I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, June 16, 2015

Menikmati Sunyi di Gua Sunyaragi


Trip gue ke Cirebon ini nyaris bisa dibilang spontan dan ngga butuh waktu panjang untuk persiapannya. Begini, berhubung atasan gue di kantor akan melakukan business trip ke luar negeri minggu kemarin, maka gue berpikir untuk ambil cuti juga. Lalu Senin (08 Juni) kemarin, ketika di kantor gue iseng-iseng liat websitenya https://www.kereta-api.co.id/ dan tanpa mikir panjang beli tiket kereta ke Cirebon, alias memilih kota udang ini sebagai tempat pelarian gue di akhir minggu.

Cirebon....sebenarnya gue ngga mengenal apapun mengenai tempat ini dan awalnya (maaf) pesimis ada yang seru dan menarik bisa dilakukan di sini. Namun pertimbangannya karena jarak tempuhnya hanya 3 jam dari Jakarta dan harga tiketnya sangat terjangkau dan masih tersedia, maka gue pilih Cirebon. Hal menarik yang gue lihat justru karena gue sama sekali ngga mengenal Cirebon dan belum pernah menginjakkan kaki di sini, pasti bakalan seru untuk berpetualang sendirian di kota ini.

Jadi hari Jumat (12 Juni 2015), gue menumpang kereta Cirebon Ekspres dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Cirebon (Jalan Kejaksan) keberangkatan jam 10 pagi. Gue tiba di sana sekitar jam 1:30 siang, disambut dengan panas sinar matahari yang gegap gempita. Cirebon panas banget ! Begitu keluar dari bangunan stasiun yang keliatan kuno tapi keren itu, gue langsung diserbu oleh para tukang becak dan tukang ojek yang menawarkan jasa. Gue berusaha untuk keliatan cool dan segera meninggalkan lokasi. 
Stasiun Cirebon (Kejaksan)
 

Begitu di jalan Siliwangi mata gue langsung jelalatan nyari penginapan. Saking spontannya gue dalam menyiapkan misi pelarian gue kali ini, bahkan gue ngga booking hotel sebelumnya. Jadi, di siang bolong itu, di bawah teriknya sinar matahari Cirebon, gue pun memulai misi pencarian hotel, dengan keluar masuk beberapa hotel di sekitar Jalan Siliwangi. Gue sempat masuk Hotel Cordova, Hotel Slamet, Hotel Amaris, serta Hotel Sidodadi. Pilihan gue jatuh ke Hotel Cordova yang posisinya tepat di depan Stasiun Cirebon. Alasannya karena harganya paling murah, yaitu Rp. 178,000 / malam (kamar AC, double bed, kamar mandi di dalam). Sementara hotel lainnya seperti Hotel Amaris dan Hotel Sidodadi yang nampaknya fancy, menawarkan harga di atas Rp. 350,000. Lalu Hotel Slamat menawarkan harga Rp. 180,000 / malam, namun gue kurang suka dengan suasananya yang agak gelap, dan posisi kamarnya yang jauh dari pintu utama. 

Setelah check in, gue langsung melesat ke kamar, mandi (karena kegerahan maksimal), trus meninggalkan hotel. Tujuan utama gue hari ini adalah ke Taman Sari Gua Sunyaragi. Sebelum meninggalkan hotel, gue udah bertanya panjang lebar ke resepsionis hotel mengenai cara mencapai Taman Sari Gua Sunyaragi dengan angkutan umum. Target gue sampai 3 hari ke depan adalah mengenal dan membiasakan diri menggunakan mobil angkutan umum di Cirebon.

Dari hotel gue menyeberang jalan, dan naik angkutan umum (warna biru) nomor D5 dan turun di Jalan Sunyaragi. Dari Jalan Sunyaragi gue menyambung naik becak. Mengenai ongkos, yang unik di Cirebon panas ini adalah ongkos angkutan umum jauh - dekat Rp. 4,000. Sementara kalo becak tergantung nego. Dari Jalan Sunyaragi menuju Taman Sari Gua Sunyaragi gue bayar Rp. 5,000. 

Untuk masuk ke lokasi Taman Sari Gua Sunyaragi, tiket masuknya adalah Rp. 8,000. Menurut gue tempat ini unik banget, dan cukup bikin gue penasaran selama ini. Yang bikin penasaran adalah karena seluruh bangunannya tersusun dari batuan dengan tekstur batu karang, dengan perpaduan ciri Indonesia, Hindu dan juga Cina. Jadi perpaduan antara keren, mistis, dan agak - agak menyeramkan di saat yang sama. Konon gua ini dibangun sekitar tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen (cicit dari Sunan Gunung Jati). Sesuai namanya, Sunyaragi, yang berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ‘sunya’ yang berarti sepi dan ‘ragi’ yang berati raga, gua ini berfungsi sebagai tempat meditasi. Namun di sore hari yang menyengat itu, suasananya jauh dari meditasi. Ada 1 (satu) rombongan bus siswa sekolah menengah atas berkunjung ke Taman Sari Gua Sunyaragi. Ramai dan heboh banget, dan memenuhi seluruh area gua.

Pintu masuk berciri Hindu
Mata pun menyipit saking panasnya
 

Patung Gajah
 
 


Gue pun memutuskan untuk mengeksplorasi setiap ruang dan bagian gua. Untuk urusan foto - foto, akan gue lakukan nanti ketika rombongan meninggalkan lokasi. Hampir jam 4 sore, rombongan tersebut pun meninggalkan lokasi, dan tinggallah gue dan secuil pengunjung lainnya. Gue pun langsung meminta bala bantuan ke seorang pengunjung yang tampaknya datang ke sana untuk misi fotografi, untuk memotret gue beberapa kali. 

Selain minta tolong ke orang lain, di sini gue juga mengandalkan tripod mini. Berhubung lokasinya mendadak sepi senyap, kadang bahkan gue ngga melihat orang lain di sekitar area tengah, yaitu sekitar Gua Peteng dan Patung Gajah. Jadi gue leluasa berfoto ria dengan bantuan si tripod mini. 

Yang menarik lagi dari Gua ini, karena mengeksplorasinya berasa kayak di taman bermain di mana gue bisa menyusuri setiap bagian guanya, mencari - cari setiap arah lorong dan jalan, naik turun tangga, dengan agak bersusah payah tentunya, karena kayaknya gua ini dibangun untuk orang - orang yang bertubuh langsing. Lorong - lorongnya sempit dan rendah. Menantang banget !

Yang bikin tambah seru, selain sepi, suasana Gua pun sangat hening, seakan - akan yang terdengar cuma suara sepatu gue yang asyik melangkah kesana kemari....Jadi, ada sedikit rasa ngeri ketika gue memasuki ruang - ruang dalam gua yang gelap dan lembab. Ini yang namanya seru !
Gua Arga Jumut
Bagian dalam Gua Arga Jumut
Bagian belakang Gua Arga Jumut

Patung manusia berkepala garuda dililit ular
 

Monumen Cina
Tempat berdoa para keturunan para pengiring dan pengawal Ong Tien Nio
  atau Ratu Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Jati

Sekitar jam 5 sore gue pun meninggalkan Taman Sari Gua Sunyaragi dengan masih menyisakan rasa takjub di hati atas keindahan dan keunikan tempat ini.

Dari Jalan Sunyaragi gue naik D5 (GC) untuk menuju Keraton Kasepuhan. Sayangnya begitu tiba di sana, Keraton sudah tutup. Gue pun melanjutkan langkah menuju Grage Mall. Gue ke sini karena pengen makan malam di Nasi Jambal Mang Dul yang lokasinya ada di Jalan Cipto Mangunkusumo, di seberang Grage Mall. Gue sempat baca informasi di internet, salah satu makanan khas Cirebon adalah Nasi Jambal, dan yang paling terkenal salah satunya Nasi Jambal Mang Dul ini. Namun meskipun rasanya enak dan harganya cukup murah, gue ngga melihat sesuatu yang khas, yang membedakannya dengan nasi warteg sih...
Nasi Jambal Mang Dul
Nasi, tempe, kerang, cumi, total Rp. 12,000 sahaja

Dari Nasi Jambal Mang Dul, gue menyeberang menuju Grage Mall. Meskipun ngga ada dalam "to do list" gue, tapi sekedar untuk melewatkan malam -berhubung gue ngga mau kembali ke hotel terlalu cepat- gue pun melihat - lihat isi mall sejenak, sekaligus membeli persediaan air mineral di Foodmart.

Dari Grage Mall gue kembali menyeberang jalan tepatnya kembali ke Nasi Jambal Mang Dul untuk naik angkutan umum D6 menuju Stasiun Cirebon / Hotel Cordova.

Gue tiba di hotel sekitar jam 8 malam. Setelah bersih - bersih gue pun beristirahat, menyiapkan fisik untuk petualangan gue berikutnya esok hari.

Saturday, May 30, 2015

"Hidup Tanpa Shampoo" : Rambut Baking Soda vs Air Kaporit

Akhirnya....setelah sekian lama menunda dan menunda karena rasa malas...gue kembali ke hobi berenang gue. Beberapa saat belakangan gue males 'nyebur' karena program yang sedang gue jalankan, yaitu 'hidup tanpa shampoo'. Gue sadar kalo aktivitas berenang lumayan mengeksploitasi rambut gue, mengingat segala macam bahan kimia dan kotoran yang ada di air kolam renang. Dan sehabis berenang, umumnya gue akan menghabiskan waktu paling banyak untuk membersihkan rambut gue alias keramas. 

Dan sebelumnya gue masih ragu apakah baking soda andalan gue cukup ampuh mengatasi rasa lengket serta kotor sisa - sisa dari air kaporit, se'ampuh' dan se'instant' shampoo pada umumnya. Oya...setelah beberapa lama tetap konsisten 'hidup tanpa shampoo', rambut dan kulit kepala gue saat ini dalam kondisi normal dan stabil. Maksudnya, rambut gue mendapatkan semua benefit seperti yang diberikan shampoo, bahkan lebih. Karena saat ini gue keramas setiap 5 hari sekali, yaitu di saat rambut gue sudah cukup loyo alias lepek. Tapi hebatnya, meskipun sudah di hari kelima tanpa keramas sekalipun, rambut gue ngga berketombe atau berbau. Seingat gue, ketika gue menggunakan shampoo komersil, bahkan sehari setelah keramas pun rambut akan basah dan lengket oleh minyak, diiringi dengan munculnya ketombe, rasa gatal dan bau. Sejak menggunakan baking soda beberapa saat, gue terbebas dari kondisi seperti itu. Dan kondisi stabil seperti ini juga yang justru bikin gue ragu untuk berenang....karena gue ngga mau 'merusak'nya dengan menceburkan rambut baking soda gue ke dalam lautan air kaporit. 

Tapi berhubung gue udah kepengen dan butuh banget untuk berenang - yang menurut gue adalah aktivitas paling pas untuk merelaksasi fisik dan mental yang lelah dan stress - maka gue memaksakan diri untuk menyiapkan ransel berikut peralatan renang gue, dan menuju sport center Hotel Bumi Wiyata, Depok.

Sebelum masuk ke dalam air, seperti biasa gue mengguyur seluruh rambut gue di pancuran yang banyak tersedia di sekitar kolam. Gue beberapa kali membaca tips ini, yaitu bahwa rambut yang kering akan lebih mudah menyerap bahan kimia saat masuk ke dalam air. Setelah itu, gue mengenakan head cover alias tutup kepala, yang memang merupakan salah satu perlengkapan renang wajib gue.

Kalau sudah di dalam kolam, apalagi setelah berbulan - bulan ngga berenang, yang gue lakukan adalah menikmati aktivitas main air dan berenang sepuas mungkin....pokoknya membebaskan badan gue dari rasa lelah tanpa mikirin masalah air kaporit lha....kotornya air kolam lha...dan lain sebagainya.

Setelah puas bersenang - senang di dalam air, gue pun hendak menyudahi acara berenang gue di hari itu. Gue mengambil ransel dan mengeluarkan beberapa 'perlengkapan' keramas gue, yaitu mangkok kecil yang sudah gue isi baking soda, mencampurnya dengan sedikit air, dan mengaduknya rata. Kemudian gue menggunakannya untuk keramas. Seperti biasa, gue akan menghabiskan beberapa saat untuk memijit - mijit kulit kepala gue. Semua hal ini gue lakukan di tempat duduk yang tersedia di pinggir kolam, bukan di kamar mandi yang disediakan. Setelah itu gue kembali ke pancuran untuk membilas bersih rambut gue. Untuk di sport center Hotel Bumi Wiyata ini air di pancuran sekitar kolam renang memang lebih optimal dibandingkan yang tersedia di dalam kamar mandi. Jumlahnya pun cukup banyak, jadi dijamin bebas antri.

Setelah membilas, gue mengambil botol cuka apel dan dengan menggunakan tutup botolnya, gue menuangkannya tepat ke kulit kepala gue. Setelah itu gue pijat kepala gue dengan santai dan mendiamkannya beberapa saat. Trus, gue kembali ke area pancuran untuk membilas rambut gue bersih. Oya...cuka apel ini gue gunakan sebagai conditioner.

'Ritual' ini memakan waktu sekitar 15 - 20 menitan. Gue merasa kondisi rambut gue bersih maksimal, dan bebas lengket akibat air kaporit seperti yang biasa terjadi setelah kelar berenang. Setelah itu gue menjinjing ransel menuju kamar mandi, kali ini untuk mandi dan membersihkan badan. 

Setelah semua aktivitas bersih -bersih kelar, gue pun meninggalkan sport center. Ternyata ngga merepotkan seperti yang gue khawatirkan sebelumnya. Memang dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan biasanya ketika gue bisa dengan praktis dan mudahnya sekedar keramas dengan shampoo komersil. Tapi itu ngga terlalu berarti dibandingkan dengan rasa puas yang gue rasakan karena bisa tetap konsisten 'melindungi rambut gue terhadap shampoo', apapun aktivitas yang gue lakukan.  

Monday, April 13, 2015

6WWS - Dua Minggu Tanpa Shampoo

Gue 'memutuskan hubungan' dengan barang bernama "shampoo" sejak 2 minggu terakhir. Kenapa gue memilih gerakan yang dikenal dengan "6WWS (6 weeks without shampoo)" ini ? Sekedar ingin menantang diri sendiri. Selama ini gue selalu berpikir betapa gue tergantung dengan shampoo, serta produk - produk kebersihan dan perawatan lainnya.

Dulu-dulunya gue harus tiap hari keramas. Padahal dengan rambut sebahu dan volume rambut yang ngga tipis-tipis amat, ditambah dengan teksturnya yang bergelombang, gue butuh waktu dan tenaga yang lumayan untuk mengeringkan rambut sehabis keramas. Merepotkan. Tapi, kalo ngga keramas setiap hari, rambut dan kulit kepala gue menjadi sangat berminyak.

Lalu berikutnya gue ubah polanya menjadi keramas dua hari sekali. Lama-kelamaan rambut gue nampaknya menyesuaikan diri. Rambut dan kulit kepala baru akan berminyak di hari kedua. Terus, belakangan gue ganti pola lagi menjadi keramas 3 hari sekali. Ternyata rambut gue kembali bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan. Jadilah gue berasumsi bahwa masalah minyak-minyak di rambut dan kulit kepala gue ini dipicu oleh pemakaian shampoo, akibat segala macam bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya.

Suatu hari gue membaca artikel di Kompas online mengenai seorang blogger kecantikan dari USA yang mencoba pola hidup tanpa shampoo setahun terakhir. Motivasinya karena sejak memiliki bayi, si blogger ini ingin menganut pola hidup sehat dengan sebisa mungkin mengurangi/menghindari pemakaian bahan-bahan kimia (terlebih yang berpotensi membahayakan tubuh). Begitu selesai membaca, gue langsung berpikir, "Wow....keren banget....ternyata bisa ya menghindari pemakaian shampoo ?" Gue pikir shampoo itu udah kayak udara untuk bernafas...atau makanan dan minuman yang bikin seseorang bertahan untuk hidup...seakan - akan manusia ngga bisa hidup tanpanya.

Dan gue tertantang untuk merasakan pengalaman yang sama. Tapi motivasi gue ngga seideal si blogger ini tentunya....seperti gue bilang di atas, sejauh ini motivasi gue sekedar untuk mencoba pengalaman berbeda dan mematahkan stigma bahwa gue amat sangat tergantung pada shampoo.

Gue pun mulai menggali informasi dengan cara browsing artikel apapun yang berhubungan dengan rencana gue ini. Dan gue baru tahu bahwa secara global di dunia ada gerakan bernama "6WWS" ini yang sering disebut juga gerakan "No (sham)Poo". Di Indonesia sendiri sudah banyak banget pengikutnya. 

Langkah awal gue dimulai dengan mencari baking soda. Berhubung ini adalah sesuatu yang baru buat gue, dan gue pun sangat awam akan bahan - bahan semacam ini, pertama kali gue malah membeli 'baking powder' merek Koepoe-Koepoe. Karena gue ngerasa ngga yakin, gue kembali ke Giant deket kantor, dan kali ini beli 'soda kue' merek Koepoe-Koepoe lagi. Meskipun gue tetap ngga yakin apakah gue sudah membeli 'baking soda' yang benar atau bukan, tapi selama hampir 2 minggu kemarin gue keramas dengan 'soda kue' tersebut. 

Pengalaman pertama, tentu aja rasanya aneh. Jadi, gue mencampurkan sekitar 2 sendok soda kue ke setengah cangkir air dingin. Kemudian gue tambahkan madu. Cara pemakaiannya, setelah rambut gue basahi, gue usapkan campuran soda kue tadi ke kulit kepala, sambil dipijit - pijit. Agak - agak lengket gitu...yang jelas ngga senyaman dan sepraktis keramas pakai shampoo komersial yang cukup digosok dikit lalu berbusa dan menimbulkan aroma wangi. Kalo dengan soda kue, ngga ada aroma apapun.

Hasil yang langsung nampak setelah gue menggunakan soda kue ini adalah : Pertama, kerontokan rambut berubah total. Maksudnya, setiap kali keramas, pasti ada rambut gue rontok. Dan kalau gue bandingkan dengan ketika keramas dengan soda kue ini, kayaknya rambut rontoknya berkurang 75%. Bahkan menurut gue rambut rontok yang terjadi cuma karena gue harus sangat intensif memijit kulit kepala gue.

Perubahan kedua, setelah beberapa hari, rambut gue memang akan menjadi berminyak, tapi beda banget dibanding ketika pakai shampoo. Gini, ketika masih pakai shampoo, di hari kedua atau ketiga setelah keramas, kulit kepala gue rasanya sudah basah baik oleh minyak, keringat, sampai rasanya ada lapisan tipis dimana kotoran dan mungkin ketombe atau lapisan lemak menumpuk (meskipun tipe rambut gue bukan berketombe). Kondisi ini bikin kulit kepala gatal. Dan jika digaruk sedikit aja, pasti akan menyisakan secuil kotoran di kuku jari. Tapi ketika pakai soda kue, hal itu ngga terjadi lagi. 

Sejak pakai soda kue, rekor terlama gue ngga keramas adalah 4 hari. Dan saat itu gue terdorong untuk keramas karena bagian depan/area poni rambut gue sudah mulai berminyak dan gue risih. Selebihnya, bagian lain (kulit) kepala gue masih terasa normal. Mengenai bau, ternyata meskipun sudah berhari-hari tidak keramas, rambut gue tidak menimbulkan bau apapun terlebih bau tidak sedap.

Dari panduan dan artikel yang gue baca, perubahan pola keramas ini menimbulkan masa transisi, dimana tubuh gue, tepatnya kulit kepala gue, menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Hal ini karena bahan-bahan yang terkandung dalam shampoo menghilangkan minyak alami dari kulit kepala, dan di masa transisi itu, kulit kepala bekerja keras untuk memproduksi minyak yang hilang gara-gara shampoo. Namun begitu pemakaian shampoo dihentikan, kulit kepala masih secara aktif memproduksi minyak. Begitu melewati masa transisi itu, kulit kepala ‘sadar’ bahwa ternyata minyak alami yang ada di kulit kepala nggak 'hilang’ dalam waktu relatif singkat (akibat shampoo), jadi dengan sendirinya si kulit kepala memperlambat proses produksi minyak.

Entah saat ini gue masih di masa transisi atau sudah melewatinya, tapi ternyata cara ini ngga sesulit bayangan gue di awal. Oya...dari beberapa panduan yang baca, 'baking soda' yang direkomendasikan adalah merek "Arm & Hammer". Butuh waktu seminggu (sejak membaca informasinya) hingga akhirnya gue menemukan baking soda bermerek dan berlogo gagah berani ini. Gue harus menelepon beberapa supermarket seperti Giant, Carrefour, Foodhall, dan beberapa toko bahan - bahan kue besar seperti Toko Ani, Titan, dan lainnya, termasuk yang online. Alkisah, akhirnya gue menemukannya di Kem Chicks, Kemang. Lucunya, ternyata baking soda yang ini tidak dipajang di bagian makanan, melainkan di deretan yang sama dengan bahan - bahan kebersihan.

Kemarin gue sudah sempat keramas dengan baking soda "Arm & Hammer" ini, dan entah karena sugesti atau bukan, rasanya memang lebih baik. Sejauh ini gue optimis mau melanjutkan 'eksperimen' 6WWS gue, namun gue juga ngga menutup mata bahwa masih ada tantangan-tantangan yang mungkin akan gue hadapi misalnya :
  1. Bagaimana pas gue berenang ? Dua minggu terakhir gue belum berenang. Dan gue belum bisa membayangkan rasanya membersihkan rambut gue dari air kaporit dan kawan-kawannya dengan si baking soda. Yang jelas ngga praktis banget, karena gue harus mencampur baking soda dengan air dahulu, lalu memijit-mijit kepala gue selama beberapa menit. Sementara itu, mungkin antrian kamar mandinya sudah panjang, belum lagi ditambah masalah volume air pancuran yang minimalis banget di kamar mandi sport center gratisan yang disediakan oleh kantor
  2. Bagaimana pas gue mau potong rambut di salon ? Mungkin gue harus pastikan bahwa di hari yang sama gue sudah keramas (baking soda) sejak dari rumah, dan menolak untuk dikeramas oleh pihak salon. Dan pihak salon pasti bakal berpikir karena gue pengen irit dan ngga punya duit untuk bayar biaya cuci blow.
  3. Sampai sekarang gue belum tahu takaran yang paling tepat untuk penggunaan baking soda, air, madu dan bahan - bahan tambahan lainnya. Meskipun sejauh ini gue ngga ada masalah dengan takaran yang gue ketahui dan aplikasikan.
  4. Gue masih harus banyak mencari dan membaca informasi mengenai 6WWS ini. Karena ternyata 'shampoo' alami bukan sekedar dari bahan baking soda maupun madu. Masih banyak pilihan sehat & alami lainnya. Tapi gue pengen bertahap dulu. Misalnya gue pernah baca bahwa semestinya gue menggunakan cuka apel sebagai conditioner. Tapi berhubung gue masih awam dengan 'gerakan' ini, jadi kayaknya saat ini gue 'bergerak' agak lambat. Bayangin....di minggu kedua aja gue baru berhasil menemukan baking soda yang tepat
  5. Hampir sama seperti #1, gimana kalau gue sedang traveling ? Haruskah gue membawa sebotol baking soda dan kawan-kawannya di dalam ransel gue? Kira-kira bakal aneh dan mencurigakankah di bagian pemeriksaan barang/scanner ? 
Cepat atau lambat satu-persatu tantangan di atas pasti akan gue hadapi, karena gue ngga mau membatasi aktifitas apapun karena pengen mengikuti gerakan ini. Yang jelas, sejauh ini, gue amat bersemangat melakukan eksperimen kecil-kecilan ini.

Monday, March 16, 2015

"Hotel" Gratis di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2)


Perjalanan gue ke Kathmandu Januari 2015 adalah sekaligus pengalaman pertama menjejakkan kaki yang panjang dan imut - imut ini di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2). Seperti yang gue ceritain di tulisan sebelumnya, Seru Menuju Kathmandu, saat pertama kali melihat KLIA2, gue cukup takjub melihat maha luasnya airport ini. Tapi saat itu gue ngga punya waktu untuk mengeksplorasi KLIA2 karena waktu yang super terbatas.

Lay out KLIA2
Saat itu sekilas gue menyimpan kekhawatiran, apakah gue masih bisa tidur di airport. Maklumlah, gue selalu berpetualang menggunakan maskapai Air Asia. Dan dulunya Air Asia selalu 'parkir' di Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Bisa dibilang gue sangat mengenal area LCCT...tahu di mana buat tiduran....di mana buat mandi....di mana letak restoran - restorannya....dan lainnya. Dan sekarang Air Asia sudah pindah ke KLIA2....sementara saat ini gue sudah mengantongi beberapa tiket Air Asia sampai jadwal penerbangan tahun depan, yang mengharuskan gue untuk menginap di KLIA2 untuk transit, menunggu penerbangan berikutnya. Jadi gue bertekad untuk cari tahu apakah gue masih akan mendapatkan 'kenyamanan' dan fasilitas serupa seperti di LCCT sebelumnya.

"Tempat Tidur"
Sebenarnya banyak lokasi yang cocok dijadikan tempat tidur seadanya di terminal KLIA2 ini. Tapi menurut gue yang paling ideal dan nyaman adalah yang ada di Gateway KLIA2 level 2M. Tepatnya, lokasinya berdekatan dengan Air Asia Flight Crew Lounge, dan restaurant - restaurant seperti Burger King, AW, Coffee Bean & Tea Leaf, Nanny's Pavillion, dan sekitarnya.

Bagi gue 'tempat tidur' di sini jauh lebih nyaman dari pada di LCCT, karena areanya luas dan di pojokan (jadi bukan jalur orang - orang lewat lalu-lalang), trus dilengkapi dengan karpet ! Ini penting banget karena AC Airport dingin bukan main...dan jika tidur di lantai airport tanpa alas apapun, biasanya keesokan harinya gue bakal langsung pilek.

Sleep for free
Di area inilah di malam hari para penumpang pesawat yang berkantong pas - pasan kayak gue akan merebahkan badan lelahnya untuk beristirahat sejenak....beralaskan karpet dan berbantalkan tas ransel masing-masing. Mewah banget....Jika beruntung mendapatkan lokasi strategis, di beberapa bagian dinding dan pilar - pilar banyak tersedia colokan listrik (steker). Jadi sambil tiduran, penumpang juga bisa me-recharge alat - alat eletronik masing - masing.

Kalau punya uang berlebih dan pengen lebih nyaman, sebenarnya ada pilihan lainnya yaitu Capsule Hotel di gedung yang sama, tepatnya di level 1. Tapi tarifnya dimulai dari RM 45 untuk 3 jam. Kalau ada yang gratis, buat apa nyari yang bayar ?

Kamar Mandi
Pencarian kamar mandi ini kayaknya yang paling ngabisin waktu gue. Malam itu, atau tepatnya dini hari itu, kayaknya gue udah keluar masuk ke hampir seluruh toilet di Gateway KLIA2 demi mencari kamar mandi. Kalau di LCCT gampang banget nyari kamar mandi. Gue hapal toilet - toilet mana yang dilengkapi kamar mandi. Udah gitu jumlah kamar mandi yang disediain ngga tanggung - tanggung....banyak banget. Dijamin ngga bakal sampai antri buat mandi.

Arah menuju kamar mandi
Jreeeengg....ini dia kamar mandinya
Di sini, setelah nanya - nanya baik ke beberapa petugas security, information center sampai cleaning service akhirnya gue menemukan toilet yang dilengkapi kamar mandi. Yaitu ada di terminal keberangkatan (Perlepasan) level 3, tepatnya dekat Perlepasan Dalam Negeri, dan koridor menuju kamar mandi ini tepat di antara Choc Stop dan KK Super Mart. Di sini ada 3 bilik kamar mandi tersedia. Minimalis banget....

Wifi
Ada wifi gratis tersedia di Gateway KLIA2. Penumpang bisa register terlebih dahulu dengan cara nge-like facebook 'gatewayklia2'. Gue mendapatkan informasinya dari petugas information center yang ramah dan baik banget. Bahkan karena saat itu gue udah malas dan ngantuk, gue menyerahkan smartphone gue ke si Ibu petugas, dan beliau mengembalikan ke gue dalam keadaan sudah tersambung dengan wifi yang koneksinya sangat cepat. Kalau ngga salah, sambungan wifi akan terputus otomatis tiap 30 menit atau 45 menit, tapi bisa registrasi ulang dengan cara mudah.

Jajan
Yang gue maksud di sini adalah supermart - supermart yang menjual segala macam produk, umumnya makanan dan minuman, dengan harga normal alias terjangkau. Kalau gue, yang penting dibeli di sini adalah air mineral. Di KLIA2 ini terdapat beberapa KK Super Mart, dan yang terdekat dari lokasi tidur gue adalah di Gateway Level 1 alias di lantai sama dengan Capsule Hotel.
 
Salah satu gerai KK Super Mart

Movie Room
Gue menemukan movie room ini keesokan harinya ketika siap - siap menuju terminal perlepasan internasional. Letaknya ada di Satellite Building Level 2. Di area yang ngga luas-luas amat ini disediakan 1 (satu) screen TV yang memutarkan chanel film - film dari provider TV cable/berbayar.

Movie Room
Tapi sofanya menurut gue kurang nyaman buat tidur, jadi gue tetap milih tempat tidur gue di Getaway Building yang dilengkapi dengan carpet hangat itu.

Pick Up Service
Gue sempat cerita sebelumnya betapa luasnya KLIA2 ini dengan koridor - koridor panjangnya yang bikin perjalanan dari satu titik ke titik lainnya bagaikan olahraga marathon. Ternyata di sini disediain juga pick up service yang ada di titik - titik tertentu dan tentunya hanya melayani rute - rute tertentu, dengan menggunakan armada KLIA2 yang siap menjemput penumpang setiap 10 menit, khususnya bagi penumpang prioritas. Tapi gue ngga pernah pake service ini karena gue adalah penumpang yang atletis, aktif, dinamis, dan energic....bohong banget....jalan jauh sambil manggul tas ransel berat, bagi gue memang melelahkan....tapi menunggu 10 menit itu membosankan banget....itu alasannya.

Tanda pick up point
Buggy pick up
Untuk fasilitas - fasilitas umum lainnya kayak ATM, money changer, tempat makan, mushola, dan lain sebagainya, di sini lengkap dan mudah dicari. 

Gue masih terheran - heran dengan luasnya KLIA2 ini dan 'tour' yang gue lakukan tengah malam itu belum berhasil bikin gue paham dan hafal setiap lokasi dan gedungnya dengan seksama. Tapi paling ngga, sekarang gue lega karena sudah menemukan fasilitas - fasilitas G.R.A.T.I.S paling penting ketika harus menginap di KLIA2, khususnya buat bekpeker gembel kayak gue.

Friday, March 13, 2015

Catatan Pengeluaran Perjalanan ke Kathmandu




Setiap kali bekpekeran biasanya gue selalu bawa buku catatan kecil atau selembar kertas dimana gue akan mencatat setiap pengeluaran. Manfaatnya ? Entah ya...karena mungkin gue sangat menikmati dan menghargai setiap momen petualangan gue sampai - sampai pengen mendokumentasikannya sedetil mungkin. 

Tapi kayaknya sepanjang sejarah gue ngeblog dan bekpekeran, baru kali ini gue bikin rincian pengeluaran secara detil dan pake di-upload di blog segala. Kali ini tujuan gue adalah untuk berbagi informasi, karena kebetulan ada beberapa teman yang penasaran dengan budget traveling yang harus gue siapkan (dalam hal ini ke Kathmandu). Entah ini namanya berusaha memberikan inspirasi atau malah 'meracuni' teman - teman yang kebetulan membaca blog gue supaya menggunakan uangnya untuk traveling sebanyak-banyaknya, tapi semoga informasinya bermanfaat. 
 

Gue ngga pernah menabung secara khusus untuk traveling. Bukan karena kebanyakan uang, tapi mungkin karena gue pengen melakukannya sespontan mungkin. Tapi dalam hal pembelian tiket, gue ngga bisa spontan karena harus melakukannya jauh - jauh hari (setahun sebelum tanggal perjalanan) demi mendapatkan tiket promo murah. Lalu yang perlu gue siapkan tinggal uang saku selama traveling. Untuk trip Kathmandu, kayaknya gue mengandalkan bonus akhir tahun dari kantor.

Kalau Mama melihat total pengeluaran gue, pasti akan mengkritik cara gue mengelola dan mengalokasikan uang. Mama akan senang kalau gue menggunakan uang untuk hal-hal 'standard' misalnya....investasi, beli perhiasan emas, kebaya yang cantik, perawatan perempuan (ke salon) dan perlengkapan make up. Bukan untuk berpetualang dan ngegembel di negeri orang dengan ransel dan uang seadanya dan pulang dengan penampilan dekil dan membawa setumpuk baju kotor.

Tapi....kembali ke prinsip masing - masing. Mungkin yang ngga doyan berpetualang ngga mengerti rasanya, dan menyebutnya proyek menghambur - hamburkan uang percuma. Untuk gue, pengalaman traveling tak ternilai harganya. Traveling mengajarkan gue untuk (sejenak) keluar dari zona nyaman, mengenal diri sendiri (termasuk kelebihan dan kekurangannya), menyesuaikan diri dengan hal baru, tempat baru, orang-orang baru, serta melihat warna-warninya dunia luar. Dan tentunya traveling mengingatkan gue untuk selalu bersyukur pada Yesus yang maha baik karena selalu menyertai gue, bersyukur atas segala keindahan di dunia ini, dan bersyukur karena memberikan gue rejeki dan kesempatan untuk melihat dan menikmatinya langsung.