I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Saturday, January 25, 2020

Ipoh Trip 2020 : Kellie's Castle



Waktu merencanakan trip ke Penang kali ini, berhubung bakal lumayan panjang ~ 8 hari ~ gue bermaksud melihat - lihat kota tetangga Penang. Setelah browsing sana - sini, pilihan pun jatuh ke Ipoh. Alasan pertama, Ipoh dekat dari Penang dan bisa ditempuh dengan bus umum selama 2 - 3 jam saja. Kedua, gue menemukan tempat yang langsung bikin gue penasaran begitu lihat foto-fotonya di internet, yaitu Kellie's Castle. Gue pun langsung memesan tiket bus Penang - Ipoh (pulang pergi) secara online melalui aplikasi easybook.com, untuk jadwal keberangkatan tanggal 2 Januari dan kembali ke Penang tanggal 4 Januari 2020. Harga tiketnya sendiri ngga terlalu mahal, sekitar Rp. 108,000 an per orang, per arah.

Awalnya keberangkatan gue ke Ipoh nyaris batal. Sejak 31 Desember 2019 sore kondisi fisik gue menurun, dimulai dari radang tenggorokan, batuk, demam dan pusing. Gue sempat ke Island Hospital di tanggal 1 Januari 2020, tapi berhubung saat itu hari libur, petugas rumah sakitnya bilang kalo semua biaya, baik dokter, obat, treatment, jadi double. Gue males, dan kembali ke Rainbow hostel. Yang gue lakukan selama di hostel adalah tidur dan minum air panas sebanyak-banyaknya.

Di hari keberangkatan ke Ipoh, 2 Januari 2020 pagi, kondisi gue rasanya membaik dan gue pun melanjutkan niat untuk naik bus dari Komtar menuju Ipoh. Perjalanan ke Ipoh dengan bus Penang Billion Stars rasanya kurang nyaman, karena segala macam ketidakjelasan. Dari Komtar, bus menuju Terminal Sungai Nibong terlebih dahulu. Petugas kantor bus dan sopir busnya sejak dari Komtar tadi memberikan informasi yang simpang siur, karena bus tersebut ternyata bukan tujuan Ipoh. Gue dan Ony sampai harus beberapa kali naik turun bus berbeda, karena ketidakjelasan ini. Hal kayak gitu menjengkelkan dan melelahkan banget, terlebih di saat kondisi fisik gue ngga fit. Jika suatu saat gue pengen jalan - jalan ke Ipoh lagi, 100% gue ngga mau pilih perusahaan bus yang sama. 

Begitu tiba di Terminal Bus Amanjaya, Ipoh, gue agak sedikit kaget karena baru sadar bahwa Ipoh ternyata kota yang sepi dan ngga semetropolis Penang. Uniknya lagi, Ipoh didominasi oleh tebing - tebing karst gitu. Jadi berasa masih alami banget kota ini. 

Dari terminal bus gue pesan grab menuju Pi Hotel, di daerah Kampung Jawa. Gue sudah booking hotel ini sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi waktu tiba di sana, gue kecewa berat, karena jam check-in mereka adalah jam 3 sore. Kayaknya baru kali ini gue menemukan hotel dengan jam check-in sesore itu. Saat itu kondisi fisik gue drop lagi, otomatis mood pun jadi berantakan. Gue langsung kehilangan semangat untuk mengeksplorasi kota ini. Bahkan gue langsung kepikiran pengen segera balik lagi ke Penang. 

Selama di Ipoh, gue ngga melihat ada kendaraan umum. Jauh - jauh hari sebelum keberangkatan ke Penang, gue pernah mengirim email ke Pi Hotel, untuk meminta info dan rekomendasi penyewaan motor atau mobil. Dan sayangnya pihak hotel tidak merespon email gue. Pagi itu mereka sempat membantu menghubungi rental motor dan mobil. Namun untuk motor sudah tidak tersedia, dan  mobil masih tersedia namun harganya selangit. Gue kesal bukan main. Saat itu hal yang paling ingin gue lakukan sebenarnya tidur dan istirahat, tapi belum bisa karena belum waktunya check-in. Gue pengen jalan - jalan melihat kota Ipoh, ngga ada transportasinya. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak membuat perjalanan gue ke Ipoh sia-sia, paling ngga gue harus mengunjungi Kellie's Castle, tempat yang paling bikin gue penasaran.

Untuk ke Kellie's Castle yang berada di kawasan Kinta, Batu Gajah, gue kembali memesan Grab. Puji Tuhan, gue mendapatkan sopir Grab yang sangat baik dan kooperatif. Selain ramah, suka ngobrol dan ngga pelit berbagi cerita mengenai Ipoh, beliau juga menawarkan 'paket' menarik. Pak Sopir akan nungguin gue dan Ony selama di Kellie's Castle, lalu mengantarkan kembali ke Pi Hotel, dengan harga RM 70. Gue pun setuju. Gue ngga punya pilihan lain, karena Kellie's Castle lokasinya lumayan jauh dari Pi Hotel, sekitar 30 menit, dan bukan di pusat keramaian. Bisa dipastikan sepulang dari sana gue akan kesulitan mencari taksi maupun Grab.

Begitu melihat Kellie's Castle dari kejauhan, gue excited bukan main, langsung lupa sama kondisi fisik yang drop, atau perut kelaparan yang belum terisi sama sekali seharian. Gue dan Ony sempat makan di foodcourt yang ada di area parkir Kellie's Castle. Setelah makan, gue membeli tiket untuk masuk ke dalam kastil, seharga RM 10 per orang.

 
Kellie's Castle adalah sebuah kastil yang dibangun oleh seorang warga negara Skotlandia bernama William Kellie-Smith (1870-1926), seorang insinyur yang bekerja perusahaan bernama Charles Alma Baker, yang mengerjakan proyek dari pemerintah negara bagian untuk menebangi 9.000 hektar hutan di Batu Gajah, Perak. Kellie-Smith memiliki 1.000 hektar lahan hutan di Kinta dan menanam pohon karet dan berkecimpung dalam industri pertambangan timah. Kellie-Smith memiliki seorang istri, Agnes dan 2 orang anak, Helen dan Anthony. Kastil ini dibangun tahun 1915, ada cerita yang bilang kastil ini dibangun untuk Agnes, ada juga yang bilang untuk Anthony.

 

Untuk style dari kastil sendiri, Kellie-Smith tertarik pada agama Hindu dan India, dan ia memasukkan banyak unsur Hindu dan India ke dalam kastil ini. Batu bata dan ubin diimpor dari India. Pekerja India dari Madras, India Selatan, bahkan didatangkan untuk membangun kastil ini. Selama proses pembangunan ini, banyak pekerja terserang flu Spanyol dan meninggal. Pembangunan Kellie-Smith tidak pernah rampung.

 

Hal yang bikin kastil ini tambah menarik dan mengundang rasa penasaran adalah karena kisah bahwa kastil ini berhantu, seram, dan sebagainya. Banyak cerita - cerita 'penampakan', salah satunya Kellie-Smith, yang sebenarnya meninggal di Portugal karena menderita pneumonia. Ada juga cerita penampakan Helen, yang sebenarnya juga tidak meninggal disini. Sepeninggal Kellie-Smith, Agnes menjual kastil ini ke pihak lain, dan meninggalkan Malaysia bersama kedua anaknya, dan tidak pernah kembali.


Untuk gue pribadi, ketika mengunjungi kastil ini di siang bolong yang terang benderang seperti itu, 'ditemani' Ony dan beberapa pengunjung lainnya, ngga merasakan ngeri, merinding dan sebagainya sih. Yang ada gue malah terpesona dengan bangunannya yang megah dengan dominasi warna bata merah yang sangat kontras dengan langit biru cerah siang itu. Cantik banget Kellie's Castle ini. Gue dan Ony cukup lama di sana, mungkin sekitar 2 jam. Gue bisa berulang - ulang keluar masuk setiap ruangan dan lorong tanpa merasa bosan.



Meskipun belum puas, akhirnya gue dan Ony memutuskan untuk meninggalkan kastil. Gue senang bukan main akhirnya bisa menginjakkan kaki di sini dan berkeliling untuk melihat - lihat sepuasnya. 'Hati yang gembira adalah obat', pas banget untuk menggambarkan kondisi gue saat itu. Meskipun lagi kurang fit dan agak ngga happy sama perjalanan Penang - Ipoh yang ngga mulus - mulus amat, tapi mood langsung berubah semangat dan girang demi melihat Kellie's Castle.

Kellie's Castle journey accomplished !

Wednesday, January 15, 2020

Penang Trip 2019: Corgi and The Gang


Gue melewatkan libur akhir tahun 2019 di Penang, Malaysia. Gue berangkat ke sana sejak 29 Desember 2019, sendirian. Ony menyusul 2 hari kemudian. Trip Penang gue kali ini panjang, 8 hari saja. Dan berhubung sudah pernah ke Penang sebelumnya, dan sudah pernah mengunjungi beberapa heritage sites di sini, gue ngga terlalu ngotot pengen mengunjungi tempat - tempat itu lagi. Harapan gue, trip kali ini bisa staycation aja. 

Salah satu yang pengen gue kunjungi di Penang kali ini adalah sebuah cafe anjing bernama Corgi and The Gang. Ini adalah cafe yang katanya dihuni oleh banyak anjing ras corgi. Jadi siang itu, setelah check in di Chulia Heritage Hotel dan beristirahat sejenak, gue pun meninggalkan hotel. Tujuan pertama bukan ke Corgi and The Gang, tapi pengen menyusuri jalan - jalan di kawasan Chulia, Armenian dan sekitarnya yang dipenuhi dengan bangunan - bangunan tua.

Penang panasnya bukan main ! Berhubung pengen ngadem dan isi perut, gue pun mencari grab (car) untuk mengantar ke Corgi and The Gang. Tahun 2009 yang lalu saat gue pertama ke Penang, seinget gue, gue mudah menjangkau lokasi manapun menggunakan bus Rapid Penang. Tapi sekarang kok rasanya jarang banget keliatan busnya. Tadi waktu baru tiba di airport, yang niat awalnya mau menuju Georgetown dengan bus ini, batal karena lama banget nunggunya. Untung ada seorang sopir taksi mendekati gue dan menawarkan untuk sharing ongkos taksi dengan penumpang lain. Dengan membayar RM 10 gue diantar sampai hotel. 

Sopir grab mengantar gue ke New World Park, kayak komplek pertokoan gitu, di mana ada sebuah food court yang sangat luas dengan berbagai macam penjual makanan. Gue pun mampir ke food court dan makan siang sejenak. Kelar makan, gue ke Corgi and The Gang yang lokasinya paling cuma 50 meter dari food court. Begitu sampai depan pintunya gue lihat cafe sedang full pengunjung. Gue jadi males masuk, dan memutuskan untuk balik lagi besok.

Keesokan harinya gue tiba di New World Park sekitar jam 11 siang, dan ternyata cafe baru buka jam 12 siang. Setelah menunggu beberapa saat, gue pun bisa masuk cafe dan jadi pengunjung pertama yang datang. Untuk bisa nongkrong di cafe tersebut bersama para corgi, pengunjung harus memesan paling tidak satu menu. Okay, ngga masalah karena gue memang berniat makan siang di sini. Gue  memesan satu passion fruit tea (RM 14.9) dan satu double fish fillet burger (RM 19.6). Menurut gue untuk harga makanan segitu, agak over price ya...Rasa makanan dan minumannya standar. Tapi orang datang ke cafe anjing, ya utamanya pasti buat bermain - main dengan penghuni berkaki empat di sini.

 
 
 

Gue harus menunggu beberapa saat sampai para corgi tiba di cafe. Siang itu total ada 3 corgi, 1 golden, dan 1 pudel menemani para pengunjung di area makan. Setelah puas bermain di situ, dan lagian area makan sudah semakin dipenuhi pengunjung lainnya, gue pun ke lantai 2. Di sini, dengan membayar extra RM 10, gue bisa bermain sepuas - puasnya dengan anjing - anjing husky. Gue lupa jumlahnya, mungkin sekitar delapan (atau lebih), dalam berbagai ukuran. Di sini puas sih bermain - main dengan para husky yang lucu, menggemaskan banget, dan kadang nakal. Beberapa dari mereka kayaknya ras malamute karena ukurannya raksasa dengan bulu yang tebal bukan main.

 
 
 
 

Kalo dibandingkan dengan cafe Huskiss di Kuala Lumpur, konsep Corgi and The Gang berbeda banget. Sejujurnya gue lebih suka Huskiss, dimana ada kuota pengunjung yang diberikan waktu untuk bermain dengan para husky di sana. Soal kebersihan, Huskiss juara banget. Para husky di sana diajarkan untuk buang air di ruang terpisah dari ruang bermain. Jadi kalau mereka hendak buang air, mereka dengan pintarnya akan pergi ke ruangan itu. Dengan gitu, ruang bermain tetap bersih dan beraroma wangi layaknya ruang tamu.

Kalau di lantai 2 cafe ini, para husky akan buang air di situ juga. Petugas memang akan dengan siaga dan segera membersihkan lantainya, tapi tetap aja khan....Begitu keluar dari Corgi and The Gang, seluruh baju gue dipenuhi bulu anjing, aroma anjing beserta air seninya! Gue sampai ngerasa ngga enak sama sopir grab yang gue tumpangi pas pulang dari sana, karena aroma dan kotoran di baju gue pasti menempel di bangku belakang mobilnya. 

Di sini pengunjung juga tidak diberikan sesi khusus untuk berfoto. Pengunjung diberikan kebebasan untuk mengambil foto kapan saja dimana saja dengan para anjing, tapi tidak ada sesi dimana para staff membantu pengunjung mengambil foto bersama seluruh anjing sekaligus, jadi kayak foto keluarga gitu, kayak di Huskiss.

Satu lagi, Corgi and The Gang ngga menyediakan wifi loh...kayaknya jaman sekarang, cafe kekinian kayak gini tanpa wifi, rasanya ada yang kurang. 

Overall, main ke Corgi and The Gang adalah pengalaman yang cukup mengasyikkan.

Tuesday, January 14, 2020

Highlight & Lowlight 2019


Selamat tahun baru 2020 !

Menyambut tahun yang baru (dan usia baru buat gue), 2020, iseng - iseng gue sempat merenung, apa aja yang menjadi highlight dan lowlight dalam kehidupan gue di 2019 yang lalu. 

Okay, dimulai dari highlight.  

Di pertengahan tahun, tepatnya 8 Juni 2019, Tuhan Yesus memberikan anugerah yang luar biasa yaitu kelahiran Fajar Limbong, keponakan gue tersayang, putra pertama adik gue, Anggira, yang kehadirannya adalah sumber sukacita dan kegembiraan baru buat gue sekeluarga. Sedikit banyak, buat gue pribadi, kelahiran Fajar juga merubah pola hidup gue. Setiap harinya, hal yang selalu gue tunggu - tunggu adalah ketemu keponakan gue yang menggemaskan ini. Gue akan berusaha untuk pulang cepat dari kantor, mencari alternatif perjalanan kantor - rumah yang paling kilat, apapun gue usahakan biar ada momen ketemu Fajar. Menyaksikan tumbuh kembangnya dari waktu ke waktu, adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri buat gue. Rasa bahagia itu juga timbul karena kelahiran Fajar membawa sukacita dan semangat baru buat semua anggota keluarga, terlebih Mama dan Bapak. 



Highlight berikutnya di November 2019, adalah hari ulang tahun Mama dan Bapak. Puji Tuhan, tahun ini Tuhan Yesus tetap setia memberkati dan menyertai Mama memasuki usia 70 tahun dan Bapak usia 75 tahun dalam kondisi sehat. Gue sangat bersyukur karena Tuhan Yesus memberikan berkat umur panjang dan kesehatan buat Mama dan Bapak, sehingga keduanya masih kuat menyertai kehidupan gue, dan menjadi  sumber cinta, kekuatan dan support terbesar buat gue. 

 
 
Oya, Tuhan Yesus juga memberikan bonus, di mana ketika hari ulang tahun Bapak ke - 75 tahun, tanggal 2 November 2019, gue sekeluarga bisa merayakan dengan membuat acara syukur kecil - kecilan. Awalnya Mama ngga setuju dengan konsep perayaan berupa pesta, sekedar makan - makan, nyanyi - nyanyi, mengundang sanak keluarga lainnya. Bagi Mama perayaan seperti itu tidak tepat dan tanpa makna. Mama hanya mau merayakannya dengan sebuah kebaktian syukur yang dihadiri dan dipimpin seorang pendeta gereja, yang bisa memberikan pembekalan rohani buat Bapak dan orang - orang yang hadir di situ. Sampai beberapa hari menjelang hari ulang tahun Bapak, belum ada kesepakatan dan 'persetujuan' dari Mama ketika kami, anak - anaknya, merencanakan untuk merayakan dengan lebih spesial. By the way, sebagai tradisi keluarga, setiap ada yang berulang tahun di keluarga, maka akan dirayakan dengan makan malam bersama dan tiup lilin kue ulang tahun yang dilakukan dengan sederhana di rumah. Kali ini, berhubung Bapak memasuki usia yang sangat spesial, 75 tahun, kelima anaknya pun berinisiatif menyiapkan perayaan syukur yang lebih spesial dari biasanya, dengan mengundang sanak keluarga lainnya.

Singkatnya, beberapa hari saja menjelang hari ulang tahun Bapak, Mama akhirnya menyerah, dan membolehkan anak - anaknya merencanakan sebuah perayaan, tetap dengan syarat harus dimulai dengan sebuah kebaktian dan menghadirkan pendeta. Tuhan Yesus yang maha baik memimpin setiap perencanaan. Sehingga meskipun waktunya sempit, dan keterbatasan di sana sini, semua perencanaan bisa berjalan lancar. Atas seijin Tuhan Yesus juga, keluarga gue bisa mengadakan kebaktian ibadah syukur dengan dipimpin oleh Bapak Pendeta Risto Andaki, ketua majelis GPIB Gideon, yang gue hubungi dan undang sangat mendadak sebenarnya. Sehabis ibadah, acara dilanjutkan dengan makan - makan sederhana dan hiburan yang dibawakan oleh para sepupu - sepupu yang bertalenta luar biasa. Rasa syukur gue atas campur tangan Yesus dalam perayaan ini, ngga bisa diungkapkan dengan kata - kata.

Berikutnya, lowlight dalam hidup gue di 2019. Di tahun ini gue kehilangan sahabat terdekat dan paling setia, Bruncuz, di tanggal 1 Desember 2019. Bruncuz meninggal di usianya yang memasuki 15 tahun. Arti kehadiran Bruncuz dalam hidup gue, ngga bisa digambarkan dengan kata - kata. Bruncuz adalah sahabat terbaik yang seakan - akan mendedikasikan hidupnya untuk menyenangkan dan menyayangi gue. Ketika seseorang memiliki hubungan sangat erat dengan sahabat anjingnya, orang tersebut mendapatkan cinta yang murni dari seorang sahabat, tanpa pamrih, tanpa pernah ada kekecewaan atau kesedihan sedikit pun. Tidak ada up & down jika memiliki sahabat anjing, yang ada hanya kegembiraan. Bruncuz adalah penghilang stres paling ampuh buat gue. Dan di saat dunia di luar sana tampak mengecewakan, Bruncuz akan hadir dan menyambut gue, seperti gue adalah makhluk dan sosok paling berharga. 

Kehilangan Bruncuz adalah mimpi buruk yang jadi nyata buat gue. Hingga saat ini, gue masih berjuang untuk bisa mengikhlaskan kepergian Bruncuz. Bahkan baru sekarang gue 'berani' menulis mengenai kepergian Bruncuz. Selama ini gue selalu ogah menulis atau membahas soal kepergian Bruncuz karena cuma akan menimbulkan kesedihan buat gue. 


Selain itu gue juga masih menyesuaikan diri dan menerima perbedaan - perbedaan dalam pola hidup gue antara ketika masih ada Bruncuz, dan saat seperti sekarang di mana Bruncuz sudah pergi untuk selamanya. Sepanjang hidup Bruncuz, aktivitas yang sangat gue sukai dan banggakan adalah mengurus sahabat setia gue itu, baik dalam keadaan sehatnya maupun sakitnya. Kesehatan dan kebahagiaannya adalah salah satu target pencapaian dalam hidup gue. Dan ketika Bruncuz pergi, gue agak sedikit kehilangan arah. Setelah kepergian Bruncuz, gue belum berencana memiliki anjing baru. Mungkin gue akan fokus untuk mulai merawat dan memberikan perhatian untuk Momo si Husky yang selama ini, sejujurnya, bukan menjadi prioritas gue (maap, Momo).

Melihat ke belakang, kehidupan gue di 2019, ngga ada hal lain yang ingin gue lakukan selain bersyukur...bersyukur...dan bersyukur kepada Tuhan Yesus. Betapa pun hidup gue diisi oleh hal - hal yang membuat gue bersukacita, maupun peristiwa - peristiwa yang membuat gue terpuruk dalam kesedihan, namun yang pasti, Tuhan Yesus ngga pernah meninggalkan gue dan selalu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan buat gue. Semoga Tuhan Yesus senantiasa menyertai setiap langkah hidup gue di tahun yang baru ini dan tahun - tahun berikutnya.

Tuesday, October 22, 2019

Perjalanan Seru Menuju Kinabalu


Rasanya pengalaman saya terbang bersama AirAsia sudah tak terhitung. Maklum, ini adalah tahun ke-10 saya menjadi pelanggan sekaligus penggemar AirAsia. Begitu banyak pengalaman seru dan menyenangkan yang saya rasakan selama melakukan perjalanan dengan AirAsia. Namun salah satu kenangan bahagia bersama AirAsia saya sekaligus yang paling unik dan seru mungkin saat perjalanan saya ke Kota Kinabalu tahun 2012 yang lalu.

Ketika itu saya hendak melakukan trip singkat setelah memutuskan meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya. Keberangkatan dari Jakarta dijadwalkan tanggal 25 Oktober 2012, di malam hari, yaitu jam 19:20 waktu Indonesia, dengan nomor penerbangan AK 6713, dan akan tiba di Kota Kinabalu jam 23:00 waktu setempat. Beberapa saat menjelang pesawat AirAsia yang saya tumpangi mendarat di Kota Kinabalu International Airport, terdengar pengumuman dari ruang pilot bahwa pesawat tidak bisa mendarat karena kendala teknis (listrik) di airport setempat. Pendaratan akan dialihkan ke kota Miri. Saya belum pernah menginjakkan kaki di Miri, jadi mendengar bahwa saya akan 'mampir' di sini cukup bikin deg-degan sekaligus excited

Tiba di Miri Airport, saya melihat begitu banyak penumpang lainnya yang ternyata adalah penumpang-penumpang (dari maskapai lainnya) tujuan Kinabalu dan terdampak kondisi yang sama. Saat itu saya hanya pasrah menunggu berita selanjutnya dari pihak AirAsia. Baru kali ini hal seperti ini terjadi pada saya, yang saat itu traveling sendirian bermodal sebuah ransel, namun herannya tidak merasa panik. Saat itu saya melihat para kru AirAsia yang sangat proaktif memberikan update, menjawab pertanyaan penumpang sampai membagikan snack. Jadi, kecuali mata yang sudah mengantuk dan kangen kasur, kendala saat itu tidaklah terlalu mengganggu saya.

Informasi berikutnya yang saya dengar adalah seluruh penumpang akan diterbangkan ke kota Kuching agar mendapatkan penginapan yang bisa mengakomodir seluruh penumpang. Wow...seru sekali ini ! Dalam semalam saya sudah nyaris mampir di 3 kota di Malaysia yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. 

Penumpang pun kembali ke dalam pesawat yang kali ini terbang menuju Kuching. Kebetulan saat itu saya tidak memiliki bagasi, sehingga proses 'keluar-masuk' pesawat terasa ringan.

Tiba di Kuching International Airport menjelang tengah malam, barisan kru AirAsia menyambut kedatangan seluruh penumpang dengan senyum tulus nan ramah, seraya menyampaikan maaf atas kendala yang terjadi, dan mengarahkan penumpang menuju bus yang terparkir tepat di pintu utama kedatangan. Bus yang mengantarkan saya ke Hotel Grand Continental Kuching, sangatlah nyaman. 

Tiba di hotel, setiap penumpang diarahkan untuk melakukan check-in dan menerima kunci kamar masing - masing. Kru AirAsia mengawal proses ini mulai dari antrian sampai dengan meja reservasi sehingga proses berjalan dengan sangat lancar. 

Malam ini adalah salah satu perjalanan paling seru yang saya rasakan. Sejujurnya, sejak awal saya merencanakan untuk tidur di Kota Kinabalu International Airport mengingat waktu ketibaan yang cukup larut malam. Siapa yang menduga saya malah mendapat 'rejeki' menginap di hotel berbintang malam itu. Semua fasilitas disediakan oleh AirAsia gratis.

Keesokan paginya saya menyempatkan menikmati sarapan yang disediakan hotel sebelum memulai perjalanan melihat-lihat kota Kuching dalam waktu singkat dengan berjalan kaki. Menjelang tengah hari saya kembali ke hotel dan langsung menuju meja resepsionis dimana informasi mengenai keberangkatan menuju Kinabalu sudah tersedia. Pihak AirAsia telah menyiapkan bus untuk memberangkatkan seluruh penumpang menuju Kuching International Airport. Lagi-lagi saya menyaksikan segenap kru AirAsia bekerja dan berkoordinasi secara profesional dalam mengatur keberangkatan bus menuju airport.

Di airport, penumpang masih harus menunggu beberapa saat sampai tiba jadwal keberangkatan pesawat AirAsia tujuan Kinabalu. Pihak AirAsia tak berhenti memberikan perhatian kepada seluruh penumpang dengan membagikan makan siang. 

Akhirnya saya pun duduk di dalam pesawat AirAsia, yang kali ini akan mengantarkan saya menuju Kinabalu. Malam itu pesawat tiba dan mendarat dengan mulus di Kota Kinabalu International Airport.

Sungguh luar biasa perjalanan saya kali ini. Perjalanan yang awalnya singkat, namun menjadi seru karena harus melalui rute berliku. Ini adalah salah satu momen bahagia bersama AirAsia yang pernah saya rasakan.  Meskipun trip ini dihiasi dengan kendala teknis, namun saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada pihak AirAsia yang begitu peduli dan cepat tanggap untuk mengakomodir kebutuhan penumpang dan berusaha semaksimal mungkin memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang terjaga. Terima kasih AirAsia!

Monday, October 14, 2019

KL Trip: Interaksi Bikin Happy Bersama Para Husky


 11 Oktober 2019

Setelah beberapa tahun, akhirnya kali ini berkesempatan piknik ke negeri tetangga lagi, Malaysia, tepatnya Kuala Lumpur. Berhubung gue sudah pernah ke sini beberapa kali, awalnya agak bingung mau mengunjungi apalagi kali ini. Tripnya singkat sih...hanya 3 hari. Gue sudah merencanakan akan menghabiskan waktu sehari full di Melaka, tepatnya di hari kedua. Lalu selain itu, mau ngapain lagi ?

Akhirnya setelah berkelana di dunia instagram, gue menemukan foto dan info mengenai sebuah pet cafe di Kuala Lumpur, dimana pengunjung bisa nongkrong di sana sambil berinteraksi dengan beberapa anjing husky. Wowww....serasa syurga buat pecinta anjing kayak gue. Gue langsung bersemangat dan penasaran pengen buru - buru ke sana. Namanya, Huskiss Cafe yang beralamat di 80-G, Block G, Zenith Corporate Park, SS7/26, 47301 Petaling Jaya, Selangor.

Pesawat gue tiba di Kuala Lumpur jam 8 pagi. Dari situ gue menuju KL Sentral untuk naik Komuter Line tujuan Batu Caves. Gue ngga bisa langsung ke Huskiss Cafe karena baru buka jam 12 siang. Dan gue juga ngga bisa langsung check in di hotel, karena masih terlalu pagi dan waktu check in Prescott Hotel adalah jam 2 siang. Jadi untuk sekedar menghabiskan waktu, gue bermaksud jalan - jalan menikmati panas dan warna - warninya Batu Caves.

Pas udah siang gue pun meninggalkan Batu Caves dan kembali ke KL Sentral. Tujuan berikutnya adalah Huskiss Cafe. Sebenarnya ada 2 cara menuju ke sini. Pertama, gue bisa naik LRT dari KL Sentral ke Stasiun Lembah Subang. Setelah itu dilanjut jalan kaki sekitar 1.6 km menuju lokasi. Dari sisi biaya, cara ini memang paling murah. Tapi soal waktu dan tenaga, rasanya kurang pas. Selain karena hari itu sudah sore, badan pun mulai berasa cape karena seharian kepanasan bawa ransel apalagi setelah 'olahraga cardio' naik turun anak tangga Batu Caves....dengan cuaca yang panas dahsyat hari itu. 

Gue memutuskan untuk memesan Grab aja. Ongkosnya cuma MYR 23. Mahal ? Iyaaaa....tapi demi bertemu para husky, sekejap langsung berasa murah dan ikhlas bayar ongkos segitu. Sepanjang perjalanan gue agak khawatir, karena dari info yang gue baca cafe akan tutup jam 4.30 sore, artinya tinggal kurang dari 1 jam lagi. Langsung terbayang, betapa singkatnya waktu yang gue punya untuk bermain - main dengan para makhluk menggemaskan itu.

Udah waktunya pas - pasan, mobil Grab yang gue tumpangi sempat salah belok karena salah petunjuk di GPSnya. Jadilah Pak Sopir mengambil arah untuk putar balik lagi, di jalan raya yang sebenarnya padat. Akhirnya gue tiba di Huskiss Cafe hampir jam 3 sore. 

Begitu memasuki cafe, gue baru tahu ternyata para husky tidak dilepas di semua area cafe. Ada ruang berikutnya setelah ruang restoran, yang menjadi semacam ruang bermain para husky. Tapi kedua ruangan terhubung dengan pintu dan jendela kaca. Pengunjung yang datang untuk bermain bersama para husky harus membayar MYR 25, dan bisa menghabiskan waktu selama 1.5 jam di dalam ruangan husky tadi. Berhubung waktu gue tinggal 30 menit lagi, pemilik memberikan diskon, menjadi MYR 20. Tapi sebenarnya kali ini bukan masalah duitnya, tapi setelah sejauh ini perjalanan gue, dan karena gue pecinta anjing sejati, masa gue cuma berkesempatan bermain sama para husky 30 menit saja ?

Pemilik pun memberikan alternatif, gue bisa mengikuti sesi berikutnya yaitu di jam 7 malam. Pilihan ini sangat menghibur karena ternyata gue masih berkesempatan bermain dengan para husky. Tapi gue bingung mau menunggu dimana dan ngapain selama nyaris 3 jam ? Masalahnya cafe harus ditutup tepat jam 4.30 - 6.30 karena itu adalah waktu tidur siang para husky. Si pemilik menyarankan gue untuk jalan - jalan di Paradigm Mall yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari situ.

Gue pun berjalan kaki ke Paradigm Mall dan menikmati makan malam yang sebenarnya masih terlalu awal, cuci muka dan bersih - bersih di toilet dan lihat - lihat isi mall sebentar. Menjelang jam 7 malam gue kembali ke Huskiss Cafe. Setelah cafe dibuka kembali, gue langsung ngga sabar, terlebih setelah melihat 2 ekor husky, Hailey dan Jean, sudah nongol di ruang bermain. Hailey cenderung waspada, karena dia adalah alpha di groupnya. Sementara Jean, tipikal husky yang sesungguhnya : badannya besar, bulu lebat, muka sangar dan gagah ala serigala tapi kelakuannya super sweet dan selalu pengen menjilat muka gue.

Jean
Orien
Jean & Hailey
Jean

Orien
Setelah itu berturut - turut anjing yang lain, Orien, Storm, Steffi, dan Flash bergabung. Terakhir, Dash yang ukurannya paling raksasa. Berada di sebuah ruangan bersama 7 anjing husky dan malamute yang sangat menggemaskan, dimana gue bisa bebas bermain dan berinteraksi dengan mereka, sekonyong - konyong bikin hati gue bahagia maksimal. Gue juga punya 1 husky di rumah, si Momo, jadi sedikit banyak kenal karakter anjing husky yang keras kepala, cuek, agak nakal tapi super penyayang dan manja. Semua karakter yang bertolak belakang dengan penampilan fisik mereka yang kayak serigala. 

Di akhir dari 1.5 jam yang gue miliki, adalah sesi foto dimana gue bisa duduk di sofa dikelilingi oleh para husky dan malamute ini. Staf Huskiss cafe yang membantu memotret dan memastikan para husky dan malamute fokus dan behave saat difoto. Setelah sesi berakhir, gue pun meninggalkan cafe dengan hati girang. 

Gue senang luar biasa bisa menemukan 'hidden gem' -nya Kuala Lumpur, yaitu cafe ini. Di Indonesia, rasanya jarang banget ada cafe seperti ini, setahu gue ada di BSD dan Bandung sih, dan gue belum pernah ke sana. Kalo dipas-pasin mungkin ini cara paling keren untuk memperingati 'Hari Kesehatan Mental Sedunia' yang jatuh tanggal 10 Oktober 2019. Karena setiap orang punya cara sendiri untuk menjaga kesehatan mental masing - masing. Dan salah satu cara efektif buat gue adalah berinteraksi dengan binatang, khususnya anjing, yang langsung bikin gue happy dan melupakan beban pikiran untuk sesaat.

Oya, untuk info lebih lanjut dan mau liat - liat foto para husky ini, bisa ke IG dan Facebook-nya : Huskiss. Disarankan juga untuk melakukan reservasi di awal karena ada quota pengunjung setiap sesinya.

Sampai ketemu di kunjungan gue berikutnya, Hailey, Jean, Orien, Storm, Steffi, Flash dan Dash !