I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, February 14, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Ketiga)


 15 Januari 2016.

Gue bangun tidur dengan badan masih pegal. Tidur gue semalam, yang cukup singkat, belum bisa membayar rasa lelah perjalanan selama 8 jam dari Makassar ke Tana Toraja kemarin. Tapi berhubung kemarin malam gue sempat sok percaya diri bisa bangun pagi dan minta Bang Ino untuk jemput sepagi mungkin, dengan berat, gue melangkah meninggalkan kasur gue yang minimalis itu.

Begitu mematikan exhaust fan kamar yang super berisik, gue baru bisa mendengar kalau di luar sana sedang turun hujan. Hmm....sebenarnya gue ngotot minta dijemput pagi karena Bang Ino kemarin bilang akan mengantar gue ke tempat, mungkin yang dimaksud daerah pegunungan gitu, dan gue langsung membayangkan pemandangan yang dimaksud seperti....negeri di atas awan, gitu. Tapi kalau hujan begini, akankah gue beruntung melihat pemandangan indah itu ? Lalu gue pun tiba pada pergumulan antara kembali ke kasur minimalis yang mempesona itu....atau mandi. Akhirnya gue melangkah ke kamar mandi dengan terseok-seok menahan kantuk.

Selesai mandi, gue berpakaian siap 'jalan', dan langsung terjun ke kasur lagi. Mumpung belum dijemput, gue akan menggunakan waktu sebijak mungkin....merebahkan badan. 

Ketika Bang Ino tiba di Wisma Sarla, sebenarnya gerimis masih turun. Tapi gue ngga punya pilihan, karena ngga mungkin nungguin hujan benar-benar reda. Begitu di luar wisma gue kaget dan bingung, karena kali ini Bang Ino menggunakan jenis motor trail. Gawat ! Ini bukan jenis motor favorit gue, dan gue hindari sebisa mungkin untuk menaikinya. Ngelihatnya aja sudah bikin cape duluan....gimana naiknya....gimana nanti pas duduk...??! Tapi saat itu gue ngga sempat protes, karena masih hanyut dalam kebingungan. Dengan postur gue yang overweight ini, untuk naik ke boncengannya aja adalah tantangan tersendiri.

Rasanya cuma setingkat lebih ringan dibanding ketika gue berusaha naik ke punggung kuda. Gue ingat waktu berlatih berkuda beberapa tahun silam....untuk naik ke punggung kuda adalah tantangan luar biasa yang gue hadapi. Gue harus dibantu oleh pelatih di sisi kiri, dan kadang Ony di sisi kanan kuda. Entah siapa bertugas apa....yang jelas, ketika kaki kiri gue sudah berpijak di sanggurdi, gue memerlukan bantuan baik fisik maupun mental, agar bisa mengangkat body tambun gue (yang pemalas ini) hingga mendarat di pelana, dan memposisikan kaki kanan di sanggurdi kanan. Kadang gue menggunakan cara curang, yaitu dengan menaiki pagar terlebih dahulu, yang gue gunakan sebagai tangga untuk 'naik' ke punggung kuda. Dan jika hal itu gue lakukan, gue akan mendapatkan teguran sinis dari sang pelatih. Ahh...dia ngga ngerti aja betapa beratnya beban bobot gue dan gerakan yang menurut dia sepele semacam itu ngga mudah untuk gue lakukan.

Dan hari ini gue harus berpetualang seharian dengan motor trail. Untuk naik ke atas boncengan gue harus pegangan pada punggung Bang Ino, yang gue yakin pasti terbebani dengan bobot gue yang ngga ringan....biarin....Tantangan berikutnya dimulai tepat ketika motor mulai melaju menuju Batu Tumonga. Ya Tuhan....gue serasa sedang menunggang kuda, tapi kali ini tanpa tali yang bisa gue gunakan untuk pegangan sekaligus kendali. Ngga berdaya....Jadilah gue pasrah berpegangan pada bagian belakang motor, entah apa namanya itu....dan setiap kali tangan gue memegangnya, gue bisa merasakan basah dan kotornya bagian itu, dan gue harus berulang-ulang membersihkan tangan dengan tissue. Kejamnya motor trail!

Tantangannya bertambah berlipat-lipat karena selain jarak yang ditempuh sangat panjang, juga medan yang ngga mudah dan mulus. Kadang menanjak tajam....lalu menurun....kadang jalannya mulus....kadang becek, licin dan berbatu. Yang bisa gue lakukan cuma berusaha (tampak) tenang, dan sesekali menyelipkan doa kepada Yesus sang Maha Pelindung, supaya gue ngga terjatuh atau terpeleset, atau terjungkal ke belakang. Jika itu terjadi, gue mungkin ngga akan tewas....tapi selain itu menyakitkan dan memalukan, gue juga memikirkan kalau celana dan baju yang gue kenakan ngga boleh sampai basah dan kotor, karena stok baju dan celana yang gue bawa dari Jakarta sangat minim.

Meskipun bukan gue yang mengendarai motor, dan bukan gue yang harus membonceng turis Jakarta bertubuh tambun, tapi rasanya gue yang paling lelah dibandingkan Bang Ino. Lelah karena sepanjang jalan menahan rasa takut....

Target pertama untuk melihat 'negeri di atas awan' ngga sesukses yang diharapkan....tapi gue maklum, karena cuaca ngga mendukung. Dan untuk gue pribadi yang tinggal di Jakarta, bisa menyaksikan hamparan dan gerakan kabut, di atas bukit dan sawah, adalah keindahan yang mata gue ngga pernah lihat sebelumnya.

Lokasi selanjutnya adalah Lokomata, kuburan pada batu berukuran besar, yang posisinya dekat dengan jalan utama. Momen di mana gue bisa 'beristirahat' dari motor trail itu adalah momen yang paling gue syukuri. Karena gue bisa mengistirahatkan diri secara fisik dan mental dari perjalanan super menantang itu. Di sini selain bisa memanjakan mata demi melihat kuburan-kuburan khas masyarakat Toraja, keasyikan lainnya adalah gue bisa merendam kaki dengan aliran air yang dingin dan menyegarkan, karena ada semacam sungai kecil di depannya.

Hal menyenangkan dengan di-guide oleh Bang Ino adalah kesabarannya meladeni kemauan, mood, dan sikap gue yang banyak maunya dan kadang aneh, dan juga karena dia cukup fleksibel dalam menuruti permintaan gue. Fleksibel juga dalam hal waktu, karena kayaknya sejauh ini gue diberi kebebasan untuk menikmati suatu tempat, selama atau sesingkat waktu, sesuai keinginan gue. Contohnya kali ini....gue betah dan di'bolehkan' berlama - lama di sini, selain karena gue menikmati pemandangan dan ketenangannya....juga karena gue ngga ingin buru-buru kembali ke motor trail itu.

Lokomata
Lokomata
Berikutnya, gue diantar ke beberapa tempat menakjubkan lainnya yaitu Buntu Lobo' dan Situs Purbakala Bori. Yang paling membuat gue terpesona adalah Buntu Lobo'. Rasanya gue ngga pernah melihat keindahan (alam) semacam itu seumur hidup gue...dan ngga ada kata-kata yang bisa gue gunakan untuk mendeskripsikan tempat itu, pemandangan itu, yang membuat gue seakan-akan tersihir oleh keindahannya. Itu momen dimana hati gue cuma bisa berbisik, "Terberkatilah Tana Toraja, karena mereka memiliki alam seindah ini...." Gue agak berlama - lama di situ....sekali lagi....selain karena gue ingin membebaskan diri dari motor trail itu....karena gue juga ingin memuaskan mata melihat hamparan keindahan di hadapan gue, sambil dalam hati sedikit mengeluh, "Ya Yesus, jika gue merindukan tempat ini dan ingin kembali sini....betapa jauhnya jarak dan waktu yang harus gue tempuh...."

Buntu Lobo'
Buntu Lobo'
Bori
Bori
Pallawa
Pallawa
Pallawa
Nenek pemintal benang....sayang lupa nanya namanya :(
'Agenda' yang gue tunggu - tunggu pun tiba....jam makan siang !! Berhubung gue sudah berpesan sejak kemarin kalau gue ingin menikmati hidangan khas lokal, maka gue diantarkan ke sebuah warung makan, dimana, kata Bang Ino, gue bisa memesan menu pantolo' bale, yang katanya terbuat dari ikan lele. Tapi begitu melihatnya langsung, gue super terkejut, karena lelenya berukuran ekstra jumbo, dan gue ngga pernah lihat yang seperti ini di Jakarta atau di mana pun sebelumnya. 

Kelar makan, gue minta diantar kembali ke Wisma Sarla terlebih dahulu. Lumayan....di wisma gue sempat mandi, beristirahat sejenak, me-recharge handphone dan kamera, dan menelepon Mama. Menelepon Mama adalah agenda yang tidak boleh dilewatkan dan dilupakan, karena Mama bisa khawatir sejadi-jadinya jika dalam waktu tertentu tidak menerima kabar dari gue. Jika Mama sudah dalam level khawatir dan panik, biasanya Mama akan meminta seluruh anggota keluarga mulai dari Bapak, kedua abang, kakak, dan juga adik gue untuk turut serta mencoba menghubungi gue. Dan hal itu sedikit banyak membebani gue yang mungkin saja sedang berada di lokasi antah-berantah...begitu terlena menikmati petualangan gue, dan mendadak mendapatkan telepon masuk bertubi-tubi dari keluarga gue yang panik (tanpa sebab).

Gue pikir kali ini Mama lebih tenang melepas kepergian gue ke Makassar dan Tana Toraja, karena sesuai keinginannya, gue ngga keluar negeri, melainkan masih di wilayah Indonesia. Lalu kemarin, 13 Januari 2016, justru kejadian tak terduka terjadi di Jakarta, yaitu teror bom Thamrin. Karena daerah Thamrin dekat dengan lokasi kerja gue dan Anggira (di Sudirman), jadi asumsi gue Mama akan 'sibuk' dan fokus memikirkan keselamatan adik gue satu-satunya ini, putri bungsu Mama, kesayangan Mama, buah hati Mama, belahan jiwa Mama.....Anggira. Gue pikir Mama ngga akan terlalu memikirkan putri keempatnya yang panjang kaki dan doyan keluyuran, karena gue sedang berada nun jauh di luar pulau Jawa.

Tapi tanpa diduga-duga, ketika gue menelepon, Mama justru membuka percakapan dengan, "Cherrrr....Mama nonton di TV katanya di Makassar sedang siaga satu teror bom lhooo....!!" Haduuhh....! Gue jadi bingung....selain selama sejak di Makassar ngga sempat mengakses portal berita manapun, juga karena bingung merespon kekhawatiran Mama.

Di saat yang sama gue juga meratapi....kemana pun gue berpetualang, selalu ada saja alasan untuk Mama mengkhawatirkan keadaan gue. Sebelum keberangkatan ke Makassar rasanya gue ngga pernah mendengar berita negatif mengenai kondisi keamanan di Makassar. Tapi begitu gue tiba di sini hari pertama...jreengggg!!.....mendadak Makassar siaga satu teror bom!

"Cei kan lagi di Tana Toraja, Ma...."
"Tapi kau bakalan balik ke Makassar kan ? Waktu kau di Makassar hari Rabu (13 Januari 2016) kemarin itu gimana kondisi di Makassar ? Aman ngga ?" Duhh Mama....ini pertanyaan sulit banget....karena gue cuma beberapa jam saja di Makassar, dan kayaknya Mama lupa bahwa itu adalah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di sana. Jadi, bagaimana gue bisa membedakan kondisinya di saat aman atau ngga aman. Ancaman terberat gue selama di Makassar dan Tana Toraja tuh cuma panasnya matahari yang bikin saat ini kulit gue gosong hitam legam.
"Hmmmm.....kayaknya aman-aman aja, Ma..." Gue bingung memberikan jawaban tanpa terkesan takabur atau semacamnya. 
"Pokoknya hati-hatilah kau...ngga usah kau ke tempat ramai ya.....jangan ke Mall....memangnya ngga sempat kau lihat berita di sana? Ini beneran, Mama ngga mengada-ada. Makanya kemarin waktu lihat di berita, Mama langsung telepon kau....selalu berdoa kau, Cher !!"  Dan supaya Mama tenang, gue cuma menjawab, "Iya Ma...." sambil manggut-manggut.

Gue pun meninggalkan wisma lagi, menuju tujuan terakhir, Londa. Londa....dibandingkan dengan area kuburan yang sudah gue kunjungi di Toraja ini seinget gue ini yang paling besar (batunya...eh, tebingnya...? Hmmm....sampai sekarang gue masih bingung menyebutnya...) Dan daya tariknya karena saking besarnya jadi menyerupai gua-gua yang bisa disusuri oleh pengunjung, meskipun ngga terlalu dalam. Dan tentunya di dalam sana banyak terdapat peti-peti mati, tengkorak, tulang belulang, dan sebagainya. Agar bisa masuk dan melihat-lihat di dalamnya, gue harus menyewa jasa seorang penunjuk jalan yang siaga dengan sebuah lampu petromaks.

Londa unik dan keren....tapi dari semua kuburan yang sudah gue kunjungi selama di Toraja, favorit gue adalah Tampangallo, yang gue kunjungi kemarin. Alasannya, karena tempatnya sepi dan tersembunyi...sunyi...dan baik peti-peti mati, tengkorak dan tulang belulang serta patung-patung yang ada di sana tampak berusia jauh lebih tua. Alasan lainnya, karena tempat itu sudah bikin gue ketakutan setengah mati ketika memasukinya.

Sepulang dari Londa, hal yang gue lakukan adalah mengajak Bang Ino menikmati kopi Toraja yang fenomenal. Tentu saja gue memesan kopi yang paling 'ringan' karena gue ngga mau kopi ini mengganggu acara tidur gue di bus dalam perjalanan Toraja - Makassar nanti malam.

Londa
Londa
Londa
Londa
Londa
Londa
Dan akhirnya gue kembali ke wisma, dan dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal pada guide paling kooperatif, dan tentunya berjiwa petualang, yang pernah gue temui sepanjang sejarah kaki panjang gue melangkah alias traveling. Bang Ino adalah bagian penting dari perjalanan gue yang istimewa dan tak terlupakan di Tana Toraja selama dua hari ini. Dan gue sangat berterima kasih karena dia salah satu yang berperan mewujudkan impian ulang tahun gue untuk berkunjung ke Tana Toraja, yang meskipun singkat, namun sangat berkesan. 

Dan mengucapkan selamat tinggal pada Toraja ternyata lebih berat lagi. Rasanya ada sebagian dari hati gue tertinggal di sini, dan bikin gue sudah merindukannya meskipun belum melangkah meninggalkannya. Mungkin karena gue sudah lama memimpikan untuk ke sini....atau mungkin karena waktu gue di sini terlalu singkat....atau karena Toraja memiliki pesona keindahan, baik budaya maupun alamnya yang jauh melebihi harapan gue....atau karena dalam beberapa hal gue melihat budayanya yang sangat mirip dengan budaya Batak....entah deh. Bagi gue, perjalanan Toraja ini adalah salah satu hadiah ulang tahun paling istimewa yang pernah gue dapatkan. Makasih Yesus !

Saturday, February 13, 2016

Napak Tilas di Kediaman Jenderal Ahmad Yani


Hari ini akhirnya gue berkesempatan mengunjungi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi. Lokasinya berada di Jalan Lembang 58D, Jakarta Pusat. Gue sudah 'mengincar' museum ini sejak mulai pindah kerja ke Jakarta. Berarti sudah 2 bulan lebih...

Setiap pagi, dalam perjalanan commuter line tujuan Sudirman, gue akan melewatinya. Dan setiap pagi pula, setelah meninggalkan stasiun Manggarai menuju Stasiun Sudirman, gue akan memusatkan perhatian, dengan tatapan fokus, memandangi bangunan museum ini. Ngga peduli di saat kondisi gerbong commuter line lagi padat tak terkira sampai badan gue rasanya remuk redam dan bernafas pun sulit, atau di saat kondisinya lagi longgar, gue ngga akan mau berdiri jauh dari pintu kereta. Tujuan gue selalu mengambil posisi dekat pintu adalah supaya bisa melihat bangunan museum, meskipun cuma beberapa detik lamanya. 

Pernah juga ketika gue sedang malas makan siang di kantor, gue kepikiran untuk naik Gojek dan melarikan diri ke sini. Tapi batal, karena dengan begitu artinya gue cuma bisa menikmati berada di museum sekitar 1 jam....terlalu singkat. Dan akhirnya hari ini gue dan Ony bisa ke sana....cihuyyy!!

Museum Sasmitaloka Pahlawan tadinya adalah kediaman Jenderal Ahmad Yani, yang terakhir menjabat sebagai  Menteri/Panglima Angkatan Darat RI, beserta keluarganya. Rumah yang luas dan terkesan antik ini adalah saksi sejarah, tepatnya ketika Jend. Ahmad Yani diculik dan dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September, yang berlangsung mulai dari tanggal 30 September 1965 malam hingga 01 Oktober 1965. Ketika itu 7 (tujuh) orang perwira tertinggi Indonesia, salah satunya Jend. Ahmad Yani, serta beberapa orang lainnya, diculik dan dibunuh, sebagai bagian dari usaha pencobaan kudeta.

Gerakan 30 September ini kayaknya salah satu peristiwa sejarah yang paling melekat dalam ingatan gue, karena gue tumbuh di era dimana film propaganda berjudul Pengkhianatan G 30 S PKI diputar setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 30 September. Film yang menurut gue lebih menyerupai film horor daripada sejarah. Salah satu tagline yang paling fenomenal dan ngga akan gue lupakan dalam hidup gue adalah "Darah itu merah, Jenderal!" dan itu adalah sisa-sisa kenangan gue akan film yang suram dan mencekam itu.

Kembali ke Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi, nama ini memiliki maksud : tempat semangat juang, jasa, pengabdian dan pengorbanan Pahlawan Revolusi diabadikan. Memasuki rumahnya, gue bisa menyaksikan koleksi foto-foto Jend. Ahmad Yani. Baik dalam kiprah karirnya sebagai perwira Angkatan Darat, sampai dengan peristiwa Gerakan 30 September, dan yang bikin merinding, saat para jenazah korban dievakuasi dari Lubang Buaya.

Ketika masuk ke bagian utama rumahnya, pengunjung diperbolehnya untuk melihat - lihat seluruh kamar dan ruangan, mulai dari kamar tidur, ruang kerja, ruang makan, ruang tamu....semuanya. Urusan memotret pun disini diperbolehkan....kecuali ruang tidur Jend. Ahmad Yani. Kamar ini boleh dilihat, tapi memotret area ini dilarang. 

Seluruh ruang dan kamarnya masih berisi koleksi barang-barang dan properti seperti adanya ketika ditempati oleh Jend. Ahmad Yani dan keluarganya. Berada di sini beberapa saat, memandangi setiap barang, lukisan, dan foto-foto yang menghiasi rumah ini, dalam kesunyian yang ada, serasa masuk lorong waktu dan gue ditarik kembali ke tahun - tahun silam itu. Dan entah mengapa, hal itu menimbulkan perasaan kelam dan sedih, mengingat ada peristiwa mengerikan pernah terjadi di sini kala itu. 

Pintu masuk yang disediakan untuk pengunjung bukanlah pintu sembarangan. Pintu ini adalah salah satu saksi bisu peristiwa mengerikan yang terjadi pada 01 Oktober 1965 sekitar subuh. Saat itu, tiga orang prajurit berseragam datang menjemput sang Jenderal, dengan alasan untuk menghadap Presiden. Jend. Ahmad Yani pun bermaksud untuk berganti pakaian karena saat itu beliau masih menggunakan pakaian tidurnya. Namun prajurit berseragam tersebut menolak dan melarangnya, dan hal ini membuat sang Jenderal marah dan lalu menamparnya. Kemudian beliau menutup pintu, membalikkan badannya, dan melangkah menuju kamar tidurnya.

Dari balik pintu kaca inilah prajurit tersebut melepaskan tembakannya, diarahkan tepat pada sang Jenderal. Ketujuh peluru mengenai sang Jenderal. Sebagian peluru bersarang di tubuhnya, dan sebagian lagi tembus menerjang sebuah lukisan dan lemari. Jend. Ahmad Yani ambruk di lantai, dengan darah menggenang.

Dan tubuh sang Jenderal pun diseret melewati lorong dapur dan kamar mandi, menuju pintu keluar yang ada di samping rumah. Kondisi rumah saat itu, dengan jejak darah dimana-mana, didokumentasikan dalam bentuk rangkaian foto yang juga dipajang pada galeri yang terdapat di ruang awal ketika pengunjung masuk tadi.

Mendengar kisahnya dan berada tepat di lokasi kejadiannya, meskipun peristiwa itu terjadi sekitar 50 tahun silam, tapi perasaan ngeri demi membayangkan peristiwa sadis dan menyeramkan itu, ngga bisa terelakkan. 

Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi
Ruangan Ajudan
 
Ruang tamu
Pintu yang ditembus 7 peluru oleh
pasukan Cakrabirawa


Ruang Makan
Ruang Makan
Pesan Soekarno
Catatan harian Jend. Ahmad Yani
Benda - benda menarik lainnya yang gue lihat di sini, juga menimbulkan perasaan sentimentil tersendiri. Salah satunya adalah tulisan putri Jend. Ahmad Yani, Ibu Amelia, yang berjudul "Suara dari Keabadian".

7 peluru menembus dadaku, merobek-robek jasadku, sekujur tubuhku nyeri dan panas, kudengar tangismu, kudengar jeritanmu anakku, bapak....bapak, tetapi aku tidak berdaya, di tangan mereka.

Gue harus membacanya super perlahan...karena setiap kata yang gue baca, bikin gue merasakan pedih dan sedihnya, dan tanpa sadar mata gue sudah berkaca-kaca. 

Mereka melempar dan menginjak-injak tubuhku yang terluka parah, kemudian membawaku jauh, kudengar mereka berteriak :Yani wis dipateni, Yani wis dipateni.....

Kali ini, tak terhindarkan, gue membaca setiap untaian kata yang merupakan curahan hati Ibu Amelia, dengan air mata mengalir perlahan....Gue pun memutuskan untuk memotret tulisan dalam pigura itu agar bisa membacanya nanti di rumah. 

Ini salah satu museum paling mengesankan buat gue. Berada di sini seperti membaca lembaran sejarah dan membuat gue dan Ony bisa napak tilas peristiwa yang terjadi pada 01 Oktober 1965, yang berakhir dengan gugurnya sang pemilik rumah, sekaligus salah satu pahlawan revolusi, Jend. Ahmad Yani. Museum ini juga menyentuh sisi emosional gue, karena baik ketika berada di dalamnya atau pun ketika meninggalkannya, ada setitik perasaan sedih, suram, dan getir tersisa di hati gue.

Museum ini menjadi salah satu museum favorit gue. Dan gue yakin meskipun sudah berhasil mengunjunginya hari ini, tapi hari - hari esok saat commuter line yang gue tumpangi melintasinya, gue akan selalu memandanginya dengan rasa kagum.

Monday, February 08, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Kedua)

Kete Kesu

14 Januari 2016.

Menjelang subuh gue terbangun dari tidur di dalam bus yang mengantar gue dari kota Makassar ke Tana Toraja. Sebenarnya ini sudah kali kesekian gue terbangun....sebelumnya gue sempat terbangun karena 'terganggu' oleh jalan yang berkelok-kelok yang bikin agak sedikit mual. Dan kali ini berhubung waktu sudah menunjukkan sekitar jam 05:00 pagi dan meskipun masih gelap namun gue sudah mulai melihat bayangan rumah - rumah Tongkonan, perasaan bahwa gue sudah tiba di Tana Toraja bikin bersemangat saking senangnya.

Bus tiba di pool sekitar jam 06:00 pagi kurang. Gue langsung menelepon Bang Ino untuk menjemput gue. Abang Ino ini gue kenal dari seseorang yang gue kenal di Facebook, tepatnya di group "Makassar Backpacker". Jadi, sejak sekitar Juli 2015 lalu, tepatnya di saat gue nyaris mewujudkan impian gue untuk ke Tana Toraja, gue langsung berusaha mencari informasi sebanyak mungkin mengenai Makassar dan Tana Toraja, salah satunya dengan bergabung dalam group ini. Singkatnya gue berkenalan (secara online) dengan seseorang bernama Sahidin. Komunikasi gue dengannya seingat gue dimulai di awal Januari 2016....karena kebiasaan gue menyiapkan perjalanan memang selalu di detik-detik terakhir.

Sahidin dengan ramah dan baiknya menawarkan diri untuk menjadi teman perjalanan gue selama di Makassar. Gue girang bukan main! Namun saat itu gue masih bingung mengenai Tana Toraja. Bagaimana caranya gue menjelajah Tana Toraja ? Gue pun meminta saran pada Sahidin, yang akhirnya merekomendasikan gue untuk menghubungi seseorang di Tana Toraja bernama Ino, yang selanjutnya selalu gue panggil 'Bang Ino'.

Sebelum berangkat ke Makassar, gue berkomunikasi dengan keduanya melalui telepon serta WhatsApp, dan berusaha mengumpulkan informasi dan gambaran sebanyak mungkin mengenai rencana perjalanan gue. Benar-benar mukjizat....beberapa saat sebelum keberangkatan, gue enggan dan ngga bersemangat sama sekali dengan rencana perjalanan ini. Setelah gue bulatkan niat, Yesus berturut - turut memberikan begitu banyak kemudahan melalui uluran tangan banyak orang. Dalam sekejap kebingungan dan kebuntuan dalam menyiapkan perjalanan ini terselesaikan dengan mulus. Dalam sekejap keengganan gue berubah menjadi semangat berapi-api, justru jadi ngga sabar untuk berangkat ke Makassar.

Dari pool bus, Bang Ino mengantar gue ke sebuah penginapan bernama Wisma Sarla yang hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari pool bus. Dekat banget! Dan lagi-lagi rasanya pengen loncat saking girangnya, karena penginapannya super nyaman dan harganya sangat terjangkau. Begitu tiba di kamar, gue langsung bersiap-siap untuk mandi. Kelar mandi, gue merebahkan badan dan tertidur.

Sekitar jam 09:00 meskipun badan masih pegal dan mengantuk, gue terbangun. Bang Ino sudah menunggu di ruang tamu wisma. Dengan kepala masih berputar-putar karena keinginan untuk tidur yang belum terpuaskan, perjalanan pagi itu pun dimulai.

Seluruh perjalanan yang gue lakukan di Toraja ini menggunakan sepeda motor. Tentunya Bang Ino yang jadi pengemudinya. Tujuan pertama, karena gue kelaparan, adalah mencari sarapan. Gue diantar ke sebuah warung makan sederhana, dan menikmati nasi ketan dengan lauk ayam.

Setelah itu gue diantar ke.....desa adat Kete Kesu!! Gambaran deretan Tongkonan yang saling berhadap-hadapan dengan deretan lumbung, yang terekam dalam pikiran gue selama ini, akhirnya terwujud di hadapan gue. Tongkonan - Tongkonan itu....sudah bikin gue terpesona sejak masih gue masih kecil. Ternyata aslinya jauh lebih mempesona. Yang menurut gue unik dan bikin gue takjub, Tongkonan bentuknya nyaris mirip sama rumah adat batak, yaitu Rumah Bolon. Kayaknya perbedaan yang paling besar hanya di bentuk atapnya saja....tapi selebihnya, termasuk detil warna ukiran-ukiran yang menghiasi kedua rumah ada tersebut, nyaris sama.

Selain tongkonan dan lumbung, ngga beberapa jauh jaraknya dari sini, gue diajak ke...apa ya sebutannya ? Tebingkah ? atau batu besarkah? yang merupakan semacam pekuburan tradisional. Begitu melihat dari kejauhan, perasaan gue campur aduk...antara senang dan takjub luar biasa, karena akhirnya bisa melihat pekuburan tradisional khas Toraja yang fenomenal dan bikin gue penasaran selama ini, tapi juga takut dan ngeri.

Kete Kesu




Pemakaman Kete Kesu


Pemandangan peti-peti kayu yang nampak sangat tua entah sudah berapa puluh atau ratus tahun usianya, dengan tulang-belulang dan tengkorak terhampar di mana - mana...semuanya itu ada yang diletakkan di tanah atau bahkan digantung di dinding - dinding tebing, bagi gue yang pertama kali melihatnya, gila.....benar-benar surreal ! Sementara Bang Ino berbagi cerita dan mulai memperkenalkan mengenai adat dan kebiasaan warga Toraja khususnya dalam hal upacara kematian, pikiran gue asyik tenggelam dalam rasa takjub dan secuil ngeri demi melihat pemandangan kental akan kesan mistis, di hadapan gue.

Dari Kete Kesu gue diajak ke Desa Karuaya. Sejak awal berkomunikasi dengan Bang Ino gue bilang kalo gue pengen banget menyaksikan upacara Rambu Solo, yaitu upacara pemakaman tradisional khas Toraja. Kabar gembiranya, kebetulan di desa ini akan diadakan upacara tersebut. Meskipun hanya bisa menyaksikan dari luar, ditemani oleh sinar matahari yang menyengat, tapi gue cukup menikmati ritual yang sedang berlangsung di hadapan gue. Lagian, kayaknya gue turis di Tana Toraja yang paling beruntung saat itu karena gue ditemani oleh seseorang kayak Bang Ino yang warga lokal dan sangat fasih dan mengenal budaya Toraja, dan yang terpenting, aktif banget berbagi cerita dengan gue.

Namun begitu upacara memasuki proses menyembelih kerbau sebagai kurban, tepatnya ketika mata gue melihat seseorang menebas leher sang kerbau dan darahnya mengucur dengan derasnya....dengan serta merta gue langsung memalingkan wajah, lemas dan kehilangan semangat dan hasrat untuk melanjutkan menonton upacara. Bahkan dalam sekejap gue kehilangan minat untuk berada di tempat itu. Gue menghormati adat dan kebudayaan suku Toraja, atau suku manapun yang memiliki ritual yang sama.....Tapi sejujurnya, ini bukan bagian yang ingin gue saksikan. Gue ngga pernah tega melihat pemandangan begini...Rasanya langsung shock dan pengen nangis karena ngga tega. Apalagi sebelum meninggalkan lokasi gue masih melihat kedua kerbau tersebut masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan berusaha melakukan perlawanan. Dalam hati gue menggumamkan doa, "Ya Yesus, tolong hentikan penderitaannya....cabut nyawanya sekarang juga! Gue mohon, Yesus..." Meninggalkan lokasi tersebut memberikan rasa lega yang mendalam.

Upacara Rambu Solo di desa Karuaya
Selanjutnya Bang Ino mengantar gue ke Kambira, dimana terdapat makam bayi (baby grave). Yang unik, makam - makam bayi tersebut hanya berupa lubang kecil pada batang pohon taraa' dan ditutupi oleh semacam ijuk. Bayi - bayi yang dimakamkan di sini adalah bayi - bayi yang belum tumbuh gigi. Melihat pohon dengan sekian banyak makam bayi memenuhi setiap sisinya....gue kehabisan kata-kata....entah apalagi kata yang bisa gue gunakan untuk menunjukkan rasa takjub dan kagum gue atas adat istiadat suku Toraja terlebih dalam hal memperlakukan kematian.

Makam bayi, Kambira
Dari Kambira, Bang Ino membawa gue ke obyek wisata Tampangallo. Ini pemakaman paling sensasional menurut gue....sensasinya timbul karena untuk memasukinya pengunjung harus melewati semacam pintu gua nan gelap gulita. Gue takut akan gelap, ingat ?? Dan gue ataupun Bang Ino saat itu ngga membawa senter atau alat penerangan apapun. Jadi, ketika memasuki pintu gua, yang gue lakukan adalah mencengkeram lengan Bang Ino sekuat tenaga....gue ngeri setengah mati, dan berusaha memastikan Bang Ino ngga akan meninggalkan gue bahkan dalam jarak sesentimeter pun! Di luar dugaan, tempat pemakaman tersebut sebenarnya bukan gua, dan tidak juga gelap. Karena pemakaman tersebut terbuka dan menghadap ke area pesawahan, kalau gue ngga salah inget. Yesus....ini justru pemakaman paling menakjubkan yang gue lihat sejauh ini. Karena ada kesan 'tersembunyi' dan personal. Apalagi untuk memasukinya harus dengan cara dramatis kayak gitu...

Tampangallo
Tampangallo



Tujuan berikutnya adalah Suaya....yang merupakan lokasi pemakaman raja - raja Sangalla dan keturunannya. Sepi, ngga ada pengunjung lainnya selain gue dan Bang Ino. Di titik ini bisa dibilang kedua mata gue sudah mulai membiasakan diri melihat 'komplek' dan lokasi pemakaman khas Toraja. Terbiasa....tapi ngga menghapus rasa takjub yang spontan timbul tiap kali melihat pemakaman seperti ini....tapi dalam arti, di titik ini sudah tidak ada lagi rasa takut atau ngeri....(yakin, Cher ?!)

Suaya

Target berikutnya....makan sianglah! Saking sibuknya berwisata makam-makam keren di sini, gue sampai lupa waktu makan. Bahkan dari tadi gue belum minum ! Jika sesuatu bisa mengalihkan pikiran gue, sampai - sampai gue mengesampingkan kebutuhan serta keinginan makan dan mengunyah, yang biasanya begitu dahsyat dan menggebu-gebu....berarti 'sesuatu' sangat hebat luar biasa. Gue dan Bang Ino makan siang di Warung Solata. Di situ gue memesan menu kuliner khas Toraja, pa'piong babi, yaitu daging babi ditambah sayuran dan rempah-rempah tertentu dimasak dalam wadah bambu. Dihidangkan bersama nasi dan cabe khas Toraja yang enak dan pedas banget ! Dan entah karena gue sudah lapar maksimal....atau karena menu daging babi ini mengingat gue akan akan perpaduan sangsang dan babi panggang khas Batak....bagi gue hidangan ini lezat tak terkira!

Karena perut sudah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Dari tadi pagi gue sudah berpesan ke Bang Ino agar, jika memungkinkan, mengantarkan gue ke Patung Tuhan Yesus Memberkati...gue melihat 'sosok'nya di atas bukit nanti tinggi...jadi semacam halusinasi atau fatamorgana buat gue pagi tadi....pertama karena saat melihatnya gue dalam keadaan lelah dan mengantuk....kedua, karena gue baru tahu bahwa Toraja juga memiliki Patung Tuhan Yesus Memberkati. Dan karena Bang Ino super baik dan mengerti keinginan tamunya yang kali ini sangat bawel, maka dengan perjuangan ngga mudah dan singkat, gue diantar ke puncak Buntu Burake. Di sana dengan takjub dan ngos-ngosan karena harus meniti banyak anak tangga, gue memandang Patung Tuhan Yesus Memberkati dengan tinggi total mencapai 40 meter tersebut. Dari atas situ, rasanya gue bisa melihat hampir sebagian besar wilayah Toraja yang indah ini.


Patung Tuhan Yesus Memberkati, Buntu Burake

Meskipun belum puas dan masih kelelahan di Buntu Burake, perjalanan harus dilanjutkan menuju lokasi terakhir, Lemo. Lemo adalah kuburan di dinding batu besar atau tebing, ditandai dengan semacam 'jendela-jendela' berbentuk kotak. Setiap kali gue melihat pemakaman khas Toraja seperti ini, rasa takjub gue muncul karena membayangkan kerja super keras yang melewati batas akal pikiran gue sekalipun alias tak terbayangkan....bagaimana mereka membuat 'lubang' makam di batu seperti itu ? Apalagi dengan tantangan ketinggian seperti itu ? Lalu membawa, memindahkan dan memasukkan jenazahnya ? Di pikiran gue melayang-layang segudang pertanyaan yang diawali dengan, 'bagaimana caranya....?'

Lemo
Lemo

Lemo adalah penutup wisata gue yang menganggumkan hari ini. Bang Ino mengantarkan gue kembali ke Wisma Sarla. Hari ini mendapatkan pengalaman yang luar biasa menakjubkan...Toraja sudah membuat gue terpesona sedalam-dalamnya sejak awal kedatangan gue.

Malam itu selepas mandi dan beristirahat, gue meninggalkan Wisma Sarla, untuk melihat - lihat area sekitar wisma di malam hari. Gue pun menyempatkan diri mampir di pool bus Litha untuk membeli tiket bus tujuan Makassar. Ahh....sebenarnya gue ngga mau kembali ke Makassar keesokan harinya...tapi keputusan harus dibuat secepat kilat, mengingat stok tiket bus yang menipis.

Gue kembali ke wisma. Dan malam itu rasanya gue sulit untuk tertidur, karena pikiran gue terus-menerus 'memutar' hal-hal luar biasa yang gue kunjungi dan lihat hari ini. Makasih Yesus, untuk hari pertama di Toraja yang super keren!

Sunday, February 07, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Pertama)


Seperti biasa, di Januari 2016 ini gue kembali merayakan hari ulang tahun dengan cara sendiri, yaitu traveling. Tentunya bukan pas di hari ulang tahun gue, karena Mama pasti bakal sedih dan marah kalo pas di hari itu gue ngga merayakan bersama keluarga. Meskipun 'perayaan' dimaksud sekedar doa bersama di rumah.

Yang agak berbeda kali ini, dibandingkan dengan kebiasaan yang gue lakukan sekitar 5-6 tahun terakhir adalah gue ngga ke luar negeri, melainkan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Tujuan utama gue sebenarnya bukan Makassar, melainkan Tana Toraja. Tana Toraja, sudah bikin gue penasaran sejak lama. Sejak lama....tepatnya karena dari kecil gue selalu melihat miniatur rumah Tongkonan di kamar Tulang (paman, adiknya Mama) Suhunan, yang kebetulan menetap di rumah kala itu. Kenapa melihat rumah adat aja bikin penasaran menjurus obsesif begitu sih ? Entah deh...Rasa penasaran dan hasrat menggebu-gebu gue untuk mengunjungi suatu lokasi, terkadang dipicu oleh hal yang sepele banget sebenarnya. Terus rasa penasaran gue semakin 'diperparah' karena bertahun-tahun yang lalu melihat liputan Prita Laura presenternya MetroTV ketika berkunjung ke Tana Toraja, dalam acara "Archipelago".

Sebenarnya rencana gue untuk berkunjung ke Makassar dan Toraja dijadwalkan pada Agustus 2015 yang lalu. Gue sudah nyaris membeli tiketnya secara spontan....untung saat itu gue sedikit bersabar (tumben), dan memikirkan matang - matang, bahwa gue ngga punya persiapan yang mencukupi.

Ketika memutuskan batal ke Makassar, gue kecewa setengah mati, mengingat gue ngga mungkin melakukan perjalanan ini di tahun yang sama. Pasalnya, akhir tahun lalu, Oktober 2015, gue sudah memiliki rencana untuk ke Beijing. Jadi, kurang pas kalau gue melakukan perjalanan 'besar' lainnya pada waktu yang berdekatan. Stok cuti gue sebenarnya masih banyak, karena sejak di awal tahun, sebagai reward masa kerja 3 tahun, gue mendapatkan tambahan cuti sebanyak 6 hari (horeeee!!). Tapi, selain ingin menyimpan energi dan keuangan untuk perjalanan ke Beijing, gue juga sengaja menyiapkan perjalanan ini untuk hadiah ulang tahun. Kebetulan saat itu gue belum ada rencana. Ketika itu pilihan gue untuk merayakan ulang tahun adalah Srilanka....selain Srilanka, ngga kepikiran tempat lainnya. Srilanka juga salah satu negara yang bikin gue penasaran, tapi pada akhirnya Makassar dan Toraja juaranya.

Gue membeli tiket Citilink Jakarta - Makassar (pp) sejak Agustus 2015. Saat itu gue makin bersemangat membelinya sedini mungkin karena kebetulan ada promo potongan harga dari aplikasi pegipegi.com.

Ironisnya, sejak Agustus 2015 itu, kehidupan pekerjaan gue mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di akhir Oktober gue mengikuti program promosi untuk pindah dari sub group semula di pabrik, menuju sub group lainnya di kantor pusat perusahaan, yang berlokasi kerja di Jakarta. Efektif per 01 Desember 2015 gue sudah menempati posisi baru dengan lokasi kerja baru. Perubahan ini awalnya sempat bikin gue kewalahan dalam menyesuaikan diri. Gue harus menyesuaikan diri dengan tugas dan tanggung jawab baru, lokasi kerja baru, tim kerja baru, teman - teman baru.

Bulan pertama gue pindah dari pabrik menuju kantor pusat, adalah bulan perjuangan baik secara fisik dan mental untuk menyesuaikan diri dengan segala hal yang baru. Saking kewalahannya sampai - sampai gue nyaris kehilangan semangat untuk mewujudkan impian gue untuk berkunjung ke Makassar dan Toraja. Yessss.....gue hampir membatalkan trip ke Makassar dan Toraja.

Akhirnya setelah gue renungi dan pertimbangkan, gue membulatkan tekad untuk mewujudkan trip impian. Saat itu gue berjanji dalam hati, perubahan dan tantangan apapun yang gue hadapi dalam hidup gue -kali ini dalam hal pekerjaan- hal itu tidak akan mengubah kepribadian gue...dan meskipun ada saat - saat dimana gue suntuk dan galau dengan perubahan dan tantangan yang sedang gue hadapi, gue ngga akan biarkan hal itu membunuh passion gue, salah satunya traveling.

Puji Tuhan, perjalanan gue kali ini mendapat banyak kemudahan. Mula-mula kemudahan dalam mengajukan cuti di kantor. Kemudian kemudahan ketika minta ijin ke Mama. Jadi, gue meminta ijin ke Mama di suatu pagi, sebelum berangkat kerja, kurang dari seminggu dari tanggal keberangkatan ke Makassar.

"Mama....seperti biasa ya...kalau Cei ulang tahun, Cei bakal jalan..."
"Apaaa??! Mau kemana kau ??"
"Ke Makassar, Ma....Cei pengen banget ke Toraja...Cei sering bilang ke Mama, kan?"
"Ohhhh......ngga keluar negeri kan ? Ngga papa kalau gitu....kalau kau keluar negeri, Mama ngga tenang....kalau kau kenapa-kenapa, repot!"

Seketika, di pagi yang indah itu, gue dikuasai oleh rasa lega yang luar biasa. Yesus menjawab doa gue....betapa mudahnya meminta ijin ke Mama kali ini.

Tanggal 12 Januari 2016 malam, gue berkumpul bersama keluarga di rumah untuk berdoa bersama dan merayakan ulang tahun secara kecil-kecilan. Ngga ada menu makan malam spesial, karena gue udah wanti-wanti berpesan ke Mama untuk ngga repot-repot menyiapkan makanan spesial hari itu. Gue merencanakan makan malam bersama keluarga untuk hari spesial ini, tapi setelah kembali dari Makassar nanti. Jadi malam itu gue sekeluarga merayakan ulang tahun dengan kue ulang tahun dan tentunya doa. Secara khusus Mama dan Bapak membawa perjalanan gue ke Makassar dan Toraja dalam doa malam itu. Terharu.

13 Januari 2016 subuh. Gue bangun jam 02:00 pagi, bersiap - siap....dan berangkat ke Bandara Soekarno Hatta.  Pesawat Citilink yang akan mengantar gue ke Makassar dijadwalkan berangkat jam 05:55 pagi. Puji Tuhan perjalanan tepat waktu dan lancar. Gue tiba di Bandara Sultan Hasanudin sekitar jam 09:30 pagi. Gue meninggalkan bandara menggunakan semacam bus Damrinya sana, menuju kota Makassar, ongkosnya Rp. 27,000.- Begitu menginjakkan kaki di Makassar, gue terkaget-kaget betapa panasnya kota ini. Rasanya matahari cuma berjarak sejengkal dari kepala gue !

Gue turun tepat di target lokasi pertama: Benteng Rotterdam. Begitu memasuki kawasan benteng, gue disambut ramah oleh petugas keamanan di pintu masuk lokasi benteng. Dengan polosnya gue bertanya harga tiket masuknya. Dan mendapat jawaban yang paling membingungkan sedunia, "Seikhlasnya, Mbak...." Dan gue memberikan uang Rp. 10,000,-

Gue pun mulai berkeliling kawasan Benteng Rotterdam....yang menurut gue terdiri dari bangunan - bangunan peninggalan kolonial yang masih megah dan kokoh, serta sisa-sisa benteng mengeliling kawasan komplek ini. Gue sempat memasuki Museum La Galigo yang terbagi di dua bangunan yang berbeda. Untuk memasuki museum gue cukup membayar Rp. 5,000,-

Foto-foto Benteng Rotterdam: 


  




 




Setelah berkeliling ke sana kemari, gue sadar kalau sebagian ruang dan bangunan dari komplek Benteng Rotterdam ini digunakan sebagai area perkantoran. Dampaknya, komplek Benteng Rotterdam padat oleh orang - orang dan juga kendaraan yang terparkir di setiap sudut komplek, atau menyebar di area manapun. Buat gue pribadi, penggunaan bangunan tua sarat sejarah sebagai kantor, cukup mengecewakan dan mengkhawatirkan. Mestinya komplek ini lebih dihargai sebagai aset daerah, bahkan negara, karena nilai sejarahnya, dan 'masa tuanya' diisi dengan cara dirawat dan dilestarikan.....bukan di'eksplotasi' dan dijadikan area perkantoran. Ini cuma sesuatu yang terlintas di pikiran gue sih...

Oya...gue bisa leluasa berfoto-foto disini salah satunya karena gue sudah menyiapkan tripod. Tapi di samping itu, gue juga bisa cukup puas berfoto karena dibantu oleh orang - orang yang gue temui, terutama petugas museum dan staf - staf yang berkantor di sini. Menariknya, dengan cara meminta tolong untuk dipotret, gue jadi bisa sekedar berkenalan atau pun membuka percakapan dengan orang - orang tersebut. Kalau traveling sendirian begini, salah satu kenikmatannya adalah mengobrol dengan orang-orang lokal.

Lokasi berikutnya yang gue kunjungi adalah Pantai Losari. Dari Benteng Rotterdam gue naik becak menuju pantai ini. Tiba di sana, rasa panas dan gerahnya lebih dahsyat! Gue berasa kayak lagi bertatap - tatapan dengan matahari. Sampai - sampai kebanyakan foto yang gue ambil di sini gelap gulita dihajar cahaya matahari yang super maksimal. Ketika hendak meninggalkan lokasi -karena ngga banyak hal yang bisa dilihat dan dilakukan disini- ada dua orang pria berusia hampir paruh baya mendekat, minta tolong untuk difoto. Gue pun membantu memotret keduanya beberapa saat. Gue mengerti banget kondisi sebagai orang yang membutuhkan bantuan orang lain untuk berfoto. Karena itu, gue akan senang bukan main mengulurkan bantuan untuk memotret orang lain jika diperlukan.


Setelah keduanya puas berfoto dengan latar belakang manapun pilihan mereka, gue pun berpamitan. Kedua orang ini, Pak Sugi dan Pak Yos, menanyakan tujuan gue berikutnya, dan menawarkan tumpangan sampai ke Benteng Rotterdam dengan mobil yang mereka gunakan. Gue pun menyambut bantuan tersebut dan masuk ke dalam mobil. Begitu di mobil, gue terkejut, dan seakan-akan ngga percaya akan 'keputusan' gue untuk ikut. Di satu sisi gue merasa betapa lemahnya kewaspadaan gue....Apa-apaan ini, kok gue nekat banget masuk ke dalam mobil orang yang sama sekali asing dan ngga gue kenal ? Apa gue ngga sadar, bahwa gue bisa aja jadi target kejahatan ? Ngga takut diculik, Cherrr ??!!

Tapi di sisi lain, entah apa namanya....instingkah ? Ya, itulahh...yang selalu menjadi modal gue. Sebenarnya dengan traveling sendirian, seiring waktu mengasah insting untuk selalu waspada. Gue sadar kok bahaya dan resiko bisa mengintai solo traveler, apalagi perempuan, kayak gue. Tapi gue juga ngga mau menjadi paranoid dan curigaan, hingga menutup diri dari kebaikan dan keramahan orang. Lagian, salah satu keindahan traveling adalah berinteraksi dengan orang lain. Kalau gue menutup diri dari hal itu atas nama kewaspadaan dan kehatihatian, rasanya ada yang kurang dalam perjalanan gue.

'Teman baru' gue ini, Pak Sugi dan Pak Yos, mengundang untuk menikmati es kelapa di seberang Benteng Rotterdam. Sambil menikmati es kelapa yang menyegarkan, gue mengobrol dengan keduanya. Keduanya bingung dan bertanya - tanya, kenapa gue traveling sendirian. Nampaknya konsep 'traveling sendirian' terlebih untuk perempuan, adalah sesuatu yang aneh, ganjil dan mengkhawatirkan bagi keduanya. Ketika gue berpamitan, mereka berulang kali berpesan agar gue berhati-hati dalam perjalanan gue. Bahkan Pak Yos memberikan nomor handphone-nya, dan berpesan agar gue menghubungi beliau jika memerlukan apapun atau hendak menanyakan apapun, selama di Makassar dan Toraja.

Meninggalkan keduanya, ada dua hal yang terlintas di pikiran gue. Pertama, bersyukur karena Yesus mempertemukan gue dengan orang-orang ini (Pak Sugi dan Pak Yos), dan memperlihatkan kebaikan warga lokal. Kedua, gue langsung teringat Mama di rumah. Selama ini gue selalu memaksakan kehendak gue pada Mama dan menilai keberatan dan kekhawatiran Mama setiap kali gue akan traveling adalah sesuatu yang berlebihan. Traveling sendirian mungkin terkesan ganjil dan beresiko bagi kalangan tertentu....dan wajar jika ada yang memiliki persepsi seperti itu. Orang lain saja was-was ketika tahu gue traveling sendirian, apalagi Mama....

Dari Benteng Rotterdam gue berjalan kaki mencari lokasi berikutnya, Museum Kota Makassar. Sayangnya, meskipun sudah melalui perjalanan yang cukup melelahkan (karena ngga tahu lokasinya) menuju museum ini, kedatangan gue di sana bisa dibilang sia-sia....museum ditutup sementara waktu untuk renovasi. Untuk 'menikmati' rasa kecewa dan rasa lelah, gue mampir sejenak dan melewatkan beberapa saat di Taman Macan yang ngga jauh dari lokasi museum. 

Museum Kota Makassar
Di situ gue sekalian memikirkan langkah dan rencana selanjutnya. Saat itu sekitar jam 15:00....sambil 'menonton' pelajar-pelajar yang sedang berlatih Paskibra dan warga lokal yang giat berolah raga sore, pikiran gue sibuk mematangkan rencana berikutnya. Gue harus mencari pool bus untuk membeli tiket bus ke Toraja nanti malam. Tapi dimana pool busnya ? Lagian, bus apa dulu nih, bukankah banyak pilihan armada bus menuju Toraja ? Gue teringat pembicaraan dengan salah satu petugas museum di Benteng Rotterdam tadi. Tapi ketika hendak mengurutkan setiap informasi yang berhasil gue serap, gue jadi kebingungan sendiri. Begini yang gue ingat....soal pilihan bus, yang terdekat gue bisa menjangkau pool bus Litha dan Liman.....Pool busnya ada di Jalan Urip Sumoharjo....jangan ke terminal bus segala, jauh banget!....Dari Benteng Rotterdam sebaiknya naik taksi aja, jangan naik angkutan umum...biar ngga ribet...Begitu memberhentikan taksi, semua informasi yang terekam di pikiran gue jadi agak tumpang tindih....jadilah gue berpesan ke Pak Supir taksi, "Ke pool bus Litha di Jalan Urip..."

Dalam perjalanan menuju lokasi, gue bingung kenapa demikian lama untuk mencapai pool bus dimaksud. Awalnya gue tenang, karena beberapa saat gue yakin berada di Jalan Urip. Hal itu gue ketahui dari beberapa papan petunjuk yang gue lihat. Tapi ketika Jalan Urip berlalu, pool bus yang dimaksud belum kunjung jelas dimana rimbanya. Lalu gue bertanya ke Pak Supir. Ternyata Pak Supir bingung dengan tujuan yang gue cari. Karena gue meminta diantar ke pool bus Litha yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tello....sementara yang di Jalan Urip tadi adalah pool bus Liman. Gue kesal karena ketika melewati pool bus Liman tadi Pak Supir ngga bertanya dulu ke gue untuk mendapat kepastian. Tapi gue ngga bisa menyalahkan Pak Supir, karena kesalahan fatal gue adalah naik taksi tanpa memiliki modal informasi yang jelas. Akhirnya gue pasrah diantar ke pool bus Litha yang mendekati arah Bandara Sultan Hasanudin.

Tiba di pool bus, gue membeli tiket untuk keberangkatan jam 22:00 malam, seharga Rp. 160,000,- Karena saat itu masih sekitar jam 17:00 sore, gue bingung bagaimana melewatkan waktu menunggu jam keberangkatan bus. Ngga ada hal menarik yang bisa dilihat dan dilakukan di pool bus. Kalau gue kembali ke pusat kota Makassar, kayaknya waktu gue akan terbuang di jalan. Selain jauh, jalan utama di Makassar juga cenderung macet di titik-titik tertentu. Gue pun meminta saran dari petugas penjual tiket, dan si ibu menyarankan gue untuk ke mall terdekat, yaitu Makassar Town Square. Karena malas dibebankan oleh ransel berat, gue pun menitipkan ransel di kantor pool. 
 
Pool Bus Litha
Dengan naik angkutan umum dari seberang pool, gue tiba di mall yang dimaksud. Di sana ngga banyak hal yang bisa gue lakukan dan nikmati. Iyalahhh....keluar masuk mall ngga ada dalam agenda trip gue ke Makassar. Di sana gue sempat membeli yogurt dan mampir menikmati salad di restoran Pizza Hut. Ya ampun.....jauh-jauh ke Makassar, malah menikmati produk Pizza Hut!  Setelah merasa bosan di sana, sekitar jam 19:00 gue kembali ke pool bus. 

Karena lelah dan ngga tahu bagaimana lagi cara melewatkan waktu menunggu keberangkatan bus, gue memilih membaca novel sampai tertidur di lantai kantor penitipan barang pool itu. Ngga peduli bersih atau kotornya lantai kantor itu, bagi gue yang terpenting saat itu adalah meluruskan badan dan menutup mata sejenak, meskipun tak beralaskan apapun dan ransel sebagai bantal gue.

Menjelang jam 22:00 gue terbangun, dan kaget karena ada seorang petugas di hadapan gue yang dengan tampang iba bertanya tujuan gue malam itu. Dengan pikiran yang kacau-balau karena masih mengantuk, gue jawab seadanya. Beliau pun meminta gue untuk menunggu mobil yang akan mengantar gue ke terminal bus. Hahhh??! Kok ke terminal bus ? bukankah seharusnya bus gue berangkat dari pool ini ? Gue menanyakan hal ini sekaligus protes pada ibu penjual tiket bus, yang tidak memberitahukan informasi ini sejak gue membeli tiket sore tadi. Dengan menyesal si ibu hanya menjawab singkat, "Iya...ada perubahan dari manajemen..."  Apa coba...?!

Pihak perusahaan bus menyediakan sebuah mobil yang akan mengantar calon penumpang bus ke terminal. Gue menjadi agak kesal, karena 'perubahan' ini berarti keterlambatan waktu keberangkatan dari yang semestinya. 

Tiba di terminal antah - berantah, gue cuma pasrah menunggu bus yang dimaksud. Gue menunggu sekitar 10 menit sampai akhirnya bus yang akan mengantar gue menuju Tana Toraja tiba. Busnya nyaman banget....dengan bangku yang empuk, ditambah bantal dan selimut. Gue cuma ngga tahan dengan rasa dinginnya, yang gue yakin berasal dari AC bus yang bekerja super optimal. 

Cuma Yesus yang Maha Baik yang tahu betapa lama gue menyimpan keinginan untuk naik bus ini, dan memulai perjalanan menuju Tana Toraja. Makasih Yesus karena sudah mengijinkan dan menuntun gue 'melangkah' sejauh ini untuk mewujudkan impian melihat Tana Toraja.