I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Monday, June 02, 2014

Cerita Dari Bogor : Pesona Mausoleum Van Motman


Beberapa waktu yang lalu gue pernah baca di internet beberapa tulisan mengenai Mausoleum Van Motman....yang katanya, berlokasi di Bogor. Setelah baca dan lihat beberapa fotonya, gue langsung mencetuskan keinginan, "Gue harus kesana !" Gue emang paling seneng dan bersemangat mengeksplorasi situs - situs tua yang memiliki nilai sejarah. Meskipun belum ada gambaran sama sekali dimana lokasi tepatnya dan bagaimana mencapainya (udah beberapa kali cari di google namun ngga ada yang kasih informasi detail cara ke sana, khususnya dengan kendaraan umum), tapi tempat ini langsung ada di jajaran atas target petualangan gue. Apalagi nyaris tiap hari Minggu gue ke Bogor, jadi gue super bersemangat kalo denger ada lokasi - lokasi baru yang harus gue cari dan kunjungi.

Satu - satunya petunjuk yang gue miliki adalah "Dramaga", karena Mausoleum ini, yang merupakan area pemakaman keluarga, adalah milik bekas tuan tanah bernama Gerrit Willem Casimir Van Motman, seorang berdarah Belanda yang datang ke Batavia sebagai pekerja VOC sekitar abad 18, dan memiliki banyak lahan perkebunan di Bogor, salah satunya Dramaga. Ini menjadi titik terang buat gue. Setahu gue, Dramaga adalah daerah dimana terletak kampus Institut Pertanian Bogor. Jadi, gue akan fokuskan pencarian gue ke sana. Dari tulisan lainnya gue memperoleh petunjuk lain : Mausoleum terletak 20 km dari Dramaga. Tepatnya di Kampung Pilar, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Hmmm...gue jadi bingung. Di mana pula nih ? Kok ada "desa" segala ? Rasanya gue baru pertama kali dengar nama daerahnya.

Lokasi Mausoleum bisa ditempuh dengan naik commuter line sampai stasiun Bogor. Dari Stasiun naik angkot 02 jurusan Sukasari - Bubulak, dan turun di Bubulak. Dari situ gue lanjut naik angkot berwarna biru jurusan Bogor - Jasinga. Perjalanan dengan angkot yang terakhir ini rasanya panjang tiada akhir. Selain jaraknya yang jauh, kemacetan di sepanjang jalan juga sangat memakan waktu. Yang bikin bertambah jauh adalah karena gue ngga benar - benar tahu lokasi yang gue cari dan dimana harus turun dari angkot. Dan semakin menantang karena orang - orang sekitar pun, termasuk sopir angkot, tidak ada yang mengetahui lokasi tepatnya. Jadi, gue duduk manis di dalam angkot yang baru pertama kali gue naiki, ke kawasan yang baru pertama kali gue lalui, dan tidak tahu harus berhenti dan turun di mana. Seru banget ! Setiap kali gue bilang, "Makam Pilar" dengan sedikit penjelasan "Makam Belanda, Pak/Ibu", orang - orang malah kelihatan bingung. Mungkin bingung perpaduan karena belum pernah mendengar nama tempat itu ditambah bingung mengapa ada seorang perempuan di Minggu siang yang cerah itu malah mencari lokasi pemakaman.  Pemakaman Belanda pula...

Akhirnya di tengah kepasrahan yang diselingi dengan kebingungan tak berujung, tiba - tiba di kiri jalan utama gue melihat tiang petunjuk yang sangat jelas bertuliskan "Situs Makam Pilar Van Motman." Senangnya bukan kepalang, rasanya pengen loncat - loncat. Gue pun turun, dan menyeberang jalan. Di seberang ada semacam gang dengan sebuah gapura, berukuran cukup lebar untuk dilewati mobil, dengan jalan belum beraspal, dan rumah - rumah warga yang sangat sederhana di bagian kiri dan kanannya. Seingat gue jalannya pun tak rata, dan begitu jalan sedikit menurun, dari kejauhan gue melihat sosok bangunan tua tak terawat namun tak bisa menyembunyikan kemegahannya. Rasa senang sekaligus ngeri tiba - tiba muncul. Bangunannya seperti berada di kawasan kebun rindang dengan alang - alang dan pepohonan yang tidak terurus.

 
  
 
 

Gue pun memasuki area komplek makam seluas 600 meter persegi ini. Ini adalah makam keluarga Van Motman keturunan Gerrit Willem Casimir Van Motman. Konon, beliau pun, yang meninggal di tahun 1820, dikuburkan di area ini. Terdapat belasan pilar di pekarangan mausoleum. Pilar - pilar ini dimaksudkan sebagai batu nisan. Namun sudah tak ada sisa - sisa atau jejak yang menandakan bahwa pilar - pilar ini merupakan batu nisan, karena saat ini hanya tampak seperti susunan batu bata yang disusun ke atas. Pastinya seharusnya 'tumpukan' batu bata itu dilapisi batu marmer indah dengan tulisan - tulisan yang mengisinya, namun semua telah hilang akibat penjarahan besar - besaran yang pernah terjadi di beberapa waktu lampau. 

Masuk lebih ke dalam dari area pemakaman ini berdirilah dengan tegak dan megah bangunan mausoleum. Di bagian atas pintu masuknya, tertoreh tulisan "FAM: P.R. V Motman" yang merupakan kepanjangan dari Pieter Reinier Van Motman yang merupakan cucu dari Gerrit Willem Casimir Van Motman  dari putra keduanya yang bernama Jacob Gerrit Theodoor. Kepada putranya inilah Gerrit mewariskan tanahnya di kawasan Dramaga dan Jasinga. Mausoleum yang gue kagumi ini, meniru arsitektur gereja Santo Petrus di Roma Italia, dan di bagian tengahnya terdapat kubah berdiameter 1,5 meter. 

Di dalam mausoleum inilah dahulunya pernah tersimpan empat mumi anggota keluarga Van Motman yang saat ini tentunya sudah tidak ada lagi. Bangunan ini pun ngga luput dari aksi penjarahan yang dulu terjadi. Bisa gue bayangkan bagaimana indah dan megahnya mausoleum ini dulunya. Namun saat ini, kondisinya benar - benar tragis dan tidak menyisakan apapun.

Setelah puas, gue pun meninggalkan mausoleum. Perjalanan dan pencarian panjang gue sepanjang siang tadi terbayar oleh pesona mausoleum yang ngga bisa gue gambarkan dengan kata - kata. Tempat ini, di mata gue sangat berharga seperti harta karun. Selain karena usianya yang terbilang sangat kuno, juga karena cerita panjang yang melatarbelakanginya. Meskipun kondisinya sangat tidak terawat dan seperti tidak terlindungi, namun gue berharap suatu waktu kelak ketika gue hendak mengunjungi lagi untuk mengagumi keindahan dan kemegahannya, saat itu mausoleum ini masih berdiri tegak dengan kondisi yang lebih baik.

Thursday, May 29, 2014

Gereja Tugu Nan Jauh

Rasa penasaran selalu menjadi motivasi terkuat gue. Termasuk ketika gue berkeinginan untuk mengunjungi beberapa gereja tua dan bersejarah di Jakarta dan sekitarnya, tekad gue sekuat baja, meskipun harus menempuh jarak yang terkadang jauh, dengan mengandalkan transportasi umum.

Dari beberapa gereja yang sudah gue kunjungi, kayaknya Gereja Tugu adalah yang paling jauh. Gereja ini terletak di kawasan Semper, Jakarta Utara. Kalau mendengar "Jakarta Utara" yang terbayang di pikiran gue, rasanya kawasan yang jauh banget. 

Siang itu, di hari Minggu setelah mengikuti kebaktian di GPIB Sion yang ada di Kota, mendadak gue ingin melanjutkan petualangan hari itu dengan mencari lokasi Gereja Tugu. Gue ngga mempunyai persiapan apapun, terlebih informasi bagaimana cara ke sana. Gue sempat bertanya ke petugas halte busway Jayakarta bagaimana cara mencapai Koja, karena nampaknya menggunakan Transjakarta akan sangat membantu. Namun sang petugas justru mengingatkan bahwa gue harus menunggu Transjakarta agak lama, berhubung keterbatasan armada. Gue pun urung menggunakan Transjakarta.

Berikutnya gue bertanya ke beberapa sopir mikrolet yang berjejer di depan Stasiun Kereta Kota. Menurut mereka, gue harus naik Mikrolet No. 15A menuju Tanjung Priok, kemudian di lanjut Metromini No. 41. Kedua kendaraan ini akan mengantar gue sampai ke Semper. Lalu setiba di Semper antah berantah ini bagaimana gue akan menemukan Gereja Tugu ? Question Gue belum mempunyai jawaban untuk ini saat dengan mantapnya naik Mikrolet No. 15A. Perjalanan panjang pun gue tempuh. Maklum, gue akan berhenti di terminal akhir tujuan mikrolet ini, Terminal Tanjung Priok. Ini adalah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di kawasan ini. 

Turun dari Mikrolet, gue menyambung Metromini No. 41 dari Terminal yang sama. Di dalam Metromini gue mulai bertanya baik ke sesama penumpang maupun kenek, di mana lokasi Kampung Tugu. Namun, sepertinya mereka tidak mengerti lokasi yang gue tanyakan. Gue jadi heran sendiri. Bayangkan, gue yang tinggal di Jakarta Selatan saja menganggap "Kampung Tugu" sangat terkenal, namun orang - orang di sekitar sini sepertinya asing sekali dengan kawasan itu. Gue pun pasrah. Hal seperti ini sering terjadi ketika gue bekpekeran....dimana gue kehilangan arah dan kehabisan petunjuk. Gue pikir jika akhirnya nanti tidak menemukan lokasi yang gue cari, paling tidak siang ini gue mendapatkan pengalaman 'berpetualang' di kawasan Jakarta Utara yang panas dan gersang ini. Hal yang belum pernah gue lakukan sebelumnya.

Di detik - detik akhir, tanpa putus asa bertanya ke sesama penumpang Metromini, akhirnya petunjuk gue dapatkan dari seorang pelajar SMA yang baru saja naik dan duduk tepat di sebelah gue. Dia pasti malaikat Yesus yang dikirim untuk menyelamatkan gue dari kesasar di negeri Tanjung Priok.

Gue pun turun dari Metromini, mendarat di sebuah simpang lima yang bikin gue makin bingung. Gue berusaha menenangkan diri, dengan menuju supermarket Alfa terdekat. Setelah minum, nampaknya semangat gue muncul kembali. Keluar dari Alfa, gue menanyakan ke tukang ojek yang sedang menunggu penumpang, bagaimana cara ke Kampung Tugu. Tukang Ojek yang baik hati menunjukkan bahwa gue harus naik angkot merah nomor 02 jurusan Rorotan - Cilincing, dan berhenti tepat di depan Kampung Tugu. Rasanya senang bukan kepalang. Ngga lama kemudian, angkot yang dimaksud pun datang, dan mengantar gue ke gerbang Gereja Tugu.

Sepi. Bagian depan area itu adalah lahan pemakaman. Dari jalan raya, gue ngga melihat sesuatu yang istimewa. Setelah meminta ijin pada petugas keamanan yang menjaga pintu gerbang, gue pun memasuki area komplek gereja. Saat itu sekitar jam 2 siang. Pintu gereja tertutup rapat. Area sekitarnya pun sepi, tak ada orang lalu lalang. Jelas aja....dengan cuaca sepanas itu, pasti orang - orang lebih memilih untuk tinggal dan istirahat di dalam rumah. Ngga kayak gue yang malah keluyuran lintas kotamadya di siang hari bolong.

Pintu gereja dalam keadaan tertutup dan terkunci. Jadi siang itu gue hanya bisa mengagumi salah satu gereja tertua di Indonesia, yang dibangun pada masa pemerintahan Portugis di sekitar tahun 1670an ini, dari luar saja. Kecewa, sebenarnya. Kecewa dan bingung. Selama ini gue membayangkan kawasan ini adalah komplek dimana keluarga keturunan Portugis tinggal. Tapi gue ngga melihat siapa pun yang berperawakan "Portugis". Seorang bapak tua yang sedang duduk menikmati siang di depan gereja menyapa gue, Pak Robby namanya. Dengan Pak Robby inilah gue mengisi waktu sejenak di area pekarangan gereja. Pak Robby yang merupakan warga Kampung Tugu bercerita panjang lebar mengenai komplek ini dan sedikit mengenai sejarahnya.

Selama mengobrol dengan Pak Robby sesekali gue permisi untuk melangkah melihat - lihat area komplek. Di dekat gereja terdapat sebuah gedung pertemuan, sekolah, dan rumah pendeta yang bergaya ala Betawi, lonceng tua yang berasal dari tahun 1880 yang masih digunakan untuk kegiatan gereja. Lonceng yang lebih tua lagi (sejak tahun 1747) yang sudah 'pensiun' dan tersimpan di rumah pendeta. Lalu ada juga sekawanan anjing yang sibuk bermain - main, dan melewati kali (sungai kecil) yang ada dekat situ, itulah yang dinamakan Kampung Tugu.

Gue sempat bertanya mengenai komunitas Keroncong Tugu yang juga sangat terkenal, dan ternyata lokasinya di luar komplek ini. Jika gue mendatangi lokasi komunitas ini, kemungkinan besar gue ngga akan menemukan apapun, karena belum tentu saat itu adalah jadwal latihan mereka. Kembali harus menelan kekecewaan. Alamak...Rasanya langsung pengen mabok - mabokan.....pake jus jeruk dingin Downing Shots

Setelah puas mengobrol, gue pun meninggalkan komplek Gereja Tugu, masih dengan hati kecewa. Langkah kaki terasa berat, karena rasa penasaran yang belum terobati. Sebenarnya gue pengen banget mengikuti kebaktian sore di gereja itu, namun berhubung baru akan berlangsung jam 6 sore, gue khawatir mengenai perjalanan pulang nantinya. Sejak saat itu, tekad gue untuk kembali ke gereja ini semakin membara.

Beberapa minggu setelah itu, gue kembali ke Gereja Tugu. Kali ini gue akan mengikuti kebaktian jam 9 pagi. Gue tiba sekitar 30 menit sebelumnya, karena selalu ingin merasakan keheningan gereja sebelum kebaktian dimulai. Berbeda dari gereja - gereja tua yang pernah gue kunjungi sebelumnya, gereja yang dulunya merupakan pemberian dari seorang tuan tanah bernama Justinus van der Vinck ini kecil dan nyaris tanpa detil dan interior yang menunjukkan keantikan atau nilai - nilai histori dan semacamnya, setidaknya di mata orang awam seperti gue. Gue pernah membaca informasi bahwa di bagian dalam gereja terdapat beberapa piring - piring logam antik, namun saat ini gue tidak melihat apapun tergantung di tembok - tembok gereja. Benda favorit gue di gereja ini adalah pintu merahnya yang besar yang menurut gue terlihat bergaya oriental, serta jendela - jendelanya yang megah. Terlepas dari itu semua, berkesempatan beribadah di gereja bersejarah ini adalah pengalaman istimewa untuk gue pribadi.

Rasa penasaran gue pun terobati. Rasa lelah menempuh jarak jauh, menggunakan empat kendaraan umum ditambah commuter line untuk mengantar gue kemari, terbayar sudah. Bravo, Cherry & makasih Yesus !

Clap

Wednesday, May 28, 2014

Suatu Siang di Vihara Dharmakaya


Hari Minggu (25 Mei 2014) kemarin gue kembali ke Bogor. Selain untuk mengikuti kebaktian pagi di Gereja Zebaoth, juga untuk refreshing, setelah minggu melelahkan yang gue lalui sebelumnya.

Setelah gereja, tentu saja langkah kaki gue ngga jauh dari urusan kuliner. Setelah perut terisi penuh, gue berusaha mencari ide lain untuk mengisi waktu, berhubung saat itu masih terlalu dini untuk kembali ke Jakarta. Gue teringat keinginan gue untuk mengunjungi beberapa klenteng atau vihara yang ada di Bogor. 


Vihara pertama yang gue kunjungi adalah Vihara Dhanagun. Dari sini, setelah sempat berhenti di Gang Aut terlebih dahulu untuk menikmati bakso gepeng, gue menuju Vihara Dharmakaya yang ada di Jalan Siliwangi, Sukasari. Suasana di dalam vihara sepi dan tenang. Saat itu tak ada pengunjung, jadi tidak ada ritual sembahyang. Penjaga yang duduk di teras vihara menyambut dan menyapa dengan ramah. Dan gue pun meminta ijin untuk memasuki vihara untuk sekedar melihat - lihat. 


Memasuki ruangan vihara, gue disambut altar Dewi Kwan Im yang ada di ruang terdepat dari bangunan utama. Selain itu terdapat meja atau altar abu lainnya yang sejujurnya gue ngga mengerti altar - altar tersebut dipersembahkan untuk siapa saja. Namun yang menarik, semua tersusun rapih, teratur dan bersih. Sekonyong - konyong gue merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan berada di tempat itu. Bayangkan, vihara tersebut tadinya adalah sebuah rumah kuno yang pastinya berusia sangat tua, namun tetap berdiri kokoh tanpa banyak renovasi. Selain itu, barang - barang yang ada di dalamnya pun, terlihat jelas tua dan antik.

Saat itu, di vihara yang berdiri di atas lahan 2,000 meter itu gue hanya menemui 2 (dua) orang yang menjaga vihara. Saat gue memasuki ruang berikutnya di mana terdapat meja abu dan terdapat beberapa foto hitam putih seorang wanita, dua ekor anjing yang keduanya bernama Bleki menghampiri gue. Gue duduk di lantai, menikmati kedamaian yang gue rasakan sejak memasuki vihara, ditemani oleh  duo Bleki yang salah satunya mirip seekor rottweiler.

Vihara ini memiliki sejarah panjang. Dari hasil browsing, gue menemukan cerita bahwa rumah yang kini menjadi bangunan vihara tadinya milik seorang Nyonya tanah yang tinggal di Kwitang bernama Teng Oen Giok. Ny. Teng Oen Giok mendedikasikan tanah ini kepada seorang wanita bernama Ma Suhu Tan Eng Nio, beliau inilah yang mengurus dan mengelola vihara. Ma Suhu meninggal tahun 1950an dan saat ini, gue duduk tepat di sebelah meja abunya.


Meskipun vihara ini merupakan bangunan tua dan sepi penghuni saat itu, namun gue ngga ngerasa takut atau kesepian. Gue justru takjub, betapa tempat ini menyuguhkan rasa damai bagi pikiran gue, dan membuat gue betah di sana. Gue tinggal di situ setelah sekitar 2 jam. Dalam hati gue berjanji akan kembali kemari, meskipun bukan untuk bersembahyang, namun jika diijinkan, gue akan kesini.

Ngga butuh waktu lama, di hari Selasa (27 Mei 2014) tepat di hari libur Maulid Nabi, gue kembali menginjakkan kaki di vihara ini. Kedatangan gue kembali disambut ramah oleh kedua penjaga. Kali ini gue masuk lebih dalam, karena saat itu gue hendak mencari Bleki yang kebetulan dirantai di area belakang. Area ini berada terpisah dari bangunan utama, dan merupakan salah satu dari keseluruhan bangunan tambahan berbentuk L yang terdiri dari dapur, ruang menonton, ruang - ruang lainnya dan ada 2 (dua) meja abu, kalau ngga salah.
Untuk gue yang hidup di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan segala rutinitasnya yang semrawut, vihara ini adalah oase. Sepi dan tenang sepanjang saat. Jika ada suara yang timbul, pastinya itu suara gue yang sedang asyik bermain - main dengan kedua Bleki.

Semoga vihara ini tetap dijaga dan dilestarikan. Melihat setiap detil dari barang - barang yang ada di dalamnya, vihara ini kaya akan nilai sejarah. Meskipun bukan penganut agama Buddha, namun vihara ini adalah tempat istimewa di mata gue, dan sampai saat ini masih menimbulkan tanda tanya besar di hati dan pikiran gue, mengapa gue begitu menikmati dan merindukan keheningan yang ada di dalamnya.

Thursday, April 24, 2014

Kontemplasi di Keheningan Gereja Ayam Bogor

Sejak gue bertekad mewujudkan keinginan untuk mencari dan mengunjungi gereja- gereja tua yang ada di Jakarta dan sekitarnya, gereja pertama yang gue datangi adalah GPIB Zebaoth di Bogor. Gue senang dengan apapun soal gereja ini, bangunannya, sejarah panjangnya, terlebih lokasinya. Lokasinya yang ada di dalam lingkungan Kebun Raya Bogor dan berdampingan dengan istana Bogor, rasanya memberikan keindahan tersendiri. Bahkan namanya, Zebaoth, pun mempunyai arti yang menarik : bala tentara. Di atas itu semua, lagi - lagi sosok 'ayam' yang berdiri tegak di puncak menaranya adalah daya tarik tersendiri.

Sang fenomena : si ayam
Menurut sejarah, pembangunan gereja ini dimulai sekitar tahun 1920. Jadi, sebenarnya dibandingkan dengan beberapa gereja tua yang sudah gue kunjungi di Jakarta, mungkin Zebaothlah yang paling 'muda'. Usianya 'baru' menginjak hampir seratus tahun.

Mungkin terdengar basi, namun keinginan gue untuk datang ke gereja ini sudah ada sejak lama. Sayangnya bertahun - tahun silam, sepertinya gue terperangkap pada stigma, "Gue bukan jemaat gereja itu, jadi rasanya aneh dan canggung untuk ke sana."  Gue sepertinya lupa, bahwa sudah sejak balita gue menjadi jemaat pendatang sejati.

Gue terdaftar dan dibaptis di sebuah gereja HKBP di kawasan Kebayoran, lalu sejak usia sekolah minggu hingga SMP gue adalah warga jemaat HKBP Toko 28, Kramatjati. Memasuki masa SMA dan kuliah, gue "menumpang" lagi dan menjadi bagian dari jemaat gereja HKBP Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Setelah gue bekerja hingga akhir tahun 2013, gue rutin beribadah di gereja GPIB Gideon, Kelapa Dua Depok. Di awal tahun 2014 ini, seiring dengan progresif dan kuatnya keinginan gue untuk melakukan sesuatu di luar rutinitas dan menemui hal - hal baru, gue bagaikan belalang yang hinggap dari satu gereja ke gereja lainnya. Bukan untuk mencari gereja yang terbagus dari yang paling bagus, atau tata ibadah yang paling sempurna, namun sekedar memuaskan keinginan gue untuk bisa beribadah di tempat yang berbeda, terlebih, di tengah jemaat  - jemaat yang berbeda pula.


Untuk GPIB Zebaoth, kalau dihitung - hitung, sudah 3 kali gue beribadah di sini. Saat kedatangan pertama kali, gue kaget menyadari betapa kecilnya ruang ibadahnya, dibandingkan dengan apa yang terlihat dari luar. Hal itu karena beberapa bagian dari bangunannya digunakan sebagai ruang konsistori. 

Sore itu, Setelah misi kuliner terpenuhi (meskipun diiringi oleh hujan tiada akhir), gue tiba di GPIB Zebaoth sekitar jam 3 sore. Saat itu pintu gereja sudah dibuka, dan seorang bapak tampak sedang membersihkan area pintu masuk. Gue minta ijin untuk masuk, dan rasanya luar biasa berada di dalam gereja yang tampak "zaman dulu banget", dengan penerangan minimalis, sendirian.

Bagian dalamnya mengingatkan gue akan gereja ayam yang ada di Pasar Baru, yaitu GPIB Pniel. Mungkin karena keduanya sama  - sama dibangun pada masa pendudukan Belanda, dengan ciri khas arsitektur khas negara tersebut. Meskipun tidak terlalu luas, namun kesan antik dan tua dari fisik gereja ini adalah pesona tersendiri.

Mazmur 43:3
 Kesamaan lainnya gue temui pada sebuah tulisan berisi ayat Alkitab (dalam bahasa Belanda) yang terukir pada sebuah batu, yang merupakan batu pertama pembangunan gereja yang diletakkan pada 30 Januari 1920 silam. Saat gue memandanginya, ngga ada satu kata pun yang gue mengerti (iyalahh...sejak kapan gue ngerti bahasa Belanda ?) Namun di akhir tulisannya, gue membaca : "Psalm 43 ys 3". Dan gue membuka Alkitab dan mencari "Mazmur 43 ayat 3" yang isinya : Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

Menghadap ke pintu keluar

Selesai membacanya, entah mengapa sekonyong - konyong pikiran gue berkelana ke impian untuk bekpekeran ke Yerusalem, Bethlehem, dan kota - kota serta negara - negara yang menjadi latar belakang kisah sejarah di kitab suci. Impian terdalam yang saat ini seakan - akan tersembunyi jauh di sudut hati gue. Impian yang dari waktu ke waktu bagaikan terkubur semakin dalam oleh keraguan dan ketidakmampuan.

Dalam hati gue berbisik,"Yesus, jika berkenan tuntunlah gue ke sana." Gue pengen banget bisa ke sana, terlebih setelah Mama dan Bapak dianugerahi kesempatan untuk menginjakkan kaki mereka di sana tahun lalu, dan menceritakan pengalaman luar biasa yang dilalui mereka, dengan ekspresi kebahagian yang sangat mendalam, yang gue belum pernah lihat sebelumnya. Semacam ada kilau di matanya, dan terkadang ada yang menggenang di pelupuk matanya, karena menyembunyikan rasa haru dan syukur...lalu di tengah ceritanya Mama tiba - tiba terdiam karena tidak ada kata - kata yang cukup untuk menggambarkan keindahan yang telah dilihatnya.

Gue mendengar nama kota - kota itu sejak gue masuk sekolah minggu di gereja, tapi ketika Mama menceritakan pengalaman pribadinya ketika di sana, hati gue langsung bertekad, "Gue ingin ke sana...gue ingin melihat negeri yang telah memberikan kebahagiaan hakiki serta pengalaman spiritual luar biasa untuk Mama."


Kembali ke Gereja Ayam, puas di lantai dasar, gue naik ke lantai atas. Dari tempat gue berdiri, gue menikmati kemegahan gereja ini. Langit - langit gerejanya....entah gimana menggambarkannya. Kesan tua dan kokoh di saat yang bersamaan, namun yang lebih mendalam adalah kesan 'sophisticated'nya.


Dan gue dengan bersemangat menuju ke berbagai sudut. Gue pikir ini kesempatan istimewa yang ngga datang setiap saat. Kesempatan untuk mengeksplorasi keindahan gereja bersejarah seperti ini. Dan melakukannya di tengah kegelapan dan kesendirian seperti itu, rasanya seru.

Setelah puas, gue pun turun ke lantai dasar. Mengambil tempat duduk dan menyiapkan hati dan pikiran untuk memulai ibadah, di rumah Yesus yang megah dan indah ini.

Friday, April 18, 2014

(GPIB) Immanuel : Allah Beserta Kita!

GPIB Immanuel
Sebenarnya udah lama banget pengen ibadah di GPIB Immanuel, di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, tepatnya di seberang Stasiun Gambir. Setiap kali melintas di Jalan Merdeka, pasti mata gue menyempatkan untuk memandang ke bangunan yang kokoh ini. Ini adalah salah satu gereja tua dan bersejarah di Jakarta. GPIB Immanuel dibangun tahun 1834, dan saat itu diberi nama "Williemskerk" untuk menghormati Raja Willem I. Saat ini dikenal sebagai GPIB Immanuel, nama yang sama indahnya dengan bangunannya, artinya : Allah Beserta Kita.

Rasa penasaran gue akan gereja ini, menjadi salah satu pemicu mengapa gue belakangan pengen mengunjungi gereja - gereja tua yang ada di Jakarta. Selain indah bangunannya, gue menghargai gereja - gereja ini karena cerita sejarah yang dimiliki. 

Bermodal rasa penasaran dan kagum, pagi ini gue membulatkan tekad untuk mengikuti ibadah Jumat Agung di gereja ini. Gue pun berangkat lumayan pagi, karena jadwal kebaktian bahasa Indonesia adalah jam 6 dan jam 8 pagi (kebanyakan GPIB kebaktian di jam 9 pagi). Gue naik kereta tujuan Jakarta Kota, dan turun di Stasiun Gondangdia. Dari situ gue naik bus Kopaja P20 dan turun tepat di stasiun Gambir, di seberang gereja.

Kubah Gereja
Begitu memasuki gedung gereja, mata gue langsung tertuju pada kubah tepat di tengah gereja. Gue belum pernah berada di bawah kubah setinggi dan semegah itu. Kubah itu menjadi sumber masuknya cahaya ke dalam gereja. Yang unik lagi, gerejanya nyaris berbentuk bundar, dan susunan bangku jemaat mengikuti bentuk dome gereja ini. Bangku kayu yang dibuat melingkar mengikuti bentuk bangunan gereja itu, kembali membuat gue terpana saking kagumnya, karena bentuknya yang gak biasa. 

Orgel
Ibadah diiringi dengan orgel yang ada di lantai atas gereja. Terharu...akhirnya bisa dengar suara orgel. Orgel di gereja ini adalah buatan tahun 1843 namun kondisinya masih prima untuk digunakan. Mengikuti ibadah diiringi dengan alunan orgel rasanya menimbulkan sensasi berbeda. Seperti masuk ke mesin waktu, ke masa sangat lampau yang gue sendiri ngga kenal. Musiknya begitu konservatif dan ketika orgel itu dimainkan di bangunan semegah ini, menimbulkan kesan syahdu dan agung.
Senang rasanya bisa merayakan Jumat Agung dan mengikuti Perjamuan Kudus di dalam gereja ini. Ada yang unik, yaitu saat Perjamuan Kudus dilakukan, ternyata jemaat meminum anggur dari cawan yang sama secara bergantian. Awalnya gue terkaget - kaget, bayangkan 4 cawan akan digunakan oleh sekitar 40 orang yang duduk di meja perjamuan. Pikir gue, apakah tidak ada yang memikirkan faktor kebersihan dan kesehatan ?

Simbol Jumat Agung : salib & mahkota duri
Mendekati giliran gue untuk maju ke meja perjamuan rasa 'herannya' belum hilang. Sejak pertama kali gue mengikuti perjamuan kudus yaitu setelah gue menerima pemberkatan sidi (jaman dahulu kala), cara pembagian anggurnya selalu sama, yaitu diberikan dengan gelas plastik kecil kepada masing - masing jemaat. Namun yang ada di hadapan gue saat itu, cawan perak dioper dari satu jemaat ke jemaat berikutnya.

Pintu Utama
Gue pun melangkah pasrah ke meja perjamuan, duduk, lalu mengambil roti yang dibagikan, dan memakannya. Kemudian Bapak Pendeta menaikkan cawan anggur dan berkata "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku". Seketika gue buang jauh - jauh kekhawatiran gue. Dan sekonyong - konyong gue menyadari, ngga semua hal harus dicerna dengan logika manusia yang kadang menjurus pada sikap egois dan sombong seperti yang tadi gue rasakan. Kesakralan dan arti dari perjamuan kudus ini ngga seharusnya di"ganggu" oleh pikiran - pikiran negatif, salah satunya kekhawatiran gue tadi. Lagian, adalah kewajiban gue sebagai jemaat pendatang untuk menghormati dan mengikuti tata ibadah setiap gereja yang gue datangi dengan tertib.

Setelah ibadah selesai dan umat meninggalkan gereja, gue tetap di dalam. Mata gue masih belum lelah mengamati karya seni luar biasa yang ada di hadapan gue. Bahkan gue sempat menaiki tangga melingkar dan mendekat ke ruang orgel, sekalian memandangi jendela - jendela besar dan pilar - pilar kokoh yang menopang gereja.

Rasanya berat banget melangkahkan kaki keluar dari gedung gereja, namun apa daya, kebaktian berikutnya (bahasa Belanda) sudah dimulai dan jemaat sudah memasuki gereja. Gue pun meninggalkan gereja dan dengan perasaan campur aduk. Rasa bahagia karena bisa mendapatkan kesempatan menginjakkan kaki ke rumah-Nya yang agung dan indah.