I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Saturday, January 05, 2019

Trip Semarang : Ereveld Candi

 

29 Desember 2018.

Karena pas kedatangan gue ke Semarang Mei yang lalu baru sempat mengunjungi Ereveld Kalibanteng aja, maka untuk kedatangan kali ini gue pun berniat untuk ke Ereveld Candi. Tapi awalnya sempat ragu dan pesimis, karena saat itu udah memasuki masa libur Natal dan Tahun Baru, dan gue belum menghubungi kantor OGS (Oorloch Gravenstichting) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda, untuk minta ijin.

Gue langsung teringat, kalo Mbak Ita, staf OGS adalah teman dari seorang teman masa kuliah dulu. Keduanya sekarang sama - sama aktif di Erasmus Training Center. Singkatnya, gue mendapatkan nomor WA Mbak Ita, dan menghubungi beliau untuk minta ijin. Ngga seperti proses minta ijin ketika gue hendak mengunjungi ereveld - ereveld lainnya sebelumnya, yang kali ini lebih unik. Sebelum akhirnya gue mengunjungi ereveld Candi, begitu banyak komunikasi baik melalui WA maupun telepon, antara gue, Mbak Ita dan Pak Vincent, pimpinan Ereveld Candi, untuk mencocokkan jadwal, karena kebetulan saat itu beliau sedang cuti. Duh...ngerepotin banget sih nih ereveld lover!

Pagi itu gue berangkat dari Imam Bonjol dengan menggunakan Gojek. Ereveld Candi beralamat di Jl. Taman Jend. Sudirman, Bendungan, Gajah Mungkur. Jalan utama menuju kawasan ini udah ngga asing lagi buat gue. Ini jalan yang gue lalui ketika hendak ke arah Ungaran dan Ambarawa. Trus, Nakamura Healing Touch, tempat pijat alami favorit gue (padahal baru sekali kesitu), lokasinya juga gak jauh dari sini. Tiba di sana, gue langsung menelepon Pak Vincent, yang ternyata sedang asyik bekerja merawat tanaman yang ada di ereveld. Pak Vincent pun mengajak berkeliling.

Ereveld Candi dibangun tahun 1946. Di sini terdapat lebih dari 1000 makam. Mereka yang dimakamkan di sini adalah para prajurit Belanda yang wafat selama masa perang kemerdekaan Indonesia dan juga masa Perang Dunia II. Areanya menurut gue ngga terlalu luas, bahkan yang terkecil dibandingkan ereveld lainnya yang pernah gue kunjungi. Bentuk susunan penempatan makamnya unik, karena sebagian besar melingkar dan tersusun bertingkat seperti terasering gitu.


Di sini terdapat 2 (dua) buah monumen. Yang pertama, sebuah monumen berbentuk salib besar terletak di tengah - tengah ereveld. Di monumen itu terdapat sebuah tulisan : 'Voor Veiligheid en Recht' yang artinya Demi Keamanan dan Keadilan. Yang satu lagi di tiang bendera, terdapat monumen bertuliskan : Untuk Mengenang Dengan Hormat Mereka yang Tak Disebut Tetapi Telah Mengorbankan Dirinya dan Tidak Beristirahat di Taman - Taman Kehormatan. 


Seperti biasa, setelah berkeliling ditemani oleh pimpinan ereveld, gue akan minta ijin untuk berkeliling sendirian. Ini kesukaan gue tiap ke ereveld, menikmati dan mengagumi setiap sudut ereveld dalam keheningan. Selain itu, karena gue ngga mau menyita waktu Pak Vincent terlalu lama, karena beliau sedang bekerja.

Ketika sudah cukup puas berkeliling ereveld, dan karena udah cukup gosong kulit gue terbakar matahari siang itu, gue pun pamit ke Pak Vincent dan meninggalkan ereveld. 

Kunjungan kali ini membuat gue kembali teringat, betapa welcome-nya yayasan OGS untuk mempersilahkan siapapun, masyarakat umum untuk mengunjungi ereveld - ereveld yang ada di seluruh Indonesia. Selain itu, perasaan kagum atas dedikasi dan penghormatan dan penghargaan yang diberikan oleh pihak pemerintah Belanda melalui yayasan untuk merawat pemakaman yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para tentara mereka yang wafat di medan perang.

Thursday, January 03, 2019

Trip Semarang : Ngerasain Jadi 'Artis' Khong Guan



28 Desember 2018.

Lagi - lagi ke Semarang. Kali ini gue pengen menghabiskan liburan akhir tahun 2018 di Semarang. Semarang mulu...ga bosan apa ? Belummm....padahal baru Mei 2018 yang lalu gue ke sini. Tapi tiap kali memikirkan kemana mau melewatkan liburan singkat sendirian, yang terlintas langsung Semarang, kota favorit gue.

Gue naik kereta ekonomi Tawang Jaya dari Stasiun Senen, keberangkatan tanggal 27 Desember jam 11 malam. Mungkin karena beli tiketnya mendadak, dan cuma dapat sisa - sisa, kali ini tempat duduk di dalam kereta yang gue dapatkan penuh cobaan banget. Gue duduk di nomor 23, yang artinya bangku paling belakang, sebelah toilet (yang by default baunya pesing sepanjang waktu), dan sebelah pintu penghubung antara kereta. Bisa terbayang 7 jam yang harus gue lalui....dipenuhi dengan aroma toilet, dan berisiknya antara bunyi pintu dibuka - ditutup oleh para penumpang dan petugas yang lalu lalang, dan bunyi bising mesin yang terdengar jelas karena posisi duduknya di penghubung antar kereta. Alamakjan....! Tapi gue nikmatin aja, itung-itung pengalaman kayak gini bikin gue jadi bekpeker gembel yang makin tangguh. Toh, semalaman gue bisa tertidur pulas...walaupun sesekali terbangun karena kaget denger suara pintu geser yang ditutup dan dibuka kayak dibanting gitu. Duh!

Tiba di Stasiun Poncol Semarang, gue naik Gojek ke Imam Bonjol Hostel, langganan tempat gue menginap setiap kali ke kota ini. Karena gue sudah booking dan membayar via aplikasi Tiket.com, jadilah proses check in - nya sangat singkat. Gue pun mandi dan istirahat sejenak.

Pagi itu mestinya gue ke Ereveld Candi. Tapi ternyata harus ditunda karena Pak Vincent, pimpinan ereveld menelepon dan mengabarkan bahwa beliau masih dalam perjalanan dari Yogyakarta. Jadilah jadwal berkunjung ke sana digeser ke besok.

Lalu hari ini gue kemana ? Sekonyong - konyong gue teringat keinginan lama pengen ke pabrik biskuit Nissin yang berada di Ungaran. Pabrik ini sering banget gue lewati, misalnya ketika dalam perjalanan ke Ambarawa atau ke Pagoda Watugong. Pabrik ini beralamat lengkap di Jalan Raya Semarang - Salatiga. Tapi gue belum sempat mampir, karena enggan naik - turun bus, dan nunggu busnya yang biasanya bakal lama. Pabriknya mudah dikenali...karena sepanjang pabrik ada 'kaleng biskuit raksasa' dari produk - produk Nissin yang paling legendaris, yang berdiri di pinggir jalan. Oya, lebih spesifik tujuan ke sini adalah ke Nissin Emporium & Cafe dan museumnya. 

Untuk kesini, mula - mula gue naik Gojek ke Stasiun Poncol. Dari stasiun Poncol gue naik bus 3/4 (elf) jurusan Semarang - Salatiga, ongkosnya Rp. 10,000 saja. Gue baru tau ternyata bus ini arahnya ke Ambarawa juga, setelah dikasih tau oleh seorang tukang ojek. Pikiran gue yang polos dan lugu ini taunya cuma bus Putra Palagan doang yang ke arah sana. Dan gue sudah hampir mengering dan menggosong nungguin busnya yang ngga kunjung nongol.


Tiba di Nissin Emporium, gue langsung menuju museumnya yang berada di belakang, dekat area pabriknya. Untuk masuk ke sini gratis. Museum terdiri dari 2 lantai, dan ada 1 lantai paling atas lagi yang ternyata cafe (juga), tapi sore itu ketika gue tiba di sana sekitar jam 2 siang, udah bersiap - siap mau tutup.

Museumnya kecil, tapi menarik. Isinya mulai dari mesin - mesin yang pernah digunakan di pabrik Nissin, juga informasi mengenai proses pembuatan biskuit dan bahan - bahannya, dan sebagian produk - produk Nissin yang legendaris yang di-display dengan menarik. Yang menarik lagi, di sini disediakan spot - spot foto yang keren, yang backgroundnya ngga lain dan ngga bukan, ya produknya Nissin. 

 
 
 

Spot foto yang paling gue cari adalah foto kaleng biskuit Khong Guan, berupa photobox gitu. Thanks God, ketika gue tiba di sini, ada beberapa pengunjung lainnya, jadi gue bisa minta tolong untuk difotoin, karena ngga mungkin selfie juga. Ceklek....ceklek....! Akhirnya keinginan gue untuk jadi...ehmm...'artis', bintang sampul gadungan kaleng Khong Guan terwujud sudah ! Kaleng Khong Guan kan fenomenal banget, dengan sosok seorang ibu dan kedua anaknya di meja makan sedang menikmati sajian biskuit. Kayaknya cuma biskuit ini yang perkara kalengnya aja jadi bahan pembicaraan dan guyonan hangat sepanjang masa. Mulai dari....kenapa ngga ada ayah di kaleng Khong Guan...atau....kaleng Khong Guan isi rengginang....Belum lagi soal isinya...gue inget banget, jaman dulu waktu kecil, tiap kali buka kaleng Khong Guan bareng keluarga, selalu terjadi perebutan wafer coklat berbungkus plastik yang biasanya ada di lapisan paling atas. Pokoknya kaleng Khong Guan tuh punya seribu cerita dan meninggalkan sejuta kesan deh!

Puas berkeliling museum, gue pun menuju Nissin Emporium & Cafe. Gue langsung menanyakan ke staf cafe menu apa yang paling direkomendasikan di sana. Katanya ada 2 : Iga bakar pedas dan udon goreng. Kebetulan belum makan siang, gue pun memesan iga bakar pedas dan nasi. Rasa dan penyajiannya enak dan menarik. Soal harga, standard dan masih wajar. Seinget gue iga bakar plus nasi harganya Rp. 70,000.-


Menjelang sore gue meninggalkan cafe, menuju showroom Nissin, yaitu tempat penjualan berbagai macam produk - produk Nissin. Bahkan produk - produk yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Gue membeli beberapa produk sebagai oleh - oleh buat Mamak. Langsung terbayang, pasti begitu melihat oleh - oleh gue kali ini Mamak langsung mikir, "Bah...Jauh - jauh kau dari Semarang, repot kali kau bawain biskuit Nissin ?? Bukannya ada itu di Jakarta ? Pabriknya pun ada di Jalan Raya Bogor..." 


Setelah puas mewujudkan rasa penasaran gue selama ini akan pabrik dan juga cafe serta museum Nissin, gue pun kembali ke Semarang.

Sunday, June 17, 2018

Curug Cipamingkis Yang Eksotis


15 Juni 2018

Lebaran hari pertama, gue dan Ony memilih kabur dari Jakarta dan 'bersilahturahmi' dengan alam....Caellaahh ! Targetnya masih sama, the one and only, Jonggol. Pokoknya sebelum gue bosan ke sini dan puas mengeksplorasi keindahan alamnya, meskipun jauhnya kebangetan, gue akan kembali ke sini lagi....ke sini lagi...

Perjalanan kali ini agak spontan dan ngga direncanakan, jadilah gue dan Ony berangkat agak siang dari rumah, sekitar jam 9 pagi. Tujuan pastinya pun belum jelas - jelas amat. Begitu tiba di Jonggol city, gue dan Ony mampir dulu di warung bakso untuk mengisi perut. Lapar ? Sebenarnya belum. Tapi mengingat pengalaman biasanya, dimana mencari tempat makan di sini susah, terlebih pas hari Lebaran kayak gini, dan sepanjang perjalanan mulai dari Mekarsari, Cileungsi, sampai memasuki Jonggol, warung makan yang buka cuma warung bakso dan mie ayam doang, gue dan Ony memutuskan untuk makan bakso sebagai sarapan sekaligus makan siang.

Kelar ngebakso, berikutnya gue menuju Heaven Memorial Park (HMP) atau disebut juga Taman Makam Quiling. Gue khan senang mengunjungi makam, dan HMP ini menurut gue keren banget...luasnya 125 hektar dengan pemandangan berupa gunung, lereng, sungai, dan hutan. 

Tujuan berikutnya sebenarnya pengen langsung ke Curug Cipamingkis, tapi gue dan Ony malah mengambil arah menjauh, yaitu ke arah Cianjur. Ketika tiba di Puncak Hutan Pinus yang nampak seperti lokasi peristirahatan sejenak karena di kiri kanan jalan terdapat banyak warung - warung kopi dan pusat oleh - oleh, gue berhenti sejenak di situ. Ony mau istirahat sambil menikmati secangkir kopi. Meskipun namanya 'Puncak Hutan Pinus' tapi akses menuju hutan pinusnya sendiri sudah ditutup untuk umum. Kalau kata salah satu pemilik warung dan tukang parkir, dulunya area itu emang dibuka untuk pengunjung, tapi sekarang tidak. 

Dari Puncak Hutan Pinus, gue dan Ony mengambil arah balik ke Cariu, karena kita pengen ke Curug Cipamingkis. Alhasil tiba di curug udah menjelang sore, sekitar jam 15:00. Oya, sebelumnya gue cerita mengenai perjalanan gue ke Curug Ciherang. Mengenai rute perjalanan, Curug Cipamingkis ini berdekatan dengan Curug Ciherang, begitu tiba di sebuah pertigaan, ambil arah ke kiri untuk ke Curug Cipamingkis. Sebelum tiba di Curug Cipamingkis pengunjung akan melalui sebuah wahana wisata bernama Villa Khayangan Sukamakmur (di sebelah kiri) terlebih dahulu.

 

Setelah membeli karcis masuk berikut parkir, gue pun memasuki kawasan curug. Selain Curug Cipamingkisnya sendiri, area ini menyediakan wahana wisata lainnya, misalnya penginapan, camping ground, kolam renang, spot foto ala - ala, dan rumah pohon. Gue dan Ony langsung menuju curug, yang bisa ditempuh tanpa harus berlelah-lelah trekking. Curugnya keren....ada 1 sumber air terjun setinggi sekitar 20 meter. Di sekitarnya terdapat bebatuan besar. Curugnya ngga terlalu luas, dengan debit air lumayan deras. Di sekelilingnya berupa tebing dan pepohonan hijau, secara keseluruhan curugnya indah dan eksotis. Yang lebih menyenangkan lagi, area tepat di bawah air terjun, kedalamannya cuma setinggi dada orang dewasa. Jadi sangat aman dan menyenangkan banget buat mandi dan main air di sini. Trus gue nyebur ? Ngga sih....meskipun di situ juga disediakan tempat ganti/kamar mandi, tapi sore itu gue ingin menikmati kesejukan udara dan segarnya air Curug Cipamingkis dengan main-main air cantik dan merendam kaki aja. 


Puas di curug, gue dan Ony melangkah menuju rumah pohon. Untuk rumah pohonnya, pengelola curug mungkin terinsipirasi oleh keindahan rumah pohon di Curug Ciherang. Bentuknya sama, warna cat pada jembatan kayunya pun sama persis.Tapi favorit gue tetap rumah pohon Curug Ciherang, karena bentuk, lokasi dan pemandangan sekelilingnya bikin kesan sedikit magis.


Karena hari udah semakin sore, gue dan Ony meninggalkan lokasi. Overall, curug Cipamingkis mungkin salah satu favorit gue, dan bisa jadi suatu saat pengen balik lagi ke sini buat nyebur dan mandi sampai puas.

Saturday, June 16, 2018

Mandi Hujan di Curug Ciherang


19 Mei 2018.

Dengan tekad menggelora untuk mengeksplorasi pesona Jonggol yang menurut gue belum banyak terekspos ~ dan gue suka tempat-tempat seperti itu ~ gue dan Ony kembali ke sana, tepatnya kawasan Gunung Batu. Tujuannya untuk mengunjungi Curug Ciherang dengan rumah pohonnya yang instagrammable itu.

Perjalanan menuju Jonggol tuh selalu menguras tenaga dan waktu banget sebenarnya. Meskipun gue menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, tapi entah kenapa khusus untuk rute menuju Jonggol, terlebih Gunung Batu, bisa sampai menyentuh batas kebosanan gue. Mungkin karena rutenya masih sepi penduduk, misalnya jika dibandingkan dengan Gunung Salak. Jadi di sela-sela keasyikan gue menikmati perjalanan, tersisip juga rasa khawatir mengenai rasa amannya. 

Untuk misi kali ini ke Curug Ciherang, perjalanannya jauh lebih panjang lagi dari pada ke Puncak Gunung Batu, namun masih searah. Dari Puncak Gunung Batu, kira-kira masih 1 jam lagi, dengan kondisi jalan yang ngga selalu mulus. Dari jalan utama dan satu - satunya, pengunjung harus berbelok ke kiri. Gue melihat papan petunjuk arahnya secara ngga sengaja. Jadi besar kemungkinan pengunjung yang baru pertama kali ke sini kesasar dengan mengambil arah lurus. Di kawasan ini emang lebih baik banyak - banyak bertanya ke penduduk. Itu pun kalo kebetulan dekat dengan rumah penduduk. Banyak titik dimana sepanjang mata memandang yang terlihat hanya hamparan sawah padi, kebun, pepohonan bambu, jati, dsb. Oya, di sini gue juga ngga bisa mengandalkan GPS karena sinyal lenyap sama sekali. Ketika berbelok ke kanan menuju arah Gunung Batu dari jalan raya Jonggol, sebenarnya sinyalnya udah mulai susah. Pas posisi puncak Gunung Batu, udah ngga ada sama sekali. Apalagi arah ke Curug Ciherang. Nampaknya di sini tuh kawasan tidak ramah Telkomsel. 

Menjelang tiba di kawasan Curug Ciherang, petunjuknya makin jelas, karena berupa pertigaan. Kalo ke kanan, ke Curug Ciherang. Kalo ke kiri ke Curug Cipamingkis. Curug Ciherang menjadi bagian dari Wahana Wisata Curug Ciherang (WWCC) yang sepertinya dikelola oleh pribadi/perorangan gitu. Tiket masuknya mahal banget menurut gue ! Untuk 2 orang dan 1 motor harganya Rp. 43,000,- Alamakjannn...untuk menikmati keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa berupa curug di salah satu gunung di Jonggol, gue musti bayar segitu. Dahsyat ya...Tapi berhubung udah sampai sana, mau ngga mau gue beli tiketnya. 


WWCC ini luas banget....Setelah loket penjualan tiket, pengunjung akan melihat beberapa bangunan penginapan atau villa yang tersedia di sana. Gue rasa saat itu semua kosong tanpa penghuni, karena sepi banget. Bentuknya macam - macam, ada yang rumah modern, rumah panggung, atau rumah Teletubbies juga. Dari sini Rumah Pohon Curug Ciherang belum terlihat. Pengunjung harus mengambil arah ke kanan untuk menuju kawasan curugnya. Oya, hujan rintik sudah mulai turun sejak kedatangan gue di WWCC ini. Selain hujan, kabut tebal juga udah mulai muncul, jadilah kawasan tersebut nampak gelap.

Teletubbies wannabe
Setelah parkir motor, lokasi yang pertama gue lihat adalah Rumah Pohon Curug Ciherang. Gue girang banget lihatnya, karena sudah lama lihat, terpesona, dan penasaran pengen berkunjung, setelah baca travel story-nya yang udah pernah ke sana. Tempatnya emang keren banget. Berada di ketinggian, dengan latar belakang gunung. Di bawahnya, nampak Curug Ciherang berada. 


Saat itu ngga banyak pengunjung yang datang, cuma sekitar 6 - 10 orang, mungkin karena masih awal puasa. Jadi sepi, plus hujan, plus kabut tebal, bikin suasana sedikiiittt seram. Berhubung saat itu ngga terlalu leluasa berfoto - foto di rumah pohon, gue dan Ony pun melanjutkan perjalanan ke Curug Ciherang, yang lokasinya ngga jauh. Tiba di sana, hujan semakin deras, dan gue berteduh di kamar mandi dekat situ. Ketika hujan mulai reda, kabut bergeser dan langit sedikit cerah, gue dan Ony pun mulai turun mendekat ke curug. Arus airnya saat itu sangat deras, mungkin karena belakangan Jonggol dan sekitarnya diguyur hujan. Tapi entah karena hujan atau emang dasarnya begitu, air curugnya cenderung berwarna kecoklatan, bukan jernih. Ony pun nyebur menikmati dinginnya air curug, sementara gue enggan. Ngga beberapa lama kemudian, langit mendung lagi, rintik hujan mulai menetes, dan kabut mulai muncul lagi dan bikin langit gelap dalam sekejap, padahal saat itu hampir tengah hari. 


Gue dan Ony pun meninggalkan lokasi curug, dan kembali ke Rumah Pohon. Di situ gue sempat berteduh beberapa saat. Lalu sang hujan dan sahabat karibnya, kabut, mulai bersembunyi lagi....dan langit pun cerah kembali. Horeee....! Gue dan Ony tetap di Rumah Pohon. Di situ gue lihat beberapa pengunjung baru mulai berdatangan. Bagus deh...the more the merrier....Kalau terlalu sepi, makin terasa horor kawasan ini. Biasanya yang datang akan langsung menuju curug, dan sekedar lewat di Rumah Pohon. Jadi gue dan Ony betah berlama - lama di situ. Lagian, pemandangan dari sini terlihat jauh lebih memukau sih.

Beberapa saat kemudian, lagi-lagi duo hujan dan kabut muncul. Langit pun segera gelap, berasa kayak udah jam 6 sore lebih. Gue dan Ony pun memutuskan untuk meninggalkan lokasi, ditemani oleh rintik hujan. Ketika tiba di loket masuk tadi, karena hujan terlalu deras dan kabut sangat amat tebal, gue berhenti sejenak di situ. Ngga ada gunanya melanjutkan perjalanan, gue khawatir kabut tebal akan mengganggu perjalanan nanti. Mengingat jalan yang harus gue dan Ony lalui berupa tanjakan atau turunan yang agak curam, jalan yang tidak rata, dan jurang di sebelah kiri jalan (arah pulang), kayaknya memaksakan diri melanjutkan perjalanan ngga ada gunanya.

Setelah menunggu, menunggu dan menunggu.....hujan dan kabut kembali pergi. Senangnya! Gue dan Ony langsung meninggalkan WWCC, menyongsong perjalanan panjang lagi untuk keluar dari kawasan Gunung Batu, dilanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.

Tiga Malam Di Semarang (Hari Keempat)



29 Mei 2018

Hari terakhir di Semarang. Gue akan kembali ke Jakarta dengan kereta ekonomi dari Stasiun Poncol keberangkatan sekitar jam 1 siang. Jadi dari semalam gue udah menyiapkan ransel, lalu pagi ini rencananya gue akan keluyuran sampai sekitar jam 11 siang. Trus, balik ke hostel untuk mandi, terakhir, ke stasiun Poncol. 

Mengenai rencana pagi ini, gue akan mengunjungi Pagoda Watugong di Ungaran. Sebenarnya agak sedikit nekad, karena jaraknya ngga dekat - dekat amat. Trus, tantangan lainnya, transportasi ke sana. Kali ini gue ngga akan naik Trans Semarang, tapi Gojek, untuk menghemat waktu. Tarifnya sensasional, untuk ukuran Semarang : Rp. 23,000....gue langsung kebayang panjangnya perjalanan ber-Gojek ke sana nanti. 

Oya, sebenarnya gue masih menyimpan niat untuk ke Ereveld Candi. Tapi gue ngga mau ambil resiko, karena hari ini hari libur nasional (Perayaan Waisak). Jam buka ereveld untuk pengunjung umum kayak gue mengikuti hari kerja. 

Ketika gue tiba di Pagoda Watugong, sekitar jam 8:30 pagi, tentunya di sana sepi. Sebenarnya di area parkir ada sebuah bus yang mengantar group pengunjung, yang belakangan gue tahu bahwa mereka menginap di sana semalam, tapi sudah bersiap meninggalkan area pagoda. 

Nama lengkap vihara ini Vihara Buddha Gaya Watu Gong, dibangun tahun 1955. Di dalam komplek vihara terdapat dua bangunan besar yaitu Gedung Dhammasala dan Pagoda Avalokitesvara. Di pintu utama pengunjung akan langsung melihat bongkahan besar batu alam berbahan andesit yang diberi nama Watu Gong, yang menjadi asal muasal nama vihara ini. 

Batu Watu Gong dan Gerbang Sanchi (replika gerbang di depan
stupa Sanchi di India, simbol penghormatan sebelum memasuki bangunan
vihara/stupa sebagai kediaman Sang Buddha)
Tiba di komplek vihara, gue langsung melangkah ke Pagoda Avalokitesvara. Posisi pagoda ini pas di pinggir jalan raya Ungaran, jadi eye catching banget. Ketika empat tahun lalu gue melalui jalan ini dalam tujuan ke Ambarawa, gue langsung takjub ada bangunan seindah itu. Saat itu sekonyong - konyong gue teringat pagoda Kek Lok Si di Penang, Malaysia. Walaupun ngga mirip - mirip amat sebenarnya, baik dari bentuk maupun warnanya. 

Untuk mendekat ke pagodanya, gue harus menaiki beberapa anak tangga. Tiba di halaman pagoda, terdapat pohon bodhi yang keren banget. Batangnya ngga terlalu tinggi, tapi cabang - cabangnya banyak dan tumbuh melebar sampai tampak menaungi seluruh area halaman. Trus di ranting - rantingnya tergantung banyak pita berwarna merah, yang berisi permohonan dan harapan pengunjung yang berdoa di sana. Warna merahnya jadi kontras dengan dedaunan yang hijau. Masih di bawah cabang pohon bodhi, terdapat sebuah patung Dewi Kwan Im. 

Kebetulan ada seseorang di situ, yang gue asumsikan adalah pegawai vihara, gue minta tolong untuk difotoin beberapa kali. Tuh kan...Yesus 'menemani' gue melalui orang-orang baik hati yang dengan ikhlas memberikan bantuan di saat gue perlukan. Bahkan untuk hal sekecil berfoto ria. Begitu tiba di bangunan pagoda gue lihat dua orang pegawai masih sibuk membersihkan ruangan dalam pagoda. Hari itu adalah perayaan Waisak, jadi mungkin akan ada banyak pengunjung datang untuk berdoa. 

Pohon bodhi, Patung Buddha dan Patung Dewi Kwan Im
Pohon bodhi dan bekpeker gembel
Pagoda Avalokitesvara
Di luar dugaan gue, ternyata pagoda hanya terdiri dari satu lantai, yaitu ruangan dimana terdapat patung Buddha berukuran sangat besar, tampak dengan jubah berwarna merah muda. Oya, gue selalu tertarik saat melihat sikap tangan dan jari atau mudra, dari patung - patung Buddha, karena setiap mudra ada arti dan bahkan manfaatnya. Alhasil, setiap kali melihat patung Buddha, gue akan pulang membawa rasa penasaran baru yang harus gue cari jawabannya, yaitu mudra Buddha dan artinya. Mudra patung seperti di Pagoda Avalokitesvara ini rasanya jarang gue lihat, dan begitu gue cari - cari informasi dengan browsing sana - sini, kayaknya yang paling mendekati namanya Apana Mudra. Mudra ini dari segi manfaat, erat hubungan dengan pencernaan dan sekresi, yaitu mengeluarkan racun - racun dari dalam tubuh, sehingga bisa menjauhkan dari sakit - penyakit. Hal ini berlaku baik untuk fisik maupun mental. Sebenarnya gue ngga yakin benar atau ngga nya. Semoga suatu saat gue berkesempatan untuk mendapatkan informasinya yang akurat dari sumber yang tepat. 


Kembali ke bangunan pagoda, rasa penasaran gue terjawab sudah. Gue pikir selama ini gue bisa menaiki setiap lantai pagoda yang menjulang itu, seperti di Kek Lok Si, dimana gue naiki lantainya satu per satu sampai yang tertinggi (yang dibuka untuk pengunjung umum), dan tiba di sana dengan bermandikan keringat. Puas memandangi keindahan pagoda, gue pun melanjutkan langkah menuju patung Buddha Paranibbana, yang posisinya di sebelah pagoda. 

Buddha Parinibbana, menggambarkan saat wafatnya Sang Buddha
di antara dua pohon Sala
Gue sempat berada di halaman di tengah komplek beberapa saat. Saat itu pengunjung lainnya mulai berdatangan. Sementara gue, sudah bersiap - siap mengambil langkah pulang. Gue ngga ke Gedung Dhammasala karena berasumsi gedungnya dikunci. 

Ketika berada di dekat Gerbang Sanchi, seorang bapak yang sedang memegang parang menyapa gue dengan ramah, dan gue pun sempat mengobrol sejenak dengan bapak tersebut. Bapak tersebut ternyata sedang mempersiapkan umbul - umbul untuk perayaan Waisak yang akan berlangsung nanti malam. Beliau mempersilahkan gue untuk bergabung pada perayaan itu, tapi gue bilang kalau gue akan meninggalkan Semarang siang nanti. Pak Warto, namanya. Mempersilahkan gue untuk melihat Gedung Dhammasala dan berniat untuk menemani gue berkeliling. Wowww.....gue senang bukan main, dan sejenak lupa bahwa waktu gue di sini sangat sempit. 

Tiba di Gedung Dhammasala, Pak Warto (lengkapnya Pandita Aggadhammo Warto) yang merupakan pengurus Magabudhi (Majelis Agama Buddha Indonesia) Jawa Tengah, menunjukkan dan menjelaskan ke gue relief Patticasamuppada yang ada di sekeliling tembok halaman luar gedung. Patticasamuppada adalah hukum sebab musabab yang saling berkaitan. Dalam ajaran Buddha, Patticasamuppada adalah mengenai hukum alam yang dialami oleh semua mahluk sebelum meraih kebahagiaan tertinggi, Nibbana. 

Moha, loba dan dosa

Pandita Aggadhammo Warto
Gedung Dhammasala
Bekpeker gembel
Gedung Dhammasala
Gue mendengarkan penjelasan Pak Warto dengan seksama, tanpa rasa bosan. Pak Warto pun ngga lelah dan bosan menjawab pertanyaan - pertanyaan yang terkadang spontan dan apa adanya yang gue sampaikan. Di sela - sela penjelasannya mengenai Patticasamuppada, Pak Warto juga menyisipkan obrolan ringan dan nasihat - nasihat yang mencerahkan dan menyejukkan hati dan pikiran, disampaikan dengan lembut dan kerendahan hati, tanpa ada unsur kesombongan, maupun menghakimi. Jika bukan karena kendala waktu dan gue juga ngga ingin menginterupsi kesibukan Pak Warto terlalu lama, gue pasti akan tinggal di sana beberapa saat. Gue pun berpamitan pada Pak Warto, dan dengan langkah berat meninggalkan vihara.

Di gerbang gue memesan Gojek untuk kembali ke hostel. Gue menunggu beberapa lama, sampai ada Gojek yang akhirnya menerima pesanan gue. Tiba di hostel, gue mandi dan bersiap - siap dan berangkat ke stasiun Poncol. Gue sempat makan siang di sebuah restoran yang ada di seberang stasiun. 

Kereta gue berangkat tepat waktu. Gue melalui perjalanan selama 7 jam dengan memikirkan kembali trip 4 hari 3 malam gue di Semarang yang seru dan sangat berkesan. Teristimewa, dimana selama trip ini gue dipertemukan dengan orang - orang baik dan bersahabat yang bikin traveling sendirian itu ngga garing dan sulit. Sampai jumpa, Semarang !