I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Thursday, April 14, 2016

Siang Bolong Di Museum Katedral



Sepanjang pengalaman gue mengunjungi museum - museum di Jakarta, gue pikir Museum Di Tengah Kebunlah yang paling menantang. Selain karena harus reservasi terlebih dahulu, juga karena hari dan jam operasionalnya yang terbatas banget. Tapi ternyata ada lagi museum yang lebih menantang untuk dikunjungi, dan sukses bikin gue penasaran, yaitu Museum Katedral.

Gue mendengar Museum Katedral ini belum lama....dan begitu tahu, agak - agak kaget dan takjub karena Gereja Katedral atau Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, tempat di mana museum ini berada, selama ini sudah bikin gue kagum karena keindahan bangunannya yang bergaya arsitektur Neo Gothic itu. Gue memang super terpesona dengan gereja yang satu ini, dan untuk gue, ini salah satu bangunan paling indah dan megah yang pernah gue lihat langsung. Dan kali ini gue bertambah takjub karena ternyata di dalam gereja ini juga terdapat museum, yaitu Museum Katedral.



Kenapa tadi gue bilang menantang ? Jawabannya, karena museum ini hanya dibuka setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, jam 10:00 pagi sampai dengan 12:00 siang. Jika kebetulan bertepatan dengan hari libur nasional, maka museum pun tutup. Bayangin....museumnya cuma buka di hari dan jam kerja begitu...

Berhubung gue enggan cuti segala demi mengunjungi museum, maka gue pun musti bersabar...minggu demi minggu....menunggu kondisi kantor yang'kondusif' dimana gue bisa 'ijin' untuk bisa berkunjung ke sini.

Singkatnya, hari yang gue tunggu - tunggu itu pun akhirnya tiba....Gue meninggalkan kantor sekitar jam 10:30 pagi, dan melesat ke Museum Katedral, diantar oleh Gojek.

Tiba di sana, gue memasuki bangunan gereja yang megah itu, dan naik ke arah balkon, dimana museum ini berada.


 

Museum Katedral diresmikan tahun 1991. Museumnya terbilang ngga terlalu luas, karena hanya menempati balkon di sisi kiri dan kanan gereja. Koleksi yang dimiliki museum ini menarik dan unik...ada orgel pipa, relikui, monstran, mitra (topi) uskup, kasula, teks doa, buku catatan perkawinan pertama, buku babtis pertama, dan foto-foto Uskup Agung Jakarta. Selain itu ada juga patung Bunda Maria berkonde, dan replika perahu belo yang dinaiki oleh Pater Bonneke, yang tenggelam di Larantuka, tahun 1889.

Orgel pipa
Koleksi relikui
Koleksi mitra (topi) uskup
Buku babtis pertama

Buku Catatan Perkawinan Pertama
Patung Bunda Maria Berkonde
Replika perahu belo Pater Bonneke
Dan yang paling bikin gue takjub adalah koleksi jubah (patena) yang dihadiahkan oleh Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Jakarta tahun 1989. Woww... 

Koleksi jubah (patena), termasuk jubah Paus Yohanes Paulus II (tengah)
Siang itu pengunjung museum ngga terlalu banyak. Mungkin karena ngga banyak orang yang tahu mengenai keberadaan museum ini. Di sini gue mendapatkan teman - teman baru sesama pengunjung, namanya Claret dan Mayang. Berawal ketika gue meminta tolong untuk difoto, dan akhirnya malah keasyikan foto bareng sambil menikmati mengeksplorasi museum dan gereja bersama.

Bareng Claret, Mayang, dan pengunjung museum lainnya
Selain menikmati museumnya, gue juga mendapat mendapat kesempatan menikmati suasana gereja yang ketika itu sepi dan hening. Rasanya damai banget berada di situ. Kalau ngga mikirin soal pekerjaan di kantor, rasanya pengen berlama - lama di situ. Sebelum ini sebenarnya gue sudah beberapa kali ke sini bareng Ony, bahkan pernah mengikuti misa di sini juga. Tapi siang itu gereja Katedral yang super indah, sepi dan hening itu menyajikan rasa damai dan teduh tersendiri.

Berhubung waktu 'pelarian' gue sudah hampir habis, gue pun mengambil langkah pulang....ke kantor! Pengennya sih jalan kaki ke stasiun Juanda, trus naik commuter line turun di Stasiun Pasar Minggu, kemudian pulang ke rumah...tapi apa daya, pekerjaan di kantor menunggu.

Gue berpamitan pada kedua teman baru gue yang menyenangkan dan sudah menemani gue menikmati eksplorasi museum dan gereja Katedral siang itu. 

Sunday, April 03, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Terakhir)

17 Januari 2016

Ini hari terakhir di Makassar, gue akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan malam nanti. Rencananya hari ini mau nyantai....karena rasanya semua tujuan yang pengen gue kunjungi dalam liburan kali ini sudah terwujud....Eh, ngga juga sih....sebenarnya jauh-jauh hari gue kepengen banget ke Bulukumba untuk lihat lokasi pembuatan kapal pinisi. Tapi karena waktunya ngga memungkinkan, jadi ngga kesampaian....Entah deh, karena faktor waktu atau perencanaannya kurang matang dan minim modal informasi, yang bikin keinginan gue untuk ke sana gagal.

Berhubung hari ini Minggu, gue pengen ikut kebaktian di gereja lokal. Kebetulan rumah Nuel berdekatan dengan Gereja Toraja - Jemaat Sudiang. Dengan diantar Nuel, gue tiba di gereja yang lumayan megah ini, untuk mengikuti kebaktian jam 09:00 pagi. Sayangnya, meskipun sudah sejak awal niat mau gereja di Makassar, tapi gue ngga bawa pakaian yang proper. Jadilah gue ke gereja dengan kemeja flanel (bekas pakai pula!!), celana jeans, dan sendal gunung. 

Begitu tiba di gereja, di luar dugaan, jemaatnya penuh banget. Ternyata kebaktian pagi itu sekaligus juga acara lepas sambut Pendeta. 

Berada di tengah - tengah jemaat Sudiang ini, berasa kayak lagi di gereja HKBP deh....seluruh jemaatnya berpakaian sangat formal dan rapih, layaknya mau ke pesta besar. Apalagi yang perempuan, datang dengan riasan wajah dan rambut full, jadi ingat Mama kalau lagi ke gereja (HKBP), kadang sampai berkebaya dengan rambut disanggul segala. Lalu ketika gue melihat diri sendiri....ahhh!!....jeans yang sudah 5 hari dipakai ngga dicuci, begitu juga kemeja flanelnya....pakai sendal pula! Rambutnya kusut karena belum sempat keramas abis main air di Telaga Bidadari ditambah kehujanan semalam. Make up...? Boro-boro....muka gosong maksimal begini mau diapain juga berantakan. Trus gue mencoba menghibur diri sendiri....'Yang penting kan hatinya, ya Cherrrr...!'

Gue sangat menikmati acara kebaktian di sini...di tengah - tengah jemaat yang gue rasa mayoritas berasal dari suku Toraja. Terlebih karena ada acara lepas sambut pendeta, begitu banyak tambahan acara berupa persembahan puji-pujian, yang disisipkan dalam kebaktian. Bahkan tadi sempat ada pertunjukan angklung segala yang dibawakan oleh anak - anak sekolah minggu.

Awalnya sempat 'khawatir' kebaktian akan dibawakan dalam bahasa Toraja. Kalau di HKBP biasanya kebaktian di jam utama begini akan dibawakan dalam bahasa Batak. 

Kelar kebaktian, gue menelepon Nuel untuk jemput ke gereja. Dua hari ini gue berasa punya adik kecil laki-laki. 

Setelah istirahat sebentar, gue dan Nuel pun meninggalkan rumah menuju pusat kota Makassar. Ada beberapa hal yang ingin gue lakukan siang ini. Pertama, ke Jalan Somba Opu untuk beli minyak tawon asli Makassar yang beken banget itu, lalu makan siang di Coto Makassar Nusantara, dan terakhir ke Benteng Somba Opu.

Di antara perjalanan ke tiga lokasi itu gue sempat mampir ke dua gereja besar di sana, pertama Gereja Katolik Hati Yesus Maha Kudus dan GPIB Immanuel. Gue khan suka jalan - jalan ke gereja. Ngga ada hubungannya dengan urusan spiritual, rohani, dan sebagainya, murni karena gue suka mengagumi bangunan - bangunan indah gereja, apalagi kalau kebetulan gerejanya berusia tua dan bersejarah.

Tujuan terakhir, Benteng Somba Opu, menurut gue unik dan konsepnya mirip Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Bedanya kalau TMII berisi rumah - rumah adat dari seluruh propinsi di Indonesia, sementara di Benteng Somba Opu terdapat beberapa rumah adat Sulawesi Selatan, ada rumah adat suku Toraja, suku Bugis, suku Mandar, dan lainnya. Tapi sayangnya gue ngga bisa memasuki setiap rumah yang ada, karena ada yang terkunci rapat, ada juga yang ditempati orang. Jadi rumah - rumah yang tampak keren dan orisinal itu cuma bisa gue nikmati dari luar saja. 

Rumah adat Bugis
Rumah adat....lupa euyy!
Ini juga lupa...keren padahal!
Rumah adat Bulukumba...inget namanya karena ingat 'pinisi' !!
Lupa lagi...
Rumah adat Toraja
Rumah adat Soppeng
Selain rumah - rumah adat, di sini ada museum Karaeng Pattingallaoang. Museumnya tak berpengunjung. Sang penjaga museum tergopoh-gopoh lari menuju museum untuk membuka pintunya, begitu melihat gue memasuki halamannya. Museumnya cukup menarik. Gue suka lihat bangunannya. Barang - barang yang dipamerkan di museum ini juga menarik.



Terakhir, karena penasaran, gue pun mencari keberadaan 'benteng' Somba Opu. Namun nampaknya gue harus puas dengan menyaksikan puing - puingnya aja, sampai - sampai gue ngga bisa membayangkan bentuk asli bentengnya.





Karena sudah sore dan mendung, gue dan Nuel mengambil langkah kembali ke rumah. Dannnn.....di tengah perjalanan, hujan pun turun dengan dahsyatnya, dan memaksa gue untuk berhenti untuk berteduh. Sempat panik takut telat ke bandara, sampai bikin rencana segala, gue akan jalan duluan ke rumah Nuel dengan naik taksi dan membawa kunci rumah. Trus gimana caranya ke sana ? Gue kan belum ingat - ingat banget arah ke sana, apalagi begitu sudah di jalan masuk dan harus menempuh belokan - belokan jalan. Solusinya, gue akan berkomunikasi dengan Nuel melalui telepon. Rencana fix sudah!

Tapi tunggu deh....kok rasanya canggung dan lancang banget gue nongol dan buka pintu rumah orang ya ? Batal....rencana batal....gue lebih rela kehujanan deh...Dan kepanikan gue dijawab oleh Yesus yang super baik...ngga beberapa lama kemudian, hujan pun reda.

Tiba di rumah Nuel gue sempat mandi dan membereskan ransel dan barang bawaan....terutama kue depatori yang ngga boleh ketinggalan. Sepatu gue yang basah, atu celana jeans yang kotor maksimal boleh ketinggalan...gue ikhlas....tapi kue depatori ngga boleh...gue suka banget kue ini. Kelar berkemas gue pun diantar Nuel ke bandara...Padahal tadinya gue mau manggil taksi aja.

Dan gue pun mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih pada Nuel....selamat tinggal pada Makassar...dan Toraja juga. Apakah gue terpesona pada kedua kota ini dan ingin kembali lagi ? Iya 1000% untuk Toraja...kalau Makassar gue rasa sudah cukup....dan ngga tahan sama cuaca panasnya. Dan gue rasa akan balik lagi ke sini suatu saat...karena gue pengen ke Toraja lagi dan ke Bulukumba tentunya, serta daerah - daerah lainnya. Makasih Yesus, untuk hadiah ulang tahun paling istimewa !

Monday, March 28, 2016

Mengintip Koleksi Museum Layang Layang


Sabtu, 26 Maret 2016, gue main ke Museum Layang Layang Indonesia di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan. Awalnya, sebenarnya ngga terlalu niat ke sini, cuma berhubung kondisi kesehatan gue lagi kurang fit karena diganggu oleh si sinusitis nakal, jadi gue dan Ony bermaksud mencari tempat refreshing yang ngga terlalu jauh dari rumah.

Di luar harapan, ternyata museum ini cukup menyenangkan, dan ngga melulu pas untuk anak - anak. Begitu tiba di sini gue langsung kagum dengan bangunan - bangunannya yang etnik berbentuk joglo. Ditambah dengan pekarangan yang rindang dan teduh, bikin nyaman dan betah.

Gue dan Ony membeli tiket masuk seharga Rp. 15,000 per orang. Dengan tiket seharga ini, selain bisa melihat-lihat museum, gue juga bisa ikutan bikin layang layang.

Selain bisa lihat-lihat museum, ada juga paket yang ditawarkan seperti bikin keramik, lukis payung, membatik, dan lainnya, dengan harga tiket Rp. 50,000 per orang.

Mula - mula setiap pengunjung yang datang dipersilahkan untuk ke ruang audio visual dimana pengunjung dapat menyaksikan video berdurasi kurang lebih 15 menit, mengenai sejarah layang layang, jenis - jenis layang layang, dan festival layang layang di berbagai tempat.

Setelah itu, dengan diantar oleh petugas yang berperan sebagai guide, gue dan Ony pun menuju bangunan pendopo yang merupakan ruang pamer koleksi layang layang. Meskipun bukan penggemar permainan layang layang, namun koleksi yang dimiliki museum ini cukup bikin gue takjub. Pertama, karena baru kali ini gue melihat langsung berbagai jenis layang layang dalam bentuk, warna, dan ukuran yang tidak biasa. Sebagian bahkan menurut gue berukuran sangat besar alias raksasa dan berbentuk unik, sampai - sampai harus dipajang di langit - langit rumah. Seluruh layang layang tersebut sudah pernah digunakan atau dimainkan dalam berbagai kesempatan atau festival. 





Kedua, museum ini memiliki koleksi layang layang tidak hanya dari berbagai propinsi di Indonesia, melainkan juga dari negara-negara lainnya. Dan gue bahkan baru tahu, untuk beberapa propinsi di Indonesia, layang layang merupakan bagian dari adat dan kebudayaan. Misalnya digunakan sebagai bagian dari prosesi adat perkawinan, upacara panen, dan lain sebagainya.

Ketiga, ada spot yang menarik di museum dimana dipamerkan contoh layang layang jadi, berikut bahan - bahannya yang masih tradisional banget...yaitu bambu, daun, dan sebagai benangnya menggunakan serat nanas. Yang biking takjub, koleksi layang layang yang terbuat dari daun ini seakan ngga hancur atau rapuh dimakan waktu. 


Puas melihat - lihat koleksi museum, kunjungan gue di sini ditutup dengan workshop kecil - kecilan 'bikin layang layang'. Setiap pengunjung diberikan sebuah rangka layang layang berbentuk konvensional yang terbuat dari bambu dan benang, lalu kertas khusus, dan peralatan lainnya. Lumayanlah....cara refreshing yang menyenangkan. 

'i am cherry'
Sebelum pulang, kenalan sama Yaba
Secara keseluruhan, Museum Layang Layang Indonesia ini worth to see kok ! Sebelumnya, tahun 2010, gue pernah mengunjungi Museum Layang Layang di Melacca, Malaysia. Seingat gue, dalam hal koleksi dari ruang pamer, Museum Layang Layang yang ada di Jakarta ini ngga kalah. Dan yang terpenting adalah selain tempatnya nyaman dan teduh untuk dikunjungi, dan bikin betah bersantai - santai di sini, museum ini juga menyajikan banyak informasi (seputar layang layang) yang menarik dan menambah wawasan pengunjung.

Friday, March 25, 2016

Ulang Tahun dan Impian ke Tana Toraja (Hari Keempat)

 

16 Januari 2016.

Bus Litha & Co. malam mengantar gue dari Toraja ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, tiba sekitar jam 05:00 pagi lebih sedikit. Begitu turun dari bus rasanya gado-gado....yang jelas badan ini cape dan lelah banget setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam lebih. Pengennya bisa langsung merebahkan badan....di mana kek....tapi kondisi di bandara saat itu ngga memungkinkan. Gue mencari-cari pojokan atau lokasi apapun di mana gue bisa istirahat sambil tiduran sebentar, tapi ngga ada. Jadilah gue ke toilet untuk bersih - bersih seadanya.

Pagi ini rencananya gue akan dijemput temennya Bang Ino, Nuel. Dalam semalaman, rencana gue di Makassar untuk hari ini dan besok, langsung berubah drastis. Kemarin gue sempat panik karena kesulitan untuk menghubungi seseorang yang rencananya akan menjadi host atau guide gue di Makassar hari ini. Bang Ino membantu gue dengan mencarikan temannya di Makassar untuk menemani gue hari ini. Makasih Yesus....yang sudah menjawab kebingungan dan kepanikan gue, dan tidak meninggalkan gue sendirian ketika jauh dari rumah....melalui kebaikan dan bantuan orang - orang, yang sebenarnya baru gue kenal beberapa saat.

Saat itu sebenarnya gue enggan menghubungi Nuel untuk menjemput di bandara, karena masih terlalu pagi...ngga tega. Tapi gimana lagi....gue udah mati gaya di bandara. Sekitar jam 06:00 pagi lewat, Nuel pun menjemput dengan motornya. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Nuel menyarankan untuk singgah di rumahnya dulu, karena masih terlalu pagi untuk langsung berangkat ke Maros. Dia menawarkan tempat untuk gue beristirahat sejenak dan menitipkan ransel. Oiiyyaaa....ini mungkin sesuatu yang ngga gue perhitungkan. Kadang gue begitu ngototnya untuk mewujudkan sesuatu, sampai ngga memikirkan detilnya. Masa gue mau ke Leang Leang dan Rammang Rammang hari ini sambil memanggul ransel super berat, ditambah menjinjing oleh - oleh kue depatori.

Akhirnya gue singgah di rumah Nuel yang lokasinya ngga jauh dari bandara. Nuel mempersilahkan gue menempati sebuah kamar untuk beristirahat. Begitu merebahkan badan, rasanya gue mendapat fasilitas kemewahan luar biasa. Meskipun ngga bisa tertidur sepenuhnya, karena cuaca super panas, namun lumayan banget bisa beristirahat begini.

Sekitar jam 09:00 gue dan Nuel pun meninggalkan rumah, menuju Maros, tepatnya.....Leang Leang ! Leang Leang adalah pegunungan karst berumur ribuan tahun, konon merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia. Woww ! Tiba di sana, gue takjub bukan main, karena ngga mengira kawasannya seluas itu, dengan goa - goa menjulang sebesar itu. Seorang guide dari pihak pengelola mengantar gue ke Leang (goa) Pettakere dan Leang Pettae, di mana akhirnya gue bisa menyaksikan peninggalan berupa gambar babi rusa dan telapak tangan yang berusia ribuan tahun yang selama ini cuma bisa gue lihat ketika browsing - browsing di internet....hiks...terharu...Yesus baik banget ngasih gue kesempatan untuk datang dan melihat langsung tempat luar biasa kayak gini.

Di mata gue kawasan ini unik banget....dengan bebatuan berbagai ukuran sampai yang raksasa sekalipun, 'berserakan' di seluruh kawasan ini. Pemandangan ini terkesan absurd dan magical di mata gue. Rasanya gue kehabisan kata - kata untuk melukiskannya....menakjubkan...memukau....mempesona....semua digabung jadi satu, itulah kata yang pas untuk mendeskripsikan Leang Leang ini.




 
 

 





Dari Leang Leang, gue dan Nuel pun melanjutkan perjalanan ke Rammang Rammang. Panasnya saat itu....astaga !!! 100 derajat celcius kali! Dahsyat banget !! Untuk menuju Rammang Rammang gue berdua naik perahu dari sebuah dermaga, ongkosnya Rp. 200,000 pulang - pergi. Perahu ini mengantar gue menyusuri sungai Pute yang arusnya tenang, dengan pohon - pohon bakau di sebelah kanan dan kirinya.

Tiba di Rammang Rammang, kembali gue dibuat takjub demi melihat pemandangan pegunungan kars, kemana pun mata ini memandang. Tapi tunggu deh....gue pernah dengar review Rammang Rammang ini disejajarkan dengan Halong Bay di Hanoi, Vietnam. Kebetulan gue pernah ke Halong Bay tahun 2011 yang lalu, dan menurut gue berbeda ya....kalau Halong Bay, dari namanya aja sudah jelas....adalah pulau - pulau kars yang bertebaran dan menjulang di wilayah lautan. Kalau Rammang Rammang, bagi gue adalah pegunungan kars yang menjulang di antara hamparan area persawahan. Tapi, keduanya sama - sama menakjubkan kok....Sekonyong-konyong gue langsung ngiler melihat kehidupan warga sekitar yang tinggal dan bermata pencaharian di sini. Pasti damai dan tenteram banget tinggal menetap di tempat seindah dan sesunyi ini. 

Di Rammang Rammang ini, gue melewati hari mulai dari kepanasan luar biasa, sampai diguyur hujan. Kebetulan partner gue kali ini, Nuel, cukup seru, doyan berpetualang, dengan fisik yang nyaris ngga ada capenya. Jadi, rasanya siang hingga sore banyak spot di Rammang Rammang ini yang bisa gue eksplorasi. Kalau gue kecapean, dan diserbu rasa haus dan malas, nanti dia akan mengambil peran untuk memberikan motivasi untuk melanjutkan langkah....gampang kok bikin gue bersemangat lagi....cukup bilang, 'Udah jauh-jauh ke sini.....' atau, 'nanti nyesel loh.....kapan lagi bisa kesini......' atau yang paling mutakhir....'Di Jakarta mana ada yang beginian.....' Pastinya....

Perahu yang gue tumpangi


 




Telaga Bidadari
Di tengah hujan, gue memutuskan meninggalkan lokasi. Dalam perjalanan di atas perahu kembali ke dermaga, Nuel malah menyarankan berhenti di sebuah dermaga kecil, Telaga Bidadari. Dengan langkah terseok-seok karena seluruh badan dan baju gue sudah basah, gue pun mampir ke dermaga ini. Sepi, dan bikin gue ngeri karena tempatnya tampak tak terjamah, ditambah karena hujan yang mengguyur. Gue pasrah mengikuti langkah Nuel. Hebatnya, meskipun tanpa petunjuk jalan apapun dan tanpa seorang pun di sini yang bisa ditanyain, dia berhasil menemukan lokasi Telaga Bidadari yang tersembunyi dan sunyi. 

Singkatnya, gue menyempatkan diri berenang dan main air di Telaga Bidadari ini. Saat itu gue akhirnya terbujuk untuk nyebur karena ada serombongan pengunjung lainnya terdiri dari 5 orang, dan dalam sekejap setiap orang saling berinteraksi, dan tibalah pada situasi dimana semua orang harus rela berenang, meski dengan pakaian lengkap...atau jika tidak, akan terus dipaksa dan dicela habis-habisan...Seru dan menyenangkan !

Dengan pakaian dan sepatu basah kuyup, gue dan Nuel pun meninggalkan lokasi. Saat itu sudah jam 17:00 sore lewat. Gue harus meninggalkan lokasi sebelum langit gelap benar. Karena kawasan ini benar-benar sepi tanpa pengunjung lainnya.

Akhirnya wisata ala pra sejarah ke dua pegunungan kars yang sangat fenomenal, dengan keindahan yang spektakuler pun berakhir. Gue meninggalkan Maros, kembali ke Makassar. Dalam perjalanan gue sempat mampir untuk makan malam, masih dengan kondisi sekujur badan basah kuyup, sampai dipelototin oleh pemilik restorannya. 

Sebenarnya gue dilanda rasa bingung yang mendalam.....mestinya malam ini gue menginap di sebuah hotel di tengah kota Makassar. Tapi gue sadar kalau saat itu gue berada jauhhhhh banget dari pusat kota Makassar. Gue ragu untuk meminta Nuel mengantar gue ke hotel tersebut. Selain jauh, sudah malam, hujan pula ! Sebelum gue membahas rencana gue malam itu, Nuel justru kembali menawarkan agar gue tinggal di rumahnya malam itu. Karena gue ngga punya pilihan lain....(tunggu deh...bukannya banyak hotel di sepanjang jalan dekat bandara, Cher ?)....akhirnya gue menerima tawaran tersebut. Jadi malam itu, gue kembali ke rumah Nuel, menjemur semua pakaian dan sepatu, mandi, lalu tidur di kamar yang sama yang gue tempati tadi pagi. 

Di atas kasur, pikiran gue menerawang. Awalnya kilas balik perjalanan gue ke Leang Leang dan Rammang Rammang tadi....lalu beralih pada bagaimana akhir dari hari gue kali ini. Aneh juga rasanya gue bisa terdampar di rumah seseorang yang baru gue temui dan kenal tadi pagi. Ngga ada orang lain di rumah itu selain gue dan Nuel. Dalam sejarah gue berpetualang ala backpacker, sendirian, hari ini rasanya gue merangkak naik ke level tertentu. Apakah ini namanya nekat ? atau ceroboh ? Ngga juga sih....ada 'senjata' yang biasa gue andalkan saat traveling, terlebih sendirian kayak gini, namanya insting. Insting ini yang menenangkan gue karena insting memberikan gue signal bahwa segalanya akan baik-baik saja, dan justru gue seharusnya bersyukur karena ada Nuel yang menawarkan 'kemudahan' untuk gue sehingga ngga perlu repot-repot mencari hotel atau penginapan malam ini. Jadi ini bukan kenekatan semata, tapi hari ini justru Yesus mengingatkan gue kembali betapa gue ngga pernah sendirian...Yesus akan menuntun perjalanan gue, salah satunya melalui orang - orang baik di sekitar gue.

Malam itu, di antara kelelahan maksimal, serta serbuan nyamuk dan rasa gerah, gue pun akhirnya terlelap dengan tenangnya.