I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, April 22, 2020

Cerita Karantina : Bye Piknik, Hello Refund !



Kondisi selama pandemi Covid-19 bikin gue harus 'puasa' traveling sejenak dan merelakan beberapa tiket AirAsia dan juga voucher hotel yang udah gue beli sejak tahun lalu, untuk digunakan di tahun ini. Untungnya masing - masing provider memfasilitasi pengembalian dana dengan mekanisme masing - masing sih.

Yang pertama pemberitahuan datang dari Traveloka. Tahun lalu pas ada program promo 'Traveloka Epic' gue membeli beberapa voucher hotel, karena bermaksud pengen staycation di hotel - hotel di kawasan Bogor. Ada satu voucher terakhir yang mestinya bisa gue gunakan untuk menginap di Hotel Royal Bogor tanggal 1 Mei nanti, tepatnya di hari libur nasional, Hari Buruh. Setelah mengirimkan email pemberitahuan ke  gue bahwa hotel tersebut tidak akan menerima tamu selama pandemi Covid - 19 berlangsung, beberapa hari kemudian gue dihubungi oleh seorang Traveloka officer yang hendak membahas mekanisme pengembalian uang gue. Singkatnya, dalam waktu beberapa hari saja, uang gue kembali ke rekening. Mulus.

Selain itu, gue juga harus memproses refund untuk pembelian tiket AirAsia. Tahun lalu saat AirAsia mengadakan program promo gue membeli beberapa tiket. Jadwal terdekat adalah untuk tanggal 8 Mei 2020 dari Jakarta ke Kuala Lumpur (pp). AirAsia menawarkan dua mekanisme. Yang pertama : penggantian jadwal keberangkatan, maksimal sampai dengan tanggal 31 Oktober 2020, namun kali ini 'bonus'nya, pemilik tiket berhak mengubah jadwal keberangkatan beberapa kali (biasanya perubahan jadwal hanya diperbolehkan satu kali), dan tanpa biaya tambahan. Mekanisme kedua, credit account, yang bisa digunakan selama 365 hari ke depan. Mekanisme kedua ini lebih praktis dengan masa penggunaan lebih panjang. 

Sebenarnya gue pribadi lebih milih mekanisme pertama, mengingat tiket yang gue beli harganya murah banget (sekitar Rp. 310,000 untuk tiket pulang pergi). Kalau ngga promo, gue agak kesulitan membeli tiket baru dengan 'modal' credit account segitu. Sayangnya jadwal penggantian jadwal keberangkatan dibatasi maksimal sampai 31 Oktober 2020 doang. Gue ngga perlu tiket baru sampai dengan periode itu, karena gue udah beli beberapa tiket AirAsia untuk 2020 sejak tahun lalu. Andaikan bisa gue gunakan untuk Desember 2020, karena kebetulan gue belum ada rencana akhir tahun....

Mau ngga mau gue memilih mekanisme kedua. Berhubung AirAsia sudah tidak memiliki layanan call center lagi, gue pun menghubungi AirAsia melalui AVA (AirAsia Virtual Allstar), portal berupa chatbot untuk melayani permintaan atau pertanyaan pelanggan AirAsia. Gue sengaja memulai chat sekitar jam 10 malam, karena menurut pengalaman gue, menghubungi AVA di jam - jam normal (pagi, siang, sore), susahnya bukan main untuk terhubung dengan officernya. Dalam waktu singkat, proses klaim credit account pun selesai, dan gue langsung menerima email konfirmasinya. Namun gue masih menemukan kendala. 

Ketika membeli tiket AirAsia tersebut untuk gue dan Ony, gue melakukannya terpisah. Pertama gue membeli satu tiket pp untuk gue, lalu menyelesaikan pembayaran. Kemudian, gue melakukan transaksi untuk pembelian tiket Ony. 'Strategi' ini emang kadang gue gunakan saat pembelian promo AirAsia, karena seringnya ketika gue membeli dua tiket sekaligus, tidak tersedia. Jadi gue harus melakukan dua kali transaksi, dengan kondisi ada perbedaan jadwal keberangkatan (jam) antara gue dan Ony. 

Saat proses credit account untuk tiket atas nama gue, semua berjalan cepat dan mulus. Namun herannya untuk tiket Ony, proses gue ditolak dengan jawaban otomatis "My apology to inform you this, but at the moment we will only give the credits to the traveling guess OR to the person who had paid the booking. Chat with me again if you reached out to the persons I mentioned beforehand!" Bingung....padahal gue kontak AVA dari akun AirAsia gue, yang gue gunakan saat pembelian tiket. Dan, gue melakukan pembayaran juga melalui akun ini, dengan kartu debit atau kredit atas nama gue. Sayangnya, AVA chat ini bukan dioperasikan oleh orang. Jadi, komunikasi yang bisa dilakukan sangat ngga fleksibel, sudah ditentukan menu - menu topiknya. Jadi ngga jelas kalau mau nanya hal yang spesifik kemana. Mungkin akan gue coba lagi lain waktu. Selain itu gue juga akan mengirimkan pesan pribadi ke akun - akun sosmed AirAsia (IG, Facebook). 

Sejauh ini dampak pandemi Covid-19 terhadap hobi traveling gue, baru ke tiket dan voucher hotel yang gue sebutkan di atas. Untuk jadwal terdekatnya lagi, di bulan Juli 2020 gue juga sudah memiliki tiket AirAsia lainnya, dan juga tiket Citilink tujuan Silangit, Sumatera Utara untuk Mama. Semoga pandeminya segera berakhir semoga segala rencana yang sudah dibuat bisa berjalan normal kembali. Dan juga ngga ada kerepotan untuk proses refund atau semacamnya.

Friday, April 17, 2020

Cerita Karantina : Kucing


Sejak mulai menjalani Work From Home tanggal 17 Maret 2020 karena kasus Covid-19, ada hal baru yang mengisi keseharian gue selama di rumah, yaitu empat ekor anak kucing yang hadir di rumah gue dengan cara misterius.

Gue sebut 'misterius' karena tiga dari empat kucing ini, muncul di teras rumah gue begitu saja, di saat mereka masih sangat kecil, gue rasa berusia beberapa minggu saja. 

Gue bukan penyuka kucing, ngga pernah pelihara kucing juga, dan bahkan selama ini gue pikir gue adalah 'anti kucing' garis keras. Gue ngga suka melihat kucing, menyentuh atau sekedar mengelus bulunya, bahkan berada di dekat kucing pun bikin gue ngga nyaman. Tapi kehadiran  empat anak - anak kucing secara mendadak dan bertahap di rumah gue, mau ngga mau bikin gue harus sedikit 'berkompromi'. 

Di awal WFH, ada seekor kucing jantan bersama anaknya yang masih sangat kecil, tiba-tiba menjadi penghuni teras rumah gue. Tentunya gue merasa terganggu, karena gue ngga rela teras gue jadi tempat tinggal permanen keduanya. Tapi karena ngga tegaan terhadap hewan, gue beberapa kali (kalo sempat) ngasih makan ke keduanya. Gue pikir, keduanya ngga bakal mendapatkan makanan dari lingkungan sekitar (tetangga). Perlahan namun pasti, si ayah kucing meninggalkan teras rumah gue, termasuk anaknya sendirian. Si ayah kucing masih kerap berkeliaran di lingkungan sekitar, sepertinya tinggal di salah satu rumah tetangga.

Di suatu pagi, saat gue membuka pintu rumah, tiba-tiba si anak kucing berwarna hitam putih ini langsung loncat masuk ke dalam rumah, tepatnya mendarat di kaki gue, sambil mengeong - ngeong dengan histerisnya. Untuk gue yang ngga pernah menyelami dunia perkucingan, gue beransumsi si anak kucing menangis karena kelaparan. Gue pun menyiapkan makanan seadanya. Si anak kucing langsung makan dengan lahap dan beringasnya.


Si hitam putih menjadi penghuni tetap teras rumah gue. Gue menyediakan makan dua kali sehari berupa nasi dan ikan lembek dan juga susu cair, dengan harapan anak kucing tersebut akan segera bertumbuh besar dan dewasa, dan akan meninggalkan rumah gue. 

Minggu berikutnya, di suatu pagi saat gue membuka pintu rumah. Dari jarak beberapa meter dari pintu rumah, gue melihat dua anak kucing yang sepertinya masih sangat kecil tanpa ditemani oleh kucing dewasa, berjalan ke arah rumah gue. Mereka tampak tertarik untuk mampir karena saat itu si kucing hitam putih sedang menikmati sarapannya. Ketika kedua anak kucing kembar ingin nimbrung, gue pun menghalau, berharap kedua bayi kucing tersebut mengerti bahwa kehadirannya tidak diharapkan (oleh gue). Karena gue ingat 'kata-kata bijak' bahwa sekali seekor kucing diberikan makan, dia ngga akan mau meninggalkan rumah atau orang yang menyediakan makan tersebut. Dan gue harus menampung tiga bayi kucing di rumah gue ? No way lhaaa ! Si kembar ini menghabiskan sepanjang harinya di teras rumah gue. Sementara gue yang sepanjang hari bekerja dari ruang tamu dan memandangi kehadiran mereka, ngga berdaya mencari cara mengusir mereka. Dan keduanya menjadi penghuni tetap teras rumah gue, bergabung dengan seniornya, si hitam putih.


Minggu berikutnya, seperti biasa, di pagi hari gue akan menyediakan makan untuk...sekarang menjadi tiga anak kucing. Setelah itu gue masuk ke ruang tamu untuk menyalakan laptop dan mulai bekerja. Menjelang jam 10 pagi, gue keluar menuju teras untuk melakukan rutinitas selama masa WFH yaitu berjemur. Setiap kali gue keluar untuk berjemur, biasanya anak - anak kucing itu akan langsung mengikuti gue dan berkumpul di sekitar gue. Kalau gue duduk menggunakan kursi kecil, ketiganya akan berkumpul di bawah kursi. Menurut gue insting kucing beda dengan anjing. Kucing ngga sensitif siapa yang menyukainya atau ngga, mereka akan datang ke siapa aja dengan sikap manjanya. 

Dan pagi itu gue kaget dengan dahsyatnya karena yang mendatangi gue bukan tiga anak kucing, melainkan empat !! Tadi pagi waktu gue memberikan makan ketiga anak kucing lainnya, gue ngga melihat keberadaan si anak kucing berwarna kuning ini. Gue heran...si kuning ini super kecil. Kemana induknya ? dari mana dia tiba - tiba muncul ? siapa yang bawa ke rumah gue ? Ngga ada jejaknya. Gue ngga ngerti dengan dunia kucing. Setahu gue, induk hewan apapun akan sangat posesif dan protektif terhadap anak yang baru dilahirkannya. Kok ini anak masih kecil bisa 'lari' dari induknya dan berkeliaran jauh dari pantauan?

Namun kali ini, gue menyikapinya dengan lebih cuek...atau lebih tepatnya, pasrah. Gue pikir, biarlah mereka tinggal di teras rumah gue, dan gue akan menyediakan makan secukupnya, dan lagi - lagi berharap dalam waktu singkat keempatnya akan berusia cukup dewasa untuk memulai petualangan hidupnya sendiri, dan meninggalkan teras rumah gue. Dan tugas gue selesai. 


Meskipun gue ngga menyukai kucing, tapi yang pasti gue ngga akan tega membiarkan anak - anak kucing tanpa induk ini menderita kelaparan. Dan karena gue terbiasa memelihara dan merawat anjing sepanjang hidup gue, gue pun akan merawat keempatnya ngga setengah - setengah. Gue harus rela mengesampingkan 'ketidaksukaan' dan 'keasingan' gue akan kucing dan dunianya, tapi yang jelas, keempat anak kucing ini harus tetap dirawat dan diberi makanan. 

Sekarang di rumah gue menyimpan stok ikan, makanan kering dan basah khusus kucing. Gue bahkan menyimpan stok obat cacing, karena seorang teman memberikan advice begitu mencurigai sepertinya salah satu atau beberapa dari kucing - kucing ini menderita cacingan. Gue menyiapkan tempat tidur empuk seadanya tempat mereka bisa berkumpul di malam hari. Gue juga menyediakan tempat minum, dan beberapa piring untuk mereka masing - masing, yang akan gue cuci bersih setiap kali selesai digunakan. Hal - hal yang ngga pernah gue sangka akan gue lakukan....terhadap kucing. 

Baru - baru ini, salah satu dari si kembar, mati. Hari itu kebetulan gue ke kantor, dan baru pulang malam hari. Hanya tiga kucing berkumpul menyambut kedatangan gue dan Ony. Meskipun sedikit khawatir tapi gue berusaha berpikir positif bahwa mungkin dia di'pinjam' tetangga untuk dijadikan 'mainan' malam itu. Kalau gue ngga di rumah, keempat kucing ini memang akan meninggalkan teras dan asyik bemain - main ke sana kemari. Sampai esok sorenya, si kembar ngga muncul, dan gue tergerak untuk mencari ke sekitar lingkungan rumah gue, tepatnya ke arah sebidang tanah kosong dengan rerumputan ngga terawat. Dalam sekejap, mata gue tertuju ke suatu titik, dan di situ gue melihat bangkai si kembar. 

Seumur - umur baru kali ini gue sedih melihat kucing mati. Beberapa minggu terakhir ini, gue berkompromi dengan ketidaksukaan gue akan kucing, dan fokus untuk menyelamatkan keempat anak kucing yang mendadak datang ke teras rumah gue, ke kehidupan gue. Gue berhasil mengubah cara berpikir, bahwa ngga penting gue suka atau tidak suka, anak - anak kucing ini tidak boleh mati kelaparan atau karena telantar. Dan itu adalah tugas gue untuk merawat mereka. Dan ketika salah satu dari mereka mati, di usia yang masih kecil seperti itu, terlebih gue ngga pernah tahu apa yang terjadi dan menimpa si kembar, rasanya usaha gue selama ini sia - sia.

Sekarang tinggal tiga anak kucing tersisa: si hitam putih, si kembar (belang) dan si kuning. Everything happens for a reason. Meskipun gue masih bertanya - tanya bagaimana anak - anak kucing ini bisa sampai di rumah gue, tapi keyakinan gue, ngga ada yang namanya 'kebetulan'. Saat ini kondisinya gue mampu untuk merawat mereka, dan di luar dugaan gue, kepedulian gue terhadap hewan ternyata cukup panjang dan lebar sampai gue bisa berkompromi 'berbagi' dengan beberapa kucing sekaligus. Semoga semua mahluk berbahagia !

Monday, February 24, 2020

Menjelajah Yogyakarta Bersama Ojek Wisata (1)

Candi Plaosan Lor
Tanggal 10 - 14 Februari 2020 yang lalu gue berada di kota Yogyakarta untuk menghadiri national conference dari kantor. Seperti ketika event yang sama tahun lalu (di Bali) kali ini pun gue berniat untuk memperpanjang waktu kunjungan gue di sana, untuk trip pribadi. Agenda kantornya sendiri berlangsung 10 - 12 Februari 2020, dan gue memutuskan untuk kembali ke Jakarta tanggal 14 Februari 2020, artinya, gue punya dua hari untuk berkeliling menikmati Yogyakarta. Kali ini gue pengen menjelajah sendirian, ngga bergabung dengan group teman - teman kantor yang juga melakukan trip yang sama. Alasannya, gue pengen benar - benar menikmati perjalanan ini sendirian. Tantangannya, transportasi apa yang gue akan gue gunakan untuk menjelajah kota ini ? 

Setelah browsing informasi sana - sini, akhirnya gue menemukan yang namanya 'ojek wisata' dari instagram. Dengan tarif yang menurut gue terjangkau banget, gue akan diantar dengan motor ke tujuan - tujuan wisata pilihan (yang sudah disepakati dengan super fleksibel), yang pengendaranya sekaligus berperan sebagai guide dan bahkan bersedia bantuin foto - foto juga. Cihuyy banget! Gue pun mulai berkomunikasi dengan ojek_wisatajogja. Sejujurnya, di awal gue agak niat ngga niat gitu melakukan trip wisata di Yogyakarta. Makanya sampai Kamis, 13 Februari 2020 pagi pun gue ngga punya rencana yang final gue mau kemana aja. Minat gue tuh wisata sejarah, pengen mengunjungi candi - candi di Yogyakarta dan sekitarnya, udah itu aja....untuk wisata 'kekinian' atau kulineran, kayaknya kali ini gue ngga terlalu pengen.

Hari Kamis, 13 Februari 2020, gue dijemput oleh Aji, dari ojek_wisatajogja, sekitar jam 9 pagi. Sebelum meninggalkan Hotel Tentrem, tempat gue menginap selama national conference, gue sudah menitipkan koper di concierge, karena hari itu gue memang sudah harus check-out. Perjalanan pun dimulai, dan hari ini gue pengen mengunjungi candi - candi.

Ketika motor yang gue tumpangi melewati kawasan Candi Prambanan, gue langsung mantap untuk tidak mengunjungi candi ini. Alasannya, dari jalan utama aja gue udah bisa lihat lautan bus - bus wisata memenuhi area parkirnya. Gue lagi ngga mau berada di tempat - tempat yang ramai pengunjung kayak gitu...tepatnya gue pengen menyepi. Gue mau cari lokasi yang sepi dan sunyi, tempat yang pas untuk merelaksasi pikiran. Tujuan pertama adalah ke Candi Sambisari, yang lokasinya ideal, dalam arti sepi pengunjung dan tempatnya bersih dan terawat. Ini adalah candi Hindu yang dibangun di abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini sempat menghilang tertimbun endapan lahar Merapi. Keberadaan candi pertama kali ditemukan tahun 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul batu candi.

Ada empat bangunan candi disini, satu candi induk dan tiga candi perwara. Komplek candinya dikelilingi sebuah pagar batu.

Candi Sambisari

Candi Sambisari

Harga tiket masuk Candi Sambisari adalah Rp. 5,000 per orang.

Dari Candi Sambisari, perjalanan dilanjutkan ke Candi Plaosan. Baru kali ini gue menginjakkan kaki di sini, dan gue langsung takjub dan jatuh cinta sama candi Plaosan. Dengan banyaknya bongkahan reruntuhan bebatuan candi, mengingatkan gue sama Beng Melea di Siem Reap. Candinya cantik dan keren luar biasa, dan langsung menjadi favorit gue. Candi Plaosan adalah sebuah candi Buddha yang dibangun di abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi Plaosan terdiri dari 2 bagian : Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Dan gue paling lama menghabiskan waktu di Candi Plaosan Lor, karena sangat luas, dengan lebih banyak bangunan candi, yang terdiri dari dua candi induk dan sekitar 50 candi perwara. Katanya, every temple tells a story, mereka bukan sekedar tumpukan batu kuno. Dan berada di sana, bikin pikiran gue melanglang buana, membayangkan bagaimana candi semegah itu dibangun pada jaman itu, apa tujuannya, dan lain sebagainya. Sayangnya gue ngga bisa berlama - lama di sana, karena hari menjelang siang dan takut ngga keburu hunting candi - candi lainnya.

Tapi saat itu juga gue langsung membuat janji pada diri sendiri, gue akan ke sini lagi segera, memuaskan niat menikmati candi ini selama waktu yang gue butuhkan. Dari Candi Plaosan Lor, gue menyeberang jalan untuk melihat - lihat Candi Plaosan Kidul, yang areanya ngga terlalu luas, dan sepertinya hanya terdiri dari beberapa candi perwara.

Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Kidul

Harga tiket masuk Candi Plaosan adalah Rp. 10,000 per orang.

Berikutnya, Aji mengantarkan gue ke Situs Ratu Boko. Sebelumnya, kita sempat berhenti di sebuah rumah makan sate untuk menikmati makan siang sambil charge handphone gue yang baterenya sekarat.

Begitu tiba di area parkir Candi Ratu Boko, gue sempat skeptis akan bisa menikmati suasana candi yang sunyi, begitu melihat rombongan pelajar yang sepertinya sedang melakukan field trip atau semacamnya. Begitu memasuki kawasan candi, dimulai dari pintu gerbangnya yang iconic itu, gue ngga berhenti mengagumi candi yang masih nampak jelas sebagai reruntuhan sebuah keraton ini. Areanya luas banget, dan selama di sini pikiran gue 'sibuk' membayangkan dan menebak - nebak seperti apa wujud setiap bagian dari kawasan candi ini di masa jayanya dahulu. Ada bagian seperti gerbang utama, ada yang seperti benteng, pendopo, kolam... Andaikan gue punya banyak waktu, pengennya bisa berlama - lama di sana. Sayangnya gue harus buru - buru kembali ke pintu masuk, karena hujan mulai turun. Gue bahkan belum sempat mampir melihat bagian goa. Ngga lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Gue dan Aji menunggu di cafe yang ada di kawasan pintu masuk candi sambil menikmati kopi dan tentunya nge-charge handphone lagi.

Situs Ratu Boko
Situs Ratu Boko
Situs Ratu Boko
Situs Ratu Boko
Situs Ratu Boko

Harga tiket masuk Situs Ratu Boko adalah Rp. 40,000 per orang.

Dari Candi Ratu Boko, tujuan berikutnya Candi Ijo. Sebenarnya sempat ada rencana untuk mampir ke Tebing Breksi dulu. Tapi lagi - lagi karena dari kejauhan gue sudah melihat ramainya bus wisata dan pengunjung di sana, gue pun ogah mampir. Perjalanan dilanjutkan langsung ke Candi Ijo, sebuah candi Hindu yang terletak di lereng bukit padas bernama Gunung Ijo. Bentuk candinya berupa teras - teras bertingkat gitu. Hal yang menarik dari Candi Ijo adalah lokasinya yang tidak seperti candi lain pada umumnya. Menurut kitab - kitab India kuno, pemilihan lokasi candi biasanya adalah lahan yang sangat subur dan dekat mata air. Sementara, Candi Ijo terletak di bukit kapur, bukan merupakan lahan subur, dan tidak dekat dengan mata air. Hal ini bikin Candi Ijo jadi sedikit misterius dan unik. Hhmmm...
 
Candi Ijo
Candi Ijo

Harga tiket masuk Candi Ijo adalah Rp. 5,000 per orang.

Berikutnya Aji mengantarkan gue ke Candi Banyunibo, sebuah Candi Buddha yang letaknya di antara area persawahan. Dengan lokasinya yang agak jauh dari jalan utama itu, bikin candinya sepi pengunjung, alias cuma gue berdua di sana. Komplek candi terdiri dari satu candi induk dan 6 candi perwara yang berupa reruntuhan bebatuan. Sementara candi induknya sudah nampak utuh dan berdiri kokoh. Dari seluruh candi - candi yang gue kunjungi hari ini, gue heran dan takjub karena semua akses ke bagian dalam candi (baik induk maupun perwara) masih dibuka. Ngga ada yang ditutup dengan dipagari. Hal itu bikin gue penasaran untuk masuk ke dalamnya, tapi bikin ngeri juga karena gelap gulita. Penerangan dari handphone gue tentunya ngga bisa berbuat apa - apa. Di candi Banyunibo ini, begitu memasuki bagian dalam candi induknya, langsung tecium aroma kemenyan dibakar. Jadilah gue cuma berani memandangi gelapnya dari tangga. Tapi dengan akses tanpa batas begini gue jadi khawatir candi akan dikotori oleh ulah - ulah vandalisme pengunjung yang ngga bisa menghargai betapa tak ternilainya peninggalan candi - candi tersebut.

Candi Banyunibo

Harga tiket masuk Candi Banyunibo adalah Rp. 5,000 per orang.

Semestinya Candi Banyunibo adalah tujuan terakhir gue. Tapiiii...tadi waktu beli tiket masuknya, penjaga candi sempat bilang, ada candi lainnya dekat situ yang juga worth to visit, namanya Candi Barong. Gue langsung minta Aji untuk antarin ke sana, meskipun berpacu dengan waktu karena kurang dalam sejam candi akan ditutup, sementara kita ngga tahu lokasinya dimana. Akhirnya dengan bertanya kesana kemari, gue tiba di candi Barong. Petugas loket tiket bilang gue bisa mengunjungi candi sampai dengan jam 5.15 sore, artinya gue dikasih waktu sekitar 30 menit.

Candi Barong adalah candi Hindu yang didirikan sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Kalau gue perhatiin, komplek candinya juga berupa teras - teras bertingkat gitu. Berhubung area komplek candi ngga terlalu luas, dan jarak ke gerbang masuk agak jauh, dan juga waktu yang gue miliki ngga banyak karena komplek candi sudah akan ditutup, gue pun ngga berlama - lama di sana.

Candi Barong
Candi Barong

Harga tiket masuk Candi Barong adalah Rp. 5,000 per orang.

Candi Barong adalah candi terakhir yang gue kunjungi hari itu. Seandainya masih punya waktu, gue akan senang bukan main untuk mengeksplor candi - candi lainnya di kawasan ini. Gue senang dan puas banget dengan perjalanan hari ini. Mencari - cari lokasi candi yang terpencil dan ngga banyak diketahui orang, adalah sensasi dan kesenangan tersendiri buat gue. Puji Tuhan, partner bepetualang gue hari ini ~Aji~ orangnya asyik dan adventurous banget. Gue ngga nyangka, pilihan gue menggunakan jasa ojek wisata, ternyata pilihan yang paling tepat. Mengingat perjalanan panjang yang gue lalui hari ini, menyusuri jalan - jalan di kawasan desa Bokoharjo untuk mencapai setiap lokasi candi, moda transportasi motor memang yang paling efisien. Perjalanan memang sempat terhenti oleh guyuran hujan, tapi hal itu ngga terlalu mengganggu.

Gue pun diantar kembali ke Hotel Tentrem untuk ambil koper. Sebelumnya sempat mampir di angkringan seberang hotel untuk makan malam ringan, masih bareng Aji. Dari Hotel Tentrem gue  memesan Grab untuk menuju Adhisthana Hotel, tempat gue akan menginap malam itu. Terima kasih Yesus, Perjalanan hari ini jauh melampaui harapan dan perkiraan gue.

Thursday, January 30, 2020

Penang Trip 2019 : Sakit Saat Traveling Itu....


Menyebalkan...

Selama trip di Penang, hal yang ngga gue harapkan (dan tidak antisipasi sebelumnya) terjadi. Gue sakit....meskipun 'hanya' radang tenggorokan, demam, batuk dan kawan - kawannya, tapi kalo judulnya lagi 'traveling' dan jauh dari rumah dan keluarga, rasanya mengganggu banget. Saat itu mungkin fisik gue 'kalah' sama cuaca Penang yang panas banget, kecapean, dan makan ngga teratur dan sembarangan. Mulai 30 Desember 2019, sebenarnya gue sudah mulai ngga enak badan, dan sempat membeli paracetamol di toko terdekat. Meskipun udah minum 2 kali, rasanya ngga ada perubahan. By the way, saking cueknya, bahkan kali ini gue lupa bawa obat - obatan (ringan) pribadi. Dan gue berjanji dalam hati, next time persiapan gue harus lebih baik.

Tepat tanggal 1 Januari 2020, karena pengen sembuh dengan kilat, mengingat perjalanan gue di Penang masih lumayan panjang dan baru bakal balik ke Jakarta tanggal 5 Januari 2020, gue pun ke Island Hospital. Begitu di pusat informasi rumah sakit, seorang petugas langsung mengingatkan bahwa berhubung hari itu Tahun Baru, hari libur nasional, maka seluruh tarif, mulai dari jasa dokter, treatment/test (jika diperlukan) dan obat - obatan menjadi double alias 2 kali lipat. Gue mulai ragu. Trus nanya ke si petugas, untuk dokter umum, berapa tarifnya kalo double ? Dengan singkat si petugas bilang, mungkin kurang dari RM 200. Wah...itu baru dokter, belum obat, atau tindakan, tes, atau apapun jika diperlukan. Gue langsung balik badan perlahan, pulang. 

Gue memutuskan untuk kembali ke hostel, dan berusaha memulihkan diri sendiri, daripada harus membayar biaya dokter yang cukup tinggi. Saat itu masalahnya adalah gue ngga membawa formulir klaim asuransi. Ini jadi 'pelajaran' bahwa setiap kali traveling, gue harus mencetak dan membawa formulir klaim asuransi. Gue ngga ingat seberapa fleksibelnya perusahaan asuransi yang di-provide oleh kantor saat ini, namun gue khawatir tanpa menggunakan formulir yang tepat, bisa - bisa klaim gue ditolak. Berhubung lagi di luar negeri, kayaknya ngga memungkinkan untuk cashless, jadi gue harus membayar lebih dulu semua biaya berobat.

Kondisi sakit bikin gue jadi agak melankolis, langsung kangen rumah, makin kangen Mama. Mungkin seandainya gue bisa mempercepat jadwal kepulangan ke Jakarta, gue akan girang balik ke Jakarta malam itu juga. Hasrat berpetualang gue lenyap seketika, dan ngga peduli dengan hal - hal yang tadinya bikin gue semangat untuk mengeksplor Penang.

Saat gue tiba di Ipoh tanggal 2 Januari 2020, dan langsung melanglang buana dalam kondisi kurang fit, sorenya gue bertekad mau berobat. Kali ini gue siap berobat karena sebelumnya udah minta tolong teman kantor, Fita, untuk mengirimkan formulir klaim asuransi melalui email. Sore itu gue minta tolong pihak Pi Hotel untuk mencetak formulir tersebut. Meskipun pagi harinya gue jengkel bukan main dengan pihak hotel, namun sore itu gue sangat berterima kasih atas bantuan mereka. Selain membantu mencetak formulir, mereka juga merekomendasikan rumah sakit terdekat, bahkan berinisiatif memesan Grab buat mengantar gue ke KPJ Ipoh Specialist Hospital di Jalan Raja Dihilir. Makasih Yesus, karena di tengah kesulitan seperti itu, Yesus tetap membantu gue melalui orang lain yang bahkan baru gue temui.

Tiba di rumah sakit, gue diarahkan untuk menuju emergency room, karena saat itu sudah malam dan semua pelayanan dilakukan di emergency room. Menurut gue, mulai dari proses pendaftaran, pemeriksaan, konsultasi dokter, dan lainnya di rumah sakit ini sangat efisien banget. Gue sebagai pasien merasa nyaman dan tenang meskipun bukan orang lokal. Para petugas dan dokter yang menangani gue super ramah dan sangat profesional. Selain diberikan obat untuk dibawa pulang, sebelumnya pulang gue juga sempat mendapatkan pengobatan dengan nebulizer, di sebuah ruangan khusus yang ditata dengan sangat nyaman, colorful dan terkesan fun. Setelah semua proses selesai, gue membayar tagihan rumah sakit sebesar kurang dari RM 200, dan ngga lupa meminta petugas pendaftaran untuk memastikan formulir klaim gue diisi lengkap oleh dokter. Beres. Hal berikutnya yang harus gue lakukan adalah beristirahat di hotel dan minum obat tepat waktu.


Malam itu, sampai keesokan harinya gue lewatkan dengan tidur di hotel. Untuk makanan, sepulang dari rumah sakit, gue sempatkan untuk mampir ke Ipoh Parade, satu-satunya Mall di Ipoh, dan membeli banyak stok roti, untuk pengganjal perut dan syarat minum obat. Untuk nafsu makan dan kulineran, semuanya sirna, karena kondisi fisik yang kurang fit.

Jatuh sakit saat traveling tuh ngga enak banget, tapi mestinya bisa diantisipasi dengan mempersiapkan obat - obatan pribadi, misalnya, sampai dengan apa yang dibutuhkan jika harus berobat (uang, kartu kredit, kartu asuransi, formulir asuransi, dan lain sebagainya). Gue berharap pengalaman kurang mengenakkan kali ini bisa jadi learning lesson agar di lain waktu gue bisa jadi turis yang bijak dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik.

Saturday, January 25, 2020

Ipoh Trip 2020 : Kek Lok Tong Cave Temple dan Zen Garden


2 Januari 2020

Sepulang dari Kellie's Castle gue teringat sama cerita Pak Sopir Grab mengenai gua - gua (cave) yang sekaligus menjadi temple yang banyak terdapat di Ipoh. Gue menanyakan ke Pak Sopir ongkos untuk mengantarkan gue dan Ony ke gua yang paling beliau rekomendasikan. Dengan mantap Pak Sopir menawarkan harga RM 30 dan berjanji akan mengantarkan ke Kek Lok Tong Cave Temple yang berada di kawasan Gunung Rapat. 

Kalo gitu, total tarif perjalanan gue menjadi RM 100. Dengan nilai tukar RM = Rp. 3,500, sama dengan total IDR 350,000, gue dan Ony sudah bisa menikmati 2 tempat wisata andalan Ipoh dalam 1 hari ini. Worthed lah, mengingat ngga ada transportasi umum yang bisa gue andalkan di Ipoh ini.

Untuk menuju temple ini, perjalanannya agak berliku. Dari jalan utama, Jalan Gopeng, memasuki perumahan modern, kemudian tiba - tiba nampak sebuah bukit kapur. Begitu tiba di area parkir Kek Lok Tong, gue amazed, karena ternyata kondisi guanya sudah sangat modern, terawat, dan indah. Lantai gua sudah menggunakan marmer. Di dalam temple, terdapat banyak patung dewa, yang seluruhnya dibangun dan dihias dengan sangat modern juga. Fasilitas dan penerangan di dalam gua sangat memadai, jadi bikin gue lupa sedang berada di dalam gua. 

 

Kesan yang paling utama berada di sini, nyaman dan peaceful banget. Memasuki bagian dalam gua, lalu melewati tangga yang ngga terlalu tinggi, ada semacam ruang lagi di mana terdapat beberapa patung dewa berukuran sangat besar, dari sini gue bisa melihat teduh dan hijaunya Zen Garden. 

Untuk menuju Zen Garden, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga lagi, dan langsung disuguhi pemandangan indah, dengan sebuah kolam luas di bagian tengah, yang biasanya mungkin dipenuhi dengan teratai raksasa, tapi sore itu tampak kosong tanpa teratai. Selain itu, Zen Garden juga dipercantik dengan patung 18 Louhan, yaitu pengikut Buddha yang telah mencapai kondisi nirwana dan terbebas dari keinginan duniawi.


Sebenarnya asyik dan nyaman banget berlama - lama di Zen Garden ini. Namun sayangnya badan gue udah mulai kecapean dan terasa ngga enak. Gue pengen banget menyusuri seluruh bagian kebun, tapi apa daya gue cuma sanggup berjalan - jalan sekitar kolam. 

Gue kembali masuk ke dalam gua. Sebelum pulang, dengan sedikit tenaga tersisa, gue pengen melihat - lihat di 'lantai 2' gua berupa formasi stalaktit yang indah banget di bagian dinding dan langit - langitnya. Setelah puas melihat - lihat dan berfoto di sini, gue dan Ony mulai meninggalkan temple.  

 

Pak Sopir yang baik hati mengantarkan gue dan Ony kembali ke Pi Hotel.