I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, January 28, 2015

Review Hostel : Happily Ever After (Kathmandu, Nepal)

8 bed mix share dorm room
Untuk trip ke Kathmandu ini, seperti biasa gue mengandalkan www.hostelbookers.com buat nyari - nyari hostel murah. Karena gue benar - benar buta mengenai Kathmandu, dan pengen memastikan bahwa gue akan menemukan hostel berharga minimalis dengan kenyamanan maksimal, maka gue juga mencari rekomendasi dengan membaca review - review hostel di Tripadvisor. Dari kedua sumber berbeda ini, akhirnya gue mendapat kesimpulan bahwa Hostel Happily Ever After adalah yang paling mendekati "pas".

Gue pun booking online untuk '8 bed mix share dorm room' yang harganya cuma USD 4.25/bed/malam. Bisa dibilang ini adalah salah satu hostel termurah yang pernah gue tempati sepanjang kiprah gue berbekpekeran. Waktu gue pertama kali bekpekeran tahun 2009, ketika di Kuala Lumpur (China Town) gue tinggal di hostel dengan tarif MYR 15. Jadi jika menimbang masalah inflasi dan selisih kurs, hostel gue kali ini adalah yang termurah sepanjang sejarah.

Bed sweet bed...lengkap dengan jemuran handuk dan kaos kakinya

Tanggal 21 Januari 2015, gue tiba dan check in di Happily Ever After sekitar jam 3 sore, dan disambut ramah oleh staff hostel bernama Ghan, yang sejak saat itu selalu memanggil gue dengan sebutan 'Cherry Garden". Ternyata nama gue bukan hanya aneh di telinga orang Indonesia, namun juga bagi orang Nepal sana.

Tiba di pintu kamar....sesaat napas gue tertahan begitu melihat pemandangan yang ada di dalam kamar yang terletak di lantai 2 itu. Saat itu kamar terkesan gelap karena lampu dimatikan dan fentilasi kamar yang kurang. Sempit. Agak berantakan. Dingin. Saat itu ngga ada penghuni lainnya yang sedang tinggal di kamar. Tapi gue melihat tas - tas ransel berukuran besar terhampar dimana - mana. Ada di lantai....ada juga di ranjang - ranjang.

Ketika mendekat ke kasur pilihan gue, mata gue langsung tertuju pada selimut yang disediakan di atas kasur. Selimut paling tebal yang pernah gue lihat dan dapatkan. Dalam keadaan dilipat rapi seperti risol itu aja, besarnya hampir setengah dari kasur gue yang memang cukup imut - imut. Sedingin itukah Kathmandu, hingga hostel menyediakan kemewahan berupa selimut setebal itu ?

Ghan dan staff lainnya

Di dalam kamar juga tersedia sebuah toilet yang sekaligus sebagai kamar mandi. Namun bisa dibilang 'ruang' ini sangat jarang digunakan oleh penghuni kamar (termasuk gue) karena airnya yang super dingin, sepanjang hari ! Air terdingin yang pernah gue rasakan...rasanya seperti es batu padat mengalir. Efek dinginnya seakan - akan mengiris - iris kulit gue. Bahkan kalo lagi dingin maksimal, ada sensasi setrum segala! Ini efek dari musim dingin yang sedang berlangsung di Nepal. Suhunya mencapai 8 derajat celcius. Jadi apapun aktifitas yang berhubungan dengan air, rasanya seperti siksaan. Sebenarnya hostel menyediakan fasilitas air panas baik untuk shower maupun wastafel. Namun kendala lainnya adalah di Kathmandu terjadi pemadaman listrik selamat 10 jam setiap harinya. Sisanya, para konsumen listrik harus mengandalkan genset masing - masing. Dan jika gensetlah yang sedang digunakan, maka penggunaan listriknya sangat terbatas dan diprioritaskan yang penting - penting aja.
Yang menantang, jadwal pemadaman listriknya tidak pasti. Di malam pertama gue di sana, gue terbangun karena sadar lampu dan listrik padam total. Di lain hari, sepanjang siang listrik padam, sehingga gue kesulitan ketika hendak recharge handphone dan kamera gue. Begitulah keadaannya...
 
Daftar menu
Karena sepanjang siang hingga malam listrik di kamar tidur padam, maka seringnya para penghuni hostel berkumpul di ruang tamu sekaligus ruang resepsionis yang sempit, sekedar untuk menumpang me-recharge alat - alat elektronik. Mungkin 'hiburan' di ruang tamu ini hanyalah listrik yang tetap menyala karena di-support oleh genset. Dan juga karena ada staff - staff yang doyan ngobrol dan sangat supel/friendly.  Sebenarnya ada televisi tersedia disini, namun bukan TV kabel. Jadi jika sedang duduk - duduk di ruang tamu ini, tayangan yang tersaji adalah sinetron - sinetron ala Nepal gitu.

Fasilitas yang sangat menghibur adalah wifi dengan koneksi stabil dan cepat. Di saat traveling kayak gini, internet pentingnya selangit....selain jadi sumber hiburan, juga untuk nyari informasi seputar kota tujuan, dalam hal ini Kathmandu.

Selain ruang tamu dan kamar - kamar tidur, di bangunan hostel juga terdapat dapur dan ruang makan roof top, di lantai teratas (lantai 5). Di sinilah biasanya penghuni hostel menyantap sarapan masing - masing yang tersedia secara gratis, berupa roti bakar, telor, dan teh. Gue ngga pernah menyantap sarapan, karena waktu sarapan baru tersedia jam 08:00 - 10:00 pagi setiap harinya. Sebelum jam sarapan dimulai, pastinya gue sudah meninggalkan hostel dan berkeluyuran ria.

Menikmati sinar matahari di roof top

Ketika malam, barulah gue ke dapur ini untuk menyiapkan hidangan makanan sehat berupa buah - buahan yang gue beli di sepanjang jalan Thamel. Ada apel, jeruk dan anggur. Bagi penghuni hostel lainnya, ruang makan roof top di malam hari digunakan untuk sekedar mengobrol dan minum bir. Maklum...di sepanjang Thamel ngga ada bar - bar atau cafe yang biasa buka ampe larut malam dimana turis bisa nongkrong sampai mabuk.

Mengenai waktu tidur gue di hostel ini, rasanya yang paling nyaman dan tenteram sepanjang sejarah. Jarang - jarang gue bisa merasakan tidur tenang tanpa terganggu suara dengkuran dan suara - suara bising lainnya, seperti disini. Ditambah dengan lokasi hostel yang strategis, yaitu di area Thamel namun bukan tepat di pinggir jalan.  Jadi, hostel ini bebas dari bisingnya hiruk - pikuk Thamel. Ketika malam, 'keributan' yang sesekali terdengar adalah anjing - anjing Thamel yang menggonggong.

"Perjuangan" gue di malam hari bukanlah bertahan di tengah gempuran suara dengkuran, melainkan menahan rasa dingin luar biasa dahsyat. Jadi, begini rutinitas gue setiap malamnya....Gue akan kembali ke Happily Ever After sekitar jam 8 atau 9 malam. Lalu naik ke dapur untuk mengolah buah - buahan. Trus, kembali ke kamar tidur. Gue pun mencuci muka dan gosok gigi di toilet berlantai sedingin es. Dan memastikan kontak seminimalis mungkin dengan air. Setelah itu gue membuka jaket, dan mengenakan 3 - 4 baju tambahan, disamping baju yang gue pakai sebelumnya. Kemudian gue memakai kaos kaki tidur, jaket dan syal lagi. Ritual terakhir, gue akan melipat selimut tebal gue menjadi dua, dan gue pun siap menyusup di balik selimut.

Jadi, dalam hal berpakaian, nyaris ngga ada perbedaan sama sekali antara ketika gue berkeluyuran di pagi dan siang hari, dengan waktu tidur gue di malam hari. Gue masih mengenakan baju yang sama, celana panjang yang sama, jaket yang sama, bahkan syal yang sama. Saking dinginnya malam - malam yang gue lalui, biasanya sepanjang tidur gue ngga melakukan gerakan tubuh apapun selain bernafas. Karena setiap gerakan seakan - akan menimbulkan rasa dingin. Lagian, gue gak mau posisi selimut gue berubah sehingga ada celah dimana si dingin akan menyerbu badan gue.

Fasilitas lainnya, pihak hostel juga menyediakan jasa tour & travel. Baik untuk city tour, trekking, paket tour ke Tibet, Bhutan, dan lain sebagainya. Namun gue ngga pernah menggunakan jasa tour dari Happily Ever After, karena biasanya gue mencari jasa tour ketika sedang keluyuran di jalan - jalan sepanjang Thamel.

Kesimpulannya, gue cukup menikmati tinggal di hostel yang sederhana ini. Mungkin karena gue fokus pada harga kamarnya yang sangat murah. Di samping itu, fasilitas yang diberikan pun mencukupi. Kalau pun agak kurang, gue anggap itu sebagai suatu tantangan yang justru membuat gue semakin tahan uji dan punya nyali tinggal di penginapan berkonsep hostel. Jadi, buat para bekpeker - bekpeker gembel (kayak gue) yang ingin irit, dengan fasilitas sederhana, dan berlokasi strategis, hostel ini adalah rekomendasi gue.

Wednesday, January 07, 2015

Gue dan Si Pesawat Merah

Musibah yang menimpa si pesawat merah (AirAsia) QZ8501 adalah duka yang mendalam untuk semua orang. Gue khususnya bersimpati pada seluruh anggota keluarga penumpang, termasuk kru penerbangan itu yang telah menjadi korban. Gue berharap semoga proses evakuasi dan investigasi atas tragedi ini berjalan lancar dan transparan.

Untuk gue pribadi, tragedi ini cukup bikin shock dan menimbulkan beberapa kekhawatiran :

Pertama, pasti akan semakin susah buat gue minta ijin ke Mama dan keluarga ketika akan traveling.  Belakangan ini, setiap menitnya, Mama dan keluarga seakan - akan dijejali dengan berbagai berita, baik yang akurat maupun simpang siur, yang faktual maupun penuh spekulasi, yang relevan maupun ngga nyambung. Pastinya rasa ngeri dan takut semakin merasuki pikiran mereka. Padahal sebelum ada tragedi ini setiap kali minta ijin, Mama pasti akan histeris disertai ngomel, menyesali betapa panjangnya langkah gue. Apalagi sekarang...

Dalam beberapa hari ke depan gue akan kembali melakukan perjalanan menggunakan AirAsia, yang gue persiapkan untuk hari ulang tahun gue tahun ini. Dan ketika gue bilang ke Mama semalam, dengan lesu Mama cuma mengeluh sambil geleng-geleng kepala, "Ngga ada berhentinya saraf Mama tegang gara - gara kau, Cher...."

Kedua, secuil kekhawatiran yang berasal dari gue sendiri. Pasalnya, cuaca buruk adalah faktor utama terjadinya musibah yang menimpa QZ8501. Dan gue akan bepergian tidak lama lagi, dimana kondisi cuaca nampaknya masih begitu - begitu saja.

Karena hampir semua sahabat dan kerabat gue tahu bahwa gue adalah pengguna setia AirAsia, belakangan ini gue banyak menerima nasihat, "Hati - hati naik AirAsia..." Gue ngga ngerti kewaspadaan seperti apa yang harus gue lakukan setelah tragedi ini. Apakah setiap akan bepergian, gue harus menelepon call center AirAsia atau mendatangi kantornya langsung dan mengajukan berbagai pertanyaan seperti...

"Hari ini AirAsia sudah dapat info resmi soal cuaca dari BMKG ato blom ?"
"Lalu, sudah dilakukan briefing antara pilot dan FOO ?"
"Ada ijin resmi dari pihak otoritas Indonesia kalo AirAsia bisa terbang hari ini ?"
"Semua prosedur keselamatan sudah dijalankan sesuai standard dan aturan yang berlaku, khan ?"
"Kondisi pilotnya gimana ? Fit ?"
"Kira-kira pesawat kita akan selamat sampai tujuan ato ngga ? Kalo pasti selamat, saya ikut nih !"
Dan pertanyaan - pertanyaan ngga lazim lainnya..........

Yang bisa dilakukan oleh pengguna jasa maskapai pesawat seperti gue tentunya hanyalah berdoa, menenangkan diri, pasrah, berpikiran positif dan tetap menikmati perjalanan.

Ketiga, tragedi ini akan mempengaruhi nasib maskapai langganan gue ini, misalnya apabila hingga berdampak pada masalah perijinan maskapai tersebut. Di samping itu, kemarin gue udah mulai mendengar mengenai (rencana) Kementerian Perhubungan untuk memberlakukan kebijakan meniadakan tiket murah, dengan alasan peduli keselamatan. Ini berita super buruk buat gue.

Padahal AirAsia dengan promo tiket - tiket murahnyalah yang telah 'membantu' mewujudkan impian - impian berpetualang gue, tepatnya sejak awal 2009 hingga kini. AirAsia bagaikan sahabat karib yang sudah membukakan pintu untuk karyawati bergaji pas - pasan seperti gue untuk 'terbang' dan melihat dunia luar. Hubungan manis gue dengan AirAsia sudah menghasilkan puluhan tiket perjalanan dengan harga sangat terjangkau yang pernah gue beli baik untuk gue pribadi maupun sahabat dan keluarga, bahkan stok tiket sampai akhir tahun 2015 ini.

Gue mencoba men-trace riwayat 'hubungan' gue dengan AirAsia (melalui email konfirmasi yang pernah gue terima dan slalu gue file). Daftar tiket di bawah hanyalah tiket - tiket yang gue beli untuk gue sendiri. Dan dari seluruh tiket tersebut hanya kurang dari 5 tiket yang akhirnya gak digunakan, karena gue kehabisan cuti....atau ada urusan kantor...atau malas (bekpeker gembel bisa juga malas traveling ternyata!).....


Di samping itu juga ada 'bunga-bunga' indah yang menghiasi perjalanan hubungan manis gue dengan AirAsia, misalnya ketika gue memenangkan kuis See The Paintball WorldCup Asia 2011 yang akhirnya menerbangkan gue ke Langkawi untuk pertama kali dengan akomodasi ditanggung AirAsia.


Dan juga ketika gue memenangkan kuis Moovment 2011 with Far* East Movement and DJ Earworm yang menghadiahkan gue 2 buah VIP tiket untuk menonton konser Far*East Movement. Tapi yang ini ngga gue gunakan....karena konsernya di Kuala Lumpur, dan gue kebetulan baru balik dari Langkawi saat itu. Dan alasan utamanya, karena gue gak kenal band ini sama sekali....cuma tertantang untuk memenangkan kuisnya aja saat itu....

 
Ironisnya, justru belum ada maskapai nasional yang bisa memberikan 'peluang' yang sama untuk petualang bermodal minimalis kayak gue. Belum ada maskapai nasional yang bisa menawarkan tiket dengan harga terjangkau (baca: murah banget !), namun di saat yang sama juga memberikan keyakinan rasa aman bagi penumpang. Maksudnya, setiap kali membeli tiket AirAsia, ngga pernah sedikit pun terbersit di pikiran dan hati gue bahwa "Berhubung ini tiket murah, jadi pasrah aja kalo ngga selamat. Kalau selamat, syukur...kalo gak, ya wajar...maklumlah, tiket murah....Banyak-banyak berdoa aja..." Gue, dan semua pembeli tiket promo di seluruh dunia pun pasti setuju kalo keselamatan jiwa raga di atas segala - galanya, dan ngga mau mengambil resiko sedikit pun yang mengancam keselamatan pribadi, hanya karena tergoda tiket murah semata.

Sebagai orang awan, tentunya gue ngga ngerti yang namanya prosedur keselamatan yang standard dalam penerbangan, baik administrasi maupun teknisnya. Namun yang jelas, pengalaman terbang dengan si pesawat merah selama puluhan kali dalam sekitar 5 tahun terakhir, bikin gue memiliki kepercayaan bahwa maskapai ini peduli pada keselamatan gue (meskipun harga tiketnya murah). Intinya, kabar pelarangan promo tiket murah itu, bagai tragedi buat kiprah bekpekeran gue.

Bersama kru AirAsia di Langkawi
Apakah gue kapok dan tidak akan menggunakan AirAsia lagi ? Ngga. Karena gue berusaha bersikap realistis bahwa kecelakaan ini adalah bencana yang tidak diharapkan dan di luar kendali manusia. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Bukannya ingin bersikap sok jagoan, namun yang jelas, musibah ini ngga membuat nyali gue untuk berpetualang melemah atau hilang.

Dan gue bukan hendak men-judge kebijakan Pemerintah. Namun gue berharap semoga kebijakan apapun yang muncul pada akhirnya nanti, semoga Yesus akan tetap berpihak pada petualang gadungan berkaki panjang dan bermodal pas-pasan seperti gue.

Tuesday, December 30, 2014

Hari Keempat : Grand Palace Dan Sekitarnya

02 Desember 2014. Ini hari terakhir gue di Bangkok. Berhubung jadwal keberangkatan gue kembali ke Jakarta dijadwalkan jam 8 malam nanti, berarti gue masih punya cukup waktu untuk mengeksplorasi Bangkok, tepatnya sekitar Khaosan. Pilihan gue tentunya jatuh ke Grand Palace. Bangkok adalah Grand Palace dan Grand Palace adalah Bangkok. Jadi, kunjungan ke Bangkok ngga akan lengkap rasanya kalo ngga mampir ke sini.

Pagi itu juga gue bersiap - siap check out dari Khaosan Immjai. Karena ini adalah hari yang sibuk dan padat, dan ngga memungkinkan untuk gue balik ke Khaosan Immjai nanti siang sekedar untuk check out, maka gue selesaikan semuanya pagi ini. Gue memang diperbolehkan untuk menitip ransel, namun ngga boleh menggunakan fasilitas hostel lagi.

Selesai urusan check out, gue pun memulai langkah menuju Grand Palace dengan berjalan kaki. Tiba di sana, gue membeli tiket masuk seharga 500 bath. Pagi itu Grand Palace ramai oleh pengunjung, baik perorangan maupun group tour. Sebenarnya agak malas melihat kondisinya yang terlalu padat seperti ini.....apalagi kalo lihat hebohnya tiap - tiap group tour, terlebih ketika mereka mengatur group masing - masing. Berteriak - teriak....sambil mengangkat bendera group tinggi - tinggi. Berisik. Selain itu padatnya Grand Palace pagi itu bikin aktivitas berfoto jadi tantangan yang luar biasa berat. Jangan berharap mendapatkan foto tanpa dilatarbelakangi oleh kerumunan pengunjung lainnya. 

Meskipun demikian, pesona Grand Palace dengan bangunan - bangunannya yang megah dan menjulang dengan dominasi warna keemasan itu tetap menghipnotis gue. Sesuai rencana, gue cuma bisa menikmati keindahan dan keagungan Grand Palace sekitar 2 jam, karena masih ada beberapa lokasi di luar sana yang hendak gue kunjungi.

Beruntung dapat spot yang agak sepi
....sendal jepitnya....?&*^%#
a gembel door girl
Berikutnya gue melangkahkan kaki menuju Tha Tien Pier, untuk menumpang kapal yang akan mengantar gue menyeberangi Chao Praya menuju Wat Arun. Ongkosnya murah meriah banget : cukup 3 bath. Tiba di komplek Wat Arun, tempat pertama yang gue cari adalah penyewaan baju tradisional Thailand. Seperti kunjungan gue sebelumnya ke Bangkok, tepatnya ke Wat Arun, kali ini gue juga pengen berfoto dengan mengenakan baju tradisional Thailand yang indah itu. Harga sewanya masih sama seperti saat itu : 100 bath. 

Penari gadungan
Find me if you can !
Paling seneng merhatiin pose Sang Buddha.
Yang ini : Bhumisparsa Mudra
Salah satu sudut Wat Arun
Puas mengenakan baju ala Thailand, gue pun membeli tiket masuk ke Wat Arun seharga 50 bath. Kayaknya istilah "Beauty is pain" juga berlaku saat traveling....yaitu untuk mencapai tempat - tempat indah dan keren, kadang usaha keras diperlukan...."usaha" yang dimaksud disini termasuk cucuran keringat, nafas tersengal - sengal, dan rasa haus mendalam akibat kelelahan. Sebenarnya meniti anak tangga menuju puncak Wat Arun bukanlah tantangan yang luar biasa berat....namun kombinasi mulai dari hostel menuju Grand Palace, lalu mengeksplorasi Grand Palace itu sendiri berjam - jam, kemudian dari Grand Palace menuju Wat Arun ini, yang seluruhnya dilakukan dengan berjalan kaki, terlebih di saat matahari lagi bersinar terik maksimal seperti saat ini, bikin perjalanan mencapai puncak Wat Arun bagaikan perjuangan nan heroik. Tiba di puncak Wat Arun, gue menikmati saat - saat keemasan itu dengan memandangi Chao Phraya dengan kapal - kapal penumpangnya yang sedang melintas.

Chao Phraya dari puncak Wat Arun
Setelah berhasil menghimpun tenaga dan semangat, gue pun meninggalkan Wat Arun, dan kembali menumpang kapal menuju Tha Tien Pier. Target kali adalah Wat Pho. Tiket masuk ke Wat Pho seharga 100 bath. Wat Pho ini tempat yang super istimewa di mata gue....pertama, karena ada Reclining Buddha berukuran 43 meter di sini. 

Siap - siap kembali ke Tha Tien Pier
Gue emang sedikit 'terobsesi' untuk melihat patung Reclining Buddha, yang biasanya dibuat dalam ukuran raksasa. Dan rasanya selama kedua kaki gue masih sanggup, gue akan berusaha semaksimal mungkin mencapainya, di mana pun lokasinya. Sejauh ini gue udah mengunjungi Reclining Buddha yang ada di Wat Chaiya Mangkalaram (33 meter) di Penang,  lalu yang ada di Buddha Park, Laos (120 meter), trus di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya (37 meter) dan tentunya yang ada di Wat Pho ini. Gak ada alasan khusus, mungkin karena gue suka dengan posisinya yang tiduran itu, bikin tampak tenang, santai dan damai.

Kedua, karena komplek Wat Pho dipenuhi dengan beberapa chedi (stupa) dalam berbagai ukuran yang bentuknya unik dengan warna - warni yang menarik.

Bukti udah ke Wat Pho :p
Di antara stupa - stupa Wat Pho

Salah satu bangunan indah di Wat Pho
Setelah puas berada di Wat Pho dan berhubung dikejar - kejar oleh waktu yang makin menipis, gue pun mengambil langkah pulang menuju Khaosan Immjai. Siang menjelang sore itu, kawasan sekitar Grand Palace tampak steril dan mendapat pengamanan ketat. Ternyata beberapa jam lagi akan ada parade/iring - iringan keluarga Kerajaan yang akan menuju Grand Palace. Prosesi ini adalah bagian dari perayaan ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej ke 87 tahun, yang akan jatuh tanggal 05 Desember 2014 ini. 

Sebenarnya gue pengen tinggal sesaat dan ikut menyaksikan acara akbar itu. Apalagi melihat semangat rakyat Bangkok yang mulai memadati sepanjang jalan protokol sekitar Grand Palace siang itu. Kalau dilihat dari atas, pasti sebentar lagi kawasan ini bagaikan lautan dipenuhi rakyat Bangkok yang mengenakan baju berwarna kuning, yang merupakan simbol rasa cinta, kesetiaan dan hormat mereka kepada sang Raja. Tapi gue mendapat informasi bahwa iring - iringan akan dimulai sekitar jam 3 sore nanti. Gue pun urung tinggal, walaupun hati gue sebenarnya pengen banget.

Menikmati jalan protokol Grand Palace yang steril
Gue mengingatkan diri sendiri bahwa gue harus antisipasi perjalanan menuju Airport yang mungkin akan macet sebagai dampak dari acara kerajaan ini. Gue pun kembali berjalan kaki menuju Khaosan Immjai. Sebelumnya gue mampir ke Khaosan Road untuk beli tiket shuttle minivan dari Khaosan ke Don Mueang International Airport seharga 200 bath, yang banyak ditawarkan oleh tour - tour agent di kawasan Khaosan Road. Selain itu gue juga sempat mampir ke kios Hongkong Noodle dekat Khaosan Immjai untuk makan siang kilat.

Sekitar jam 4 kurang 10 menit, gue meninggalkan Khaosan Immjai untuk menuju Khaosan Road, menunggu shuttle van yang akan mengantar gue ke Don Mueang Int. Airport. Dengan segudang kenangan indah dan seru gue di kawasan ini dan juga kota ini, rasanya berat banget untuk mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal Bangkok, semoga suatu saat nanti Yesus akan ijinkan gue kembali untuk menikmati keindahan dan kenyamanan kota ini.

Monday, December 29, 2014

Hari Ketiga : Nostalgia Ayutthaya

Sejak masih di Jakarta, gue sudah memantapkan hati untuk memasukkan "Ayutthaya" dalam agenda wisata Bangkok kali ini. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama pada kota ini sejak 4 tahun lalu.....Bagi gue Ayutthaya menyimpan sejarah dan peradaban tua Thailand yang masih tetap lestari sampai saat ini. Berada di kota ini, berasa mesin waktu berhenti sejenak, dan gue dibawa ke masa - masa lampau ketika sejarah kota dan negeri ini sedang diukir.

Tour ke Ayutthaya ini gue lakukan di hari ketiga gue di Bangkok, 01 Desember 2014. Untuk ke sini, gue menggunakan jasa Mama Tour and Travel, agent yang sama yang gunakan tahun 2010. Sebenarnya di Bangkok, tepatnya di Khaosan Road dan Ranbuttri Road, ada banyak pilihan Tour and Travel agent yang murah meriah. Namun karena gue ingin bernostalgia, kembali ke kenangan pertama kali ke Bangkok 2010 yang lalu, maka gue pun kembali ke Khaosan Road mencari kantor Mama Tour and Travel Agent.

Kali ini gue harus membayar 550 bath untuk 1 day Ayutthaya, Bang Pa - In dan
 Summer Palace tour. Tahun 2010 yang lalu gue membayar 400 bath untuk 1 day Ayutthaya tour. Kesepakatan harga didapat dengan cara negosiasi alias tawar - menawar sebelumnya dengan pihak agent. Mungkin sebenarnya harganya bisa lebih rendah dari itu, tapi berhubung gue amat sangat bersemangat berkunjung ke Ayutthaya lagi, ditambah perhitungan bahwa kali ini gue bakal dapat 'bonus' Bang Pa - In dan Summer Palace, menurut gue harga tersebut pas. Bonus lainnya, gue akan dijemput dari Khaosan Immjai. Sebenarnya ini bukanlah suatu kemewahan dan keharusan buat gue, karena berjalan kaki menuju Khaosan Road, yang merupakan meeting point tournya, adalah rutinitas yang sangat gue nikmati.

Di hari itu, 01 Desember 2014, selesai sarapan roti gosong favorit, gue dijemput oleh pihak tour agent sekitar jam 7 pagi lewat, menuju ke kantor salah satu tour agent di Khaosan Road. Di sana beberapa peserta tour sudah menanti. Dan penantian pun berlanjut panjang....penantian tanpa kejelasan....Untuk gue pribadi ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena beginilah yang gue rasakan 4 tahun silam. Semua peserta diminta berkumpul di meeting point jam 7 pagi. Lalu dibiarkan menunggu, namun ngga jelas nunggu apaan. Staff tour agentnya tampak sibuk masing - masing....berkata - kata, menelepon, atau kadang berteriak dalam bahasa Thailand, yang tentunya gak ada satupun peserta yang mengerti. Kalau ada peserta yang bertanya, menunggu apa, menunggu sampai kapan, dan sebagainya...paling dijawab dengan logat Thailand kental, "Please be patient, Mam/Sir..." Trus nanti staff - staff tersebut mendekat ke peserta, menempelkan stiker ke baju peserta sesuai dengan paket tour masing - masing, lalu mereka kembali disibukkan entah oleh apa. Meninggalkan sekelompok peserta yang bertambah bingung dan agak panik, karena warna stiker yang ditempelkan ke masing - masing peserta ternyata berbeda. Perbedaan warna stiker tergantung pada fasilitas yang akan didapatkan peserta, dan pembedaan warna tersebut untuk memudahkan pihak tour agent berikut supir. Karena stiker warna tertentu berarti termasuk fasilitas antar kembali ke hotel saat tour selesai. Ada juga stiker yang membedakan paket tour yaitu antara tour Ayutthaya saja atau paket lengkap Ayutthaya, Bang Pa - In & Summer Palace, dan semacamnya.

Akhirnya, menjelang jam 8 pagi, 2 mobil tour berangkat meninggalkan Khaosan Road menuju Ayutthaya. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam, sampai gue tiba di tujuan pertama Wat Phu Khao Thong. Di sini gue sempat membeli topi anyaman seharga 50 bath, karena ngga tahan sama mentari pagi itu yang begitu menyengat.

all is white...all is bright...
(Wat Phu Khao Thong)
Wat Phu Khao Thong
Masih di area sekitar Wat Phu Khao Thong
Dari Wat Phu Khao Thong, perjalanan pun berlanjut menuju Wat Lokayasutharam. Wat Lokayasutharam adalah lokasi di mana patung Buddha Tidur sepanjang 42 meter berada. Tiba di tempat ini, hati gue menjadi terharu dan sedikit sentimentil. Jika menarik mundur waktu ke sekian tahun silam....yang bikin gue penasaran akan Bangkok dan sekitarnya adalah ketika nonton acara "Backpacker" di TV One tahun 2008 - 2009 lalu yang dibawakan oleh Yulika Satria Daya. Saat itu Yulika sedang mengeksplorasi Thailand, tepatnya Ayutthaya juga. Dan ketika Yulika berada di depan patung Buddha Tidur raksasa itulah gue bilang dalam hati, "Yesus, itu keren banget....gue mau ke sana !" Tentunya harapan gue itu cuma bisa gue bisikkan dalam hati, karena kalo gue bilang ke Mama saat itu, "Ma....itu keren banget, Cei mau ke sana !" paling Mama cuma akan menyahut, "Jangan macam - macam kau....memang kau pikir gak jauh itu ? Terlalu panjang kakimu!" Dan dengan perjuangan mencari tiket promo Air Asia, akhirnya gue bisa berangkat ke Bangkok, pada Februari 2010, sebagai perjalanan ulang tahun gue. Puji Tuhan!

Nice to see you again, Reclining Buddha !
(Wat Lokayasutharam)

Wat Lokayasutharam
Tujuan berikutnya adalah ke Wat Mahathat dimana gue kembali bisa 'bertemu' dengan kepala Buddha yang terdapat di sebuah pohon. Gue mencoba menarik mundur kembali, apa yang melatarbelakangi hingga gue bisa berada di icon fenomenal ini 4 tahun lalu. Simpel dan sederhana, yaitu karena suatu ketika gue melihat fotonya di sebuah majalah National Geographic Traveler, kalau ngga salah, di Gramedia. Seketika gue bermimpi untuk ke sana. Dan akhirnya Yesus membukakan jalan untuk mewujudkan mimpi gue.

Kepala Buddha (Wat Mahathat)
Patung - patung Buddha tanpa kepala di Wat Mahathat
Sisa - sisa kemegahan Wat Mahathat
Dari Wat Mahathat, berikutnya group tour menuju Wat Phra Sri Sanphet dan juga Viharn Phra Mongkolbopit. Di sini setiap peserta tour dapat menikmati makan siang gratis (ngga termasuk minum) dengan menu tradisional Thailand.

3 (tiga) stupa Wat Phra Sri Sanphet
Tujuan akhir dari tour ini adalah Summer Palace di Bang Pa - In. Komplek Istana keluarga Kerajaan ini lumayan luas dan terdiri dari banyak bangunan dengan gaya berbeda - beda, ada yang bergaya Thailand, Eropa aristokrat, oriental, kolonial dan lainnya. Masing - masing bangunan memiliki nama yang sama indahnya. Pengunjung bisa menyewa semacam mobil golf untuk berkeliling komplek istana dengan membayar 400 bath per mobil. Di sini gue harus meminjam sarung yang disediakan petugas (dengan uang jaminan 200 bath) karena saat itu gue memakai rok selutut. Berhubung gue ngga menyewa mobil dan kini memakai sarung panjang, eksplorasi komplek istana nan luas ini dengan berjalan kaki menjadi tantangan tersendiri. 

Excellent and Shining Heavenly Abode
Ho Withun Thasana (Sages' Lookout)

Wehart Chamrunt
(Heavenly Light)

Welcome to Wehart Chamrunt :)
Di depan Aisawan Thiphya-A (Divine Seat of Personal Freedom)
Gue sempat mampir ke beberapa bangunan yang paling menonjol di lokasi ini. Karena keterbatasan waktu, ngga semua bangunan - bangunan indah itu bisa dijelajahi. Lagian, ngga semua bangunan bisa dimasuki pengunjung ....Maklumlah, ini kan istana kerajaan. Sampai saat ini Summer Palace masih digunakan oleh Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit untuk menerima serta menjamu tamu.

Di akhir kunjungan gue di Summer Palace ini, gue baru nyadar bahwa gue kehilangan topi anyaman gue yang murah meriah....mungkin gue meninggalkannya di suatu tempat. Selama di sini, gue memang terkadang melepas topi tersebut ketika masuk ke beberapa bangunan. Dan sekarang, hilanglah topi keren gue itu! Ternyata kebiasaan ceroboh gue meninggalkan barang - barang masih belum sembuh.  

Akhirnya tour hari itu pun berakhir....cukup untuk mengobati rasa kangen gue akan kota ini. Makasih Yesus karena cuaca Ayutthaya hari itu cerah banget dan menjadikan tour nostalgia gue kali ini seru dan tak terlupakan.

Wednesday, December 24, 2014

Raja, Anjing, dan Hiruk Pikuk Bangkok

Tidur siang di Wat Lokayasutharam
Kayaknya ada pemandangan yang sedikit beda di kota Bangkok ini, dibandingkan dengan ketika pertama kali gue menginjakkan kaki di sini, tahun 2010 yang lalu. Kalau dugaan gue gak salah, sepertinya populasi anjing di kota ini berkembang pesat. Anjing ada dimana - mana, seakan - akan bersaing jumlah dengan penduduk Bangkok yang juga banyak. Baik di jalan umum dan trotoar, di wat - wat (temple), di pasar, halte bus, dan lainnya. 

Kalau gue perhatiin, anjing - anjing ini emang gak bersih - bersih amat....tapi kebanyakan memakai kalung dan bertubuh gemuk. Berarti mereka tidak terlantar, dan ada yang memperhatikan dan peduli untuk memberikan mereka makanan.

Menikmati pagi di Wat Chanasongkram
Yang menarik, gue ngga melihat adanya semacam benturan antara penduduk manusia dan penduduk anjing di kota ini. Keduanya hidup akur, damai dan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ketika sekelompok anjing sedang bersantai di suatu sudut jalan, orang sekitar lalu-lalang tanpa merasa terganggu, takut atau terancam keselamatannya. Si kaki empat pun demikian...tampak tenang dan asyik sendiri, tidak mengganggu tetangga manusianya. Sebagai pemilik dan penyayang anjing, ini pemandangan yang menyenangkan untuk gue.

Suatu ketika di Ayutthaya, gue melihat poster besar memuat foto Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, sedang duduk dan di sisinya ada seekor anjing berwarna coklat tembaga. Anjing tersebut bernama Thong Daeng, yang tadinya merupakan anjing terlantar dan kemudian diadopsi oleh Raja di tahun 1998. Thong Daeng adalah anjing Raja yang paling terkenal dari sekian banyak anjing yang dimilikinya, dan menginsipirasi Raja menulis sebuah buku berjudul "The Story of Thong Daeng". 

Di bukunya tersebut Raja bercerita bahwa Thong Daeng adalah anjing yang penuh rasa hormat, bertingkah laku baik, rendah hati dan mengerti protokol. Anjing betina ini selalu duduk lebih rendah dari sang Raja, bahkan ketika Raja menariknya untuk memeluknya, Thong Daeng akan menurunkan badannya ke lantai. Kedua telinganya dalam posisi terkulai, seakan - akan dia hendak berkata "Saya tidak berani". Saking terkenalnya Thong Daeng, bahkan anjing ini punya halaman Wikipedia sendiri (Thong Daeng).

Raja Bhumibol Adulyadej adalah pecinta anjing sejati dan memberikan perhatian serta kasih sayang besar kepada anjing terlantar. Dalam tulisan - tulisannya, sang Raja sering mengingatkan rakyatnya untuk menaruh kepedulian kepada anjing terlantar, dengan cara mengadopsi dan menyediakan makanan serta tempat tinggal bagi mereka. Menurutnya, anjing terlantar yang diadopsi memiliki kerendahan hati serta kesetiaan yang luar biasa kepada pemiliknya sebagai ungkapan rasa terima kasih mereka kepada sang pemilik. 

Diambil dari Google Image
Diambil dari www.samuidog.org (The King And His Dog)
Diambil dari www.samuidog.org (The King And His Dog)
Sekarang gue mulai bisa mengerti, mengapa penduduk Bangkok (dan mungkin Thailand pada umumnya), begitu menghargai kehadiran mahluk berkaki empat ini di tengah - tengah kehidupan mereka. Mungkin karena teladan Sang Raja yang sangat mereka cintai dan kagumilah yang menginspirasi mereka.

Untuk gue pribadi, yang selama ini hanya mengetahui sosok Raja Bhumibol Adulyadej dari poster - poster besar yang ada dimana - mana, rasa kagum dan hormat gue kepada beliau semakin bertambah. Betapa seorang Raja dengan posisinya yang demikian tinggi dan terhormat menunjukkan sisi manusiawinya dengan mencintai dan merawat anjing - anjing (terlantar) dan bahkan menunjukkan kepedulian setinggi - tingginya bagi mereka, di hadapan seluruh rakyatnya. Bukan hanya hal - hal luar biasa bertema politik, kenegaraan, ekonomi nasional dan lain sebagainya yang beliau sampaikan kepada rakyatnya, namun juga  pesan 'kecil' bermakna besar, yaitu agar rakyatnya menaruh kepedulian kepada para anjing terlantar.  Untuk gue pribadi, teladan yang Raja berikan begitu menyentuh dan menyejukkan hati. Menurut gue, beliau bukanlah Raja bagi Rakyat Thailand semata, melainkan juga Raja bagi para anjing terlantar.