I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Friday, June 06, 2014

Wisata Prasasti di Bogor (1)

Sepulang dari Mausoleum Van Motman, gue ngga langsung kembali ke Stasiun Bogor. Hari itu Bogor sangat 'ramah' karena menyajikan langit yang terang dan cerah, dan bikin gue bersemangat melanjutkan petualangan di kota ini Smiley. Target berikutnya gue namakan 'wisata prasasti'. Awalnya gue mendapatkan informasi mengenai situs - situs prasasti ini ketika sempat mengunjungi Museum Pasir Angin. Ibu penjaga museum bilang bahwa gue bisa melihat beberapa prasasti yang terdapat di daerah Ciaruteun, dan ngasih tahu gimana cara ke sana. 

Dari Museum Pasir Angin gue naik angkot biru No. 11 ke arah Bogor, dan turun di Polsek Ciampea. Dari Polsek, berikutnya gue naik ojek. Setelah tawar menawar harga, akhirnya Pak Ojek setuju mengantarkan ke beberapa area prasasti dengan tarif Rp. 20,000. Begitu duduk di motor Pak Ojek, selanjutnya adalah perjalanan seru menyisir daerah pedesaan yang tenang dan hijau, dengan pemandangan hamparan sawah atau kebun - kebun dengan pepohonan rimbun di kiri dan kanan jalan. Jalannya pun bergelombang, kadang menanjak kemudian menurun. Udara sore itu pun segar dan mulai dingin. Pokoknya berasa banget jauh dari hingar - bingar kota besar.


Prasasti pertama yang gue kunjungi adalah Prasasti Kebon Kopi atau disebut juga Prasasti Tapak Gajah. Prasasti ini berada tepat di tempat yang sama ketika ditemukan pertama kali di tahun 1860an silam, yaitu ketika dilakukan penebangan hutan untuk dijadikan area kebon kopi. Pada prasasti terdapat 2 pahatan berbentuk telapak kaki gajah dan diantaranya terukir dalam bahasa Sansekerta dan jika diterjemahkan artinya :
“Di sini nampak sepasang tapak kaki gajah yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam dan bijaksana."

Airawata adalah nama gajah tunggangan Raja Purnawarman yang merupakan raja ketiga yang memerintah Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara....Raja Purnawarman....nama - nama yang selama ini hanya gue dengar dan baca ketika pelajaran sejarah zaman SD - SMA kayaknya....dan berdiri tepat di salah satu bukti sejarah mengenai keberadaannya, bikin gue super takjub.

Udah gitu, keren banget nama gajahnya sang Raja : Airawata. Gajah - gajah masa kini yang gue kenal namanya 'modern' sekali....gajah - gajah yang pernah gue temui di Phuket, Thailand diberi nama Taton dan Valentino (karena lahir bulan Februari yang identik dengan perayaan Valentine..Smiley) Teman - teman gajah di Way Kambas Lampung bahkan namanya lebih spektakuler lagi...ada Aries, Ria, Queen, Mega, Ratu dan lain - lain....kalau ngga lihat sosoknya langsung, orang pasti akan mengira pemilik nama - nama ini adalah manusia.



Berhubung hari semakin gelap, gue pun buru - buru naik ojek menuju lokasi prasasti berikutnya : Prasasti Ciaruteun. Dinamakan demikian karena prasasti ini ditemukan di tepi sungai Ciaruteun yang lokasinya tak jauh dari tempatnya diletakkan saat ini. Prasasti seberat 8 ton itu ditemukan oleh N.W. Hoverman pada tahun 1683, dan baru dipindahkan dari sungai Ciaruteun di tahun 1981. Entah bagaimana menggambarkan kesan gue begitu melihatnya. Terdapat banyak hal di permukaan prasastinya, ada 2 telapak kaki yang dipercaya adalah telapak kaki Raja Purnawarman, dan ada juga tulisan dalam bahasa Sansekerta yang berarti :
"Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki dewa Wisnu ialah kaki yang mulya Sang Purnawarman Raja di negeri taruma yang gagah berani di dunia." 

Entah apa maksud dan tujuan sang Raja saat membuatnya, namun sepertinya hal yang sama pun dilakukan manusia zaman sekarang, termasuk gue, untuk menunjukkan eksistensi. Dengan kecanggihan teknologi masa kini, banyak media yang bisa digunakan. Dengan berfoto ria, update status di sosial media, blogging dan lain sebagainya. Berfoto di depan patung Merlion, sebagai bukti pernah singgah di Singapura....atau di bawah Menara Kembar Petronas, untuk menandakan pernah ke Malaysia. Tak lupa update foursquare, ditambah status, "Safely arrived here..." dan semacamnya. Hal - hal yang mungkin beberapa tahun ke depan akan tenggelam, terbengkalai dan terlupakan. Namun jejak sang raja serta sepenggal cerita yang terpahat pada prasasti di hadapan gue saat itu adalah mahakarya tingkat tinggi, yang dibuat Sang Raja ratusan tahun silam dan masih utuh sampai sekarang dan (seharusnya) menjadi kekayaan atau aset bangsa sampai kapan pun yang tak ternilai harganya Smiley

Karena hari sudah gelap, gue pun meninggalkan lokasi, diliputi dengan perasaan takjub yang meluap - luap dan beruntung Smiley. Beruntung...karena berkesempatan melihat langsung peninggalan sejarah dari masa yang bagi gue demikian silamnya, hingga seperti antara nyata dan dongeng, sebelum akhirnya melihat langsung prasasti - prasasti ini.

Sebenarnya masih ada beberapa prasasti lagi di area yang berdekatan. Tapi gue memutuskan untuk melanjutkan petualangan minggu berikutnya. Karena gue ingin menikmati perjalanan gue dengan santai tanpa dikejar waktu. Gue pun naik angkot biru nomor 05 tujuan Bubulak, yang akan mengantarkan gue ke Stasiun Bogor.

Wednesday, June 04, 2014

Uniknya Gereja Santa Maria de Fatima

 

'Proyek' gue mencari gereja - gereja tua dan bersejarah masih berlanjut. Sabtu pagi menjelang siang itu, sepulang latihan yoga di Menteng, gue menuju kawasan Taman Sari, Glodok, Jakarta Barat, yaitu lokasi Gereja Santa Maria de Fatima yang ada di Jalan Kemenangan III No. 47. Gereja ini juga disebut Gereja Toasebio karena dahulu nama jalannya adalah Jalan Toasebio. Ini bukan pertama kalinya gue menginjakkan kaki di sini, karena beberapa tahun yang lalu saat gue mengunjungi beberapa klenteng di Petak Sembilan pun gue mampir kemari.

Nama gereja diambil dari kisah penampakan Bunda Maria kepada 3 gembala di Fatima, Portugal. Kisah ini juga digambarkan pada relief gua Maria yang ada di samping gereja. Ini gereja paling unik yang pernah gue lihat dan datangi. Jika tanpa lambang Salib besar di bagian atapnya ditambah tiang nama di halamannya, gue pasti akan mengira bangunan ini adalah sebuah klenteng, bukan gereja. Arsitektur dan setiap ornamen gereja ini sarat budaya Tionghoa.

 
 
  
 
 

Gereja ini dahulunya adalah rumah tinggal milik seorang Tionghoa bernama Kapitan Tjioe dan bangunannya diperkirakan berusia 200 tahun. lahan tersebut dibeli oleh gereja dan digunakan sebagai tempat ibadah sejak tahun 1955.

Budaya Tionghoa jelas terlihat baik di bagian dalam maupun luar gereja. Bagian altarnya yang didominasi warna merah dan emas, mengingatkan gue akan meja abu atau persembahan yang biasa gue temui di dalam klenteng. Di halaman gereja, terdapat sepasang patung singa terbuat dari batu yang melambangkan kemegahan dan kebangsawanan pemiliknya. Rasanya gak ada habisnya gue berdecak kagum melihat setiap detil gereja ini. Selain karena unik bergaya Tionghoa, bangunannya yang antik dan tua namun tetap kokoh adalah daya tarik tersendiri.

Meskipun senang karena bisa mengunjungi salah satu gereja tertua dan bersejarah di Jakarta ini, namun rasanya masih ada yang kurang karena belum mengikuti misa/kebaktian di sini. Jadi, saat gue meninggalkan area Gereja Santa Maria de Fatima siang itu, dalam hati gue janji suatu saat akan kembali lagi ke sana.

Monday, June 02, 2014

Cerita Dari Bogor : Pesona Mausoleum Van Motman


Beberapa waktu yang lalu gue pernah baca di internet beberapa tulisan mengenai Mausoleum Van Motman....yang katanya, berlokasi di Bogor. Setelah baca dan lihat beberapa fotonya, gue langsung mencetuskan keinginan, "Gue harus kesana !" Gue emang paling seneng dan bersemangat mengeksplorasi situs - situs tua yang memiliki nilai sejarah. Meskipun belum ada gambaran sama sekali dimana lokasi tepatnya dan bagaimana mencapainya (udah beberapa kali cari di google namun ngga ada yang kasih informasi detail cara ke sana, khususnya dengan kendaraan umum), tapi tempat ini langsung ada di jajaran atas target petualangan gue. Apalagi nyaris tiap hari Minggu gue ke Bogor, jadi gue super bersemangat kalo denger ada lokasi - lokasi baru yang harus gue cari dan kunjungi.

Satu - satunya petunjuk yang gue miliki adalah "Dramaga", karena Mausoleum ini, yang merupakan area pemakaman keluarga, adalah milik bekas tuan tanah bernama Gerrit Willem Casimir Van Motman, seorang berdarah Belanda yang datang ke Batavia sebagai pekerja VOC sekitar abad 18, dan memiliki banyak lahan perkebunan di Bogor, salah satunya Dramaga. Ini menjadi titik terang buat gue. Setahu gue, Dramaga adalah daerah dimana terletak kampus Institut Pertanian Bogor. Jadi, gue akan fokuskan pencarian gue ke sana. Dari tulisan lainnya gue memperoleh petunjuk lain : Mausoleum terletak 20 km dari Dramaga. Tepatnya di Kampung Pilar, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Hmmm...gue jadi bingung. Di mana pula nih ? Kok ada "desa" segala ? Rasanya gue baru pertama kali dengar nama daerahnya.

Lokasi Mausoleum bisa ditempuh dengan naik commuter line sampai stasiun Bogor. Dari Stasiun naik angkot 02 jurusan Sukasari - Bubulak, dan turun di Bubulak. Dari situ gue lanjut naik angkot berwarna biru jurusan Bogor - Jasinga. Perjalanan dengan angkot yang terakhir ini rasanya panjang tiada akhir. Selain jaraknya yang jauh, kemacetan di sepanjang jalan juga sangat memakan waktu. Yang bikin bertambah jauh adalah karena gue ngga benar - benar tahu lokasi yang gue cari dan dimana harus turun dari angkot. Dan semakin menantang karena orang - orang sekitar pun, termasuk sopir angkot, tidak ada yang mengetahui lokasi tepatnya. Jadi, gue duduk manis di dalam angkot yang baru pertama kali gue naiki, ke kawasan yang baru pertama kali gue lalui, dan tidak tahu harus berhenti dan turun di mana. Seru banget ! Setiap kali gue bilang, "Makam Pilar" dengan sedikit penjelasan "Makam Belanda, Pak/Ibu", orang - orang malah kelihatan bingung. Mungkin bingung perpaduan karena belum pernah mendengar nama tempat itu ditambah bingung mengapa ada seorang perempuan di Minggu siang yang cerah itu malah mencari lokasi pemakaman.  Pemakaman Belanda pula...

Akhirnya di tengah kepasrahan yang diselingi dengan kebingungan tak berujung, tiba - tiba di kiri jalan utama gue melihat tiang petunjuk yang sangat jelas bertuliskan "Situs Makam Pilar Van Motman." Senangnya bukan kepalang, rasanya pengen loncat - loncat. Gue pun turun, dan menyeberang jalan. Di seberang ada semacam gang dengan sebuah gapura, berukuran cukup lebar untuk dilewati mobil, dengan jalan belum beraspal, dan rumah - rumah warga yang sangat sederhana di bagian kiri dan kanannya. Seingat gue jalannya pun tak rata, dan begitu jalan sedikit menurun, dari kejauhan gue melihat sosok bangunan tua tak terawat namun tak bisa menyembunyikan kemegahannya. Rasa senang sekaligus ngeri tiba - tiba muncul. Bangunannya seperti berada di kawasan kebun rindang dengan alang - alang dan pepohonan yang tidak terurus.

 
  
 
 

Gue pun memasuki area komplek makam seluas 600 meter persegi ini. Ini adalah makam keluarga Van Motman keturunan Gerrit Willem Casimir Van Motman. Konon, beliau pun, yang meninggal di tahun 1820, dikuburkan di area ini. Terdapat belasan pilar di pekarangan mausoleum. Pilar - pilar ini dimaksudkan sebagai batu nisan. Namun sudah tak ada sisa - sisa atau jejak yang menandakan bahwa pilar - pilar ini merupakan batu nisan, karena saat ini hanya tampak seperti susunan batu bata yang disusun ke atas. Pastinya seharusnya 'tumpukan' batu bata itu dilapisi batu marmer indah dengan tulisan - tulisan yang mengisinya, namun semua telah hilang akibat penjarahan besar - besaran yang pernah terjadi di beberapa waktu lampau. 

Masuk lebih ke dalam dari area pemakaman ini berdirilah dengan tegak dan megah bangunan mausoleum. Di bagian atas pintu masuknya, tertoreh tulisan "FAM: P.R. V Motman" yang merupakan kepanjangan dari Pieter Reinier Van Motman yang merupakan cucu dari Gerrit Willem Casimir Van Motman  dari putra keduanya yang bernama Jacob Gerrit Theodoor. Kepada putranya inilah Gerrit mewariskan tanahnya di kawasan Dramaga dan Jasinga. Mausoleum yang gue kagumi ini, meniru arsitektur gereja Santo Petrus di Roma Italia, dan di bagian tengahnya terdapat kubah berdiameter 1,5 meter. 

Di dalam mausoleum inilah dahulunya pernah tersimpan empat mumi anggota keluarga Van Motman yang saat ini tentunya sudah tidak ada lagi. Bangunan ini pun ngga luput dari aksi penjarahan yang dulu terjadi. Bisa gue bayangkan bagaimana indah dan megahnya mausoleum ini dulunya. Namun saat ini, kondisinya benar - benar tragis dan tidak menyisakan apapun.

Setelah puas, gue pun meninggalkan mausoleum. Perjalanan dan pencarian panjang gue sepanjang siang tadi terbayar oleh pesona mausoleum yang ngga bisa gue gambarkan dengan kata - kata. Tempat ini, di mata gue sangat berharga seperti harta karun. Selain karena usianya yang terbilang sangat kuno, juga karena cerita panjang yang melatarbelakanginya. Meskipun kondisinya sangat tidak terawat dan seperti tidak terlindungi, namun gue berharap suatu waktu kelak ketika gue hendak mengunjungi lagi untuk mengagumi keindahan dan kemegahannya, saat itu mausoleum ini masih berdiri tegak dengan kondisi yang lebih baik.

Thursday, May 29, 2014

Gereja Tugu Nan Jauh

Rasa penasaran selalu menjadi motivasi terkuat gue. Termasuk ketika gue berkeinginan untuk mengunjungi beberapa gereja tua dan bersejarah di Jakarta dan sekitarnya, tekad gue sekuat baja, meskipun harus menempuh jarak yang terkadang jauh, dengan mengandalkan transportasi umum.

Dari beberapa gereja yang sudah gue kunjungi, kayaknya Gereja Tugu adalah yang paling jauh. Gereja ini terletak di kawasan Semper, Jakarta Utara. Kalau mendengar "Jakarta Utara" yang terbayang di pikiran gue, rasanya kawasan yang jauh banget. 

Siang itu, di hari Minggu setelah mengikuti kebaktian di GPIB Sion yang ada di Kota, mendadak gue ingin melanjutkan petualangan hari itu dengan mencari lokasi Gereja Tugu. Gue ngga mempunyai persiapan apapun, terlebih informasi bagaimana cara ke sana. Gue sempat bertanya ke petugas halte busway Jayakarta bagaimana cara mencapai Koja, karena nampaknya menggunakan Transjakarta akan sangat membantu. Namun sang petugas justru mengingatkan bahwa gue harus menunggu Transjakarta agak lama, berhubung keterbatasan armada. Gue pun urung menggunakan Transjakarta.

Berikutnya gue bertanya ke beberapa sopir mikrolet yang berjejer di depan Stasiun Kereta Kota. Menurut mereka, gue harus naik Mikrolet No. 15A menuju Tanjung Priok, kemudian di lanjut Metromini No. 41. Kedua kendaraan ini akan mengantar gue sampai ke Semper. Lalu setiba di Semper antah berantah ini bagaimana gue akan menemukan Gereja Tugu ? Question Gue belum mempunyai jawaban untuk ini saat dengan mantapnya naik Mikrolet No. 15A. Perjalanan panjang pun gue tempuh. Maklum, gue akan berhenti di terminal akhir tujuan mikrolet ini, Terminal Tanjung Priok. Ini adalah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di kawasan ini. 

Turun dari Mikrolet, gue menyambung Metromini No. 41 dari Terminal yang sama. Di dalam Metromini gue mulai bertanya baik ke sesama penumpang maupun kenek, di mana lokasi Kampung Tugu. Namun, sepertinya mereka tidak mengerti lokasi yang gue tanyakan. Gue jadi heran sendiri. Bayangkan, gue yang tinggal di Jakarta Selatan saja menganggap "Kampung Tugu" sangat terkenal, namun orang - orang di sekitar sini sepertinya asing sekali dengan kawasan itu. Gue pun pasrah. Hal seperti ini sering terjadi ketika gue bekpekeran....dimana gue kehilangan arah dan kehabisan petunjuk. Gue pikir jika akhirnya nanti tidak menemukan lokasi yang gue cari, paling tidak siang ini gue mendapatkan pengalaman 'berpetualang' di kawasan Jakarta Utara yang panas dan gersang ini. Hal yang belum pernah gue lakukan sebelumnya.

Di detik - detik akhir, tanpa putus asa bertanya ke sesama penumpang Metromini, akhirnya petunjuk gue dapatkan dari seorang pelajar SMA yang baru saja naik dan duduk tepat di sebelah gue. Dia pasti malaikat Yesus yang dikirim untuk menyelamatkan gue dari kesasar di negeri Tanjung Priok.

Gue pun turun dari Metromini, mendarat di sebuah simpang lima yang bikin gue makin bingung. Gue berusaha menenangkan diri, dengan menuju supermarket Alfa terdekat. Setelah minum, nampaknya semangat gue muncul kembali. Keluar dari Alfa, gue menanyakan ke tukang ojek yang sedang menunggu penumpang, bagaimana cara ke Kampung Tugu. Tukang Ojek yang baik hati menunjukkan bahwa gue harus naik angkot merah nomor 02 jurusan Rorotan - Cilincing, dan berhenti tepat di depan Kampung Tugu. Rasanya senang bukan kepalang. Ngga lama kemudian, angkot yang dimaksud pun datang, dan mengantar gue ke gerbang Gereja Tugu.

Sepi. Bagian depan area itu adalah lahan pemakaman. Dari jalan raya, gue ngga melihat sesuatu yang istimewa. Setelah meminta ijin pada petugas keamanan yang menjaga pintu gerbang, gue pun memasuki area komplek gereja. Saat itu sekitar jam 2 siang. Pintu gereja tertutup rapat. Area sekitarnya pun sepi, tak ada orang lalu lalang. Jelas aja....dengan cuaca sepanas itu, pasti orang - orang lebih memilih untuk tinggal dan istirahat di dalam rumah. Ngga kayak gue yang malah keluyuran lintas kotamadya di siang hari bolong.

Pintu gereja dalam keadaan tertutup dan terkunci. Jadi siang itu gue hanya bisa mengagumi salah satu gereja tertua di Indonesia, yang dibangun pada masa pemerintahan Portugis di sekitar tahun 1670an ini, dari luar saja. Kecewa, sebenarnya. Kecewa dan bingung. Selama ini gue membayangkan kawasan ini adalah komplek dimana keluarga keturunan Portugis tinggal. Tapi gue ngga melihat siapa pun yang berperawakan "Portugis". Seorang bapak tua yang sedang duduk menikmati siang di depan gereja menyapa gue, Pak Robby namanya. Dengan Pak Robby inilah gue mengisi waktu sejenak di area pekarangan gereja. Pak Robby yang merupakan warga Kampung Tugu bercerita panjang lebar mengenai komplek ini dan sedikit mengenai sejarahnya.

Selama mengobrol dengan Pak Robby sesekali gue permisi untuk melangkah melihat - lihat area komplek. Di dekat gereja terdapat sebuah gedung pertemuan, sekolah, dan rumah pendeta yang bergaya ala Betawi, lonceng tua yang berasal dari tahun 1880 yang masih digunakan untuk kegiatan gereja. Lonceng yang lebih tua lagi (sejak tahun 1747) yang sudah 'pensiun' dan tersimpan di rumah pendeta. Lalu ada juga sekawanan anjing yang sibuk bermain - main, dan melewati kali (sungai kecil) yang ada dekat situ, itulah yang dinamakan Kampung Tugu.

Gue sempat bertanya mengenai komunitas Keroncong Tugu yang juga sangat terkenal, dan ternyata lokasinya di luar komplek ini. Jika gue mendatangi lokasi komunitas ini, kemungkinan besar gue ngga akan menemukan apapun, karena belum tentu saat itu adalah jadwal latihan mereka. Kembali harus menelan kekecewaan. Alamak...Rasanya langsung pengen mabok - mabokan.....pake jus jeruk dingin Downing Shots

Setelah puas mengobrol, gue pun meninggalkan komplek Gereja Tugu, masih dengan hati kecewa. Langkah kaki terasa berat, karena rasa penasaran yang belum terobati. Sebenarnya gue pengen banget mengikuti kebaktian sore di gereja itu, namun berhubung baru akan berlangsung jam 6 sore, gue khawatir mengenai perjalanan pulang nantinya. Sejak saat itu, tekad gue untuk kembali ke gereja ini semakin membara.

Beberapa minggu setelah itu, gue kembali ke Gereja Tugu. Kali ini gue akan mengikuti kebaktian jam 9 pagi. Gue tiba sekitar 30 menit sebelumnya, karena selalu ingin merasakan keheningan gereja sebelum kebaktian dimulai. Berbeda dari gereja - gereja tua yang pernah gue kunjungi sebelumnya, gereja yang dulunya merupakan pemberian dari seorang tuan tanah bernama Justinus van der Vinck ini kecil dan nyaris tanpa detil dan interior yang menunjukkan keantikan atau nilai - nilai histori dan semacamnya, setidaknya di mata orang awam seperti gue. Gue pernah membaca informasi bahwa di bagian dalam gereja terdapat beberapa piring - piring logam antik, namun saat ini gue tidak melihat apapun tergantung di tembok - tembok gereja. Benda favorit gue di gereja ini adalah pintu merahnya yang besar yang menurut gue terlihat bergaya oriental, serta jendela - jendelanya yang megah. Terlepas dari itu semua, berkesempatan beribadah di gereja bersejarah ini adalah pengalaman istimewa untuk gue pribadi.

Rasa penasaran gue pun terobati. Rasa lelah menempuh jarak jauh, menggunakan empat kendaraan umum ditambah commuter line untuk mengantar gue kemari, terbayar sudah. Bravo, Cherry & makasih Yesus !

Clap

Wednesday, May 28, 2014

Suatu Siang di Vihara Dharmakaya


Hari Minggu (25 Mei 2014) kemarin gue kembali ke Bogor. Selain untuk mengikuti kebaktian pagi di Gereja Zebaoth, juga untuk refreshing, setelah minggu melelahkan yang gue lalui sebelumnya.

Setelah gereja, tentu saja langkah kaki gue ngga jauh dari urusan kuliner. Setelah perut terisi penuh, gue berusaha mencari ide lain untuk mengisi waktu, berhubung saat itu masih terlalu dini untuk kembali ke Jakarta. Gue teringat keinginan gue untuk mengunjungi beberapa klenteng atau vihara yang ada di Bogor. 


Vihara pertama yang gue kunjungi adalah Vihara Dhanagun. Dari sini, setelah sempat berhenti di Gang Aut terlebih dahulu untuk menikmati bakso gepeng, gue menuju Vihara Dharmakaya yang ada di Jalan Siliwangi, Sukasari. Suasana di dalam vihara sepi dan tenang. Saat itu tak ada pengunjung, jadi tidak ada ritual sembahyang. Penjaga yang duduk di teras vihara menyambut dan menyapa dengan ramah. Dan gue pun meminta ijin untuk memasuki vihara untuk sekedar melihat - lihat. 


Memasuki ruangan vihara, gue disambut altar Dewi Kwan Im yang ada di ruang terdepat dari bangunan utama. Selain itu terdapat meja atau altar abu lainnya yang sejujurnya gue ngga mengerti altar - altar tersebut dipersembahkan untuk siapa saja. Namun yang menarik, semua tersusun rapih, teratur dan bersih. Sekonyong - konyong gue merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan berada di tempat itu. Bayangkan, vihara tersebut tadinya adalah sebuah rumah kuno yang pastinya berusia sangat tua, namun tetap berdiri kokoh tanpa banyak renovasi. Selain itu, barang - barang yang ada di dalamnya pun, terlihat jelas tua dan antik.

Saat itu, di vihara yang berdiri di atas lahan 2,000 meter itu gue hanya menemui 2 (dua) orang yang menjaga vihara. Saat gue memasuki ruang berikutnya di mana terdapat meja abu dan terdapat beberapa foto hitam putih seorang wanita, dua ekor anjing yang keduanya bernama Bleki menghampiri gue. Gue duduk di lantai, menikmati kedamaian yang gue rasakan sejak memasuki vihara, ditemani oleh  duo Bleki yang salah satunya mirip seekor rottweiler.

Vihara ini memiliki sejarah panjang. Dari hasil browsing, gue menemukan cerita bahwa rumah yang kini menjadi bangunan vihara tadinya milik seorang Nyonya tanah yang tinggal di Kwitang bernama Teng Oen Giok. Ny. Teng Oen Giok mendedikasikan tanah ini kepada seorang wanita bernama Ma Suhu Tan Eng Nio, beliau inilah yang mengurus dan mengelola vihara. Ma Suhu meninggal tahun 1950an dan saat ini, gue duduk tepat di sebelah meja abunya.


Meskipun vihara ini merupakan bangunan tua dan sepi penghuni saat itu, namun gue ngga ngerasa takut atau kesepian. Gue justru takjub, betapa tempat ini menyuguhkan rasa damai bagi pikiran gue, dan membuat gue betah di sana. Gue tinggal di situ setelah sekitar 2 jam. Dalam hati gue berjanji akan kembali kemari, meskipun bukan untuk bersembahyang, namun jika diijinkan, gue akan kesini.

Ngga butuh waktu lama, di hari Selasa (27 Mei 2014) tepat di hari libur Maulid Nabi, gue kembali menginjakkan kaki di vihara ini. Kedatangan gue kembali disambut ramah oleh kedua penjaga. Kali ini gue masuk lebih dalam, karena saat itu gue hendak mencari Bleki yang kebetulan dirantai di area belakang. Area ini berada terpisah dari bangunan utama, dan merupakan salah satu dari keseluruhan bangunan tambahan berbentuk L yang terdiri dari dapur, ruang menonton, ruang - ruang lainnya dan ada 2 (dua) meja abu, kalau ngga salah.
Untuk gue yang hidup di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan segala rutinitasnya yang semrawut, vihara ini adalah oase. Sepi dan tenang sepanjang saat. Jika ada suara yang timbul, pastinya itu suara gue yang sedang asyik bermain - main dengan kedua Bleki.

Semoga vihara ini tetap dijaga dan dilestarikan. Melihat setiap detil dari barang - barang yang ada di dalamnya, vihara ini kaya akan nilai sejarah. Meskipun bukan penganut agama Buddha, namun vihara ini adalah tempat istimewa di mata gue, dan sampai saat ini masih menimbulkan tanda tanya besar di hati dan pikiran gue, mengapa gue begitu menikmati dan merindukan keheningan yang ada di dalamnya.