I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Wednesday, July 30, 2014

Makam Belanda di Kebun Raya Bogor

 

Kemarin (Selasa, 29 Juli 2014), gue kembali mengunjungi komplek Makam Belanda di Kebun Raya Bogor. Sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, gue pernah juga ke sini. Tapi berhubung saat itu ketertarikan gue akan makam - makam Belanda, terlebih yang kuno, belum sedahsyat sekarang, jadi gue ngga punya dokumentasi apapun mengenai kunjungan gue ke sana.

Menurut petunjuk yang tersedia di area komplek, disebutkan bahwa komplek pemakaman Belanda ini sudah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan pada tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt, seorang ahli botani asal Jerman, yang merupakan Direktur Kebun Raya Bogor yang pertama. Di komplek yang tidak terlalu luas ini terdapat total 42 makam, yang hanya 38 di antaranya saja yang memiliki identitas. 




Makam Ary Prins (wafat : 28 Januari 1867), seorang
ahli hukum dan pernah menjadi Gubernur Hindia Belanda selama dua kali
Makam Dominique Jacques de Eerens (wafat : 30 Mei 1840),
Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1836 - 1840
 

Mereka yang dimakamkan di sini kebanyakan adalah keluarga dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tahun wafat mereka bervariasi, ada yang tahun 1784 (Cornelis Potmans, administrator toko obat berkebangsaan Belanda) dan yang terbaru adalah tahun 1994, yaitu A.J.G.H Kostermans, seorang ahli botani asal Belanda yang kemudian menjadi warga negara Indonesia. Beliau memilih untuk dimakamkan di sini, di lingkungan yang ia cintai.




Yang menarik dari komplek makam Belanda di sini adalah kesan dramatisnya, karena lokasinya seakan - akan terkepung di antara pepohonan bambu yang sangat tinggi dan lebat. Dengan keberadaannya di tengah - tengah pepohonan rindang seperti itu, komplek ini jadi cenderung gelap dan teduh. Selain itu, komplek ini juga bisa dibilang sepi sunyi, karena ngga banyak pengunjung kebun raya yang mampir ke sini, entah karena takut atau memang ngga tahu mengenai keberadaannya. 

Mengamati setiap bentuk makamnya yang menurut gue terbilang unik dan khas Belanda, merupakan keasyikan tersendiri. Ditambah lagi dengan membaca untaian kata - kata yang terukir di bangunan makam masing - masing. Ada yang ditulis dalam bahasa Inggris, namun kebanyakan bahasa Belanda. Kebanyakan di makam - makam tersebut menorehkan keterangan seperti nama, tanggal kelahiran dan kematian, serta jabatan sang pemilik makam. Namun ada juga yang menambahkan dengan ayat - ayat Injil, seperti yang terdapat pada makam  Charles Gerard Alexander (1845 - 1871) :

Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada - Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. (Yohanes 11:25)

Makam Charles Gerard Alexander

Wednesday, July 09, 2014

Situs Makam Jerman di Lereng Pangrango

Gue mendengar keberadaan situs ini sebenarnya udah sejak tahun lalu. Tapi mengingat lokasinya di 'Megamendung' ditambah lagi review - review yang gue baca seringnya bilang 'medannya sulit dijangkau' dan semacamnya, jadi rencana ke sana sering tertunda.

Hari Minggu (06 Juli 2014), kemarin akhirnya gue memantapkan langkah untuk mencari lokasinya. Sejak awal minggu gue kebetulan sudah berencana untuk ibadah di Gereja Zebaoth Bogor, jadi sekalianlah gue memuaskan rasa penasaran akan Situs Makam Jerman ini.

Dari Stasiun Kereta Bogor, gue naik angkutan umum No. 02 jurusan Sukasari - Bubulak, turun di PDAM Sukasari (sebelum angkutan belok ke arah Pabrik Boehringer). Dari situ gue naik angkutan lagi jurusan Cisarua sampai melewati simpang Gadok sedikit, kemudian turun di jalan masuk menuju Pasir Muncang yang ada di sebelah kanan jalan. Gue pun naik angkutan biru lagi jurusan Pasir Muncang - Ciawi. 


Saat di dalam angkutan ini sebenarnya gue masih bingung harus turun di mana, sampai akhirnya gue bertanya ke seorang penumpang perempuan yang sangat baik. Dia memberikan petunjuk, dan lenyaplah kebingungan gue berganti dengan semangat menyala - nyala. Ketika penumpang yang baik hati ini tahu tujuan pencarian gue, yaitu Makam Jerman, dia sempat bertanya, "Memang ada acara apa di sana, Mbak ?" Gue sempat kehilangan kata - kata begitu mendengar kata "acara" barusan. Mungkin dia menyimpan kebingungan, karena mustahil gue kesana untuk berziarah, layaknya ziarah ke makam leluhur, berhubung penampilan gue yang 'ngga ada Jerman - Jermannya secuil pun'. Gue pun menjawab bahwa gue sekedar ingin lihat dan mengunjungi kawasan bersejarah dan terkenal tersebut.  Pertanyaan kayak begini selalu menjadi tantangan tersendiri buat gue, untuk mencari jawaban dan penjelasan yang singkat, padat dan masuk akal. Mungkin karena hobi 'wisata ke pemakaman tua dan bersejarah' bukanlah hobi yang populer, jadi orang - orang kerap bingung.

Kembali ke kisah kasih perjalanan mencari lokasi situs, gue turun sampai akhir tujuan angkutan ini, yaitu Pasir Muncang, dan langsung disambut sama tukang - tukang ojek. Perjalanan masih dilanjut dengan naik ojek sampai ke lokasi Makam. Cukup dengan bayar Rp. 10,000, para sopir ojek udah tahu lokasinya begitu gue bilang "Makam Jerman".



Perjalanan dengan ojek menuju lokasi makam inilah yang menurut gue paling seru, karena selain jauh, jalannya juga menanjak dan kadang berkelok. Maklum.....lokasinya terletak di lereng gunung Pangrango. Bonus dari perjalanan seru ini adalah pemandangan hijau yang indah, hawa pengunungan yang sejuk serta udara yang segar.

 

Akhirnya gue tiba di lokasi Situs Makam Jerman Arca Domas. Tempatnya teduh banget, karena di antara pepohonan cemara yang tinggi menjulang serta pohon - pohon beringin. Kesan seram ? Ngga ada.....karena suasana lokasinya yang asri, sepi dan tenang.

Jika mengikuti jalan setapaknya, pengunjung akan disambut oleh sebuah tugu peringatan bercat putih, yaitu tugu peringatan bagi para tentara Jerman yang telah gugur. Masuk lebih ke tengah, gue melihat makam ini dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, dua makam jasad tak dikenal yang pada batu nisannya yang berbentuk salib besi terukir tulisan : Unbekannt (tak dikenal)

 

Lalu dengan melalui beberapa anak tangga saja, bagian berikutnya adalah delapan makam tentara Jerman lainnya yang pada batu nisannya tertulis nama, pangkat, tanggal lahir serta tanggal kematiannya. Kesepuluh jasad yang terkubur di sini adalah anggota Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) dari armada kapal selam (U-Boat). Jerman, yang merupakan sekutu Jepang, kembali masuk ke Indonesia setelah Jepang menaklukkan Belanda di tahun 1943. Ini adalah hal yang gue belum pernah tahu sebelumnya....sejauh ingatan gue ketika mempelajari sejarah sepanjang masa sekolah dulu, rasanya gue cuma ingat 'Belanda' dan 'Jepang' sebagai negara - negara yang pernah masuk dan menduduki Indonesia pada masa - masa perjuangan kemerdekaan.

 

Pada bagian ketiga, tepatnya di posisi tengah, terdapat sebuah monumen bertuliskan "Dem Tapferen, Deutsch-Ostasiatischen Geschwader, 1914″, dan pada bagian bawahnya : "Errichtet von Emil und Theodor Helfferich, 1926″. Artinya : Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich, 1926.


Emil & Theodor Helfferich adalah dua bersaudara yang mendirikan monumen ini untuk mengenang tentara Angkatan Laut Jerman yang tewas ketika Perang Dunia I. Monumen ini dibangun pada tahun 1926, tepatnya ketika kapal penjelajah Jerman "Hamburg" datang ke pulau Jawa. Hellfferich bersaudara membeli tanah di kawasan ini dan menjadikannya perkebunan teh. 

Di sisi kiri monumen terdapat sebuah patung Ganesya dan di kanan terdapat patung Buddha. Keduanya dibangun untuk menghormati agama tua yang ada di Jawa.

 

Pemakaman ini juga semakin 'dipercantik' dengan hadirnya pepohonan kamboja yang memberikan kesan teduh dan warna yang kontras di tengah - tengah pepohonan hijau yang mengelilingi pemakaman.

Gue dan Ony tinggal beberapa saat di sana, menikmati ketenangan dan keindahan pemakaman yang kaya nilai sejarah tersebut. Setelah puas berkeliling di area seluas 300 meter itu, gue pun meninggalkan lokasi dengan menumpang ojek yang masih menunggu dengan setia.
 

Sunday, June 29, 2014

Ereveld Ancol : "Peristirahatan" Belanda di Tepi Pantai

Kemarin (Sabtu, 28 Juni 2014), akhirnya gue berkesempatan mengunjungi satu lagi Ereveld yang ada di Jakarta, yaitu Ereveld Ancol. Kunjungan gue ke Ereveld Menteng Pulo sebelumnya memang menyisakan rasa penasaran dalam diri gue untuk mencari dan mengunjungi ereveld - ereveld lainnya. Kenapa ? Karena gue tertarik dan kagum dengan cerita sejarah yang melatarbelakangi pembangunan ereveld - ereveld ini. 

Lokasinya yang ada di dalam area Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), 'memaksa' gue harus merogoh kantong untuk mengunjungi Ereveld ini, yaitu untuk tiket masuk TIJA. Meskipun Ereveld ini bukan termasuk dari wahana hiburan yang ada di TIJA, namun petunjuk lokasinya jelas. Ereveld terletak di dekat Pantai Carnaval. Kalau kehadiran Ereveld Menteng Pulo menurut gue sangat kontras dengan gedung - gedung pencakar langit yang ada di sekitarnya, Ereveld ini kontras karena terletak di antara pantai dan keramaian pengunjung yang sedang piknik di Ancol.

Area Ereveld Ancol ngga terlalu luas. Menurut informasi Pak Elisa, Kepala Ereveld Menteng Pulo, luasnya 'hanya' sekitar 1 hektar. Saat gue tiba di sana sore itu, gue ngga melihat siapapun, termasuk petugas kebersihan ereveld. Di dekat gerbang gue melihat petunjuk mengenai jam berkunjung, dan agar pengunjung membunyikan bel jika hendak memasuki area. Bel yang dimaksud ternyata istimewa, yaitu sebuah lonceng. Setelah 2 kali menarik tali lonceng, seorang petugas kebersihan datang mendekat. Beliau dengan ramah membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

Gerbang Ereveld
Waktu berkunjung

Bel lonceng
Meskipun saat itu sudah cukup sore, namun gue beruntung karena Pak Dicky, kepala Ereveld Ancol, kebetulan keluar dari rumahnya yang memang berada di area Ereveld, dan bersedia menemani gue dan Ony sejenak serta berbagi cerita mengenai ereveld ini.

Setelah itu, karena ngga ingin menahan Pak Dicky terlalu lama, karena gue tahu waktu kerjanya sudah berakhir sejak jam 1 siang tadi, gue dan Ony pun pamit untuk melihat pemakaman lebih dekat.

Ereveld Ancol, yang berbatasan langsung dengan pantai ini, diresmikan pada 14 September 1946. Di sini terdapat sekitar 1,500 makam. Yang menjadi kekhususan dari Ereveld Ancol adalah di sini dimakamkan warga negara Belanda maupun Indonesia, baik tentara maupun sipil, yang menjadi korban eksekusi oleh pihak Jepang selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Karena itu pada nisan banyak terdapat tulisan "Geexecuteerd...." Ada "Geexecuteerd Mandor" (dieksekusi di Mandor), "Geexecuteerd Antjol" (dieksekusi di Ancol), "Geexecuteerd Pontianak" (dieksekusi di Pontianak) dan banyak lagi lainnya. Ditulis 'Geexecuteerd' karena identitas mereka tidak dikenali, sehingga hanya ditulis berdasarkan lokasi dimana mereka ditemukan saja.

Di tengah - tengah keasyikan gue mengeksplorasi ereveld tiba - tiba handphone gue berbunyi. Nama di layar "Mama" dengan gambar bunga matahari sebagai foto profilnya. Mendadak gue panik. Di seberang sana ternyata Mama bingung karena tadi gue meninggalkan rumah tanpa pamit. Memang....karena tadi Mama sedang menikmati tidur siangnya dan gue ngga mau ganggu. Selama berbicara dengan Mama dalam hati gue terus berharap...jangan sampai Mama tanya dimana gue saat itu...please, Tuhan...Jantung gue nyaris berdetak lebih kencang dari biasanya....berada di antara 1,500 makam yang sepi ngga bikin gue ngeri. Tapi begitu berbicara dengan Mama di telepon, rasa takut justru tiba - tiba menyergap. Takut kalau Mama menanyakan tujuan langkah kaki panjang gue saat itu....dan entah apalagi yang harus gue lakukan...berbohong lagi...atau dengan jujur bilang, "Di Ancol Ma..." Dengar "Ancol" aja Mama pasti akan mengeluarkan jurus histerisnya. Nanti pasti Mama akan memekik, "Apa? Ancol? Jauh banget kau kesana ? Ngapain sih ?" Lalu jika si pemburu makam bersejarah bernyali tipis ini menjawab, "Di makam Belanda, Ma..." Maka, tamatlah riwayat gue saat itu juga...

Namun kali ini gue beruntung, Mama ngga menanyakan lebih lanjut keberadaan gue saat itu. Mungkin itu caranya untuk menghindari serangan darah tinggi. Karena dia tahu, langkah kaki gue terkadang menuju tempat - tempat yang baginya aneh sehingga memancing emosi kesal. Begitu pembicaraan di telepon dengan Mama selesai, gue pun lega dan perhatian gue kembali pada ereveld ini. 

Pendopo tempat menerima tamu
Lambang Oorlogsgraven Stichting
Dilihat dari gazeb
Seluruh makam tersusun rapi dan bersih
Monumen Ereveld Ancol
"Hungeest Heeft Overwonnen"
Semangat Mereka Telah Menang
....beristirahatlah dengan tenang....
Geexecuteerd Antjol
 "Geexecuteerd Antjol"adalah para korban eksekusi yang dilakukan di Ancol. Salah satu lokasi eksekusinya masih tersisa dan menjadi bagian dari ereveld, yaitu sebuah pohon mindi. Di pohon inilah eksekusi terhadap ratusan korban dilakukan. Kini, pohon besar yang merupakan saksi bisu sejarah itu sudah mati dan diawetkan. Pada bagian batang pohon diletakkan sebuah pelat dengan tulisan penggalan puisi "For The Fallen" karya seorang penyair Inggris bernama Laurence Binyon:

Hemelboom

They shall not grow old
as we that are left grow old
Age shall not weary them
nor the years condemn
at the going down of the sun
and the morning
We shall remember them
We shall remember them

Antjol 1942 - 1945

...Hemelboom...

Pohon Mindi
Duduk di dekat pohon ini dengan puisi indahnya yang bermakna mendalam, menimbulkan perasaan berkecamuk, antara kengerian, kesedihan, haru, namun juga takjub. Terlepas dari bagaimana kematian menjemput mereka, dengan cara yang kejam dan mengenaskan yang gue pribadi pun terlalu ngeri untuk membayangkannya, namun dari dalam hati yang terdalam, meskipun gue ngga mengenal mereka, tersisip doa semoga semua korban ini dapat beristirahat dengan tenang.

Meskipun Ereveld Ancol tidaklah terlalu luas, dan tanpa bangunan - bangunan tambahan indah seperti gereja dan lainnya, namun ereveld ini tetaplah menyimpan keistimewaan untuk gue. Satu lagi lokasi yang telah gue kunjungi dan membuat gue merasa bertambah 'kaya' karena kisah sejarah yang dimilikinya. Sepenggal cerita yang menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia namun belum pernah gue dengar dari pelajaran - pelajaran mana pun sepanjang masa sekolah gue.

Monday, June 23, 2014

Kisah Sedih di Hari Minggu

Seharusnya itu Minggu pagi yang ceria dan normal seperti biasa. Tepat jam 5:15 pagi gue dan Momo si Husky meninggalkan rumah menuju lapangan luas di seberang Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di dekat perumahan Tanjung Barat. 

Setelah mengelilingi lapangan 5 kali sambil berjalan, gue dan Momo pun kelelahan. Kali ini gue ngga bawa peralatan minum untuk Momo karena agak malas menyiapkannya tadi pagi. Gue pun berniat membawa Momo kembali ke rumah, dan setiba di sana, gue akan menyiapkan Bruncuz untuk sesi jalan - jalannya. Demikianlah rutinitas gue yang melelahkan, namun mau ngga mau harus dijalankan sebagai tanggung jawab pemilik anjing. 

Semuanya lancar dan menyenangkan, sampai gue tiba di depan sebuah bengkel di Rancho, dimana gue melihat seekor anjing berwarna coklat lengkap dengan rantai di lehernya, sedang asyik di pinggir jalan. Gue sedang berusaha mengingat - ingat dimana gue pernah melihatnya, saat anjing coklat itu melihat Momo dan langsung dengan gerakan cepat mendekat dan menyerangnya. Momo pun bereaksi memberi perlawanan. Gue, yang kaget dengan situasi tersebut hanya bisa menarik tali Momo ke atas. Maksudnya adalah antara melindungi bagian wajahnya dari serangan si anjing gila, sekaligus menghindari konflik lebih parah. Saat itu gue berharap dengan menjauhkan mulut dan taring Momo dari anjing tersebut, perkelahian akan segera berakhir. Situasi sangat menegangkan. Momo menggonggong sejadi - jadinya. Gue yang sehari - hari jarang mendengarnya menggonggong, semakin panik karena itu pertanda si Husky yang gagah berani nih merasa terancam dan tersakiti. 

Di satu titik, gue berhasil mengalihkan perhatian si anjing gila tadi dengan menghalaunya, dan memberi waktu untuk gue dan Momo berlari kabur. Namun ternyata si anjing gila mengejar ganas dari belakang, hingga gue terpaksa berhenti lagi di depan sebuah rumah berhalaman luas. Di saat itulah sekonyong - konyong gue teringat. Anjing gila itu adalah milik penghuni rumah ini. Anjing yang selalu terikat dan terantai, dan bereaksi ganas tiap kali gue dan anjing - anjing gue melalui rumah ini. Lagi - lagi Momo diserangnya secara fisik. Dan beberapa kali gue mendengar gonggongan Momo yang melengking, menandakan dia kesakitan. Di tengah kemarahan dan kepanikan, gue berteriak kepada pemilik tambal ban yang menempati secuil area di bagian depan rumah tersebut, meminta supaya dia menjauhkan anjing tersebut dari Momo. 

Namun dia pun ketakutan, dia bilang itu bukanlah anjingnya, dan dia tak memiliki keberanian untuk mencegahnya. Dia bilang, hanya si pemiliknya saja yang bisa melakukannya. Gue ngga bisa melangkah maju, si anjing gila ada di hadapan gue dan Momo. Itu adalah detik - detik yang menengangkan.

Dari kejauhan gue melihat seorang pria, yang adalah pemilik rumah, keluar dan mendekat ke mobilnya. Gue asumsikan dia sedang bersiap - siap berangkat ke gereja. Dengan susah payah gue berteriak memanggilnya. Saat itu gue geram bukan main. Dia ngga boleh membiarkan anjing gilanya lepas dan meninggalkan rumah dan mengganggu lingkungan sekitarnya seperti itu ! Itu hal paling bodoh dan egois yang dilakukan pemilik anjing !

Dengan tergopoh - gopoh si pemilik anjing gila pun mendekat. Gue minta dia untuk menjauhkan anjingnya dari Momo karena dia menyerang duluan. Saat itulah si anjing gila kembali mendekati Momo dan lagi - lagi menyerangnya. Pemiliknya berusaha menghalau, namun sepertinya tak banyak yang bisa dilakukan. Entah mengapa yang gue bisa lakukan adalah menarik tali Momo ke atas. Sebenarnya gue ingin melindung wajahnya terlebih matanya. Namun saat itu gue ngga sadar bahwa itu pasti menyakiti bagian dadanya. Dan yang menyedihkan lagi, gue sempat mendengar jeritan Momo yang keras dan panjang, menandakan bahwa saat itu dia sedang sangat kesakitan.

Akhirnya si pemilik anjing yang bodoh itu berhasil menarik anjingnya. Gue pun spontan membawa Momo berlari. Tanpa gue sadari dari tadi, ternyata kejadian itu menjadi bahan tontonan orang - orang sekitar yang memandang dengan tatapan ngeri. Gue dan Momo berlari sekencang - kencangnya. 

Tiba di rumah, Momo gue arahkan ke ruang samping, bukan ke halaman belakang. Saat gue sentuh badannya, tampak Momo masih sangat trauma dan kelelahan. Mungkin juga kesakitan. Momo pun langsung mencapai ember air dekat situ dan minum sebanyak - banyaknya. Kadang ia masukkan salah satu kakinya ke dalam ember. Selesai minum, dia pun menjauhkan diri dari ember. Gue mendekat dan mengelus kepala dan badannya, namun ia tak bereaksi. Nafasnya masih tersengal - sengal, mulut dan hidungnya hangat. 

Gue menjauh ke arah pagar ruangan. Dari situ gue memanggil Momo beberapa kali. Momo tidak bereaksi. Gue sangat merasa bersalah. Gue adalah pemiliknya, namun tak bisa melindunginya tadi. Justru gerakan yang gue lakukan terhadapnya seakan - akan membuatnya tak berdaya untuk melakukan perlawanan. Itukah yang Momo rasakan ? Tatapan mata seekor Husky sangat tajam dan bermakna. Namun gue ngga bisa mencerna arti tatapan matanya saat itu. Dengan dia tidak mau merespon panggilan gue, itu sangatlah ganjil. Selama ini Momo adalah sosok anjing yang sangat manja, dan akan selalu meloncat - loncat ke arah gue setiap kali gue datang. Dan sekarang kekakuannya dan sikapnya yang dingin seakan - akan gue tidak ada di ruang itu, sangatlah membuat gue sedih.

Anjing ini pasti sudah memupuk kepercayaannya terhadap gue selama berada di rumah ini beberapa bulan terakhir. Kepercayaan bahwa gue akan merawat dan melindunginya dalam keadaan apapun. Kepercayaan bahwa gue adalah sahabat yang bisa diandalkan. Namun mungkin pagi tadi semuanya pupus begitu saja. 

Gue pun meninggalkan ruangan. Berusaha memberinya waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri dari kejadian yang pasti membuatnya stres tadi pagi. Sesekali gue masuk ke dalam, dan melakukan hal sama, memanggilnya, berharap Momo datang mendekati gue dengan antusias...seperti yang biasanya dia lakukan. Namun Momo tetap membaringkan badannya di pojok sambil matanya memandang tajam ke arah gue. 

Setelah beberapa kali mencoba, gue kembali masuk ke ruangan dan memanggil Momo. Akhirnya kali ini dengan langkah berat Momo bangkit dari posisi tidurnya dan mendekat ke arah gue. Terharu. Si Husky yang gagah namun manja ini, akhirnya memutuskan untuk memaafkan gue dan memberikan kesempatan berikutnya. Kesempatan untuk menjadi pelindungnya yang bertanggung jawab, yang tahu apa yang dilakukan saat sahabatnya dalam keadaan terancam jiwa dan raga. Momo pun kembali membaringkan badannya yang besar, namun kali ini di sisi gue. Dia pasti masih sangat kelelahan dan tertekan. Gue memijiti pundak Momo dan tetap dalam posisi itu beberapa saat. Gue pun keluar sebentar untuk membeli roti, dan memberikannya kepada Momo. Entah terdengar bodoh atau konyol, saat itu dalam hati gue berjanji padanya, "Mo, lain waktu kita akan cari lapangan lainnya...atau jalanan lainnya menuju lapangan yang sama. Kita akan tetap jalan pagi setiap weekend. Anjing gila itu ngga akan menghentikan kita. Dan kejadian tadi ngga akan terulang lagi..." 

Kejadian pagi itu adalah salah satu momen paling menegangkan serta mengerikan yang pernah gue temui. Malang benar si Momo....di rumah dia sering diserang oleh Bruncuz....dan kali ini di jalan pun, di saat seharusnya dia bersenang - senang menikmati sesi jalan paginya bersama gue, dia justru diserang oleh anjing lainnya. Gue merasa sangat menyesal dan bersalah, karena gagal memberikan rasa nyaman dan aman pada sahabat berkaki empat ini. Perasaan yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh orang - orang yang menyayangi dan memiliki ikatan emosional dengan anjingnya.

Tatapan Momo yang trauma :(

Semestinya insiden semacam itu ngga terjadi andaikan setiap pemilik anjing menyadari tanggung jawabnya, terutama terhadap lingkungan sekitarnya. Terlebih, di lingkungan yang kurang menerima kehadiran anjing seperti ini. Kali ini Momo yang jadi korban, bagaimana jika manusia korbannya ? Sampai sekarang gue ngga habis pikir dengan tindakan bodoh si pemilik anjing....mungkin dia lupa bahwa lingkungan dimana rumahnya berada bukanlah milik nenek moyangnya, sehingga dia membiarkan anjingnya berkeliaran tanpa pengawasan, dan lupa kewajibannya untuk menghormati kepentingan orang sekitarnya.

Sunday, June 15, 2014

Ereveld Menteng Pulo : Makam Bersejarah di Tengah Kota

Ereveld Menteng Pulo
Belakangan minat gue agak sedikit nyentrik : mengunjungi pemakaman tua dan bersejarah. Tujuannya bukan untuk bertapa, bersemedi, mencari wangsit atau hal - hal yang berbau klenik lainnya, tapi sekedar untuk memuaskan keingintahuan gue yang memang menyukai situs - situs yang bernilai budaya dan sejarah. Dan kali ini, rasa penasaran membawa gue ke Ereveld (Makam Kehormatan) Menteng Pulo.

Untuk mendapatkan ijin mengunjungi Ereveld, beberapa hari sebelumnya gue menghubungi Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorloch Gravenstichting) yang berkantor di kawasan Panglima Polim, melalui telepon (No. 021 - 7207983) dan dilayani oleh Sekretaris Direkturnya, Ibu Ita. Ibu Ita sangat ramah dan segera memberikan ijin lisan untuk gue, serta berjanji akan langsung menghubungi Kepala Ereveld Menteng Pulo, Bapak Elisa Barkah, mengenai rencana kedatangan gue hari Sabtu, 14 Juni 2014. Saat gue menanyakan perlu tidaknya mengirimkan surat permohonan ijin tertulis, Ibu Ita bilang tidak perlu. Beliau hanya berpesan agar ketika memotret di area pemakaman, jangan memotret nama - nama yang tercantum baik pada batu nisan maupun wadah penyimpanan abu jenazah, demi menghormati mereka yang dikuburkan di area ini dan keluarganya. Syarat yang sama sekali ngga sulit untuk gue, yang saat itu girang bukan main karena mendapatkan ijin resmi.

Di Sabtu pagi, saat pamit ke Mama, gue terpaksa harus berbohong ketika Mama nanya tujuan langkah gue hari itu. Karena jika gue jawab, "Ke Pemakaman Belanda, Ma..." pastinya Mama akan histeris dramatis mendengarnya. Dan selanjutnya gue akan mendengar omelan..."Ngapain kau ke pemakaman ?? Aneh - aneh aja kau !" atau..."Memang gak bisa kau cari tempat lain ? Kok ke kuburan ? Ga ngeri apa kau ke sana??"....atau "Terlalu panjang kakimu, memang...istirahat kek di rumah....ini malah ke kuburan !?" Demikianlah kisahnya....meskipun Mama adalah orang yang paling memahami gue dengan segala kelebihan, kekurangan dan keanehan gue, namun tetap saja ada hal - hal yang sampai sekarang bikin Mama geleng - geleng kepala dengan sepak terjang gue.

Lambang Oorloch Gravenstichting
Gue dan Ony tiba di Ereveld telat 30 menit dari yang gue janjikan. Tiba di sana, seorang pemuda yang menjaga pintu gerbang mengantar gue menemui Bapak Elisa Barkah, sang kepala Ereveld. Beliau inilah yang dengan ramah mengajak gue dan Ony berkeliling area Ereveld, menceritakan sejarahnya dan tanpa lelah atau bosan menjawab setiap pertanyaan yang gue dan Ony lontarkan. Keramahan yang gue rasakan sejak menghubungi Ibu Ita di kantor Yayasan, dan kemudian bertemu Bapak Elisa di Ereveld menimbulkan rasa salut dan apreasiasi setinggi - tingginya dalam hati gue kepada Yayasan ini, yang telah membuka tangan lebar - lebar bagi siapapun yang ingin mengenal Ereveld ini dan mengetahui sejarahnya.

Ereveld Menteng Pulo adalah salah satu dari beberapa pemakaman di dunia yang dikelola oleh Oorloch Gravenstichting. Misinya adalah untuk menghormati warganya beserta sanak saudara yang menjadi korban perang, di seluruh belahan dunia, dengan menyediakan tempat peristirahatan yang layak dan merawatnya. Di Indonesia sendiri, terdapat tujuh Ereveld yang seluruhnya terdapat di Pulau Jawa : Ereveld Menteng Pulo dan Ancol (Jakarta), Leuwigajah dan Pandu (Bandung), Kembang Kuning (Surabaya) dan Candi serta Kalibanteng (Semarang). Di Indonesia, Ereveld - Ereveld ini didedikasikan bagi tentara dan pekerja KNIL dan sipil warga Belanda yang tewas di Indonesia selama perang Kemerdekaan Indonesia. 
'8 Desember 1947, peletakan batu pondasi oleh yang terhormat Pimpinan AD Letnan Jenderal H.S Spoor'
Peletakan batu pondasi Ereveld Menteng Pulo dilakukan pada 8 Desember 1947 oleh Pemimpin Angkatan Darat Letnan Jenderal H.S. Spoor, yang ketika wafat juga dimakamkan di lokasi ini. Saat ini terdapat sekitar 4,000 lebih jenazah dimakamkan di area seluas 3 hektar tersebut. Yang membuatnya menarik dan indah adalah semua makam dan nisan disusun rapi dan seragam. Tidak ada nisan atau makam yang tampak menonjol dari lainnya. Seluruh nisan terlihat sederhana dan bersahaja : bercat putih, dengan bentuk disesuaikan berdasarkan keyakinan masing - masing jenazah : Kristiani, Yahudi, Muslim dan Buddha.

Di samping itu, setiap nisan dibubuhi tulisan dengan format sama : nama, pangkat (jika tentara/serdadu), tanggal lahir dan tanggal kematian. Jika data - data dari jenazah yang dikuburkan tidak diketahui maka dibubuhi tulisan "ounbekend" yang berarti : tidak diketahui.
"Opdat Zij Met Eere Mogen Rusten"
Semoga mereka beristirahat dalam kehormatan
"Een Kind Van De Oorlog"
Anak korban perang

Lautan Salib
Rosarium, tempat istirahat pengunjung dan peziarah
Berlatar belakang Apartemen Puri Casablanca
Di antara gedung pencakar langit
Ereveld ini semakin 'dipercantik' dengan kehadiran Gereja Simultan dan Columbarium, yang begitu kontras dengan bangunan - bangunan pencakar langit yang mengelilingi area ini. Meskipun disebut "gereja" namun sebenarnya bangunan indah ini  bukan digunakan untuk acara keagamaan (misa atau kebaktian) melainkan upacara - upacara kenegaraan yang rutin dilakukan di sini.

Di dalam gereja terdapat dua buah salib, satu diletakkan di altar gereja, dan salib lainnya didatangkan dari Burma, terbuat dari kayu bantalan rel kereta api. Rel kereta ini dibangun oleh tentara sekutu yang merupakan tawanan tentara Jepang saat itu. Rel kereta yang dimaksud, menghubungkan Thailand dan Burma, dan melintas di atas Sungai Kwai. Yang bikin terharu....ihiks....gue sudah pernah meniti jalur kereta yang dimaksud saat berkunjung ke Thailand dalam perjalanan ke Kanchanaburi tahun 2010 yang lalu (Jalan Panjang Menuju Tiger Temple). Dan saat ini, gue berdiri dan memandang kagum ke arah Salib kayu yang ternyata memiliki keterkaitan sejarah.

Yang unik dan istimewa dari gereja ini adalah atap menaranya dimana terdapat empat simbol agama di empat penjuru mata angin : Salib, Bulan dan Bintang, Bintang Daud dan simbol Yin Yang.

Gereja Simultan
Injil di dalam Gereja Simultan
Salib dari Burma
Lonceng gereja
Columbarium adalah koridor berbentuk L, tempat penyimpanan abu jenazah, yang bersebelahan langsung dengan Gereja Simultan. Di tengah koridor terdapat kolam berbentuk persegi serta taman hijau di pinggirannya yang memberikan kesan sejuk dan artistik tempat ini. 

Columbarium
Columbarium
Columbarium
Berhubung Pak Elisa sudah akan mengakhiri waktu kerjanya pada pukul satu siang hari itu, gue dan Ony pun berpamitan, mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya atas kesempatan dan waktu yang diberikan. Setelah itu, beliau mengijinkan gue berdua untuk berkeliling di area Ereveld. Kesempatan itu gue gunakan untuk melihat - lihat kembali lebih dekat setiap bagian dan area Ereveld. 

Monumen Angkatan Udara
"Ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden"
Untuk rekan - rekan kami yang telah jatuh.
.
Blok Makam Penerbang
Monumen Divisi Tujuh Desember
"Onze Eenheid Is Bevestigd Door Ons Gezamenlijk Lijden”
Kesatuan kami diteguhkan dalam penderitaan bersama
Blok Makam Divisi 7 Desember (7DD)
Rasa takjub gue akan tempat ini tak ada habisnya. Tidak ada kesan angker atau seram sedikit pun...yang ada keheningan, keindahan serta keteduhan yang menenangkan, bukan hanya bagi mereka para korban perang yang beristirahat abadi, namun juga untuk gue yang saat itu sekedar mampir dan berkunjung. Gue setuju banget jika tempat ini tertutup untuk umum, dan hanya bisa diakses dengan ijin dari Yayasan. Karena gue yakin, hanya dengan cara demikianlah kebersihan dan ketenangan tempat ini bisa terjaga.

Setelah mengisi buku tamu, gue meninggalkan Ereveld. Mata gue seakan ngga ada puasnya memandang seluruh area Ereveld, yang bagaikan sebuah buku terbuka yang menyajikan cerita sejarah, yang sangat menarik dan bermanfaat.