah klinik lainnya menawarkan diskon menggiurkan dengan menggunakan kartu kredit tertentu. Tapi lagi - lagi gue bingung dan ragu, bagaimana mungkin masalah kesehatan serius tingkat tinggi dijual obral seperti itu.Gue semakin ngga ngerti dengan diri sendiri. Dari awal gue begitu 'terganggu' dengan masalah harga yang tinggi, tapi begitu ada tawaran diskon menarik, gue justru meragukan kualitas vaksin dan kredibilitas klinik atau rumah sakitnya. Memangnya gue berharap akan ada rumah sakit sekelas Gleneagles Singapura yang akan menawarkan potongan harga  90%, gitu ? Smiley.

Kembali ke kunjungan ke RSU Pasar Rebo, begitu di meja informasi gue langsung memperoleh kepastian bahwa rumah sakit tersebut belum melayani vaksinasi HPV. Mengejutkan sekaligus mengecewakan. Bukankah penyakit kanker serviks salah satu pembunuh perempuan tertinggi di Indonesia ? Lalu kenapa rumah sakit umum ini belum melayani program (vaksinasi) pencegahannya ?

Belum puas dengan hasil pencarian gue, perjalanan pagi itu pun berlanjut ke RSU. Harapan Bunda. Yang menarik, ini adalah satu - satunya rumah sakit yang memberikan informasi jelas mengenai program vaksinasi HPV termasuk harganya melalui website resminya Smiley.

Di meja pendaftaran gue dilayani oleh petugas - petugas yang ramah dan siap membantu. Dengan keraguan mendalam gue bertanya, "Mbak, saya mau vaksin kanker serviks, bisa ?" Dalam hati gue berharap sang petugas menjawab, "Vaksinasi tidak bisa dilayani di hari Sabtu.." Namun petugas yang ramah itu justru menjawab, "Sebentar saya cek dulu Mbak, ada dokter kebidanan atau tidak." Gue kaget mendengarnya, dokter kebidanan ? Terdengar sangat menakutkan. Gue bahkan sangat jarang berurusan dengan dokter umum, dan saat ini gue akan dipertemukan dengan dokter kebidanan. 

Petugas itu pun berlalu ke dalam kantor dan gue bisa melihatnya menelepon. Dia kembali dan bilang, "Dokternya ada Mbak. Mbak mau dengan dr. Rina atau dr. Arman ?" Otak gue berpacu. Gue ngga siap untuk melangkah sejauh ini. Awalnya khan hanya untuk mencari informasi, namun sekarang gue harus memilih dokter. Dan, siapa pula dr. Rina dan dr. Arman ? Gue cuma menjawab dengan suara tertahan, "Yang perempuan aja Mbak...dokter Rina.." Gue pun dipersilahkan menuju ruang kebidanan. Astaga....ini peristiwa bersejarah yang menegangkan untuk gue. Berstatus masih lajang, belum menikah, dan melangkah menuju ruang praktek kebidanan. Rasa paniknya hampir sama seperti waktu gue pertama kali bekpekeran, sendirian, bertahun - tahun silam. Saat gue tiba di pelabuhan Harbourfront, siap menghadapi barisan petugas imigrasi Singapura. Sensasinya sama. Berjalan di lorong rumah sakit, siap menghadapi dokter spesialis kebidanan.

Di ruang yang dipenuhi banyak pasien itu, beberapa perawat menyambut gue dengan ramah. Mereka mencatat data pribadi dan mengukur tekanan darah gue. Begitu selesai, gue bertanya pada salah satu perawat, "Hasilnya apa Mbak ? Darah rendah ya ?" Hasil tekanan darah gue selama ini emang seringnya rendah, dan kali ini gue berharap hasil itu menjadi penyelamat gue. Gue berkhayal si perawat menjawab, "Darah rendah, Mbak....Mbak dilarang vaksin hari ini." Namun lagi - lagi jawabannya lain, "Normal, Mbak.." Setelah itu, gue pun dipersilahkan menunggu di antara pasien - pasien lainnya. Kehadiran gue disitu sepertinya menjadi pemandangan yang kontras, di antara para perempuan lainnya yang kebanyakan sedang mengandung, dan ditemani suami masing - masing. Gue harus menunggu sekitar sejam lebih karena panjangnya antrian. Akhirnya nama gue pun dipanggil, "Nona Cherry !" Entah apa yang ada di pikiran orang - orang yang ada di ruang itu begitu mendengar sebutan "Nona" itu.

Di dalam ruang praktek dr. Rina Fajarwati spOG., lagi - lagi gue disambut dengan keramahan ala rumah sakit ini baik oleh sang dokter maupun perawat pendampingnya. Dr. Rina tidak menggunakan jaket atau pakaian putih ala dokter, dan sejujurnya secara psikis itu menolong gue untuk mengurangi rasa takut. Dr. Rina mengatakan bahwa keputusan gue untuk vaksin sangatlah positif mengingat begitu banyaknya pasien kanker serviks yang dia layani sehari - hari. Mencegah lebih baik daripada mengobati, katanya. Yang dimaksud dengan "mencegah" karena vaksinasi ini dianjurkan dilakukan ketika belum menikah alias belum aktif secara seksual, pada usia sedini mungkin (dapat diberikan sejak usia 10 tahun).

Dari awal gue udah bilang ke dr. Rina kalau gue sangat penakut berhadapan dengan jarum suntik, vaksin, dan sejenisnya. Gue teringat waktu melakukan vaksin flu di kinik kantor beberapa bulan sebelumnya. Gue harus memeluk tangan sang dokter erat - erat demi mengurangi rasa sakitnya. Sebenarnya rasa sakitnya tidak seberapa, namun karena rasa takutnya segunung, jarum suntik secuil itu pun menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Dokter yang bersikap sangat keibuan itu pun seakan - akan bisa membaca pikiran gue dan dia bilang, "Gak sakit kok...cuma sebentar. Pegang tangan saya saja.." Dan jarum suntik itu pun mendarat di lengan kiri gue. Dr. Rina bilang efeknya lengan gue akan terasa pegal. Gue ngga masalah dengan itu, karena toh kedua lengan gue saat itu sudah sangat pegal akibat berenang sampai malam di hari sebelumnya.

Proses vaksinasi selesai, dan senyum bahagia mengembang di wajah gue. Akhirnya dengan keberanian seadanya gue bisa mewujudkan niat yang udah tertahan selama bertahun - tahun. Gue pun melangkah dengan girang ke meja kasir. Biaya yang harus gue bayar hari itu :
  1. Vaksin Cervarix (total) : Rp. 699,925
  2. Biaya dokter & administrasi : Rp. 170,000
Selain itu gue pun diberikan jadwal vaksinasi berikutnya, yaitu bulan Oktober 2013 dan Maret 2014. Dalam hati gue berjanji untuk jadwal berikutnya tidak akan membiarkan alasan apapun membuat gue ragu dan menunda proses vaksinasinya. Kesehatan gue, yang penting baik untuk saat ini maupun masa depan, harus menjadi yang utama dan prioritas.