I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!

Tuesday, December 23, 2014

(Review Hostel) Terbuai Kenyamanan Khaosan Immjai

14 Bed Dorm - Mix (Shared bathroom)
Seperti biasa, beberapa minggu menjelang trip bekpekeran gue akan buka websitenya Hostelbookers buat nyari - nyari tempat penginapan. Untuk trip ke Bangkok kali ini pun gue melakukan hal yang sama. Pengalaman gue pertama kali ke Bangkok tahun 2010 adalah pelajaran berharga. Saat itu dengan semangat menggebu - gebu ala bekpeker nekat, gue memutuskan untuk ngga booking hostel mana pun sebelum keberangkatan. Gue bertekad untuk nyari hostel on the spot....dan harus di Jalan Khaosan, karena Khaosan adalah area bekpeker paling legendaris di Bangkok. Dengan idealisme tanpa perhitungan itu, gue malah berakhir di sebuah kamar mengerikan, di Jalan Khaosan. Tragis...

Khaosan Immjai
Kali ini gue menyiapkan urusan hostel sebelum keberangkatan, dan gue gak memaksakan diri untuk tinggal di Jalan Khaosan. Karena pada trip sebelumnya gue tinggal di sana selama seminggu, dan gue masih ingat betapa hingar bingar kawasan itu di saat malam hingga dini hari. Kali ini gue harus lebih cermat mencari lokasi yang tepat. Yaitu lokasi yang strategis namun tetap memberikan gue ketenangan ketika harus beristirahat.

Pencarian gue berakhir di sebuah hostel bernama Khaosan Immjai. Gue membaca review - reviewnya, dan yang paling menarik untuk gue adalah hostel ini masih terbilang baru dan staffnya yang sangat ramah dan helpful.

Gue menempati salah satu ranjang di "14 Bed Dorm - Mix (Shared bathroom)" yang harga per malamnya adalah USD 13.75. Dorm Mix maksudnya kamar campur baik tamu perempuan maupun laki - laki. Kamarnya terletak di lantai 4, dilengkapi dengan 2 kamar mandi sekaligus toilet yang masing - masing untuk tamu perempuan dan laki - laki. Hostel terdiri dari 5 lantai, dan untuk mencapai setiap lantai hanya tersedia tangga, bukan lift. Khaosan Immjai sangatlah bersih dan rapih. Setiap pagi ada staff yang membersihkan setiap sudutnya, termasuk setiap kasur, sehingga kebersihannya terjaga. Karena itu pula, tidak ada aroma - aroma tidak sedap tercium, hanya udara segar. Interior setiap lantai memiliki tema berbeda - beda, setiap sisi tembok dilukisi dengan gambar - gambar serta warna terang dan cerah, yang menciptakan suasana hangat.

Breakfast timeee !
Mengenai review bahwa staff Khaosan Immjai sangat baik dan ramah, gue setuju 1000%. Dan bagi gue yang selalu menganggap hostel adalah rumah kedua ketika sedang tidak berada di negeri sendiri, kehadiran staff - staff yang ramah dan bersahabat sangatlah penting dan cukup menentukan nikmat atau ngga nya liburan yang gue lalui.

Di malam kedatangan gue, setelah meniti setiap anak tangga sampai ke lantai 4, begitu membuka pintu kamar, di hadapan gue adalah pemandangan yang sering gue rindukan di saat gue sedang tidak bekpekeran....di saat gue sedang berkutat dengan kehidupan dan rutinitas yang normal.....yaitu kasur tingkat (bunk bed) yang tersusun rapi. Gue memilih salah satu kasur bawah yang ada di pojok, dekat pintu ke balkon. Dan saat gue merebahkan badan di ranjang dan merasakan kenyamanannya...seakan - akan gue melepaskan segala kerinduan gue untuk traveling dan merasakan kehidupan nan seru di dalam kamar dorm seperti ini.

Pojok hair drier di lt. 3
Hostel ini memberikan fasilitas lengkap versi bekpeker. Pertama, air dingin dan panas untuk mandi. Kedua, hair drier, di lantai 3. Ini berguna banget buat bekpeker gembel kayak gue yang tiap paginya gak punya waktu berlama - lama di hostel sekedar untuk mengeringkan rambut habis keramas. Ketiga, balkon bersama untuk menjemur handuk dan lainnya. Setiap mandi bahkan gue bisa langsung mencuci pakaian dalam gue, lalu menjemurnya di balkon dimana terdapat 2 jemuran bagi penghuni tiap kamar. Dan di siang hari ketika gue kembali, semua jemuran gue sudah kering. Jemuran kering....hatipun senang. Rasanya guelah yang menguasai jemuran ini. Karena sebelum meninggalkan hostel setiap harinya gue akan menjemur handuk besar, handuk kecil, kaos dan celana tidur, lalu cucian gue. Keempat, wifi yang koneksinya sangat baik di setiap ruangan. Kelima, fasilitas 4 unit PC dengan koneksi internet gratis, yang terdapat di lantai satu. Keenam, fasilitas mesin cuci yang bisa disewa oleh tamu. Untuk fasilitas yang ini, gue belum pernah menggunakan, karena emang belum perlu. Dan fasilitas - fasilitas lainnya, yang kebanyakan bisa ditemui di lantai satu yang juga merupakan ruang tamu dan ruang resepsionis.

Lantai 1, komplit fasilitasnya
Untuk masalah keamanan, hostel ini juga punya sistem yang cukup memadai. Setiap tamu diberikan 1 kunci pintu utama (jaga - jaga kalau pulang larut malam dan pintu hostel sudah dikunci) dan 1 kartu slot untuk menuju tangga ke setiap kamar. Di tiap kamar, setiap tamu diberikan 1 lemari setinggi perut orang dewasa, untuk menyimpan barang masing - masing, tidak termasuk gembok dan kuncinya. Setiap bekpeker pasti tahu, betapa pentingnya membawa serta pasangan gembok dan kunci kemana pun. Setiap kamarnya memang tidak berkunci, namun karena di setiap lantai hanya terdapat 1 kamar, maka privasinya sangat terasa. Orang - orang yang lalu lalang dan keluar masuk kamar hanyalah penghuni kamar tersebut.

Mengenai suasana tidur gue setiap malam, sewajarnya malam - malam yang gue lalui di hostel, tepatnya di mix dorm room kayak gini, 'musik' pengiring tidur gue adalah alunan suara mendengkur, batuk - batuk, mengobrol, atau suara pintu yang terbuka dan tertutup ketika ada yang masuk atau meninggalkan kamar. Atau yang lebih sensasional lagi, meskipun lampu sudah kamar sudah dimatikan, selalu ada tamu lainnya yang malah sibuk sendiri dengan lemari pribadinya lalu mengemasi ransel dan barang - barang bawaannya dan semacamnya....kegiatan yang sebenarnya mustahil dilakukan tanpa menimbulkan suara gaduh. Dan di saat - saat seperti itu, yang gue lakukan adalah mencari kehangatan di balik selimut tebal, berusaha menikmati suasana dan meyakinkan diri sendiri bahwa begitu meninggalkan hostel ini, gue akan segera merindukan segala kegaduhan dan hiruk pikuk ini.

Sarapan paling lezat sedunia
Untuk urusan sarapan, menu hariannya adalah roti tawar dengan selai nanas dan butter. Selain itu tamu juga bisa menyiapkan kopi atau teh panas masing - masing. Jadi gue bisa merasakan lagi sensasi sarapan dengan 4 lembar roti gosong yang harus gue bakar 2 kali di mesin toaster, sampai seluruh permukaan roti kering dan menghitam. Berbeda dengan rutinitas di hostel lainnya, sehabis sarapan tamu tidak perlu mencuci piring dan peralatan makan lainnya, karena pekerjaan itu akan dilakukan oleh salah satu staff yang bertugas. Woww....rasanya ada yang kurang sih....Setiap kali gue cerita sama Mama soal kehidupan di hostel, terlebih rutinitas ketika gue sarapan, Mama cuma berujar datar, "Oh....jadi jauh - jauh kau ke luar negeri, harus nyuci piring juga kau ?"

Yang jelas, gue suka dengan segala hal yang ada di hostel ini. Ketika gue tiba di Bangkok, harus diakui awalnya gue kesulitan mencari lokasinya. Entah mungkin karena saat itu malam hari....atau karena gue menggunakan bus umum untuk pertama kalinya, atau karena Khaosan Immjai berada di lokasi yang belum pernah gue 'sentuh' sebelumnya. Tapi begitu gue merasakan tinggal di sini, ini adalah hostel terbaik nomor dua dari seluruh hostel yang pernah gue tempati sepanjang sejarah gue bekpekeran. Yang terbaik pertama adalah Betelbox di Singapura. Yang gue maksud adalah 'hostel' dengan konsep shared room ya...bukan hostel atau hotel dengan single bed room.

Jadi apakah gue akan merekomendasikan hostel Khaosan Immjai ini ke orang lain ? Pasti banget. Apakah gue akan memilih tinggal di sini lagi jika suatu saat berkesempatan ke Bangkok lagi ? Pengen banget ! Idealnya sebenarnya gue pengen mencoba tinggal di hostel - hostel berbeda namun pada akhirnya kalau udah 'jatuh hati' sama hostel tertentu, gue pengen kembali lagi dan lagi ke tempat itu.


Khaosan Immjai Hostel
Alamat : Samsen Soi 1, Samsen Road
Cara Naik Bus dari Don Mueang International Airport :
Naik Bus nomor 59 sampai ke Chatuchak Market atau Mo Chit
Dari Chatuchak Market atau Mo Chit naik bus No. 3 atau 524 turun di Samsen Soi 1 (tepat di perhentian bus, ada kios Seven Eleven). 
Menyeberang Samsen Road dan tinggal jalan kaki sekitar 20 meter, Khaosan Immjai ada di sisi kiri

Friday, December 19, 2014

Hari Kedua : Lelah Memuncak di Chatuchak

Pagi ini gue bangun dengan sejumlah rencana melayang - layang di pikiran gue. Target gue adalah Chatuchak Market ! Tapi sebelum ke sana gue akan menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat menarik sekitar Khaosan, yaitu ke Wat Chanasongkram yang berada tepat di seberang Khaosan Road, serta ke Wat Saket.

Pemandangan Wat Chansongkram pagi itu adalah bangunan - bangunan megah yang didominasi warna keemasan, lalu beberapa biksu yang berlalu lalang memulai aktivitas mereka, dan sekawanan anjing yang sedang bersantai.

Morning !

Vitarka Mudrā
Dari Wat Chansongkram, gue melanjutkan langkah menuju Wat Saket. Untuk mencapai Wat Saket, tepatnya mencapai puncaknya, perjuangannya lumayan. Selain jarak tempuh cukup jauh yang harus gue lalui dengan berjalan - kaki, tiba di komplek Wat Saket, gue harus menaiki sekitar 300 anak tangga untuk sampai di puncaknya. Namun kelelahan gue terbayar begitu melihat stupa keemasan berukuran raksasa tepat di puncaknya. Puas berada di sini dan berhasil membuktikan pada diri sendiri kalo stamina gue cukup baik untuk sampai disini, gue pun mengambil arah turun, dan meninggalkan lokasi Wat Saket.

Wat Saket
Stupa Wat Saket
Mengharapkan keberuntungan
Pemandangan dari puncak Wat Saket
Dalam perjalanan ke arah Khaosan Road, lewat dari Democracy Monument sedikit, gue menyeberang jalan untuk menunggu bus umum ke arah Chatuchak Market.

Democracy Monument
Wat Ratchanadda
Sebelum berangkat ke Bangkok gue udah berniat pengen ke Chatuchak market. Ini sebenarnya bertolak belakang banget dengan kebiasaan bekpekeran gue yang ogah ke pusat - pusat belanja. Meskipun Bangkok dikenal salah satunya sebagai pusat wisata belanja, tapi gue ngga tergoda. Waktu ke sini tahun 2010 yang lalu pun ngga ada niat untuk memasukkan 'belanja' ke dalam agenda gue.

Namun kali ini gue sedikit tergoda dan merencanakan ke Chatuchak Market, yang katanya salah satu weekend market terbesar dunia, dengan lebih dari 10,000 kios di dalamnya. Gue berniat ke sini untuk mencari hadiah ulang tahun untuk keponakan gue tersayang, Abigail (Abby) ,yang tepat berulang tahun ke-4 hari ini (30 November 2014). Meskipun gue gak bisa ikut perayaan ulang tahunnya yang diadakan di Puncak hari ini, tapi gue bertekad akan membawa pulang hadiah spesial buat Abby. 

Awalnya gue tiba di Chatuchak dengan segudang harapan. Melihat areanya yang luas banget, gue optimis kalo gue akan menemukan apapun yang gue perlukan di pasar legendaris ini. Gue pun mulai mengeksplorasi pasar yang dipenuhi dengan kios - kios dengan berbagai jenis barang dagangan. Mulai dari makanan, souvenir, tas, pakaian, lukisan dan barang seni, pecah belah, bahkan hewan peliharaan. Tapi semakin waktu berjalan, dan kaki gue pun ngga berhenti berjalan, kelelahan dan rasa bosan menyerang gue.

Menara Jam di Chatuchak
Coconut Ice paling enak sedunia
Lorong kios - kios
Gue udah berusaha mencari dan memperhatikan setiap kios yang udah dilewati oleh kedua kaki lelah gue ini. Namun sayangnya gak menemukan sesuatu pun yang menarik bagi gue. Target gue adalah mencari hadiah spesial buat Abby, bukan sekedar  oleh - oleh seperti gantungan kunci, tas, atau benda semacam itu. Kalau sekedar mencari barang - barang simpel seperti itu, mungkin Chatuchak inilah surganya, karena menyajikan banyak pilihan dengan harga terjangkau. Panasnya cuaca siang itu ditambah menumpuknya orang dan kios di kawasan Chatuchak juga bikin gue susah fokus. Apalagi pas melewati bagian hewan peliharaan.

Gue paling sebal sebenarnya kalo lihat pet shop dan semacamnya yang menjual anak - anak hewan. Gak tega lihatnya. Tapi begitu gue mau segera kabur dari area itu, gue malah tertahan sama pernak - pernik keperluan hewan, khususnya anjing, yang lucu - lucu dan unik dan mungkin ngga akan gue temui di Jakarta. Gue sempat mau beli baju dan tas ransel buat Bruncuz dan Momo. Untung gue segera tersadar, Bruncuz dan Momo pastilah ngga nyaman dengan aksesoris seperti itu. Mungkin akan gue akan terhibur melihat kedua anjing gue memakai baju layaknya manusia, ditambah lagi dengan tas ransel yang bisa memuat HP atau botol minum, namun keduanya pasti ngga akan merasa nyaman.

Gue pun mengambil langkah pulang, dengan menumpang bus No. 524 ke arah kembali ke hostel. Gue pengen istirahat dan merebahkan badan sejenak, rasanya tenaga gue tersedot luar biasa di Chatuchak tadi, baik untuk berjalan maupun memperhatikan setiap kios.

Tiba di Khaosan Immjai, gue langsung ke kamar. Di atas ranjang, gue sedikit menyesali karena meskipun sudah melewatkan 1 hari dari keseluruhan waktu gue yang singkat di Bangkok ini, gue pulang dengan tangan kosong, tanpa berhasil mendapatkan kado untuk Abby. Kenapa semua orang bilang belanja ke Chatuchak bagaikan surga ? Gue ngga ngerti.....Setelah berisitirahat sejenak, gue pun kembali bersiap - siap meninggalkan hostel. Gue masih belum putus asa dalam misi mencari kado Abby. Kali ini gue akan ke MBK ( Mahboonkrong) Center. Dari cerita yang gue dengar dan baca, ini adalah salah satu Mall legendaris di Bangkok, selain Platinum. Gue akan kesana untuk membuktikan sendiri, dan tentunya masih dalam misi mencari hadiah Abby. 

Untuk ke sana gue naik kapal ferry dari Phra Artrit Pier menyusuri sungai Chao Phraya menuju Sathorn Pier. Dari Sathorn Pier gue lanjut naik BTS Skytrain di Stasiun Saphan Taksin menuju Stasiun National Stadium. Dan MBK Center, tepat bersebelahan dengan stasiun National Stadium. Gue tiba di MBK Center dengan harapan lebih besar ketimbang ketika tiba di Chatuchak Market tadi, karena gue pikir inilah satu - satunya kesempatan mendapatkan hadiah Abby. Gue pun menyusuri setiap lantai di mall itu, mencari barang apapun yang menarik sebagai hadiah untuk Abby. Namun lagi - lagi gue kecewa. Bagi gue Mall ini ngga berbeda dengan ITC - ITC yang gampang gue temui di Jakarta. Bagi gue Mall - mall di Jakarta menyajikan lebih banyak barang, atau paling tidak barang - barang yang sama, namun dengan harga yang lebih terjangkau. Jadi soal urusan belanja, gue adalah pendukung pasar dan produk asli Indonesia, karena dari segi variasi, kualitas dan harga, lebih unggul kok. Dan lagi - lagi gue pulang ke Khaosan dengan tangan kosong. Gue enggan mencari Mall lainnya, karena selain saat itu sudah malam, gue pesimis akan menemukan hadiah yang pas dan menarik untuk Abby. 

Gue pun memutuskan pulang ke hostel....dengan kedua kaki super lelah dan pegal. Kesan gue, mengeksplorasi tempat - tempat belanja itu lebih melelahkan serta membosankan. Entah deh....mungkin karena niat gue menggendong ransel berat jauh - jauh dari Jakarta ke Bangkok ini bukanlah untuk kepuasan materi seperti berbelanja. Gue penggemar berat kota Bangkok karena kekayaan budaya, religi, dan sejarah yang dimilikinya, bukan pusat belanjanya. Mungkin karena niat minimalis untuk berbelanja itulah gue ngga kunjung menemukan hadiah Abby di sini. Tenang Abby sayang, Aju Cei akan cari hadiah yang lebih menarik di Jakarta nanti !

Wednesday, December 10, 2014

Hari Pertama : Antara Don Mueang dan Samsen Road

Sam Sen Road
Menjelang akhir tahun 2014, tepatnya tanggal 29 Nov - 1 Des 2014 yang lalu, Yesus yang Maha Baik kembali memberikan gue kado istimewa : trip ke Bangkok. Tiketnya gue beli (tentu saja) dari Air Asia ketika promo tahun lalu, totalnya cuma sekitar IDR 500,000 (pulang - pergi). 

Pertama kali gue menginjakkan kaki di Bangkok adalah tahun Februari 2010 yang lalu, yang menyisakan segudang kenangan indah dan seru yang tak terlupakan. Karena itu gue bersemangat dengan trip kali ini, karena di mata gue Bangkok itu gak pernah membosankan. 

Saat kunjungan gue tahun 2010 yang lalu pesawat Air Asia yang gue tumpangi mendarat di Suvarnabhumi International Airport. Dari Airport menuju Khaosan Road, gue tinggal menumpang minibus (semacam Bus Damrinya Bangkok). Gue tinggal duduk manis di minibus yang nyaman itu, sampai sang sopir menghentikan mobil di halte dekat Khaosan Road.

Sementara kali ini, Air Asia sudah tidak lagi mendarat di Suvarnabhumi International Airport, melainkan Don Mueang International Airport. Ini menjadi tantangan tersendiri, karena dari informasi yang gue dapatkan baik dari hasil browsing maupun dari pihak Khaosan Immjai (Hostel tempat gue akan menginap), tidak ada pilihan minibus yang akan mengantar gue langsung ke kawasan Khaosan. Pilihannya adalah dengan taksi atau bus umum. Ada juga yang lebih menantang yaitu naik kereta. Tapi berhubung gue dijadwalkan mendarat di Don Mueang jam 20:15 malam, jadi gue enggan mengambil alternatif itu.

Meskipun namanya "Khaosan Immjai" hostel ini ngga benar - benar terletak di kawasan Khaosan, melainkan di sekitar Sam Sen Road, lengkapnya : Sen Soi 1 Samsen Road, Wat Sam, Phraya, Phranakorn District. Entah kenapa kalau gue lihat di peta kok posisinya seperti berada di tengah - tengah antara komplek Anantasamakhom Throne Hall dan Khaosan Road. Gue agak bingung sebenarnya....

Berhubung gue adalah bekpeker gembel yang selalu penasaran dengan hal baru dan kadang sok mencari tantangan, maka pilihan gue jatuh ke.....naik bus umum. Keuntungannya mendarat di Don Mueang adalah lokasinya dekat banget dengan jalan raya utama. Jadi begitu keluar gedung airport, gue tinggal berjalan kaki beberapa ratus meter meninggalkan komplek airport, langsung nemu halte bus. Di halte bus itulah gue menunggu bus pertama No. 59 tujuan Terminal Bus Mo Chit atau Chatuchak Market. Nunggu busnya lumayan lama, 20 menit lebih, ongkosnya gak sampe 20 bath. Gue turun di Mo Chit terminal dengan mulus tanpa kendala. Gue pun kembali menunggu di halte Mo Chit, bus berikutnya, nomor 524. Bus yang satu ini, udah nunggunya lama banget (lebih dari 30 menit), kendala lainnya adalah Ibu Kondektur yang bertugas benar - benar ngga mengerti bahasa Inggris. Jadi begitu gue bilang mau turun di "Sam Sen Soi" dia langsung nunjuk seseorang yang duduk di belakang gue. Gue asumsiin bahwa si Ibu Kondektur minta gue tanya ke pemudi tersebut. Gue pun menyodorkan peta yang gue pegang dengan jari gue menunjukkan ke arah "Sam Sen Soi 1". Si pemudi malah kebingungan. Selain bingung karena gak tahu jalan yang gue maksud, juga karena ngga ngerti bahasa Inggris. 

Gue pun duduk dengan pasrah, dengan secuil rasa kesal terselip di hati gue....entah kesal sama siapa. Kalau gue menarik ke belakang apa yang gue alami tahun 2010 lalu, rasanya emang ngga pernah mudah mencari jalan di Bangkok ini. Kendala pertama, karena kebanyakan (hampir semua) nama jalan dan fasilitas  - fasilitas lainnya di kota ini ditulis dalam huruf Thailand yang keriting - keriting itu. Kedua, ngga semua orang disini bisa berbahasa Inggris, jadi gue sulit berkomunikasi ketika mau nanya apapun. Senjata gue dari tadi cuma sodor - sodorin peta Bangkok doang....Tapi kali ini celaka duabelas, karena selain orang yang gue tanya ngga ngerti bahasa Inggris, juga ngga tahu jalan yang gue cari. Dan semua tantangan itu makin sempurna karena ini adalah malam hari. Mungkin di siang hari akan lebih mudah buat gue mencari arah dan jalan. Sementara itu rasa lelah dan lapar udah menyerang....apalagi dengan ransel berat membebani punggung gue kayak sekarang.

Mata gue cuma bisa memandangi selembar kertas berisi email konfirmasi dari Khaosan Immjai di tangan kiri dan peta Bangkok di tangan kanan. Sekonyong - konyong gue kesal karena pihak Khaosan Immjai tidak memberikan informasi tambahan misalnya gedung atau bangunan terdekat dengan hostel itu, atau apapun yang agak spesifik. Informasi yang diberikan cuma :

By bus: Airport shuttle bus A1 or public bus no. 59 to Mo-Chit Bus Terminal or Chatuchak Market and then take bus no. 3 or 524 to the opposite side of "Sam Sen Soi 1" and then you just walk across the main road (“Sam Sen Road”) and walk through Sam Sen Soi 1  around 20 meter you will see the orange building on the left hand side. Total prices is around 16 – 50 Baht , 100 – 200 minutes depends on traffic and how often they come. Satu - satunya petunjuk mengenai bangunannya cuma "orange building", yang sebenarnya kurang berarti di saat gelap malam seperti ini.

Di tengah kepasrahan, gue yakin bahwa di dalam situasi kayak gini, instinglah yang akan membantu gue. Gue selalu percaya, di tengah kebingungan seperti ini, Yesus punya cara tersendiri untuk membantu gue....ngga selalu melalui orang - orang yang gue temui, namun juga melalui diri gue sendiri. Di tengah jalan antah berantah, begitu melihat Seven Eleven, gue pun memilih untuk segera turun. Padahal gue gak ada petunjuk sedikit pun di mana gue berada saat itu. Entah karena bantuan insting gue, atau karena dorongan rasa haus yang kronis. Seven Eleven itu bak oase buat gue, dan gue langsung masuk untuk beli air mineral. Gue udah ngga minum air sejak boarding di Jakarta tadi, jadi ditambah dengan lamanya perjalanan Jakarta - Bangkok dan sampai saat ini, gue belum minum setetes air pun selama kurang lebih 4 jam.

Di kasir, sambil membayar air mineral yang gue beli, gue juga menyempatkan bertanya jalan yang gue cari. Puji Tuhan, dengan antusias si kasir yang baik hati itu langsung meninggalkan mesin kasirnya, menuju ke luar toko dan dengan terbata - bata menjelaskan arah ke gue. Yang gue tangkap, gue hanya perlu berjalan kaki melewati 2 persimpangan / lampu merah, lagi, lalu posisi jalan tersebut ada di sebelah kanan, alias gue harus menyeberang jalan. Gue girang bukan main.....! Padahal tadi gue berhenti di sini bukan karena tahu jalan, melainkan sekedar terdorong oleh insting doang.

Dengan informasi yang gue dapatkan ditambah seliter air mineral di pelukan gue, langkah gue menjadi jauh lebih ringan. Kurang dari sepuluh menit kemudian gue pun tiba di Khaosan Immjai, saat itu sekitar jam 11 malam. Jadi, "Sam Sen Soi 1" lebih nampak seperti gang, bukan jalan utama. Ngga heran kalo warga Bangkok pun ngga tahu keberadaannya.

Karena gue masih penasaran dimana posisi hostel ini sebenarnya, gue pun berniat untuk mencari Khaosan Road malam itu juga. Dengan semangat menggebu - gebu, kelar bersih - bersih sejenak, gue pun meninggalkan hostel malam itu. Cukup berjalan - kaki sekitar 10 menit menyusuri Sam Sen Road, gue tiba di Khaosan Road. Ada sedikit rasa haru di hati, akhirnya setelah 4 tahun berlalu gue kembali menginjakkan kaki di jalan fenomenal ini. Suasananya masih sama seperti saat itu, karena kebetulan 4 tahun lalu pun gue tiba di sini ketika malam minggu. Jadi, jalan ini diramaikan dengan hiruk - pikuk wisatawan yang larut dalam kehidupan malam ala Khaosan Road yang heboh dan hingar - bingar. 

Kota ini, tepatnya kawasan ini, selalu menantang untuk gue. Sejak mendarat di airport menuju hostel aja gue mendapatkan pengalaman yang seru. Dan gue ngga sabar untuk menyambut esok dan memulai petualangan gue di kota ini.

Saturday, November 22, 2014

Menengok Keelokan Bromo (3)

Pananjakan 1 Seruni Point
09 November 2014

Pagi itu gue terbangun dari tidur gue yang lelap dengan cara dramatis. Awalnya gue mendengar ketukan di pintu ruang tamu homestay tempat gue tinggal. Berhubung gue tinggal di kamar depan, alias tepat di sebelah ruang tamu, suara ketukan itu nyaring terdengar. Gue terbangun dan langsung lihat jam, sekitar jam 1 dini hari. Gue ogah ninggalin ranjang dan membukakan pintu, karena gue pikir bukan urusan gue. Gue pikir sang pemilik rumahlah yang seharusnya menerima tamu tersebut.

Ngga putus asa, si pengetuk pintu pindah ke jendela kamar gue. Sambil mengetuk jendela, orang itu juga sambil bilang, "Permisi...permisi..!" Karena suaranya sangat mengganggu, gue pun menyahut. Si pengetuk pintu kembali bersuara, "Bukain pintunya..." Lhaaa....gue pikir, ini kan bukan rumah gue, dan gue gak mengenal si pengetuk pintu. Siapa tahu dia perampok atau penjahat ? Gue pun malas bangkit dari tidur gue.

Gunung Batok
Si pengetuk pintu yang mungkin kesal karena gue ngga kunjung membukakan pintu, kembali lagi ke jendela kamar. Gue masih cuek. Lalu gue mendengar suara - suara mencurigakan dan dengan sekejap si pengetuk pintu membuka jendela kamar dan gorden kamar gue lalu mencondongkan kepalanya ke dalam kamar melalui jendela yang ngga berteralis itu. Gue kaget setengah mati dan terbangun dengan posisi duduk dan menjauh dari jendela, jantung gue berdegup kencang sakit takutnya. Dalam bengong dan ketakutan gue lihat si pengetuk pintu ngomong, " Bangun !! Mau ke Bromo ngga ? Udah jam berapa ini ? Nanti telat ! Bukain pintunya...." Ya ampun, segitunya banget ngebangunin orang.

Gue langsung keluar kamar untuk membukakan pintu untuk si pengetuk pintu yang adalah panitia tour ini. Trus dia nanya, "Mana kamar temannya yang lain ?" Dan dengan senang hati gue langsung menunjukkan kamar kedua teman gue yang lain. Si Bapak langsung mengetuk pintu dengan kencangnya. Gue sempat nimpalin, "Kalo gak, ketok jendelanya aja Pak, di belakang tuh..." Berhubung kedua teman gue ngga ada yang membuka pintu, si Bapak pun tanpa ragu - ragu langsung memasuki kamar dan membangunkan kedua teman gue. Gue menyaksikan pemandangan itu sambil ketawa - ketiwi bahagia. 

Gue pun mencuci muka dan bersiap - siap. Dalam waktu 10 menit gue udah siap, karena ngga pake mandi segala. Siapa yang tahan mandi di Malang jam 1 dini hari ? Setelah gue dan teman - teman siap, kami pun melangkah ke 'Balai Desa' begitu tadi si Bapak yang menggemparkan pagi gue berpesan.

Jeep sweet jeep
Di Balai Desa beberapa mobil jeep terbuka menanti. Gue langsung semangat untuk naik ke salah satunya, mengambil posisi berdiri di paling pinggir. Jeep itu ditumpangi sekitar 13 orang. 3 orang (termasuk sopir) di bagian pengemudi (tertutup), 3 orang di atas atap bagian pengemudi, dan 7 orang di belakang. Sempit tapi seru ! Apalagi ketika jeep sudah mulai menyusuri lereng pegunungan yang berkelok - kelok dan walaupun dalam gelap gue bisa melihat ke arah lembah....rasanya, walaupun ngeri tapi bikin penasaran.


Yang bikin gue sedikit takut selama perjalanan di atas jeep ini adalah betapa semakin masuk dan naik ke kawasan Bromo, rasa dinginnya semakin menjadi dan terasa menusuk kulit. Dan gue bukanlah orang yang tahan dingin. Jangankan di Bromo.....gue bahkan ngga tahan dengan udara "malam" Jakarta. Di rumah, tepatnya di ruang nonton, gue akan nyaman menikmati acara menonton gue setiap malamnya, sambil berselimut tebal....kadang berkaos kaki sgala. Kalau udara 'dingin' malam itu diperparah dengan turunnya hujan, 'perlengkapan' gue harus ditambah dengan mengenakan sweater. Jadi gue sadar, standard 'dingin' gue agak berbeda dengan orang lain. Dan kali ini, gue harus menghadapi udara dingin khas pegunungan. Meskipun udah berjaket tebal lengkap dengan sarung tangan dan topi, tapi dengan segera ujung - ujung jari gue udah keriput menahan dingin. Gue bertekad untuk mengacuhkan kerentanan gue terhadap rasa dingin itu dengan satu motivasi kuat : ngga mau mempermalukan diri sendiri.

Gunung Batok & Kawah Bromo
Tujuan pertama perjalanan seru ini adalah ke Pananjakan 1 Seruni Point untuk lihat matahari terbit alias sunrise. Sebenarnya gue bukan pemburu sensasi "sunrise", seperti wisatawan umumnya kalo ke kawasan pengunungan atau pantai. Buat gue yang nyaris ngga pernah ke daerah pengunungan kayak gini, apapun yang mata gue lihat indah adanya dan bikin gue bersemangat. Seperti janji gue pada diri sendiri, gue gak mau menyewa dan menunggang kuda selama di area taman nasional Bromo ini. Alasannya, karena gue yakin kenikmatan dari perjalanan ini adalah dengan berjalan kaki. Kedua, itu gue ngga mau mengeluarkan uang untuk itu (Rp. 50,000 searah), dan ketiga, gue ngga tega lihat kudanya yang kecil. Gue ingat, waktu gue sempat latihan berkuda beberapa tahun lalu, kuda berlatih gue fisiknya tinggi, kuat dan terawat. Namun begitu gue udah duduk di punggungnya, gue jadi ngga tega, karena seakan  - akan sang kuda sedang menanggung beban yang berat. Gimana pula kalau gue naik di atas punggung kuda - kuda Bromo yang berpostur lebih kecil ini ?

Horaaayy!!
Akhirnya gue tiba di Penanjakan. Kemana pun arah memandang, mata gue disajikan pemandangan indah dan elok. Gue dan ketiga teman gue, berbaur dengan peserta lainnya, sibuk berfoto, mengabadikan kenangan berlatar belakang lukisan alam berupa Kawah Bromo dan Gunung Batok, dihiasi dengan langit biru nan cerah, yang amat menawan.



Puncak Kawah Bromo
 Puas di Penanjakan, gue dan rombongan pun kembali ke jeep masing - masing. Tujuan berikutnya adalah Kawah Bromo dan Gunung Batok. Yeayyyy! Tiba di sana, dari kejauhan gue melihat para pengunjung yang sedang menanjak Kawah Bromo, tampak kecil dan seperti semut. Ngga mau menunggu lama, gue dan teman - teman pun memulai langkah gue mencapai kawah Bromo. Berhubung tangga semen yang tersedia dipenuhi pengunjung yang antri, gue dan teman - teman ogah ikut mengantri, dan memilih jalan tepat disamping tangga. "Jalan" yang dimaksud adalah hamparan pasir. Untuk mengatasi licin dan terpleset, gue berpegangan pada batas tangga semen. Dengan terseok - seok, akhirnya gue tiba di mulut kawah Bromo. Ahhhh....rasanya puas, dan semua kelelahan terbayar demi melihat pemandangan di hadapan gue. 

Pasir Berbisik
Setelah beberapa lama di atas, gue pun mengambil langkah menuruni kawah Bromo. Tapi lagi - lagi karena ogah mengantri di tangga yang tersedia, gue dan teman - teman memilih untuk menyusuri jalan pasir. Kali ini lebih seru dan menantang, karena saat berjalan di atas pasir, dengan kecuraman seperti itu, gue gak bisa berpegangan pada apapun. Akhirnya gue meraih tas salah satu teman gue yang berjalan di depan. Lalu mendadak tangan gue ditangkap seorang pengunjung lain di belakang gue yang sedang menahan takut luar biasa. Si pengunjung sampai memohon - mohon supaya gue gak berjalan terlalu cepat, karena dia sangat ketakutan. Sebenarnya kondisi dia sama ama gue, tapi dia histeris sementara gue (sok) kalem. Perjalanan seru itu pun berakhir, dan tiba di dasar kembali, dan segera menuju area parkir jeep. Siap menyongsong tujuan berikutnya.

Jeep pun berhenti di kawasan wisata Pasir Berbisik. Tiba disana, sepanjang mata memandang adalah lautan pasir yang tampak gemerlap di bawah terpaan sinar matahari pagi. Group tour ngga berlama - lama di sini karena tujuan berikutnya menunggu, yaitu Bukit Teletubbies dan Padang Savanah.

Padang Savanah

Ketika sampai di sana, melihat hamparan rumput hijau di hadapan gue, yang terlintas di pikiran gue adalah, "Di atas bukit nan jauh, Teletubbies bermain - main...." Jreng...jreng...jrenggg !! Muncullah Tinky Winky, Dipsi Laa Laa dan Po...menari - menari, melompat - lompat, sambil bernyanyi ceria, "Teletubbies...Teletubbies....! Berpelukaaannn!" Dan keempatnya pun saling berpelukan, di bawah sinar matahari berwajah bayi. 

Savana hijau kecoklatan yang nyaris menyerupai karpet itu memang mirip dengan yang di serial Teletubbies. Lagi - lagi gue dibuat kagum dengan buah karya Sang Pencipta. Baru beberapa jam gue disini, namun mata gue sudah disuguhkan dengan berbagai macam keindahan alam yang berbeda - beda. Ada lautan pasir, ada padang savanah.....lengkap ! Untuk gue pribadi perjalanan mulai dini hari tadi melelahkan sebenarnya, tapi semua kelelahan itu lenyap begitu gue melihat keindahan

Rileks dan mengagumi ciptaanNya
Setelah beberapa lama disana, jeep pun meninggalkan lokasi Taman Nasional Gunung Bromo, menuju ke Desa Gubugklakah. Tiba di homestay, gue bersih - bersih dan istirahat. Bersih - bersih yang dimaksud adalah mengeluarkan segepok pasir dari sepatu gue sisa - sisa perjuangan tadi.

Jam 2 siang, gue dan teman - teman berangkat menuju Stasiun Malang. Sebelumnya kami mampir di pusat oleh - oleh terlebih dahulu. Kereta Ekonomi yang gue tumpangi berangkat jam 5:10 sore.

Ini adalah perjalanan terlama yang pernah gue lalui dalam riwayat traveling gue. Bayangin....17 jam lebih duduk di bangku kereta ekonomi yang jauh dari empuk. Udah gitu musti berbagi bangku dengan 2 orang lainnya. Dari awal gue udah niat mau sewa bantal (Rp. 6,000) dari pihak Kereta Api sekedar untuk alas duduk. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak....gue kehabisan bantal, karena sebelum sampai di gerbong gue, bantalnya laris manis tersewa. 

Selain itu, ini adalah waktu terlama dimana gue menghabiskan waktu di satu tempat tanpa bisa melakukan banyak hal. Yang bisa gue lakukan untuk mengusir kebosanan dan rileksasi adalah membaca novel dan turun di setiap stasiun dimana kereta berhenti beberapa saat. Gue sempat tertidur beberapa kali, tapi siapa sih yang butuh tidur selama 17 jam lebih ? Apalagi sambil duduk....di bangku yang joknya ngga empuk - empuk banget....

Tapi gue bersyukur...karena perjalanan gue mulus dan lancar nyaris tanpa masalah apapun, gue mendapatkan pengalaman mengunjungi Bromo yang indah dan tak terlupakan, dan tiba kembali di Jakarta dengan selamat. Gue ngga sabar untuk mengulang perjalanan gue ke sini lagi lain waktu.....minus naik kereta ekonomi 17 jam deh kayaknya :)

Teletubbies wannabe

Sunday, November 16, 2014

Menengok Keelokan Bromo (2)

Menjelang jam 7 pagi, gue memaksakan badan letih gue untuk bangun. Ini suatu keharusan setiap gue bekpekeran, kebiasaan yang gue tanamkan karena gue terbiasa tinggal di hostel. Motif utamanya karena gue harus berbagi (baca : rebutan) kamar mandi dengan penghuni hostel lainnya. Kedua, karena gue gak rela melewatkan jatah sarapan yang biasanya dijadwalkan hanya sampai jam 10 pagi. Dan ketiga, supaya gue punya waktu lebih panjang untuk berpetualang.


Sebenarnya bayangan dinginnya air mandi menghantui gue. Tapi karena gue punya tekad sekuat baja, gue pun bisa menikmati acara mandi tanpa masalah. Ini adalah mandi terdingin yang pernah gue lakukan. Tingkat kedinginannya bahkan sampai melewati level dimana gue merasa kedinginan dan menggigil. Begitu segayung air mengguyur kepala gue, mungkin sensasinya sama kayak ikutan ice bucket challenge yang lagi trend itu. Tapi setelah itu sekujur tubuh gue mendadak kebal terhadap dingin, dan gue pun melanjutkan mandi seakan - akan gue layaknya warga Malang yang terbiasa dengan rasa dingin.

Selesai mandi, gue berharap akan langsung dijemput oleh tim Langkah Kaki menuju Candi Jago. Kasihan deh....padahal gue udah siap berpetualang pagi itu namun ternyata gue dijadwalkan untuk di jemput jam 1 siang nanti. Meskipun kecewa, tapi sebenarnya begitulah pengaturannya, karena gue dan teman - teman yang merapat di Surabaya semalam, tiba lebih dahulu dibandingkan group yang akan tiba di Malang jam 7 pagi ini. Berhubung gue tiba lebih awal, artinya gue harus menunggu group Malang tersebut, dan mendapat kesempatan istirahat lebih panjang. 

Sambil menunggu, gue gak bisa kemana - mana karena gak ada alat transportasi. Dan berhubung di sekitar homestay pun tidak ada yang bisa dijelajahi, maka gue kembali naik ke kasur empuk dan mencari kehangatan di balik selimut tebal. Namun sebelumnya gue sempat minta (baca: ngotot) supaya dijemput lebih awal dari jam 1 siang. Dan tim Langkah Kaki yang baik hati setuju untuk menjemput jam 10.30 siang. Horayy !

Sebelum berangkat, pemilik homestay menyajikan menu sarapan yang benar - benar memanjakan lidah gue. Bayangkan, selain nasi, tersedia juga sekitar 4 menu tradisional lainnya yang porsinya banyak dan rasanya lezat. Bahannya sebenarnya sederhana, seperti tempe dan tahu, namun diracik jadi beberapa macam variasi menu. Gue ngga nyangka tinggal di homestay juga akan mendapat hidangan makanan selezat dan sekomplit ini.

Tepat jam 10.30 pagi mobil menjemput untuk menuju lokasi pertama yaitu Candi Jago yang ada di kawasan Tumpang. Lokasinya unik banget, kayak terkepung di antara perumahan warga. Ukuran candinya sendiri gak terlalu besar dan sudah tidak utuh lagi. Candi Jago adalah candi Buddha yang dibangun sekitar abad ke - 13 atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati ayahnya, yaitu Raja Wisnuwardhana.


Sekilas ketika berdiri di puncak candi ini mengingatkan gue pada Beng Melea, dimana terdapat susunan bebatuan yang nampak tertumpuk begitu saja. Gue langsung girang memanjat ke sana kemari. Ahh...rasanya gue harus kembali ke Beng Melea suatu saat, karena apapun mengingatkan gue pada temple indah yang unik itu.

Menuju Coban Pelangi
Dari Candi Jago, gue diantar untuk menikmati makan siang di Bakso Malang Ronggolawe, yang enak, murah dan meriah. Kelar makan, gue kembali ke homestay. Menurut team leader dari Langkah Kaki, gue akan dijemput lagi jam 1 siang nanti untuk menuju Coban (Air Terjun) Pelangi. Artinya, gue punya waktu istirahat lagi. Ini sebenarnya bertolak belakang banget dengan ritme gue kalo bekpekeran. Waktu gue sangat ketat, nyaris ngga ada waktu untuk istirahat. Kadang acara makan siang atau makan malam pun jadi kilat. Dan sekarang, "istirahat" berarti gue bisa leyeh - leyeh di kasur empuk dan selimut tebal.



Sekitar jam 1 gue pun menuju Coban Pelangi. Dari awal niat gue mau main air, syukur - syukur kalo bisa berenang, di sini. Tiba di sana, normalnya medan yang harus dilalui untuk menuju lokasi air terjun, gue harus melewati jalan setapak yang kadang menanjak kadang menurun. Tapi begitu gue melihat air terjunnya dari dekat rasanya semua lelah dan pegal lenyap. Saat itu hujan rintik - rintik mulai turun, dan arus airnya deras dahsyat. Keren dan indah banget !  Setelah puas bermain - main air, dalam keadaan basah sekujur tubuh, gue pun meninggalkan air terjun, menuju kamar mandi, untuk mengganti baju gue.

Meninggalkan Coban Pelangi yang super indah dan eksotis itu, tujuan berikutnya adalah Agrowisata Apel. Tiba di sana, setelah diberikan pengarahan sebentar, gue dan teman - teman diperbolehkan untuk memetik apel di sebuah lahan yang cukup luas dan memakan sebanyak - banyaknya apel yang gue petik.

Begini, gue sebenarnya bukan penggemar buah apel. Meskipun buah itu terkesan mewah dan mahal... meskipun kaya manfaat....dan meskipun sampai ada pepatah "An apple a day keeps you away from the doctor'....tetap aja selama ini gue bukanlah penggemar buah apel dan gak pernah ngiler tiap kali lihat buah apel. Gue lebih ngiler ngeliat buah kecapi (maklum, gue besar di Condet, Jakarta Timur) dibanding buah apel. Sejak kecil gue selalu bingung dan jijik lihat daging buah apel yang langsung menjadi kecoklatan setiap kali sudah dikupas, diiris atau digigit.

Tapi, sejak masih di homestay tadi, gue udah menikmati sekitar 3 - 4 buah apel yang disajikan oleh pemilik homestay. Itu belum termasuk 3 butir lainnya yang gue simpan untuk Mama (biar Mama bisa mencicipi apel asli Malang). Tujuan gue awalnya untuk memperlancar pencernaan. Tapi mencicipi apel Malang yang segar dan orisinal tampaknya udah bikin gue ketagihan. Dengan apel - apel yang gue makan selama agrowisata apel ini, mungkin total gue udah makan sebanyak 10 buah apel hingga sore itu. Ini adalah salah satu dari sedikit hari paling sehat dalam hidup gue!

Di agrowisata apel ini gue cuma berminat untuk memetik dan makan buah apel sebanyak yang lambung gue mampu. Gue gak berminat untuk membeli apel di sana yang harganya Rp. 20,000/kg. Selain karena saat itu agak susah mencari apel yang ukurannya besar dan sudah matang, menurut gue harganya juga lumayan premium kalau segitu. 

Jarak antara lokasi agrowisata dan homestay Ibu Kartika gak terlalu jauh. Kembali ke homestay, gue mandi dan bersantai dengan mengobrol dengan peserta tour lainnya yang ada di homestay sebelah. Malamnya, gue dan teman - teman kembali disajikan hidangan tradisional nan lezat dan variatif oleh pemilik homestay.

Ini benar - benar hari yang menyenangkan. Semua yang gue lakukan hari ini seru dan menyenangkan, bersama teman - teman yang kompak dan 'gila'. Ditambah lagi, gue tinggal di tengah keluarga (pemilik homestay) yang sangat ramah dan bersahaja. Makasih Yesus !