I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, June 28, 2017

Jadi Turis Di Kota Sendiri (2)




Vihara Dharma Bhakti
26 Juni 2017

Kelar urusan check in dan bersih-bersih gue langsung meninggalkan The Packer Lodge (TPL). Target gue adalah jalan - jalan sekitar Petak Sembilan, dan ke Kota Tua.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Vihara (Klenteng) Dharma Bhakti. Sebenarnya gue udah pernah ke sini beberapa kali. Tapi, kapan sih gue pernah bosan mengunjungi klenteng ? Apalagi dengan klenteng - klenteng seperti yang ada di kawasan Petak Sembilan ini yang sudah ikonik banget. Lagian, gue belum ke sini lagi setelah klenteng Dharma Bhakti terbakar tahun 2015. 

Meskipun awalnya ngga ngotot - ngotot amat pengen berfoto di sini, namun dengan bantuan pengunjung - pengunjung lainnya, gue berkesempatan mengabadikan beberapa momen di sini. Sensasi turis lainnya....minta tolong orang lain untuk motret. Bahkan gue juga minta tolong ke warga sekitar yang lagi nongkrong di luar klenteng. Sebenarnya gue membawa tongsis. Tapi entah deh...gue tuh paling ogah pake tongsis, macam alay gitu rasanya. Dengan berepot - repot mencari bala bantuan orang lain untuk berfoto, kayaknya lebih menantang.

Vihara Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bhakti
Vihara Dharma Bhakti
Puas berada di Vihara Dharma Bakti, tujuan gue berikutnya adalah Kota Tua. Perjalanan gue tempuh dengan berjalan kaki melalui pasar Asemka. Jauh ? Iya...tapi rasanya menyenangkan. Karena jalanan sepi, langit cerah, dan mungkin karena gue sangat menikmati momen nostalgia jadi solo bekpeker kayak gini, yang berpetualang sendirian, hanya gue dan ransel di pundak. Cihuyyy !

Tiba di kawasan Kota Tua, gue 'disambut' lautan manusia yang memenuhi area di depan Museum Fatahillah. Sebenarnya gue sadar, lokasi - lokasi Kota Tua pasti jadi salah satu tujuan utama warga Jakarta dan sekitarnya untuk menghabiskan liburan. Tapi baru kali ini gue kegirangan jadi bagian dari lautan manusia ini. 

Kota Tua
Saat perut berteriak - teriak kelaparan, gue pun mampir di Bangi Kopitiam yang juga berada di kawasan Kota Tua. Awalnya, untuk menyempurnakan idealisme jadi turis dadakan, gue pengen nyari makanan ala Chinese food di kawasan Pecenongan. Tapi, setelah dipikir-pikir kayaknya kejauhan untuk sekedar cari makan. Gue tertarik nongkrong (walaupun sendirian) di Bangi Kopitiam karena restoran ini menempati bangunan tua yang menjadi bagian dari komplek Kota Tua. Ini merupakan daya tarik tersendiri buat gue....soal rasa makanannya ? Standard alias biasa banget sih!

Kota Tua
Kota Tua
Menjelang jam 8 malam, gue kembali ke The Packer Lodge. Kali ini gue ogah berjalan kaki, tapi naik angkot dari dekat Stasiun Jakarta Kota. Sebelum naik angkot, gue mampir dulu di Stasiun Jakarta Kota. Gue senang berada di sini. Selain menikmati memandangi bangunannya yang tua dan kokoh, juga hiruk-pikuk calon penumpang yang menyesaki stasiun.

Stasiun Jakarta Kota
Tiba di hostel, gue langsung mandi dan menghabiskan waktu membaca novel yang gue bawa di ruang makan. Malam itu ruang makan dan ruang merokok dipenuhi tamu hostel lainnya. Sayangnya, gue ngga bisa mengobrol dengan mereka karena sedang asyik dengan makanan atau gadget masing - masing. Tapi ngga apa - apa...sampai detik ini, gue happy bukan kepalang karena semua hal tipikal kehidupan hostel ada di mata gue. Sekitar jam 9 malam gue ke kapsul tersayang, dan tidur. 

Tidur gue di malam itu memang ngga seindah yang gue harapkan. Kenapa ? Tamu di sebelah gue mendengkur dengan dahsyatnya! Gilaaaa....padahal ini kamar khusus perempuan, dan gue takjub luar biasa ada perempuan mendengkur sekeras itu. Tapi di tengah kenikmatan tidur gue yang tercabik - cabik sempurna di malam itu, dalam hati gue ketawa-ketiwi dan bilang pada diri sendiri, "Welcome to hostel life, Cherry. Be carefull what you wish for..."

27 Juni 2017

Gue bangun sekitar jam 8 pagi. Setelah mandi, gue pun menikmati sarapan gratis ala hostel. Menu standard...roti tawar dengan berbagai rasa selai, dan berbagai minuman (kopi dan teh). Kesukaan gue ketika sarapan di hostel adalah membakar roti gue sampai gosong. Tapi kali ini ngga bisa gue lakukan, karena harus ngantri pake mesin toaster. Gue memang menargetkan meninggalkan hostel secepat mungkin. Banyak tempat yang pengen gue kunjungi sampai sebelum waktu check out tiba.

Lokasi pertama yang gue kunjungi adalah Gang Gloria. Keren ya namanya....Ada apa di sini ? Ini adalah sentra kuliner Glodok. Tapi, khusus untuk makanan mengandung babi. Gilaaaa.....Glodok tuh surga buat siapapun penggemar hidangan daging babi. Sepanjang jalan mulai dari pasar Petak Sembilan dipenuhi penjual - penjual somay dan sekba babi. Trus, di Gang Gloria ini kayaknya ngga ada makanan yang luput dari daging babi, mulai dari somay, bakso, bakmi, sate, dan kawan - kawannya. Gue rasa kalo disini ada jualan rujak, bakalan mengandung babi juga kalii... Benar-benar membabi buta Gang Gloria ini! 

Gang Gloria
Bakmi Amoy
Gue bukan penggemar hidangan daging babi sejati sih, tapi ngiler juga pengen sarapan bakmi Amoy. Gue mendapat rekomendasi Bakmi Amoy ini dari hasil browsing, sebagai salah satu bakmi yang paling mantap rasanya. Dengan semangkuk Bakmi Amoy dan segelas liang teh, rasanya sensasi bekpekeran gue kali ini terbayar lunas ! Gue ngga sabar bawa Ony, Mama dan anggota keluarga gue ke Gang Gloria ini suatu saat. 

Oya, gang Gloria ini gampang dicari. Lokasinya di kawasan Pancoran. Bisa dibilang pas berseberangan dengan Pasar Petak Sembilan. Kalau nanya ke siapapun warga sini pasti tahu. Waktu gue nanya ke seorang petugas parkir langsung dijawab, "Ohh...tinggal nyeberang di situ....Banyak makanan di situ, ci !" Siappp, boss !!

Dengan perut kenyang, gue melanjutkan kisah-kasih ala turis dan menuju sebuah lokasi yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya, Candra Naya. Sebelum menyeberang jalan, gue tertarik untuk mampir ke Pantjoran Tea House, karena melihat sebuah meja di luar restoran, dengan delapan teko serta beberapa cangkir bergaya vintage. Di atas meja juga terdapat papan tulisan 'Tradisi Patekoan (8 Teko) Silahkan minum ! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.' Seorang pelayan segera keluar dan menyambut serta mempersilahkan gue untuk menikmati teh yang disajikan gratis untuk pejalan kaki. Hahhh ? Kok bisa ? Begini ceritanya. Adalah Kapiten Gan Djie yang tinggal di kawasan ini sekitar tahun 1663 dan memulai tradisi minum teh. Kapiten Gan Djie dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan serta hendak menumpang berteduh. So sweet ! Gue bukan pedagang keliling sih...ngga lagi lelah-lelah amat juga (khan baru makan bakmi Amoy)...cuma bekpeker gembel yang pengen neduh bentar dan nyobain tehnya. Boleh kan, Kapiten ? Boleh laaahh...! Boleh doongg !!
Patekoan, Pantjoran Tea House
Dengan diantar Gojek, gue pun tiba di Candra Naya. Candra Naya adalah bangunan kuno yang dahulunya merupakan tempat tinggal Mayor Khouw Kim An, yang diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1807. Bangunannya berarsitektur khas Tionghoa dengan atap yang mirip banget seperti atap klenteng. Lokasinya aneh bin ajaib, dan gampang dicari. Karena Candra Naya ini seakan - akan terbelenggu di tengah-tengah Hotel Novotel Gajah Mada. Yes, Candra Naya berada tepat di tengah Hotel Novotel. Heran dan prihatin jadinya, bangunan bersejarah kayak gini, meskipun terlihat sangat terawat dan bersih, namun terkesan kurang dilindungi. 

Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Candra Naya
Di sini gue ngga kesulitan sama sekali dalam hal potret memotret. Karena ada petugas keamanan yang setia menemani gue kemana pun melangkah. Awalnya gue kecewa begitu tahu bangunan utama Candra Naya ngga dibuka karena masih libur Lebaran. Namun sang petugas yang ramah ini berusaha menghibur dengan memperlihatkan lokasi - lokasi dan sudut - sudut menarik Candra Naya lainnya. 

Dari Candra Naya, berikutnya kaki panjang gue melangkah ke gedung paling indah di Jakarta, versi gue. Gedung Arsip Nasional yang juga berada di Jalan Gajah Mada. Ini gedung favorit gue sepanjang masa. Bagus banget abisnya...tapi begitu Gojek yang gue tumpangi merapat di pintu gerbangnya, gue membaca pemberitahuan bahwa Gedung Arsip Nasional sedang tutup. 

Gue ngga mau menyerah begitu saja, dan bertanya ke tukang kebun yang sedang sibuk menyapu taman. Jawabannya justru membakar semangat gue untuk masuk ke area gedung, "Masuk aja Mbak, bilang sama petugas sekuritinya tuh di pos. Baik kok orangnya..." Gue pun memasuki gerbang dan menuju pos keamanan sambil bilang, "Pak, saya boleh masuk ya...cuma mau lihat-lihat di depan aja kok, ngga masuk. Saya sudah jauh-jauh dari Depok, Pak. Saya dari Sawangan. Sawangan jauh lho Pak, dekat Parung..." Dan sang petugas pun pasrah dengan kebawelan gue yang maha dahsyat dan membolehkan gue berkeliling sejenak. Belum selesai kebaikan bapak sang petugas sekuriti ini, beliau juga membantu gue berfoto dengan latar belakang gedung Arsip yang fenomenal itu. Ceklek!!

Gedung Arsip Nasional
Gedung Arsip Nasional
Setelah memuaskan rasa kangen akan Gedung Arsip Nasional, gue memutuskan kembali ke The Packer Lodge. Panasnya pagi itu bukan main. Gue pengen menikmati kenyamanan capsule bed yang harus gue tinggalkan beberapa jam lagi. Tiba di hostel, gue langsung mandi, sebelum berbaring di capsule bed. Mandi lagi ? Iyaaaa....itu kebiasaan gue kalo lagi bekpekeran. Tepatnya kalau gue lagi kepanasan plus kegerahan luar biasa, gue akan mandi sesering mungkin untuk menyegarkan diri.

Setelah berbaring santai di capsule bed selama beberapa waktu, dengan berat hati gue pun check out dari The Packer Lodge. Overall, gue puas banget tinggal di sini, meskipun cuma semalem. Entah udah berapa hostel yang pernah gue singgahi di beberapa negara, ngga berlebihan kalau gue bilang TPL adalah salah satu yang terbaik. 

Check out dari hostel, bukan berarti kaki panjang gue ini lelah. Dari TPL gue melanjutkan perjalanan dengan misi mencari Gang Kecap. Apa itu ? Gue pengen mencari lokasi rumah seniman kaligrafi Cina yang menurut informasi yang gue dapatkan, berada di kawasan Gang Kecap. Setelah keluar masuk gang - gang dan pasar - pasar yang ada di sekitar Petak Sembilan dan Jalan Pancoran, langkah gue pun terhenti setelah mendapat informasi dari warga sekitar bahwa toko Sanjaya (tempat seniman kaligrafi Cina tersebut), tutup. Agak kecewa sih...begitu gue hendak mencari Alfamart untuk beli minum karena haus luar biasa, eng...ing...enggg....tepat di seberang Alfamart berdiri Klenteng Toasebio. Gue langsung semangat lagi dan mampir ke dalamnya.

Klenteng Toasebio
Klenteng Toasebio
Abis dari Kleteng Toasebio, gue kembali menuju jalan raya Glodok dan naik angkot menuju Stasiun Jakarta Kota. Niat gue, nanti mau turun di Museum Bank Mandiri untuk berturut-turut mengunjungi Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang dan Museum Seni Rupa. Tapppiii...gue kecewa ! Karena Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia tutup. Heran...kenapa tempat - tempat menarik yang potensial dikunjungi warga di hari - hari libur begini malah tutup. Gue pun berasumsi museum - museum lainnya di kawasan kota tua tutup semua. 

Perjalanan pun berakhir di Stasiun Jakarta Kota. Gue mengakhiri petualangan dan hasrat pengen jadi turis di kota sendiri dengan hati senang dan puas. Keinginan untuk menjadi horraanggg Kota pun tercapai sudah, walaupun cuma sehari semalam.

Jadi Turis Di Kota Sendiri (1)

 

26 Juni 2017

Di libur panjang Lebaran tahun ini, seperti biasa gue ngga punya rencana traveling kemana pun. Gue bahkan enggan ngebayangin pergi ke tempat wisata mana pun, karena males ngebayangin penuh sesaknya oleh pengunjung...tipikal kalo liburan panjang gitu deh. Trus, Ony pun lagi di luar kota. 

Tapi pagi itu gue mendadak kepikiran untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Gue pengen jadi turis di kota sendiri. Gue pengen merasakan tinggal di hostel di Jakarta. Gue kangen tinggal di hostel, yang merupakan salah satu pengalaman paling tak terlupakan dalam setiap cerita bekpekeran gue.

Gue pun langsung browsing sana - sini, mencari informasi hostel dengan konsep 'dormitory room' yang ada di Jakarta. Awalnya ngga terlalu berharap banyak, mengingat saat ini lagi libur panjang, pasti susah mencari hostel yang masih available. Tapi ternyata dugaan gue salah, karena sebuah hostel di kawasan Kota, Jakarta Barat masih menyediakan satu capsule bed. The Packer Lodge (TPL) namanya. Woww ! Capsule....? Keren dong...kebetulan gue belum pernah tinggal di hostel berkonsep kapsul. Gue langsung booking via booking.com. Asyiknya booking di sini tuh gue ngga harus bayar down payment atau full payment. Kelar booking, gue langsung terima konfirmasinya melalui email. 

Karena serba dadakan, dan saat itu gue lagi di rumah Mama, gue pun langsung melesat menuju rumah Sawangan. Di sana gue ngga berlama-lama, cuma ambil baju dan perlengkapan mandi seadanya. Dari Sawangan gue ke Stasiun Depok Baru dan naik commuter line menuju Stasiun Jakarta Kota. Gue tiba di Stasiun Jakarta Kota sekitar jam 15:30 dan langsung naik angkutan umum No. 08 (tujuan Tanah Abang). TPL berlokasi di Jalan Kemurnian IV No. 20 - 22. Sebenarnya gue ngga merasa terlalu asing dengan daerah Kota, karena sering melintas di daerah sini bareng Ony. Gue merasa familiar dengan nama - nama jalan seperti Kemurnian, Keadilan, Kebahagiaan, dll. Tapi gue ngga tahu lokasi tepatnya sih.

Gue turun dari angkot pas di Halte TransJakarta Glodok, dan menyeberang jalan. Tepat di depan halte TransJakarta Glodok gue langsung melihat Jl. Kemurnian I. Gue pun memulai petualangan gue di sore itu dengan mencari jejak keberadaan Jl. Kemurnian IV. I'm so happy and excited !! Rasanya kayak kembali lagi jadi bekpeker gembel yang kesasar kesana kesini mencari arah, sendirian.

Akhirnya gue menemukan bangunannya, yang dari luar ngga tampak menonjol karena terlihat nyaris sama dengan rumah - rumah bertingkat di sekitarnya. Tiba di ruang resepsionis gue disambut dengan hangat oleh para staff. Setiap tamu harus membayar semacam 'security deposit' alias uang jaminan sebesar Rp. 200,000 yang akan dikembalikan saat tamu check out. Untuk harga capsul bed-nya sendiri gue membayar Rp. 144,500 per malam. Dengan membayar seharga itu gue bisa menggunakan fasilitas yang ada di hostel gratis, termasuk internet dan sarapan. 

Reception Room
Salah satu staff TPL, Felis, mengantarkan gue ke kamar yang terletak di lantai 3. Sepanjang 'perjalanan' singkat itu gue ngga berhenti terkagum-kagum akan hostel ini. Interiornya tuh antik dan artistik banget. Di setiap dinding terdapat karikatur dengan tema berbeda-beda. Kebanyakan adalah tempat - tempat ikonik sekitar daerah Glodok dan Kota. Selain karikatur dinding, properti - properti unik, mulai dari lukisan, sepeda ontel, koper - koper tua juga ditambahkan untuk melengkapi keindahan setiap sudut ruangan di bangunan hostel. 

Sebagian karikatur dinding di TPL

Kamar gue, No. 3, berada tepat di sebelah ruang makan, dapur, dan ruang merokok. Ruang makan dan dapurnya nyaman dan bagus banget. 

Dapur dan ruang makan
Ruang Merokok

Ruang santai (internet dan TV)
Setelah itu Felis pun mengantar gue ke dalam kamar. Wowww....! Empat 'bilik' tempat tidur berbentuk kotak disusun secara bertingkat, dua di bawah, dua di bagian atas. Gue kebagian di ranjang atas, artinya gue harus menggunakan tangga. Begitu berada di ranjang kapsul, gue amazed karena ternyata luas dan nyaman banget. Kata Felis setiap kapsul sengaja dibuat tinggi untuk mengakomodir tamu yang hendak melakukan sholat.

Capsule beds
me, my capsule, and my book..
Felis pun menyerahkan handuk dan selimut ke gue. Setelah itu gue mandi dan membersihkan diri. Untuk urusan bersih - bersih, lagi - lagi gue dibikin takjub dengan lengkap, nyaman dan bersihnya fasilitas yang tersedia, mulai dari wastafel, kamar mandi, toilet, dll.

Gue girang luar biasa, meskipun mendadak tapi bisa mewujudkan keinginan gue untuk merasakan sensasi tinggal di hostel, tanpa perlu beranjak dari kota sendiri. Bahkan rasanya gue mendapatkan bonus, karena kali ini bisa tinggal di hostel berkonsep kapsul. Dengan semangat meluap - luap, gue pun meninggalkan hostel untuk menikmati sensasi turis lainnya : mencari dan mengeksplorasi daya tarik kawasan Glodok dan sekitarnya.

shoes wonderland

Monday, June 05, 2017

Curug Ciampea Yang Bikin Betah


Sabtu, 3 Juni 2017

Rencana gue hari ini adalah ke Curug Ciampea. Waktu berkunjung ke Puncak Lalana beberapa waktu yang lalu, gue dan Ony sudah janjian sama Usep, untuk mengunjungi Curug Ciampea. Usep adalah ranger yang nemenin gue dan Ony waktu ke Puncak Galau beberapa waktu sebelumnya. Gue udah ngobrol ama Usep via WA untuk merencanakan perjalanan hari ini sejak beberapa hari yang lalu. 

Gue dan Ony meninggalkan Depok menuju negeri Ciampea tercinta, sekitar jam 7 pagi. Berhubung saat ini lagi bulan puasa, gue baru sadar ternyata nyari sarapan susahnya bukan main. Jadilah gue mampir di McDonald's Bojongsari, Parung, demi menikmati menu sarapan yang sebenarnya ngga pas banget di perut.

Gue dan Ony tiba di Ciampea, tepatnya Sekolah Pandu, meeting point janjian sama Usep, hampir jam 9 pagi. Kami bertiga pun memulai perjalanan ke Curug Ciampea yang lokasinya ke arah Tenjolaya. Begitu mendengar 'Tenjolaya' gue langsung teringat Gunung Salak. Dan baru di pagi itu gue tahu bahwa lokasi curug ini ternyata di kawasan Gunung Salak. Gue girang. Entah kenapa gue selalu suka dan semangat untuk berkunjung ke Gunung Salak. Di mata gue kawasan Gunung Salak memiliki dan masih menyimpan begitu banyak lokasi dan spot yang indah dan mempesona. 

Dari jalan raya arah Leuwiliang gue dan Ony bermotor, dengan ngikutin Usep dari belakang, menuju Desa Tenjolaya, tepatnya lokasi pintu masuk Gunung Salak, selama kurang lebih 1 jam. Jujur aja, gue belum bisa mengingat rute perjalanannya, karena lumayan panjang dan berliku...kadang sampai harus menempuh jalan setapak kecil, di antara rumah - rumah warga.




Setelah tiba, memarkir motor, dan membayar uang masuk sebesar Rp. 15,000 per orang, perjalanan pun dilanjut dengan trekking selama sekitar 30 menit menuju lokasi curug. Kayaknya ini pengalaman trekking yang paling menyenangkan yang pernah gue lakukan. Pertama, saat itu cuacanya lagi cerah banget. Kedua, gue disuguhi pemandangan yang hijau dan indah berupa hutan pinus dan hamparan sawah. Ketiga, karena sepi banget. Saat itu yang ada di kawasan menuju curug hanyalah beberapa orang petani, trus gue, Ony dan Usep. Bahkan, di kawasan curug Ciampeanya hanya ada gue bertiga !! Wow....curug serasa milik bertiga kalo begini.



Begitu tiba di lokasi curug, gue terpukau dengan dahsyatnya. Keren banget....di sini bisa dibilang ada tiga curug. Yang bikin gue terpesona luar biasa tuh airnya jernih banget dan bersih. Trus, curugnya bisa dibilang aman untuk berbagai usia, karena di curug yang utama, yang paling tinggi dan deras, kedalamannya cuma sedada orang dewasa. Tiba di curug gue pun mengganti baju dan mulai nyebur untuk menikmati air jernih yang dingin dan segar banget. 

 
Setelahnya, berturut - turut gue pun berpindah ke lokasi curug yang lainnya. Kali ini meskipun ketinggiannya sama seperti yang sebelumnya, namun debit airnya gak terlalu besar. Tapi ngga mengurangi asyiknya bermain air di sini, sensasinya kayak dipijit-pijit dengan sesuatu yang agak tajam gitu.


Usep, si ranger baik hati, setia dan sabar nemenin gue dan Ony kemana - mana sambil bawa handphone gue dan berinisiatif dan siaga untuk memotret. Dia ngga ikutan nyebur karna ngga bawa baju ganti. 

Terakhir, gue mampir ke lokasi curug ketiga yang lebih nampak kayak kolam karena air terjunnya ngga terlalu tinggi dan kolamnya kecil. Setelah beberapa saat, puas mandi dan bermain air, sekaligus kedinginan sampai bikin ujung - ujung jari keriputan, gue pun bersiap untuk meninggalkan lokasi. Hmm.... Sebenarnya gue belum puas-puas amat berada di sini sih... Tempatnya tuh eksotis, tenang, dan damai banget, dijamin bikin betah berlama-lama. Lagian, kapan lagi bisa menikmati 'kemewahan' kayak begini, bercurug ria tanpa ada kehadiran pengunjung lainnya. 

Meskipun singkat, tapi gue sangat menikmati perjalanan ke Curug Ciampea ini. Ini adalah curug paling indah dan keren yang pernah gue kunjungi seumur - umur. Biarin dibilang lebay, tapi serius deh, curugnya layak disebut 'surga tersembunyi' karena keindahannya yang maksimal. Dalam hati gue berjanji untuk kembali lagi ke sini suatu saat. 

Perjalanan pulang diisi dengan obrolan seputar rencana - rencana trip berikutnya antara gue, Ony dan Usep. Begitu melewati kawasan hutan pinus bahkan kami bertiga mulai merencanakan atau untuk gue lebih tepat disebut 'berkhayal' untuk nginap di lokasi ini dengan camping atau menggunakan hammock. Hmmm...kayaknya petualang gue di Ciampea ini belum bakal berakhir...

Sunday, May 07, 2017

Berkelana Ke Puncak Lalana


6 Mei 2017. 
Gue ama Ony kembali ke Ciampea. Belakangan ini gue berdua emang hobi banget ke sini. Meskipun lumayan jauh dari Sawangan Depok, tapi berhubung penasaran untuk mengeksplorasi keindahan dan pesonanya, hampir tiap Sabtu gue ke sini. 

Kedatangan kali ini demi mencapai Puncak Lalana. Gue dan Ony meninggalkan rumah agak siangan, sekitar jam 12 an. Paginya kelar jogging pagi, gue milih lanjut tidur lagi. Setelah sempat mampir di Ampera buat makan siang, perjalanan dilanjut ke arah Parung, masih dengan rute favorit, arah Ciampea dari pertigaan Rumpin. Di tengah jalan hujan turun sederas - derasnya. Untungnya ngga berapa lama kemudian, mendekati Ciampea hujan reda, bahkan langit cerah. 

Pas tiba di jalan raya arah Leuwiliang, hujan turun lagi. Yaaaah...niat ke Puncak Lalana nyaris pupus. Gue males ngebayangin trekking menuju Puncak Galau seperti 2 minggu lalu, pas hujan. Alamakjaaann....repotnya dan capenya bukan main! Tapi berhubung hujannya ngga terlalu deras, gue dan Ony memilih nunggu beberapa saat, di SPBU Cibungbulan. Ternyata ngga lama kemudian hujan reda...yesss !...gue pun lanjut ke Pos 1 Puncak Galau.

Sebenarnya sejak tadi pagi gue udah kontak Usep, ranger yang nemenin pas ke Puncak Galau. Ternyata sore ini dia udah meninggalkan lokasi. Ranger lainnya, Yadi, menawarkan diri untuk mengantar. Awalnya gue ama Ony ngga yakin gitu...Yadi tuh masih bocah banget, anak kecil. Okelah dia ngerti jalan menuju Puncak Lalana....tapi selain itu gue butuh seseorang buat bantuin perjuangan gue trekking. Dan bocah ini terlalu mungil untuk harus menarik tangan dan menahan beban tubuh gue yang tambun ini jika diperlukan terlebih saat gue harus meniti jalan yang curam dan licin. Iseng - iseng gue nanya, "Yadi, sering ke atas ?" "Sering teh....seminggu sekali ke atas bawain sampah.." jawabnya. Ooppss...gue jadi ngerasa malu sendiri karena udah nyepelein kemampuan si ranger cilik ini.

Meskipun masih tetap ragu, gue dan Ony tetap melanjutkan perjalanan. Ragunya pertama karna saat itu udah terlalu sore untuk naik ke Puncak Galau. Alasan kedua, karena kali ini ditemani si ranger cilik, bukan Usep yang di mata gue udah berpengalaman banget.

Karena baru disiram hujan, tanah yang harus gue lalui licin dan lengket. Baru beberapa meter, tanah yang basah dan lengket udah menempel sempurna di sendal yang gue gunakan. Kondisinya ngga jadi lebih ringan dibanding pas ke Puncak Galau kalau gini. Seperti biasa, trekking gue lalui dengan penuh perjuangan, nafas ngos-ngosan, tenaga nyaris abis, dan keringat bercucuran kayak lagi mandi. Tapi, di luar dugaan gue, si ranger cilik, Yadi, gesit dan membantu banget !



Akhirnya tiba di Puncak Galau! Secara waktu, kayaknya kali ini lebih cepat. Kalau dari cape atau ngganya, sama ajalah! Mungkin setelah 50 kali ke sini baru deh gue terbiasa dan bisa bilang perjalanannya tuh ringan.

Berhubung hari sudah sore ~maklum, tadi mulai trekking aja sekitar jam 4 sore~ dari Puncak Galau, Yadi, gue dan Ony langsung menuju Puncak Lalana. Menurut Yadi, perjalanannya sekitar 10-15 menit lagi, dan medannya ngga seberat ketika menuju Puncak Galau tadi. Gue girang. Berhubung saat itu mulai gerimis, gue pun menggunakan jas hujan seadanya.

Ternyata meskipun bukan jalan terjal yang dilalui, medannya ngga mudah juga sih. Selain harus melalui hutan nan rimbun, juga bebatuan karang berukuran besar, yang kadang sempit, kadang terjal, kadang licin...Sampai sekarang gue masih bingung dan penasaran, kenapa di atas gunung begini kok ada bebatuan kayak karang begini. 


Akhirnya gue tiba di lokasi yang dinamakan Karang Gantung. Tempatnya keren...kalo bahasa alay bisa disebut 'instagramable', mungkin. Pemandangannya indah banget dilihat dari atas sini. Dan udaranya segar dan sejuk banget. Yadi, si ranger cilik, dengan gesit menjalankan perannya sebagai fotografer dan penata gaya. Walaupun belum puas di situ, tapi perjalanan harus dilanjutkan, ke Puncak Lalana, yang jaraknya cuma beberapa meter dari situ. Dan, eng..ing...eng....Puncak Lalana pun di depan mata...awesome !




Di Puncak Lalana tersedia sebuah balai yang terbuat dari bambu. Jika duduk-duduk santai di situ, sambil menikmati view yang indah terhampar sejauh mata memandang, ditambah angin sepoi - sepoi, rasanya ogah pulang. Damai dan tenang banget. Apalagi saat itu ngga ada pengunjung lain di Puncak Galau maupun Puncak Lalana. Jadi, Puncak Lalana serasa milik bertiga ajah!

Sayangnya, lagi - lagi karena hari menjelang gelap, Yadi pun mengajak untuk segera kembali ke Pos 1 Puncak Galau. Kali ini Yadi menawarkan untuk pulang menggunakan jalur Puncak Lalana, artinya, bukan dengan jalur yang sama ketika menuju Puncak Galau tadi. Seinget gue, sebelumnya Usep pernah bilang kalau jalur Puncak Lalana tuh terlalu berat, berlumpur segala, ngga cocok buat perempuan. 

Alasan Yadi, pulang melalui jalur Puncak Lalana akan lebih cepat, meskipun medannya memang lebih berat. Pertimbangan masalah waktu ini diambil karena saat itu langit sudah gelap. Untuk meyakinkan gue dan Ony, Yadi sampe wanti - wanti berjanji akan membantu gue melalui jalur trekkingnya. Gue nurut aja ama si bocah ini.

Benar aja, medan jalur Puncak Lalana ngga pernah terbayangkan di pikiran gue sebelumnya. Beberapa titik yang harus dilalui tuh udah ngga bisa dibilang terjal atau curam lagi, melainkan udah tegak lurus. Jadilah gue harus kayak orang panjat tebing aja, meraih batuan atau akar pohon apapun yang bisa gue genggam, sementara di bawah, Yadi dengan sabar ngasih petunjuk kemana kaki gue yang mana harus berpijak....Kaki kiri ke sini, teh...kaki kanannya ke sana...Awalnya gue ngga pernah menyangka jalur yang ditunjukkan Yadi bisa gue lalui. Tapi dengan bantuan moril dan tenaga dari Yadi dan Ony, ajaibnya gue bisa. Hal lainnya yang memotivasi gue untuk berjuang melalui jalur yang menantang itu adalah karena gue berada di tengah hutan antah berantah yang asing dan gelap dan pengen segera keluar dari sini. Saat itu untuk penerangan, kami bertiga mengandalkan cahaya seadanya dan senter. Yadi pake senter kepala, sedangkan Ony pake senter batu akik andalannya. Yaellaahh !

Akhirnya kami bertiga pun tiba di Pos Puncak Lalana. Legaaaaaaaa...! Begitu melewati gerbang masuk jalur Puncak Lalana, hujan lebat mendadak turun. Thanks God! Ngga kebayang kalau gue harus melalui jalur tadi yang udah cukup berat, ditambah hujan deras kayak gini. Gue dan Ony sempat beristirahat sejenak dan bersih - bersih di Pos Puncak Lalana. Saat itu seluruh tangan, kaki hingga betis, baju dan celana gue udah penuh dengan tanah. Penampilan gue nyaris kayak pekerja galian gitu. Setelah itu perjalanan dilanjut ke Pos 1 Puncak Galau, dan pulang ke rumah. 

So, malam minggu gue dan Ony kali ini diisi dengan kegiatan yang menantang dan seru abis. Plusnya, kali ini ditemani oleh ranger cilik, Yadi, yang super gesit dan kuat, di luar perkiraan gue. Bocah kelas 2 SMP ini bikin gue kagum dengan ketangguhannya bukan hanya tenaganya yang kuat yang bikin dia tampak ngga kesulitan sama sekali selama trekking, dan juga karena dia berhasil jadi pemandu yang sangat bisa diandalkan untuk gue dan Ony selama perjalanan tadi.

Akhirnyaaaa....setelah Bukit Roti, Puncak Galau dan kali ini Puncak Lalana, artinya gue dan Ony udah berkesempatan mengunjungi puncak - puncak pendakian di Gunung Kapur Ciampea ini, yang telah dibuka untuk umum. Gunung Kapur Ciampea, meskipun ngga tinggi - tinggi amat, menyimpan segudang daya tarik yang bikin gue dan Ony pengen balik lagi dan lagi. 

Thanks untuk Yadi dan Usep yang udah jadi teman perjalanan yang menyenangkan. Sampai jumpa di trip - trip lainnya!

Thursday, May 04, 2017

Naik - Naik Ke Puncak Galau


Gue tahu infonya dari sesama pengunjung Bukit Roti, Gunung Kapur Ciampea. Pas pertama kali dengar langsung ilfil gitu...Puncak Galau...alay banget! Jadi agak bikin males, yang terbayang, pasti lokasi favorit alay - alay yang repot narsis sana - sini gitu. Tapi berhubung gue penasaran untuk mengunjungi bukit atau puncak yang ada di Gunung Kapur Ciampea, jadilah gue jalan lagi ke negeri Ciampea.

Untuk menuju ke sini, arahnya sama dengan ke Bukit Roti, melalui jalan raya utama Leuwiliang. Bedanya, kali ini patokannya adalah sekolah Pandu II, kalo ngga salah...posisi jalan masuknya tepat di seberang sekolah ini. Setelah masuk jalan, lumayan jauh, gue melihat pos penjualan karcis masuk.

Di situ gue beli 'tiket masuk' Rp. 5,000,- per orang. Gue nanya ke penjaga pos, Usep namanya, ada berapa orang yang mengunjungi Bukit Galau saat itu. Jawabnya, ngga ada. Hahhh ??! "Jadi ngga ada orang sama sekali di sana, Mas ?" "Ngga ada, Mbak...""Trus saya ke sana gimana, ada petunjuknya ngga ?" "Saya antar sampai Pos 2, Mbak."

Gue, Ony dan Usep pun mulai berjalan. Mula - mula melewati hutan jati. Sejak tiba di Ciampea, hujan mulai mengguyur, jadi perjalanan lumayan menantang. Setelah hutan jati, gue pun tiba di Pos 2. Gue membujuk Usep untuk mengantar gue dan Ony sampai Puncak Galau. Abis ngga kebayang deh memasuki area ini tanpa guide. Hujan pula ! Untungnya Usep ngga nolak. Yesss !
 


Setelah Pos 2, yang ada adalah jalan licin karena hujan, berbatu dan terjal ! Di sini rasanya semua tenaga gue terkuras abis - abisan. Keterlaluan capenya ! Sekujur badan gue sampe basah...antara kena guyur hujan, juga karena keringetan. 

Dibandingkan dengan Bukit Roti, menurut gue di sini belum tersedia jalur trekking-nya. Sebenarnya pihak mengelola menyediakan tali untuk membantu pengunjung melalui jalan setapaknya, tapi menurut Usep ada beberapa pengunjung iseng, dan memotong talinya. Gue menjadi salah satu korban yang kena imbasnya. Menggunakan tali tuh cuma mengurangi sepertiga dari kesulitan dan kelelahan gue mendaki. Tapi lumayan membantu lha, dari pada ngga ada sama sekali. 

Gue dan Ony bersyukur banget karena Usep bersedia ikut. Selain sebagai guide, dia ngebantu gue dan Ony ketika berjuang sekuat tenaga meniti jalan - jalan ajaib yang melelahkan itu. Kadang gue butuh seseorang untuk menarik tangan gue atau menahan body gue yang tambun ini. Dengan Usep di depan, dan Ony di belakang gue, sangat amat membantu banget...walaupun rasa capenya tetap aja dahsyat. 

Gue sempat nyesel karena memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di bawah guyuran hujan kayak gini. Waktu gue menuju Bukit Roti, cuaca lagi cerah bersahabat banget. Dan jalan terjal yang gue lalui juga ngga sepanjang ini. Beda banget ama yang ini...Tapi gue langsung menyingkirkan perasaan itu. Sempat terbersit juga pikiran, kalau gue pingsan, gimana ceritanyaaaa...??! Tapi, demi melihat kondisi jalan licin dan terjal ini, rasanya kasihan ama Ony dan Usep kalau hal itu sampai terjadi. Jadi, berhubung pingsan maupun pura - pura pingsan bukanlah solusi, gue pun bertekad bulat untuk menyelesaikan perjalanan. 

Akhirnya gue, Ony dan Usep tiba di Puncak Galau. Yeaayyy! Di atas sini, areanya ngga luas - luas banget. Tapi pemandangannya segaarrrr, hijau, dan keren. Dingin ? Iyalah, hujannya belum berhenti sih...makin deras malah ! Tapi gue ama Ony cuek aja meskipun baju sekalipun udah nyaris basah semua. 

Selain menikmati pemandangan di Puncak Galau, Usep juga menunjukkan spot lainnya, yaitu area yang biasa digunakan untuk camping, juga Tebing Gimin. Dari Tebing Gimin pemandangannya lebih seru dan indah lagi. Gue bisa dengan jelas hutan jati dan yang lainnya gue musti gue lalui dengan penuh perjuangan tadi. 
 
 

Setelah puas berada di area Puncak Galau, dan mengingat hujan makin deras, gue, Ony dan Usep pun mengambil arah pulang. Gue selalu merasa 'perjalanan pulang' selalu lebih ringan dibanding ketika datang. Ternyata gue salah total. Mungkin rasanya justru lebih cape menuruni jalan terjal, dengan kondisinya yang semakin licin dan tergenang air. Benar aja...seingat gue, gue sampai dua kali terjatuh, karena terpeleset dan kelelahan, sampai - sampai ngga sanggup menahan beban body sendiri. Ketika kelelahan sudah memuncak, gue akan dengan pasrah terduduk diam di atas bebatuan atau tanah apapun yang bisa menahan tubuh gue, sekedar untuk beristirahat sejenak. Jadilah hampir seluruh baju, celana dan tas ransel gue menjadi super kotor. Biarin...

Akhirnya dari kejauhan gue melihat Pos 2....lalu hutan jati lagi. Thanks God ! Dengan badan dan baju basah dan muka dekil kelelahan, gue melangkah girang menuju Pos 1, tempat penjualan tiket tadi. 

Overall, ini perjalanan berkesan, seru dan menyenangkan banget. Maklumlah, gue kan bukan 'anak gunung' yang biasa mendaki gunung dengan ketinggian ribuan mdpl. Modal gue ama Ony hari ini hanya tekad, semangat dan stamina minimalis. Dan berhasil! Senangnya....

Oya, tadi waktu di Puncak Galau, tanpa ditanya Usep sempat jelasin alasannya diberi nama 'Puncak Galau'. Begini ceritanya...ketika rute ke puncak ini dibuka pertama kali, pengunjung pun berdatangan. Salah satunya adalah sepasang kekasih. Keduanya trekking mencapai puncak...(entah apa namanya saat itu sebelum dinamakan 'Galau'). Namun entah kenapa, begitu turun dari puncak, keduanya bertengkar karena sesuatu hal, hingga lalu putus. Naaaahh, itulah asal mulanya mengapa pihak pengelola menamakannya Puncak Galau. That's all folk....

Terlepas dari cerita lebay yang melatarbelakangi namanya yang super alay, Puncak Galau ini keren banget untuk lokasi refreshing dan kabur dari kejenuhan Jakarta sejenak, seperti yang selalu gue dan Ony cari. So, go there !