I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Sunday, January 29, 2017

Perjalanan Panjang Menuju Pusat Konservasi Gajah Way Kambas


Beberapa hari sebelum ulang tahun gue, Ony nanyain mau hadiah ulang tahun apa. Hhmmm....gue bingung jawabnya. Kayaknya kali ini gue menyikapi hari ulang tahun dengan super santai. Bahkan ngga kayak tahun - tahun sebelumnya, tahun ini gue ngga mempersiapkan birthday trip kemana pun. Rasanya Yesus sudah memberikan berkat luar biasa....doa dan harapan terbesar gue selama ini untuk menikah sudah dijawab-Nya. Jadi kalau ditanya apa lagi yang gue inginkan, gue musti berpikir ekstra keras. Gue juga ngga ngebet-ngebet banget pengen dapat kado yang bersifat materi. Rasanya apapun yang gue butuhkan udah terpenuhi, dan gue ngga ngga suka hal - hal yang berlebihan.

"Gue mau ke Way Kambas!!" itu jawaban gue dengan girangnya. Tepat tiga hari sebelum hari ulang tahun, mendadak gue ingin ke Way Kambas. Ngapain ? Bertemu dengan teman - teman gajah gue tentunya! Di ulang tahun gue kali ini, gue ingin mewujudkan sesuatu yang bikin gue benar - benar bahagia. Gajah adalah mahkluk idola dan kesayangan gue. Entah mengapa, cukup hanya melihat sosoknya aja bisa bikin gue girang bukan main. Apalagi kalau bertemu langsung dan berinteraksi dengan mereka di Pusat Konsevasi Gajah (PKG) di Taman Nasional Way Kambas (TMWK).
 
Sebelumnya gue udah pernah ke PKG - TMWK sebanyak dua kali. Saat kedua trip ini, gue bergabung dalam sebuah tour ala ransel gitu deh...Masalahnya, tour tersebut hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja di sana. Gue mau lebih lama....beberapa hari gitu. 

Gue pun mulai menyusun rencana secepat kilat. Dari kunjungan gue ke PKG - TMWK sebelumnya gue sudah berkenalan dengan salah satu pawang di sana, Pak Dedi. Gue pun mulai menghubungi Pak Dedi untuk mengabarkan rencana gue dan mendapatkan informasi sebanyak - banyaknya. Pada kunjungan gue sebelumnya, rencana perjalanan dan transportasi diatur oleh operator tour. Kali ini, gue harus bisa mencapai lokasi PKG - TMWK dengan cara mandiri. Tantangannya, transportasi menuju PKG - TMWK yang sangat terbatas dan sulit diakses.

Dengan waktu super sempit yang gue miliki, gue harus menyusun rencana dan memutuskan segala sesuatu dengan cepat. Untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Lampung gue memilih menggunakan moda transportasi pesawat. Awalnya pertimbangannya agar hemat waktu dan kebetulan harga tiketnya cukup terjangkau. Untuk transportasi lainnya, gue diyakinkan oleh berbagai informasi dari berbagai sumber bahwa gue bisa mengandalkan bus Damri yang katanya akan mengantarkan penumpang bahkan sampai ke lokasi PKG - TMWK. Wowww!! Kemajuan luar biasa, gue pikir. Beberapa tahun lalu, saat gue begitu terobsesi untuk ke PKG - TMWK, gue nyaris frustasi putus asa karena menemukan jalan buntu untuk bisa ke sana, sendirian, dan dengan budget bekpeker gembel ala gue. Jadi, gue takjub plus bersyukur dengan kemajuan pesat, dimana bus Damri sudah tersedia bagi para pengunjung PKG - TMWK kayak gue.

Jumat, 13 Januari 2017, gue dan Ony meninggalkan rumah (Depok) jam 04:00 subuh menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta. Pesawat Lion Air yang mengantarkan gue menuju Lampung take off  jam 06:30 pagi, dan mendarat dengan mulus di Bandar Udara Radin Inten II sekitar 10 menit lebih cepat dari perkiraan, yaitu jam 07:10 pagi. Perjalanan gue dan Ony dilanjutkan dengan naik bus Trans Lampung yang akan mengantar gue berdua menuju Terminal Rajabasa. Rencananya, dari Rajabasa gue akan naik bus Damri tujuan PKG - TMWK. Tapi apes tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, rencana perjalanan yang gue pikir mulus adanya, mulai terkendala di sini.

Tiba di terminal Rajabasa yang luas banget, gue dan Ony mulai bertanya - tanya mengenai lokasi pool bus Damri. Orang-orang yang gue tanyain menjawab bahwa bus Damri sudah habis. Hah...habis ?? Habis gimana maksudnya, ini kan masih pagi....bahkan belum juga jam 08:00. Gue mendapat penjelasan bahwa bus Damri hanya tersedia beberapa jadwal keberangkatan saja setiap harinya. Dan yang jadwal pagi sudah lewat, jadi harus menunggu keberangkatan jadwal sore. OMG...! Ini detil yang luput dari persiapan gue yang emang selalu cuek dan 'last minute'. Ketika mendengar "bus Damri" gue langsung berpikir kondisinya seperti bus - bus Damri yang ada di setiap pool di Jabodetabek, yaitu dengan jadwal keberangkatan setiap 30 menit, dari pagi sampai malam hari. 

Oleh beberapa orang yang gue temui, gue diarahkan untuk menuju pool bus Rajawali yang melayani keberangkatan menuju Way Jepara. Namun ketika tiba di sana dan menggali informasi dari petugas pool, gue ogah menggunakan bus ini. Pertama, jadwal keberangkatan berikutnya adalah jam 10:00 pagi. Kedua, menurut gue busnya tua dan kurang nyaman. Ketiga, entah jalur apa yang digunakannya, perjalanan menuju Way Jepara akan memakan waktu sekitar 6 jam. Alasannya, jalur yang ditempuh adalah jalan yang rusak parah. Gue dan Ony pun kembali ke area di tengah terminal. Yang bikin miris, ketika gue dan Ony sedang istirahat sejenak untuk memikirkan langkah selanjutnya, di sebuah sudut terminal yang ternyata adalah pool bus Damri, gue mendapatkan informasi bahwa bus Damri menuju PKG - TMWK baru saja berangkat meninggalkan terminal sekitar jam 08:00 pagi. Beughhh!! Kalo lagi begini, idealisme traveling yang bilang 'Fokus pada perjalanannya, bukan tujuannya...' bla bla bla....buyar sudah....hancur berkeping - keping. Kejadian kayak gini tuh menyebalkan dan rasanya bikin pengen jedotin kepala ke tembok sekeras-kerasnya karena kesal sama diri sendiri. Gimana ngga, gue tiba di terminal ini sebelum jam 08:00 kurang. Pool ini terletak di bagian depan terminal yang sudah gue lewatkan tadi ketika tiba pertama kali. Entah kenapa gue malah milih melangkah ke bagian dalam terminal, bukan mampir ke sini dan bertanya ke orang-orang yang ada di sini. 

Gue pun membuka smartphone dan mulai browsing jadwal keberangkatan bus Damri berikutnya. Keren kan gue....browsing info sepenting ini baru di hari H, di jam H, tepatnya setelah ketinggalan bus. Jadi, jadwal keberangkatan bus Damri ada pada jam 06:00 pagi, 08:00 pagi, 10:00 pagi, 13:00 siang dan 16:00 siang. Dengan berat hati gue pun mengikhlaskan diri untuk menunggu bus jam 10:00 pagi, yang artinya masih sekitar 2 jam kurang sedikit. Seorang ibu pemilik warung kopi menawarkan bantuan untuk menelepon petugas Damri dan menanyakan kepastian jadwal keberangkatan. Ketika ibu yang baik hati ini menutup teleponnya, gue mendapat informasi yang lebih 'mengerikan' lagi dari sebelumnya. "Mbak, katanya bus yang jam 10 dan jam 1 siang ditiadakan. Nanti bus ada lagi yang jam 4 sore." Rasanya pengen teriak kencang - kencang, "Appppppaaaaaaaaa....????!!" Katanya, alasannya karena peminat bus yang sedikit. Trus, kenapaaaaa ???! Ya ampun, pengen nangis deh. Rasa kesal yang ada di hati gue demikian dahsyatnya...kok bisa sih bus Damri yang merupakan angkutan milik BUMN jadwalnya berubah sepihak dan sewaktu - waktu kayak gitu. Padahal katanya rute bus Damri yang baru diluncurkan akhir tahun 2016 yang lalu ini disebut-sebut sebagai terobosan Pemerintah untuk mempermudah wisatawan yang hendak berkunjung ke PKG - TNWK. Gimana wisatawan bisa yakin dan mengandalkan bus ini kalau jadwalnya ngga konsisten begitu. Gimana angka wisatawan PKG - TNWK mau meningkat kalau transportasi umumnya tetap susah diakses.

Ngga lama kemudian si petugas Damri nongol di warung kopi. Dari tatapannya tersirat rasa prihatin yang tulus. Sampai - sampai beliau menyarankan gue dan Ony menginap di dekat terminal saja hari ini dan berangkat ke PKG - TMWK keesokan harinya. Gue ngga mau, karena kedatangan gue ke Lampung hanya untuk bertemu teman - teman gajah gue...bukan yang lain. 

Satu-satunya harapan gue adalah naik sebuah bus PO Candra tujuan Way Jepara yang akan berangkat jam 10:00. Informasi mengenai nama bus ini gue peroleh dari salah satu petugas di Bandar Udara Radin Inten tadi. Gue lebih memilih bus ini karena dari info yang gue dengar, jarak tempuhnya lebih cepat, karena melewati jalur yang berbeda dengan bus Rajawali. Gue pun menuju pool bus PO Candra, dan menunggu di situ sambil menahan lapar dan gerah. Jam 10:00 lewat, bus berwarna hijau itu pun tiba, dan gue segera naik. Kondisi busnya hampir kayak bus Kowanbisata tujuan Depok - Pulogadung, yang gue gunakan waktu jaman SMA dulu. Kecil, non AC, dan ngga nyaman - nyaman banget. Sepanjang perjalanan gue tertidur berbantalkan pundak Ony. 

Gue dan Ony minta ditujunkan di Pasar Tridatu (Lampung Timur). Rasanya lega dan senang banget, setelah menempuh perjalanan melelahkan berjam - jam lamanya. Gue dan Ony langsung mencari warung makan di sekitar pasar Tridatu. 

Kelar makan, perjuangan pun berlanjut. Perjuangan yang dimaksud adalah mencari tukang ojek yang akan mengantarkan gue dan Ony menuju PKG - TMWK. Dari informasi yang gue dapatkan selama ini, ongkos ojeknya bisa mencapai Rp. 75,000 - Rp. 150,000,- per motor. Mahalnya keterlaluan. Sebenarnya sudah ada 2 tukang ojek yang dari tadi setia membuntuti sejak turun dari bus tadi dan menunggu gue dan Ony makan, tanpa diminta. Tapi mereka menawarkan ongkos Rp. 100,000,- per motor. Gue sebenarnya bukan tipe orang yang suka nawar harga. Bukannya kenapa - kenapa...menawar harga tuh melelahkan. Tapi kali ini gue akan berjuang mati-matian demi mendapatkan harga yang pantas. Pantas di kantong gue, maksudnya.

Di titik Rp. 75,000,- tawar-menawarnya menemui jalan buntu. Kedua pengendara ojek ini ngga mau lagi menurunkan harga ongkosnya. Nyaris putus asa, gue pun menelepon Pak Dedi. Pak Dedi bilang ongkosnya Rp. 50,000 per motor dengan tambahan pesan, 'Bilang aja, temennya Pak Dedi Baung..' Setelah menutup telepon gue pun kembali berjuang menawar ongkos dengan kedua pengendara ojek tadi, kali ini dengan password pamungkas, "Pak Dedi Baung". Akhirnya kedua pengendara ojek menyerah pasrah di harga Rp. 55,000 per motor. Mungkin karena ngga tahan sama kebawelan gue. 

Perjalanan menuju PKG - TMWK ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit, melewati kawasan hutan lindung dan perkebunan karet. Sepanjang jalan, ngga ada orang atau motor lain yang melintasi jalan yang sepi itu. Hanya kera-kera penghuni hutan kerap memunculkan sosoknya untuk bermain atau sekedar duduk di tengah jalan. Semakin mendekat ke kawasan PKG, hati gue bersorak - sorak kegirangan. Ya Tuhan....segala drama yang harus gue hadapi sepanjang hari ini, nyaris lenyap tak berbekas karena gue begitu bersemangat bertemu teman - teman gajah, yang terakhir gue temui sekitar empat tahun yang lalu. 

Begitu tiba di kawasan PKG - TNWK dan turun dari motor ojek, gue langsung melirik jam tangan....jam 14:30 sore. 'Menakjubkan' banget....secara geografis Lampung tuh deket banget dari Jakarta padahal...tapi butuh waktu 10 jam lebih untuk ke sini. Padahal udah pake pesawat.... Gimana kalo jalan darat &  laut...? Ternyata sepanjang - panjangnya belalai gajah, masih jauh lebih panjang perjalanan menuju PKG - TNWK.

Friday, November 11, 2016

Singgah Sejenak Di Danau Bonen


 5 November 2016

Sepulang dari Curug Rahong, gue dan Ony ngga langsung kembali ke Depok, melainkan sedikit melanjutkan perjalanan, yaitu mencari lokasi Danau Bonen yang lokasinya masih di Cigudeg. Gue mendengar informasi mengenai danau ini dari salah satu warga yang tadi membantu gue dan Ony ketika kesasar mencari Curug Rahong. 

Lokasinya ngga terlalu jauh kok, dan gampang banget dicari, karena posisi area tambangnya di pinggir jalan utama. Tapi 'aman'nya, berada di kawasan ini memang harus rajin - rajin bertanya ke warga sekitar. Itu pun kalau beruntung bertemu seseorang yang bisa ditanya, mengingat kawasannya sepi banget.

Tiba di Danau Bonen, gue melihat beberapa warga lokal sedang asyik memancing ikan. Beberapa bocah bahkan berenang di sekitar tepi danau. Selain itu ada juga beberapa pekerja tambang yang sedang mengeruk lahan di tepi danau menggunakan excavator. Sepertinya danau ini masih aktif sebagai lokasi tambang.

Danau Bonen tampak lumayan keren, dengan airnya yang tenang dan terlihat hijau, dan tentunya dikeliling oleh tebing - tebing bekas tambang yang cakep dan hits! Dan karena areanya sangat luas, jadi bikin penasaran untuk 'lihat-lihat' dan melangkah lebih dalam memasuki sudut lain dari area tambang ini. Tapi, karena pengalaman di Danau Jayamix kemarin gue jadi super waspada, karena gue dikeliling oleh tebing - tebing yang mungkin rawan longsor. 

 


Wisata danau - danau bekas area tambang di Parung seperti ini sebenarnya bitter sweet moment....Di satu sisi kedua mata gue dimanjakan dengan pemandangan yang indah yang jarang gue temui. Namun di sisi lain ada perasaan 'takjub' sekaligus prihatin, membayangkan gunung - gunung yang tadinya menjulang kemudian dikikis, dikeruk, dan digali habis - habisan, hingga meninggalkan lubang raksasa yang kini menjadi danau.   Ironis ya...ada keindahan yang muncul setelah eksploitasi dan kerusakan masif akibat kegiatan tambang. 

Setelah beberapa saat di sana, gue dan Ony pun mengambil langkah pulang...siap berjuang kembali dengan jalan rusak, berlubang, dan debu tebal.

Monday, November 07, 2016

Melancong Ke Curug Rahong


5 November 2016.

Gue dan Ony, yang masih penasaran dan bersemangat mengeksplorasi keindahan Parung, kali ini pengen mencari lokasi Curug Rahong. Dan seperti biasa, gue berdua ngga punya modal petunjuk atau informasi mengenai alamat lokasinya. Tapi berhubung setiap kali mencari lokasi - lokasi piknik di kota Parung ini kami terbiasa kesasar kesana kemari karena buta mengenai lokasi yang dicari, jadi kali ini langkah pun terasa makin ringan. Bagi gue, 'kesasar' itu salah satu faktor yang bikin berpetualang ke suatu tempat baru semakin seru dan menantang....meskipun terkadang bikin emosi juga.

Hal yang sedikit 'menenangkan' dalam perjalanan kali ini adalah karena dari informasi yang gue dapatkan, lokasi curug ini searah dengan Danau Jayamix yang minggu lalu gue datangi. Jadi, dengan semangat gegap gempita, pagi itu....yaaaa...p-a-g-i itu, tepatnya sekitar jam 09:00 ~saking semangatnya untuk mencari Curug Rahong~ gue dan Ony meninggalkan rumah menuju Parung sweet Parung.

Secara administratif, Curug Rahong berlokasi di Kampung Kedaung, Desa Rengas Jajar, Cigudeg. Sama seperti minggu lalu, untuk mencapai daerah Cigudeg ini, gue dan Ony harus melintasi ruas - ruas jalan yang kondisinya rusak parah. Kali ini ditambah becek dan berlumpur, karena sepertinya hujan mengguyur kota ini sehari sebelumnya. Duduk di atas motor dan melalui perjalanan panjang dengan kondisi jalan yang ngga rata dan rusak parah, bikin rasa lelah dan pegalnya berlipat - lipat. 

Gue jadi kasihan sama warga Parung, terlebih Cigudeg ini. Dari pengamatan gue (seadanya), setelah beberapa kali mengunjungi lokasi ini, menurut gue kawasan ini menyimpan kekayaan alam berupa sumber batu dan pasir. Kekayaan alam ini dimanfaatkan oleh pihak - pihak tertentu. Ada banyak titik kawasan tambang batu dan pasir di sini, ratusan truk - truk pengangkut hasil tambang pun lalu-lalang menguasai setiap ruas jalan, tapi dilihat dari infastrukturnya aja, kayaknya daerah Cigudeg dan sekitarnya tertinggal jauh di belakang. Selain jalannya rusak parah, polusi yang ditimbulkan juga pastinya serius. Dimulai dari yang langsung terasa, misalnya polusi udara akibat debu. Tiap kali melintas jalan di Cigudeg ini gue harus menggunakan masker, namun tetap aja debu dan knalpot yang berasal dari truk - truk yang lewat masih terhirup. Ngga kebayang kalo gue harus lewat sini tiap hari....mungkin gue akan terkena penyakit pernafasan dan paru - paru.

Jangan sepelekan juga polusi suara yang timbul....beberapa kali gue hampir loncat terkaget - kaget, ketika mendengar suara 'Boommmm...!!!!'... yang muncul akibat kegiatan peledakan yang dilakukan di area tambang. Gimanalah penduduk bisa hidup nyaman dengan suara dahsyat dan getaran yang ditimbulkan begitu...Ketika sempat kesasar, gue dan Ony mampir di sebuah kamar mandi umum dan menumpang cuci kaki. Saat itu ada seorang anak SD sedang asyik mencuci sepatunya. Ketika gue sedang membersihkan kaki dari lumpur, suara ledakan terdengar....Gue kaget setengah mati dan spontan berusaha menghambur demi menyelamatkan diri. Tapi si bocah di sebelah gue tetap tenang dan larut dalam keasyikan mencuci sepatu, ngga kaget atau berekspresi sedikit pun. Mungkin dia sudah mendengar suara seperti itu sejak lahir, jadi sudah terbiasa. Di saat jantung gue masih berdetak kencang karena kaget, dengan santai Ony bilang, "Tenang...itu suara peledak. biasakan dirimu, Cei...." Issshhh....Ogaaaahhhh !!

Saat mulai mendekati kawasan Danau Jayamix, gue pun mulai rajin bertanya ke warga sekitar mengenai keberadaan Curug Rahong. Dan setelah beberapa kali kesasar, thanks Lord, berkat bantuan dari banyak warga, bahkan ada yang sampai mengantar sampai mendekat ke lokasi segala, gue dan Ony pun tiba di jalan masuk menuju curug. 

Tiba di jalan masuk, gue dan Ony 'dihadang' oleh sekelompok pemuda yang memungut tanda masuk sebesar Rp. 4,000 per orang bagi pengunjung curug. Dari sini, gue melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 2 km lagi untuk tiba di lokasi curug. Tantangannya, ngga ada petunjuk apapun. Gue dan Ony hanya berjalan mengikuti arah sungai di sisi kiri, yang berujung pada Curug Rahong. Tantangan lainnya, gue berdua harus menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan dan hutan yang rimbun. Padahal gue khan paling ngeri kalo menyusuri tempat - tempat seperti ini. Imajinasi gue langsung melayang dan membayangkan hal - hal horor. Untunglah Ony selalu bisa menenangkan gue dan memberi semangat untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan ini sendiri menurut gue ngga terlalu melelahkan, karena rute yang harus dilalui ngga terlalu curam atau menanjak.

Mendekat ke pusat air terjunnya, di luar dugaan, gue dan Ony harus 'turun' dan menyusuri tepi sungai. Bahkan, karena saat itu ngga tahu rute yang pas untuk mendekat ke air terjun, gue dan Ony menyeberang sungai segala, demi mencapai tempat berpijak untuk berjalan, mendekat ke air terjun. Selain arusnya yang deras, tantangan lainnya karena harus berhati - hati dengan kedalaman sungai serta batu - batu kali yang licin karena berlumut. 

Akhirnya gue dan Ony tiba di sumber air terjun Curug Rahong....yessss !! Ternyata air terjunnya ngga terlalu tinggi, paling sekitar 15 meter. Di depannya terbentuk kolam yang cukup luas untuk pengunjung bisa berenang. Ngomong - ngomong soal pengunjung, saat itu hanya satu keluarga terdiri dari empat orang dewasa dan dua balita, yang telah tiba di sana lebih dulu dari gue. Jadi, bisa dibilang, sepi banget kan ? Kalau lagi jalan - jalan ke suatu tempat, salah satunya curug, kadang yang bikin males tuh kalo tempat tersebut terlalu padat pengunjung. Baru kali ini gue piknik ke curug, yang sebenarnya sangat indah, tapi sepi banget.




Gue dan Ony pun berganti baju dan menikmati 'main air' di Curug Rahong. Gue ngga berani berenang di sini, karena ngga tahu 'medan'. Di beberapa titik, kedalamannya memang hanya sebatas dada gue. Tapi gue kan ngga tahu, jangan - jangan ada pusaran - pusaran tersembunyi di bawah sana. Gue harus waspada....walaupun kadang 'waspada' versi gue, beda tipis sama 'parno' sih...

Kehadiran pengunjung lainnya lumayan bikin tenang...selain mengusir rasa sepi di tengah hutan rimba begini, bisa jadi teman ngobrol, juga minta bantuan buat foto - foto. Namun setelah beberapa saat, keluarga itu pun bersiap dan meninggalkan lokasi. Tinggallah gue dan Ony, dan seorang pria berusia senja yang sejak tadi duduk di sebuah gubug. Akhirnya, setelah beberapa saat, kami berdua pun meninggalkan lokasi. Meninggalkan air terjun yang menyajikan keindahan dan ketenangan bagi pengunjungnya. Gue ngga berganti baju, dan pulang masih dengan pakaian basah.

Gue dan Ony kembali menyusuri tepi sungai untuk kembali memasuki kawasan hutan. Tiba kembali di desa Kedaung, gue menumpang kamar mandi umum yang disediakan di depan sebuah mushala dan berganti baju. Setelah beristirahat sejenak di sebuah warung sambil mengobrol dengan sang pemilik warung, gue dan Ony pun kembali ke sebuah rumah warga tempat kami menumpang memarkir motor.

Perjalanan ke Curug Rahong ini bisa dibilang penutup kisah kasih petualangan gue dan Ony di kota Parung. Dari daftar lokasi-lokasi yang ingin gue kunjungi di sini, Curug Rahong adalah penutupnya. Gue belum memperoleh informasi lagi mengenai lokasi lainnya di kota ini yang berpotensi jadi tempat wisata alias piknik. Akhirnya, setelah beberapa bulan terakhir mendedikasikan setiap weekend untuk mengeksplorasi Parung, demi membuktikan bahwa kota ini memang menyimpan seribu pesona dan potensi wisata, hari ini misi gue dan Ony terselesaikan. Horraayy !!

Sunday, October 30, 2016

Danau Cantik Bekas Tambang Jayamix


 29 Oktober 2016.

Alkisah, rasa penasaran untuk mengeksplorasi keindahan Parung, Bogor,  yang tersembunyi, membawa gue ke lokasi antah - berantah yang sangat asing dan menurut gue cukup terpencil, yaitu Danau Jayamix. Secara administratif, danau ini terletak di Kampung Nunggaherang, Desa Tegallega, Kecamatan Cigudeg, Bogor. Tapi untuk mencari lokasinya, ternyata luar biasa susah dan menantang,  seakan-akan lokasi ini ngga pernah ada di peta mana pun. 

Gue dan Ony memulai perjalanan dari rumah tepat tengah hari. Dan seperti kebiasaan, gue ngga ngerti sama sekali di mana lokasinya. Ketika mencari informasinya di Google, kesan yang gue dapatkan, lokasinya super jauh dan susah dijangkau. Arahnya sama ketika menuju Gunung Munara...tapi kalau Danau Jayamix masih jaaauuuhhh lagi! Padahal Gunung Munara yang berlokasi di Rumpin aja menurut gue udah jauh banget...ternyata Danau Jayamix lebih jauh lagi. Sebenarnya 'kesan' seperti itu ngga bikin gue ragu untuk melangkah ke suatu tempat. Rasa penasaran gue akan mengalahkan segala - galanya. Yang bikin ragu tuh karena ketika gue beberapa waktu lalu berkunjung ke Gunung Munara dan sempat mengobrol dengan beberapa warga lokal, gue mendapat informasi bahwa lokasi Danau Jayamix ini sudah ditutup untuk umum. Alasannya bikin ngeri....karena sering ada pengunjung yang jatuh ke dalam danau. Woww...! Serem sih...tapi justru menambah kadar penasaran gue.  

Ternyata benar adanya...untuk mencapai lokasi Danau Jayamix luar biasa jauh dan membingungkan. Setelah pertigaan Rumpin, gue dan Ony mulai 'rajin' bertanya ke warga sekitar mengenai arah ke Danau Jayamix. Tantangannya tuh bukan cuma karena lokasinya jauh dan susah dicari, tapi ruas jalan ke arah sana yang rusak dan memprihatinkan banget kondisinya. Dan pengguna jalan harus membiasakan diri untuk berbagi jalan dengan truk - truk proyek galian yang merupakan kendaraan yang paling banyak melintas di kawasan itu. Gue dan Ony sempat tersesat karena mendapat informasi yang salah dari seorang warga. Trus, ketika bertanya ke salah seorang warga, justru informasi si remaja ini nyaris bikin gue putus asa....lokasinya masih jauuuuhhhhhh banget, dan kayaknya kawasan Danau Jayamix sudah ditutup alias ngga bisa dikunjungi lagi, begitu katanya. Untungnya Ony ngga terpengaruh dan tetap semangat plus bertekad untuk mencari lokasinya, meskipun saat itu gue berdua udah sangat kelelahan, tersesat dan rintik hujan mulai turun.

Singkatnya, setelah bertanya kesana kemari ke warga lokal sampai tak terhitung berapa kali banyaknya, gue tiba di kawasan yang kayaknya masih aktif digunakan sebagai area penambangan batu - batuan. Hati gue mulai deg - degan....moment of truth nih....Gue harus menyiapkan mental jika nanti ditolak memasuki area Danau Jayamix. Tunggu...revisi...gue ngga siap....pokoknya, apapun yang terjadi, gue harus bisa mencapai dan melihat Danau Jayamix itu, hari ini juga. Gue rela bayar tiket masuk berapa pun harganya, membujuk dan memohon ke petugas keamanan, atau kalau perlu, guling - guling di tanah sambil pura - pura nangis meraung-raung. Pokoknya apapun yang terjadi, gue harus ke Danau Jayamix sekarang juga,  demikian gue bertekad. 

Tiba di satu titik, gue dan Ony disapa oleh beberapa warga lokal yang sedang berada di sebuah warung makan. Mereka menanyakan tujuan gue. "Danau Jayamix", jawab gue. Lalu gue dipersilahkan memasuki jalan berportal yang berada di seberang warung tersebut. Di dekat portal seorang pemuda segera mengeluarkan tiket dan meminta gue membayar Rp. 20,000,- Gue girang dan masih antara percaya ngga percaya. Gue pun menyempatkan bertanya perihal rumor yang mengatakan bahwa Danau Jayamix ditutup, dan menurut si pemuda informasi tersebut salah adanya. Jadi kekhawatiran gue sepanjang jalan tadi tidak terbukti, dan gue memdadak jadi senang maksimal.

Setelah melewati portal, ngga lama kemudian tibalah gue dan Ony di kawasan danau yang sudah bikin penasaran selama ini. Betapa pun lelahnya fisik ini, dengan pakaian mulai basah karena diguyur rintik hujan nonstop dari tadi, belum lagi serangan rasa lapar karena belum sempat makan siang, tapi semuanya terbayar lunas demi melihat pemandangan indah yang terhampar di hadapan gue.





Berhubung gue dan Ony tiba di sana menjelang sore, kami pun ngga menyianyiakan waktu yang tersisa dan langsung mengeksplorasi kawasan danau yang super luas itu. Danau Jayamix, kadang disebut juga sebagai Danau Quarry, bukanlah danau alami, melainkan terbentuk dari bekas area penambangan bebatuan, yang sebelumnya dikelola oleh PT. Jayamix Readymix... By the way,  nama perusahaannya mengingatkan gue sama tokoh-tokoh di komik Asterix deh : Obelix.... Idefix... Abraracourix... Panoramix...Assurancetourix, dan lainnya.

Oyaaa... danau ini disebut juga Danau Quarry, yang artinya : tambang. 

Pesona kawasan ini bukan hanya dari danaunya yang sangat luas, tenang, dengan warna airnya yang hijau tosca itu. Tapi juga tebing - tebing bebatuannya yang menjulang tinggi dan terkesan dramatis. Dengan disertai hujan rintik, gue dan Ony bersemangat mengeksplorasi setiap sisi tebing yang mengeliling danau. Tapi entah mengapa, meskipun sangat terpesona dengan kecantikan kawasan ini, tetap aja gue menyimpan sedikit rasa takut dan ngeri sih...dan untuk itu gue tetap waspada dan berhati - hati ketika melangkah. 

Ketika gue dan Ony sedang menikmati keindahan dan keheningan danau, tiba - tiba...'booommmm!!!' Dan di saat gue masih terkaget-kaget dengan suara itu dan berusaha menebak suara apakah itu...apakah bahan peledak (yang biasa digunakan di dunia pertambangan), atau petir, beberapa batuan menggelinding dari puncak tebing yang ada di hadapan gue dan Ony. Woww...! Kejadian singkat itu bikin gue tersadar....kayaknya ngga ada jaminan dalam hal safety alias keselamatan di lokasi ini deh...Mungkin secara resmi kawasan ini memang bukan kawasan wisata. Dan memang ngga ada petugas keamanan juga di sini. Jadi, buat para pengunjung, sebaiknya jangan terlena ketika menikmati keindahan lokasi ini dan tetap sadar untuk bertanggung jawab akan keselamatan masing - masing. Kawasan ini adalah surga buat para pecinta fotografi maupun yang sekedar doyan berselfie ria. Dari segala sudut pun memotret dan berfoto, hasilnya pasti keren.Tapi kalau terlena dan ngga berhati - hati, gue rasa kawasan ini juga bisa mengundang bahaya.

Meskipun belum puas, gue dan Ony harus segera meninggalkan lokasi, mengingat jarak super jauh yang harus gue tempuh untuk pulang. Berhubung kondisi jalan yang buruk yang harus dilalui, gue dan Ony ingin meninggalkan daerah Cigudeg ini ketika langit masih terang. 

Overall....gue puas dan senang banget dengan acara jalan - jalan kali ini. Meskipun jaraknya yang jauh dan sulitnya menjangkau Danau Jayamix, tapi gue dan Ony puas karena keindahan yang bisa gue berdua nikmati di sini bahkan melebihi perkiraan dan harapan sebelumnya.

Big THANKS dan salut untuk suami (sebut saja namanya...A.O.S) yang sudah dengan tangguh dan gigih mencari dan menempuh arah menuju lokasi Danau Jayamix, dan menemani istrinya yang panjang kaki dan doyan berpetualang ini.

Wednesday, October 26, 2016

Santai Di Jacuzzi Alam Ala Gunung Peyek

 

22 Oktober 2016

Masih dengan semangat menyala - nyala untuk mengeksplorasi keindahan Parung, sekaligus didorong kebutuhan untuk mencari tempat refreshing selain mall (karena gue ama Ony ngga betah berlama - lama di mall), daaannnn....seiring dengan tanggal yang semakin menua dan dompet yang makin menipis, Sabtu kemarin gue dan Ony bertekad mencari satu lagi lokasi yang bikin gue penasaran belakangan ini, yaitu sumber air panas Gunung Peyek.

Gue penasaran karena pernah lihat fotonya beberapa kali saat googling, dan dari petunjuk yang gue dapatkan sebenarnya lokasinya masih di Ciseeng. Gue jadi takjub ama daerah kecil bernama Ciseeng ini, karena sepertinya kaya akan sumber air panas. Ada Tirta Sanita....ada Gunung Panjang...dan kali ini Gunung Peyek. Sebenarnya 'gunung' yang dimaksud lebih tampak kayak bukit, atau dataran yang tinggi aja sih. 

Jadi Sabtu itu, setelah kelar mencuci dan bersih - bersih rumah, gue dan Ony baru bisa 'bebas' menjelang siang. Pilihan piknik pun jatuh ke Parung, yang jaraknya dekat dari Sawangan. Gue, seperti biasa, ngga punya petunjuk apapun mengenai keberadaan sumber air panas Gunung Peyek ini. 

Gue dan Ony pun mengarah ke kawasan Tirta Sanita, lalu melewati belokan ke arah Gunung Panjang...lalu setelah itu...bingung, ngga tahu kemana lagi. Di depan sebuah Alfa Minimarket, gue berhenti dan nanya ke beberapa anak remaja yang lagi asyik nongkrong. Salah satunya menawarkan diri untuk mengantarkan ke lokasi, karena menurutnya lokasinya sulit dijangkau, terletak di tengah sawah. Setelah tawar menawar, harga yang disepakati adalah Rp. 25,000,- sudah termasuk parkir, dan pungli - pungli lainnya.

Singkatnya, gue dan Ony diantar ke sebuah rumah yang dijadikan lahan parkir, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 1 km dengan berjalan kaki. Cape ? Ngga....justru menyenangkan, karena jalan yang gue lalui adalah area ladang - ladang dan sawah. Jadi, sejauh mata memandang, gue disuguhi pemandangan alam yang hijau dan udara menyegarkan.

Tiba di lokasi, rasanya senang dan puas banget...akhirnya bisa melihat langsung, karena selama ini cuma bisa terpesona ngelihat foto - fotonya di Google. Tepat di atas Gunung Peyek terdapat tiga kolam kecil berbentuk bundar, yang merupakan sumber air panas. Aroma belerangnya cukup menyengat, dan di dasar kolam yang berukuran paling besar bahkan nampak gelembung - gelembung kayak air mendidih gitu. Benar - benar kayak jacuzzi alam di atas gunung !

Tapi yang paling keren tuh sensasinya berendam air panas di atas gunung dengan pemandangan indah berupa sawah nan hijau di sekelilingnya. Bonusnya lagi, sepi, ngga ada orang lain selain gue dan Ony, dan kedua remaja yang nganterin, yang akhirnya pamit untuk kembali ke area parkir.

Numpang lewat di ladang jagung
Mejeng di sawah

Penampakan Gunung Peyek
Ony dan cincin giok kesayangannya
...us...the...just...of...two..
Second pool

Oya...di sini ngga ada ruang ganti apalagi kamar mandi, baik untuk berganti pakaian apalagi membilas badan dengan air bersih. Sebelum berendam, gue ganti celana pendek terlebih dahulu. Caranya ? Dengan 'berlindung' di balik handuk, lalu bersembunyi di balik semak - semak. Begitu juga ketika gue hendak berganti celana panjang, ketika selesai berendam. Tapi ketika mau ganti baju....celaka dua belas....ngga memungkinkan jika sekedar bersembunyi di balik handuk dan semak - semak. Meskipun tidak ada orang lain di sekitar Gunung Peyek, tapi di area persawahan di bawah sana nampak ada beberapa orang sedang asyik memancing. Jadilah gue gagal berganti baju dan pulang dengan kaos basah, dilapisi dengan kemeja flanel kering. Seru banget kan ??

Setelah berada di sana sekitar 1.5 jam, gue dan Ony pun meninggalkan lokasi. Selama gue di sana, hanya ada secuil pengunjung yang datang untuk sekedar berselfie-ria, atau penduduk sekitar yang sekedar lewat. Serasa jacuzzi milik pribadi aja jadinya....karena gue dan Ony leluasa berendam di situ, bergantian dari satu kolam ke yang lainnya.

Mission completed! Satu lagi tempat keren di Parung berhasil gue kunjungi...yang ternyata melebihi harapan, dan bikin gue makin excited untuk mengeksplorasi potensi dan keindahan kota ini.