I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, June 18, 2019

Trip Banyuwangi : Kampung Warna Warni Sungai Kalilo


Berhubung lagi pengen, dan ada free time (sok sibuk bgt....) diary trip Banyuwanginya pun berlanjut.

Tanggal 2 Oktober 2018, hari terakhir di Banyuwangi, niatnya mau keliling - keliling kota aja naik motor sewaan dari Mango Tree. Salah satu tujuannya pengen ke Kampung Warna Warni Sungai Kalilo. Sejak mengunjungi Kampung Warna Warni yang ada di Semarang, gue jadi tertarik ngelihat yang di Banyuwangi juga. Abis rasanya unik aja, sebuah area pemukiman yang letaknya di bantaran sungai, kompak dicat warna - warni jadi keliatan semarak dan ceria banget. Bukan cuma rumah - rumah penduduknya yang dicat warna - warni, masjid yang ada di sekitarnya pun berwarna - warni.

Lahirnya kampung berwarna - warni ini adalah hasil kerja sama alumni mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dengan pihak Pemkab Banyuwangi, yang melibatkan penduduk setempat. 


Kerennya, selain kampungnya sangat colorful, sungai yang mengalir di area ini juga tampak terawat kebersihannya. Jadi saat kedatangan gue ke sana, ngga nampak sampah 'menghiasi' sungai, apalagi aroma kurang sedap yang jadi ciri khas sungai jorok.

Gue penasaran deh kalo warga di sini janjian misalnya sama sopir Gojek atau kurir gitu...kalo gue biasanya bakal kasih info, "Rumah saya nomor....sebelah kiri....cat warna...." Sementara satu rumah di sini rata - rata dicat dengan warna komplit kayak pelangi... Mungkin si empunya rumah bakal bilang, "Rumah saya yang cat temboknya ungu, kuning, hijau, terus atapnya biru, orange, merah dan krem..." 

Overall, lumayanlah, piknik singkat ke kampung warna warninya Banyuwangi. Lokasi mudah dicari, gratis gak pake tiket masuk segala (cuma bayar parkir), bikin foto di sudut mana pun warna - warni. 


Friday, June 14, 2019

Selamat Datang di Dunia, Fajar !


Kali ini bloggingnya mengenai berita bahagia keluarga, yaitu kehadiran seorang keponakan laki - laki baru di tengah keluarga gue. Namanya Fajar, lahir Sabtu minggu lalu, 8 Juni 2019.

Kehadirannya di dunia cukup bikin perasaan gue campur aduk, mulai dari khawatir nungguin operasi cesar Anggira, adik gue / mamanya Fajar, yang terbayar dengan kebahagiaan yang luar biasa begitu operasi berakhir lancar, dengan ending lahirnya seorang bayi dengan berat 3,4 kg dan panjang 51 cm di dunia ini.

Malam sebelum operasi cesar, perasaan gue berkecamuk membayangkan esok paginya adik gue harus menghadapi ruang operasi untuk melahirkan. Gue mengerti, setiap harinya ada ribuan bayi lahir di bumi ini baik melalui proses normal maupun operasi cesar. Tappiiii...begitu anggota keluarga terdekat, terlebih adik sendiri harus bertaruh nyawa dan melahirkan, rasa was-wasnya begitu menyala - nyala.

Jadi malam itu gue lalui dengan berdoa kepada Yesus, dengan semua doa yang gue tahu, mulai dari doa Bapa Kami, Salam Maria, Novena Tiga Salam Maria, semua...Permohonan gue cuma satu, supaya adik dan bayinya selamat. Di ujung malam, entah di mana ketemunya, gue sempat membaca potongan ayat Alkitab (Bible) : 'Do not be afraid, I am with you. I'm your God, let nothing terrify you. I will make you strong and help you. I will protect you and save you." Setelah membaca ayat itu, entah kenapa ada kelegaan dan hati gue bilang, "Sudah...stop khawatirnya, serahkan semua kepada Yesus."


Keesokan harinya, di Rumah Sakit Aulia (Jagakarsa) operasi yang seharusnya dijadwalkan dimulai jam 9 pagi, molor sampai jam 10 lewat karena Pak Dokter masih terjebak macet. 

Sebelum Anggi dibawa ke ruang operasi, keluarga berdoa bersama. Rasanya gue yang paling tegang sekaligus cengeng dibandingkan yang lain. Jadi tiap kali liat Anggi yang udah tampak pucat dan membengkak, rasanya pengen nangis mulu. Mungkin kayaknya lebay...tapi gimana pun dia adik kecil gue (walaupun sering nyebelin juga).

Tentu saja gue menunggu dimulai dan jalannya operasi dengan tegang dan ngga sabaran. Berhubung saat itu keluarga juga lagi sibuk nyari kain putih yang akan digunakan untuk menyimpan ari-ari bayi, dan ternyata sulit didapat karena toko bahan/kain masih pada tutup, gue pun menawarkan diri untuk pulang dan mengambil stok bahan warna putih yang gue punya. 

Kebetulan yang unik bukan....beberapa tahun yang lalu gue sempat membeli kain putih dari pasar, entah untuk apa, dan menyimpannya di lemari pakaian. Dan hari itu, beberapa tahun setelahnya, tuh kain cukup berperan penting di salah satu hari bersejarah di keluarga gue : untuk menyimpan ari - ari anggota baru keluarga.

Oya, gue sengaja memilih kabur dari rumah sakit, karna ini satu - satunya cara gue mengalihkan ketegangan yang gue rasakan ketika menunggu proses operasi. Begitu di tengah jalan gue menerima pesan WA dari abang kalau proses operasi sudah selesai, kondisi adik dan bayinya sehat....Yesus, rasanya ngga pernah selega dan sebahagia itu dalam waktu bersamaan. Rasanya pengen sembah sujud memanjatkan rasa syukur dan terima kasih gue ke Yesus yang sudah menjawab doa gue yang penuh cucuran air mata sejak semalam.

Terima kasih Yesus atas kehadiran seorang keponakan baru dalam hidup gue. Semoga Yesus senantiasa menjaga dan melindungi lelaki kecil ini. Semoga Yesus berkenan menyertai tumbuh kembangnya dan memberikan berkat kesehatan. Semoga kehadirannya seperti Fajar yang memancarkan terang dan memberikan pengharapan baik bagi keluarga dan orang - orang di sekelilingnya. Amin.

Saturday, March 16, 2019

Trip Banyuwangi : Kawah Ijen


30 September 2018.

Hari ini jadwalnya buat trekking ke Kawah Ijen. Untuk perjalanan gue ke sini diakomodir oleh operator tour gitu, namanya Malampah. Sebelum berangkat ke Banyuwangi gue emang udah hunting operator/vendor open trip....dan akhirnya nemu di Instagram. Untuk 1 day trip ke Kawah Ijen dan Baluran, biayanya adalah Rp. 400,000 per orang.

Gue dijemput di penginapan, Mango Tree Homestay, sekitar hampir jam 12 malam (29 September), menggunakan mobil 3/4 yang sangat nyaman. Dari Mango Tree, mobil lanjut menjemput turis lainnya yang juga hendak ke Kawah Ijen. Gue membutuhkan waktu beberapa saat lamanya menyesuaikan diri....Maklum, gue belum pernah dibangunkan tengah malam untuk trekking naik gunung.

Ngga beberapa lama kemudian, mobil pun tiba di area parkir dan pintu masuk Gunung Ijen, yang saat itu dipenuhi kendaraan - kendaraan dan pengunjung yang bersiap trekking. Gue dan Ony diminta untuk menunggu di sebuah warung yang saat itu gelap gulita, dan di sana ada beberapa turis asing. Di situ guide membagikan air mineral dan juga masker gas untuk setiap peserta. Abis itu, gue kembali diminta menunggu.

Akhirnya setelah briefing singkat dari guide, dalam bahasa Inggris (mungkin karena cuma ada 3 orang dalam group itu yang turis domestik), trekking pun dimulai. Sepanjang perjalanan gue nyaris mandi keringat saking lelahnya. Jalan yang harus dilalui pun 'lumayan'... Nanjak dan berpasir bikin kadang gue hampir terpeleset. Gue harus berhenti tak terhitung berapa kalinya, untuk istirahat kilat dan berusaha menormalkan nafas.

Sepanjang perjalanan, terkadang gue harus berbagi jalan dengan 'taksi' yang berlalu lalang di gunung Ijen. Taksinya unik dan simpel... Berupa gerobak gitu. Kayaknya aslinya tuh gerobak berfungsi sebagai alat angkut belerang. Tapi ternyata bisa juga alih fungsi jadi angkutan manusia - manusia banyak duit yang udah lelah maksimal trekking. Karena penasaran gue sempat bertanya ke guide berapa ongkos taksinya. Katanya bervariasi, tergantung bobot dan postur penumpangnya. Harga untuk naik gunung dimulai sekitar Rp. 700 ribuan. Untuk arah turun ternyata lebih murah.

Tapi gue ngerti sih kenapa harganya premium banget. Ngga kebayang gimana lelahnya si Pak supir taksi membawa penumpang di gerobak alakadarnya dengan medan menanjak gitu. Gue aja bawa body sendiri kelelahan. Makanya biasanya Pak supir ngga sendirian, melainkan dibantu orang lain. Tapi, melihat taksi dengan Pak supir dan kernetnya ~yang kebanyakan postur tubuhnya kurus dan kecil~ mendorong dan menarik gerobak isi manusia, jadi hiburan tersendiri buat gue. Udah gitu kadang penumpangnya mungkin malu hati, jadi berusaha banget nutupin mukanya pake jaket, syal dll. Duhh...pengen ketawa takut kualat. Langsung terlintas di pikiran gue, mungkin kalo gue membutuhkan jasa taksinya, Pak supir musti pasang harga tinggi berhubung body gue yang tambun dan ngga ringan ini. Mungkin 5 juta sekali jalan....


Dan setelah nyaris 3 jam trekking akhirnya gue tiba di area Kawah Ijen. Tapi sebelum tiba di titik itu, guide menawarkan kalo mau lihat blue fire, gue kudu mengambil sebuah arah, yang medannya menurun, dan katanya jaraknya kira - kira 1 km lagi. Gue memilih skip, dan lanjut ke arah danau kawah aja.

 
 
 

Di titik itu, aroma belerang yang sangat kuat udah tercium. Apesnya, kayaknya gue mendapatkan masker gas yang kurang berfungsi, jadi yang ada bikin gue kehabisan nafas. Akhirnya gue memilih ngga pake masker.

Tiba di pinggiran danau kawah ijen, banyak pengunjung yang menunggu berharap kabut yang menutupi danau bergeser. Niatnya mau lihat indahnya danau kawah Ijen yang tampak hijau, seperti yang sering gue liat saat browsing sana sini. Namun setelah ditunggu beberapa saat, kabut nampaknya masih betah menyelimuti kawasan danau. 

Berhubung turis - turis asing di group gue enggan menunggu lebih lama, akhirnya group pun memutuskan mengambil arah kembali. Yahh...gue kecewa. Sengaja gue berjalan berlambat - lambat, berharap dalam sekejap kabutnya bergeser dan menghilang. Di beberapa spot lainnya emang tampak langit mulai cerah karena kabut sudah mulai bergeser. Tapi untuk area danau kawah Ijen, gue kurang beruntung, alias cuma bisa liat hamparan kabut putih tebal.

Kembali gue trekking selama sekitar 2 jam, sampai kembali tiba di pintu masuk yang gue lalui tadi subuh. Oya, gue jauh lebih menikmati perjalanan pulang sih, karna langit sudah terang dan gue bisa menikmati keindahan Ijen kemana pun mata gue memandang. Sepanjang jalan gue juga kadang berpapasan dengan penduduk yang menjual souvenir yang terbuat dari belerang. Sempat kepikiran mau beli karna unik, tapi untung ngga jadi, karena ternyata pihak bandara Banyuwangi melarang penumpang membawa belerang ke dalam pesawat.


Tiba di area parkir, peserta group lainnya sudah menunggu di dalam mobil. Mobil pun berangkat untuk mengantarkan semua peserta ke penginapan masing - masing. Sekitar jam 9.30 pagi, gue tiba kembali di Mango Tree. Gue lega banget karena ternyata trip ke Baluran baru akan dilakukan nanti siang. Saat itu mata gue terasa berat banget, ngantuk. Sepanjang perjalanan gue tertidur.

Tiba di Mango Tree, gue langsung melahap sarapan yang disediakan. Abis itu, gue pun mandi dan beristirahat sejenak sebelum jemputan menuju Baluran datang.

Kesan - kesan trip ke kawah Ijen kali ini.....trekkingnya lumayan banget, bikin ngos - ngosan. Pemandangannya luar biasa indah....tapi next time, kalau gue berkesempatan lagi ke Banyuwangi, gue lebih memilih untuk menyewa mobil aja yang akan mengantar gue sampai pintu masuk Gunung Ijen. Maksudnya supaya gue bisa lebih leluasa sampai puas menikmati indahnya Ijen, tanpa terburu waktu.

Monday, March 04, 2019

Gunung Batur, Antara Peluh dan Haru

 

16 Februari 2019

Dari sekian banyak dan sejauh kaki panjang gue melangkah selama ini, mungkin trekking ke Gunung Batur ini yang paling berkesan. Yang bikin berkesan dan jadi 'learning lesson' banyak. Pertama, gue selalu meragukan kemampuan diri sendiri dalam banyak hal. Termasuk kali ini...meskipun kepengen banget buat trekking ke sana, dan niatnya sudah dicetuskan sampai mencari open trip, tapi gue baru mantap ikutan tripnya sekitar 2 -3 jam sebelum jam keberangkatan. Yang bikin gue ragu tuh gado - gado...mulai dari tenaga yang mulai abis, ngga sempat tidur, dan ngga kebayang trekking sendirian bersama orang-orang asing lainnya, tanpa suami. 

Kedua, gue juga ngga akan lagi menyepelekan susah atau mudahnya medan lokasi - lokasi yang hendak gue capai. Misalnya kayak Gunung Batur ini....sebelum hari H, gue selalu meyakinkan diri sendiri...'cuma 1700 mdpl kok...' Pada kenyataannya....gue sampai terseok - seok mandi keringat dan nafas tersengal - sengal, menjalani setiap detik dan centimeter langkah gue. Malah ada titik dimana gue sampai putus asa dan minta ke guide supaya gue ditinggalkan aja karena sudah ngga kuat melangkah. Niatnya kalau sudah puas beristirahat dan hari sudah mulai terang, gue MUNGKIN akan sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Separah itu....


Ketiga, jangan malu dan gengsi kalau udah ngga kuat dan sanggup melanjutkan perjalanan. Jangan memaksakan diri juga. Group open trip kali ini isinya 4 bule, dan gue seorang yang lokal. Otomatis dari postur tubuh dan kondisi fisiknya jauh berbeda dari gue. Awalnya gue berusaha sekuat tenaga mati-matian mengikuti langkah mereka yang cepat. Lama - kelamaan gue kewalahan...tapi terlalu malu untuk bilang ke guide dan yang lainnya. Kemudian gue memaksakan diri lagi untuk melanjutkan perjalanan....sampai tibalah gue di titik dimana rasanya gue kehabisan tenaga dan nafas. Ketika akhirnya gue memanggil si guide yang sudah lumayan jauh di depan, akhirnya group pun mengerti dan bersedia 'mengalah' ngikuti gue istirahat. Walaupun akhirnya diputuskan keempat bule harus jalan sendiri duluan, karena guide akan khusus nemenin gue. 


Keempat, gue harus lebih melatih fisik gue nih! Meskipun bukan 'anak gunung sejati', tapi trekking, terlebih ke gunung adalah aktivitas yang bikin gue tertarik untuk lakukan. Tapi, selain jam terbang yang rendah banget, gue pun ngga pernah melakukan hal-hal yang mendukung hobi gue itu. Renang, sebulan sekali...jalan kaki, males-malesan....jogging, boro-boro....dengan tanpa latihan dan fisik tambun kayak sekarang berbanding terbalik dengan aktivitas yang pengen gue lakukan : trekking / naik gunung.




Mengenai Gunung Batur sendiri, dengan segala keringat yang harus gue cucurkan untuk bisa menikmati sunrise disini, menurut gue indah banget. Selama ini gue bukan pengejar sunrise dan sunset ya....tapi begitu gue bisa berada di sana, dalam keadaan baik - baik saja, menikmati keindahan alam dengan pemandangan siluet Gunung Abang, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani di kejauhan sana...hamparan awan, dan tentu saja matahari yang baru muncul dan bikin langit pagi itu menjadi kekuningan, gue cuma bisa merenung..... 

Sebenarnya apalah yang perlu gue kuatirkan dalam hidup ini ya ? Ada Tuhan Yesus yang luar biasa yang sanggup menciptakan alam seindah dan luar biasa kayak gini. Ngga ada yang mustahil buat Dia....dari hal terkecil aja, di luar dugaan dan kemampuan gue, Tuhan membawa gue sampai di titik ini dalam keadaan masih bernafas dan sehat. Tanpa terlihat pun, tanganNya begitu panjang dan siaga menopang gue.  

Aaahh...andai gue bisa berlama - lama di sini...
 

Note :
Vendor Open Trip : Pineh
Harga paket : Rp. 350,000 (termasuk jemput/antar dari/ke hotel, sarapan, air mineral, trekking guide)
Jemput dari hotel : jam 1:00 pagi, kembali ke hotel (di Nusa Dua) jam 12:00 siang

Saturday, January 05, 2019

Trip Semarang : Terpesona Kota Lama


30 Desember2018.

Sejak awal gue ngga punya rencana spesifik mau kemana - mana aja selama di Semarang. Gue sudah beberapa kali ke sini, dan gue bisa sering - sering ke sini lagi di lain waktu. Jadi gue piknik super santai aja selama di sini.

Tapi berhubung hari ini Minggu, dan gue harus ibadah minggu, gue pun berniat menghabiskan waktu di kawasan Kota Lama Semarang hari ini. Jam 9 pagi gue ibadah dan kebaktian di GPIB Immanuel alias Gereja Blenduk yang tua, antik dan bersejarah itu. Kelar ibadah, gue bermaksud menikmati dan berkeliling kawasan kota lama yang berada di area yang sama dengan gereja. Saat itu sedang berlangsung proyek renovasi kota lama. Gue bingung...waktu ke sini bulan Mei lalu, proyek yang sama sudah berlangsung....dan sekarang, setengah tahun kemudian, masih belum rampung juga ternyata. Untungnya kali ini kondisinya udah jauh lebih baik, karena area - area yang ditutup/diblok semakin sedikit, alias sekarang jauh lebih rapih.


Awalnya gue bersantai di Taman Sri Gunting dan Pasar Seni Padangrani (Paguyuban Pedagang Barang Seni). Gue seneng banget keluar masuk setiap kios yang ada di sepanjang pasar seni ini, karena takjub demi melihat barang - barang antik dan vintage yang ditawarkan setiap kios. Sebagian mungkin memiliki nilai seni yang tinggi, namun sebagian cukup bikin gue terpesona karena membangkitkan nostalgia dan membawa gue kembali ke jaman masih kanak - kanan dulu. Jadi, gue bisa senyam - senyum dan ketawa girang sendiri tiap kali ngeliat barang - barang jadul yang pernah gue lihat puluhan tahun silam. 



Karena gue ngga tahan rasa gerah dan panasnya di kawasan ini, dan karena mulai merasa kelaparan, gue pun bermaksud nyari makan siang dulu di Paragon Mall. Selesai makan siang, yang niat awalnya mau balik ke Kota Lama, gue batalkan karena mendadak gue pengen balik ke Imam Bonjol Hostel. Gue pengen tidur siang dulu.

Kelar puas istirahat di hostel, menjelang sore gue kembali lagi menuju kawasan Kota Lama. Selama ini, walaupun belum pernah benar - benar berkeliling dan menjelajah kawasan ini, gue berpikir Kota Lamanya Semarang 'gitu - gitu aja'. Ngga jauh beda dengan kawasan Kota Tuanya Jakarta. Tapi hari ini, penilaian gue berubah. 

Di luar dugaan, gue niat banget menjelajahi setiap jalan dan gang di kawasan ini. Setiap bangunan tua yang gue temui, membawa langkah gue semakin jauh. Gue menikmati menyusuri jalan - jalan, karena terus menemukan bangunan - bangunan tua yang bikin gue takjub dan berhenti sejenak untuk memuaskan rasa penasaran....berjalan lagi, melihat bangunan tua namun tetap kokoh dan cantik lainnya...begitu terus, sampai beberapa kali gue merasa tersesat dan ngga tau arah jalan. 

Gedung Restoran IBC
Kantor Pos Kota Lama
Gedung Keuangan Negara
Polder Air Tawang
Pabrik Rokok Praoe Lajar
Gedung Marabunta
Bank Mandiri
Asyiknya, kawasan Kota Lama tuh ngga terlalu padat pengunjung, ngga kayak di Kota Tua Jakarta yang disesaki oleh pengunjung, pedagang kaki lima dan kendaraaan, dan bikin suasananya semrawut. Kalau di sini, pengunjung lebih terpusat di Taman Sri Gunting dan sekitarnya. Jarang banget yang memilih menikmati Kota Lama dengan menyusuri jalan - jalan kecil kayak gue. Sepi....inilah suasana favorit gue.

 
 

Kalau gue haus, lapar atau perlu ke toilet, gue akan kembali ke area Taman Sri Gunting, di situ ada Indomaret (seberang Speigel Bar & Resto) di mana gue bisa berhenti dan istirahat sejenak. Puas beristirahat singkat, gue pun menjelajah kawasan Kota Lama lagi. Saking asyiknya gue menikmati Kota Lama, ngga terasa malam pun tiba. Sekitar jam 8 malam, gue pun masuk ke Spiegel Bar &  Resto untuk menikmati makan malam. 


Kelar makan malam dan mengagumi bangunan dan interior Spiegel Bar dan Resto, gue pun mengambil arah pulang kembali ke hostel. Kali ini gue gak mau naik Gojek, melainkan jalan kaki. Begitu liat google map, jaraknya sekitar 3.5 km. Sebenarnya rada - rada nekad karena gue ngga tau jalan dan juga penerangan di beberapa sudut jalan minimalis banget, alias gelap. Tapi dengan modal nekad dan nanya arah ke orang-orang, gue tiba di hostel dengan badan lengket bercucuran keringat.